Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
5
Artikel
ANALISIS
Penyakit-penyakit Menular
yang Dapat Dicegah
dengan Imunisasi di Indonesia
Enny Muchlastriningsih
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Seperti diketahui penyakit menular disebabkan oleh
infeksi berbagai organisme maupun mikroorganisme di antara-
nya bakteri dan virus. Contoh penyakit menular yang disebab-
kan infeksi bakteri misalnya: difteri, pertusis, tuberkulosis dan
tetanus sedangkan yang disebabkan oleh virus misalnya hepa-
titis, polio, dan campak. Penyakit penyakit di atas sebetulnya
sudah dapat dicegah melalui imunisasi baik imunisasi dasar
saat bayi 0-11 bulan maupun imunisasi lanjutan saat anak usia
sekolah, ada pula imunisasi yang diberikan pada ibu hamil dan
calon pengantin wanita yaitu imunisasi Tetanus toxoid .
Imunisasi sendiri sebetulnya sudah berlangsung lama,
misalnya menurut hikayat Raja Pontus melindungi dirinya dari
keracunan makanan dengan cara minum darah itik, sedangkan
penggunaan hati anjing gila untuk pengobatan rabies menjadi
basis pendekatan pembuatan vaksin rabies.
Pembuatan vaksin dapat dikatakan dimulai tahun 1877 oleh
Pasteur menggunakan kuman hidup yang dilemahkan yaitu
untuk vaksinasi cowpox dan smallpox; pada tahun 1881 mulai
dibuat vaksin anthrax dan tahun 1885 dimulai pembuatan
vaksin rabies
(1)
.
Sejarah imunisasi di Indonesia dimulai pada tahun 1956
dengan imunisasi cacar; dengan selang waktu yang cukup jauh
yaitu pada tahun 1973 mulai dilakukan imunisasi BCG untuk
tuberkulosis, disusul imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil
pada tahun 1974; imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus) pada
bayi mulai diadakan pada tahun 1976. Pada tahun 1977 WHO
mulai menetapkan program imunisasi sebagai upaya global
dengan EPI (Expanded Program on Immunization) dan pada
tahun 1981 mulai dilakukan imunisasi polio, tahun 1982
imunisasi campak mulai diberikan, dan tahun 1997 imunisasi
hepatitis mulai dilaksanakan
(2)
.
Adapun kegiatan imunisasi yang rutin diadakan ialah:
1) Imunisasi dasar pada bayi umur 0-11 bulan meliputi : BCG
(1 kali pemberian), DPT (3 kali), Polio (4 kali), Hepatitis B (3
kali), dan Campak (1 kali).
2) Imunisasi lanjutan pada anak sekolah yaitu imunisasi DT
(1 kali) dan TT (2 kali).
3) Imunisasi lanjutan pada ibu hamil dan calon pengantin
wanita ialah TT 5 kali pemberian.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
gambaran epidemiologi penyakit menular yang dapat dicegah
dengan imunisasi sesuai dengan program imunisasi di Indo-
nesia. Adapun tujuan khususnya ialah mengetahui gambaran
epidemiologi : tuberkulosis paru (Tb paru), difteri, tetanus,
pertusis, polio, hepatitis B, dan campak.
METODOLOGI
Data dasar didapatkan dari Buku Data Tahun 2003 dari
DitJen PPM & PL
(3)
berasal dari laporan daerah yang meliputi :
Laporan bulanan puskesmas (LBI), Laporan rawat jalan (RL
2b), Laporan rawat inap (RL2a), Laporan RS melalui Sistem
Surveilans Terpadu, dan Laporan Kejadian Luar Biasa (KLB)
24 jam (W1). Data dasar diolah dan dianalisis menggunakan
metoda statistik per penyakit sesuai dengan penyakit yang
menjadi prioritas program imunisasi yang sedang dijalankan di
Indonesia.
HASIL PENELITIAN
1. Tuberkulosis paru
Penyakit ini sebetulnya dapat dicegah dengan pemberian 1
kali imunisasi BCG pada usia 0- 11 bulan sehingga dengan
peningkatan imunisasi yang efektif diharapkan kejadian pe-
nyakit ini dapat diturunkan.
Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis
dan M. africanum, yang dapat mengenai paru-paru, tulang,
selaput otak, kelenjar limfa, dan sebagainya; yang dibicarakan
di sini hanya tuberkulosis paru.
Penularan penyakit ini lewat percikan ludah penderita
(droplet infection), masa inkubasinya antara 4-12 minggu.
Kejadiannya meningkat sejalan dengan umur; penderita ber-
umur lebih tua lebih banyak daripada usia muda, lebih banyak
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
penderita laki-laki, serta lebih banyak menyerang kaum miskin,
dan lebih banyak di perkotaan dibandingkan di pedesaan
(4)
.
Data surveilans penderita tuberkulosis paru membedakan
tuberkulosis paru dengan hasil laboratorium BTA(+) yaitu
ditemukannya bakteri tahan asam di spesimen penderita
dengan tuberkulosis paru klinis, dengan ditemukannya tanda-
tanda klinis yang mengarah ke tuberkulosis meskipun tidak
ditemukan kumannya (BTA negatif).
Tuberkulosis Paru BTA(+)
Tabel 1. Jumlah penderita Tuberkulosis Paru BTA (+) pada RS rawat
jalan berdasarkan golongan umur, 2000- 2002.
Golongan umur
Tahun
<1 th
1-4 th
5-14 th
15-44 th
>45 th
Jumlah
2000
0
0
4.902
15.146
15.317
35.365
2001
520
1.699
2.162
7.442
6.243
18.066
2002
117
2.953
1.769
9.979
4.314
19.132
Jumlah
637
4.652
8.833
32.567
25.874
72.563
Tabel 1 memperlihatkan jumlah penderita tuberkulosis
paru BTA (+) rawat jalan selama tahun 2000 - 2002, anak di
bawah 5 tahun dengan tuberkulosis BTA(+) ditemukan pada
tahun 2001 (520) dan tahun 2002 agak menurun yaitu 117
kasus. Keadaan ini menimbulkan keprihatinan karena penderita
balita akan mengalami hambatan pertumbuhan yang tentu akan
merugikan perkembangannya. Balita biasanya tertular dari
lingkungan keluarga atau tetangga mengingat mobilitas balita
belum jauh sehingga dapat diprediksi ada kasus tuberkulosis di
sekitarnya.
Tabel 2. Jumlah penderita Tuberkulosis Paru BTA (+) pada RS rawat
inap berdasarkan golongan umur, 2000-2002.
Golongan umur
Tahun
<1 th
1-4 th
5-14 th
15-44 th
>45 th
Jumlah
2000
0
0
646
4.150
4.660
9.456
2001
34
134
252
1.980
2.216
4.616
2002
13
35
170
993
1.122
2.333
Jumlah
47
169
1.068
7.123
7.998
16.405
Tabel 2 memperlihatkan jumlah penderita tuberkulosis
BTA (+) rawat inap di RS secara golongan umur maupun
keseluruhan lebih kecil dari rawat jalan, mungkin karena tidak
semua harus dirawat inap dengan berbagai pertimbangan
misalnya dana, kapasitas RS, kegiatan produktif yang tidak
dapat ditinggalkan, dan lain sebagainya.
Grafik 1 memperlihatkan jumlah penderita rawat jalan
dan jumlah kematian; pada tahun 2000 jumlah kasus rawat
inap sebanyak 9.456 dengan kematian 248 (2,6%), pada tahun
2001 jumlah kasus 4.616 dengan 53 kematian (1,1%), dan
tahun 2002 2.333 kasus dengan 54 kematian (2,3%). Diperlu-
kan usaha yang lebih besar agar jumlah kematian seminimal
mungkin dengan meningkatkan upaya kesehatan baik secara
individu maupun secara nasional.
Tabel 3 memperlihatkan jumlah kasus yang ditemukan di
puskesmas sangat besar dibanding dua data sebelumnya, mung-
kin karena puskesmas merupakan institusi kesehatan terdepan
sehingga dapat menjaring kasus lebih luas; meskipun demikian
kasus di bawah umur 5 tahun belum ada; mungkin memang
belum ada tetapi mungkin belum terjaring meskipun kasusnya
sebetulnya sudah ada.
Grafik 1. Jumlah penderita Tuberkulosis Paru BTA (+) pada RS rawat
inap dan jumlah kematian, 2000-2002
Tabel 3. Jumlah penderita Tuberkulosis Paru BTA (+) berasal dari
puskesmas berdasarkan golongan umur, 2000 2002
Golongan umur
Tahun
<1 th
1-4 th
5-14 th
15-44 th
>45 th
Jumlah
2000
0
0
9.958
63.179
56.656
129.793
2001
295
1.733
5.746
40.864
32.712
81.350
2002
216
1.074
2.820
26.018
21.236
51.364
Jumlah
511
2.807
18.524
130.061
140.732
292.635
Dari data rawat jalan selama 3 tahun maka penderita
terbanyak pada golongan umur produktif 15 - 44 tahun (44,88
%), sedangkan dari data rawat inap selama 3 tahun yang
terbanyak golongan umur di atas 45 tahun (48,75%); dari kasus
yang berasal dari puskesmas, golongan umur terbanyak juga di
atas 45 tahun (48,09%). Dengan data tersebut dampaknya dapat
dikatakan akan mengganggu produktifitas nasional yang lebih
lanjut akan menurunkan kualitas hidup masyarakat; untuk itu
diperlukan usaha penanggulangan yang lebih keras.
Tuberkulosis paru klinis
Jumlah penderita tuberkulosis paru dengan gejala klinis
jumlahnya lebih besar daripada yang dengan BTA (+) karena
memang tidak pada semua penderita dengan gejala klinis akan
ditemukan kumannya, kuman tidak terdeteksi karena misalnya
pengelolaan sampel kurang baik, reagennya kurang baik, kua-
litas teknisi laboratorium yang kurang, atau memang tidak
ditemukan.
Tabel 4. Jumlah penderita Tuberkulosis Paru Klinis Rawat Jalan
berdasarkan golongan umur, 2000-2002.
Golongan umur
Tahun
<1 th
1-4 th
5-14 th
15-44 th
>45 th
Jumlah
2000
1.715
6.073
7.094
21.245
19.139
55.266
2001
2.312
5.894
6.240
15.008
12.613
42.067
2002
256
1.018
1.617
6.324
5.251
14.466
Jumlah
4.283
12.985
14.951
42.577
37.003
111.799
Tabel 4 memperlihatkan kasus bayi (< 1 tahun) cukup
banyak jumlahnya (3,83 % dari kasus rawat jalan), ini mem-
buat efektifitas imunisasi yang dikatakan cakupannya > 80%
perlu dipertanyakan.
Tabel 5. Jumlah penderita Tuberkulosis Paru Klinis Rawat Inap
berdasarkan golongan umur, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
227
719
1.171
7.868
8.869
18.854
2001
380
665
835
4.857
5.772
12.509
2002
29
136
228
1.733
1.915
4.041
Jumlah
636
1.520
2.234
14.458
16.556
35.404
6
2000
2001
2002
10000
8000
6000
4000
2000
0
: Kasus
: Mati
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
7
Tabel 5 menunjukkan jumlah penderita bayi yang dirawat
inap mencapai 1,79 % dari seluruh penderita rawat inap. Usia
tua lebih banyak dan jumlah penderita rawat inap lebih sedikit
daripada penderita rawat jalan dan penderita yang dijaring
puskesmas.
Tabel 6. Jumlah penderita Tuberkulosis Paru Klinis dari puskesmas
berdasarkan golongan umur, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
1.295
7.972
25.877
242.234
140.196
417.574
2001
803
5.822
13.096
88.386
1.885736
1.993.843
2002
1.202
5.729
9.119
54.798
54.529
125.377
Jumlah
3.300
19.523
48.092
385.418
2.080.461
2.536.794
Jumlah penderita tuberkulosis klinis yang dijaring lewat
puskesmas mencapai 2.536.794 kasus (Tabel 6) dengan
golongan umur di atas 45 tahun paling banyak (82,01% -
2.080.461 kasus); meskipun baru gejala klinis bila kondisi
tubuhnya lemah dan jumlahnya sangat banyak secara tidak
langsung mengganggu produktifitas nasional.
Bila dilihat bahwa penderita BTA (+) pada penderita rawat
jalan sebesar 64,90% dari penderita klinis, untuk penderita
rawat inap sebesar 46,34 %, sedangkan untuk penderita dari
puskesmas 11,53 %; mungkin ada kendala diagnosis atau
tenaga laboratorium dalam menangani spesimen maupun
teknik pemeriksaannya.
2. Difteri, Pertusis dan Tetanus
Penyakit-penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi
DPT sebanyak 3 kali pada masa bayi 0-11 bulan.
Difteri
Merupakan penyakit bakteri akut yang mengenai tonsil,
pharynx, larynx, hidung, kadang-kadang membran mukosa atau
kulit, konjungtiva atau genitalia, disebabkan oleh infeksi
Corynebacterium diphteriae, dengan masa inkubasi 2-5 hari;
kadang- kadang lebih lama. Penularan terjadi melalui kontak
dengan penderita maupun carrier. Bayi baru lahir biasanya
membawa antibodi secara pasif dari ibunya yang biasanya akan
hilang pada usia sebelum 6 bulan
(4)
. Di Indonesia penderita
difteri 50% meninggal dengan gagal jantung
(2)
. Kejadian luar
biasa penyakit ini dapat terjadi terutama pada golongan umur
rentan yaitu bayi dan anak bila keadaan lingkungan menjadi
lebih buruk.
Tabel 7. Jumlah penderita Difteri Rawat Jalan berdasar kan golongan
umur, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
29
85
74
70
13
271
2001
52
174
269
510
321
1.326
2002
0
1
24
45
3
73
Jumlah
81
260
367
625
337
1.670
Tabel 7 memperlihatkan jumlah kasus difteri rawat jalan
di Indonesia selama 3 tahun; terbanyak pada golongan umur.
15-44 tahun (37,42%).
Tabel 8. Jumlah penderita Difteri Rawat Inap berdasarkan golongan
umur, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
kasus
Kema
tian
2000
34
132
96
20
17
299
0
2001
3
21
30
16
7
77
1
2002
3
7
11
10
3
34
2
Jumlah
40
160
137
46
27
410
3
Tabel 8 memperlihatkan jumlah penderita difteri rawat
inap yang seperti kasus lain lebih kecil dibanding kasus rawat
jalan karena memang tidak semua penyakit akan dirawat inap
dengan berbagai pertimbangan. Penderita rawat inap terbanyak
dari golongan umur 5-14 tahun (33,41%). Tidak ada penderita
bayi rawat jalan pada tahun 2002 tetapi ditemukan kasus bayi
rawat inap sepanjang 3 tahun tersebut. Kematian penderita
difteri yang dirawat sangat kecil: hanya 3 dari 410 kasus
(0,73%) (Tabel 9). Kematian diharapkan tetap dapat dicegah
dengan cara antara lain secepat mungkin membawa penderita
ke RS agar mendapat penanganan yang tepat.
Penderita difteri yang berobat ke puskesmas (Tabel 9)
ternyata lebih sedikit dibandingkan dengan penderita rawat
jalan; mungkin karena penyakit ini tergolong berat maka pen-
derita kebanyakan langsung berobat ke rumah sakit. Terutama
pada golongan umur > 45 tahun yaitu 36,8 %. Dari tiga
fasilitas kesehatan di atas golongan umur yang dominan ber-
beda-beda; mungkin yang lebih mendekati keadaan sebenarnya
ialah penderita yang dirawat di RS yaitu golongan umur 5-14
tahun.
Tabel 9. Jumlah penderita Difteri dari Puskesmas berda -
sarkan golongan umur, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1 th
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
24
107
60
68
207
466
2001
11
24
38
73
53
199
2002
7
4
28
42
23
104
Jumlah
42
135
126
183
283
769
Pertusis
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis
dan menyerang saluran pernafasan. Penularan terjadi karena
adanya kontak dengan buangan mukosa saluran pernafasan
baik melalui udara maupun percikannya (airborne/droplet),
Morbiditas dan mortalitasnya lebih tinggi pada wanita
(4)
. Di In-
donesia 54% kematian terjadi akibat komplikasi pneumonia
(2).
Grafik 2. Jumlah Kematian Kasus Pertusis di Indonesia pada penderita
rawat inap, 2000-2002.
Tahun
2000
2001
2002
500
400
300
200
100
0
: Kasus
: Mati
Jumlah
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
Grafik 2 memperlihatkan penurunan kasus pertusis rawat
inap 399 pada tahun 2000 menjadi 140 pada tahun 2001 dan
pada tahun 2002 turun lagi menjadi 98; jumlah kematian juga
menurun dari 11 kematian dari 399 kasus (2,75%) pada tahun
2000, pada tahun berikutnya tidak ada kematian. Keadaan ini
menggembirakan karena mungkin dengan tatalaksana kasus
yang lebih baik kematian dapat dihindarkan.
Tabel 10. Jumlah penderita Pertusis Rawat Inap, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
158
158
47
27
9
399
2001
18
22
34
37
29
140
2002
13
15
21
29
20
98
Jumlah
189
195
102
93
58
637
Tabel 10 memperlihatkan jumlah penderita pertusis rawat
inap paling banyak bayi dan anak-anak (60,28 % dari seluruh
penderita rawat inap); ini mendukung pendapat bahwa bayi dan
anak-anak merupakan golongan umur yang rentan terhadap
penyakit pertusis.
Tabel 11. Jumlah penderita Pertusis Rawat Jalan, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
293
507
276
487
431
1.994
2001
121
208
1.211
145
133
1.818
2002
55
114
153
57
33
412
Jumlah
469
829
1.640
689
597
4.224
Jumlah penderita pertusis rawat jalan mencapai 6 kali
lebih banyak daripada penderita rawat inap (Tabel 11) karena
memang tidak semua perlu dirawat inap dengan berbagai
alasan.
Tabel 12. Jumlah penderita Pertusis dari Puskesmas, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
1.518
2.450
1.469
1.481
1.508
8.426
2001
431
1.008
1.014
513
437
3.403
2002
440
608
374
349
333
2.104
Jumlah
2.389
4.066
2.857
2.343
2.278
13.933
Penderita pertusis yang berasal dari puskesmas, jumlahnya
mencapai 21 kali dari jumlah yang dirawat (Tabel 12). Dengan
kecilnya angka kematian maka keadaan ini tidak perlu
dikhawatirkan.
Tetanus
Penyakit ini akibat infeksi bakteri anaerob Clostridium
tetani di tempat luka dan menghasilkan eksotoksin yang akan
menyerang otot sehingga akan terjadi spasmus (kejang) otot.
Kuman ini terdapat di usus hewan sehingga penularan terjadi
karena kontak daerah luka dengan faeses hewan yang
mengandung kuman tersebut. Masa inkubasi antara 3-21 hari
kadang-kadang antara 1 hari sampai beberapa bulan
(4).
Penyakit ini dapat menyerang bayi baru lahir (tetanus
neonatorum) yang biasanya akibat pertolongan persalinan yang
kurang memperhatikan prinsip-prinsip kesehatan. Penyakit ini
merupakan masalah kesehatan serius di negara berkembang ;
pemberian imunisasi toxoid tetanus pada calon pengantin
wanita dan pada ibu hamil diharapkan dapat menurunkan kasus
ini. Di Indonesia ada kebijakan MNTE (Maternal Neonatal
Tetanus Elimination) untuk akselerasi pencapaian imunisasi
WUS (wanita usia subur) dalam mengatasi penyakit ini melalui
pendekatan golongan risiko tinggi yang diharapkan akan
meluas dan memberi efek positif melalui kerja sama terpadu
lintas program dan kerjasama antara para profesional, lembaga
swadaya masyarakat (LSM), dan swasta.
Secara keseluruhan terjadi penurunan kasus tetanus dari
tahun 2000-2002 baik yang rawat jalan, rawat inap maupun
yang dari puskesmas, hal ini dapat karena memang ada
penurunan kasus tetapi dapat juga karena kasusnya tidak
dilaporkan. Kasusnya paling banyak pada golongan 15-44
tahun (43,34%), apakah karena luka kecelakaan kerja, tentu
perlu penelitian lebih lanjut. (Tabel 13)
Tabel 13. Jumlah penderita Tetanus Rawat Jalan, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
59
78
158
698
557
1550
2001
20
36
76
387
380
899
2002
1
15
15
36
70
137
Jumlah
80
129
249
1.121
1.007
2.586
Tabel 14. Jumlah penderita Tetanus Rawat Inap, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
42
125
235
802
999
2203
2001
34
78
136
520
575
1.343
2002
0
19
21
102
98
240
Jumlah
76
222
392
1.424
1.672
3.786
Tabel 14 menunjukkan jumlah kasus tetanus rawat inap
terbanyak pada golongan umur di atas 45 tahun (44,16 %)
mungkin karena kecelakaan kerja atau karena usia lanjut
dengan kesehatan yang kurang baik.
Tabel 15. Jumlah penderita Tetanus dari Puskesmas, 2000-2002.
Golongan umur (tahun)
Tahun
<1
1-4
5-14
15-44
>45
Jumlah
2000
147
99
160
158
197
761
2001
9
9
20
50
52
140
2002
5
12
20
21
26
84
Jumlah
161
120
200
229
275
985
Tabel 15 menunjukkan jumlah kasus dari puskesmas
paling sedikit dibandingkan dengan yang rawat jalan maupun
rawat inap; mungkin karena gejalanya yang jelas dan terlihat
berat maka lebih banyak yang dibawa langsung ke rumah sakit.
Golongan umur di bawah 1 tahun lebih banyak dari golongan
1-4 tahun, apakah berasal dari kasus tetanus neonatorum, perlu
penelitian lebih lanjut.
Grafik 3 memperlihatkan jumlah kasus tetanus rawat inap
cenderung turun terus dari tahun 2000 hingga tahun 2002
apakah karena jumlah kasusnya memang turun atau karena
tiadanya laporan.
8
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
9
Grafik 3. Jumlah Kematian Kasus Tetanus pada Penderita Rawat Inap di
Indonesia, 2000-2002.
Bila dilihat jumlah kematian secara nominal memang
turun yaitu dari 219 di tahun 2000, tahun 2001 terjadi 90
kematian, dan tahun 2002 hanya 30 kematian, tetapi secara
persentase turun naik yaitu dari 9,94%, pada tahun 2001
menjadi 6,70% tetapi pada tahun 2002 meningkat lagi menjadi
12,5% yang bahkan lebih tinggi dari tahun 2000, mungkin
karena tatalaksana kasus yang memburuk lagi, keadaan gizi
masyarakat yang kurang baik atau hal lain yang perlu dicari.
3. Polio
Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi
polio sebanyak 4 kali pada bayi (<1 tahun) secara rutin, tetapi
di Indonesia dalam rangka eradikasi polio yang sejalan dengan
Komitmen Global ada kegiatan imunisasi tambahan yaitu
melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN), sub PIN dengan
sasaran anak < 5 tahun maupun BLF (Back log fighting)
dengan sasaran anak usia < 3 tahun
(2)
.
Penyakit ini disebabkan oleh Poliovirus tipe 1,2, dan 3;
semua tipe dapat menyebabkan paralisis (lumpuh) atau yang
lebih dikenal sebagai kasus AFP (acute flaccid paralysis);
tetapi yang paling paralytogenic ialah tipe 1. Penularannya
melalui makanan atau alat-alat terkontaminasi feses penderita
polio (fecal oral transmission). Masa inkubasi penyakit ini
biasanya 7- 14 hari, rentang waktunya antara 3-35 hari
(4)
.
Di Indonesia program eradikasi polio dilaksanakan sesuai
kesepakatan pada WHA ke 41 (1988) yang sebetulnya
mengharapkan eradikasi polio di dunia sebelum tahun 2000.
Ada 4 strategi untuk pencapaian tujuan tersebut yaitu:
imunisasi rutin OPV (oral polio virus) dengan cakupan tinggi,
imunisasi tambahan, surveilans AFP dan investigasi labora-
torium, serta mop-up untuk memutus rantai penularan terakhir.
Tabel 16. Jumlah kasus AFP umur < 15 tahun di Indonesia, 2000- 2002.
Yang dilaporkan
Tahun
Jumlah
minimal 1
tahun
Jumlah
Total AFP rate
(1/100.000)
Nonpolio
AFP rate
(1/100.000)
2000
644
602
0,93
0,9
2001
643
883
1,32
1,31
2002
643
883
1,32
1,31
Tabel 16 memperlihatkan jumlah minimal yang harus
ditemukan per 1/100.000 penduduk berusia < 15 tahun antara
643-644 kasus. Jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2000
kurang dari target minimalnya yaitu 602 dari 644, mungkin
targetnya terlalu tinggi, kasusnya hanya sejumlah itu, atau
petugasnya yang kurang aktif; sedangkan pada tahun 2001 dan
2002 jumlahnya di atas target minimalnya, mungkin memang
terjadi peningkatan kasus, target terlalu rendah, atau petugas-
nya sudah bekerja optimal. Di sini juga terlihat total AFP rate
dan nonpolio AFP rate besarnya hampir sama yang berarti
kasus AFP disebabkan poliovirus dan bukan poliovirus jumlah-
nya hampir sama.
Tabel 17 memperlihatkan 2 spesimen penderita dikirim ke
laboratorium sebagian besar dalam 14 hari setelah penderita
lumpuh (83,5 % - 84,1%); ini sudah sesuai dengan strategi
surveilans AFP di Indonesia. Jumlah spesimen yang adekuat
untuk diperiksa di laboratorium nasional juga cukup tinggi
yaitu antara 79,5 % - 82,4 %; jika mungkin lebih ditingkatkan
Tabel 17. Keadaan spesimen Polio kasus AFP di bawah usia 15 tahun di
Indonesia, 2000-2002
Tahun
2 spes.<
14 hr (%)
Memenuhi
syarat (%)
Spesimen
adekuat (%)
KU < 60
hari
2000
83,5
93,0
79,5
71,0
2001
84,1
95,7
82,4
86,2
2002
84,1
95,7
82,4
86,2
lagi agar hasilnya lebih adekuat. Kunjungan ulang untuk
pemeriksaan residual paralysis setelah 60 hari kelumpuhan
yang seharusnya dilakukan pada semua kasus AFP yang
ditemukan baru dapat dilaksanakan sekitar 71,0 % - 86,2 %,
mungkin karena berbagai kendala antara lain tenaga, biaya,
lokasi, dan sebagainya.
.
Tabel 18. Klasifikasi Virologi Kriteria Klinis Kasus AFP di bawah usia 15
tahun di Indonesia, Tahun 2000-2002.
Tahun
Polio
Nonpolio
Pending
Virus polio liar
2000
22
580
0
0
2001
7
841
0
0
2002
7
841
0
0
Jumlah
36
2.262
0
0
Tabel 18 memperlihatkan klasifikasi virologi berdasarkan
hasil pemeriksaan laboratorium : yang terinfeksi virus polio ada
36 penderita sedangkan yang terinfeksi nonpolio sejumlah
2.262. Tidak ditemukan virus polio liar yang berarti semua
virus yang ditemukan adalah virus polio vaksin, juga tidak ada
spesimen yang harus dipending (batal diperiksa secara
laboratorium).
Grafik 4. Jumlah Penderita AFP dibandingkan dengan Jumlah Penderita
yang terinfeksi Virus Polio.
Grafik 4 memperlihatkan banyaknya jumlah kasus AFP
sedangkan yang diklasifikasi terserang infeksi virus polio
sangat sedikit; jika dilihat spesimen yang adekuat antara 79,5
TAHUN
2002
2001
2000
Mean
1000
800
600
400
200
0
KASUS
POLIO
Tahun
2000
2001
2002
3000
2000
1000
0
: Mati
: Kasus
Jumlah
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
82,4 % mungkin karena penanganan sampel kurang baik atau
memang karena infeksi non polio (bukan karena virus polio).
4. Campak
Penyakit ini dapat dicegah dengan satu kali imunisasi
campak saat bayi (0-11 bulan); ini merupakan imunisasi dasar
yang seharusnya diberikan pada semua bayi. Di Indonesia
kebijakan reduksi campak sesuai dengan komitmen global yang
juga meliputi eradikasi polio, eliminasi tetanus maternal dan
neonatal, dan reduksi hepatitis B yaitu mencegah KLB campak
pada anak sekolah dan memutuskan rantai penularan dari anak
sekolah ke balita, dan mencegah KLB pada balita
(2)
.
Penyakit ini disebabkan oleh Measles virus yang termasuk
genus Morbilivirus dan famili Paramyxoviridae. Penyebaran
nya lewat percikan ludah penderita atau adanya kontak dengan
sekret hidung dan tenggorokan. Masa inkubasi biasanya 10 hari
(8-13 hari). Gejala awalnya berupa demam, diikuti dengan
konjungtivitis, batuk pilek, dan adanya Koplik spot (bercak
putih di dinding mukosa mulut), gejala rash (bercak merah)
tampak pada hari 3-7 dimulai dari wajah dan kemudian
menyebar ke seluruh tubuh
(4)
.
Tabel 19. Jumlah Kasus Campak Rawat Jalan di Indonesia 2000- 2002.
Umur
Tahun
< 1 th
1-4 th
5-14 th
15-44 th
> 45 th
Jumlah
2000
897
1.456 1.854
1.589
201
5.997
2001
517
804
796
750
162
3.029
2002
422
1.327 1.627
1.399
176
4.951
Jumlah
1.836
3.587 4.277
3.738
539
13.977
Tabel 19 terlihat jumlah terbesar pada golongan umur 5 -
14 tahun (30,6 %) karena penyakit ini biasa menyerang anak-
anak; sebagian masyarakat masih dapat terinfeksi penyakit ini
hingga umur 20 tahun. Dari data di atas terlihat masih banyak
penderita di atas 20 tahun, meskipun ada juga sebagian kecil
masyarakat yang hidup tanpa pernah terkena penyakit ini.
Tabel 20. Jumlah Kasus Campak Rawat Inap di Indonesia, 2000- 2002.
Umur
Tahun
< 1 th
1-4 th
5-14 th
15-44 th
> 45 th
Jumlah
2000
319
707
997
577
132
2.732
2001
98
489
491
261
80
1.419
2002
45
151
220
126
39
581
Jumlah
462
1.347
1.708
964
251
4.312
Tabel 20 memperlihatkan penderita campak dengan rawat
inap jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding dengan yang rawat
jalan karena memang penyakit ini tidak begitu berat gejala
klinisnya; tetapi pada balita kematian dapat terjadi akibat
komplikasi penyakit lain yang terjadi karena replikasi virus
atau superinfeksi bakteri, misalnya otitis media, pnemonia, dan
ensefalitis.
Tabel 21 menunjukkan jumlah penderita dari puskesmas
banyak sekali, ini bisa diterima karena gejala pertamanya tidak
berat sehingga sebagai institusi kesehatan terdepan puskesmas
lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk mencari peng-
obatan penyakit ini. Pada penderita di atas 15 tahun dapat
terjadi SSPE (subacute sclerosing panencephalitis) beberapa
tahun setelah infeksi virus ini ; kejadiannya 1 dari 25.000 orang
yang terinfeksi virus ini. Grafik 5 memperlihatkan pada tahun
2001 tidak ada kematian, sedangkan pada tahun 2000 terdapat
20 kematian di antara 2732 (0,73%) penderita campak dengan
rawat inap; pada tahun 2002 terdapat 5 kematian dari 581 kasus
(0,86 %), tampaknya penyakit ini tidak berdampak berat
terhadap penderita.
Tabel 21. Jumlah Kasus Campak di Indonesia dari Puskesmas, 2000-
2002.
Umur
Tahun
< 1 th
1-4 th
5-14 th
15-44 th
> 45 th
Jumlah
2000
3.773
12.128
16.015
6.170
973
39.059
2001
1.666
5.293
6.890
2.552
746
17.147
2002
1.568
4.658
5.436
1.754
586
14.002
Jumlah
7.007
22.079
28.341
10.476
2.305
70.208
5. Hepatitis B
Penyakit ini dapat dicegah dengan 3 kali imunisasi Hepa-
titis B saat bayi. Indonesia merupakan negara pertama yang
dipilih oleh The International Task Force on Hepatitis B
Immunization untuk mengembangkan model program imuni-
sasi hepatitis B yang dimulai dari Pulau Lombok (NTB).
Grafik 5. Jumlah kematian penderita campak dengan rawat inap di
Indonesia, 2000- 2002.
Penyakit ini disebabkan infeksi virus Hepatitis B yang
merupakan virus DNA double stranded berukuran 42 nm
terdiri dari inti nukleokapsid (HbcAg) dan diliputi oleh lapisan
luar berupa lipoprotein yang mengandung antigen permukaan
(HbsAg). Penularan dapat terjadi karena kontak dengan cairan
sekresi dan ekskresi tubuh misalnya darah, serum, ludah, cairan
vagina, dan cairan mani baik secara langsung (transdermal)
maupun intravena, intramuskular, dan subkutan. Periode inku-
basi biasanya antara 45- 180 hari, rata-rata 60-90 hari.
Tabel 22. Jumlah Kasus Rawat Jalan Hepatitis di Indonesia, 2000- 2002.
Umur
Tahun
< 1 th
1-4 th
5-14 th
15-44 th
> 45 th
Jumlah
2000
151
302
908
3.691
2.005
7.057
2001
226
257
885
2.827
1.723
5.918
2002
92
125
449
1.404
629
2.699
Jumlah
469
684
2.242
7.922
4.357
15.674
Tabel 22 terlihat jumlah penderita terutama pada kelom-
pok usia 15-44 tahun (50,54 %), keadaan ini cukup mem-
prihatinkan karena seharusnya anak-anak tumbuh kembang
dengan optimal tetapi sudah mengidap penyakit hepatitis yang
sangat mengganggu aktifitasnya.
Tahun
2000
2001
2002
3000
2000
1000
0
: Mati
: Kasus
Jumlah
10
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005 11
Tabel 23. Jumlah Kasus Hepatitis Rawat Inap di Indonesia, 2000- 2002.
Umur
Tahun
< 1 th
1-4 th
5-14 th
15-44 th
> 45 th
Jumlah
2000
48
116
569
3.338
1.527
5.598
2001
25
145
861
2.590
2.188
5.809
2002
8
59
301
901
488
1.757
Jumlah
81
320
1.731
6.829
4.203
13.164
Tabel 23 menunjukkan bahwa penderita terutama pada
kelompok 15-44 tahun (51,88 %); kelompok ini merupakan
kelompok usia produktif sehingga akan mempengaruhi produk-
tifitas nasional bila di kelompok ini banyak terserang penyakit
hepatitis.
Tabel 24. Jumlah Kasus Hepatitis dari Puskesmas di Indonesia, 2000-
2002.
Umur
Tahun
< 1 th
1-4 th
5-14 th 15-44 th > 45 th
Jumlah
2000
217
1.267
3.096
5.009
3.021
12.610
2001
274
1.172
3.399
4.456
5.726
15.027
2002
217
999
2.438
3.338
1.542
8.534
Jumlah
708
3.438
8933
12.803
10.289
36.171
Grafik 6. Jumlah Kematian Penderita Hepatitis Rawat Inap di Indonesia,
2000-2002
Tabel 24 memperlihatkan jumlah penderita berasal dari
puskesmas yang sangat besar dengan kelompok umur ter-
banyak juga 15-44 tahun (35,40 %), tampaknya serupa dengan
penderita yang rawat inap, mungkin kelompok inilah yang
mendekati kenyataan di masyarakat.
Grafik 6 memperlihatkan jumlah kasus dan kematian
penderita hepatitis rawat inap; tahun 2000 5809 kasus dengan
21 kematian (0,36%); tahun 2001 5598 kasus dengan 88
kematian (1,57 %) kemudian terjadi penurunan tajam pada
tahun 2002 yaitu 1757 kasus dengan 32 kematian (1,82%). Jika
keadaan ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya tentu
cukup menggembirakan tetapi jika karena tidak adanya laporan
padahal sebenarnya ada di masyarakat tentu sistem surveilans
yang ada perlu ditingkatkan lagi
KESIMPULAN
1)
Beberapa penyakit menular di Indonesia yang dapat
dicegah dengan cara pemberian imunisasi yaitu:
tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak, dan
hepatitis B.
2)
Sebagian besar imunisasi tersebut diberikan pada bayi
(umur 0-11 bulan) yaitu imunisasi BCG diberikan 1 kali,
DPT (3 kali), Polio (4 kali), Campak (1 kali), dan hepatitis
B (3 kali).
3)
Kasus- kasus penyakit tersebut di atas masih cukup banyak
di Indonesia dengan jumlah kematian penderita rawat inap
antara 0,36 % hingga 12,5 %.
KEPUSTAKAAN
1. Parish HJ. A History of Immunization. Edinburg, London: E&S
Livingstone Ltd,1965.
2. Subdit Imunisasi, Dit. Epim -Kesma. Dit Jen PPM-PL. Program Imunisasi
di Indonesia. Jakarta 2004.
3. DitJen PPM & PL Departemen Kesehatan RI. Buku Data tahun 2000-
2002. Jakarta 2003.
4. Benenson Abram S. Control of Communicable Disease in Man, 14th ed.
Washington DC: The American Public Health Association. 1985.
Kerusakan dan kehancuran akibat tsunami 26 Desember 2004 di N Aceh D.
setara dengan 30 kali lipat kehancuran akibat bom atom PD II yang
dijatuhkan di Hiroshima 6 Agustus 1945 dan Nagasaki 9 Agustus 1945
Tahun
2000
2001
2002
7000
6000
5000
3000
1000
0
: Mati
: Kasus
Jumlah