Artikel
HASIL PENELITIAN
Hubungan Serum Feritin
Ibu Hamil Trimester ke Tiga dengan
Bayi Berat Badan Lahir Rendah
Najoan Nan Warouw*, Sugiarto Wiriadinata**
*Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
**Bagian Pediatri Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
Manado
ABSTRAK
Latar Belakang: Suatu cara untuk menilai persediaan besi adalah pengukuran
kadar feritin serum. Sampai saat ini, angka anemia defisiensi besi pada kelompok
ekonomi rendah yang berhubungan dengan status besi ibu hamil trimester ke tiga dan
status besi bayi yang dilahirkan terutama BBLR belum banyak dilaporkan.
Tujuan: Mengetahui gambaran status besi ibu hamil trimester ke tiga yang
melahirkan BBLR dengan memeriksa kadar hemoglobin dan feritin serum; dan
hubungan status sosial ekonomi dengan kadar feritin serum ibu hamil trimester ke tiga
serta hubungan suplementasi besi dengan kadar feritin serum ibu hamil.
Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan desain penelitian
cross sectional.
Cara Kerja: Subyek adalah semua kasus ibu hamil yang melahirkan bayi BBLR
(< 2500 gram). Kadar Hb diperiksa memakai metode sianmethemoglobin. Feritin
serum diperiksa dengan metode immunochemiluminescence (ICMA), menggunakan
alat IMMULITE 2000 (di laboratorium Prodia).
Hasil: Rata-rata kadar hemoglobin BBLR dalam penelitian ini adalah 17,137 (SB
2,083) g/dL dengan kadar feritin serum rata-rata 338,30 (SB 271,58) ng/mL. Koefisien
korelasi 0,538 dengan nilai kemaknaan 0,002 (p < 0,01). Menurut hasil analisis jalur
didapatkan: hubungan status besi (feritin serum) ibu hamil dengan status besi (feritin
serum) BBLR bermakna (p < 0,01); antara status sosial-ekonomi dengan status besi
(feritin serum) ibu hamil bermakna (p < 0,05); antara suplementasi besi dengan status
besi (feritin serum) ibu hamil bermakna (p < 0,01).
Kesimpulan: Ada hubungan antara kadar feritin serum ibu hamil trimester ke tiga
dengan kadar feritin serum BBLR yang dilahirkan; ada hubungan antara status sosial-
ekonomi ibu hamil dengan kadar feritin serum BBLR yang dilahirkan serta ada
hubungan antara suplementasi besi dengan status besi (feritin serum) ibu hamil.
Kata kunci : feritin, ibu hamil, BBLR
PENDAHULUAN
Sampai saat ini bayi berat lahir rendah (BBLR) masih
merupakan salah satu masalah kesehatan penting di negara-
negara berkembang. Penelitian Villar dkk
2
menunjukkan bahwa
angka kejadian BBLR di negara berkembang 4 kali lebih besar
dibandingkan di negara maju. Di Indonesia angka kejadian
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 5
BBLR bervariasi; dari hasil studi multicenter di 7 daerah pada
tahun 1990 diperoleh angka kejadian BBLR antara 2,117,2%,
3
sedangkan dari Survai Kesehatan Nasional didapatkan angka
14,0%.
4
Di RSUP Manado sendiri antara tahun 1995-1999
dilaporkan angka kejadian BBLR berkisar 8,5 - 9,5%.
5,6
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui
faktor-faktor risiko BBLR, yang secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi faktor ibu, janin dan plasenta. Di
antara faktor-faktor risiko tersebut, masalah anemia defisiensi
besi (ADB) selama kehamilan merupakan faktor risiko yang
sangat menarik untuk dikaji, khususnya di negara berkembang
seperti Indonesia karena prevalensinya cukup tinggi.
7
Beberapa
penulis telah mengindikasikan bahwa ADB selama kehamilan
berhubungan dengan kelahiran prematur, BBLR, dan pe-
ningkatan kematian perinatal.
8,9
Hubungan antara status besi ibu hamil dengan status besi
janin/bayi telah menarik perhatian dan masih diperdebatkan.
Terdapat asumsi bahwa status besi janin maupun bayi baru
lahir sangat tergantung pada status besi ibu selama hamil.
13-15
Walaupun demikian sebagian besar peneliti berpendapat bahwa
penurunan cadangan besi pada ibu hamil tidak berpengaruh
terhadap cadangan besi tubuh janin atau bayi. Hal ini
dilaporkan di negara-negara seperti India,
16
Cina,
17
Jepang,
18
dan Irlandia.
19
Janin dan plasenta diduga mampu mengambil
besi dengan cara menguras simpanan besi ibu, bahkan pada
ibu-ibu yang sudah mengalami deplesi besi.
20
Sebaliknya Singla dkk
14
pada penelitiannya mendapatkan
hubungan langsung antara status besi ibu dengan status besi tali
pusat bayi, makin berat derajat anemia ibu makin rendah kadar
hemoglobin dan besi serum bayinya. Singla dkk berkesimpulan
bahwa status besi ibu bertanggung jawab terhadap cadangan
besi bayi yang dilahirkannya.
14
Pada penelitian DeBenaze
dkk
21
di Perancis menemukan hubungan yang jelas antara
status besi ibu hamil dengan status besi bayi sampai usia 2
bulan post partum. Demikian pula Tekinalp dkk
22
di Turki
mendapatkan kadar feritin ibu pada kelahiran berhubungan
dengan kadar feritin serum bayi usia 2 bulan.
Peneliti-peneliti lain menemukan hal yang berbeda. Rios
dkk
23
meneliti hubungan cadangan besi ibu hamil dan bayi
dengan mengukur kadar feritin serum ibu pada akhir kehamilan
dan tali pusat bayi saat melahirkan. Kadar feritin tali pusat
ternyata lima kali lebih tinggi dari kadar feritin ibu. Selain itu
tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kadar feritin
pada bayi-bayi yang berasal dari ibu anemia dan non anemia.
Disimpulkan bahwa janin dari ibu anemia maupun non anemia
mendapat zat besi dalam jumlah sama selama kehamilan dan
cadangan besi ibu hamil tidak berpengaruh terhadap jumlah
besi yang diperoleh janin selama kehidupan intrauterin.
23
Penemuan yang sama diperoleh oleh Lao dkk.
17
Preziosi dkk
28
mendapatkan prevalensi defisiensi besi
turun secara bermakna dalam trimester ke tiga kehamilan pada
kelompok ibu hamil yang diberi suplemen besi. Pengaruh ini
juga tampak tiga bulan setelah persalinan pada status besi bayi
yang lahir dari ibu yang mendapat suplementasi besi. Akan
tetapi studi lain melaporkan suplementasi besi ibu tampaknya
tidak menghasilkan efek yang bermakna terhadap status besi
janin atau bayi baru lahir.
30
Saat ini tes laboratorium untuk diagnosis anemia terutama
dilakukan dengan menentukan kadar hemoglobin (Hb) darah,
sementara telah diketahui bahwa anemia adalah hasil akhir dari
suatu defisiensi lanjut. Penilaian persediaan besi tubuh
merupakan tes yang paling sensitif untuk defisiensi besi.
11,20
Cara yang akhir-akhir ini banyak dipakai adalah pengukuran
kadar feritin serum yang merupakan indikator terbaik kadar
besi dalam tubuh, kadar yang rendah dapat dipakai untuk
mendiagnosis adanya defisiensi besi.
32
Tingginya prevalensi ADB pada bayi terutama pada
kelompok sosial-ekonomi rendah,
33
menyebabkan dibutuhkan
lebih banyak lagi penelitian hubungan status besi ibu hamil
dengan status besi bayi yang dilahirkan, terutama pada BBLR.
Hal ini mengingat kecenderungan bayi-bayi ini untuk
menderita ADB dan konsekuensinya pada perkembangan
mental maupun motorik bayi-bayi tersebut.
15
Selain itu,
walaupun penelitian mengenai defisiensi besi pada bayi normal
dan anak cukup banyak dilakukan di Indonesia,
34,35
tetapi
belum banyak penelitian pada BBLR terutama menyangkut
status besi pada saat lahir.
Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian untuk
mengetahui hubungan antara status besi ibu hamil trimester ke
tiga dengan status besi BBLR ditinjau dari kadar feritin serum.
TUJUAN PENELITIAN
Mengetahui gambaran status besi ibu hamil trimester ke
tiga yang melahirkan BBLR dengan memeriksa kadar
hemoglobin dan feritin serum; hubungan status sosial ekonomi
dengan kadar feritin serum ibu hamil trimester ke tiga serta
hubungan manfaat suplementasi besi dengan kadar feritin
serum ibu hamil.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dilakukan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak dan
Bagian Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/ RSUP Manado. Masa
pengumpulan data dari bulan Agustus 2002 sampai Oktober
2002. Sampel penelitian ini adalah semua ibu hamil trimester
ke tiga yang melahirkan BBLR (BBL < 2500 g.) di RSUP
Manado dan semua bayi yang dilahirkannya yang memenuhi
kriteria.
RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian bersifat analitik dengan desain penelitian cross
sectional.
92
- Kriteria untuk ibu :
Kriteria inklusi : melahirkan bayi baik pervaginam maupun
perabdominam (sectio caesaria) yang sesuai kriteria, bersedia
ikut dalam penelitian dan menandatangani formulir persetujuan
mengikuti penelitian.
Kriteria eksklusi: ibu dengan perdarahan antepartum, hiper-
tensi dalam kehamilan (preeklampsi, eklampsi, superimposed
preeklampsi/eklampsi, hipertensi kronis), diabetes melitus,
infeksi intrapartum dan sampel darah lisis atau ada bekuan
- Kriteria untuk bayi :
Kriteria inklusi : Lahir hidup, BBL < 2500 gram, penjepitan
tali pusat < 30 detik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
6
Kriteria eksklusi : Lahir ganda/kembar, memiliki kelainan
kongenital, mengalami asfiksi berat, sampel darah lisis atau ada
bekuan.
JUMLAH SUBJEK PENELITIAN
Besarnya sampel minimal dihitung dengan menggunakan
rumus :
Bila
= 5% dan = 20% serta r = 0,50 maka : n 29
Berdasarkan rumus di atas, besar sampel minimal yang
dibutuhkan adalah : 29 ibu hamil trimester ketiga beserta 29
BBLR yang dilahirkannya. Pengambilan sampel dilakukan
dengan cara consecutive sampling pada sampel yang memenuhi
kriteria penelitian.
93
PROSEDUR PENELITIAN
- Setiap ibu hamil yang akan melahirkan baik pervaginam
maupun perabdominam (sectio caesaria) di RSUP Manado
yang diduga akan melahirkan BBLR dan memenuhi kriteria
penelitian dicatat identitasnya dan data yang diperlukan.
Perkiraan berat badan bayi yang akan dilahirkan menggunakan
rumus RW Johnson.
94
Jika meragukan, perkiraan berat badan
janin dikonfirmasi dengan pemeriksaan ultrasonografi oleh
dokter supervisor dari Bagian Ilmu Kebidanan dan Penyakit
Kandungan RSUP Manado.
- Kepada ibu hamil tersebut dengan didampingi suami atau
orang-tuanya, dijelaskan maksud dan tujuan penelitian serta
semua risiko yang dapat terjadi bila mengikuti penelitian ini.
Jika bersedia menjadi subyek penelitian, mereka diminta
menandatangani formulir pernyataan persetujuan penelitian.
- Sesaat sebelum melahirkan yaitu kala I untuk persalinan
pervaginam dan kurang dari 30 menit sebelum sectio cesarea,
dilakukan pengambilan 3 ml darah dari vena kubiti ibu yang
tidak puasa untuk pemeriksaan laboratorium.
- Segera setelah penjepitan tali pusat (paling lama 30 detik)
tanpa milking (pengurutan tali pusat) dan sebelum plasenta
dikeluarkan, dilakukan pemotongan tali pusat dan pengambilan
3 ml darah dari vena umbilikalis (waktu < 10 menit).
- Jika bayi mengalami asfiksi ringan-sedang pertolongan
didahulukan secepatnya sesuai protokol, kemudian baru
dikerjakan prosedur penelitian.
- Kedua sampel darah masing-masing dibagi dua, sebagian
(0,6 ml) dimasukkan ke dalam botol yang berisi EDTA dan
sisanya dibiarkan menggumpal pada suhu ruangan.
- Bayi ditimbang sesuai prosedur/cara pengukuran
antropometri bayi.
- Usia kehamilan bayi ditentukan dengan metode New
Ballard
95
dan dikelompokkan sesuai kurva pertumbuhan
intrauterin Battaglia-Lubchencho
37
- Sampel darah ibu dan bayi dikirim ke laboratorium untuk
menjalani pemeriksaan kadar Hb dan feritin serum. Darah ibu
dan bayi yang ternyata tidak memenuhi syarat untuk menjadi
subyek penelitian, disimpan untuk kepentingan medis lainnya
bila diperlukan.
- Pemeriksaan Laboratorium : Hemoglobin (Hb): Kadar Hb
diperiksa menggunakan darah EDTA memakai metode
sianmethemoglobin. Intensitas warna yang terjadi diukur
memakai fotometer 4020 pada panjang gelombang 546 nm.
Satuan yang dipakai g/dl. Pengukuran Hb dilakukan di
Laboratorium Prodia cabang Manado. Feritin serum :
sebagian darah yang tidak dimasukkan dalam botol EDTA
dibiarkan menggumpal selama-lamanya 2 jam pada suhu
ruangan. Selanjutnya disentrifugasi untuk memisahkan
serumnya; serum diambil lalu disimpan di Laboratorium Prodia
Cabang Manado pada suhu 2-8
o
C. Kemudian sampel dikirim
ke Laboratorium Prodia Jakarta untuk pemeriksaan kadar
feritin dengan metode immunochemiluminescence (ICMA)
dengan alat IMMULITE 2000. Hasil dinyatakan dalam ng/mL.
Kriteria penolakan sampel mutlak jika terjadi hemolisis atau
beku ulang, dan tidak mutlak jika lipemik (diultrasentrifugasi).
3
1
1
5
0
2
+
-
+
+
r
r
ln
,
Z
Z
n
- Timbangan yang digunakan merk Yamato (Nakamura
Medical Industry Co.,Ltd., Tokyo, Jepang) yang sebelumnya
telah ditera, kapasitas timbang 10 kg dengan ketelitian 20
gram, berat lahir ditulis dalam satuan gram (g).
- Panjang lahir : Bayi ditidurkan telentang pada alas yang
keras di atas alat pengukur panjang badan, kepala bayi
menyentuh bagian atas alat dengan salah satu tungkai dieks-
tensikan, diukur jarak antara puncak kepala dan tumit. Hasil
pengukuran dicatat dalam satuan sentimeter (cm) dengan
ketelitian 0,5 cm.
ANALISIS DATA
Data yang terkumpul dianalisis secara statistik meng-
gunakan : Analisis Korelasi dan Analisis Jalur (Path
Analysis).
96
Mulai Agustus sampai Oktober 2002 didapatkan 97
kelahiran BBLR di Bagian Perinatologi RSUP Manado, dengan
15 bayi lahir mati dan 12 bayi lahir ganda. Dari 70 BBLR yang
lahir tunggal tersebut, 12 bayi tidak diikutsertakan dalam
penelitian karena lahir dari ibu penderita preeklampsia ringan
dan berat (2 di antaranya dengan superimposed preeklampsi-
eklampsi), 4 bayi lahir dari ibu dengan perdarahan antepartum,
2 bayi menderita kelainan kongenital, 1 bayi mengalami asfiksi
berat, 8 bayi orang tuanya menolak, dan 3 bayi tidak
diikutsertakan karena sampel darah mengalami lisis. Terdapat
10 bayi lainnya yang tidak diikutsertakan dalam penelitian
karena jumlah sampel sudah terpenuhi. Kemudian dari 30
BBLR dan ibunya yang diikut-sertakan tersebut, diperiksa
kadar feritin serum dan hemoglobin darah.
KARAKTERISTIK SAMPEL
Dari 30 BBLR yang memenuhi kriteria inklusi didapatkan
17 bayi laki-laki dan 13 bayi perempuan. Berdasarkan usia
kehamilan didapatkan 13 bayi lahir kurang bulan (BKB), terdiri
dari 12 bayi lahir sesuai masa kehamilan (SMK) dan 1 bayi
kecil masa kehamilan (KMK), serta 17 bayi lahir cukup bulan
yang seluruhnya kecil masa kehamilan. Dari 18 bayi yang kecil
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 7
masa kehamilan (KMK) berdasarkan perhitungan indeks
ponderal, 11 di antaranya bayi KMK asimetris sedangkan 7
lainnya bayi KMK simetris.
Sebaran BBLR menurut kelompok jenis kelamin dan usia
kehamilan tampak pada Tabel 2 .
Tabel 2. Sebaran BBLR berdasarkan jenis kelamin dan umur kehamilan
Karakteristik
Jumlah (n = 30)
%
Jenis kelamin
- Laki-laki
17
56,7
- Perempuan
13
43,3
Kurang Bulan
13
43,3
- Sesuai masa kehamilan
12
40,0
- Kecil masa kehamilan
1
3,3
Cukup bulan
17
56,7
- Kecil masa kehamilan
17
56,7
Sebaran BBLR berdasarkan kurva pertumbuhan intrauterin
tampak pada Tabel 3.
Tabel 3. Sebaran BBLR berdasarkan kurva pertumbuhan intrauterin.
Karakteristik
Jumlah (n = 30)
%
Sesuai masa kehamilan
12
40
Kecil masa kehamilan :
18
60
- Simetris
7
23,3
- Asimetris
11
36,7
Pada penelitian ini berat badan lahir BBLR yang diteliti
berkisar antara 12602480 gram dengan berat badan lahir rata-
rata 2232 (SB 288,87) gram, sedangkan panjang badan lahir
bayi berkisar antara 39-48 cm dengan panjang badan rata-rata
45,07 (SB 1,93) cm.
Usia ibu rata-rata yang ikut serta dalam penelitian ini
adalah 26,30 (SB 6,16) tahun dengan usia termuda 17 tahun
dan tertua 43 tahun, dan jumlah gravida rata-rata 1,87 (SB
1,20) kali.
Karakteristik ibu hamil trimester ke tiga dan BBLR yang
dilahirkan tampak pada Tabel 4.
Tabel 4. Karakteristik ibu hamil trimester ke tiga dan BBLR yang
dilahirkan.
Minimum
Maksimum
Rata-
rata
SB
BBLR
- Berat badan lahir
1260
2480
2232,00
288,87
- Panjang badan lahir
39
48
45,07
1,93
Ibu hamil trimester ke tiga
- Umur
17
43
26,30
6,16
- Gravida
1
5
1,87
1,20
- Skor status sosial ekonomi
4
18
10,47
4,26
- Skor suplementasi besi
1
4
2,03
1,00
Dari Tabel 5 terlihat bahwa sebagian besar ibu hamil
(40%) mendapat tablet besi kurang dari 30 tablet, status sosial-
ekonomi keluarga terbanyak (56,7%) termasuk dalam kategori
sedang. Terdapat 16 (53,3%) ibu hamil primigravida dan hanya
2 (6,7%) ibu multigravida (gravida > 4).
Tabel 5. Sebaran ibu hamil menurut jumlah gravida, status sosial-
ekonomi dan suplementasi besi.
Karakteristik
Jumlah (n = 30)
%
Gravida
- 1
16
53,3
- 2
7
23,3
- 3
4
13,3
- 4
1
3,3
- 5
2
6,7
Status sosial ekonomi
- Rendah
13
43,3
- Sedang
17
56,7
-
Tinggi
0
0
Suplementasi besi
- < 30
12
40,0
- 30 < 60
7
23,3
- 60 < 90
9
30
-
90
2
6,7
GAMBARAN STATUS BESI IBU HAMIL DAN BAYI
Gambaran Status Besi
Status besi seseorang dapat diperiksa melalui beberapa
macam uji laboratorium; pemeriksaan tersebut dapat meliputi
pemeriksaan kadar hemoglobin, besi serum, saturasi transferin,
FEP, dan kadar feritin serum.
Pada penelitian ini telah dilakukan pemeriksaan kadar
hemoglobin dan feritin serum pada ibu hamil trimester ke tiga
dan BBLR yang dilahirkan; hasilnya tertera pada Tabel 6.
Tabel 6. Kadar hemoglobin dan feritin serum ibu hamil trimester ketiga
dan BBLR yang dilahirkan
Karakteristik Minimum
Maksimum
Rata-
rata
SB
Ibu hamil trimester ke tiga
- Hemoglobin (g/dL)
6,9
15,6
12,2
1,93
- Feritin serum (ng/mL)
3
173
61,63
44,90
BBLR
- Hemoglobin (g/dL)
12,8
21,0
17,14
2,08
- Feritin serum (ng/mL)
72
1250
338,30
271,58
Dari Tabel 6 tampak bahwa rata-rata kadar hemoglobin
ibu hamil trimester ke tiga yang melahirkan BBLR adalah 12,2
(SB 1,93) g/dL dengan kadar rata-rata feritin serum 61,63 (SB
44,90) ng/mL. Sedangkan rata-rata kadar hemoglobin BBLR
dalam penelitian ini adalah 17,137 (SB 2,083) g/dL dengan
kadar feritin serum rata-rata 338,30 (SB 271,58) ng/mL.
Penilaian Status Besi
Beberapa sampel memiliki hasil pemeriksaan kurang dari
nilai normal pada pengukuran kadar hemoglobin dan feritin
serum (tabel 7)..
Tabel 7 menunjukkan anemia pada ibu hamil trimester ke
tiga sebesar 16,7%. Berdasarkan kadar hemoglobin dan feritin
serum, ditemukan 4 (13,3%) ibu hamil mengalami defisiensi
besi (kadar feritin serum <12 ng/mL), 2 (6,7%) orang ibu
menderita anemia defisiensi besi. Sedangkan 3 (10%) ibu
hamil menderita anemia non defisiensi besi. Tidak ditemukan
BBLR yang mengalami defisiensi besi pada saat lahir.
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
8
Tabel
7.
Distribusi sampel berdasarkan hasil pemeriksaan kadar
hemoglobin dan feritin serum
Karakteristik
Jumlah (n = 30)
%
Ibu hamil trimester ketiga
- Hemoglobin (Hb)
<
11
g/dL
5
16,7
11 g/dL
25 83,3
- Feritin serum (FS)
<
12
ng/mL
4
13,3
12 ng/mL
26 86,7
- Kadar Hb dan FS
Normal (Hb
11 ; FS 12)
23 76,7
Laten
(Hb
11 ; FS < 12)
2
6,7
ADB (Hb < 11 ; FS < 12)
2
6,7
ANDB (Hb < 11 ; FS
12)
3 10
BBLR
- Hemoglobin (Hb)
< 14,5 g/dL
4
13,3
14,5 g/dL
26 86,7
-
Feritin
serum
(FS)
<
12
ng/mL
0
0
12 ng/mL
30 100
- Kadar Hb dan FS
Normal (Hb
14,5 ; FS 12)
26 86,7
Laten
(Hb
14,5 ; FS < 12)
0 0
ADB (Hb < 14,5 ; FS < 12)
0
0
ANDB (Hb < 14,5 ; FS
12)
4 13,3
HUBUNGAN ANTARA STATUS BESI IBU HAMIL DAN
BAYI
Ditinjau dari kadar feritin serum, ditemukan hubungan
yang bermakna antara status besi ibu hamil trimester ke tiga
dengan status besi BBLR yang dilahirkan (gambar 2).
Besar koefisien korelasi yang didapat adalah 0,538
dengan nilai kemaknaan 0,002 (p <0,01).
Gambar 2. Hubungan kadar feritin serum ibu dengan kadar feritin
serum bayi.
HASIL ANALISIS JALUR (PATH ANALYSIS)
Untuk mengetahui lebih lanjut hubungan antarvariabel
serta pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung,
digunakan analisis jalur seperti yang pada Gambar 3.
SSE
(X
2
)
r
23
SBIH
SBB
(X
1
) (Y)
SB
p
12
p
13
py
1
X
3
)
Gambar 3. Diagram jalur hubungan antar variabel.
Keterangan:
SBB
: Status besi bayi (Y)
SBIH
: Status besi ibu hamil (X
1
)
SSE
: Status sosial-ekonomi (X
2
)
SB
: Suplementasi besi (X
3
)
Hubungan yang digambarkan di atas memiliki bentuk
(model) persamaan :
(1) Y = py
1
. X
1
+
1
, dan
(2) X
1
= p
12
. X
2
+ p
13
. X
3
+
2
Dengan menggunakan bentuk persamaan yang ada dan
koefisien korelasi yang telah diketahui, maka didapatkan
koefisien jalur :
py
1
= 0,5380
p
12
= 0,2953
p
13
= 0,6474
Dari pengujian koefisien jalur didapatkan :
-
Koefisien jalur antara status besi (feritin serum) ibu hamil
dengan status besi (feritin serum) BBLR : sangat bermakna (p
<0,01).
-
Koefisien jalur antara status sosial-ekonomi dengan status
besi (feritin serum) ibu hamil : bermakna (p <0,05).
-
Koefisien jalur antara suplementasi besi dengan status besi
(feritin serum) ibu hamil : sangat bermakna (p <0,01).
-
Dengan demikian dapat diketahui adanya pengaruh dari :
- Status besi (feritin serum) ibu hamil terhadap status besi
(feritin serum) BBLR.
- Status sosial-ekonomi terhadap status besi (feritin serum)
ibu hamil.
- Suplementasi besi terhadap status besi (feritin serum) ibu
hamil.
Hubungan antara Status Sosial-Ekonomi dengan Status
Besi Ibu
Dari diagram jalur (Gb. 3), terlihat pengaruh langsung dan
pengaruh tidak langsung status sosial-ekonomi terhadap status
besi (feritin serum) ibu hamil.
Berdasarkan koefisien korelasi dan koefisien jalur,
didapatkan :
-
Pengaruh langsung (dari SSE ke SBIH) = 0,2953
-
Pengaruh tidak langsung (dari SSE ke SBIH melalui SB) =
0,2907
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 9
Sehingga pengaruh total status sosial-ekonomi terhadap
status besi (feritin serum) ibu hamil sebesar : 0,5860.
Hubungan antara Suplementasi Besi dengan Status Besi
Ibu
Dari diagram jalur (Gambar 3), terlihat pengaruh
langsung dan pengaruh tidak langsung suplementasi besi
terhadap status besi (feritin serum) ibu hamil.
Berdasarkan koefisien korelasi dan koefisien jalur,
didapatkan :
-
Pengaruh langsung (dari SB ke SBIH) = 0,6474
- Pengaruh tidak langsung (dari SB ke SBIH melalui SSE)
= 0,1326
Jadi pengaruh total suplementasi besi terhadap status besi
(feritin serum) ibu hamil sebesar : 0,780
Hubungan antara Status Sosial-Ekonomi dengan Status
Besi BBLR
Dari pola hubungan yang ada, tidak ada pengaruh langsung
status sosial-ekonomi terhadap status besi (feritin serum)
BBLR. Tampak dari Gambar 3, pengaruh tidak langsung
status sosial-ekonomi terhadap status besi (feritin serum)
BBLR melalui status besi ibu hamil sebesar 0,1589 dan melalui
suplementasi besi serta status besi ibu hamil sebesar 0,1564.
Jadi pengaruh tidak langsung total (total indirect effect)
status sosial-ekonomi terhadap status besi BBLR adalah
sebesar 0,3153.
Hubungan antara Suplementasi Besi dengan Status Besi
BBLR
Dari pola hubungan yang ada, tidak ada pengaruh langsung
suplementasi besi terhadap status besi (feritin serum) BBLR.
Tampak dari Gambar 3, pengaruh tidak langsung suplementasi
besi terhadap status besi (feritin serum) BBLR melalui status
besi ibu hamil sebesar 0,3483 dan melalui status sosial-
ekonomi dan status besi ibu hamil sebesar 0,0713. Jadi
pengaruh tidak langsung total (total indirect effect)
suplementasi besi terhadap status besi BBLR adalah sebesar
0,4196.
DISKUSI
Penelitian ini dilakukan pada 30 ibu hamil trimester ke tiga
beserta BBLR yang dilahirkannya, yang terdiri dari 17 (56,7%)
bayi laki-laki dan 13 (43,3%) bayi perempuan. Besar sampel
tersebut cukup karena sudah memenuhi kriteria besar sampel
minimal yang ditentukan. Dari 30 BBLR tersebut, sebagian
besar 17 (56,7%) dilahirkan cukup bulan dan 13 (43,3%) bayi
dilahirkan kurang bulan. Berdasarkan berat badan lahir dan
masa kehamilan didapatkan 40% bayi yang lahir sesuai masa
kehamilan dan 60% yang lahir kecil masa kehamilan, dengan
berat badan rata-rata 2232 g. dan panjang badan rata-rata 45,07
cm. Dari 18 (60%) BBLR yang termasuk dalam bayi kecil
masa kehamilan, 11 (36,7%) di antaranya merupakan bayi kecil
masa kehamilan asimetris.
Jika dianalisis lebih lanjut terdapat 12 (40%) bayi kurang
bulan sesuai masa kehamilan (BKB-SMK) atau prematur
murni, dan dari 60% bayi kecil masa kehamilan terdiri dari 1
(3,3%) bayi kurang bulan kecil masa kehamilan (BKB-KMK)
dan 17 (56,7%) bayi cukup bulan kecil masa kehamilan (BCB-
KMK). Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang selalu
membandingkan BBLR-KMK dengan prematur murni.
2,3,5
Villar
2
mengemukakan bahwa 2/3 BBLR di negara
berkembang terdiri dari bayi kecil masa kehamilan dan sisanya
bayi prematur, sedangkan di negara maju 2/3 BBLR terdiri dari
bayi prematur dan sisanya bayi kecil masa kehamilan.
Laki-laki dewasa sehat memiliki cadangan besi yang lebih
banyak dibanding wanita dewasa sehat, sedangkan untuk bayi
dan anak-anak tidak ada perbedaan jenis kelamin sampai usia
remaja (Dallman)
32
; sehinggga pada Tabel 2 peneliti hanya
membedakan jumlah bayi laki-laki dan perempuan, tanpa
menghubungkan kadar feritin serumnya.
Umur ibu hamil yang ikut dalam penelitian ini berkisar
antara 17-43 tahun, rata-rata 26 tahun. Dilihat dari jumlah
gravida, maka gravida 1 merupakan kelompok terbanyak yaitu
53,3%. Ini menunjukkan sebagian besar subyek penelitian
berada pada usia reproduksi normal dan belum pernah
melahirkan. Hanya 2 orang subyek multigravida (gravida 5).
(Tabel 5).
Tingkat status sosial-ekonomi keluarga terbanyak pada
penelitian ini adalah status sedang yaitu 56,7%. Keadaan ini
mencerminkan kemampuan daya beli termasuk di antaranya
penyediaan bahan makanan dan obat-obatan yang memadai
serta lingkungan hidup yang memenuhi syarat kesehatan.
Dari semua ibu hamil yang juga menjadi responden dalam
penelitian ini, tidak ada satu pun yang tidak mendapat
suplementasi tablet besi selama kehamilan. Sebagian besar
yaitu 40% mendapat suplementasi kurang dari 30 tablet dan
30% lainnya mendapat suplementasi antara 60-90 tablet besi
selama kehamilan. Faktor yang mungkin berhubungan dengan
hal ini adalah sebagian besar subyek pada kelompok status
sosial-ekonomi sedang yang erat kaitannya dengan tingkat
pengetahuan dan pendidikan terbanyak yang berada pada
tingkat menengah.
GAMBARAN STATUS BESI IBU DAN BAYI
Ibu Hamil Trimester Ketiga : Pada penelitian ini
didapatkan kadar rata-rata hemoglobin ibu hamil adalah 12,2
g/dL dan kadar feritin serum 61,63 ng/mL. Didapatkan anemi
ibu hamil sebesar 16,7% (Hb <11 g/dL), dan defisiensi besi
sebesar 13,3% (feritin serum <12 ng/mL), sedangkan 2 (6,7%)
ibu menderita ADB. Dari 5 (16,7%) ibu hamil yang menderita
anemi terdapat 3 (10%) ibu dengan kadar feritin di atas 12
ng/mL. Kemungkinan anemi pada kasus ini adalah suatu anemi
megaloblastik seperti anemi defisiensi folat karena pada masa
kehamilan kebutuhan asam folat juga meningkat.
105
Pada hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995
ditemukan prevalensi anemi pada ibu hamil sebanyak 50%,
4
sementara penelitian Wulur
53
(1997) di Minahasa menemukan
anemi pada ibu hamil sebesar 29,27%. Pada penelitian lain di
sebuah desa di Bali, Bakta dkk
51
mendapatkan angka anemi ibu
hamil sebesar 50%, sedangkan Par'i dan Mulyono
52
di Sumatra
Selatan memperoleh angka 54,42%.
Jika dibandingkan dengan hasil penelitian di atas,
prevalensi anemia ibu hamil pada penelitian ini jauh lebih
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
10
rendah. Hal ini dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain jumlah
dan perbedaan karakteristik sampel penelitian. Untuk men-
dapatkan hasil penelitian yang lebih baik diperlukan jumlah
sampel yang lebih banyak.
Menurut Delee seperti yang dikutip oleh Kaneshige,
31
di
akhir kehamilan tanpa suplementasi besi sudah tidak ada
cadangan besi dalam sumsum tulang. Pada penelitian ini
didapatkan hasil yang berbeda; kadar feritin serum rata-rata
pada trimester ke tiga adalah 61,63 ng/mL. Hal ini mungkin
karena pada penelitian ini semua ibu hamil pernah mendapat
suplementasi besi dan sebagian besar ibu hamil yang diteliti
adalah primigravida, sehingga diasumsikan cadangan besi pada
saat hamil masih cukup dibanding ibu multigravida.
Kadar feritin serum
< 12 ng/mL dapat didiagnosis sebagai
defisiensi besi
32
. Pada penelitian ini didapatkan 4 dari 30 ibu
hamil (13,3%) dengan kadar feritin serum
<12 ng/mL. Ho
106
pada penelitiannya menemukan 20,83% ibu hamil dengan
kadar feritin serum <12 ng/mL, sementara Ichsan dkk
107
mendapatkan 30,95% ibu hamil dengan kadar feritin serum <10
ng/mL.
Beberapa peneliti mendapatkan kadar feritin serum yang
bervariasi pada ibu hamil (tabel 8).
Tabel 8. Nilai rata-rata kadar feritin ibu hamil dan beberapa peneliti
Hamil trimester
Peneliti
I II III
Thn. Populasi Cara
Supl
eme
n
Kaneshi
ge
31
97,4
(n =17)
22,2
(n = 26)
14,7
(n =17)
1981 Jepang RIA (-)
Ho
106
23,1
(n=240)
1987 Taiwan RIA (-)
Ajayi
108
38,1
(n =65)
1988 Nigeria EIA (+)
Hendars
in
109
32,75
(n=48)
24,39
(n=50)
24,27
(n=52)
1990 Indonesia ICMA (+)
Peneliti
61,63
(n=30)
2002 Indonesia ICMA (+)
Perbedaan nilai rata-rata kadar feritin serum ibu hamil dari
masing-masing peneliti, di samping dipengaruhi jumlah
gravida dan pemberian suplementasi besi, mungkin karena
faktor diet dan interval kehamilan ikut berperan. Makin baik
diet terutama yang mengandung zat besi dan makin lama
interval kehamilan, seorang wanita akan lebih cepat
memulihkan cadangan besinya.
Bayi Berat Lahir Rendah
Menurut Lozoff dkk,
76
persediaan besi janin bertumpuk
sedikit demi sedikit pada akhir trimester ke tiga kehamilan
sebagai persiapan kelahiran. Biasanya terdapat kadar feritin
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan selama
beberapa bulan pertama kehidupan.
Data penelitian ini
menyokong hal ini, kadar feritin serum rata-rata saat kelahiran
adalah 338,3 ng/mL dan hemoglobin 17,14 g/dL.
Kadar feritin rata-rata dalam penelitian ini lebih tinggi dari
hasil yang dilaporkan oleh Obladen dkk
110
dan Olivares dkk.
111
Pada penelitiannya Obladen dkk
110
mendapatkan kadar feritin
serum rata-rata adalah 140 ng/mL dan hemoglobin adalah 15,6
g/dL. Perbedaan hasil yang cukup besar ini mungkin akibat
perbedaan karakteristik sampel terutama perbedaan berat badan
bayi dan usia kehamilan dengan dua penelitian tersebut. Di
samping itu terdapat 2 bayi pada penelitian ini yang memiliki
kadar feritin tali pusat yang sangat tinggi.
Dari pengamatan lanjut selama perawatan di RS, kedua
bayi ini menunjukkan tanda-tanda klinis yang baik dan tidak
tampak kelainan, serta dipulangkan dalam keadaan sehat.
Dallman
32
menyatakan peningkatan cadangan besi lebih dari 20
kali lipat dapat terjadi sebelum ada bukti-bukti terjadinya
kerusakan jaringan akibat besi yang berlebihan. Dapat
diasumsikan infeksi yang tidak terdiagnosis mungkin telah
menaikkan kadar feritin bayi-bayi ini.
11
Tamura dkk
112
membuktikan bahwa kadar feritin tali pusat
yang tinggi dihubungkan dengan outcome perkembangan
neurologik yang lebih buruk. Karena feritin serum adalah
sebuah protein fase akut, kadarnya meningkat sebagai respon
terhadap sejumlah stimulasi inflamasi.
41
Para penulis
menyarankan bahwa infeksi yang tidak terdiagnosis mungkin
telah menaikkan kadar feritin pada sejumlah bayi.
113
Diduga
korioamnionitis yang telah dihubungkan dengan outcome
neurologi yang buruk,
114
adalah sebuah variabel pengganggu.
Seperti diketahui inflamasi mempengaruhi distribusi besi,
mengakibatkan peningkatan dalam simpanan sel retiku-
loendotelial dan penurunan kadar besi yang bersirkulasi.
115
Temuan ini membutuhkan penelitian lebih lanjut terhadap
homeostasis besi janin dan pemahaman yang lebih baik tentang
mekanisme tranfer besi ibu ke janin.
Dari 30 BBLR yang diteliti terdapat 4 bayi dengan kadar
Hb <14,5 g/dL dengan kadar feritin serum yang normal;maka
aneminya bukan karena anemi defisiensi besi. Pada penelitian
ini tidak dilakukan pemeriksaan MCV ataupun morfologi darah
tepi dan hitung retikulosit, sehingga penyebab anemi tidak
dapat ditentukan; mungkin oleh defisiensi asam folat atau
defisiensi vitamin E yang berhubungan dengan BBLR.
Kemungkinan lain anemi ini adalah merupakan bagian dari
anemi prematuritas. Pada anemi defisiensi asam folat gambaran
darah tepi memperlihatkan hipersegmentasi netrofil, sedangkan
pada defisiensi vitamin E akan tampak gambaran hemolisis.
116
HUBUNGAN STATUS BESI IBU DENGAN STATUS
BESI BAYI
Pada persalinan, kadar feritin serum tali pusat lebih tinggi
daripada kadar feritin serum ibu.
17
Pada penelitian ini kadar
feritin serum tali pusat bayi sekitar 5 kali lebih tinggi
dibandingkan kadar feritin serum darah ibu. Kaneshige
31
mendapatkan kadar feritin serum tali pusat bayi 10 kali lebih
tinggi dari kadar feritin serum ibu. Hasil ini memberi kesan
bahwa janin dan plasenta cukup efektif dalam mengambil besi
dari ibu.
14
Terdapat pendapat yang kontradiktif dalam hal pengaruh
status besi ibu terhadap bayi, karena sejumlah peneliti tidak
dapat menunjukkan hubungan antara kadar feritin ibu dengan
kadar feritin bayi baru lahir.
16-19
Studi-studi lain menemukan
hubungan antara kadar feritin ibu dan bayi dan memperlihatkan
bahwa bayi-bayi yang baru lahir dari ibu dengan cadangan besi
yang terkuras mempunyai kadar feritin serum darah tali pusat
yang lebih rendah daripada bayi dari ibu dengan cadangan besi
yang penuh.
14,21,22
Kaneshige
31
menemukan hubungan yang baik antara kadar
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 11
feritin serum ibu dengan feritin serum tali pusat bayi, yang
memberikan kesan bahwa cadangan besi ibu mencerminkan
cadangan besi janin.
Rusia dkk
117
melaporkan hubungan antara
kadar feritin ibu dengan feritin tali pusat bayi (r = 0,40) pada
ibu hamil dengan prevalensi ADB sebesar 34%.
Penelitian ini memperlihatkan hubungan langsung antara
kadar feritin serum ibu dan tali pusat bayi, yang menunjukkan
bahwa status besi bayi sangat tergantung pada status besi ibu
selama kehamilan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian
Singla dkk.
14
Hubungan linier status besi ibu hamil dengan status besi
bayi baru lahir yang ditemukan dalam penelitian ini
mendukung pandangan Nhonoli dkk,
118
bahwa walaupun janin
adalah `parasit' yang efisien, janin mengambil besi dalam
jumlah yang proporsional dengan kadar dalam ibu selama
kehamilan. Singla dkk
14
menyimpulkan bahwa kadar feritin
serum tali pusat yang lebih rendah pada bayi baru lahir dari ibu
anemi dibandingkan dengan ibu nonanemi mencerminkan
cadangan besi yang kurang. Mereka menyatakan bahwa status
besi ibu bertanggung jawab terhadap cadangan besi bayi yang
dilahirkannya.
14
Peneliti lain melaporkan hubungan yang lemah antara
status besi ibu dan bayi. Vasquez-Molina ME dkk
119
baru-baru
ini mendapatkan hubungan yang lemah (r = 0,15) dari 163 ibu
hamil dengan bayi yang dilahirkannya. Sementara Lao dkk
17
dengan studi kohortnya (n=96), mendapatkan hubungan yang
sangat lemah (r=0,10) antara status besi ibu dan bayinya.
Mereka menyimpulkan bahwa janin mampu mengambil besi
dari ibu tanpa tergantung dari cadangan besi ibu. Peneliti
lainnya tidak dapat membuktikan adanya hubungan antara
status besi ibu hamil dan bayi baru lahir.
8
Rios dkk
23
melaporkan tidak ada perbedaan bermakna antara kadar feritin
pada bayi-bayi yang berasal dari ibu anemi maupun nonanemi.
Perbedaan-perbedaan antara berbagai peneliti tersebut
dapat disebabkan karena perbedaan populasi penelitian dan
tingkat serta durasi defisiensi besi yang diamati pada sampel
penelitian.
14
Di samping itu perbedaan tersebut dapat berkaitan
dengan perbedaan disain penelitian. Namun penelitian kohort
prospektif sulit dilaksanakan karena ukuran sampel yang
dibutuhkan besar dan dianggap tidak etis untuk tidak
memberikan pengobatan pada ibu hamil dengan kadar feritin
yang rendah.
HUBUNGAN ANTARA SUPLEMENTASI BESI DAN
STATUS SOSIAL-EKONOMI DENGAN STATUS BESI
IBU DAN BAYI
Pemberian suplemen besi rutin dianjurkan dalam trimester
ke dua dan ke tiga kehamilan, karena sebagian besar ibu hamil
tidak dapat memenuhi kebutuhan besi yang meningkat dari
sumber-sumber gizi semata.
25
Namun demikian, walaupun
berhasil dalam uji klinis yang teliti, efektivitas suplementasi
besi diragukan ketika dilaksanakan pada skala nasional.
120
Suplementasi besi banyak diresepkan pada kehamilan
tanpa memandang kebutuhan individual. Hal ini sudah lama
dilakukan sejak pengobatan besi diperlihatkan dapat mencegah
penurunan hemoglobin. Banyak silang pendapat mengenai
manfaat suplementasi besi rutin selama kehamilan.
Walaupun bukti yang ada sekarang tidak konklusif,
sejumlah data menunjukkan bahwa pemberian suplemen besi
efektif memperbaiki status besi ibu.
27,28
Studi-studi longitudinal
dengan pemberian 30-200 mg besi setiap hari, memperlihatkan
peningkatan status besi secara bermakna.
30,121
Preziosi dkk
28
mendapatkan prevalensi anemi dan defisiensi besi turun secara
bermakna selama trimester terakhir di kelompok ibu yang
diberi suplemen besi, tetapi tetap konstan pada kelompok
plasebo.Tiga bulan setelah persalinan, kadar feritin serum
secara bermakna juga lebih tinggi pada bayi dari ibu yang
mendapat suplementasi besi.
Prevalensi defisiensi besi dari anemi ibu hamil trimester ke
tiga tanpa suplementasi besi diperkirakan sekitar 40%,
dibandingkan dengan 37% yang dilaporkan oleh Center for
Disease Control dari wanita-wanita berpenghasilan rendah.
105
Di pihak lain penelitian-penelitian observasional pada
populasi risiko tinggi yaitu populasi dengan status sosial-
ekonomi rendah atau negara berkembang telah menemukan
hubungan antara defisiensi besi masa kanak-kanak dengan
tumbuh kembang yang abnormal. Penelitian luas suplementasi
besi baru-baru ini pada populasi risiko tinggi memperlihatkan
efek penting suplementasi besi pada tumbuh kembang bayi.
122
Pada penelitian ini suplementasi besi mempunyai pengaruh
langsung terhadap kadar feritin ibu dan pengaruh tidak
langsung terhadap kadar feritin bayi. Hal ini sesuai dengan
penelitian Vasquez-Molina ME dkk.
119
Begitu pula dengan
hubungan antara status sosial-ekonomi dengan status besi ibu
hamil dan bayi. Terdapat hubungan tidak langsung antara status
sosial-ekonomi dengan kadar feritin bayi melalui kadar feritin
ibu .
KETERBATASAN PENELITIAN
Beberapa kekurangan dalam penelitian ini disebabkan
karena adanya keterbatasan, yaitu :
1) Disain penelitian ini adalah cross sectional. Kekurangan
disain ini adalah tidak terdapatnya dimensi waktu, sehingga
pada variabel tertentu sulit ditentukan hubungan antarvariabel,
mana yang sebab dan mana yang akibat. Hasil penelitian
merupakan hipotesis yang hanya dapat diterangkan dengan
teori yang ada atau memakai logika. Jika ada hal-hal yang
kontradiktif, tentunya perlu dibuktikan dengan melakukan
penelitian lebih lanjut dengan disain yang lebih baik, yaitu
kasus kontrol, kohort atau penelitian klinis.
2) Status besi subyek penelitian hanya ditentukan oleh kadar
hemoglobin dan feritin serum; padahal makin lengkap
pemeriksaan, sensitivitas dan spesifisitas makin tinggi
32
.
Selain
itu tidak ada tes laboratorium tunggal yang dapat memastikan
diagnosis defisiensi besi pada situasi klinis apapun.
41
3) Penelitian ini melihat hubungan antara status besi ibu
dengan status besi bayi baru lahir hanya pada masa akhir
kehamilan. Variabel suplementasi besi didapat dari wawancara
dengan responden sesaat sebelum dan setelah melahirkan,
tanpa intervensi peneliti. Kelemahan yang mungkin terjadi
adalah adanya recall bias yaitu bias yang disebabkan
perbedaan kemampuan mengingat. Untuk mengurangi
keterbatasan ini, data suplementasi besi dikonfirmasi dengan
kartu periksa ibu hamil dan menggunakan contoh obat yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
12
beredar di pasaran, agar informasi yang didapat lebih akurat. Di
samping itu, penelitian intervensi prospektif yang dikontrol
untuk meneliti manfaat suplementasi besi terhadap status besi
ibu hamil maupun bayi yang dilahirkan sulit dilaksanakan,
karena ukuran sampel yang dibutuhkan besar dan tidak etis
untuk tidak mengobati ibu hamil yang anemi.
4) Subyek penelitian ini adalah bayi berat lahir rendah di
RSUP Manado. Dengan demikian maka kesimpulan penelitian
ini terbatas pada bayi berat lahir rendah dan di kota Manado.
KESIMPULAN
1) Terdapat hubungan antara kadar feritin serum ibu hamil
trimester ke tiga dengan kadar feritin serum BBLR yang
dilahirkan.
2) Terdapat hubungan antara suplementasi besi ibu hamil
dengan kadar feritin serum BBLR yang dilahirkan melalui pe
meriksaan kadar feritin serum ibu hamil.
3) Terdapat hubungan antara status sosial-ekonomi ibu hamil
dengan kadar feritin serum ibu hamil trimester ke tiga. Serta
terdapat hubungan antara status sosial-ekonomi ibu hamil
dengan kadar feritin serum BBLR yang dilahirkan melalui
pemeriksaan kadar feritin serum ibu hamil.
SARAN
1) Diperlukan penelitian lebih lanjut pada BBLR dan BBLSR
dengan sampel yang lebih representatif dengan memperhatikan
variabel-variabel yang berpengaruh terhadap feritin serum.
2) Perlu dilakukan penelitian kohort prospektif status besi
BBLR untuk dijadikan acuan sejak usia berapakah sebaiknya
suplementasi besi diberikan.
3) Perlu dilakukan penyuluhan terhadap ibu hamil mengenai
manfaat suplementasi besi guna mencegah defisiensi besi pada
ibu hamil dan bayi yang dilahirkan.
KEPUSTAKAAN
1.
Mustadjab I. Perawatan bayi berat lahir rendah. Bul. IDI cabang Manado
1988;1:3750.
2.
Villar J, Bellizan J. Relative contribution of prematurity and fetal growth
retardation to low birth weight in developing and developed societies. Am
J Obstet Gynecol 1982;143:7938.
3.
Alisyahbana A. Birth weight distribution, low birth weight and perinatal
mortality in seven selected rural areas in Indonesia. A multicenter study
in Indonesia. 1991.
4.
Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 1998. Departemen
Kesehatan RI, Pusat Data Kesehatan. Jakarta, 1998.
5. Salendu-Warouw SM, Raharjo S, Mustadjab I, Warouw N. Some risk
factors for low birth weight infants at Manado hospital. Pediatr Indon
1995;35:94100.
6.
Kolondam CMR, Opit CJ, Lengkey CJ, Wulur FH, Mustadjab I. Faktor-
faktor yang berhubungan dengan kelahiran bayi berat lahir rendah di
RSUP Manado. Dalam : Firmansyah A, Trihono PP, Oswari H,
Nurhamzah W, Darmawan (penyunting). Buku Abstrak KONIKA XI
Jakarta. Ikatan Dokter Anak Indonesia Pusat. Jakarta ; Balai Penerbit
FKUI, 1999: 429.
7. Agtini MD, Budiarso RL, Lubis A, Bakri Z, Kristanti ChM. Dampak
pemberian tablet zat besi (Fe) pada ibu hamil terhadap kejadian bayi
dengan berat badan lahir rendah. Bul. Penelit. Kes. 1996;24:24-37.
8.
Gaspar MJ, Ortega RM, Moreiras O. Relationship between iron status in
pregnant women and their babies. Acta Obstet Gynecol Scand
1993;72:534-7.
9. Klebanoff MA, Shiono PH, Selby JV, Trachtenberg AI, Graubard BI.
Anemia and spontaneous preterm birth. Am J Obstet Gynecol
1991;164:5963.
10. Lukens JN. Iron metabolism and iron deficiency. Dalam : Miller DR,
Baehner RL, Miller LP, penyunting. Blood disease of infancy and
childhood ; ed..7. Philadelphia:The Mosby Co,1995;193217.
11. Oski FA. Iron deficiency in infancy and childhood. N Engl J Med 1993;
15:1903.
12. Idjradinata PS. Akselerasi pertumbuhan dan pulihnya perkembangan bayi
anemia kekurangan zat besi dengan suplementasi zat besi. Disertasi.
Universitas Padjadjaran, Bandung. 1993.
13. Institute of Medicine. Iron deficiency anemia : Recommended guidelines
for the prevention, detection, and management among U.S children and
woman childbearing age. Washington DC. National Academy Press,
1993.
14. Singla PN, Tyagi M, Shankar R, Dash D, Kumar A. Fetal iron status in
maternal anemia. Acta Paediatr 1996;85:132730.
15. Allen LH. Anemia and iron deficiency : effects on pregnancy outcome.
Am J Clin Nutr 2000;71(suppl):1280S4S.
16. Agrawal RMD, Tripathi AM, Agrawal KN. Cord blood haemoglobin,
iron and ferritin status in maternal anaemia. Acta Paediatr Scand
1983;72:5458.
17. Lao TT, Loong EPL, Chin RKH, Lam CWK, Lam YM. Relationship
between newborn and maternal iron status and haematological indices.
Biol Neonate 1991;60:3037.
18. Hokama T, Takenaka S, Hirayama K, dkk. Iron status of newborns born
to iron deficient anaemic mothers. J Trop Pediatr 1996;42:757.
19. Barton DPJ, Joy MT, Lappin TRJ, dkk. Maternal erythropoietin in
singleton pregnancies: A randomized trial on the effect of oral hematinic
supplementation. Am J Obstet Gynecol 1994;170:896901.
20. Puolakka J, Janne O, Vihko R. Evaluation by serum ferritin assay of the
influence of maternal iron stores on the iron status of newborns and
infants. Acta Obstet Gynecol Scand 1980;95(suppl):5356.
21. De Benaze C, Galan P, Wainer R, Hereberg S. Prevention of iron
deficiency anemia in pregnancy by using early iron supplementation : A
controlled trial. Rev Epidemiol Sane Publique 1989;37:109-18.
22. Tekinalp G, Oran O, Gurakan B, dkk. Relationship between maternal and
neonatal iron stores. Turk J Pediatr 1996;38:439-45.
23. Rios E, Lipschitz DA, Cook JD, Smith NJ. Relationship of maternal and
infant iron stores as assessed by determination of plasma ferritin. Pediatr
1975;55:6949.
24. Departemen Kesehatan RI. Pedoman pemberian besi bagi petugas.
Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Departemen
Kesehatan RI, 1995.
25. Lynch SR. The potential impact of iron supplementation during
adolescence on iron status in pregnancy. J.Nutr. 2000;130:448S-51S.
26. Yip R. Iron supplementation during pregnancy : Is it effective ? Am J
Clin Nutr 1996;63:853-5.
27. Suharno EO, West CE, Muhilal, dkk. Supplementation with vitamin A
and iron for nutritional anaemia in pregnant women in West Java,
Indonesia. Lancet 1993:342:1325-8.
28. Preziosi P, Prual A, Pilar G, Daouda H, Boureima H, Hercberg S. Effect
of iron supplementation on the iron status of pregnant women :
Consequences for newborns. Am J Clin Nutr 1997;66:1178-82.
29. Hemminski E, Starfield B. Routine administration of iron and vitamins
during pregnancy : Review of controlled clinical trials. Br J Obstet
Gynecol 1978; 85:404.
30. Feightner JW. Routine iron supplementation during pregnancy.
31. Kaneshige E. Serum ferritin as an assessment of iron stores: other
hematologic parameters during pregnancy. Obstet Gynecol 1981;57:238-
41.
32. Dallman PR, Yip R, Oski FA. Iron deficiency and related nutritional
anemias. Dalam : Nathan DG, Oski FA (eds.). Hematology of infancy and
childhood. Mexico : WB Saunders Co, 1993; 41346.
33. Andelman MB, Sered BR. Utilization of dietary iron by term infants : A
study of 1048 infants from low socio economic population. Am J Dis
Child 1996;3:45.
34. Dijkhuizen MA, Wieringa FT, West CE, Muherdiyantiningsih, Muhilal.
Concurrent micronutrient deficiencies in lactating mothers and their
infants in Indonesia. Am J Clin Nutr 2001;73:786-91.
35. Soemantri AG, Hapsari DE, Susanto JC, dkk. Daily and weekly iron
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 13
supplementation and physical growth of school age Indonesian children.
Southeast Asian J Trop Med Public Health 1997;28(Suppl 2):69-74.
36. Markum AH, Monintja HE, Budjang RF. Janin dan neonatus. Dalam :
Markum AH, Ismael S, Alatas H, penyunting. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Anak Jilid 1. Jakarta : FKUI, 1991;224-37.
37. Battaglia FC, Lubchencho LO. A practical classification of newborn
infants by weight and gestational age. J Pediatr 1967;71:159-63.
38. Monintja HE. Beberapa aspek kebutuhan bayi kurang bulan. Dalam :
Suradi R, Monintja HE, Amalia P, Kusumowardhani D, penyunting.
Penanganan mutakhir bayi prematur : Memenuhi kebutuhan bayi
prematur untuk menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Naskah Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan
Anak XXXVIII FKUI. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 1997;11-43.
39. Budjang RF. Bayi dengan berat lahir rendah. Dalam : Wiknyosastro H,
Saifudin AB, Rachimhadi T, penyunting. Ilmu Kebidanan. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka, 1992;71-83.
40. World Health Organisation. Nutritional anaemias. WHO Tech Rep Ser,
1972;503:5-27.
41. Lee RG. Iron deficiency and iron deficiency anemia. Dalam : Lee RG,
Bithell TC, Foerster J, Athens JW, Lukens JN, penyunting. Wintrobe's
clinical hematology; edisi ke-9. Philadelphia : Lea & Febiger, 1993;808-
39.
42. Finch CA. Iron deficiency anemia. Am J Clin Nutr 1969;22:512-7.
43. Dallman PR. Nutritional anemia and childhood : iron, folat and vitamin
B12. Dalam : Suskind MR, Suskind LL, penyunting. Textbook of
Pediatric Nutrition ; edisi ke-2. New York : Raven Press, 1993;91-105.
44. Florentino RF, Guirriec RM. Prevalence of nutritional anemia in infancy
and childhood. Nestle Nutrition, 1984;26-8.
45. Booth IW, Aukett MA. Iron deficiency anaemia in infancy and early
childhood. Arch Dis Child 1997;76:549-54.
46. Gregory JR, Collins DL, Davies PSW, Hughes JM, Clarke PC. National
diet and nutrition survey : children aged 11/2 to 41/2 years. Report of the
diet and nutrition survey. London: HMSO, 1995.
47. Kuizon MD, Madriaga JR, Desnacido JA, dkk. Iron status of Filipino
infants and preschoolers using plasma ferritin and transferrin receptors
levels. Southeast Asian J Trop Med Public Health 1996;27:343-9.
48. Soemantri AG, Soenato Y, Sudigbia. Iron deficiency anemia in Indonesia.
Dalam : Lee M, Hong CY, Kim SI, penyunting. Proceeding of the 4
th
meeting of Asian Pacific Division of the International Society of
Hematology. Seoul : International Society of Hematology, Asian Pacific
Division, 1979.
49. Affandi Z, Raspati H, Idjradinata P. Normal hemoglobin values in 12-24
month of childrren. Paediatr Indones 1995;35:18-22.
50. Asih Ratnadi IGA, Soetjiningsih. Iron status in breast-fed infants.
Paediatr Indones 2001;41:191-6.
51. Bakta IM, Wijana DP, Sutrisna P. Anemia pada penduduk desa
Belumbang, kecamatan Kerambitan, Bali. MKI 1993;43:2114.
52. Par'i HM, Mulyono T. Gambaran status gizi dan anemia ibu hamil di
kabupaten Oku, Sumatera Selatan. MDK 1990;9:303.
53. Wulur C. Evaluasi hubungan anemia pada kehamilan dengan bayi berat
lahir rendah di puskesmas Likupang kabupaten Minahasa periode April
1997Agustus 1997. Tesis. Manado : Bagian Obstetri dan Ginekologi FK
Universitas Sam Ratulangi, 1997.
54. Fenton V, Cavill Z, Fisher J. Iron stores in pregnancy. J Haemat 1977;
37: 145-9.
55. MacPhail AP, Charlton RW, Bothwell TH, Torrance JD. The relationship
between maternal and infant iron status. Scand J Haematol 1980; 25: 141-
50.
56. Gupta R, Ramji S. Effect of delayed cord clamping on iron stores in
infants born to anemic mothers : A randomized controlled trial. Indian
Pediatrics 2002; 39: 130-5.
57. Yao AC, Lind O. Effect of gravity on placental tranfusion. Lancet 1969;
2: 505.
58. Dallman PR, Siims MA, Stekel A. Iron deficiency in infancy and
childhood. Am J Clin Nutr 1980; 33: 86-118.
59. Oski FE, Stockman JA. Anemia due to inadequate iron source or poor
iron utilization. Pediatr Clin N Am 1980; 27: 237-51
60. Mahrie M. Beberapa aspek penyebab anemia defisiensi besi pada anak.
Tesis. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985.
61. Lopriore E, Vandenbussche FPHA, Tiersma ESM, deBeaufort AJ,
deLeeuw JP. Twin-to-twin transfusion syndrome : New perspectives. J
Pediatr 1995; 127:675-80.
62. Powers WF. Multiple births. Dalam : Cloherty JP, Stark AR, penyunting.
Manual of neonatal care ; edisi ke-4. Philadelphia : Lippincott-Raven,
1998; 77-80.
63. Papagno L. Umbilical cord clamping: An analysis of a usual
neonatological conduct. Acta Physiol Pharmacol Ther Latinoam 1998;
48: 224-7.
64. Elbourne D, Dezateux DC. Effect of delayed timing of clamping of cord
is being studied. BMJ 1998;316:145.
65. Review of evidence on cord care practices: Timing of cord clamping.
66. Geethanath RM, Ramji S, Thirupuram S, Rao YN. Effects of timing of
cord clamping on the iron stores of infants at 3 months. Indian Pediatr
1997; 34: 103-6.
67. Grajeda R, Perez-Escamilla, Dewey KG. Delayed clamping of umbilical
cord improves heematological status of Guatemalan infants at 2 months
of age. Am J Clin Nutr 1997;65:425-31.
68. Sarwono E. Perawatan bayi berat lahir rendah. Disampaikan pada
Simposium-Seminar Neonatologi I. Jakarta, 1977.
69. Suradi R. Perawatan tali pusat. Disampaikan pada Simposium Nasional
Perinatologi II. Semarang, 1979.
70. Soejoenoes A. Beberapa hasil pengamatan klinik pada ibu hamil dengan
anemia. MOGI 1983;9:83-9.
71. Chockalingam UM, Murphy E, Ophoven JC, Weisdorf SA, Georgieff
MK. Cord transferrin and ferritin values in newborn infants at risk for
prenatal uteroplacental insufficiency and chronic hypoxia. J Pediatr
1987;111:283-6.
72. Georgieff MK, Landon MB, Mills MM, dkk. Abnormal iron distribution
in infants of diabetic mothers : Spectrum and maternal antecedents. J
Pediatr 1990;117:455-61.
73. Petry CD, Eaton MA, Wobken JD, Mills MM, Johnson DE, Georgieff
MK. Iron deficiency of liver, heart, and brain in newborn infants of
diabetic mothers. J Pediatr 1992;121:109-14.
74. Booth IW, Aukett MA. Iron deficiency anemia in infancy and early
childhood. Arch Dis Child 1997;76:549-54.
75. Schwartz. Iron deficiency anemia. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM,
Jenson HB, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics; edisi ke-16.
Philadelphia : WB Saunders, 2000;1469-71.
76. Lozoff B, Wolf AW, Jimenez E. Iron deficiency anemia and infant
development : effects of extended oral iron therapy. J Pediatr 1996; 129:
382-9.
77. Jacobs A, Miller F, Beamish MR, Wardrop, Worwood M. Ferritin in the
serum of normal subjects and patient with iron deficiency and iron
overload. BMJ 1972;4:206-8.
78. Jacobs A, Worwood M. Ferritin in serum : clinical and biochemical
implication. N Engl J Med 1975;292:951-6.
79. Lipschitz DA, Cook JD, Finch CA. A clinical evaluation of serum ferritin
as an index of iron stores. N Engl J Med 1974;290:1213-6.
80. Tietz NW, Finley PR. General clinical tests. Dalam : Tietz NW,
penyunting. Clinical guide to laboratory tests; edisi ke-3. Philadelphia :
WB Saunders Company, 1995; 234-5.
81. Lanzkowsky P. Manual of pediatric hematology and oncology ; edisi ke-
2. New York : Churchill Livingstone, 1998.
82. DiGuiseppi C. Screening for iron deficiency anemia-including iron
prophylaxis. U.S. Preventive Task Force.
83. Lozoff B, Wolf AW, Jimenez E. Iron deficiency anemia and infant
development : effects of extended oral iron therapy. J Pediatr 1996; 129:
382-9.
84. McKenzie SB. Textbook of Hematology; edisi ke-2. Baltimore: William
& Wilkins, 1996;129-55.
85. Fairbanks. Iron in medicine and nutrition. Dalam: Shils ME, Olson JA,
Shike M, Ross AC, penyunting. Modern nutrition in health and disease;
edisi ke-9. Baltimore: Wiliams&Wilkins, 1999;193-222.
86. Nicholson JF, Pesce MA. Laboratory medicine and reference tables.
Dalam : Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson
Textbook of Pediatrics; edisi ke-16. Philadelphia : WB Saunders, 2000;
2031-84.
87. Decie JV, Lwis SM. Practical Haematology; edisi ke-6. New York:
Churchill Livingstone, 1994:27-9.
88. Center for Diseases Control. CDC criteria for anemia in children and
childbearing aged women. MMWR 1989;38:400-4.
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005
14
89. Hou JR, Cliver SP, Tamura T, Johnston KE, Goldenberg R. Maternal
serum ferritin and fetal growth. Obstet Gynecol 2000;95:447-52.
90. Starreveld JS, Kross MJ, van Suijlen JD, Verrijt CE, van Eijk IIG, van
Dijk JP. Ferritin in cultured human cytotrophoblast : Synthesis and
subunit distribution. Placenta 1995;16:383-95.
91. Osky FA, Naiman JL. The hematologic aspects of the maternal-fetal
relatonship. Dalam: Hematologic problems in the newborn. Major
problems in clinical pediatrics; edisi ke-3. Philadelphia : Saunders,
1982; 32-55.
92.
Ghazali MV, Sastromiharjo S, Soedjarwo SR, Soelaryo TS. Studi cross
sectional. Dalam: Sastroasmoro S, Ismael S, penyunting. Dasar-dasar
Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta : Binarupa Aksara, 1995;253-64.
93.
Sastroasmoro S. Pemilihan subyek penelitian. Dalam : Sastroasmoro S,
Ismael S, penyunting. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta: Binarupa Aksara, 1995; 253-64.
94. Johnson RW. Calculations in estimating fetal weight. Am J Obstet
Gynecol 1957;74:929.
95.
Ballard JL, Khoury JC, Wedig K, dkk. New Ballard score, expanded to
include extremely premature infants. J Pediatr 1991;119:417-23.
96. Sudjana. Teknik analisis regresi dan korelasi: Bagi para peneliti.
Bandung: Tarsito, 1983.
97.
Wahidiyat I, Matondang CS, Sastroasmoro S. Diagnosis fisis pada anak.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 1991;155-70.
98. Wiknjosastro H. Diagnosis kehamilan. Dalam : Wiknjosastro H,
Saifudin AB, Rachimhadi T, penyunting. Ilmu Kebidanan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka,1992;771-83.
99.
Wantania JM. Pengaruh bimbingan dan penyuluhan kesehatan pada ibu
di rumah terhadap morbiditas bayi berat lahir rendah. Suatu studi kohort
di kota Manado. Disertasi. Universitas Airlangga, Surabaya. 1990.
100. Badan Pusat Statistik Propinsi Sulawesi Utara. Survei sosial ekonomi
nasional propinsi Sulawesi Utara tahun 1999. Manado, 1999.
101. Badan Pusat Statistik. Penyempurnaan metodologi penghitungan
penduduk miskin dan profil kemiskinan 1999. Badan Pusat Statistik.
Jakarta, 1999.
102. Palar S. Konsultasi pribadi. Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas
Sam Ratulangi. Manado, 2002.
103. Saifudin AB. Acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal. Jakarta: JNPKKR-POGI bekerja sama dengan Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2001.
104. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unsrat. Pedoman diagnosis dan
terapi obestetri dan ginekologi RSUP Malalayang. Manado: Bagian/
SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam
Ratulangi/RSUP Malalayang, 1995.
105. Perry GS, Yip R, Zyrkowski C. Nutritional risk factors among low-
income pregnant US women: the Centers for Disease Control and
Prevention (CDC) pregnancy nutrition surveillance system, 1975
through 1993. Semin Perinatol 1995;19:211-21.
106. Ho CH, Yuan CC, Yeh SH. Serum ferritin levels and then significance
in normal full-term pregnant women. Int J Gynaecol Obstet 1987; 25:
291-5.
107. Ichsan TM, Hasan H, Tanjung MT, Muzahar. Penilaian cadangan besi
pada wanita hamil dengan feritin serum. Medika 1997; 8:606-9.
108. Ajayi OA. Iron stores in pregnant Nigerians and their infants at term.
Eur J of Clin Nutr 1988; 42:23-8.
109. Hendarsin TL. Nilai beberapa parameter hematologik dan kadar feritin
pada wanita hamil. Tesis.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta. 1991.
110. Obladen M, Diepold K, Maier RF, the European Multicenter rhEPO
Study Group. Venous and arterial hematologic profiles of very low birth
weight infants. Pediatrics 2000;106:707-11.
111. Olivares M, Llaguno S, Marin V, Hertrampf E, Mena P, Milad M. Iron
status in low-birth-weight infants, small and appropriate for gestational
age. A follow-up study. Acta Paediatr 1992:81:824-8.
112. Tamura T, Goldenberg RL, Hou J, dkk. Cord serum ferritin
concentrations and mental and psychomotor development of children at
5 years of age.J pediatric 2001;140:165-70.
113. Fleming RE. Cord serum ferritin levels, fetal iron status, and neuro-
developmental outcomes: Correlations and confounding variables. J
114. De Felice C, Toti P, Laurini RN, dkk. Early neonatal brain injury in
histologic chorioamnionitis. J Pediatr 2001; 138:101-4.
115. Jurado RL.Iron, infections, and anemia of inflammation, Clin Infect Dis
1997; 25:888-95.
116. Dallman PR. Iron, vitamin E and folate in the preterm infant. J Pediatr
1974; 85:742-52.
117. Rusia U, Madan N, Agrawal N, Sikka M, Sood SK. Effect of maternal
iron deficiency anaemia on foetal outcome. Indian J Pathol Microbiol
1995; 38:273-9.
118. Nhonoli AM, Kihama FE, Ramji BD. The relation between maternal
and cord serum iron levels and its effect on foetal growth in iron
deficient mothers without malarial infection. Br J Obstet Gynaecol
1975; 82:467-50.
119. Vasquez-Molina ME, Coral-Terrazas M, Apezteguia MA, Carmona-
Sawasky J, Levario-Carrillo M. Relationship between maternal and
neonatal iron stores. Salud Publica Mex 2001;43:402-7.
120. Yip R. Iron deficiency: Contemporary scientific issues and international
programmatic approaches. J.Nutr 1994;124(suppl):1479s-90s.
121. Mohamed K. Routine iron supplementation during pregnancy (Cochrane
review). Dalam: The cochrane library, issue 3, Update software. Oxford,
UK.1998.
122.
Idjradinata P, Pollitt E. Reversal of developmental delays in iron-
deficient anemic infants treated with iron. Lancet 1993;341:1-4.
Cermin Dunia Kedokteran No. 146, 2005 15
Document Outline