TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Disfungsi Endotel
dan Obat Antihipertensi
Selvinna, Rianto Setiabudy
Bagian Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta
PENDAHULUAN
Dewasa ini dunia kedokteran dan pengobatan maju dengan
sangat pesat, seiring dengan kemajuan pengetahuan di berbagai
bidang yang tak henti mencari dan meneliti sesuatu dari
berbagai sudut pandang. Teori patofisiologi atau terjadinya
suatu penyakit terus berkembang seiring dengan berbagai
temuan penelitian.
Salah satu teori tentang terjadinya penyakit adalah adanya
gangguan aliran darah ke jaringan maupun organ. Pada tingkat
seluler, para ahli menemukan bahwa sel endotel yang
merupakan lapisan terdalam dinding pembuluh darah, memiliki
peran dalam pengaturan aliran darah ke suatu organ
(1,2)
.
Gangguan atau kerusakan fungsi endotel dapat berakibat
terjadinya gangguan pada organ terkait
(1-3)
.
Misalnya pada hipertensi esensial, yang merupakan suatu
keadaan terjadinya peningkatan tekanan darah. Selama ini
patogenesis hipertensi esensial tidak diketahui, hanya di-
ungkapkan tentang adanya faktorfaktor pencetus terjadinya
peningkatan tekanan darah. Kini, banyak ahli berpendapat
bahwa hipertensi esensial antara lain disebabkan karena
terjadinya gangguan fungsi endotel pembuluh darah (disfungsi
endotel)
(1-5)
. Kelainan ini juga berperan pada komplikasi
kardiovaskuler yang menyertai aterosklerosis
(1-4)
, diabetes
melitus
(1,2)
, hiperkolesterolemi
(1,2)
, gagal jantung
(4,5)
, pre-
eklampsi
(6)
dan lain-lain.
Diketahuinya peran endotel menimbulkan pemikiran
bahwa sebaiknya strategi pengobatan terhadap penyakit-
penyakit tersebut juga ditujukan untuk memperbaiki fungsi
endotel
(1,2,7)
.
Obat-obat antihipertensi, yang terdiri dari banyak golong-
an, sering disebut memiliki efek perbaikan disfungsi endotel
sehingga memberi manfaat bagi pembuluh darah pada pasien
hipertensi
(1,2,7)
.
Makalah ini akan membahas peranan endotel dalam
patofisiologi hipertensi dan pengaruh beberapa obat anti-
hipertensi terhadap disfungsi endotel tersebut.
ENDOTEL DAN DISFUNGSI ENDOTEL
Endotel
Endotel adalah lapisan sel epitelial yang berasal dari
mesoderm yang membatasi dinding pembuluh darah dan
dinding pembuluh limfe
(8)
. Endotel terletak di antara sirkulasi
darah dan pembuluh darah. Pada orang dewasa dengan berat
badan 70 kg, endotel meliputi area seluas 700 m
2
dengan berat
11,5 kg
(1)
.
Endotel sebagai organ vasoaktif telah banyak dibicarakan
oleh berbagai ahli
(1,2,4)
sehingga endotel makin dikenal
peranannya bukan hanya dalam mensekresi substansi yang
mengatur struktur dan tonus pembuluh darah
(1-4)
namun juga
beberapa fungsi lain seperti pengaturan hemodinamik,
metobolisme, inflamasi
(3,9)
, dan proses trombogenik
(9)
.
FUNGSI DAN DISFUNGSI ENDOTEL
1. Fungsi Endotel
Fungsi utama endotel adalah : 1. mengatur tonus pembuluh
darah, 2. mengatur adesi lekosit dan inflamasi, dan 3.
mempertahankan keseimbangan antara trombosis dan
fibrinolisis
(3)
. Fungsi endotel ini dilakukan oleh substansi-
substansi khusus
(1-5)
yang dikelompokkan dalam 2 golongan
besar yaitu Endothelium Derived Relaxing Factors (EDRFs)
dan Endothelium Derived Contrcting Factors (EDCFs)
(Gambar 1 dan Tabel 1).
EDRFs
Substansi yang tergolong EDRFs adalah : nitric oxide
(NO), prostasiklin, dan faktor relaksasi hiperpolarisasi
(Endothelium Derived Hyperpolarizing Factor, EDHF)
(3-5)
.
NO merupakan EDRFs terpenting yang terbentuk dari
transformasi asam amino L-arginin menjadi sitrulin
(7,10)
melalui
jalur L-arginine-nitric oxide
(10)
dengan bantuan enzim NO
sintetase (NOS). NO diproduksi atas pengaruh asetilkolin,
bradikinin, serotonin, dan bertindak sebagai reseptor endotel
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
20
spesifik
(7)
. NOS diaktivasi oleh adanya robekan pada pembuluh
darah dan estrogen, sebaliknya aktivasi NOS dihambat oleh
asam amino dalam sirkulasi dan oleh ADMA (asymmetrical
dimethylarginine). Pada pembuluh darah, sintesis NO mem-
pengaruhi tonus pembuluh darah sehingga berperan pada
pengaturan tekanan darah
(3-5,9)
, selain itu pada sistem saraf
pusat NO merupakan neurotransmiter yang menjalankan
beberapa fungsi termasuk pembentukan ingatan
(10)
.
Prostasiklin dihasilkan endotel sebagai respons adanya
shear stress dan hipoksia. Prostasiklin meningkatkan cAMP
pada otot polos dan trombosit
(1)
.
NO
(3,10)
dan prostasiklin secara sinergistik menghambat
agregasi trombosit sehingga dengan adanya kedua zat ini
terjadilah penghambatan aktivasi trombosit secara maksimal
(1)
.
EDCFs
Endotel juga menghasilkan faktor kontraksi yang disebut
EDCFs seperti ET-1 (endotelin-1), tromboksan A
2
(TXA
2
),
prostaglandin H
2
(PGH
2
) , dan angiotensin II
(1,3,9)
.
Pembuluh darah intramiokard lebih sensitif terhadap efek
vasokontriksi ET-1 daripada arteri koronaria, sehingga endotel
berperan penting dalam pengaturan aliran darah koroner.
Hingga kini terdapat 3 isoform endotelin, yaitu : endotelin-1,
endotelin-2, dan endotelin-3. Telah ditemukan dua reseptor
endotelin, yaitu reseptor ET
A
dan ET
B.
Reseptor ET
B
berperan
dalam pembentukan NO dan prostasiklin, hal ini menjelaskan
mengapa endotelin memiliki efek vasodilatasi sesaat
(1)
.
ET-1 menyebabkan vasodilatasi pada konsentrasi rendah
dan terusmenerus menimbulkan kontraksi pada konsentrasi
tinggi sehingga dapat menyebabkan iskemi, aritmi dan
kematian (otot) jantung
(5)
.
Angiotensin II menyebabkan proliferasi dan migrasi sel
otot polos melalui reseptor AT
1
, selain itu angiotensin II
memproduksi vasokonstriktor poten dan menyebabkan retensi
garam dan air. Hal ini merupakan komponen utama dalam
patogenesis berbagai penyakit vaskuler seperti hipertensi
(4,5)
.
Relaksasi
Kontraksi
Sel otot polos
vaskuler
Endotel
vaskuler
Trombosit
Trombosit
Relaksasi
Kontraksi
Sel otot polos
vaskuler
Endotel
vaskuler
Trombosit
Trombosit
Gambar 1. Faktor-faktor yang menimbulkan relaksasi dan kontraksi yang dihasilkan endotel
(1)
Ang I/II=angiotensin I/II, Thr=thrombin, TGF
1
= transforming growth factor
1
, Ach= asetilkolin, 5-HT=5-hydroxy triptamine, serotonin,
ET-1=endothelin-1, ADP=adenosine diphosphate, BK=bradikinin, ACE=angiotensin converting enzyme, ECE=endothelin converting
enzyme, TXA
2
=tromboxane A
2
, PGH
2
=prostaglandin H
2
, O
2
-
=superoxide, L-Arg=L-Arginin, NOS=nitric oxide synthase, NO= nitric oxide,
EDHF= endothelium derived hyperpolarizing factor, ET
A
/
B
= endothelin receptor type A/B, AT
1
=angiotensin receptor type 1,
TX=thromboxane, PGI
2
=prostasiklin I
2
, cAMP=cyclic adenosin mono phosphate, cGMP= cyclic guanosine mono phosphate
2. Disfungsi Endotel
Pada keadaan tertentu seperti penuaan
(1,2)
, menopause
(1,2)
,
dan keadaan patologis seperti hipertensi
(1-4)
, diabetes
melitus
(1,2)
, aterosklerosis
(1-4)
, sel endotel teraktivasi untuk
menghasilkan faktor konstriksi seperti EDCF (TXA
2
, PGH
2
)
dan radikal bebas yang menghambat efek relaksasi NO.
Radikal bebas dapat menghambat fungsi endotel dengan
menyebabkan rusaknya NO
(7,9)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
21
Tabel 1. Pengaturan fungsi oleh endotel
(4)
Fungsi Substansi
Vasorelaksasi EDRFs
:
NO
Prostasiklin, PGE
2
, PGD
2
EDHF
Vasokonstriksi EDCFs
:
Endotelin-1
TXA
2
PGH
2
Angiotensin II
Superoksida
Anti trombosit
NO
Eikosanoid
Prostasiklin
Prostasiklin E
2
Antikoagulan Trombomodulin
Glikosaminoglikan
Hepatan sulfat
Dermatin sulfat
Ketidakseimbangan antara faktor kontraksi dan relaksasi
yang terjadi pada endotel inilah yang disebut disfungsi
endotel
(1-4)
. Sumber lain menyebutkan disfungsi endotel
merupakan perubahan fungsi sel endotel yang berakibat pada
kegagalan availabilitas NO, sehingga disfungsi endotel harus
dibedakan dari kerusakan endotel yang berarti terjadinya
kerusakan anatomi endotel
(7)
(Gambar 2).
Letak endotel pada pembuluh darah sangat menguntung-
kan tapi juga sekaligus merugikan, karena pada keadaan
hipertensi, diabetes melitus, dan hiperlipidemia, endotel men-
jadi sasaran (target organ) dari kerusakan akibat penyakit-
penyakit tersebut
(2)
.
DISFUNGSI ENDOTEL PADA HIPERTENSI
Mekanisme disfungsi endotel pada hipertensi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa disfungsi endotel
pada hipertensi esensial disebabkan oleh penurunan availa-
bilitas NO. Dibanding orang normal, pemberian infus L-
NMMA (N
G
monomethyl-L-arginine) pada pasien hipertensi
esensial menyebabkan tonus pembuluh darah menjadi lebih
rendah dan tidak terjadi penurunan respons terhadap asetilkolin
(vasodilator yang tergantung endotel) atau bradikinin
(5,7)
. Hal
ini menunjukkan adanya kerusakan NO dan munculnya
rangsangan pelepasan NO pada arteri pasien hipertensi
esensial. Kerusakan NO ini kemudian dibuktikan dengan
adanya penurunan kadar nitrit dan nitrat plasma, yang
merupakan produk akhir dari oksidasi NO
(7)
.
Adanya penurunan respons terhadap agonis endotel pada
pasien hipertensi tampaknya tidak berhubungan dengan
kerusakan reseptor membran atau jalur transduksi sinyal karena
penurunan ini terjadi pada berbagai agonis yang bekerja pada
reseptor atau pada jalur transduksi intraseluler yang berbeda
(7)
.
Pendapat lain menyatakan bahwa hipertensi esensial
berhubungan dengan perubahan fungsi dan morfologi endotel
menyebabkan peningkatan volume sel sehingga endotel
mencembung ke dalam lumen. Pada pembuluh darah yang
hipertensi interaksi antara endotel dengan trombosit dan
monosit meningkat
(4)
.
Pengaruh NO dalam terjadinya disfungsi endotel pada
hipertensi diuji pada sebuah penelitian dengan hewan coba
tikus hipertensi. Pada tikus yang mengalami hipertensi spontan,
aktivitas NOS meningkat namun aktivitas biologis NO
menurun, hal ini mungkin menunjukkan adanya inaktivasi oleh
O
2
, dan selain itu produksi TXA
2
dan PHG
2
juga meningkat.
Pada tikus yang hipertensinya diinduksi dengan garam, terjadi
penurunan produksi NO. Produksi ET-1 meningkat pada tikus
yang diinduksi dengan garam namun menurun pada tikus-tikus
S tim ulasi
Inhibisi
S tim ulasi
Inhibisi
Gambar 2. Stimulasi dan inhibisi faktor-faktor kontraksi dan dilatasi endotel
(9)
yang mengalami hipertensi spontan. Hal ini menunjukkan ada-
nya heterogenisitas disfungsi endotel dalam hipertensi
(Gambar 3)
(1,5)
.
Penelitian pada manusia juga menunjukkan bahwa pada
pasien hipertensi esensial terjadi penurunan vasodilatasi oleh
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
22
Gambar 3. Heterogenisitas disfungsi endotel pada hipertensi
(1,5)
endotel. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya penurunan
respons terhadap asetilkolin yang merupakan vasodilator yang
tergantung pada endotel
(11)
.
Peran stres oksidatif
Pendapat lain tentang mekanisme terjadinya kerusakan NO
adalah produksi stres oksidatif. Stres oksidatif yang berupa
ROS (Reactive Oxygen Species) terutama anion superoksida ini
dapat bergabung dan menghancurkan peroksinitrat yang
menghasilkan NO, sehingga terjadi efek negatif terhadap
struktur dan fungsi pembuluh darah
(7)
.
Pendapat tentang peran stres oksidatif tersebut didukung
oleh adanya bukti bahwa asam askorbat
(2,3,9)
, yang merupakan
scavenger radikal bebas, dapat meningkatkan respons terhadap
asetilkolin pada sirkulasi perifer dan pada arteri koroner
epikardial
(7)
dan arteri brakial
(2)
pasien hipertensi esensial.
Kemungkinan lain dari mekanisme penurunan produksi
NO adalah terbentuknya analog L-arginin yaitu ADMA (N
G
N
G
dimethyl-L-arginine) yang merupakan kompetitor endogen
bagi NOS
(7,9,10)
. Belakangan ditemukan bahwa kadar ADMA
plasma berhubungan dengan tekanan arteri rata-rata dan faktor
risiko kardiovaskuler lain
(7)
.
Interaksi antara NO dan vasokonstriktor
Interaksi antara sistem NO dan vasokonstriktor endotel,
terutama ET-1
(4,5)
dan angiotensin II, berperan dalam pato-
genesis disfungsi endotel. Walaupun pada pasien hipertensi
tidak terdapat peningkatan kadar ET-1 plasma, namun terjadi
peningkatan aktivitas vasokonstriktor ET-1 akibat penurunan
NO. NO mampu menginhibisi produksi dan aktivitas ET-1, dan
pada hipertensi esensial kemampuan inhibisi ini menghilang
karena adanya penurunan produksi NO
(7)
.
Angiotensin II memiliki efek yang berbeda pada sistem
Hipertensi genetik
Hipertensi yang
diinduksi garam
Kontraksi
Kontraksi
Relaksasi
Relaksasi
Sel otot
polos
vaskuler
Hipertensi genetik
Hipertensi yang
diinduksi garam
Kontraksi
Kontraksi
Relaksasi
Relaksasi
Sel otot
polos
vaskuler
NO. Walaupun reseptor AT
1
menyebabkan penurunan NO,
namun stimulasi AT
2
menyebabkan sintesis NO pada endotel.
Dengan demikian apakah angiotensin II akan mempengaruhi
fungsi atau disfungsi endotel, tergantung dari efek reseptor
mana yang lebih dominan
(5,7)
.
DISFUNGSI ENDOTEL DAN OBAT ANTIHIPERTENSI
Obat antihipertensi adalah obat yang memberi efek
penurunan tekanan darah. Obat-obat ini terdiri dari berbagai
golongan, berdasar mekanisme kerjanya (Tabel 2). Sebagian
besar telah diteliti manfaatnya pada endotel, terutama efek
untuk menimbulkan vasodilatasi
(3-5,7)
.
Tabel 2. Berbagai golongan antihipertensi dan contohnya
(12)
Golongan Contoh
Penyekat beta (
blocker)
Atenolol
Nebivolol
Karvedilol
Antagonis kalsium
Nifedipin
Verapamil
Diltiazem
Penghambat EKA (ACE Inhibitor)
Kaptopril
Kuinapril
Lisinopril
Antagonis reseptor angiotensin II
Losartan
Kandesartan
Telmisartan
Penyekat beta (beta blockers)
Penyekat beta merupakan golongan obat antihipertensi
yang bekerja dengan menghambat adrenoseptor
saraf
simpatis sehingga menimbulkan efek penurunan rangsang
simpatis
(12)
.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menilai efekti-
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
23
vitas penyekat beta dalam memperbaiki disfungsi endotel.
Pengunaan atenolol selama 1 maupun 3 tahun terbukti tidak
memperbaiki respons terhadap asetilkolin maupun bradikinin
sehingga tidak menyebabkan vasodilatasi
(7)
.
Nebivolol yang memiliki profil vasodilatasi mampu
meningkatkan relaksasi yang tergantung pada endotel, terbukti
dengan terjadinya peningkatan FBF (fore-arm blood flow,
aliran darah lengan bawah) setelah pemberian infus nebivolol
pada arteri brakialis. Efek ini secara nyata dihambat oleh L-
NMMA dan diperbaiki oleh L-arginin. Namun demikian, pada
penelitian lain penggunaan nebivolol pada pasien hipertensi
tidak berhasil menunjukkan adanya efek vasodilatasi jika tidak
disertai dengan pemberian asam askorbat sebagai anti-
oksidan
(7)
.
Karvedilol terbukti potensial dalam memperbaiki fungsi
endotel dan meningkatkan efek antioksidan. Hal ini tampak
karena karvedilol dapat meningkatkan dilatasi arteri brakialis
pasien hipertensi esensial
(7)
.
Antagonis kalsium
Antagonis kalsium adalah golongan obat yang bekerja
menghambat masuknya ion kalsium melalui kanal yang
terdapat pada membran sel sehingga menyebabkan vasodilatasi
dan penurunan tekanan darah
(12)
.
Kalsium intraseluler berperan dalam banyak proses
intraseluler, yaitu dalam mekanisme pemberian sinyal. Pada
penyakit pembuluh darah, peningkatan kalsium intraseluler
berperan dalam aktivasi trombosit, vasokonstriksi, proliferasi
otot polos pembuluh darah, serta pelepasan substansi vasoaktif
oleh sel-sel endotel. Penghambat jalur kalsium menghalangi
masuknya kalsium intraseluler melalui voltage operated
channels ke dalam sel-sel otot polos, sehingga terjadi vaso-
dilatasi terutama pada arteri-arteri besar. Selain itu, antagonis
kalsium mempermudah vasodilatasi yang diinduksi oleh NO.
NO menurunkan kalsium intraseluler melalui guanilil siklase
sehingga menimbulkan peningkatan cGMP intraseluler
(5)
.
Terapi jangka panjang dengan nifedipin atau isradipin pada
tikus hipertensi spontan dapat memperbaiki relaksasi endotel
terhadap asetilkolin
(5,13)
. Hal yang menarik adalah pada terapi
jangka panjang dengan verapamil, tapi tidak pada terapi jangka
pendek, terjadi peningkatan efek relaksasi pada tikus hipertensi
dengan defisiensi NO
(5)
.
Pendapat lain juga menyebutkan bahwa antagonis kalsium
menurunkan efek kontraktilitas ET-1, karena produksi ET-1
berhubungan dengan Ca
++
intraseluler, walaupun secara in vitro
maupun in vivo antagonis kalsium tidak mengubah kuantitas
produksi ET-1
(5)
.
Selain itu, endotelin mempotensiasi efek vasokonstriktor
lain seperti serotonin dan norepinefrin, bahkan pada
konsentrasi yang tidak merangsang respons kontraktilitas. Efek
potensiasi tidak langsung dari endotelin ini disebabkan oleh
peningkatan sensitivitas kalsium dari sel-sel otot polos dalam
kondisi hipertensi. Beberapa studi menunjukkan bahwa
pembuluh darah kecil lebih tergantung pada masuknya kalsium
ekstraseluler ke dalam sel daripada pembuluh darah besar. Jadi
pada sirkulasi lengan manusia, pemberian verapamil dan
nifedipin intraarteri dapat menghambat efek vasokonstriksi
endotelin endogen
(5)
.
Data yang didapat dari berbagai penelitian menunjukkan
bahwa antagonis kalsium terutama kelas dihidropiridin seperti
nifedipin mampu meningkatkan relaksasi yang tergantung pada
endotel
(7)
. Muncul pertanyaan, yaitu bagaimana antagonis
kalsium mampu menimbulkan aktivitas tersebut pada sel
endotel, mengingat fungsi sel endotel tidak tergantung pada
kerja kanal kalsium. Bukti dari penelitian menunjukkan bahwa
antagonis kalsium memiliki efek antioksidan yang menjaga sel
endotel terhadap kerusakan akibat radikal bebas sehingga
antagonis kalsium mencegah rusaknya NO pada keadaan
hipertensi, yang pada akhirnya mencegah disfungsi endotel
(7)
.
Mungkin dengan mekanisme antioksidan tersebut pula
penelitian pada hewan membuktikan bahwa antagonis kalsium
mampu menghambat aterogenesis
(2)
.
Penghambat Enzim Konversi Angiotensin (EKA)
Dalam sistem renin angiotensin, EKA mengubah angio-
tensin I menjadi angiotensin II
(3-5,12)
. Walaupun perubahan
angiotensin I menjadi angiotensin II ini terjadi terutama di
paru-paru, ternyata ditemukan pula sistem EKA jaringan di
sepanjang endotel pembuluh darah
(2)
.
Obatobat yang termasuk dalam penghambat EKA (ACE
inhibitor) bekerja dengan menghambat enzim ini sehingga
angiotensin II
(12)
, yang merupakan salah satu EDCFs, tidak
terbentuk. Selain itu, EKA menyebabkan degradasi bradikinin
menjadi peptida inaktif sehingga pemberian penghambat EKA
akan menyebabkan bradikinin tidak diubah
(2,5,7)
.
Dengan demikian, peran penghambat EKA dalam dis-
fungsi endotel adalah meningkatkan kadar bradikinin yang
merupakan vasodilator serta mencegah efek angiotensin II yang
bersifat sebagai vasokonstriktor poten
(2-5,7)
.
Pendapat lain menyatakan bahwa penghambat EKA
memperbaiki fungsi endotel yang mengatur pembentukan
superoksida, bahkan pada konsentrasi di bawah ambang dari
angiotensin II yang tidak meningkatkan tekanan darah dapat
melipatgandakan aktivitas NADH dan produksi superoksida
(5)
.
Salah satu penelitian yang membuktikan hal ini adalah
studi TREND (Trial on Reversing ENdothelial Dysfunction)
yang menggunakan regimen kuinapril 40 mg/hari pada pasien
penyakit jantung koroner. Hasil penelitian ini menunjukkan
adanya penurunan vasokonstriksi pembuluh darah koroner
(5,7)
dan peningkatan fungsi vasomotor pada endotel
(4)
.
Terapi dengan cilazapril selama 2 tahun mampu
meningkatkan respons terhadap asetilkolin pada pasien hiper-
tensi esensial, hal ini juga terjadi pada penggunaan lisinopril
selama 3 tahun. Pemberian perindroprilat intravena me-
ngembalikan respons normal pembuluh darah terhadap
rangsang endotel. Bahkan pada pasien dengan penyakit arteri
koroner, ramipril 10 mg/hari selama 4 minggu mampu me-
ningkatkan dilatasi. Selain itu, karena pemberian ramipril dapat
mempertahankan aktivitas vasodilatasi asam askorbat, diduga
penghambat EKA memiliki aktivitas antioksidan
(7)
.
Efek penghambat EKA terhadap perbaikan fungsi endotel
juga berlaku pada sirkulasi ginjal. Pada pasien hipertensi,
penghambat EKA terbukti secara spesifik memperbaiki respons
vasodilatasi pembuluh darah ginjal
(7)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
24
Namun, apakah efek penghambat EKA pada fungsi
endotel ini merupakan class effect atau hanya melibatkan jenis
obat tertentu, masih merupakan kontroversi dan memerlukan
penelitian lebih lanjut
(3)
.
Antagonis reseptor angiotensin II
Angiotensin II yang terbentuk dari perubahan angiotensin I
oleh EKA merupakan vasokonstriktor kuat yang menyebabkan
kenaikan tekanan darah
(12)
. Selain itu, angiotensin II memiliki
efek negatif terhadap fungsi endotel yaitu menyebabkan
pelepasan ET-1 dari sel pembuluh darah, produksi vaso-
konstriktor PGH
2
dari endotel dan penghambatan aktivitas
NOS. Lebih dari itu, penelitian pada tikus menunjukkan bahwa
angiotensin II meningkatkan produksi radikal bebas yang akan
merusak fungsi relaksasi asetilkolin
(7)
.
Obat-obat yang termasuk dalam antagonis reseptor
angiotensin II bekerja dengan menduduki reseptor AT
1
secara
kompetitif sehingga efek angiotensin II tidak terjadi
(12)
.
Penelitian menunjukkan bahwa pemberian antagonis
reseptor angiotensin II seperti losartan dapat menyebabkan
produksi anion superoksida dan relaksasi asetilkolin kembali
normal. Pemberian losartan jangka panjang akan memperbaiki
disfungsi endotel karena terjadi peningkatan relaksasi oleh NO
dan turunnya pembentukan EDCFs
(7)
.
Selain itu, karena antagonis reseptor angiotensin II hanya
menghambat reseptor AT
1
, angiotensin II dapat berikatan
dengan reseptor AT
2
. Hal ini mungkin dapat menguntungkan
karena pengikatan angiotensin II dengan reseptor AT
2
akan
merangsang sintesis NO pada sel endotel
(7)
.
Pada studi lain, penggunaan kandesartan 8-16 mg/hari
selama lebih dari 1 tahun tidak terbukti meningkatkan respons
terhadap asetilkolin. Namun demikian, kandesartan dinyatakan
memiliki efek positif karena dapat mempengaruhi aktivitas
endotelin dengan cara menghambat umpan balik angiotensin II
pada sintesis endotelin
(7)
.
Demikian pula halnya dengan penggunaan telmisartan 40-
80 mg/hari selama lebih dari 6 bulan tidak berhasil
menunjukkan adanya perbaikan dilatasi pada pasien hipertensi
esensial
(7)
.
Secara keseluruhan, peran antagonis reseptor angiotensin
II terhadap perbaikan fungsi endotel pada pasien hipertensi
masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.
KESIMPULAN
Endotel merupakan organ yang memiliki peran penting
dalam patogenesis berbagai keadaan patologis seperti
hipertensi, aterosklerosis, hiperkolesterolemi, diabetes melitus,
dan lain-lain. Peran penting endotel terletak pada fungsinya
dalam mensekresi berbagai substansi yang mengatur konstriksi
dan relaksasi pembuluh darah. Ketidakseimbangan antara
faktor konstriksi dan relaksasi tersebut dapat menyebabkan
keadaan disfungsi endotel yang pada akhirnya menyebabkan
gangguan pada organ.
Hipertensi esensial merupakan salah satu keadaan pato-
logis yang berhubungan dengan disfungsi endotel. Kini ber-
bagai antihipertensi diteliti peranannya dalam memperbaiki
disfungsi endotel sebagai keadaan yang mendasari terjadinya
hipertensi esensial.
Dari banyaknya golongan antihipertensi, beberapa di
antaranya memang sudah terbukti memperbaiki disfungsi
endotel melalui mekanisme penghambatan faktor konstriksi
maupun melalui mekanisme antioksidan. Namun demikian,
apakah efek obat yang sudah diteliti tersebut dapat mewakili
semua obat dalam golongannya, masih diperlukan banyak studi
dan pembuktian lebih lanjut.
KEPUSTAKAAN
1.
Luscher TF, Barton M. Biology of the endothelium. Clin. Cardiol.1997;
20 Suppl 2:3-10
2. Cooke JP. Therapeutic interventions in endothelial dysfunction:
endothelium as a target organ. Clin Cardiol. 1997; 20 Suppl 2:45-51
3. Sowinski KM. Endothelial function and dysfunction. Report of the
American College of Clinical Pharmacy 2000 Annual Meeting; 2000 Nov
5-8, Los Angeles, California
4. Kadirvelu A, Chee KH, Chim CL. Endothelial dysfunction in
cardiovascular diseases. Med. Progr. 2002 : 4-12
5.
Sargowo D. Peran endotel pada patogenesis penyakit kardiovaskular dan
program pencegahannya. Medika 1999; 10 : 643-55
6.
Chambers JC, Fusi L, Malik IS, Haskard DO, de Swiet M, Kooner JS.
Association of maternal endothelial dysfunction with preeclampsia.
JAMA 2001; 285 : 1607-12
7. Taddei S, Virdis A, Ghiadoni L, Sudano I, Salvetti A. Effects of
antihypertensive drugs on endothelial dysfunction. Drugs 2002; 62 : 265-
84
8.
Dorland's Illustrated Medical Dictionary, 27
th
ed., WB. Saunders, 1988 :
556
9.
Goligorsky MS, Gross SS. The ins and outs of endothelial dysfunction :
much a do about NO-thing. Drug New Perspect 2001; 14 : 133-42
10. Moncada S, Higgs A. The L-arginine-nitric oxide pathway. N Engl J Med
1993; 329 : 2002-12
11. Panza JA, Quyyumi AA, Brush JE, Epstein SE. Abnormal endothelium-
dependent vascular relaxation in patients with essential hypertension. N
Engl J Med 1990; 323 : 22-7
12. Oates JA, Brown NJ. Antihypertensive agents and drug therapy of
hypertension. In: Hardman JG, Gilman AG, eds. The pharmacological
Basis of Therapeutics. 10
th
ed.New York : McGraw-Hill; 2001.p. 891-5
13. Tschudi MR, Criscione L, Novosel D, Pfeiffer K, Lscher TF. Antihyper-
tensive therapy augments endothelium-dependent relaxations in coronary
arteries of spontaneously hypertensive rats. Circulation 1994; 89: 2212-8.
It is a great shame to man to have a poor heart and rich purse
Cermin Dunia Kedokteran No. 147, 2005
25
Document Outline