TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Malaria pada Kehamilan
Eddy Suparman
Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/
Rumah Sakit Umum Pusat Manado
Infeksi malaria sampai saat ini masih merupakan problem
klinik di negara-negara berkembang terutama negara yang
beriklim tropis, termasuk Indonesia. Di Indonesia penyakit
malaria masih merupakan penyakit infeksi utama di kawasan
Indonesia bagian Timur. Infeksi ini dapat menyerang semua
masyarakat, termasuk golongan yang paling rentan seperti
wanita hamil.
1
Infeksi malaria pada kehamilan sangat merugikan baik
bagi ibu dan janin yang dikandungnya, karena dapat
meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin.
Pada ibu menyebabkan anemi, malaria serebral, edema paru,
gagal ginjal bahkan dapat menyebabkan kematian. Pada janin
menyebabkan abortus, persalinan prematur, berat badan lahir
rendah, dan kematian janin. Infeksi malaria pada wanita hamil
sangat mudah terjadi karena adanya perubahan sistim imunitas
ibu selama kehamilan, baik imunitas seluler maupun imunitas
humoral, serta diduga juga akibat peningkatan horman kortisol
pada wanita selama kehamilan.
1,2
Data Steketee dkk tentang pengaruh buruk malaria pada
kehamilan di daerah endemis malaria (Sub-Sahara Afrika)
tahun 1985 sampai 2000 cukup tinggi. Disebutkan risiko anemi
3-15%, berat badan lahir rendah 13-70% dan kematian neonatal
3-8%.
6,7
Kejadian infeksi malaria di daerah Sulawesi Utara sampai
saat ini masih cukup tinggi, yaitu sekitar 9% dari kasus rawat
inap di rumah sakit. Berdasarkan hal tersebut, perlu dipahami
bahwa wanita hamil membutuhkan perhatian ketat bila ter-
jangkit infeksi malaria selama periode kehamilan, persalinan
maupun nifas.
1,2,3
IMMUNOPATOLOGI
Respon Imun Terhadap Infeksi Malaria Selama Kehamilan
Respon imun spesifik terdiri dari imunitas seluler oleh
limfosit T dan imunitas humoral oleh limfosit B. Limfosit T
dibedakan menjadi limfosit T helper (CD4+) dan sitotoksik
(CD8+) sedangkan berdasarkan sitokin yang dihasilkannya
dibedakan menjadi subset Th-1 (menghasilkan IFN-
dan TNF-
) dan subset Th-2 (menghasilkan IL-4, IL-5, IL-6, IL10).
Sitokin tersebut berperan mengaktifkan imunitas humoral.
CD4+ berfungsi sebagai regulator dengan membantu produksi
antibodi dan aktivasi fagosit lain sedangkan CD8+ berperan
sebagai efektor langsung untuk fagositosis parasit dan meng-
hambat perkembangan parasit dengan menghasilkan IFN-
.
1,3
Epitop-epitop antigen parasit akan berikatan dengan
reseptor limfosit B yang berperan sebagai sel penyaji antigen
kepada sel limfosit T dalam hal ini CD4+. Selanjutnya sel T
akan berdiferensiasi menjadi sel Th-1 dan Th-2. Sel Th-2 akan
menghasilkan IL-4 dan IL-5 yang memacu pembentukan Ig
oleh limfosit B. Ig tersebut juga meningkatkan kemampuan
fagositosis makrofag. Sel Th-1 menghasilkan IFN-
dan TNF-
yang mengaktifkan komponen imunitas seluler seperti
makrofag dan monosit serta sel NK.
2,5
Wanita hamil memiliki risiko terserang malaria falciparum
lebih sering dan lebih berat dibandingkan wanita tidak hamil.
Konsentrasi eritrosit yang terinfeksi parasit banyak ditemukan
di plasenta sehingga diduga respon imun terhadap parasit di
bagian tersebut mengalami supresi. Hal tersebut berhubungan
dengan supresi sistim imun baik humoral maupun seluler
selama kehamilan sehubungan dengan keberadaan fetus
sebagai "benda asing" di dalam tubuh ibu.
2,5,8
Supresi sistim imun selama kehamilan berhubungan
dengan keadaan hormonal. Konsentrasi hormon progesteron
yang meningkat selama kehamilan berefek menghambat
aktifasi limfosit T terhadap stimulasi antigen. Selain itu efek
imunosupresi kortisol juga berperan dalam menghambat respon
imun.
2
Peranan Sitokin Pada Infeksi Malaria
Antigen-antigen parasit merupakan pemicu pelepasan zat-
zat tertentu dari sel-sel pertahanan tubuh yang disebut sitokin.
Sitokin dihasilkan oleh makrofag/monosit dan limfosit T.
Sitokin yang dihasilkan oleh makrofag adalah TNF, IL-1 dan
IL-6 sedangkan limfosit T menghasilkan TNF-
, IFN-, IL-4,
IL-8, IL-10 dan IL-12
2,5,8
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 19
Gambar 2. Mekanisme aksi TNF
(Warren KS. Immunology and Molecular Biology of Parasitic Infections. 3th
ed. Boston, Blackwell Scientific Publ. 1993:307)
Sitokin yang diduga banyak berperan pada mekanisme
patologi dari malaria adalah TNF (tumor necrosis factor).
TNF-
menginduksi terjadinya perubahan pada netrofil yaitu
pelepasan enzim lisosomal, ekspresi reseptor permukaan
seperti reseptor Fc dan integrin, adhesi dan migrasi kemotaktik.
Selanjutnya terjadi peningkatan daya adheren sel netrofil
terhadap berbagai substrat dan sel sehingga daya bunuh netrofil
terhadap parasit meningkat. Selain itu TNF-
juga memacu
pembentukan sitokin lain seperti Il-1, IL-6, IL-12, IFN-
dan
meningkatkan sintesis prostaglandin. TNF-
juga meningkat-
kan ekspresi molekul adhesi seperti ICAM1 dan CD36 pada
sel-sel endotel kapiler sehingga meningkatkan sitoadheren
eritrosit yang terinfeksi parasit. Peningkatan sitoadheren
tersebut meningkatkan risiko malaria serebral. IFN-
berfungsi
memacu pembentukan TNF-
dan juga meningkatkan daya
bunuh netrofil. IL-1 bekerja sinergis dengan TNF-
sedangkan
IL-6 memacu produksi Ig oleh sel limfosit B dan memacu
proliferasi dan deferensiasi sel limfosit T. Selain berperan pada
mekanisme patologi malaria, sitokin diduga juga berperan
menyebabkan gangguan dalam kehamilan. Pada wanita hamil
yang menderita malaria terdapat kenaikan TNF-
, IL-1 dan IL-
8 yang sangat nyata pada jaringan plasenta dibandingkan
wanita hamil yang tidak menderita malaria. Sitokin-sitokin
tersebut terutama dihasilkan oleh makrofag hemozoin yang
terdapat di plasenta.
2,5,6
Telah dijelaskan bahwa kadar TNF-
yang tinggi dapat
meningkatkan sitoadheren eritrosit yang terinfeksi parasit
terhadap sel-sel endotel kapiler. Kadar TNF-
plasenta yang
tinggi akan memacu proses penempelan eritrosit berparasit
pada kapiler plasenta dan selanjutnya akan menimbulkan
gangguan aliran darah plasenta dan akhirnya gangguan nutrisi
fetus. Bila proses berlanjut dapat menyebabkan retardasi
pertumbuhan fetus sehingga bayi yang dilahirkan memiliki
berat badan rendah. Selain itu peningkatan sintesis prostag-
landin seiring dengan peningkatan konsentrasi TNF-
plasenta
diduga dapat menyebabkan kelahiran prematur.
5,8
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa selain kenaikan
TNF-
, IL-1 dan IL-8, selama kehamilan juga didapatkan
peningkatan IL-6, Il-2 dan IL-4.
2
Gambar 3. Peran sitokin dan makrofag pada malaria.
(Molecular immunological considerations in malaria vaccine development)
HISTOPATOLOGI
Pada wanita hamil yang terinfeksi malaria, eritrosit
berparasit dijumpai di plasenta sisi maternal dari sirkulasi tetapi
tidak di sisi fetal, kecuali pada penyakit plasenta. Pada infeksi
aktif, plasenta terlihat hitam atau abu-abu dan sinusoid padat
dengan eritrosit terinfeksi. Secara histologis ditandai oleh sel
eritrosit berparasit dan pigmen malaria dalam ruang intervilli
plasenta, monosit mengandung pigmen, infiltrasi mononuklear,
simpul sinsitial (syncitial knotting), nekrosis fibrinoid, kerusak-
an trofoblas dan penebalan membrana basalis trofoblas. Terjadi
nekrosis sinsitiotrofoblas, kehilangan mikrovilli dan penebalan
membrana basalis trofoblas akan menyebabkan aliran darah ke
janin berkurang dan akan terjadi gangguan nutrisi pada janin.
Lesi bermakna yang ditemukan adalah penebalan membrana
basalis trofoblas, pengurusan mikrovilli fokal menahun. Bila
villi plasenta dan sinus venosum mengalami kongesti dan terisi
eritrosit berparasit dan makrofag, maka aliran darah plasenta
akan berkurang dan ini dapat menyebabkan abortus, lahir
prematur, lahir mati ataupun berat badan lahir rendah.
2,6,11,12
GEJALA KLINIS
Gejala utama infeksi malaria adalah demam yang diduga
berhubungan dengan proses skizogoni (pecahnya merozoit/
skizon) dan terbentuknya sitokin dan atau toksin lainnya. Pada
daerah hiperendemik sering ditemukan penderita dengan
parasitemia tanpa gejala demam. Gambaran karakteristik dari
malaria ialah demam periodik, anemi dan splenomegali. Sering
terdapat gejala prodromal seperti malaise, sakit kepala, nyeri
pada tulang/otot, anoreksi dan diare ringan.
1,3,7,9
Namun se-
benarnya efek klinik malaria pada ibu hamil lebih tergantung
pada tingkat kekebalan ibu hamil terhadap penyakit itu,
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
20
sedangkan kekebalan terhadap malaria lebih banyak ditentukan
dari tingkat transmisi malaria tempat wanita hamil tinggal/
berasal, yang dibagi menjadi 2 golongan besar :
1. Stable transmission / transmisi stabil, atau endemik (contoh
: Afrika Sub-Sahara)
- Orang-orang di daerah ini terus-menerus terpapar malaria
karena sering menerima gigitan nyamuk infektif setiap
bulannya
- Kekebalan terhadap malaria terbentuk secara signifikan
2. Unstable transmission / transmisi tidak stabil, epidemik
atau non-endemik (contoh : Asia Tenggara dan Amerika
Selatan)
Orang-orang di daerah ini jarang terpapar malaria dan
hanya menerima rata-rata < 1 gigitan nyamuk infektif/tahun.
Wanita hamil (semi-imun) di daerah transmisi stabil/
endemik tinggi akan mengalami:
- Peningkatan parasite rate (pada primigravida di Afrika
parasite rate pada wanita hamil meningkat 30-40% di-
bandingkan wanita tidak hamil)
- Peningkatan kepadatan (densitas) parasitemi perifer
- Menyebabkan efek klinis lebih sedikit, kecuali efek anemi
maternal sebagai komplikasi utama yang sering terjadi pada
primigravida. Anemi tersebut dapat memburuk sehingga
menyebabkan akibat serius bagi ibu dan janin.
Sebaliknya di daerah tidak stabil/non-endemik/endemik
rendah yang sebagian besar populasinya merupakan orang-
orang non-imun terhadap malaria, kehamilan akan meningkat-
kan risiko penyakit maternal berat, kematian janin, kelahiran
prematur dan kematian perinatal. Ibu hamil yang menderita
malaria berat di daerah ini memiliki risiko fatal lebih dari 10
kali dibandingkan ibu tidak hamil yang menderita malaria berat
di daerah yang sama.
5,9
ETIOLOGI
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
parasit Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh manusia,
ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina (WHO 1981).
Empat spesies Plasmodium penyebab malaria pada manusia
adalah :
1. Plasmodium falciparum (P. falciparum)
2. Plasmodium vivax (P. vivax)
3. Plasmodium ovale (P. ovale)
4. Plasmodium malariae (P. malariae)
Jenis Plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia
adalah P. falciparum dan P.vivax atau campuran keduanya,
sedangkan P. malariae hanya ditemukan di NusaTenggara
Timur dan P. ovale ditemukan di Papua.
9,10
DIAGNOSIS MALARIA PADA KEHAMILAN
Malaria pada kehamilan dipastikan dengan ditemukannya
parasit malaria di dalam :
- Darah maternal
- Darah plasenta / melalui biopsi.
Gambaran klinik malaria pada wanita non-imun (di daerah
non-endemik) bervariasi dari :
- Malaria ringan tanpa komplikasi (uncomplicated malaria)
dengan demam tinggi, sampai
- Malaria berat (complicated malaria) dengan risiko tinggi
pada ibu dan janin (maternal mortality rate 20-50 % dan sering
fatal bagi janin).
Sedangkan gambaran klinik malaria pada wanita di daerah
endemik sering tidak jelas, mereka biasanya memiliki
kekebalan yang semi-imun, sehingga :
- Tidak menimbulkan gejala, misal : demam
- Tidak dapat didiagnosis klinik
DIAGNOSIS MALARIA
DIAGNOSIS KLINIS (Tanpa Pemeriksaan Laboratorium)
1. Malaria klinis ringan/tanpa komplikasi
2. Malaria klinis berat/dengan komplikasi
Malaria ringan/tanpa komplikasi
Pada anamnesis :
- Harus dicurigai malaria pada seseorang yang berasal dari
daerah endemis malaria dengan demam akut dalam segala
bentuk, dengan/tanpa gejala-gejala lain
- Adanya riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria
dalam 2 minggu terakhir
- Riwayat tinggal di daerah malaria
- Riwayat pernah mendapat pengobatan malaria
Pada pemeriksaan fisik :
- Suhu > 37,5
o
C
- Dapat ditemukan pembesaran limpa
- Dapat ditemukan anemi
- Gejala klasik malaria khas terdiri dari 3 stadia yang
berurutan, yaitu menggigil (15 60 menit), demam (2-6
jam), berkeringat (2-4 jam)
Di daerah endemis malaria, pada penderita yang telah
mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala klasik di atas
tidak timbul berurutan, bahkan tidak semua gejala tersebut
dapat ditemukan. Selain gejala klasik di atas, dapat juga
disertai gejala lain/gejala khas setempat, seperti lemas, sakit
kepala, mialgia, sakit perut, mual/muntah,dan diare.
10,11
Malaria berat
Malaria berat/severe malaria/complicated malaria adalah
bentuk malaria falsiparum serius dan berbahaya, yang
memerlukan penanganan segera dan intensif. Oleh karena itu
pengenalan tanda-tanda dan gejala-gejala malaria berat sangat
penting bagi unit pelayanan kesehatan untuk menurunkan
mortalitas malaria. Beberapa penyakit penting yang mirip
dengan malaria berat adalah meningitis, ensefalitis, septikemi,
demam tifoid, infeksi viral, dll. Hal ini menyebabkan pe-
meriksaan laboratorium sangat dibutuhkan untuk menambah
kekuatan diagnosis.
WHO mendefinisikan Malaria berat sebagai ditemukannya
P. falciparum bentuk aseksual dengan satu atau beberapa
komplikasi/manifestasi klinik berat, yaitu :
1. Gangguan kesadaran sampai koma (malaria serebral)
2. Anemi berat (Hb < 5 g%, Ht < 15 %)
3. Hipoglikemi (kadar gula darah < 40 mg%)
4. Udem paru / ARDS
5. Kolaps sirkulasi, syok, hipotensi (sistolik < 70 mmHg pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 21
dewasa dan < 50 mmHg pada anak-anak), algid malaria
dan septikemia.
6. Gagal ginjal akut (ARF)
7. Jaundice (bilirubin > 3 mg%)
8. Kejang umum berulang ( > 3 kali/24 jam)
9. Asidosis
metabolik
10. Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam-basa.
11. Perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan darah.
12. Hemoglobinuri
13. Kelemahan yang sangat (severe prostration)
14. Hiperparasitemi
15. Hiperpireksi (suhu > 40
o
C)
Malaria falsiparum tanpa komplikasi (uncomplicated)
dapat menjadi berat (complicated) jika tidak diobati secara dini
dan semestinya.
1,9,11
DIAGNOSIS LABORATORIUM (dengan Pemeriksaan
Sediaan Darah)
Pemeriksaan mikroskopik masih merupakan yang ter-
penting pada penyakit malaria karena selain dapat meng-
identifikasi jenis plasmodium secara tepat sekaligus juga dapat
menghitung jumlah parasit sehingga derajat parasitemi dapat
diketahui.
Pemeriksaan dengan mikroskop:
- Pewarnaan Giemsa pada sediaan apusan darah untuk
melihat parasit
- Pewarnaan Acridin Orange untuk melihat eritrosit yang
terinfeksi
- Pemeriksaan Fluoresensi Quantitative Buffy Coat (QBC)
Sedangkan pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis
di puskesmas/lapangan/rumah sakit digunakan untuk menentu-
kan nilai ambang parasit dan mengetahui kepadatan parasit
(terutama penderita rawat inap) pada sediaan darah.
Metode diagnostik yang lain adalah deteksi antigen HRP II
dari parasit dengan metode Dipstick test, selain itu dapat pula
dilakukan uji immunoserologis yang lain, seperti:
- Tera radio immunologik (RIA)
- Tera immuno enzimatik (ELISA)
Adapun pemeriksaan genetika dan biomolekuler yang dapat
dilakukan adalah dengan mendeteksi DNA parasit, dalam hal
ini urutan nukleotida parasit yang spesifik, melalui pemeriksa-
an Reaksi Rantai Polimerase (PCR).
Di daerah yang tidak mempunyai sarana laboratorium dan
tenaga mikroskopis, diagnosis malaria ditegakkan hanya
berdasarkan pemeriksaan klinis (anamnesis dan pemeriksaan
fisik) tanpa pemeriksaan laboratorium.
11
PENGARUH MALARIA TERHADAP IBU
1. Anemi
Infeksi malaria akan menyebabkan lisis sel darah merah
yang mengandung parasit sehingga akan menyebabkan anemi.
Jenis anemi yang ditemukan adalah hemolitik normokrom.
Pada infeksi P. falciparum dapat terjadi anemi berat karena
semua umur eritrosit dapat diserang. Eritrosit berparasit mau-
pun tidak berparasit mengalami hemolisis karena fragilitas
osmotik meningkat. Selain itu juga dapat disebabkan pening-
katan autohemolisis baik pada eritrosit berparasit maupun tidak
berparasit sehingga masa hidup eritrosit menjadi lebih singkat
dan anemi lebih cepat terjadi. Pada infeksi P. vivax tidak terjadi
destruksi darah yang berat karena hanya retikulosit yang
diserang. Anemi berat pada infeksi P. vivax kronik menunjuk-
kan adanya penyebab immunopatologik.
Malaria pada kehamilan dapat menyebabkan anemi berat
terutama di daerah endemis dan merupakan penyebab morta-
litas penting. Anemi hemolitik dan megaloblastik pada ke-
hamilan mungkin akibat sebab nutrisional atau parasit terutama
sekali pada wanita primipara.
2,4,8,
2. Sistim
sirkulasi
Bila terjadi blokade kapiler oleh eritrosit berparasit maka
akan terjadi anoksi jaringan terutama di otak. Kerusakan
endotel kapiler sering terjadi pada malaria falciparum yang
berat karena terjadi peningkatan permeabilitas cairan, protein
dan diapedesis eritrosit. Kegagalan lebih lanjut aliran darah ke
jaringan dan organ disebabkan vasokonstriksi arteri kecil dan
dilatasi kapiler, hal ini akan memperberat keadaan anoksi. Pada
infeksi P. falciparum sering dijumpai hipotensi ortostatik.
2,5,
3. Edema
pulmonum
Pada infeksi P. falciparum, pneumonia merupakan kompli-
kasi yang sering dan umumnya akibat aspirasi atau bakteremia
yang menyebar dari tempat infeksi lain. Gangguan perfusi
organ akan meningkatan permeabilitas kapiler sehingga terjadi
edema interstitial. Hal ini akan menyebabkan disfungsi
mikrosirkulasi paru.
Gambaran makroskopik paru berupa reaksi edematik,
berwarna merah tua dan konsistensi keras dengan bercak
perdarahan. Gambaran mikroskopik tergantung derajat para-
sitemi pada saat meninggal. Terdapat gambaran hemozoin
dalam makrofag pada septa alveoli. Alveoli menunjukkan
gambaran hemoragik disertai penebalan septa alveoli dan
penekanan dinding alveoli serta infiltrasi sel radang.
Edema paru dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu
peningkatan permeabilitas vaskuler sekunder terhadap emboli
dan DIC, disfungsi berat mikrosirkulasi, fenomena alergi,
terapi cairan yang berlebihan bersamaan dengan gangguan
fungsi kapiler alveoli, kehamilan, malaria serebral, tingkat
parasitemi yang tinggi, hipotensi, asidosis dan uremia.
2,5
4. Hipoglikemi
Pada wanita hamil umumnya terjadi perubahan meta-
bolisme karbohidrat yang menyebabkan kecenderungan
hipoglikemi terutama saat trimester terakhir. Selain itu, sel
darah merah yang terinfeksi memerlukan glukosa 75 kali lebih
banyak daripada sel darah normal. Di samping faktor tersebut,
hipoglikemi dapat juga terjadi pada penderita malaria yang
diberi kina secara intravena. Hipoglikemi karena kebutuhan
metabolik parasit yang meningkat menyebabkan habisnya
cadangan glikogen hati. Pada orang dewasa hipoglikemi sering
berhubungan dengan pengobatan kina, sedangkan pada anak-
anak sering disebabkan penyakit itu sendiri. Hipoglikemi sering
terjadi pada wanita hamil khususnya pada primipara. Gejala
hipoglikemi juga dapat terjadi karena sekresi adrenalin yang
berlebihan dan disfungsi susunan saraf pusat. Mortalitas
hipoglikemi pada malaria berat di Minahasa adalah 45%, lebih
baik daripada Irian Jaya sebesar 75%.
1,2,3,5
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
22
5. Infeksi plasenta
Pada penelitian terhadap plasenta wanita hamil yang
terinfeksi berat oleh falciparum ditemukan banyak timbunan
eritrosit yang terinfeksi parasit dan monosit yang berisi
pigmen di daerah intervilli. Juga ditemukan nekrosis sinsisial
dan proliferasi sel-sel sitotrofoblas. Adanya kelainan plasenta
dengan penimbunan pigmen tetapi tidak ditemukan parasit
menunjukkan adanya infeksi yang sudah sembuh atau
inaktif.
1,9,10
6. Gangguan
elektrolit
Rasio natrium/kalium di eritrosit dan otot meningkat dan
pada beberapa kasus terjadi peningkatan kalium plasma pada
saat lisis berat. Rasio natrium/kalium urin sering terbalik.
Hiponatremi sering ditemukan pada penderita sakit berat dan
karena ginjal terlibat dapat terjadi peningkatan serum kreatinin
dan BUN.
2,5
7. Malaria
serebral
Malaria serebral merupakan ensefalopati simetrik pada
infeksi P. falciparum dan memiliki mortalitas 20-50%.
Serangan sangat mendadak walaupun biasanya didahului oleh
episode demam malaria. Kematian dapat terjadi dalam be-
berapa jam. Akan tetapi banyak dari mereka yang selamat
mengalami penyembuhan sempurna dalam beberapa hari. Pada
anak-anak sekitar 10% terjadi sekuele neurologik. Sejumlah
mekanisme patofisiologi ditemukan antara lain obstruksi
mekanis pembuluh darah serebral akibat berkurangnya ke-
mampuan deformabilitas eritrosit berparasit atau akibat adhesi
eritrosit berparasit pada endotel vaskuler yang akan
melepaskan faktor-faktor toksik dan akhirnya menyebabkan
permeabilitas vaskuler meningkat, sawar darah otak rusak,
edema serebral dan menginduksi respon radang pada dan di
sekitar pembuluh darah serebral.
2,5
Malaria serebral sering dijumpai pada daerah endemik
seperti Jawa Tengah (Jepara), Sulawesi Utara, Maluku dan
Irian Jaya. Di Sulawesi Utara mortalitasnya 30,5% sedangkan
di RSUP Manado 50%.
1,3
PENGARUH MALARIA PADA JANIN
1. Kematian janin dalam kandungan
Kematian janin intrauterin dapat terjadi akibat hiperpireksi,
anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta yang
menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun akibat infeksi trans-
plasental.
1,2,3,5,7
2. Abortus
Abortus pada usia kehamilan trimester I lebih sering
terjadi karena demam tinggi sedangkan abortus pada usia
trimester II disebabkan oleh anemia berat.
1,2,3,5,7
3. Persalinan prematur
Umumnya terjadi sewaktu atau tidak lama setelah serangan
malaria. Beberapa hal yang menyebabkan persalinan prematur
adalah febris, dehidrasi, asidosis atau infeksi plasenta.
1,2,3,5,7
4. Berat badan lahir rendah
Penderita malaria biasanya menderita anemi sehingga akan
menyebabkan gangguan sirkulasi nutrisi pada janin dan
berakibat terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam kandungan.
1,2,3,5,7
5. Malaria plasenta
Plasenta mempunyai fungsi sebagai barier protektif dari
berbagai kelainan yang terdapat dalam darah ibu sehingga
parasit malaria akan ditemukan di plasenta bagian maternal dan
hanya dapat masuk ke sirkulasi janin bila terdapat kerusakan
plasenta misalnya pada persalinan sehingga terjadi malaria
kongenital. Prevalensi malaria plasenta biasanya ditemukan
lebih tinggi daripada malaria pada sediaan darah tepi wanita
hamil, hal ini mungkin karena plasenta merupakan tempat
parasit bermultiplikasi. Diagnosis malaria plasenta ditegakkan
dengan menemukan parasit malaria dalam sel darah merah atau
pigmen malaria dalam monosit pada sediaan darah yang
diambil dari plasenta bagian maternal atau darah tali pusat.
Infeksi P. falciparum sering mengakibatkan anemi maternal,
abortus, lahir mati, partus prematur, BBLR serta kematian
maternal. Gambaran histologik infeksi aktif berupa plasenta
yang bewarna hitam/abu-abu, sinusoid padat dengan eritrosit
terinfeksi, eritrosit terinfeksi pada sisi maternal dan tidak pada
sisi fetal kecuali pada beberapa penyakit plasenta. Tampak
pigmen hemozoin dalam ruang intervilli dan makrofag disertai
infiltrasi sel radang. Dapat terjadi simpul sinsitial disertai
nekrosis fibrinoid dan kerusakan serta penebalan membrana
basalis trofoblas.
6. Malaria kongenital
Gejala klinik malaria kongenital antara lain iritabilitas,
tidak mau menyusu, demam, pembesaran hati dan limpa
(hepatosplenomegali) dan anemia tanpa retikulositosis dan
tanpa ikterus.
Malaria kongenital dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:
a. True Congenital Malaria (acquired during pregnancy)
Pada malaria kongenital ini sudah terjadi kerusakan
plasenta sebelum bayi dilahirkan. Parasit malaria ditemukan
pada darah perifer bayi dalam 48 jam setelah lahir dan
gejalanya ditemukan pada saat lahir atau 1-2 hari setelah lahir.
b. False Congenital Malaria (acquired during labor)
Malaria kongenital ini paling banyak dilaporkan dan
terjadi karena pelepasan plasenta diikuti transmisi parasit
malaria ke janin. Gejala-gejalanya muncul 3-5 minggu setelah
bayi lahir.
1,2,3,5,7
PENANGANAN MALARIA PADA KEHAMILAN
Pengontrolan Malaria
9
Pengontrolan malaria dalam kehamilan tergantung derajat
transmisi, berdasarkan gabungan hal-hal di bawah ini :
1. Diagnosis dan pengobatan malaria ringan dan anemia
ringan sampai moderat
2. Kemoprofilaksis
3. Penatalaksanaan komplikasi malaria berat, termasuk anemia
berat
4. Pendidikan kesehatan dan kunjungan yang teratur untuk
ante natal care (ANC).
ANC teratur adalah dasar keberhasilan penatalaksanaan
malaria dalam kehamilan, yang bertujuan untuk memberikan
pendidikan kesehatan termasuk penyuluhan tentang malaria
dan dampaknya ( malaria serebral, anemi, hipoglikemi, edema
paru, abortus, pertumbuhan janin terhambat, prematuritas,
kematian janin dalam rahim, dll) pada kehamilan di semua lini
kesehatan (Posyandu, Pustu, Puskesmas dan Rumah Sakit).
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 23
- Memantau kesehatan ibu dan janin, serta kemajuan
kehamilan
- Diagnosis dan pengobatan yang tepat (tepat waktu)
- Memberikan ibu suplai obat untuk kemoprofilaksis
5. Perlindungan pribadi untuk mencegah kontak dengan
vektor, misal : pemakaian kelambu.
6. Pemeriksaan hemoglobin dan parasitologi malaria setiap
bulan.
7. Pemberian tablet besi dan asam folat serta imunisasi TT
lengkap.
8. Pada daerah non resisten klorokuin :
- Ibu hamil non-imun diberi Klorokuin 2 tablet/minggu dari
pertama datang/setelah sakit sampai masa nifas
- Ibu hamil semi imun diberi sulfadoksin-pirimetamin (SP)
pada trimester II dan III awal
9. Pada daerah resisten klorokuin semua ibu hamil baik non
imun maupun semi imun diberi SP pada trimester II dan III
awal
Penanganan Malaria di Puskesmas dan Rumah Sakit
1. Kriteria rawat jalan
a. Gejala klinis malaria tanpa komplikasi
b. Bukan malaria berat
c. Parasitemia < 5%
2. Kritera rawat tinggal
a. Gejala klinis malaria dengan komplikasi
b. Malaria berat
c. Parasitemia > 5%
2. Kriteria rujukan
Semua penderita yang memenuhi kriteria rawat tinggal
(malaria berat) tetapi fasilitas/kemampuan perawatan setempat
tidak mencukupi, perlu dirujuk ke rumah sakit yang mem-
punyai fasilitas dan tenaga dokter spesialis.
1
Pencegahan dan Pengobatan Malaria dalam Kehamilan
1. Pada semua ibu hamil dengan malaria, pada kunjungan
ANC pertama diberi pengobatan dosis terapeutik anti
malaria (Tabel 1)
1,5,9,10,11,12
Tabel 1. Pengobatan dosis terapeutik OAM dalam kehamilan
Obat
Anti malaria
Dosis oral
Keamanan
Klorokuin 25
mg
base/kg selama 3 hari
(10 mg/kg hari I-II, 5 mg/kg hari III)
Aman untuk semua
trimester
Amodiakuin 25
mg
base/kg selama 3 hari
Tidak direkomendasi
untuk trimester I
Sulfadoksin-
pirimetamin
Sulfadoksin: 25 mg/kg
dosis
Pirimetamin: 1 mg/Kg
tunggal
Tidak direkomendasi
untuk trimester I
Meflokuin 15-20
mg
base/kg (dosis tunggal)
Tidak direkomendasi
untuk trimester I
Kinin
10 mg garam/kg tiap 8 jam selama 5 -
7 hari
Aman untuk semua
trimester
Artesunat
Atau:
Artemether
10-12 mg/kg per hari selama 2-3 hari
Tidak direkomendasi
untuk trimester I
2. Pencegahan anemi dimulai pada saat ini :
- Suplemen besi : 300 mg sulfas ferrosus (60 mg elemen
besi)/hari, dan 1 mg folic acid / hari.
- Untuk pengobatan anemia moderat (Hb 7-10 g/dl) diberikan
dosis besi 2x lipat.
- Periksa Hb setiap kali kontrol.
Kebijakan pengobatan malaria (P.falciparum dan P.vivax)
di Indonesia hanya menganjurkan pemakaian klorokuin dosis
terapeutik untuk pengobatan dalam kehamilan, sedangkan kinin
untuk pengobatan malaria berat.
Di daerah P.falciparum resisten klorokuin, dapat diberikan
pengobatan alternatif yaitu :
- Sulfadoksin- pirimetamin (SP) 3 tablet dosis tunggal
- Garam Kina 10 mg/kg.bb per oral 3 kali selama 7 hari
(minimun 3 hari + SP 3 tablet dosis tunggal hari pertama)
-
Meflokuin dapat dipakai jika sudah resisten dengan Kina
atau SP, namun penggunaannya pada kehamilan muda harus
benar-benar dipertimbangkan, karena data penggunaannya pada
trimester I masih terbatas.
Jika terjadi resistensi ganda pilihan terapi adalah sbb:
- Garam Kina 10 mg/kg.bb per oral 3 kali selama 7 hari
DITAMBAH Klindamisin 300 mg 4 kali sehari selama 5 hari.
(dapat dipakai di daerah resisten kina).
- ATAU Artesunat 4 mg/kg.bb oral dibagi beberapa dosis
hari I, disambung 2 mg/kg.bb oral dosis tunggal selama 6 hari.
(dapat dipakai pada trimester II dan III, dan jika tidak ada
alternatif lain).
5,9,10,14
Untuk daerah Minahasa/Sulawesi Utara klorokuin masih
sangat efektif, demikian juga P.vivax umumnya masih sensitif
terhadap klorokuin.
11
Kemoprofilaksis Malaria dalam Kehamilan
WHO merekomendasikan agar memberikan suatu dosis
pengobatan (dosis terapeutik) anti malaria untuk semua wanita
hamil di daerah endemik malaria pada kunjungan ANC yang
pertama, kemudian diikuti kemoprofilaksis teratur. Saat ini
kebijakan pengobatan malaria di Indonesia menghendaki hanya
memakai klorokuin untuk kemoprofilaksis pada kehamilan.
3,9
Ibu hamil dengan status non-imun sebaiknya menghindari
daerah endemis malaria.
13
Profilaksis mulai diberikan 1 sampai 2 minggu sebelum
mengunjungi daerah endemis, dengan klorokuin (300 mg basa)
diberikan seminggu sekali dan dilanjutkan sampai 4 minggu
setelah kembali ke daerah non endemis (Bradley dan Warhurst,
1995 ).
4,10,13
Beberapa studi memperlihatkan bahwa kemoprofilaksis
menurunkan anemia maternal dan meningkatkan berat badan
bayi yang dilahirkan.
7,9
Perlindungan dari gigitan nyamuk:
1, 9
Kontak antara ibu dengan vektor dapat dicegah dengan :
- Memakai kelambu yang telah dicelup insektisida (misal :
permethrin)
- Pemakaian celana panjang dan kemeja lengan panjang
- Pemakaian penolak nyamuk (repellent)
- Pemakaian obat nyamuk (baik semprot, bakar dan obat
nyamuk listrik)
- Pemakaian kawat nyamuk pada pintu-pintu dan jendela-
jendela
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
24
Pengobatan Malaria Berat dalam Kehamilan
Pengobatan malaria berat memerlukan kecepatan dan
ketepatan diagnosis sedini mungkin. Pada setiap penderita
malaria berat, tindakan/pengobatan yang perlu dilakukan
adalah:
5, 9,11,13
1. Tindakan umum / simptomatik
2. Pemberian obat anti malaria
3. Pengobatan komplikasi
Penatalaksanaan umum
Perbaiki keadaan umum penderita (pemberian cairan dan
perawatan umum). Pemberian cairan adalah faktor yang sangat
penting dalam penanganan malaria berat. Bila berlebihan akan
menyebabkan edema paru, sebaliknya bila kurang akan menye-
babkan nekrosis tubular akut yang berakibat gagal ginjal akut.
Monitoring vital sign antara lain : keadaan umum,
kesadaran, pernafasan, tekanan darah, suhu, dan nadi setiap 30
menit (selalu dicatat untuk mengetahui perkembangannya),
kontraksi uterus dan bunyi jantung janin juga harus dipantau.
Jaga jalan nafas untuk menghindari terjadinya asfiksi, bila
perlu beri oksigen.
Pemberian antipiretik untuk mencegah hipertermi: para-
setamol 10 mg/kg.bb/kali, dan dapat dilakukan kompres.
Jika kejang, beri antikonvulsan : diazepam 5-10 mg iv.
(secara perlahan selama 2 menit) ulang 15 menit kemudian jika
masih kejang; maksimum 100 mg/24 jam. Bila tidak tersedia
diazepam, dapat dipakai fenobarbital 100 mg im/kali (dewasa)
diberikan 2 kali sehari.
Untuk konfirmasi diagnosis, lakukan pemeriksaan SD
tebal. Penilaian sesuai kriteria diagnostik mikroskopik.
Apabila tidak tersedia fasilitas yang memadai, persiapkan
penderita untuk dirujuk ke tingkat pelayanan kesehatan lebih
tinggi yang menyediakan perawatan intensif.
Penanganan Malaria pada Kehamilan
Persalinan penderita malaria yang positif pada peme-
riksaan apusan darah tebal/DDR (+), memerlukan pengawasan
yang lebih cermat, sebagai berikut:
Kala I :
- Wanita hamil dengan infeksi malaria berat harus dirawat di
unit perawatan intensif (bila mungkin).
- Pemantauan ketat kontraksi uterus dan denyut jantung janin
(monitoring CTG) sehingga dapat diketahui adanya gawat janin
lebih awal.
- Bila ditemukan tanda gawat janin pada persalinan,
merupakan indikasi seksio sesarea.
Perawatan umum pada kala I:
- Demam
Bila suhu rektal >39
o
C dikompres dan diberi antipiretik
(parasetamol 3-4 x 500 mg/hari)
- Anemi
Dapat diberi transfusi PRC (packed red cell)
- Hipoglikemi
Diberi 50 ml glukosa 50% bolus intravena dan dilanjutkan
dengan infus glukosa 5% atau 10%
- Edema paru
Penderita diletakkan pada posisi setengah duduk, oksigenasi
konsentrasi tinggi serta diberi furosemid 40 mg intravena. Bila
perlu dilakukan ventilasi mekanik dengan tekanan positif akhir
respirasi (PEEP)
- Malaria serebral
Penderita harus dirawat dengan cermat, keseimbangan
cairan dan tingkat kesadaran diperhatikan. Dapat diberi natrium
fenobarbital 10-15 mg/kgbb. im. dosis tunggal dan bila kejang
dapat diberi diazepam 0,15 mg/kgbb. iv. (maksimum 10 mg)
Pada kala II :
Jika tidak ada kontraindikasi, persalinan dapat pervaginam,
indikasi persalinan dengan ekstraksi vakum/ forseps tergantung
keadaan obstetrik saat itu.
Kemoterapi/Pemberian Obat Anti Malaria
Penderita malaria berat memerlukan obat anti malaria yang
mempunyai daya bunuh terhadap parasit secara cepat dan kuat,
serta bertahan dalam aliran darah dalam waktu yang cukup
lama. Oleh karena itu sebaiknya diberikan parenteral, sehingga
mempunyai efek langsung dalam darah.
Obat anti malaria yang direkomendasi :
Kina (Kina HCl 25%, 1 ampul 500 mg/2 ml).
- Aman digunakan pada semua trimester kehamilan
- Tidak menyebabkan abortus dalam dosis terapi
- Pemberian IV untuk usia kehamilan > 30 minggu tidak
menyebabkan kontraksi uterus (menginduksi partus) atau
menyebabkan fetal distress.
- Efek samping yang utama : hipoglikemi
Cara pemberian :
Cara I :
Karena kematian dapat terjadi dalam 6 jam pertama, maka
diperlukan kadar ideal dalam darah secara cepat, yaitu :
- Loading dose/ dosis awal: Kina HCl 25 % (perdrip) dosis
20 mg/kg.bb dilarutkan dalam 500 ml dektrosa 5 % atau
dextrose in saline diberikan dalam 4 jam pertama dengan
kecepatan konstan 2 ml/menit, 4 jam berikutnya istirahat (infus
saja); kemudian 8 mg/kg.bb tiap 8 jam (maintenance dose).
- Loading dose digunakan bila penderita belum pernah
mendapatkan pengobatan kina atau meflokuin dalam 12 jam
sebelumnya atau penderita yang riwayat pengobatan
sebelumnya diketahui dengan jelas.
- Berikan kemoterapi oral segera bila penderita sudah bisa
minum, Kina intravena diganti dengan Kina tablet / per oral
dengan dosis 10 mg/kg.bb/kali, 3 kali sehari (dengan total dosis
7 hari dihitung sejak pemberian loading dose).
Cara II :
- Kina HCL 25 % (perdrip), dosis 10mg/kg.bb atau 1 ampul
(isi 2 ml = 500 mg) dilarutkan dalam 500 ml dekstrosa 5 %
atau dextrose in saline diberikan selama 8 jam dengan
kecepatan konstan 2 ml/menit, diulang dengan cairan yang
sama setiap 8 jam sampai penderita dapat minum obat.
- Bila penderita sudah bisa minum, Kina intravena diganti
dengan Kina tablet/per oral dengan dosis 10 mg/kg.bb/kali, 3
kali sehari (total dosis 7 hari dihitung sejak pemberian infus
perdrip yang pertama).
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 25
Tabel 2. Pemberian kina mulai hari 0
(
Loading dose Mulai maintenance dose I Mulai maintenance dose II
4 Jam I ) 8 jam setelah loading dose 16 jam setelah loading dose
selama 4 jam
selama 4 jam, dst
Jam ke 0 4
8 12
16 20 24
Catatan :
- Kina tidak boleh diberikan secara bolus intravena, karena
dapat menyebabkan kadar dalam plasma sangat tinggi dengan
akibat toksisitas pada jantung dan kematian.
- Bila karena berbagai alasan Kina tidak dapat diberikan
melalui infus, maka dapat diberikan im. dengan dosis yang
sama di paha bagian depan masing-masing 1/2 dosis di setiap
paha; untuk pemakaian im., kina diencerkan dengan normal
saline untuk mendapatkan konsentrasi 60-100 mg/ml.
- Bila tidak ada perbaikan klinis setelah pemberian 48 jam
kina parenteral, maka dosis maintenance kina diturunkan 1/3 -
1/2 nya (menjadi 5-7 mg Kina HCl) dan lakukan pemeriksaan
parasitologi serta evaluasi klinik.
- Total dosis kina yang diperlukan :
Hari 0 : 30 mg/kgbb
Hari I : 30 mg/kgbb
Hari II dan berikutnya : 15-20 mg/kgbb.
- Pemberian kina dapat diikuti dengan hipoglikemi,
karenanya perlu diperiksa gula darah /12 jam.
- Artesunate dan artemether sudah pernah dipakai dengan
aman dan berhasil pada beberapa kasus ibu hamil.
14
Mengingat keterbatasan sarana maupun tenaga ahli di
puskesmas/RS, maka kasus malaria berat yang memerlukan
perawatan/pengobatan dengan fasilitas tertentu (misal:
hemo/peritoneal dialisis, transfusi tukar, dll) yang tidak tersedia
sebaiknya dirujuk ke RS tingkat yang lebih tinggi (fasilitas
lengkap).
Pengobatan Komplikasi
9,11,13
1. Malaria serebral
Malaria serebral didefinisikan sebagai unarousable coma
(penilaian dengan Glasgow Coma Scale) pada malaria falsi-
parum, dengan manifestasi perubahan sensorium yaitu perilaku
abnormal dari mulai yang paling ringan sampai koma yang
dalam. Gangguan kesadaran pada malaria serebral diduga
karena adanya gangguan metabolisme di otak.
Prinsip penatalaksanaan :
Umumnya sama seperti pada malaria berat; di samping
pemberian OAM beberapa hal yang penting yang perlu
diperhatikan adalah :
Terapi suportif :
a. Perawatan pasien tidak sadar , meliputi :
- Pasang IVFD, kateter urethra dengan memperhatikan
kaidah/antisepsis.
- Jaga keseimbangan cairan dengan mencatat intake dan
output cairan secara akurat. Bila fungsi ginjal baik, adanya
dehidrasi atau overhidrasi dapat juga diketahui dari volume
urin. Normal volume urin : 1 ml/menit.
- Bila volume urin < 30 ml/jam, mungkin terjadi dehidrasi
(periksa juga tanda-tanda lain), tambahkan intake cairan
melalui iv-line. Bila volume urin > 90 ml/jam, kurangi intake
cairan untuk mencegah overload yang mengakibatkan udem
paru.
- Mata ditutup dengan pelindung mata untuk menghindari
ulkus kornea yang dapat terjadi akibat tidak adanya refleks
mengedip pada pasien tidak sadar.
- Menjaga kebersihan mulut untuk mencegah infeksi akibat
kebersihan rongga mulut yang rendah pada pasien tidak sadar.
- Ubah/balik posisi lateral secara teratur untuk mencegah luka
dekubitus dan pneumonia hipostatik.
- Hal-hal yang perlu dipantau:
o Tensi, nadi, suhu dan pernafasan setiap 30 menit.
o Derajat kesadaran dengan modifikasi Glasgow Coma Scale
(GCS) setiap 6 jam.
o Hitung parasit setiap 12-24 jam.
o Hb dan Ht setiap hari.
o Gula darah setiap 4 jam.
o Parameter lain sesuai indikasi (misal: ureum dan kreatinin
darah pada komplikasi gagal ginjal).
b. Pengobatan simptomatik
2. Anemia berat
Tabel 3. Beberapa definisi anemia dalam kehamilan
Jenis Anemia
Hemoglobin
(g/dl)
Volume Packed
cell/Ht (%)
Anemia ringan/mild anaemia
Anemia sedang/moderate anaemia
Anemia berat/severe anaemia
Anemia sangat berat
10 11
7 10
< 7
< 4
33 37
24 33
< 24
< 13
Tabel 4. Indikasi pemberian transfusi darah
Hb (g/dl)
Ht (%)
Implikasi untuk transfusi
1)
< 7
20
Transfusi sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan
kondisi klinis dan umur kehamilan.
< 5
15
Indikasi kuat untuk transfusi : berisiko tinggi
gagal jantung
Bila ada indikasi transfusi darah (tabel 4), berikan peng-
batan anti malaria yang direkomendasikan dan lakukan:
a. Transfusi PRC secara perlahan-lahan (slow transfusion)
akan mencegah overhidrasi; untuk itu:
- Berikan furosemid 1-2 ampul IV selama transfusi
- Volume transfusi dimasukkan kedalam catatan balans
cairan sebagai intake.
3. Hipoglikemi
Hipoglikemi (kadar gula darah < 40 mg%) sering terjadi
pada ibu hamil baik sebelum maupun sesudah terapi Kina
akibat meningkatnya kebutuhan metabolik saat demam, hipoksi
jaringan. Penyebab lain diduga karena terjadi peningkatan
uptake glukosa oleh parasit malaria.
Tindakan :
- 50100 ml glukosa 40 % IV secara bolus
- Infus glukosa 10 % perlahan-lahan untuk maintenance/
mencegah hipoglikemi berulang.
- Monitoring teratur kadar gula darah setiap 4-6 jam.
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
26
4. Edema Paru
Edema paru merupakan komplikasi fatal yang sering
menyebabkan kematian oleh karenanya pada malaria berat
sebaiknya dilakukan penanganan untuk mencegah terjadinya
edema paru. Penderita mendadak batuk, sesak, napas cepat dan
dangkal, pada auskultasi terdengan ronki penuh di semua
bagian paru. Foto torak nampak infiltrasi yang luas diseluruh
lapangan paru.
Bila ada tanda udema paru akut penderita segera dirujuk,
dan sebelumnya dilakukan tindakan sebagai berikut :
a. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi untuk perbaiki
hipoksia
b. Pembatasan pemberian cairan
c. Bila disertai anemi, berikan transfusi PRC.
d. Untuk mengurangi beban jantung kanan dapat dilakukan:
- Posisi pasien ½ duduk.
- Pemberian furosemid 40 mg i.v bila perlu diulang 1 jam
kemudian atau dosis ditingkatkan sampai 200 mg (maksimum)
sambil memantau volume urin dan tanda-tanda vital.
- Venaseksi, keluarkan darah pasien ke dalam kantong
transfusi/donor sebanyak 250-500 ml; akan sangat membantu
mengurangi sesak. Apabila kondisi pasien sudah normal, darah
tersebut dapat dikembalikan ke tubuh pasien.
Klorokuin merupakan obat pilihan yang paling aman
diberikan pada ibu hamil (aman dalam 3 trimester kehamilan)
dengan dosis 25 mg/kgbb. selama 3 hari berturut-turut atau
pada hari I-II sebanyak 600 mg dan pada hari III sebanyak 300
mg. Bila ditemukan resistensi klorokuin, dapat diberikan kina
dengan dosis 3 x 400 mg selama 7 hari.
Wanita hamil dengan malaria berat diberi infus klorokuin
dengan dosis 10 mg/kgbb. dalam cairan isotonik dengan
kecepatan konstan selama 8 jam dan dilanjutkan dengan 15
mg/kgbb. selama 24 jam berikutnya atau dengan klorokuin
dosis 5 mg/kgbb. diberikan dengan kecepatan konstan selama 6
jam dan diulangi setiap 6 jam dengan total 5 dosis. Alternatif
lain dapat diberi kina dihidroklorida 20 mg/kgbb. melalui infus
selama 4 jam dalam dekstrosa 5% dan dilanjutkan dengan dosis
rumatan 10 mg/kgbb. setiap 8-12 jam sampai penderita
menerima obat secara oral.
9,14
PENCEGAHAN
Setiap wanita yang tinggal di daerah endemis atau akan
bepergian ke daerah endemis sebaiknya diberi kemoprofilaksis
meskipun tidak memberikan perlindungan absolut terhadap
infeksi malaria; namun dapat menurunkan parasitemia dan
mencegah komplikasi malaria berat dan meningkatkan berat
badan bayi.
Klorokuin merupakan obat yang paling aman bagi wanita
hamil dengan dosis 300 mg basa (2 tablet) diberikan setiap
minggu. Bagi wanita hamil yang akan bepergian ke daerah
endemis malaria pemberian dimulai 1 minggu sebelum ber-
ngkat, selama berada di daerah endemis, sampai 4 minggu
setelah keluar dari daerah tersebut.
2,9,14,15
Upaya lain untuk pencegahan infeksi malaria adalah
dengan memutuskan rantai penularan pada host, agen ataupun
lingkungan dengan cara :
- mengurangi kontak/gigitan nyamuk Anopheles dengan
menggunakan kelambu, obat nyamuk
- membunuh nyamuk dewasa
- membunuh jentik nyamuk
- meningkatkan daya tahan tubuh melalui vaksinasi
KESIMPULAN
Malaria pada kehamilan merupakan masalah yang serius
mengingat pengaruhnya terhadap ibu dan janin, yang bila tidak
ditanggulangi secara cepat dan tepat dapat meningkatkan angka
kematian ibu dan neonatus. Masalah diagnosis malaria menjadi
hambatan karena fasilitas laboratorium yang kurang memadai
terutama di puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan ke-
sehatan, maka penting untuk meningkatkan kemampuan diag-
nosis klinis dan mengenali komplikasi diikuti dengan peng-
obatan yang baik dan akurat.
Penanggulangan malaria dalam kehamilan dapat dimulai
secara dini melalui kunjungan ANC dengan memberikan
penyuluhan/pendidikan kesehatan tentang pencegahan malaria
dan pengobatan profilaksis bagi yang tinggal di daerah
endemis.
Klorokuin masih merupakan obat terpilih untuk peng-
batan malaria dalam kehamilan dan Kina untuk pengobatan
malaria berat.
Diperlukan sistem pelayanan kesehatan berjenjang (rujuk-
an) dari puskesmas ke rumah sakit dengan fasilitas yang me-
madai untuk menangani kasus-kasus malaria berat dengan
komplikasi.
KEPUSTAKAAN
1.
Tambajong EH. Patobiologi Malaria. Dalam:Harijanto PN, ed. Malaria:
Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis & Penanganan. Edisi I.
Jakarta : EGC, 2000; 54-108.
2. Quinn TC. Parasitic Disease During Pregnancy. Sciarra JJ, Eschenbach
DA, Depp R, eds. In: Gynecology and Obstetrics. Vol. 3. Philadephia : JB
Lippincott Co., 1992; 1-6.
3. Nugroho A, Tumewu MG. Siklus Hidup Plasmodium Malaria. Dalam:
Harijanto PN, ed. Malaria: Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis
& Penanganan. Edisi I. Jakarta : EGC, 2000; 38-52.
4. Naing T, Win H, New YY. Falciparum Malaria and Pregnancy :
Relationship and Treatment Response. Southeast Asian J. Trop. Med.
Pub. Hlth. 1988;19(2).
5.
Nugroho A, Harijanto PN, Datau EA. Imunologi pada Malaria. Dalam:
Harijanto PN, ed. Malaria: Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis
& Penanganan. Edisi I. Jakarta : EGC, 2000; 129-47.
6. Moormann AM, Sullivan AD, Rochford RA, Chensue SW, Bock PJ,
Nyirenda T et al. Malaria and Pregnancy : Placental Cytokine Expression
and Its Relationship to Intrauterine Growth Retardation. JID 1999; 1987-
92.
7.
Day NPJ, Hien TT, Schollaardt T, Loe PP, Chuong LV, Chau TTH, et al.
The Prognostic and Pathophysiologic Role of Pro- and Antiinflamatory
Cytokines in Severe Malaria. JID 1999; 1288-96.
8.
Brown H, Turner G, Rogerson S, Tembo M, Mwenechanya J, Molyneux
M, et al. Cytokine Expression in the Brain in Human Cerebral Malaria.
JID 1999; 1746-2.
9. Kristanto D, Harijanto PN. Vaksin Malaria. Dalam: Harijanto PN, ed.
Malaria: Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis & Penanganan.
Edisi I. Jakarta : EGC, 2000; 237-47.
10. Seder RA, Gurunathan S. DNA Vaccines-Designer Vaccine for the 21
st
Century. N Engl J Med 1999; 277-8.
11. Tjitra E. Obat Anti-Malaria. Dalam: Harijanto PN, ed. Malaria:
Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis & Penanganan. Edisi I.
Jakarta : EGC, 2000; 197-205.
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 27
12. Sherman I. Malaria: Parasite Biology, Pathogenesis and Protection.
Washington DC, ASM Press,1988.
13. Schneider J, Hughes J, Henderson A, eds. Infectious Diseases,
Prophylaxis & Chemotherapy. Victoria : Appleton & Lange, 1990; 216-
30.
14. Rumopa DM. Manfaat klorokuin sebagai kemoprofilaksis terhadap
malaria pada ibu-ibu hamil dan pengaruh malaria terhadap hasil
kehamilan di daerah endemis malaria di Kabupaten Minahasa. Bag/SMF
Obsgyn FK Unsrat/RSUP Manado.
15. Warouw NN. Infeksi Malaria pada Kehamilan. Dalam : Kongres Nasional
Perinasia ke 7 & Simposium Internasional. Semarang 18-21 Nopember
2000.
16. Penatalaksanaan malaria berat di Rumah Sakit dan Puskesmas. Kanwil
DepKes Propinsi Kal-Sel Diklat P2M , 1999; 37-40.
17. Pernoll LM. Medical and Surgical Complications during Pregnancy. In
Benson & Pernoll's Handbook of Obstetrics & Gynecology 10
th
ed..2001:
481-2.
18. Wiknjosastro H, Saifuddin B, Rachimdadhi T. Ilmu Kebidanan Ed. 3.
1997;568-72
19. Sciarra JJ. Watkins TJ. Parasitic Diseases during Pregnancy in Maternal
Fetal Medicine Vol 3. 1997.
20. Saifuddin AB dkk. Demam dalam Kehamilan dan dalam Persalinan.
Dalam Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal , 2002; M87-9
21. Steketee RW et al. The Burden df Malaria in Pregnancy in Malaria-
Endemic Areas. Am J Trop. Med Hyg. 2001;28-35.
22. Guyatt HL,Snow RW. The Epidemiology and Burden of Plasmodium
Falciparum-Related Anemia among Pregnant Women in Sub-Saharan
Africa. Am J Trop Med Hyg. 2001; 36-44.
23. Murphy SC,Breman JG. Gaps in the Childhood Malaria burden in Africa:
Cerebral Malaria, Neurological Sequelae, Anemia, Respiratory Distress,
Hypoglycemia, and Complications of Pregnancy. Am J Trop Med Hyg.
2001; 57-67.
24. Draft Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria Pada Kehamilan. Subdit
Malaria Ditjen PPM & PL DepKes RI, 2002.
25. Sukarban S. Zunilda SB. Obat Malaria. Dalam: Farmakologi dan Terapi
Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI, Jakarta 1995.
26. S Chandra WB dkk. Kehamilan dengan Infeksi Plasmodium Vivax.
Makalah Ilmiah PIT XIII POGI Malang, 2002.
27. Final Draft. Assessment on the Safety of Artemisinin Compounds in
Pregnancy. UNDP/World Bank/WHO Special Programme for Research
and Training in Tropical Diseases, 2002.
Sumbangan Naskah
Redaksi Cermin Dunia Kedokteran sangat mengharapkan sumbangan naskah dari
para Sejawat untuk dapat diterbitkan, sehingga dengan demikian dapat membantu
memajukan pengetahuan dan ilmu kedokteran di Indonesia. Untuk tahun 2005, kami
berencana untuk mengajukan beberapa topik, antara lain :
1. Paru
2. Kardiologi
3. Psikiatri
4. Informatika Kedokteran
Meskipun demikian, kami tetap terbuka terhadap artikel ilmiah yang lain dan kami
mengharapkan kerjasama yang lebih erat di masa mendatang,
Redaksi Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
28
Document Outline