background image
IKHTISAR
Masa Depan
Pengembangan Vaksin Baru
Dyah Widyaningroem Isbagio
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
ABSTRAK
Pada abad 21 vaksin menjadi salah satu faktor penting kesehatan masyarakat
dalam pencegahan dan pengobatan penyakit. Pada 5 sampai 15 tahun mendatang,
vaksin baru dan teknologi pemberian vaksin baru akan menjadi dasar pencegahan dan
pengobatan penyakit, yang akan mempengaruhi kesehatan masyarakat.
Prospek pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit serius dengan mengguna-
kan vaksin diramalkan merupakan perkembangan yang menggairahkan dalam bidang
kesehatan masyarakat.
Tinjauan ini menjelaskan perkembangan terbaru ilmu dasar sebagai penyokong
pengembangan vaksin baru dan potensi vaksin untuk pengobatan dan pencegahan
sejumlah penyakit infeksi dan non infeksi.
PENDAHULUAN
Vaksin secara potensial dapat mencegah dan mengobati
penyakit manusia. Kemajuan baru di bidang vaksin seperti
conjugated pneumococcal vaccines untuk orang dewasa, nasal
spray vaccines influenza, dan acellular pertussis vaccines
untuk orang dewasa, merupakan cara yang efisien untuk meng-
hasilkan proteksi imun yang bertahan lama.
Penelitian sedang dilakukan pada vaksin yang banyak
digunakan untuk penyakit-penyakit di negara berkembang
seperti malaria, hookworm, dengue, enterotoxigenic E. coli,
shigella, tuberkulosis.
Vaksin terhadap penyakit non infeksi (seperti kanker,
diabetes, dan penyakit Alzheimer) dan ketergantungan nikotin
dan kokain masih merupakan pengobatan alternatif.
Vaksin terhadap senjata biologi akan dimungkinkan
dengan kemajuan pada vaksin DNA.
Teknologi pemberian vaksin baru akan mempermudah
cara pemberian (seperti transkutan, depot, nasal dan pemberian
oral) tanpa mengurangi efikasi.
Sejumlah vaksin yang mempunyai potensi untuk di-
kembangkan pada abad ke 21dapat dilihat di Tabel 1.
(1)
PENGEMBANGAN VAKSIN BARU
A. Vaksin baru terhadap penyakit-penyakit infeksi
1. Pengembangan vaksin DNA
Satu pendekatan yang sangat diminati ialah merangsang
respon imun protektif yang dikehendaki dengan cara me-
nyuntikkan DNA yang direkayasa dari organisme infeksius
(enginereed DNA sequences). Jika antigen dapat diidentifikasi,
rangkaian DNA yang disandi untuk antigen protein sangat
mungkin untuk disisipkan ke dalam pembawa/carrier genom
(seperti beberapa poxvirus atau alphavirus). Bila diberikan ke
dalam host, organisme ini (karena disisipi DNA) mengalami
replikasi terbatas, protein yang dikehendaki diproduksi, dan di
dalam host berkembang respon imun terhadap protein tersebut.
Dengan strategi yang sama, naked DNA disuntik langsung
ke dalam host untuk memproduksi respon imun (Gambar 1).
Naked DNA adalah rangkaian sederhana (simple sequences)
dari DNA yang disisipkan ke dalam plasmid bakteri (extra-
chromosomal rings of DNA) dan disuntikkan ke dalam host.
Hal ini telah terbukti efektif pada animal models, tetapi
penyuntikan DNA secara intramuskuler pada manusia gagal
menghasilkan respon imun yang kuat, walaupun pemberian
DNA secara transdermal atau intradermal lebih dianjurkan.
Uji klinik pemberian secara intradermal microscopic gold
beads coated with DNA coding untuk antigen permukaan hepa-
titis B menghasilkan tingkat antibodi protektif kepada antigen.
Vaksin ini juga dihasilkan dari CD8 cytotoxic lymphocytes.
Walaupun telah sukses pada animal models, per-
kembangan di manusia sangat lambat. Sampai sekarang, hanya
vaksin DNA terhadap hepatitis B dan malaria yang dapat
menimbulkan respon imun yang diperkirakan protektif pada
manusia. (Gambar 1).
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
12
background image
Tabel 1. Vaksin potensial pada abad 21
Vaksin baru untuk
Vaksin terhadap
Maternal
Neonatus
Bayi 2-6 bulan
Anak 1-2 tahun
Anak 4- 6 tahun
Anak 11- 13 tahun
Dewasa muda
Usia > 50 tahun
Wisatawan
Negara berkembang
Streptococcus grup B, respiratory syncytial virus
Respiratory syncytial virus, hepatitis B
Pediatrik kombinasi (Acellular pertussis (DtacP),
Haemophilus influenzae type b, hepatitis B,
pneumococcal, meningococcal, hepatitis A), otitis
(non-typable Haemophilus influenzae, Branhamella
catarrhalis), rotavirus (new), meningococcal conjugate
.
Measles-mumps-rubella-varicella (MMRV), influenza
(intranasal)
MMRV booster, pediatrik kombinasi booster,
Streptococcos mutans (anti-carries, oral), Lyme
diseases dan tick-borne encephalitis (endemic area)
HIV, human papillomavirus, herpes simplex virus 2,
Neisseria gonorrhoeae, cytomegalovirus, parvovirus,
Epstein-Barr virus
Toksoid difteri-tetanus, acellular pertussis,
Helicobacter pylori (anti-ulcer), Chlamydia
pneumoniae (anti atherosclerosis)
Influenza (subcutaneous dan intranasal),
pneumococcus (protein dan polisakarida), herpes
zoster, kanker (vaksin profilaktik dan terapetik)
Vaksin terapi terhadap diabetes, multiple sclerosis,
meningococcal conjugate
Enterotoxigenic Escherechia coli, shigella, malaria,
dengue, tuberkulosis
Gambar 1. Prinsip vaksinasi DNA. Suatu gen imunogenik diinsersikan ke
dalam plasmid (A), yang kemudian diinsersikan ke dalam
biakan jaringan (B). Sel dipilih untuk ekspresi protein gen dan
kemudian dibiakkan. DNA plasmid kemudian diekstraksi dari
sel dan dipurifikasi sebelum digunakan pada hospes yang
akan diimunisasi (C).
2. Pengembangan vaksin terapi
Secara tradisional vaksinasi adalah tindakan pencegahan
penyakit infeksi dengan pemberian antigen imunogenik yang
berasal dari permukaan agen yang infeksius, agar menghasilkan
imunitas terhadap replikasi dan terjadinya infeksi oleh
organisme asing.
Vaksin terapi dapat membatasi atau memusnahkan infeksi
atau kondisi infeksi yang telah ada.
Perkembangan vaksin terapi tergantung pada kemampuan
vaksin DNA dalam merangsang respon imun humoral dan
seluler (cell mediated) melalui inokulasi plasmid DNA yang
mengandung sekuen untuk transcription dan translation,
menghasilkan peptida atau protein imunogenik secara in vivo.
Usaha sedang dilakukan untuk pengembangan vaksin
terapetik terhadap HIV yang akan merangsang limfosit T
spesifik terhadap virus HIV, dengan tujuan mengaktifkan sel T
untuk merusak sel yang terinfeksi secara laten.
Upaya lainnya termasuk pengembangan vaksin terapetik
terhadap Helicobacter pylori, kandidiasis mukosal, virus
herpes, dan human papillomavirus. Vaksinasi DNA untuk virus
hepatitis B telah menunjukkan harapan yang besar. Pem-berian
sekuen viral DNA (viral DNA sequences) dapat merang-sang
kekebalan humoral yang bertahan lama dan cell mediated
immunity pada mencit yang diinfeksi dengan virus hepatitis B.
Pada mencit transgenik, setidaknya terjadi penurunan atau
clearance antigen permukaan hepatitis B, dengan bukti induksi
antibodi dan proliferasi sel-sel T CD4. Kemampuan sistem
imun untuk mengeliminasi agen infeksi setelah infeksi atau
timbul sakit secara nyata memperbaiki kesehatan manusia.
Contoh penting lain pengembangan vaksin terapetik
termasuk pengembangan vaksin kanker tertentu, yang akan
didiskusikan kemudian.
3. Kemajuan vaksin mutakhir
Angka kesakitan dan kematian akibat infeksi bakteri
Streptococcus pneumoniae dan virus influenza di seluruh dunia
perlu diperhatikan. Di beberapa negara barat, vaksin konjugasi
S. pneumoniae diakui dapat mengurangi jumlah kasus penyakit
S. pneumoniae yang invasif (bakteremia, meningitis, dan
sepsis) pada bayi dan anak kecil.
Vaksin influensa hidup yang dilemahkan (live attenuated
influenza virus vaccine) telah dilisensi di Amerika Serikat.
Vaksin ini diberikan secara semprot (intranasal spray), dapat
merangsang imunitas sistemik dan mukosal, sehingga me-
ngurangi penggunaan suntikan parenteral.
3a. Streptococcus pneumoniae
Vaksin polisakarida multivalen S. pneumoniae telah ada di
AS sejak 1977, tetapi produksinya kurang bagus atau respon
imun pada anak-anak tidak konsisten, terutama pada anak <2
tahun. Vaksin polisakarida ini merangsang antibodi terutama
melalui mekanisme sel T independen, tidak bertahan lama dan
tidak dapat merangsang memori respon imun. Untuk alasan
tersebut, saat ini telah dikembangkan suatu protein konjugasi
pembawa antigen polisakarida dari S. pneumoniae, yang
menimbulkan respon imun sel T dependen, sehingga bayi dan
anak kecil lebih responsif terhadap vaksin.
AS telah melisensi vaksin konjugasi polisakarida
heptavalent S. pneumoniae mengandung tujuh macam serotipe
(4, 6B, 9V, 14, 18C, 19F, dan 23F) yang umumnya paling
berhubungan dengan invasi penyakit pada bayi dan anak kecil.
Vaksin baru ini juga diperkirakan berguna untuk mengurangi
risiko karier nasofaring tujuh macam serotype S. pneumoniae
tadi
(1)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005 13
background image
Tetapi vaksin konjugasi ini agaknya terlalu mahal untuk
diproduksi; untuk mengatasinya sedang diusahakan meng
identifikasi antigen utama. Antigen utama ini jika telah
diisolasi dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan teknologi
rekombinan dan tidak membutuhkan konjugasi. Keuntungan
vaksin ini ialah biaya produksi rendah, dapat diproduksi dalam
jumlah besar dan tidak ada spesifisitas serotipe.
(2,3)
3b. Virus influenza
Saat ini hanya vaksin virus influenza inaktif parenteral
yang dibuat di embrio ayam yang dilisensi di AS. Karena
perubahan virus influenza yang beredar setiap tahun (antigenic
drift), maka proteksi pada kelompok risiko tinggi memerlukan
vaksinasi setiap tahun
(1,4)
.
Virus memiliki dua tipe varian antigenik yaitu drift dan
shift. Antigenic drift dapat ditemukan pada kedua virus A dan
B, walaupun pada virus B kejadiannya berlangsung kurang
cepat. Drift menyebabkan variasi genetik minor yang disebab-
kan oleh mutasi titik gene haemaglutinin dan neuraminidase.
Berbagai strain drifted mempunyai subtipe H dan N yang
sama, tetapi berbeda pada permukaan glikoproteinnya, hal ini
menyebabkan manusia dapat terinfeksi lebih dari sekali.
Epidemi flu tahunan terjadi karena lemahnya proteksi terhadap
berbagai strain drifted. Akibat adanya antigenic drift ini maka
komponen vaksin influensa perlu diperbaiki secara berkala
(4)
.
Live attenuated influenza vaccine sedang diusulkan untuk
disetujui oleh FDA AS, mengandung recombinant cold-
adapted strain of influenza A and B intranasal spray. Vaksin
ini telah diuji coba pada anak kecil dan orangtua. Pada anak
seronegatif usia lebih dari 15 bulan, respon antibodi terhadap
komponen influenza A dan B setelah pemberian vaksin dosis
tunggal efikasinya mencapai 93%. Penggunaan live attenuated
trivalent vaccine pada dewasa secara signifikan mengurangi
kejadian sakit, kunjungan ke tenaga kesehatan, dan kehilangan
hari kerja
(5,6)
.
B. Vaksin baru terhadap penyakit non infeksi
Bila targetnya tepat, maka respon imun dapat digunakan
untuk mengeliminasi sel dengan tingkah laku menyimpang
(displasia) atau fungsi genom yang menyimpang (malignancy)
atau untuk mengurangi jumlah sel inflamasi pada organ
spesifik (seperti pada diabetes). Hal ini meningkatkan kemung-
kinan pengembangan vaksin terhadap penyakit yang tidak ber-
hubungan dengan agen infeksi. Dua dari sekian banyak area
yang menjanjikan adalah vaksin terhadap kanker dan penyakit
autoimun.
1. Kanker
Identifikasi antigen tumor spesifik (tumour associated
antigen) yang hanya ada pada sel kanker, seperti yang
ditemukan pada leukemia, kanker mammae, melanoma, kanker
prostat, dan kanker kolon, merupakan target imun untuk me-
rancang vaksin imunogenik. Misalnya, ekspresi protein GP1-
B7-1 yang dipindahkan ke dalam membran sel tumor timoma
murine dapat mencegah perkembangan tumor ini pada mencit.
Pada manusia, merangsang respon sel T menggunakan isolat
membran yang diambil dari jaringan tumor manusia yang
mengekspresi MHC (major histocompatibility complex) class II
molecule menunjukkan kemungkinan dapat dibentuknya respon
imun spesifik target yang dapat mengeleminasi sel tumor.
Upaya lain adalah vaksin terapetik terhadap melanoma,
kanker kolorektal, leukemia, dan kanker lainnya. Telah diteliti
kemampuan vaksin DNA untuk membawa sekuen nukleotida
yang tepat dan spesifik menyerupai gene target, seperti gene
ALVAC gp100 untuk melanoma dan gene ALVAC CEA-B7.1
untuk kanker kolorektal dan fragmen protein spesifik seperti
peptide HER2/Neu pada sel-sel kanker mammae, merupakan
alat yang potensial untuk merangsang respon imun.
2. Penyakit autoimun
Penyakit yang berhubungan dengan aktivasi imun pato-
logik, seperti penyakit autoimun dan alergi, mungkin dapat
diobati atau dicegah dengan vaksin. Upaya pengembangan
vaksin dilakukan terhadap rematoid arthritis, multiple sclerosis,
myasthenia gravis, alergi makanan, dan terutama diabetes tipe I
karena tingginya angka kesakitan dan kematian.
Pada diabetes tipe I, terjadi infiltrasi limfosit secara
selektif ke sel beta pankreas yang mengekskresi insulin. Salah
satu strategi pengembangan vaksin adalah mereduksi infiltrasi
limfosit yang patologik dengan cara toleransi; yaitu pemberian
sejumlah kecil antigen yang sama dengan target respon imun
yang menyimpang dari kebiasaan, sehingga jika tidak ada
stimulus sitokin, aktifitas sel T tertahan dan inflamasi ber-
kurang.
Pada penyakit Alzheimer, protein amilod beta diduga ber-
tanggung jawab untuk terjadinya neurodegenerative plaque
yang ditemui pada gangguan ini. Pada murine pemberian
vaksin dapat mengurangi dan mencegah pembentukan plaque,
disertai perbaikan fungsi kognitif.
Contoh lain pengembangan vaksin yang potensial adalah
untuk mencegah ketergantungan kokain dan nikotin. Dengan
penggunaan imunofarmakoterapi, antibodi dapat dirancang
untuk menetralisasi obat pada target reseptor otak. Upaya juga
sedang dibuat untuk mengembangkan vaksin terhadap arterios-
klerosis dan mencegah konsepsi.
C. Vaksin terhadap senjata biologis pembunuh massal
Senjata biologis pembunuh massal digunakan teroris untuk
menimbulkan kerugian pada sejumlah besar orang, dengan
biaya dan teknologi semurah mungkin, tetapi menimbulkan
kepanikan massa.
Karena kemampuan senjata biologis untuk menginfeksi
dan membunuh sejumlah besar orang dengan risiko transmisi
dari orang ke orang, maka praktis hanya vaksin yang dapat
mencegah hal ini.
Terdapat sejumlah vaksin yang telah dilisensi terhadap
smallpox, plague, anthrax dan lain-lainnya, tetapi hanya se-
jumlah kecil vaksin anthrax diproduksi di AS untuk kelompok
risiko spesifik. Telah dikembangkan vaksin generasi kedua
terhadap anthrax, smallpox dan plague, sedangkan vaksin ter-
hadap agen lain bioterorisme seperti virus haemorhagic fever
dan lainnya masih dalam pengembangan.
Walaupun demikian, terdapat kendala dalam memproduksi
vaksin seperti ini untuk digunakan di masyarakat, antara lain
finansial, kesulitan uji klinik efikasi, tidak adanya rasio risiko
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
14
background image
dan manfaat di tingkat kesehatan masyarakat, dan keengganan
pemerintah menghadapi realitas bioterorisme.
D. Teknologi baru pemberian vaksin
Hampir semua imunisasi yang direkomendasikan, me-
merlukan pemberian secara parenteral, dan banyak yang
memerlukan rangkaian suntikan. Agar efektif, vaksin untuk
beberapa penyakit dibutuhkan untuk mempertinggi imunitas
mukosal seperti halnya imunitas sistemik. Untuk alasan ter-
sebut, dipikirkan metode baru pemberian vaksin, sebagai
alternatif suntikan.
Penggunaan vaksin secara topikal (mis transcutaneous),
makanan tanaman transgenik (transgenic edible plants) yang
mengandung gen untuk antigen vaksin manusia, dan sistem
pemberian depo yang terkontrol (controlled delivery depot
system) dengan vaccine antigens encapsulated in
biodegradable polymers sedang dalam penelitian. Cara
pemberian baru ini, dapat mengurangi suntikan berulang,
keperluan melatih pekerja kesehatan, dan mungkin mengurangi
keperluan rantai dingin yang ketat dalam penyimpanan vaksin.
1. Imunisasi
transcutaneous
Penelitian pada hewan menunjukkan adanya produksi
antibodi sistemik maupun mukosal setelah pemberian vaksin
topikal. Agen seperti toksin kolera dan enterotoksin
Escherichia coli tak tahan panas (heat labile enterotoxin of E.
coli), untuk kombinasi dengan antigen vaksin seperti tetanus
toksoid yang bertindak sebagai ajuvan akan memproduksi
antibodi protektif setelah pemberian pada kulit hewan.
Mutan non toksik (non-toxic mutants) atau subunit toksin
kolera dan enterotoksin E. coli diperlukan pada setiap peng-
gunaan di permukaan mukosa manusia. Berbagai ajuvan lain
selain toksin kolera dan enterotoksin E. coli (termasuk
bacterial ADP-ribosylating exotoxins, interleukin 1 beta
fragment, interleukin 2, dan tumour necrosis factor alpha) juga
telah diperlihatkan memproduksi respon imun setelah aplikasi
topikal
(1)
.
2. Pemberian vaksin melalui makanan tanaman
transgenik (transgenic edible plants).
Judul di atas sepertinya khayalan ilmiah (science fiction),
akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Sebagai ganti nyeri
suntikan maka beberapa vaksin mungkin pada suatu saat dapat
diberikan bersama dengan makanan yang kita telan. Riset di
Amerika Serikat sedang berlangsung menggunakan kentang
yang mendapat rekayasa genetika sehingga mengandung vaksin
makanan.
Sebagai pengganti menanam materi genetik dari virus dan
bakteri pada ragi atau sel lainnya, maka gen kunci dimasukkan
ke dalam tanaman makanan yang kemudian akan berkembang-
biak, membuat vaksin dengan biaya murah. Agaknya hal ini
dimungkinkan minimal pada hewan. Tikus telah berhasil
diimunisasi terhadap kolera/enterotoxic E. coli setelah hewan
ini makan kentang mengandung calon vaksin. Selain itu
kentang yang mengandung vaksin hepatitis B memberikan efek
yang disebut para ilmuwan "priming", yaitu meningkatkan
respons imun pada tikus yang respons imunnya rendah pada
imunisasi dengan vaksin hepatitis B komersial.
Saat ini peneliti di Boyce Thompson Institute for Plan
Research di New York sedang mencoba pengembangan
kentang yang mengandung kandidat vaksin kolera dan vaksin
hepatitis B. Selanjutnya para peneliti merencanakan rekayasa
genetika atau vaksin lainnya dalam jumlah tak terbatas dengan
biaya murah. Tanaman lain yang dijadikan target pembawa
vaksin ialah kedelai, yang dapat diproses menjadi susu kedelai
yang dapat diminum oleh anak.
Selanjutnya dalam beberapa tahun ke depan para peneliti
berharap dapat mengembangkan prototipe vaksin makanan
terhadap hepatitis B yang dapat diproduksi dan disebarluaskan
di negara berkembang dengan biaya hanya 10 sen dollar per
dosis (jauh lebih murah dari harga vaksin hepatitis B yang
berasal dari plasma)
(2)
.
Baru-baru ini antigen vaksin lain seperti tetanus dan
difteria toksoid pada pisang merupakan penelitian masa
depan.
(1)
Walaupun demikian kelompok ilmuwan lainnya tetap
skeptis terhadap pengembangan vaksin hepatitis B oral, oleh
karena antigen permukaan virus hepatitis B (HbsAg) dengan
cepat dirusak oleh saluran cerna.
Pengembangan tanaman yang mampu mengekspresikan
antigen vaksin adalah suatu strategi baru (Gambar 2)
(1)
.
Gambar 2. Prinsip pembuatan vaksin dari tanaman edible. Gen patogen
dari manusia diinsersikan ke bakteri yang akan menginfeksi
tanaman (A). Bakteri kemudian menginfeksi biakan segmen
tanaman makanan (B), yang akan tumbuh menjadi tanaman
utuh yang mengandung gen patogen manusia(C). Bila
dimakan akan merangsang respons imunologis.
Kelompok lain mempermasalahkan peraturan produksi
tanaman mengandung vaksin. Apakah dianggap tanaman atau
produk biologik? Kelompok lain mempertanyakan apakah
seseorang dapat overdosis vaksin. Apakah cara ini memung-
kinkan adanya sistem vaksinasi yang berbeda untuk negara
maju dan untuk negara berkembang? Akhirnya pertanyaan
pokok yang harus dikaji ialah : Apakah masyarakat dapat
menerima hal ini?
(2)
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005 15
background image
3. Sistem pemberian depo terkontrol
Penggunaan pemberian terkontrol antigen vaksin, atau
teknologi depo vaksin akan mengurangi jumlah penyuntikan
parenteral, tetapi secara potensial menyerupai infeksi alam.
Sejumlah antigen encapsulated in microspheres composed of
biodegradable polymers such as poly (lactic/glycolic) acid
(PLGA), yang dapat ditujukan ke berbagai macam sel pada
sistem imun atau dapat dibentuk depo pada tempat suntikan,
memungkinkan pelepasan lambat antigen sepanjang waktu.
Profil pelepasan antigen vaksin tergantung dari ukuran partikel,
dan kombinasi besar kecil mikrosfer yang dibuat mirip profil
konsentrasi antigen pada imunisasi konvensional, yang dapat
bertindak sebagai kombinasi injeksi primer dan booster. Studi
terbaru pada hewan ditemukan bahwa toxoid tetanus
encapsulated atau Haemophilus influenza type b polisakarida
menghasilkan kadar antibodi tinggi yang menetap untuk
beberapa bulan
(1)
.
KESIMPULAN
Masa depan vaksinologi memberikan harapan besar dalam
pengendalian penyakit. Vaksin dapat diberikan secara oral,
semprot hidung, atau transkutan oleh awam dengan pelatihan
minimal dan dengan cara yang tidak memerlukan peralatan
mahal. Walaupun terdapat perkembangan cepat dalam pe-
ngembangan vaksin baru; ada keprihatinan tentang keamanan
vaksin dan meningkatnya sentimen anti vaksin akan mem-
pengaruhi cakupan imunisasi, kemauan pabrik untuk mengem-
bangkan vaksin baru, dan kemauan individu dan tenaga
kesehatan untuk menggunakannya.
Kemajuan vaksin dan teknologi vaksin membutuhkan
usaha edukasi masyarakat yang lebih kuat. Hal ini terutama
diperlukan untuk vaksin DNA, vaksin kombinasi, vaksin
vektor, dan vaksin yang diberikan dengan cara depo parenteral.
Selanjutnya potensi vaksin spesifik berdasarkan genotip
individu (vaksin terhadap keganasan spesifik pada orang
tertentu) juga akan meningkat perhatian kita.
Akhirnya, prospek pencegahan dan pengobatan pada ber-
bagai penyakit serius dengan menggunakan vaksin diramalkan
merupakan era yang menggairahkan dalam bidang kesehatan
masyarakat dan vaksinologi.
KEPUSTAKAAN
1.
Poland GA, Murray D, Guerrero RB. New Vaccine Development. BMJ
2002; 324:1315-9
2. State of the World's Vaccines and Immunization. Ch. 4 : Key vaccine
under development. Geneva:WHO,1996; pp.101-112
3. Mulholland K. Pneumococcal vaccines for developing countries. In :
Trend of Vaccines in Developing Country and Its Implication on
Regulation. One day Seminar on the Occasion of 112th Bio Farma
Anniversary, Jakarta 2002 : 1-6
4.
Cheung M, Liberman. Influenza ­ Update on Strategies for Prevention.
J.Paediatr. Obstetr. Gynaecol. 2003; 29:15-23.
5.
Belshe RB, Mendelman PM, Reanor J, King J, Gruber WC, Piedra P et al.
The efficacy of live attenuated, cold-adapted, trivalent, intanasal
influenza virus vaccine in children. N Engl J Med 1998; 338:1405-12.
6.
Nichol KL, Mendelman PM, Mallon KP, Jackson LA, Gorse GJ, Belshe
RB et al. Effectiveness of live, attenuated intranasal virus vaccine in
healthy, working adults : a randomized controlled trial. JAMA 1999; 282:
137-144.
Thank you, Pak!
Thank back many
- many, Menir......
16 Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005

Document Outline