ABSTRAK
MANFAAT rtPA
Data dari 6 percobaan rtPA pada
pasien stroke dianalisis; keenam per-
cobaan tersebut melibatkan 2775
pasien dengan usia median 68 tahun,
skala NIHSS 11 dan selang waktu
antara onset dengan saat terapi 243
menit.
Perbaikan hasil pengobatan setelah
3 bulan lebih besar jika selang waktu-
nya lebih singkat (p=0.005).
Odd ratio 2.8 (95%CI 1.8-4.5)
untuk selang waktu 0-90 menit; 1.6
(1.1-1.2) untuk selang waktu 91-180
menit; 1.4 (1.1-1.9) untuk selang waktu
181-270 menit dan 1.2 (0.9-1.5) untuk
selang waktu 271-360 menit.
Hazard ratio untuk kematian ada-
lah 1.0 untuk selang waktu 0-90 menit,
91-180 menit dan 181-270 menit, dan
1.45 untuk selang waktu 271-360
menit.
Efek samping perdarahan dijumpai
pada 82 (5.9%) pasien rtPA dan 15
(1.1%) pasien kontrol. Perdarahan ini
tidak dikaitkan dengan selang waktu
pengobatan, tetapi dengan rtPAnya
sendiri (p=0.0001) dan usia
(p=0.0002).
Lancet 2004;363:768-74
brw
MANFAAT SIMVASTATIN
Sejumlah 3280 dewasa dengan
CVD dan 17256 lainnya dengan faktor
risiko diberi 40 mg simvastatin/hari
atau plasebo selama 5 tahun.
Selama periode tersebut terdapat
selisih kadar LDL rata-rata 1.0 mmol/1
(39 mg/dl) lebih rendah di kalangan
pengguna simvastatin, selisih ini di-
asosiasikan dengan penurunan risiko
stroke sebesar 21% (95%CI 15-27).
Terjadi penurunan risiko stroke
iskemik (444 - 4.3% di kalangan
simvastatin vs. 585 - 5.7% di kalangan
plasebo) sebesar 28% (19-37%), tetapi
tidak berpengaruh pada risiko kejadian
stroke hemoragik (51-0,5% vs. 53-
o.5%); rate ratio 0.95 (0.65-1.40,
p=0.8).
Selain itu simvastatin juga me-
ngurangi kejadian TIA (2.0% vs. 2.4%,
p=0.02) atau yang membutuhkan
endarterektmi karotis/angioplasti (0.4%
vs. 0.8%, p=0.0003). Penurunan risiko
stroke ini baru bermakna di akhir tahun
ke dua (p=0.0004) Di antara pasien
(yang telah terserang) stroke, tidak
terlihat penurunan risiko stroke ber-
ulang, tetapi terdapat penurunan ke-
jadian vaskuler lainnya (infark mio-
kard, insufisiensi koroner) (406 -
24.7% vs. 488 - 29.8%); p=0.001.
Lancet 2004;363:757-67
Suatu penelitian atas 720 anak dengan
croup ringan dilakukan untuk menilai
manfaat kortikosteroid deksametason
0.6 mg/kg.bb terhadap pengurangan
gejala atau kesembuhan; 359 mendapat
deksametason dan 361 tidak (mendapat
plasebo).
brw
VARIASI PENDIDIKAN KEDOK-
TERAN DI AUSTRALIA
Flinders University di Australia
mempunyai beberapa pilihan untuk
pendidikan klinis fakultas kedokteran
mereka.
Sepanjang 1988-2002, 263 maha-
siswa dididik di rumahsakit pendidikan
di Adelaide, 40 mengikuti program
praktek rural 250 km dari Adelaide dn
68 dididik di Royal Darwin Hospital,
3000 km dari Adelaide suatu rumah
sakit tanpa staf akademik selama 1
tahun; Pada akhir tahun ke tiga pen-
didikan klinik, mereka
diuji dengan bahan yang sama.
Ternyata angka rata-ratanya se-
besar 65.2 (SE=0.43) di kelompok
Adelaide, 68.2 (SE=0.83) di kelompok
Darwin dan 69.3 (SE=0.97) di
kelompok rural (p<0.001) berbeda
bermakna.
Analisis selanjutnya setelah me-
nyesuaikan faktor sex, usia, nilai tahun
ke dua dan nilai kohort menhasilkan
bahwa kelompok Darwin menunjukkan
perbaikan nilai di tahun ke tiga yang
lebih besar dibanding kelompok Ade-
laide (rata-rata 3.08; 95%CI 1.25 - 490,
p<0.001) untuk kelompok rural dan
(1.91; 0.47-3.36; p=0.001) untuk ke-
lompok Darwin.
Mereka berkesimpulan bahwa pan-
dangan yang mengunggulkan pendidik-
an di rumahsakit rujukan tidak lagi
beralasan.
BMJ 2004;328:207-9
brw
KORTIKOSTEROID UNTUK
CROUP
Batuk / croup (laringotrakeobron-
kitis akut) sering ditemukan di kalang-
an anak-anak.
Ternyata 7.3% di kalangan deksa-
metason perlu kembali ke dokter, di-
bandingkan dengan 15.3% di kalangan
plasebo (p<0.001).
Selain itu kalangan deksametason
lebih singkat gejalanya (p=0.003),
lebih sedikit yang tidurnya terganggu
(p<0.001) dan orangtuanya lebih tidak
stres (p<0.001).
N.Engl.J.Med.2004;351:1306-13
brw
TERAPI TUMOR PAYUDARA
DINI
Sejumlah 769 wanita dengan
tumor payudara dini (diameter <5 cm)
dibagi dua secara acak untuk diobati
dengan penyinaran + tamoxifen (386)
atau hanya tamoxifen (383): mereka di
follow-up sampai rata-rata (median) 5,6
tahun.
Setelah 5 tahun, angka relaps lokal
adalah 7,7% di klangan tamoxifen dan
0,6% di kalangan tamoxifen + pe-
yinaran (hazard ratio 8.3; 95%CI: 3.3-
21.2; p < 0.001), sedangkan yang bebas
tumor setelah 5 tahun sebesar masing-
masing 84% dan 91% (p=0.004).
Analisis subkelompok terhadap
611 wanita dengan T1 receptor
positive menunjukkan manfaat radio
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
62
ABSTRAK
terapi angka relaps lokal di
setelah 5 tahun 0.4% di kalangan
tamoxifen + radioterapi dan 1.9% di
kalangan hanya tamoxifen (p<0.001).
Angka relaps kelenjar aksila juga
berbeda bermakna setelah 5 tahun
2.5% di kalangan tamoxifen dan 0.5%
di kalangan tamoxifen + radioterapi;
p=0.049, tetapi tidak berbeda dalam hal
relaps jauh (distant relapse) dan
overall survival.
N.Engl.J.Med.2004;351:963-70
brw
ERITROMISIN ORAL DAN
RISIKO KOMPLIKASI JANTUNG
Eritromisin oral diketahui dapat
memperlambat repolarisasi jantung dan
dikaitkan dengan kejadian torsades de
pointes; sedangkan eritromisin dimeta-
bolisme oleh sitrokom P 450 3A
(CYP3A).
Oleh karena itu obat penghambat
CYP3A seperti obat nitroimidazol,
diltiazem, verapamil dan trolean-
domisin dapat memperbesar risiko
terjadinya komplikasi tersebut.
Kaitan penggunaan eritromisin +
obat penghambat CYP3A dengan
kejadian kematian mendadak akibat
sebab kardiak diteliti di Tennessee,
meliputi 1 249 943 person-years dan
1476 kematian mendadak.
Analisis statistik menunjukkan
bahwa risiko kematian mendadak
akibat sebab kardiak dua kali
(incidence rate ratio 2.01; 95%CI:
1.08-3.75; p=0.03) di kalangan peng-
guna eritromisin dibandingkan dengan
kalangan bukan pengguna antibitoika
yang diteliti di atas.
Risiko itu tidak meningkat di
kalangan yang pernah menggunakan
eritromisin (0.89; 0.72-1.09, p=0.26),
di kalangan pengguna amoksisilin
(1.18; 0.59-2.36; p=0.65).
Risiko kematian mendadak karena
sebab kardiak 5 kali (5.35; 1.72-16.64;
p=0.004) di kalangan pengguna
CYP3A inhibitor + eritromisin, se-
dangkan di kalangan pengguna CYP3A
inhibitor + amoksisilin ataupun peng-
guna antibiotik yang pernah meng-
gunakan (tidak bersamaan) CYP3A
inhibitor, tidak meningkat.
Para peneliti menganjurkan agar
ertromisin dan obat CYP3A inhibitor
tidak digunakan bersamaan.
N.Engl.J.Med.2004;351:1089-96
brw
LUMPEKTOMI UNTUK TUMOR
PAYUDARA
Antara Juli 1994-Februari 1999
sejumlah 636 wanita berusia > 70
tahun penderita tumor payudara lokal
(TIN0M0) yang estrogen-receptor-
positive dan telah menjalani lumpek-
tomi, diberi tamoxifen + radiasi (317)
atau tamoxifen saja (319).
Setelah 5 tahun, perbedaan ber-
makna hanya dalam rekurensi lokal/
regional - 1% di kalangan tamoxifen +
radiasi vs. 4% di kalangan tamoxifen,
p,0.001; tidak ada perbe-daan ber-
makna dalam hal tindakan mastektomi
untuk mencegah rekurensi lokal,
metastasis jauh; juga dalam hal overall
survival setelah 5 tahun (87% di
kalangan tamoxifen + radiasi vs. 86%
di kalangan tamoxifen, p=0.94)
Penilaian umum para dokter dan
pasien atas efek kosmetik dan efek
samping lain lebih menyukai cara
tamoxifen saja.
N.Engl.J.Med.2004;351:971-7
Semua pasien tersebut di follow-up
selama 3 bulan; selama masa tersebut
15 pasien TIA terserang stroke 2
fatal, 3 skala Rankinnya meningkat, 10
minor stroke. Di kelompok minor
stroke, 16 terserang stroke 4 fatal dan
2 meningkat disabilitasnya setelah 3
bulan.
brw
PARTUS PASCA OPERASI
CAESAR
Sejumlah 393 wanita dengan ke-
hamilan tunggal, aterm dan presentasi
kepala yang melahirkan dengan tindak-
an pada partus kala dua antara Februari
1999 - Februari 2000 diteliti kembali
setelah 3 tahun melalui kuesioner lewat
pos. Jawaban diperoleh dari 283 (72%)
wanita.
Dari 283 wanita tersebut, 140
hamil lagi dalam 3 tahun ; 91 (32%)
berharap tidak hamil lagi; kebanyakan
karena takut (51% di kalangan partus
pervaginam dengan bantuan alat, 42%
di kalangan operasi caesar).
Dibandingkan dengan yang men-
jalani operasi caesar, wanita yang
melahirkan dengan tindakan lebih
banyak yang menginginkan tetap
partus pervaginam 87% (47/54) vs.
33% (18/54), adjusted odds ratio 15.55
(95%CI 5.52 46.04) dan lebih banyak
yang (akhirnya) melahirkan pervagi-
nam - 78% (42/54) vs. 31% (17/54),
9,50 (3.48-25.97).
Dari 18 wanita pasca operasi caesar
yang melahirkan pervaginam, 17
(94%) dapat menjalaninya.
BMJ 2004;328:311-4
brw
RISIKO STROKE BERULANG
Studi di Oxfordshire, Inggris pada
April 2002 sd. April 2003 bertujuan
untuk menilai risiko stroke setelah TIA
atau minor stroke (skala NIHSS < 3);
selama periode tersebut ada 87 pasien
TIA dan 87 pasien minor stroke yang
datang; 83 pasien lain tidak diikutserta-
kan karena didiagnosis major stroke
(NIHSS >3).
Analisis statistik menghasilkan
risiko stroke setelah TIA sebesar 8%
(95%CI 2.3%-13,2%) dalam 7 hari,
11,5% (4.8%-18.2%) dalam 1 bulan
dan 17.3% (9.3%-25.3%) dalam 3
bulan; sedangkan untuk minor stroke,
risikonya berturut-turut 11.5% (4.8-
11.2%); 15% (7.5-22.5%) dan 18.5%
(10.3%-26.7%).
Data ini menunjukkan bahwa
risiko stroke setelah TIA lebih besar
dari yang diperkirakan.
BMJ 2004; 328:326-8
brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 63