HASIL PENELITIAN
Pengaruh Senam Hamil Terhadap
Persalinan Kala Satu dan Kala Dua
Supriatmaja IPG, Suwardewa TGA
Bagian Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan FK UNUD / RS Sanglah Denpasar
ABSTRAK
Tujuan : Mengetahui apakah senam hamil dapat mengurangi kejadian partus lama
serta memperpendek waktu persalinan kala II.
Bahan dan Cara : Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan sampel dari
Poliklinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan RS Sanglah Denpasar. Dari 172
sampel mulai umur kehamilan 22-28 minggu yang memenuhi kriteria, hanya 106
kasus yang bisa dievaluasi; 53 sampel dengan latihan senam hamil sampai saat
sebelum melahirkan (kasus) dan 53 sampel lainnya tanpa latihan senam hamil
(kontrol). Proses persalinannya diikuti sampai melahirkan. Hasil yang didapat
dibandingkan dan diuji statistik.
Hasil : Insiden partus lama pada kasus yang tidak senam adalah 15,1% dan pada
kasus yang senam adalah 1,9% (p=0,031). Lama persalinan kala II pada kelompok
kasus ( senam hamil ) lebih singkat daripada yang tidak ikut senam hamil (kontrol),
( p = 0,001).
Simpulan : Insiden partus lama pada kelompok senam hamil secara statistik lebih
kecil dibandingkan kelompok yang tidak senam. Lama persalinan kala II wanita yang
melakukan senam hamil secara statistik lebih singkat bila dibandingkan dengan wanita
yang tidak melakukan senam hamil.
Kata Kunci : Hamil normal, senam hamil, partus lama, lama persalinan kala II.
PENDAHULUAN
Angka kematian maternal dan perinatal merupakan indi-
kator keberhasilan pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan
kebidanan dan perinatal. Sampai sekarang angka kematian
maternal dan perinatal di Indonesia masih cukup tinggi. Salah
satu sebab tingginya kematian maternal dan perinatal di Indo-
nesia dan negara-negara sedang berkembang lainnya adalah
akibat partus lama. Hasil AMP (Audit Maternal dan Perinatal)
di RSUD Jombang yang merupakan salah satu rumah sakit
rujukan, selama periode Januari sampai Desember 1994
mendapatkan bahwa penyulit ibu terbanyak adalah partus lama
(16 %), disusul partus kasep (11 %), preeklampsia dan
eklampsia (6,4%). Sedangkan penyulit bayi terbanyak adalah
asfiksia neonatorum, yaitu 57,7%
(1)
.
Ada tiga faktor penyebab persalinan memanjang atau
partus lama yaitu : tenaga, jalan lahir dan janin. Sampai saat ini
yang dapat dimanipulasi/ dikendalikan adalah masalah tenaga
atau power, yaitu ditingkatkan dengan senam hamil
(2)
. Senam
hamil merupakan suatu program latihan bagi ibu hamil sehat
untuk mempersiapkan kondisi fisik ibu dengan menjaga
kondisi otot-otot dan persendian yang berperan dalam proses
persalinan, serta mempersiapkan kondisi psikis ibu terutama
menumbuhkan kepercayaan diri dalam menghadapi persalinan.
Senam hamil memberi manfaat terhadap komponen biomotorik
otot yang dilatih, dan juga dapat meningkatkan daya tahan
kardiorespirasi dengan meningkatkan konsumsi oksigen.
Sampai saat ini masih sedikit penelitian dan informasi
ilmiah tentang senam hamil, sedangkan informasi di media
massa sudah melangkah jauh, sehingga banyak pertanyaan
seperti apakah senam hamil itu boleh dilakukan, pengaruhnya
terhadap proses persalinan, dan bagaimana pelaksanaannya,
yang belum bisa dijawab dengan tuntas. Selama ini di RS
Sanglah Denpasar telah ada kegiatan senam hamil selama
beberapa tahun, tetapi sampai saat ini belum pernah dievaluasi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
48
Atas pertimbangan di atas dilakukan penelitian untuk
mengetahui hubungan senam hamil terhadap proses persalinan
di RS Sanglah Denpasar.
BAHAN DAN CARA KERJA
Rancangan penelitian ini adalah studi eksperimental.
dengan subyek penelitian adalah ibu hamil yang melakukan
perawatan antenatal di RS Sanglah Denpasar dengan kriteria
inklusi adalah kehamilan fisiologis, tunggal, hidup, presentasi
kepala, usia kehamilan 22-28 minggu, ibu sehat jasmani dan
rohani. Subyek penelitian dipilih secara acak; dibagi atas
kelompok perlakuan (diberi program senam hamil sampai saat
akan melahirkan) dan kelompok kontrol (tanpa latihan senam).
Kedua kelompok bersalin di RS Sanglah Denpasar. Proses
persalinannya diikuti, dicatat, dibandingkan serta diuji statistik.
HASIL DAN DISKUSI
Penelitian dikerjakan di Poliklinik dan di Kamar Bersalin
RS Sanglah Denpasar dari Januari 2001 s/d Juli 2003. Selama
kurun waktu tersebut berhasil dikumpulkan 106 ibu hamil yang
memenuhi kriteria inklusi dan bersedia ikut penelitian. Dari
sampel tersebut, 53 orang melakukan senam hamil dan 53
orang lainnya tidak. Uji komparabilitas dengan t test dan chi
square test dilakukan antara kelompok perlakuan dan kelom-
pok kontrol terhadap berbagai variabel yang diperkirakan dapat
mempengaruhi hasil penelitian. Sedangkan terhadap luaran
utama penelitian dilakukan uji t test dan Fisher exact test.
Tabel 1. Karakteristik subyek penelitian.
Klp senam
Klp tdk senam
Uji Statistik *
Variabel
N ± SD
N ± SD
t
p
Rerata Umur 27,02 ± 5,01 26,15 ± 4,89 0.902
0.369
Rerata TB
155,92± 5,38
154,43 ± 5,14
1,459
0,147
Rerata IMT
25,48 ± 4,82
25,29 ± 3,05
0,236
0,814
Rerata UK
39,23 ± 1,25
39,15 ± 1,13
0,326
0,745
Rerata BBL
3200,00 ± 363
3072,17 ± 327
1,904
0,060
Keterangan: * Uji t test
Secara statistik (t test) faktor umur, tinggi badan, dan gizi
tidak berbeda bermakna di antara kedua kelompok. Jadi
pengaruh faktor umur, tinggi badan, dan status gizi terhadap
hasil penelitian dapat diabaikan.
Wanita hamil yang melakukan senam hamil akan meng-
alami onset persalinan lebih awal dibandingkan wanita hamil
yang tidak melakukan senam hamil
(3,4)
. Mereka yang melaku-
kan senam memiliki onset persalinan rata-rata 7 hari lebih awal
dari yang tidak senam
(5)
. Pada penelitian ini, onset persalinan
pada kedua kelompok hampir sama: 39,23 ± 1,25 minggu pada
kelompok senam, 39,15 ± 1,13 minggu pada tidak senam, tidak
berbeda bermakna (p=0,745). Olahraga/senam yang teratur
selama kehamilan dihubungkan dengan melahir-kan tepat pada
waktunya
(6)
. Kennelly dkk (2002), juga me-nemukan bahwa
rata-rata wanita yang melakukan senam selama kehamilannya,
bersalin saat usia kehamilannya 281,8 hari (sekitar 40
minggu)
(7)
. Pada penelitian ini senam hamil tidak mempeng-
aruhi onset persalinan.
Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang melakukan senam pada
penelitian ini lebih berat, yaitu 3200,00 ± 363 g. vs 3072,17 ±
327 g. meskipun tidak berbeda bermakna (p=0,060). Pada
beberapa penelitian didapatkan bahwa berat janin yang lahir
dari wanita hamil yang melakukan senam / olahraga selama
kehamilannya lebih berat dibanding yang tidak melakukan
olahraga; hal ini dapat diterangkan mengingat olahraga akan
meningkatkan aliran darah ke uterus yang merupakan jalan
terpenting bagi suplai nutrien dan metabolisme janin; terdapat
hubungan positif antara berat plasenta dan berat badan lahir
(8,9)
.
Wanita hamil yang melakukan latihan-latihan selama ke-
hamilannya akan memiliki plasenta yang lebih berat akibat
meningkatnya placental blood flow, dengan demikian nutrisi ke
janin akan menjadi lebih baik. Data ini juga didukung oleh
Clapp (1998), yang mendapatkan bahwa olahraga rekreasional
meningkatkan pertumbuhan plasenta pada pertengahan
semester kehamilan dan mengakibatkan janin menjadi lebih
berat
(5).
Faktor pendidikan dan pekerjaan pada penelitian ini secara
statistik tidak bermakna. Pendidikan berhubungan dengan
pengetahuan wanita hamil terhadap kesehatan kehamilannya,
termasuk kunjungan antenatal yang teratur. Wanita yang sering
melakukan kunjungan antenatal selama hamil akan melakukan
hal-hal yang akan memperbaiki dirinya sehingga hasil akhir
kehamilannya diharapkan akan lahir dengan baik dan normal.
Tabel 2. Karakteristik subyek penelitian.
Kelompok senam
Kelompok tidak
senam
Uji
Statistik
Variabel
f %
f % p*
PEND : - SD
3 5,7
4 7,5
- SMP
3
5,7
5
9,4
- SMU
36
67,9
38
71,7
- P T
11
20,8
6
11,3
0,538
PEK : - IRT
27 50,9
21 39,6
- PNS
5
9,4
10
18,9
- Buruh
-
-
1
1,9
- Dagang
1
1,9
1
1,9
- Swasta
20
37,7
20
37,7
0,491
PAR : - Nullipara
28 52,8
27 50,9
- Para
25
47,2
26
49,1
0,846
Keterangan: * Uji Chi square
Pada kedua kelompok, baik nulipara maupun multi para
jumlahnya hampir berimbang; tidak berbeda bermakna. Jadi
ketiga faktor tersebut pendidikan, pekerjaan dan paritas di-
anggap tidak akan mempengaruhi hasil penelitian.
Tabel 3. Hubungan senam hamil dengan partus lama
Kelompok senam
Kelompok
tidak senam
Uji
Statistik
f %
f % p*
Partus lama
1
1,9
8
15,1
Tdk Partus lama
52
98,1
45
84,9
0,031
Total 53
100
53
100
Keterangan: RR = 0,125 95%CI : 0,063 0,247
· Uji Fisher's Exact test
Lamanya proses persalinan dipengaruhi oleh banyak
faktor, salah satunya adalah faktor power. Power di sini adalah
kontraksi uterus dan kekuatan ibu mengejan. Senam hamil
yang dilakukan di Rumah Sakit Sanglah merupakan salah satu
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 49
bentuk olahraga guna membantu wanita hamil memperoleh
power yang baik sehingga memperlancar proses persalinannya.
Latihan senam hamil teratur, jika tidak ada keadaan patologis,
akan dapat menuntun wanita hamil ke arah persalinan yang
fisiologis. Olahraga selama kehamilan akan menguntungkan
baik fisik dan psikologik, mengingat perasaan takut dan cemas
dalam menghadapi kehamilan dan persalinan dapat menimbul-
kan ketegangan jiwa dan fisik, yang dapat menyebabkan kaku-
nya otot-otot persendian sehingga persalinan berjalan tidak
wajar
(10)
. Keuntungan fisik adalah meningkatkan dan memper-
baiki sistem peredaran darah, khususnya ke otot-otot sehingga
meningkatkan kekuatan dan tonus otot;. selain itu juga me-
ningkatkan sirkulasi darah ke uteroplasenta sehingga memper-
baiki pertumbuhan otot-otot uterus dan perkembangan janin
intrauterin. Pertumbuhan otot-otot uterus yang optimal akan
menyebabkan kontraksi uterus lebih optimal dan terkoordinasi
di saat persalinan. Senam atau latihan selama kehamilan mem-
berikan efek positif terhadap pembukaan serviks dan aktivitas
uterus yang terkoodinasi saat persalinan; juga ditemukan secara
bermakna onset persalinan yang lebih awal dan lama persalinan
yang lebih singkat dibandingkan dengan yang tidak melanjut-
kan senam setelah trimester pertama
(4)
. Penemuan ini juga
didukung oleh penelitian lain
(8)
. Artal dkk. (1999) mengutip
penelitian yang mendapatkan hasil bahwa lama persalinan lebih
singkat pada wanita yang melakukan latihan selama kehamilan-
nya dibanding yang tidak melakukan latihan (223 vs. 302
menit)
(11)
. Oetomo, Sofoewan (1998) di Yogyakarta meneliti
100 wanita primigravida; didapatkan bahwa kejadian partus
lama lebih kecil secara bermakna (1,9% vs. 15,1% ; p=0,031)
di kalangan wanita hamil yang melakukan senam hamil; juga
lama persalinan kala II nya juga secara bermakna lebih singkat
daripada yang tidak melakukan senam hamil. Secara statistik
risiko relatifnya 0,125; artinya risiko partus lama pada ibu yang
melakukan senam 0,125 kali dibandingkan dengan ibu yang
tidak melakukan senam hamil.
Tabel 4. Hubungan senam hamil dengan lama persalinan kala II
Uji Statistik
Lama persalinan
(menit)
Kelompok
senam
Kelompok
tidak senam
t
p*
Rerata lama
persalinan kala II
8.96 ± 4.20
12.87 ± 6.71
3,591
0,001
Keterangan: * Uji t test
Latihan-latihan yang dilakukan pada senam hamil tujuan
utamanya adalah agar ibu hamil memperoleh kekuatan dan
tonus otot yang baik, teknik pernafasan yang baik, yang
penting dalam proses persalinan terutama saat persalinan kala
II dalam hal ini adalah power pada persalinan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok ibu yang melaku-
kan senam hamil menjalani proses persalinan kala II lebih
singkat dibandingkan kelompok ibu yang tidak melakukan
senam hamil, (8.96 ± 4.20 berbanding 12.87 ± 6.71 menit,
p=0,001). Dengan demikian senam hamil dapat mempersingkat
persalinan kala II.
Pada sebuah serial penelitian atas 876 pasien hamil di
Pennsylvania dan New York yang melakukan olahraga rek-
reasional, persalinan lebih mudah di kalangan yang melakukan
latihan secara teratur dibandingkan dengan yang hanya latihan
sedikit atau yang tidak melakukan latihan sama sekali, juga
dijumpai penurunan risiko persalinan terlalu cepat atau terlalu
lama. Di samping itu juga didapatkan penurunan risiko per-
salinan preterm secara umum
(11).
Tabel 5. Hubungan senam hamil terhadap nilai APGAR menit pertama
Nilai
Kelompok senam
Klp tidak senam
Uji Statistik
APGAR f (%) f (%) p*
4 6
-
-
3
5,7
7 10
53
100
50
94,3
0,243
Total 53
100 53 100
Keterangan: * Uji Fisher's Exact test
Didapatkan 3 kasus (5,7%) asfiksia sedang di kelompok
tidak senam, sedangkan di kelompok senam semuanya lahir
dengan vigorous baby. (Tabel 5) . Tidak dijumpai asfiksia
berat pada kedua kelompok. Perbedaan nilai APGAR pada
kedua kelompok ini tidak bermakna ( p=0,243 ).
Tidak terdapat peningkatan aktivitas uterus wanita hamil
selama mengikuti kegiatan fisik seperti olahraga sehingga
aman untuk perkembangan bayinya (Viella dkk. 1985).
Kennelly dkk. (2002) menemukan bahwa semua wanita
yang melakukan senam hamil menghasilkan kelahiran hidup,
sebagian besar bayi (98%) nilai apgarnya normal dan tidak ada
bayi yang memerlukan perawatan khusus
(7)
. Clapp (2000)
mengatakan tidak ada data bahwa latihan teratur selama
kehamilan dihubungkan dengan kematian janin dalam rahim;
sebaliknya bayi yang dilahirkan dapat memberikan toleransi
yang baik terhadap persalinan, stress saat bersalin dan kehamil-
an lewat waktu, lahir vigorous serta periode neonatus dilalui
dengan baik
(4)
.
Beberapa literatur mengatakan bahwa wanita hamil yang
melakukan senam hamil akan mengalami risiko persalinan
tindakan lebih kecil dari yang tidak senam. Wanita hamil yang
secara teratur melakukan lari atau aerobik selama kehamilan-
nya sedikit yang memperoleh tindakan medis (seperti peng-
gunaan oksitosin, persalinan dengan forsep, dan seksio sesaria)
dan lebih dari 85% persalinannya pervaginam tanpa komplikasi
serta lama persalinannya lebih singkat
(4)
. Pada penelitian ini
hanya 1 kasus tidak senam yang memerlukan tindakan
(p=1,000). Senam hamil yang dilakukan wanita hamil sebenar-
nya lebih tertuju untuk melatih otot-otot yang berperan dalam
persalinan serta teknik-teknik mengejan. Otot yang terlatih
akan memiliki kekuatan dan tonus yang baik, dan dipadu
dengan teknik mengejan yang baik, wanita hamil akan me-
lewati proses melahirkan lebih singkat; dengan demikian
bayinya akan lebih singkat tertahan di panggul bawah dan
risiko bantuan alat seperti vakum dan forsep lebih kecil.
KESIMPULAN
· Insiden partus lama pada kelompok perlakuan (senam
hamil) lebih kecil secara statistik dibandingkan kelompok
kontrol, (tidak senam hamil) (p=0,031).
· Lama persalinan kala II kelompok perlakuan (senam hamil)
lebih singkat secara statistik dibandingkan kelompok
kontrol (tidak melakukan senam hamil.) (p = 0,001).
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
50
SARAN
·
Mengingat olahraga senam hamil cukup bermanfaat,
seyogyanya program senam hamil ini dianjurkan kepada setiap
wanita hamil normal, atau menjadi bagian dari perawatan
antenatal di poliklinik kebidanan RS Sanglah Denpasar.
Sebaiknya kegiatan senam hamil dilakukan lebih sering sehing-
ga sampel yang tidak bisa ikut di hari tertentu bisa ikut di hari
lainnya.
·
Untuk wanita hamil yang tidak bisa mengikuti program
senam hamil pada jam kerja, perlu dibuatkan buku panduan
senam hamil, sehingga dapat dilakukan di rumah sesuai waktu
yang diinginkan.
·
Pencatatan jumlah senam hamil yang diisi langsung oleh
sampel mengandung kelemahan dalam hal kepercayaan.
KEPUSTAKAAN
1. Suparmin H., Effendy R., Hendaryono H. Peningkatan Mutu Pelayanan
Melalui Audit Maternal dan Perinatal di RSUD Jombang. Maj. Obstetri &
Ginekologi. 1997;.5: 23-30.
2. Primadi, Hafiah. Senam Hamil. Bandung. Bagian Obstetri dan Gineko-
ogi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. 1985.
3. Artal R.. Exercise. In : Complication of pregnancy. Cherry, Merkatz, (eds)
4
th
ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2000. pp. 49-61.
4. Clapp JF, Kim H, Burciu B. Beginning regular exercise in early
pregnancy: Effect on fetoplacental growth. Am J Obstet Gynecol. 2000;
183: 1484-8.
5. Clapp JF. Exercise during pregnancy. Clinics in Sports Medicine 2000; 19:
273-86.
6. Reilly K. Update in maternity care : Nutrition, exercise, work, and sex in
pregnancy. Primary care; Clinics in Office Practice 2000; 27:105-15.
7. Kennelly MM, Geary M, McCaffrey N. Exercise-related change in
umbilical and uterine artery waveforms as assessed by Doppler ultrasound
scans. Am J Obstet Gynecol. 2002; 187: 202-11.
8. Kristin R, Kardel MS, Kase T. Training in pregnant women : Effects on
development and birth. Am J Obstet Gynecol. 1998; 178:.280-6.
9. Kim H, Clapp JF, Burciu B. Continuing regular exercise during pregnancy:
Effect of exercise volume on fetoplacental growth. Am J Obstet Gynecol.
2002;186:142-7.
10. Mochtar R. Senam Hamil. Dalam : Sinopsis Obstetri. EGC Bandung, ed.2,
1992. hal. 215-28.
11. Artal R, Sherman C. Exercise during pregnancy safe and beneficial for
most. The physician and sport medicine 1999;.27: 1-9.
12. Kennelly MM, Geary M, McCaffrey N. Fetal heart rate response to
strenuous maternal exercise: not a predictor of fetal distress. Am J Obstet
Gynecol. 2002;187: 811-6.
13. Artal R, O'Toole M. Guidelines of the American College of Obstetricians
and Gynecologists for exercise during pregnancy and the postpartum
period. Br. J. Sports Med. 2003;.37:.6-12.
14. Bell RJ, Palma SM, Lumley JM. The effect of vigorous exercise during
pregnancy on birth-weight. Aust NZ J Obstet Gynecol. 1995; 35:46-53
15. Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF et al. Normal labor and
delivery. In : Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF et al (eds.)
Williams Obstetrics, 20
th
ed. Appleton & Lange, 1997. pp.261-317.
16. Campbell MK, Mottola MF. Recreational exercise and occupational
activity during pregnancy and birth weight: a case-control study. Am J
Obstet Gynecol. 2001; 184: 403-8
17. Dale E, Mullinax KM. Adaptations and consideration of exercise during
pregnancy. In : Wilder E, ed. Obstetric and gynecologic physical therapy.
Churchill Livingstone. New York, 1998. pp. 131-54.
18. Konkler CJ. Principle of Exercise for the Obstetric Patient. In : Kisner C,
Colby LA, eds. Therapeutic Exercise Foundation and Technic. 3
rd
ed. FA
Davis, Philadelphia, 1998. pp. 547-69.
19. Luke B, Avni M, Min L. Work and pregnancy: The role of fatigue and the
second shift on antenatal morbidity. Am J Obstet Gynecol. 1999;181:
1172-9
20. McKenna P. Pregnancy and exercise. American Family Physician. 2003.
p.68.
21. Putra HL, Hastuti. Senam Hamil. Surabaya. UPF Rehabilitasi Medik
RSUD Dr. Sutomo, 1992.
22. Suwiyoga K. Buku Ajar Obstetri dan Ginekologi Sosial. Universitas
Udayana, 2002. hal.147-54.
23. Valerie C. Exercise and pregnancy : choice, concern, and recommendation.
In : Wilder E, ed. Obstetric and gynecologic physical therapy. Churchill
Livingstone. New York, 1988. pp. 175-98.
24. Woodrow Y. Relaxation techniques in prenatal education. In : Wilder E,
ed. bstetric and gynecologic physical therapy. Churchill Livingstone, New
York, 1988. pp. 131-54.
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 51
Document Outline