background image
ULASAN
Infeksi Campak, Karakteristik
dan Respon Imunitas
yang Ditimbulkan
Sarwo Handayani
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Penyakit campak masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, mengingat masih
adanya kasus dan wabah campak di beberapa daerah di Indonesia. Salah satu upaya
untuk mengatasi infeksi campak adalah dengan meningkatkan respon imunitas tubuh,
yang diperoleh dengan cara imunisasi atau dari infeksi alam.
Penyakit campak disebabkan oleh virus morbilli. Tanda khasnya berupa Koplik
spot di selaput lendir pipi, dan rash kulit yang muncul pada hari ke 14 setelah terpapar
virus campak. Kemampuan fusi sel yang terinfeksi virus campak akan membentuk sel
raksasa multi nuklear.
Komplikasi yang sering terjadi pada penyakit campak adalah diare, pneumonia,
otitis media dan limfadenopati.
Respon imunitas yang berperan terhadap campak adalah respon humoral dan
seluler. Respon imunitas humoral (antibodi) efektif menetralisir virus yang bebas atau
dalam sirkulasi darah, dengan cara menghambat perlekatan virus pada reseptor
sehingga virus tidak dapat menembus permukaan sel dan replikasi virus dapat dicegah.
Respon imunitas seluler berperan membantu sel limfosit B menghasilkan antibodi
melalui mekanisme ADCC (Antibody Dependent Cell Mediated Cytotoxicity) dan lisis
komplemen.
Respon imunitas setelah imunisasi campak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu;
usia saat imunisasi yang berkaitan dengan adanya antibodi maternal, status gizi,
penyakit yang diderita dan faktor vaksin yang meliputi: strain virus campak yang
digunakan, dosis vaksin, penyimpanan dan cara pemberian vaksin.
PENDAHULUAN
Penyakit campak merupakan salah satu penyakit menular
yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, karena
sering dilaporkan di beberapa daerah. Menurut data SKRT
(1996) insiden campak pada balita sebesar 528/10.000. Angka
tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun 1982 sebelum
program imunisasi campak dimulai, yaitu sebesar 8000/10.000
pada anak umur 1-15 tahun.
Imunisasi merupakan salah satu upaya terbaik untuk
menurunkan insiden campak. Sebagai dampak program
imunisasi tersebut insiden campak cenderung turun pada semua
golongan umur. Pada bayi (< 1 tahun) dan anak umur 1-4 tahun
terjadi penurunan cukup tajam, sedangkan pada golongan umur
5-14 tahun relatif landai. Saat ini program pemberantasan
penyakit campak dalam tahap reduksi yaitu penurunan jumlah
kasus dan kematian akibat campak, menyusul tahap eliminasi
dan akhirnya tahap eradikasi. Diharapkan 10-15 tahun setelah
tahap eliminasi, penyakit campak dapat dieradikasi, karena
satu-satunya pejamunya adalah manusia
(1)
.
Respon imun memegang peranan penting dalam upaya
mengatasi infeksi virus campak, baik respon yang timbul oleh
infeksi campak alam maupun respon setelah imunisasi.
Makalah ini akan membahas lebih jauh penyakit campak,
karakteristik virus campak, respon imun dan faktor-faktor yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
30
background image
mempengaruhinya, serta hasil penelitian yang berhubungan.
PENYAKIT CAMPAK
Penyakit ini disebabkan oleh virus morbilli; ditularkan
melalui sekret pernafasan atau melalui udara. Virus dalam
jumlah sedikit saja dapat menyebabkan infeksi pada individu
yang rentan. Penyakit campak sangat infeksius selama masa
prodromal yang ditandai dengan demam, malaise, mata merah,
pilek, dan trakeobronkitis dengan manifestasi batuk
.
(2-5)
Infeksi campak pertama kali terjadi pada epitelium saluran
pernafasan dari nasofaring, konjungtiva, dengan penyebaran ke
daerah limfa. Viremia primer terjadi 2-3 hari setelah individu
terpapar virus campak, diikuti dengan viremia sekunder 3-4
hari kemudian. Viremia sekunder menyebabkan infeksi dan
replikasi virus lebih lanjut pada kulit, konjungtiva, saluran
pernafasan dan organ lainnya. Replikasi virus memerlukan
waktu 24 jam. Jumlah virus dalam darah mencapai puncaknya
pada hari ke 11-14 setelah terpapar dan kemudian menurun
cepat 2-3 hari kemudian
(2,3,6)
.
Tanda khas penyakit campak adalah adanya Koplik spots
(kemerahan dengan putih di tengah) di selaput lendir pipi yang
tampak 1-2 hari sebelum timbulnya rash. Rash adalah
kemerahan kulit yang biasanya muncul pada hari ke 14 setelah
terpapar, kemudian menyebar dari kepala ke anggota badan
selama 3-4 hari. Setelah 3-4 hari rash akan menghilang
meninggalkan noda kehitaman
(3,7)
.
Rash merupakan manifestasi
reaksi hipersensitivitas yang tidak akan terlihat pada orang
yang mengalami penekanan sistem imunitas seluler
(5,6)
. Sel
yang terinfeksi virus campak mampu berfusi membentuk sel
raksasa multinuklear (multinuclear giant cells), yang merupa-
kan tanda patologis infeksi virus campak
(2,4)
.
Komplikasi yang sering terjadi pada infeksi virus campak
adalah anoreksia, diare, pneumonia dan limfadenopati; sering
menyebabkan kematian karena faktor kurang gizi dan
penanganan yang terlambat
(3,5,6)
.
Di negara industri komplikasi
yang sering terjadi adalah otitis media, pneumonia, dan
ensefalitis pasca infeksi
(3)
.
KARAKTERISTIK VIRUS CAMPAK
Morfologi
Virus campak atau morbilli adalah virus RNA anggota
famili paramyxoviridae. Secara morfologi tidak dapat
dibedakan dengan virus lain anggota famili paramyxoviridae.
Virion campak terdiri atas nukleokapsid berbentuk heliks yang
dikelilingi oleh selubung virus
(2,5,6,8)
.
Virus campak mempunyai
6 protein struktural, 3 di antaranya tergabung dengan RNA dan
membentuk nukleokapsid yaitu; Pospoprotein (P), protein
ukuran besar (L) dan nukleoprotein (N). Tiga protein lainnya
tergabung dengan selubung virus yaitu; protein fusi (F), protein
hemaglutinin (H) dan protein matrix (M). Protein F dan H
mengalami glikosilasi sedangkan protein M tidak. Protein F
bertanggung jawab terhadap fusi virus dengan membran sel
hospes, yang kemudian diikuti dengan penetrasi dan hemolisis.
Protein H bertanggung jawab pada hemaglutinasi, perlekatan
virus, adsorpsi dan interaksi dengan reseptor di permukaan sel
hospes. Protein F dan H bersama-sama bertanggungjawab pada
fusi virus dengan membran sel dan membantu masuknya
virus
(
2,5,6,9)
. Sedangkan protein M berinteraksi dengan nukleo-
kapsid berperan pada proses maturasi virus
(2)
.
Virus campak mempunyai satu tipe antigen (monotype),
yang bersifat stabil. Virus campak mempunyai sedikit variasi
genetik pada protein F dan H, sehingga dapat menghindari
antibodi monoklonal yang spesifik terhadap protein tersebut.
Namun sisa virus yang masih ada, dapat dinetralisasi oleh sera
poliklonal. Pada strain virus campak yang berbeda, variasi
genetik juga terjadi pada protein P dan N yang belakangan
diketahui mengandung region yang mengkode residu asam
amino C terminal
(5,10)
.
Sifat infeksius virus campak ditunjukkan
dengan tingginya sensitivitas dan aktivitas hemolitiknya
(2)
.
Isolasi Virus Campak
Virus campak yang berasal dari spesimen klinik sulit
dikembangbiakkan, terutama isolasi virus pada 24-36 jam
setelah timbulnya rash. Cara yang paling baik adalah dengan
mengisolasi virus pada sel limfosit marmoset B95-a, sel fetus
manusia, sel ginjal fetus atau sel ginjal kera. Setelah pasase
awal di laboratorium, dapat digunakan galur sel lain yang
berasal dari manusia atau bukan; misalnya: human amnion,
human embryonic lung, human carcinoma yaitu HeLa, Hep-2,
KB dan embrio ayam
(2,6)
.
Virus campak dapat diinaktivasi dengan cepat apabila
terkena cahaya, panas dan pH yang ekstrem; virus campak
dapat disimpan dalam jangka waktu lama pada suhu ­70
o
C
(6)
.
Efek Sitopatik Virus Campak (CPE)
Pada kultur sel, virus campak menyebabkan 2 efek
sitopatik yang berbeda, yaitu pertama terbentuknya sel raksasa
(multi nuclei syncytia) yang mengandung beberapa nukleus
yang bergabung menjadi satu
(6,8)
. Kedua, terjadinya perubahan
bentuk sel terinfeksi dari poligonal menjadi stellate atau seperti
sel dendritik. Sel ini tidak mengalami fusi tetapi dapat dibeda-
kan berdasarkan kepekaan (refractility) terhadap cahaya.
(8)
Hal tersebut berhubungan dengan proses patologis yang
predominan yang dapat diamati pada jaringan yang terinfeksi
termasuk kulit dan Koplik spot. Pada virus campak liar,
karakteristik efek sitopatik meliputi inklusi sitoplasma dan
intranukleus termasuk transformasi sel kromosom. Faktor lain
seperti kemampuan tumbuh pada sel fibroblas embrio ayam,
bentuk plaque, produksi interferon, suhu pertumbuhan yang
optimal, juga membantu membedakan virus campak liar
dengan strain virus yang dilemahkan
(2,6)
.
VAKSIN CAMPAK
Pengembangan vaksin campak dimulai segera setelah
isolasi virus campak oleh Enders dan Pebles (1954), yaitu
dengan mengembangkan vaksin hidup yang dilemahkan dari
strain Edmonston B. Vaksin ini sering menimbulkan rash dan
demam tinggi sehingga harus dibarengi dengan pemberian
globulin gama untuk mengurangi efek samping tersebut. Pada
pertengahan tahun 1960 ditemukan strain baru campak di
Amerika, Jepang, Yugoslavia, Rusia dan China dengan cara
melemahkan strain Edmonston (AIK-C), Edmonston A
(Schwarz), Edmonston B (Moraten, Edmonston Zagreb) atau
isolat lainnya (Leningrad 16, CAM 70, Shanghai-91)
(3)
. Vaksin
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
31
background image
campak yang ada saat ini berasal dari virus campak liar yang
dilemahkan - attenuated live vaccine. Atenuasi dilakukan
dengan melakukan adaptasi temperatur dan pasase berulang
kali pada beberapa galur sel
(9)
.
Vaksin campak yang digunakan di Indonesia saat ini
adalah vaksin campak dari strain CAM-70 buatan PT Bio
Farma yang telah teregistrasi sejak tahun 1993
(11)
. Vaksin
CAM-70 merupakan derivat strain Tanabe yang ditemukan
pada tahun 1968
(8)
.
Vaksin ini mengandung virus campak strain
CAM-70 hidup yang sudah sangat dilemahkan dan
ditumbuhkan dalam biakan jaringan janin ayam kemudian
dibeku-keringkan
(12)
. Setiap dosis vaksin yang sudah dilarutkan
mengandung virus campak tidak kurang dari 1000 TCID50
(Tissue culture Infectious Dose) atau PFU (Plaque Forming
Unit) sesuai dosis standar minimum vaksin campak yang
ditetapkan WHO. Efektivitas vaksin campak berkurang dengan
menurunnya potensi. Vaksin campak sensitif terhadap panas,
oleh karena itu akan cepat hilang infektivitasnya apabila di luar
rantai dingin (cold chain)
(
9)
.
Virus campak liar dan virus vaksin dapat dibedakan
berdasarkan spektrum dan parahnya gejala penyakit pada
hewan model dan manusia, atau dengan petanda virologi dan
imunologi. Namun demikian determinan yang spesifik terhadap
virulensi virus campak belum diketahui
(9)
.
Meskipun vaksin campak yang ada saat ini dinyatakan
aman dan efektif, penggunaannya masih terbatas karena
dihubungkan dengan adanya efek samping, baik untuk vaksin
virus campak hidup yang dilemahkan maupun diinaktifkan
(9)
.
Perbedaan sekuen nukleotida berpengaruh terhadap
imunogenitas vaksin. Imunogenitas vaksin turunan strain
Edmonston B lebih tinggi dibandingkan vaksin Schwarz yang
berasal dari turunan strain Edmonston A, tetapi reaksi samping
yang ditimbulkan oleh vaksin Schwarz, seperti rash dan
demam lebih ringan. Demikian halnya pada vaksin CAM 70
dan Shanghai 191, meskipun imunogenitas lebih rendah tetapi
reaksi samping yang ditimbulkan lebih ringan
(3)
.
RESPON IMUNITAS TERHADAP INFEKSI CAMPAK
Respon imun terhadap infeksi alam
Respon sel limfosit T dan sel limfosit B terhadap keenam
protein virus campak dapat terdeteksi pada infeksi akut primer.
Antibodi IgM akan terbentuk dan mencapai puncaknya 7-10
hari setelah timbulnya rash, kemudian akan menurun dengan
cepat, dan menghilang 4 minggu kemudian. Adanya IgM
menunjukkan adanya infeksi campak baik karena penyakit atau
karena vaksin. Ig G akan terbentuk segera setelah timbulnya
rash, dan mencapai puncaknya setelah 4 minggu. Selanjutnya
Ig G menurun, tetapi akan tetap ada seumur hidup. Ig G
terhadap protein H sangat penting, karena menunjukkan adanya
imunitas. Adanya Ig G terhadap protein F dan H akan
memberikan perlindungan terhadap infeksi secara in vivo,
meskipun Ig G terhadap protein H saja dapat menetralkan
invasi virus. Ig A juga terbentuk tetapi biasanya hanya
sebentar. Imunitas yang timbul setelah terpapar virus campak
secara alami biasanya dapat bertahan seumur hidup
(3,9)
.
Sistem imunitas tubuh harus mampu menghambat
masuknya virion ke dalam sel dan memusnahkan sel yang
terinfeksi, untuk membatasi penyebaran virus dan mencegah
infeksi ulang. Respon imunitas yang berperan menghambat
masuknya virion adalah respon humoral, dengan cara
netralisasi. Selain respon imun humoral, respon imun seluler
juga memegang peranan penting yaitu dengan melibatkan sel T
­ sitotoksik, sel NK (Natular Killer), ADCC (Antigen
Dependent Cell Mediated Cytotoxicity) dan interaksi dengan
MHC (Major Histocompatibility Complex) kelas I
(2,13,14)
.
Peran antibodi dalam menetralisasi virus akan efektif,
terutama untuk virus yang bebas atau virus dalam sirkulasi.
Proses netralisasi virus dilakukan dengan beberapa cara, di
antaranya menghambat perlekatan virus pada reseptor yang
terdapat pada permukaan sel, sehingga virus tidak dapat
menembus membran sel dan replikasi virus dapat dicegah.
Adanya antibodi akan membatasi penyebaran virus ke sel atau
jaringan tetangganya. Antibodi dapat menghancurkan virus
dengan cara aktivasi komplemen melalui jalur klasik atau
menyebabkan agregasi virus sehingga mudah difagositosis dan
dihancurkan. Antibodi dapat mencegah penyebaran virus yang
keluar dari sel yang telah hancur, namun seringkali tidak cukup
mampu menetralisir virus yang telah mengubah struktur
antigennya (mutasi) dan yang telah melepaskan diri (budding
off) melalui membran sel sebagai partikel yang infeksius,
sehingga virus dapat menyebar ke dalam sel yang berdekatan
secara langsung
(5,13,14)
.
Meskipun antibodi berperan penting mencegah infeksi
virus campak, namun dipengaruhi juga oleh respon imun
seluler, yaitu melalui mekanisme ADCC (Antibody Dependent
Cell Mediated Cytotoxicity) dan lisis komplemen terhadap sel
yang terinfeksi virus
(9)
.
Beberapa pengamatan menunjukkan bahwa sel limfosit T
berperan besar menghilangkan infeksi virus campak. Anak
leukemia dengan terapi sitotoksik setelah terpapar virus
campak menunjukkan manifestasi klinis yang bervariasi,
seperti tidak adanya rash dan berkembangnya pneumonia sel
raksasa,. Pada anak terinfeksi HIV dan anak dengan Severe
Combined Immuno Defficiency (SCID) akan berkembang
menjadi infeksi virus yang parah, meskipun telah diberi
imunoglobulin dalam jumlah besar. Pada anak yang tidak dapat
membentuk Ig G (X-linked infantile agammaglobulinemia)
imunitas seluler dapat membentuk mekanisme perlindungan
terhadap virus campak, meskipun tanpa antibodi. Jika anak
tersebut terinfeksi virus campak maka akan sembuh sempurna
dan tidak akan rentan jika terinfeksi kembali. Sel limfosit T
membantu sel limfosit B menghasilkan respon antibodi (IgM,
IgG dan IgA) dan dapat bertindak secara independen
menghilangkan virus
(5,9)
.
Respon imun terhadap imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu antigen. Tujuan
imunisasi adalah mencegah penyakit tertentu pada seseorang,
menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok orang atau
bahkan menghilangkan penyakit tertentu di dunia, seperti
penyakit cacar
(15)
.
Titer antibodi setelah imunisasi dengan vaksin campak
yang dilemahkan sangat bervariasi, tetapi masih lebih rendah
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
32
background image
dibandingkan dengan virus campak liar. Demikian juga respon
imun terhadap vaksin yang diinaktivasi berbeda dengan vaksin
virus campak hidup. Komponen F yang hancur selama proses
inaktivasi menyebabkan orang yang diimunisasi vaksin
inaktivasi hanya mempunyai respon terhadap protein H dan
tidak mempunyai respon imunitas terhadap protein F. Infeksi
virus, fusi sel dan penyebaran dari sel ke sel dapat terjadi
karena protein F tidak dinetralisir oleh antibodi
(3)
.
Antibodi akan bertahan lebih lama jika mendapat booster
dari paparan virus campak liar yang beredar. Adanya infeksi
ulang oleh virus campak liar atau oleh vaksin pada saat titer
antibodi rendah, akan merangsang sel memori menghasilkan
antibodi secara cepat dan mencapai puncaknya 12 hari setelah
infeksi ulang. Studi di komunitas terbuka di mana terjadi
booster virus campak liar menunjukkan, bahwa 6-8 tahun
setelah imunisasi campak, ternyata 85% sampel masih
mempunyai antibodi
(3)
.
Meskipun titer antibodi campak setelah
imunisasi lebih rendah dibandingkan setelah paparan virus
campak liar, imunitasnya masih dapat terdeteksi sampai umur
23 tahun, bahkan seumur hidup.
(2)
Faktor­faktor yang dapat mempengaruhi respon imun
terhadap imunisasi campak adalah usia saat imunisasi, adanya
antibodi maternal, status nutrisi, penyakit yang diderita dan
faktor vaksin yang meliputi potensi vaksin, strain yang digu-
nakan, dosis, cara penyimpanan dan rute pemberian vaksin
(3)
.
1. Usia saat imunisasi
Daya guna vaksin campak menurun bila vaksin diberikan
pada bayi yang lebih muda, karena proporsi antibodi maternal
masih tinggi. Umur saat kebanyakan bayi kehilangan antibodi
maternal dan waktu yang optimal untuk vaksinasi campak
bervariasi dari 3 - 6 bulan di beberapa negara sedang
berkembang, dan pada umur 12 bulan atau lebih di negara
lainnya
(9)
.
2. Adanya antibodi maternal
Adanya antibodi maternal dan pemberian gamma globulin
pada subyek yang terpapar virus campak, dapat mencegah
infeksi virus campak dan sakit campak klinis.
(4,8)
Antibodi
maternal yang berasal dari ibu yang terinfeksi virus campak
secara alami akan memberikan perlindungan pada bayi sampai
umur 6-12 bulan. Antibodi maternal pada bayi akan
menghilang lebih cepat pada ibu yang terinfeksi virus dari
vaksin campak. Profil antibodi maternal sangat bervariasi
tergantung daerah geografis. Kecepatan hilangnya antibodi
maternal berbanding terbalik dengan status sosial ekonomi dan
kombinasi beberapa faktor yaitu kadar antibodi maternal yang
diturunkan dari ibu, genetik, perbedaan lingkungan dalam
transfer plasenta dan perbedaan katabolisme antibodi maternal
pada bayi
(9)
.
Di Asia Tenggara, cepat hilangnya antibodi
maternal terutama disebabkan oleh menurunnya efisiensi
transfer IgG transplasental, meningkatnya katabolisme antibodi
pasif karena sering terkena infeksi pada waktu bayi dan
hilangnya antibodi ke dalam lumen usus selama diare
(3)
.
WHO's Expanded Programme on Immunization (EPI)
menyarankan pemberian vaksin campak yang dilemahkan
dengan titer standar, pada usia 9 bulan di negara sedang
berkembang. Alternatif lain diberikan pada umur yang lebih
muda untuk perlindungan yang lebih baik. Jadwal dua dosis
pada umur yang lebih muda telah dilakukan dengan dosis awal
pada usia 6 bulan, di beberapa negara sedang berkembang dan
pada usia 9-12 bulan di negara maju. Sedangkan dosis kedua
diberikan beberapa bulan kemudian
(9)
.
Di daerah transmisi virus campak liar tinggi, kesempatan
terpapar virus pada bayi atau anak-anak akan meningkat segera
setelah antibodi maternal turun. Tujuan vaksinasi pada umur
yang lebih muda adalah untuk menutup window of
susceptibility terhadap infeksi virus alam
(9)
.
Hasil penelitian imunisasi campak dengan vaksin AIK-C
pada bayi umur 6 bulan dan vaksin Schwarz pada bayi usia 9
bulan di Ghana, menunjukkan serokonversi yang sama (98%)
setelah 3 dan 6 bulan; tetapi titer rata-rata antibodi setelah
imunisasi dengan vaksin Schwarz lebih tinggi dibandingkan
vaksin AIK-C
(16)
.
Di India, imunisasi dengan vaksin Schwarz
pada bayi 6-9 bulan menunjukkan serokonversi yang lebih
rendah dibandingkan imunisasi pada bayi umur 9-12 bulan
(17)
.
Penelitian dengan vaksin campak lain yaitu CAM-70 pada
klinik pediatri di Jepang dari tahun 1982-1999 menunjukkan
serokonversi sebesar 95.4%
(18)
.
Di Indonesia program imunisasi campak dimulai pada
tahun 1981. Imunisasi campak diberikan pada bayi 9 bulan
dengan pertimbangan bahwa antibodi maternal bayi telah
menurun rata-rata pada umur 9 bulan. Selama bayi masih
mempunyai kekebalan dari ibu maka bayi akan aman dari
penyakit campak. Dengan imunisasi pada umur 9 bulan
diharapkan titer antibodi yang terbentuk setelah imunisasi
dapat maksimal, karena tidak ada pengaruh antibodi maternal
yang dapat menetralkan antigen vaksin, dan juga memberikan
perlindungan pada bayi sedini mungkin terhadap infeksi virus
alami. Pemberian satu dosis vaksin diharapkan dapat
memberikan perlindungan lebih dari 14 tahun
(19)
atau paling
sedikit 16 tahun
(3)
.
Penelitian tentang imunisasi campak banyak dilakukan di
Indonesia. Penelitian Kristiani (1990)
(20)
tentang imunisasi
campak dengan vaksin Schwarz pada anak 6-8 bulan dan 9-14
bulan di Kabupaten Magelang, menunjukkan serokonversi
masing-masing sebesar 88.8% dan 83.3%. Penelitian di
Kabupaten Sukabumi dan Kuningan pada anak 12-36 bulan
menunjukkan proporsi titer antibodi campak protektif masing-
masing sebesar 41.5% dan 29.8%
(21)
.
Penelitian Rostanti
(1991)
(22)
menemukan bahwa 9 bulan setelah imunisasi campak
pada anak umur <12 bulan, proporsi titer campak protektif
sebesar 85.9% dan setelah 28-36 bulan menjadi 70.7%.
3. Status gizi
Beberapa studi menunjukkan bahwa status gizi kurang
berpengaruh terhadap serokonversi titer antibodi sebelum dan
sesudah imunisasi campak. Bayi dengan gizi buruk akan
memetabolisme antibodi maternal untuk mempertahankan
ketersediaan protein, sehingga dengan cepat akan menurunkan
antibodi maternal tersebut. Penelitian di Yogyakarta (2000)
pada anak usia 1-12 tahun pasca imunisasi ulang campak
menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna sekonversi
titer antibodi campak berdasarkan status gizi
(23)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
33
background image
4. Penyakit yang diderita
Di negara berkembang, imunisasi pada anak yang
menderita penyakit akut cukup aman dan efektif. Namun
demikian beberapa penelitian menunjukkan bahwa
serokonversi titernya lebih rendah dibandingkan dengan anak
sehat. WHO menyarankan sebaiknya imunisasi campak tidak
diberikan pada anak yang sedang menderita penyakit akut.
Anak yang menderita imunosupresi merupakan indikasi
kontra imunisasi campak, kecuali anak yang terinfeksi HIV.
Penelitian prospektif di beberapa negara Afrika menunjukkan
tidak ada perbedaan reaksi samping setelah imunisasi campak,
pada anak yang terinfeksi HIV dan yang tidak; tetapi penelitian
di Amerika dan di beberapa negara berkembang menunjukkan
bahwa imunisasi campak dapat memperparah penyakit pada
orang yang terinfeksi HIV.Oleh karena itu imunisasi campak
disarankan diberikan secara rutin pada anak terinfeksi HIV
tanpa gejala, dan pada orang dewasa yang tidak mempunyai
imunitas terhadap campak. Perlu dipertimbangkan imunisasi
campak pada orang terinfeksi HIV dengan gejala imunosupresi
yang tidak terlalu parah
(3,6)
.
WHO menyarankan imunisasi rutin
pada bayi tanpa melakukan skrining HIV.
5. Faktor vaksin
Selain faktor hospes, kemampuan vaksin campak
merangsang respon imun dipengaruhi juga oleh strain yang
digunakan, dosis, penyimpanan dan cara pemberian vaksin.
Studi menunjukkan vaksin strain Edmonston Zagreb
menghasilkan serokonversi yang lebih tinggi dibandingkan
strain Schwarz, pada dosis dan umur yang sama. Vaksin dari
strain yang sama dapat memberikan hasil berbeda tergantung
juga dari pembuatnya; titer antibodi setelah imunisasi dengan
vaksin Edmonston Zagreb yang diproduksi di Meksiko lebih
rendah dibandingkan dengan vaksin yang diproduksi di
Zagreb
(3)
.
Dosis vaksin berpengaruh terhadap antibodi yang
terbentuk. Persyaratan WHO untuk titer minimal vaksin
campak adalah 1000 TCID 50, merupakan syarat minimal
untuk kondisi penanganan vaksin yang jelek di lapangan
(3)
.
Penyimpanan vaksin yang jelek berdampak pada
rendahnya efikasi vaksin. Meskipun telah dibuat dalam bentuk
beku kering, vaksin campak yang telah dilarutkan masih
sensitif terhadap panas dan sinar matahari. Penggunaan desin-
fektan untuk sterilisasi siring dan jarum dan variasi dosis yang
diberikan melalui injektor juga mempengaruhi efikasi vaksin
(3)
.
Beberapa studi menunjukan bahwa pemberian vaksin non
parenteral lebih efektif merangsang terbentuknya Ig A, karena
virus vaksin dapat berreplikasi di epitelium pernafasan tanpa
dipengaruhi antibodi maternal. Pemberian vaksin secara
aerosol menghasilkan serokonversi titer yang sama tinggi
dengan pemberian secara subkutan, meskipun secara teknis
pemberian secara aerosol relatif sulit dan kurang praktis.
Pemberian vaksin secara intranasal memberikan hasil yang
bagus di Yugoslavia akan tetapi hasil serokonversi yang rendah
di Kenya. WHO menyarankan pemberian imunisasi campak
secara subkutan. Penelitian tentang cara pemberian imunisasi
lainnya masih terus dikembangkan
(3)
.
PENUTUP
Kasus campak masih sering dijumpai di beberapa daerah
di Indonesia. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah
respon imun yang kurang optimal. Imunisasi merupakan salah
satu upaya untuk meningkatkan respon tersebut. Dengan
perbaikan mutu vaksin, peningkatan status gizi masyarakat dan
penanganan kasus yang baik diharapkan kasus campak dapat
dikurangi, sehingga tujuan eradikasi campak dapat segera
tercapai.
KEPUSTAKAAN
1.
DitJen PPM-PL. Petunjuk Teknis Reduksi Campak di Indonesia. Edisi 1.
Depkes Jakarta.1995:1-9.
2.
Field BN, Knipe DM. Field Virology. 2nd ed, New York : Raven Press..
1990; I: 1013 ­ 36.
3. Cutts F. The Immunologic Basic for Immunization. Measles.
WHO/EPI/GEN/93.17.WHO Geneva. 1993;1-10.
4. Griffin DE, Ward BJ, Esolen LM. Pathogenesis of Measles Virus
Infection: a hypothesis for altered immune responses. J. Infect Dis. 1994;
170(Supp1):S25-6.
5.
Stites DP, Terr AI, Parslow TG. Medical Immunology. 9th ed. Prentice-
Hall International Inc. 1997; 699-700.
6. Redd SC, Markowitz LE, Katz SL. Measles Vaccine. In Plotkin SA,
Orenstein WA. Vaccine. 3
rd
ed .Tokyo:WB Saunders Co.: 1999; 223.
7. Ditjen PPM-PL. Pedoman Surveilans dan Respon KLB dalam Rangka
Reduksi Campak di Indonesia. DepKes Jakarta. 2002;1-9.
8. Bellini WJ, Rota JS, Rota P. Virology of Measles Virus. J. Infect Dis.
1994;170(Suppl.):S15-21.
9. Gellin B, Katz SL. Measles: State of the Art and Future Directions. J.
Infect Dis. 1994;170 (Suppl.):S3-9.
10. Osterhaus AD, Vries P, van Binnendijk RS. Measles Vaccine : Novel
Generation and Strategies. J. Infect Dis.1994;170(Suppl 1); S42-S46.
11. Pok Ja Reduksi Campak. Notulen tg. 20 Januari 2004.
12. PT Bio Farma. Vademekum. 1997;52- 4.
13. Kresno SB. Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. FK UI
Jakarta. 1996; 4-6,106-7.
14. Roit I, Brostoff J, Male D. Immunology. 4 ed. Mosby London, 1996,
p:16.1- 8.
15. BrataRanuh IGN, Soeyitno H, Hadinegoro SR, Kartasasmita C. Buku
Imunisasi di Indonesia. Ed. 1. Satgas Imuninisasi-IDI.2001:57-63,105-10.
16. Nkrumah FK, Osei-Kwasi MO, Dunyo SK, Koram KA, Afani EA.
Comparison of AIK-C Measles Vaccine in Infants at 6 Months with
Schwarz Vaccine at 9 months: a randomized controlled trial in Ghana.
Bull WHO 1998;7(4):353-4.
17. Vidyashankar. Optimal Age for Measles Vaccination. J.Indian
Med.Assoc. 2002. Jan;100(1):24-26 (Abstrak).
18. Ozaki et al. Clinical and Serological Studies on CAM-70 Live Attenuated
Measles Vaccine, an 18-Year Survey at Pediatric Clinic in Japan.
Vaccine.2002. Jun 7:20 (19-20) 2618-22. (Abstrak).
19. Dit Pengamatan EPIM-Kesma.DirJen P2MPLP. Materi Pelatihan
Manajemen Program Imunisasi Tingkat Kabupaten dan Kota. DepKes
Jakarta, 2000.
20. Kristiani R. Vaksinasi campak pada anak umur 6-36 bulan dengan
berbagai tingkat gizi di kecamatan Salam Kabupaten Magelang, Propinsi
Jateng. Laporan Penelitian. 1990.
21. Yuwono J. Efektivitas Imunisasi Campak dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Puslitbang Pemberantasan Penyakit. Badan Litbang
Kesehatan. 1991/1992.
22. Rostanti T. Serokonversi HI 0-36 Bulan Pasca Vaksinasi Campak pada
Anak Balita di Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Tesis S2. Fakultas Pasca Sarjana. UGM. 1991.
23. Heriyanto B. Model Pemberian Imunisasi Ulang Campak pada Anak.
Puslitbang Pemberantasan Penyakit. Badan Litbang Kesehatan. Laporan
Penelitian. 1999/2000.
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
34

Document Outline