TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengenalan Miopati Mitokondria
Santosa, Soenarto*, Suyanto Hadi**
Peserta Program Pendidikan Spesialis I, * Guru Besar, ** Kepala Sub Bagian Rematologi
Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ Rumah Sakit Dr Kariadi Semarang
ABSTRAK
Mitokondria adalah rangkaian organela yang unik karena memiliki DNA tersendiri
yang disebut DNA mitokondria dengan sifat-sifat yang spesifik.
Miopati mitokondria menampilkan berbagai sindrom dengan karakteristik patologi,
histokimia dan biokimia yang berbeda-beda yang terjadi sebagai akibat kelainan pada
mitokondria. Sindrom ini sering mengenai multisistem dengan berbagai gejala dan
tanda dari sistem organ yang terkena. Terdapat nama-nama yang eksotik sindrom ini
seperti CPEO (chronic progresive external ophthalmoplegia), MELAS (mitochondrial
encephalomyopathy, lactic acidosis, and strokelike episodes), MERRF (myoclonic
epilepsy with ragged-red fibers), MNGIE (myoneurogastrointestinal encephalopathy),
NARP (neurogenic weakness, ataxia, retinitis pigmentation).
Fungsi utama mitokondria adalah memproduksi energi kimia dalam bentuk
molekul ATP yang akan dipergunakan sel-sel tubuh. Bila komponen kunci rantai
respirasi dalam mitokondria hilang atau rusak maka akan terjadi proses berkelanjutan
yang tidak terkendali. Beberapa sindrom mitokondrial dapat disebabkan oleh berbagai
perubahan tingkat molekuler yang dapat berupa mutasi dan delesi dari DNA
mitokondria.
Terapi yang paling umum adalah pemberian zat untuk merangsang aktivitas enzim
transport elektron sisa atau memberikan aseptor elektron buatan. Terapi gen menjadi
terapi baru dalam pengobatan kelainan-kelainan mitokondria di masa mendatang.
PENDAHULUAN
Miopati adalah istilah umum untuk penyakit-penyakit yang
mengenai otot. Istilah miopati mitokondria berarti berbagai
sindrom dengan karakteristik patologi, histokimia dan biokimia
yang berbeda-beda. Sindrom ini sering timbul pada multisistem
dengan berbagai gejala dan tanda dari sistem organ yang
terkena.
Miopati mitokondria secara khas disebabkan kelainan
pada rantai respirasi atau rantai transpor elektron mitokon-
dria.
1.2.4
Mitokondrion (jamak mitokondria: Inggris- mitochon-
drion, mitochondria) adalah kompartemen sel atau organel
tempat proses konversi energi dalam bentuk molekul ATP
(adenosine triphosphate) yang dibutuhkan berbagai aktivitas
fungsi sel. Mitokondria adalah suatu rangkaian organela unik
yang mengandung DNA sendiri.
4,5
Pengetahuan tentang mitokondria mengantar kita ke cakra-
wala baru yaitu mithocondrial medicine sebagai dampak ke-
majuan pesat dalam dekade delapanpuluhan dan sembilan
puluhan dalam pengenalan kita mengenai mutasi DNA mito-
kondria (mtDNA); yang mendasari sekelompok kelainan
neuromuskular dengan struktur dan fungsi mitokondria abnor-
mal. Kelainan neuromuskular ini merupakan kelompok gejala
penyakit, yang pada waktu lalu dinamai mitochondrial
myopathies atau cytopathies. Dan pengetahuan neuromuskular
tersebut masih merupakan yang terlengkap tentang kelainan
mitokondria. Sebagai penyakit yang pada hakekatnya merupa-
kan kelainan gen tunggal, menunjukkan adanya hubungan
antara mutasi dan ekspresi fenotip sebagai cacat biokimia serta
manifestasi klinis.
1,6
Pada makalah ini akan dibahas mengenai miopati mitokon-
dria sebagai suatu manifestasi klinis dari kelainan mitokondria.
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
35
MITOKONDRIA SEBAGAI ORGANEL TRANSDUKSI
ENERGI
Mitokondria berasal dari kata Yunani mito yang berarti
benang, dan chondrion yang berarti seperti granul (butiran-
butiran), sehingga dapat diartikan sebagai organela dengan
rangkaian butir-butir yang tersusun seperti benang. Mitokon-
dria merupakan organela yang unik karena memiliki DNA
tersendiri dengan sifat-sifat yang spesifik pula.
4,7
1. Struktur
Mitokondria
Mitokondria merupakan organel berupa kantung yang
diselaputi oleh dua membran, yaitu membran luar dan
membran dalam; sehingga mitokondria memiliki dua kompar-
temen, yaitu ruang antar membran (intermembrane space) dan
matriks (matrix) mitokondria yang diselimuti langsung oleh
membran dalam.
1,8
Membran luar
Membran luar mengandung protein transport yang disebut
porin. Porin membentuk saluran yang berukuran relatif lebih
besar di lapisan ganda lipid membran luar; sehingga membran
luar dapat dianggap sebagai saringan yang memungkinkan
lolosnya ion maupun molekul kecil berukuran 5 kDa atau
kurang, termasuk protein berukuran kecil. Molekul-molekul
tersebut bebas memasuki ruang antar membran, namun sebagi-
an besar tidak melewati membran dalam yang bersifat imper-
meabel. Ini berarti bahwa dalam hal kandungan molekul kecil,
di ruang antar membran bersifat ekuivalen dengan sitosol
sedangkan di ruang matriks berbeda.
8
Protein yang terletak pada membran luar meliputi berbagai
enzim yang terlibat dalam biosintesis lipid mitokondria dan
enzim-enzim yang mengubah substrat lipid menjadi bentuk lain
untuk selanjutnya dimetabolisme di matriks mitokondria.
8
Gambar 1. Struktur mitokondria
Keterangan: diagram struktur tiga dimensi mitokondria, bagian bawah
adalah elektromikrograf mitokondria.
Membran dalam dan krista
Membran dalam dan matriks mitokondria terkait erat
dengan aktivitas utama mitokondria yaitu terlibat dalam siklus
asam trikarboksilat, oksidasi asam lemak dan pembentukan
energi. Rantai respirasi terdapat dalam membran dalam ini.
8,9
Ruang antar membran
Ruang antar membran adalah ruang yang berada di antara
membran luar dan membran dalam mitokondria. Ruang ini
mengandung sekitar 6% dari total protein mitokondria dan
beberapa enzim yang bekerja menggunakan ATP (adenosine
triphosphate) yang tengah melewati ruang tersebut untuk mem-
fosforilasi nukleotida lain.
8
Matriks
Sebagian besar (sekitar 67%) protein mitokondria dijumpai
pada bagian matriks. Enzim-enzim yang dibutuhkan untuk
proses oksidasi piruvat, asam lemak dan untuk menjalankan
siklus asam trikarboksilat terdapat pada matriks ini.
8
Rantai respirasi
Rantai respirasi dan inhibitornya dapat dilihat pada Tabel
1 yang juga merupakan ringkasan jalur metabolik mitokondria
pada gambar 2. Semua kompleks ini berada di membran dalam
dan mereka dapat dicapai oleh substrat baik yang berada pada
membran maupun pada matriks. Telah diketahui pula berbagai
inhibitor rantai respirasi dan efek kliniknya yang dapat diang-
gap sebagai pengetahuan awal dari mitochondrial medicine.
5,8,9
Tabel 1. Kompleks enzim respirasi mitokondria, subunit yang disintesa
oleh mitokondria dan inhibitor rantai respirasi.
5
Kompleks Aktivitas
enzim
Jumlah Polipeptida
(yang disintesis di
mitokondria)
Pusat redoks
Inhibitor
I
II
III
IV
V
NADH-coQ
reductase
succinate- coQ
reductase
CoQH2
Cytochrome c
reductase
Cytochrome c
oxidase
ATP shyntase
>45[7;ND1-4,4L,5,6]
4[tidak ada]
7-8 [1;cytochrome b]
10 [3;CO I,
COII,COIII]
10-16[2;ATP6,ATP8]
8 FeS(3 pusat)
2Cytochrome b
Cytochrome c1
2FeS(1pusat)
Cytochrome a
Cytochrome a3
2 Cu
tidak relevan
Rotenone
Piericidine
Amytal
Malonate
Antimycin A
CO
CN
Oligomycin
Keterangan: NADH : nicotinamide adenine dinucleotide;CoQ:coenzyme Q;
ATP : adenosine triphospate
2. Metabolisme mitokondria
Fungsi utama mitokondria adalah memproduksi energi
kimia dalam bentuk ATP yang akan dipergunakan untuk akti-
vitas seluruh sel-sel tubuh manusia. Secara garis besar, reaksi
pembentukan ATP yang berlangsung di mitokondria dapat
dibagi menjadi 3 tahap:
8
a. Reaksi oksidasi piruvat (atau asam lemak) menjadi CO
2
.
Reaksi ini terkait dengan reduksi NAD
+
dan FAD menjadi
NADH dan FADH2. Reaksi-reaksi ini berlangsung dalam
ruang matriks mitokondria (lihat gambar 2).
b. Transfer elektron dari NADH dan FADH2 ke O
2
. Rentetan
reaksi ini berlangsung pada membran dalam dan terkait dengan
pembentukan proton motive force atau gradien elektrokimia
lintas membran dalam mitokondria.
c. Pemanfaatan energi yang tersimpan dalam bentuk gradien
elektrokimia untuk memproduksi ATP. Reaksi ini dikatalisis
oleh kompleks enzim F0-F1 ATP sintetase yang berlokasi pada
membran dalam.
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
36
Gambar 2. Jalur metabolik dalam mitokondria
Spiral menunjukkan reaksi oksidasi yang menghasilkan pelepasan acetyl-coenzim A dan penurunan flavoprotein. ADP
singkatan dari adenosine diphospate, ATP adenosine triphospate, ANT adenine nucleotide translocator, CACT carnitine-
acyl carnitine translocase, CoQ coenzyme Q, CPT carnitine palmitcyltransferase, DIC dicarboxylate carrier, ETF
electron-transfer flavoprotein. ETH-DH electron transfer dehydrogenase, FAD flavin adenine dinucleotide, FADH2
berarti FAD2, NADH nicotinamide adenine dinucleotide, PDHC pyruvate dehydrogenase complex, TCA tricarboxylic
acid, angka romawi I s/d V menunjukkan kompleks I s/d V.
Dikutip dariDiMauro S, Schon E.A. Mitochondrial Respiratory-Chain Diseases. N Eng J Med. 2003;348:2658-68.
3. GENETIKA MITOKONDRIA
DNA mitokondria manusia merupakan DNA sirkuler
tertutup yang berada pada matriks mitokondria yang
mengandung 37 gen, dan berukuran 16569 pasang basa. Dua
puluh empat gen (24) diperlukan untuk translasi mtDNA [2
RNA ribosom (rRNAs) dan 22 RNA transfer (tRNA)] dan 13
mengkode subunit rantai respirasi, dengan perincian sebagai
berikut: 7 subunit untuk kompleks I [ND1, ND2, ND3, ND4,
ND4L, ND5 DAN ND6 (ND singkatan dari NADH
dehydrogenase)], 1 subunit untuk kompleks III (sitokrom b), 3
subunit untuk sitokrom oksidasi (COX1,II,III) serta 2 subunit
untuk ATP sintetase. Sebagian rantai respirasi dikode oleh
DNA nukleus. Genom DNA mitokondria manusia dapat dilihat
pada gambar 3.
Genetika mitokondria berbeda dengan hukum Mendel
dalam 3 aspek utama: diturunkan dari ibu, heteroplasmi dan
segregasi mitotik.
2,8,9
1. Diturunkan
dari
ibu
Secara hukum umum, semua DNA mitokondria dalam
zigot berasal dari ovum. Sehingga seorang ibu membawa
mutasi mtDNA pada semua anak-anaknya, tetapi hanya anak
perempuannya yang akan memindahkan mutasi tersebut pada
keturunannya. Bukti baru transmisi paternal mtDNA pada otot
rangka (tetapi tidak pada jaringan lain) pada pasien dengan
miopati mitokondria memberikan peringatan penting bahwa
sifat mtDNA yang diturunkan dari ibu bukan merupakan
hukum yang mutlak, tetapi tidak disangkal bahwa penyakit-
penyakit yang berhubungan dengan mtDNA terutama diturun-
kan dari pihak ibu.
9,10
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
37
Gambar 3. Sebagian rantai respirasi dikode oleh DNA nukleus. Genom DNA mitokondria manusia
Gambar 3A menunjukkan genom mitokondria manusia. Gambar 3B menunjukkan subunit rantai respirasi
yang dikode oleh DNA nukleus (nDNA) dan mtDNA. Dikutip dariDiMauro S, Schon E.A.
2. Heteroplasmi dan efek ambang batas (threshold effect)
Terdapat ribuan molekul mtDNA dalam tiap sel, dan secara
umum terdapat beberapa mutasi patogenik mtDNA, tetapi
bukan semuanya. Sehingga sel dan jaringan tercampur mtDNA
normal dan mutan, keadaan ini disebut heteroplasmi. Hetero-
plasmi juga terdapat pada tingkat organel yaitu mitokondrion
dengan mtDNA normal dan mutan yang bercampur. Pada
orang normal semua mtDNA adalah identik (homoplasmi).
Tidaklah mengherankan bila dengan jumlah mtDNA minimal
belum terjadi disfungsi oksidatif dan belum tampak tanda
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
38
klinis, ini yang disebut efek ambang batas. Tiap-tiap sel organ
memiliki ambang batas tersendiri, tergantung metabolisme
jaringan tersebut. Efek tersebut lebih rendah pada jaringan
yang tergantung pada metabolisme oksidatif, seperti: otak,
jantung, otot rangka, retina, tubulus ginjal, dan kelenjar
endokrin.
9,10,11
3. Segregasi
mitotik
Redistribusi acak organela saat pembelahan sel dapat
mengubah proporsi mtDNA mutan yang diterima oleh sel anak
perumpuan, jika efek ambang patogenik dalam jaringan yang
tidak terkena terlampaui, maka fenotip dapat juga berubah.
Pada gangguan mtDNA sering berhubungannya dengan umur,
jaringan yang terkena, dan variabilitas gambaran klinik.
9,10
Mutasi DNA mitokondria ternyata relatif tinggi. mtDNA
secara alami dihadapkan pada faktor-faktor yang tidak
menguntungkan (Tabel 2) seperti: (a) tingginya kadar spesies
oksigen reaktif sebagai produk samping metabolisme oksidatif
mitokondria, (b) terpaparnya mtDNA terhadap oksigen reaktif
tersebut karena tidak adanya proteksi oleh nukleoprotein, yang
berlainan dengan DNA inti sel dan (c) tidak adanya sistem
repair DNA yang efektif di dalam organela ini.
5
Tabel 2. Karakteristik mutasi pada DNA mitokondria
Terjadi dengan laju tinggi
·
Tidak ada mekanisme repair DNA yang efektif pada mitokondria
·
DNA mitokondria tidak memiliki proteksi nukleoprotein
·
Produksi spesies oksigen reaktif (ROS) yang tinggi di mitokondria
Faktor-faktor mitokondria adanya hot spot untuk mutasi mutasi yang
sama terjadi berkali-kali secara independen (seperti mutasi
DM/ketulian/MELAS A3243G dan LHON G11778A)
Faktor di inti sel menentukan fidelitas replikasi mtDNA
Ekspresi mutasi mtDNA poligenik dipengaruhi oleh faktor
pemodifikasi di inti sel, lingkungan sekuens mtDNA dan faktor
lingkungan
Dikutip dariSangkot M. Mitochondrial Medicine: Perspektif ke Depan. Dalam:
Suryadi H, dkk. Ed. Mitochondrial Medicine. Lembaga Eijman. Jakarta. 2003.
1-17.
MANIFESTASI KLINIS MIOPATI MITOKONDRIA
Beberapa gangguan mitokondria hanya mengenai satu
organ, tetapi kadang dapat mengenai berbagai sistem organ dan
yang sering tampak gambaran menonjol adalah neurologis dan
miopati. Terdapat beberapa klasifikasi klinis, tetapi tidak ada
yang tepat sama karena sering tumpang tindih. Gangguan
mitokondria terdapat pada umur dewasa atau akhir masa akil
balik, ini yang membedakan dengan gangguan DNA nukleus,
yang sering tampak pada masa kanak-kanak. Banyak pasien
terdapat sekelompok gambaran klinis yang menjadi satu
sindrom (Tabel 3).
4,15
Sebenarnya kelainan mitokondria dapat mengenai semua
sel-sel organ tubuh, tetapi ada pula yang terjadi pada organ
tertentu, ini tergantung efek ambang batas tiap-tiap organ
tersebut. Gambaran klinis yang umum adalah kelemahan,
miopati proksimal, intoleran terhadap latihan, cepat lelah,
kramp otot, problem gastrointestinal, ptosis, paralisis otot mata
(oftalmoplegia eksternal), degenerasi retina (retinitis pigmento-
sum) dengan penurunan kemampuan melihat, kejang, ataksi
(kehilangan keseimbangan dan koordinasi) dan keterlambatan
belajar.
11,12
Penyakit-penyakit mitokondria berhubungan dengan ber-
bagai manifestasi klinis (Tabel 3). Kadang terdapat abnor-
malitas biokimia dan kelainan pada otot rangka, tetapi miopati
mungkin tidak tampak secara klinis. Secara umum, abnor-
malitas dapat dibagi dalam sindrom yang menyebabkan
miopati ekstremitas dengan atau tanpa oftalmoplegia dan yang
terutama manifestasi susunan saraf manusia. Dahulu pernah
diungkapkan kelainan yang terutama mengenai otot dengan
manifestasi intoleransi latihan, kelemahan otot dengan distri-
busi sekitar ekstremitas atau fascioscapulohumeral, atau dis-
fungsi otot ekstra artikuler dengan atau tanpa keterlibatan mata
dan ekstremitas. Pada kasus yang lain dilaporkan kasus dengan
gejala hipermetabolisme, sangat menyukai garam, neuropati
perifer yang menunjukkan heterogenitas yang ekstrim. Walau-
pun sebagian besar kasus terjadi pada bayi, beberapa kasus
baru menimbulkan gejala setelah mencapai masa kanak-kanak
dan baru diketahui setelah dewasa.
4
Miopai mitokondria yang timbul saat dewasa paling
banyak menyebabkan intoleransi latihan, kelemahan proksimal
atau menyeluruh dan jarang terjadi mioglobinemia, yang dapat
ditemukan pada umur 70-an. Kadar kretinin kinase dapat
normal atau meningkat, elektrofisiologi tidak menunjukkan
kelainan. Gambaran khas terbanyak pada biopsi otot adalah
peningkatan jumlah red ragged fiber dengan peningkatan akti-
vitas succinate dehydrogenase dan penurunan sitokrom
oksidase. Dengan mikroskop elektron menunjukkan peningkat-
an jumlah mitokondria dan terdapat mitokondria dengan
ukuran lebih besar atau penurunan jumlah mitokondria. Dengan
pemeriksaan Magnetic resonance spectroscopy menunjukkan
penurunan perbandingan fosfokreatinin terhadap fosfat in-
organik.
4
Tabel 3. Penyakit-penyakit mitokondria
Sindrom
Kelainan rantai
respirasi
Early onset
Alper's (progressive infantile poliodystrophy)
Leigh's (sub acute necrotizing
enchephalomyelopathy)
Pearson's (bone marrow/pancreas syndrome)
Chilhood or adult onset
Kearns-Sayre syndrome
MELAS (mitochondrial encephalomyopathy,
lactic acidosis, and strokelike episodes)
MERRF (myoclonic epilepsy with ragged-red
fibers)
MNGIE (myoneurogastrointestinal
encephalopathy)
Dementia, ataxia, deafnes, myopathy
NARP( neurogenik weakness, ataxia, retinitis
pigmentation
Poximal weakness and exercise intolerance
Exercise intolerance and myoglobinuria
I,VI,PDC
I,IV,PDC
I
I,II,III,IV,I+IV
IV
I,II,III,IV,I+IV
IV
I,I+IV
IV
I,I-III
III
Ket: I-IV : kompleks sitokrom I-IV, PDC : pyruvate dehydrogenase complex.
Dikutip dari Wortmann RL. Metabolic diseases of muscle, in: Koopman WJ,
ed. Arthritis and Allied Conditons, 4
th
ed, volume two. Philadelphia, Lippincott
Williams & Wilkins,2001:2416-2434.
Secara ringkas manifestasi kelainan mitokondria dapat
dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
39
Tabel 4. Sindrom Klinis Penyakit-penyakit mitokondria
Sindrom
Gambaran utama
Gambaran tambahan
Alper
syndrome
Polidistrofi infantil yang
progresif
Pearson
syndrome
Anemia sideroblastik pada
anak-anak, Pansitopenia,
Kegagalan eksokrin pankreas
Defek tubulus ginjal
Leigh
syndrome
Ensefalopati relaps subakut,
Tanda serebelar dan batang
otak
Lusensia ganglia basalis,
Riwayat penyakit keluarga
dengan kelainan
neurologis atau Leigh
syndrome
CPEO
Oftalmoplegi eksternal, ptosis
bilateral
Miopati proksimal ringan
Kearns-
Sayre
syndrome
Oftalmoplegi ptosis eksternal,
Retinopati pigmentosum,
Salah satu dari:
· Protein LCS > 1 gr/l
· Ataksia serebelar
· Blok jantung
Tuli bilateral, Miopati,
Disfagia, Diabetes
mellitus, Hipoparatiroidi,
Demensia,
MELAS
Stroke like episode sebelum
40 tahun, Kejang dan/atau
demensia, Ragged red fiber
dan/atau asidosis laktat
Diabetes mellitus,
Kardiomiopati (awal:
hipertrofi, lanjut: dilatasi)
Tuli bilateral, Retinopati
pigmentosum, Ataksia
serebelar
MERRF
Mioklonus, Kejang, Ataksia
serebelar, Miopati
Demensia, Atrofi optik,
Tuli bilateral, Neuropati
perifer, Spastisitas,
Lipomata multipel
MNGIE
Ensefalopati,
neurogastoinstestinal,
Miopati, Tuli, Ataksia,
Demensia
NARP
Ataksia, Neuropati perifer,
Kelemahan dan intoleransi
latihan, Retinitis
pigmentosum
Lusensia ganglia basalis,
Abnomalitas,
elektroretinogram,
Neuropati sensorimotor
Keterangan: CPEO chronic progresive external ophthalmoplegia, MELAS
mitochondrial encephalomyopathy, lactic acidosis, and strokelike episodes,
MERRF myoclonic epilepsy with ragged-red fibers, MNGIE
myoneurogastrointestinal encephalopathy, NARP neurogenic weakness,
ataxia, retinitis pigmentation
Dikutip dari Chinnery P.F. Mitochondrial Disorder Overview (Mitochondrial
Enchephalomyopathies, Mitochondrial Myopathies, Oxydative Phos-
phorylation Disorder, Respiratory Chain Disorder). Genereviews.
ETIOLOGI
Dalam tiap-tiap sel, mitokondria dapat disamakan dengan
mesin mobil. Mesin biologi yang kecil ini mengkombinasikan
makanan yang kita makan dengan oksigen untuk memproduksi
energi bagi kelangsungan hidup. Energi yang dibentuk oleh
mitokondria disimpan dalam bentuk zat kimia yang disebut
adenosine triphosphate (ATP).
12,14
Selain memproduksi energi seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, mitokondria juga terlibat dalam berbagai aktivitas
yang penting seperti memproduksi hormon steroid dan
membangun blok DNA. Adanya defek pada bagian mitokon-
drion yang disebut rantai respirasi atau rantai transport
elektron akan menyebabkan miopati mitokondria yang me-
libatkan otot, dan bila melibatkan otak disebut ensefalomiopati
mitokondria. Proses yang terjadi tersebut menimbulkan gang-
guan suplai energi, timbunan sekunder produk toksik seperti
radikal bebas dan asidosis laktat, atau kombinasi dari kedua
keadaan tersebut.
11
Bila komponen kunci rantai respirasi dalam mitokondria
hilang atau terjadi kerusakan maka akan terjadi proses yang
saling berkelanjutan. Peristiwa tersebut dapat terjadi dalam dua
tahap yaitu; (a)Yang pertama terjadi adalah tidak terbentuk
elektron. ATP tidak terbentuk secara efisien dan sel kehilangan
energi untuk melakukan fungsi normal. (b) Kedua, semua dari
tahap-tahap sesudahnya menjadi terhenti, selanjutnya sering
menimbulkan bahan kimia abnormal yang akan memproduksi
bahan toksik. Produk tersebut adalah radikal bebas dan
metabolik yang berlebihan seperti asam laktat yang dalam
jumlah besar akan membahayakan.
11
Radikal bebas adalah molekul reaktif yang dapat merusak
DNA dan membran sel melalui jalur oksidasi. Normalnya,
rantai respirasi mitokondria membuat radikal bebas dalam
jumlah yang rendah selama proses pembuatan ATP. Bila
terdapat malfungsi pada rantai respirasi, maka produksi radikal
bebas meningkat. Radikal bebas ini kemudian menyebkan
kerusakan lebih lanjut mtDNA, yang akan mengakibatkan
"vicious cycle" timbulnya kerusakan dan produksi radikal
bebas. Tidak jelas berapa besar peranan pembentukan radikal
bebas ini dapat menyebabkan atau memperburuk keadaan
sehingga terjadi gejala-gejala penyakit mitokondria.
11
Telah dilaporkan defek aktivitas enzim rantai respirasi dan
mutasi spesifik gen cytochrome b yang dibuktikan dengan
pemeriksaan biopsi, test biokimia dan molekuler pada pasien-
pasien dengan miopati mitokondria.
13
Beberapa sindrom penyakit-penyakit mitokondria dapat
disebabkan oleh berbagai perubahan dalam tingkat molekuler.
Mutasi dapat terjadi pada DNA inti dan DNA mitokondria
(mtDNA). Kearns-sayre syndrome, Pearson's syndrome dan
chronic progresive external ophthalmoplegia (CPEO) ber-
hubungan dengan berbagai defek yang mengenai kompleks
rantai respirasi mtDNA. Mitochondrial enchephalopathy, lactic
acidosis and stroke like (MELAS) syndrome dan myoclonus
epilepsy, regged red fiber disease (MERRF) disebabkan mutasi
tunggal gen mtDNA. Delesi multipel telah dilaporkan pada
lebih tiga kasus miopati familial dan miopati mitokondria
awitan lambat pada orang tua. Mutasi lokus tunggal gen
nukleus yang mengkonde protein pada kompleks I dan IV
menyebabkan sindrom miopati ekstremitas murni dan asidosis
laktat fulminan pada bayi. Deplesi mtDNA dapat menyebabkan
miopati pada anak-anak (lihat tabel 3 dan gambar 6 ).
4,10
Sindrom mitokondrial yang didapat mungkin terjadi antara
lain miopati mitokondria akibat keracunan terapi zidofudine
(AZT) pada pasien dengan HIV, miopati yang diinduksi
clofibrate dan defesiensi selenium. Keracunan CN (sianida) CO
juga merupakan kelainan rantai respirasi mitokondria yang
sering terjadi. Abnormalitas mitokondria dapat juga terjadi
sebagai akibat proses penuan dan pada otot pasien-pasien
dengan polimiositis, miositis "inclusion bodies" dan reumatika
polimialgia.
1,4,5
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
40
Gambar 6. Mutasi pada genom mitokondria manusia yang diketahui menyebakan penyakit.
Gangguan yang sering atau menonjol yang berhubungan dengan mutasi gen tertentu tercetak tebal. Penyakit akibat
mutasi yang mengganggu sintesis protein mitokondria. Penyakit yang disebabkan mutasi gen yang mengkode protein.
ECM encephalomyopathy; FBSN familial bilateral striatal necrosis; LHON Leber's hereditary optic neuropathy; LS
Leigh's syndrome; MELAS mitochondrial encephalomyopathy, lactic acidosis, and strokelike episodes; MERRF
myoclonic epilepsy with ragged-red fibers; MILS maternallyinherited Leigh's syndrome; NARP neuropathy, ataxia,
and retinitis pigmentosa; PEO progressive external ophthalmoplegia; PPK palmoplantar keratoderma; dan SIDS
sudden infant death syndrome. (Dikutip dariDiMauro S, Schon E.A. Mitochondrial Respiratory-Chain Diseases. N Eng J
PENGELOLAAN
Pada beberapa pasien dapat terlihat gambaran klinis
kelainan mitokondria yang spesifik. Evaluasi secara klinis
digunakan untuk menentukan fenotip yang kemudian dilaku-
kan konfirmasi diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium
termasuk tes genetik DNA dari sampel darah atau otot pasien.
Anamnesis riwayat keluarga secara lengkap penting dalam
diagnosis dan mengarahkan pemeriksaan laboratorium dan test
DNA yang akan dilakukan.
11,15
Beberapa pemeriksaan penunjang diperlukan untuk konfir-
masi diagnosis miopati mitokondria:
11
· Kadar laktat dan piruvat meningkat dapat menunjukkan
defisiensi rantai respirasi.
· Kreatinin kinase serum yang tinggi terjadi pada deplesi
DNA mitokondria.
· Biopsi otot untuk melihat fungsi rantai respirasi
· Histokimia untuk mendeteksi proliferasi abnormal
mitokondria dan defisiensi sitokrom C oksidase.
· Immunohistokimia digunakan untuk mendeteksi ada tidak-
nya protein spesifik untuk menyingkirkan diagnosis
penyakit lain atau konfirmasi hilangnya protein pada rantai
respirasi.
· Parameter biokimia dapat menentukan enzim rantai
respirasi spesifik, tes khusus ini disebut polarography
measure oxygen.
· Tes genetik dapat dilakukan pada DNA genom yang
diekstraksi dari darah bila dicurigai mutasi DNA dan
mtDNA, atau dari DNA genom yang diekstraksi dari otot
bila dicurigai mutasi mtDNA.
11,15
Terapi yang paling umum adalah pemberian zat untuk
merangsang aktivitas enzim transport elektron sisa atau
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
41
memberikan aseptor elektron buatan. Strategi metabolic by
pass dengan vitamin C dan menadion terbukti berhasil secara
bermakna untuk pasien dengan defisiensi kompleks respirasi
III. Kedua vitamin ini adalah akseptor elektron dengan potensi
elektrik yang tepat, sehingga memungkinkan rantai respirasi
berjalan kembali.
1,6
Pemberian riboflavin oral bermanfaat untuk
pasien dengan defisiensi kompleks I dan /atau kompleks II.
15
Sekarang ini mulai dipakai agen metabolik seperti
Coenzim Q
10
(ubikuinon), yang merupakan komponen penting
dalam rantai transport elektron yang dapat meningkatkan
produksi ATP dan berperan sebagai anti oksidan. Obat lain
yang digunakan adalah L-carnitine, vitamin K, nicotinamide,
creatine. Latihan aerobik dengan intensitas sedang dapat juga
bermanfaat pada beberapa pasien dengan miopati mitokondria.
Walaupun bukti efikasinya masih terbatas, terapi ini telah
digunakan.
1,4
Pemberian
infus
triacylglycerol ternyata tidak memberikan
perbedaan bermakna dibanding glukosa. Terapi gen menjadi
harapan baru dalam pengobatan kelainan - kelainan mitokon-
dria di masa mendatang.
6,21,22
KEPUSTAKAAN
1.
Beal MF, Martin JB. Nutritional and Metabolic Disease of the Nervous
Sistem in: Fauci A.S, Brunwald E, Isselbacher K.J. et all, ed. Harrison's
Principle of Internal Medicine 14
th
. McGraw-Hill. New York. 1998; 2:
2451-2457.
2. Mendell JR et al. Disease of Muscle in: Fauci A.S, Brunwald E,
Isselbacher K.J. et all, ed. Harrison's Principle of Internal Medicine 15
th
.
McGraw-Hill. New York. 2001; 2 : 2536-2540.
3.
Wortmann RL. Myopathic Diseases. Buletin on the Rheumatic Disease.
2004; 51: 1-6.
4. Wortmann RL. Metabolic diseases of muscle, in: Koopman WJ, ed.
Arthritis and Allied Conditons, 4
th
ed , volume two. Lippincott Williams
& Wilkins. Philadelphia. 2001: 2416-2434.
5. Sangkot M. Mitochondrial Medicine: Perspektif ke Depan. Dalam:
Suryadi H, dkk. Ed. Mitochondrial Medicine. Lembaga Eijman. Jakarta.
2003. 1-17.
6. M. Sangkot. Kelaian Mitokondria, Diagnosis dan Pengobatan. Dalam:
Suryadi H, dkk. Ed. Mitochondrial Medicine. Lembaga Eijman. Jakarta.
2003. 71-89.
7. Dorland W.A.N. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. EGC. Jakarta;
2002 : 442,1363.
8. Artika I.M, Struktur, Fungsi, dan Biogenesis. Mitokondri. Dalam:
Suryadi H, dkk. Ed. Mitochondrial Medicine. Lembaga Eijkman. Jakarta.
2003. 19-51.
9. DiMauro S, Schon E.A. Mitochondrial Respiratory-Chain Diseases. N
10. John DR, Disease Caused by Genetic Defect of Mitochondria, in : Fauci
A.S, Brunwald E, Isselbacher K.J. et all, ed. Harrison's Principle of
Internal Medicine 15
th
. McGraw-Hill. New York. 2001; 1: 2451-2457.
11. Hesterlee S. Mitochondrial Disease in Perspective Symptoms, Diagnosis
12. Hesterlee S. Mitochondrial Myopathy: An Energy Crisis in The Cells.
13. Flaherty KR, Wald J, Weisman IM, et al. Unexplained Exertional
Limitation, Characterization of Patien with a Mitochondrial Myopathy.
Am J Respir Crit Care Med. 2001 ; 164 : 425-452. htttp : //
14. Griggs RC, Karpati G. Muscle Pain, Fatique, and Mitochondriopathies. N
15. Chinnery P.F. Mitochondrial Disorder Overview (Mitochondrial
Enchephalomyopathies, Mitochondrial Myopathies, Oxydative
Phosphorylation Disorder, Respiratory Chain Disorder). Genereviews.
17. Wang L, Saada A, Eriksson S. Kinetic Properties of Mutant Human
Thymidine Kinase 2 Suggest a Mechanism for Mitochondrial DNA
Depletion Myopathy. The Jornal of Biological Chemistry. 2003 ; 278 :
18. Roef MJ, Kalhan SC, Reijngond D EL et al. Lactate Disposal via
Guconeogenesis Is Increased During Exercise in Patient with
Mitochondrial Myopathy Due Compex I Deficiency. Pediatric Research.
2001 : 592-597.
19. Wredenburg A, Wibom R, Graft C, et al. Increased Mitochondrial Mass
in Mitochondrial Myopathy Mice. PNAS. 2002 ; 99 : 15066-71.
20. Yonemura K, Hasegawa Y, Kimura K, et al. Diffusion-Weighted Mr
Imaging In A Case Of Mitochondrial Mypathy, Enchepalopathy, Lactic
Acidosis, Strokelike Episodes. American Journal Neuroradiology. 2001 ;
22 : 269-272.
21. Roef MJ, Meer KD, Reijngoud DJ. Et al . Triacylglycerol infusion
improve exercise endurance in patients with mitochondrial myopathy due
to complex I deficiency. American Journal Nutrition. 2002 ; 75 : 237-44.
22. Taivalsalo T, Fu K, Johns T, et al. Gene shifting: a novel theraphy for
mitochondrial myopathy. Human Molekular Genetik. 1999 ; 8 : 047-
1052.
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
42
Document Outline