background image
HASIL PENELITIAN
Diagnosis Laboratorium Infeksi Saluran
Reproduksi dari Para Pekerja Seksual
Wanita di Banyuwangi
Juni 2003
Eko Rahardjo
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Prevalensi HIV pada pekerja seks wanita (PSW) di
Indonesia telah meningkat dari nol pada tahun 1998 menjadi
8% di Kepulauan Riau dan 26,5% di Kota Merauke pada tahun
2000
(1)
. Beberapa tempat surveilans sentinel HIV sekarang
melaporkan prevalensi HIV pada PSW yang cukup tinggi, lebih
dari 5%
(2)
.
Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) diketahui mempermudah
penularan HIV tetapi ISR pada PSW di Indonesia baru diukur
secara sporadis. Laporan dari beberapa lokasi antara tahun
1999 sampai 2001 menunjukkan prevalensi infeksi gonore dan
chlamydia yang tinggi antara 20-35%
(3-8)
dan prevalensi
serologi sifilis positif sebesar 12,9%
(3)
.
Data dasar IMS/ISR diperlukan untuk mengamati
perjalanan penyakit dan untuk advokasi sumber daya dan
intervensi, penelitian ini akan membangun data dasar untuk
merancang intervensi yang tepat, memantau dan mengukur
efektivitas program.
Diagnosis laboratorium dari duh tubuh dan serum PSW
merupakan salah satu data dasar yang diperlukan untuk
mengamati perjalanan penyakit, advokasi sumber daya, dan
interfensi.
Tujuan
a. Tujuan
Umum
Melakukan diagnosis laboratorium agar diketahui jenis
organisme penyebab infeksi pada PSW sehingga dapat
untuk menentukan langkah kebijakan oleh pelaksana
program.
b. Tujuan
Khusus
Mengetahui prevalensi organisme penyebab infeksi antara
lain :
- Neisseria gonorrhoea
- Chlamydia trachomatis
- Treponema pallidum
- Trichomonas vaginalis
- Bacterial vaginosis
- Candidiasis
di kalangan PSW di Banyuwangi Jawa Timur.
Data yang dihasilkan akan menjadi bahan advokasi dan
menjadi informasi dasar untuk memantau intervensi yang
sedang berjalan maupun yang masih direncanakan.
ALAT DAN BAHAN
1. Alat
- 2 buah mikroskop (Olympus CH 20 minimal, jika
memungkinkan)
- 1 centrifuge dengan kecepatan minimal 1500 rpm
- 1 rotator dengan pengatur waktu dan kecepatan (setting
100 rpm)
- 2 micropipet multiple volume (0 ­ 100 µl)
- 1 micropipet multiple volume (50 ­ 200 µl)
- 1 micropipet 1 ml
- 5 rak tabung @ 12 lubang
- 1 tourniquet
- 4 pipet pasteur plastik
- 3 kotak preparat
- Kotak spesimen genprobe
2. Bahan
- 3 box @ 100 tabung vacutainer 10 ml
- 3 box @ 100 tabung reaksi 5 ml
- 3 box @ 200 kapas lidi steril
- 3 box syringe 5 ml
Disampaikan Pada: Pelatihan Pengelolaan Infeksi Menular Seksual,
Palembang, Sumatera Selatan, 12-14 September 2003
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
34
background image
- 3 box kapas alkohol
- 1 btl @ 500 ml NaCl 0.9%
- 1 btl @ 100 ml KOH 10%
- 6 btl @ 100 ml methylene blue 0.1 ­ 0.3%
- 1 btl @ 100 ml minyak imersi
- 1 pak @ 100 lembar kertas lensa
- 9 pak @ 125 mikropipet tips warna kuning
- 1 pak @ 500 mikropipet tips warna biru
- 6 box @ 50 kaca penutup No. 1
- 10 box @ 72 kaca objek
- 5 box pengambilan spesimen genprobe untuk wanita @
50 kit (tabung transport dan 2 kapas lidi dakron)
- Kit reagensia RPR @ 500 tes (kartu pemeriksa antigen,
batang pengaduk, botol penetes, dan kontrol positif &
negatif)
- Kit reagensia TPHA @ 200 tes (microplate, sampel
diluen, sensitized particles, unsensitized particles dan
kontrol positif & negatif)
- 3 pak @ 100 lembar kertas pH dengan indikator khusus
(3.8 ­ 5.4)
CARA KERJA
1. Gonore
Bahan pemeriksaan berasal dari sekret serviks.
Diagnosis laboratorium menggunakan sediaan langsung,
dengan pewarnaan Gram akan menemukan diplokokus
negatif Gram (DNG) intrasel, lekosit polimorfonuklear
(PMN) dan DNG ekstrasel. DNG intrasel terutama
ditemukan pada kasus akut.
2. Sifilis
Diagnosis laboratorium menggunakan serum.
Dengan uji RPR (Rapid Plasma Reagin) akan terdeteksi
antibodi dari Treponema pallidum. Uji RPR kurang
spesifik sehingga diperlukan konfirmasi dengan uji TPHA
(Treponema Pallidum Hemagglutination).
3. Uretritis
Non
Spesifik
Uretritis non spesifik (UNS) disebabkan oleh bakteri
Chlamydia trachomatis. Bahan yang diperiksa adalah
sekret duh tubuh vagina berupa lendir yang jernih sampai
keruh.
Diagnosis laboratorium dengan pewarnaan Gram
ditemukan lekosit polimorfonuklear (PMN) >5 pada
pemeriksaan mikroskopis pembesaran 1000x.
4. Vaginosis Bakterial
Merupakan sindrom klinik akibat pergantian Lactobacillus
spp penghasil H
2
O
2
yang merupakan flora normal di dalam
vagina oleh Gardnerella vaginalis dan Mycoplasma
hominis, dengan konsentrasi tinggi.
Diagnosis laboratorium
a. pH
vagina
Menentukan pH vagina menggunakan kertas pH yang
sesuai (interval 4 ­ 6/7). pH pada BV biasanya
berkisar antara 5 - 5.5.(nilai normal - 3.8 ­ 4.2 )
b. Odor/bau (Whiff Test)
Bau amis seperti ikan dapat dikenali dengan pemberian
KOH 10% pada sekret vagina dari spekulum;
disebabkan adanya pelepasan amin, terutama putresin
dan kadaverin. KOH 10% meningkatkan intensitas
bau.
c. Clue cells
Merupakan sel epitel vagina yang ditutupi oleh
berbagai bakteri vagina sehingga memberikan
gambaran granular dengan batas sel tidak jelas karena
melekatnya bakteri batang atau kokus kecil.
5. Kandidiasis
Diagnosis laboratorium pemeriksaan mikroskopik sekret
vagina dengan sediaan basah KOH 10% atau dengan
pewarnaan Gram. Bentuk invasif terlihat berbentuk ragi
(yeast form)
- Blastospora bentuk lonjong
- Sel tunas
- Pseudohifa, seperti sosis panjang bersambung
- Kadang-kadang hifa asli bersepta
Dalam pewarnaan Gram bentuk ragi kandida bersifat
positif .
6. Trikomoniasis
Diagnosis laboratorium, sediaan basah dengan bahan
berupa apusan forniks posterior dan anterior yang diambil
dengan lidi kapas atau sengkelit steril lalu dilarutkan dalam
larutan garam fisiologis dan dilihat ada tidaknya T.
vaginalis.
Untuk mempertajam hasil diagnosis laboratorium cairan
sekret serviks juga diperiksa dengan metoda uji gene
probes.
HASIL
Prevalensi IMS
Secara umum, terdapat 47% PSW jalanan dan 47% PSW
lokalisasi yang sedang terinfeksi salah satu atau lebih IMS
yang diteliti. Prevalensi ini tergolong tinggi. Tingginya
prevalensi IMS semacam ini meningkatkan risiko penularan
HIV sebesar 2-9 kali lipat. Oleh karena itu diperlukan upaya
untuk menurunkan prevalensi IMS, yang mencakup
pengobatan, pemutusan rantai penularan, dan pencegahan.
1. Gonore
Pervalensi Gonore cukup tinggi baik pada PSW lokalisasi
(37%) maupun PSW jalanan (29%). Di antara semua PSW
yang terinfeksi GO, ternyata hanya 61% yang bergejala,
sedangkan 39% yang lain tidak bergejala sama sekali
(Gambar 1).
ambar 1. Prevalensi Gonore pada PSW di Banyuwangi
G
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004 35
background image
2. Chlamydia
Prevalensi infeksi Chlamydia juga cukup tinggi pada PSW
Gam
i Banyuwangi
. Infeksi Ganda Gonore dan Chlamydia
Ko-infeksi (infeksi ganda) Gonore dan Chlamydia
lanan yang diteliti,
Banyuwangi
. Sifilis
Prevalensi sifilis dini pada PSW jalanan maupun PSW
besarnya sama, yaitu 3%. Pada pemeriksaan
dengan
5. Trichomoniasis
vaginalis
Prevalensi Trichomoniasis vaginalis pada PSW jalanan
lokalisasi 6%. Secara kese-
G
6.
cterial Vaginosis dan Vaginal Candidiasis
SW lokalisasi memiliki prevalensi Bacterial Vaginosis
n prevalensi
Gam
i Banyuwangi
. Infeksi Ganda Gonore dan Chlamydia
Ko-infeksi (infeksi ganda) Gonore dan Chlamydia
lanan yang diteliti,
Banyuwangi
. Sifilis
Prevalensi sifilis dini pada PSW jalanan maupun PSW
besarnya sama, yaitu 3%. Pada pemeriksaan
dengan
5. Trichomoniasis
vaginalis
Prevalensi Trichomoniasis vaginalis pada PSW jalanan
lokalisasi 6%. Secara kese-
G
6.
cterial Vaginosis dan Vaginal Candidiasis
SW lokalisasi memiliki prevalensi Bacterial Vaginosis
n prevalensi
lokalisasi (20%) maupun pada PSW jalanan (12%). Di
antara mereka yang terinfeksi Chlamydia, 34% tidak
bar 2. Prevalensi Chlamydia pada PSW d
antara mereka yang terinfeksi Chlamydia, 34% tidak
bar 2. Prevalensi Chlamydia pada PSW d
menunjukkan gejala (Gambar 2).
menunjukkan gejala (Gambar 2).
33
dilaporkan sering terjadi. Pada PSW ja
dilaporkan sering terjadi. Pada PSW ja
prevalensi infeksi ganda ini sebesar 6%, pada PSW
lokalisasi 12%. Pada infeksi ganda ini 33% tidak
menunjukkan gejala sama sekali (Gambar 3).
prevalensi infeksi ganda ini sebesar 6%, pada PSW
lokalisasi 12%. Pada infeksi ganda ini 33% tidak
menunjukkan gejala sama sekali (Gambar 3).
Gambar 3. Prevalensi ganda Gonore & Chlamydia pada PSW di
Gambar 3. Prevalensi ganda Gonore & Chlamydia pada PSW di
44
lokalisasi
lokalisasi
fisik, 86% kasus sifilis dini tidak menunjukkan gejala.
Prevalensi sifilis laten lanjut lebih besar pada PSW jalanan
(18%) dibandingkan pada PSW lokalisasi (6%).
fisik, 86% kasus sifilis dini tidak menunjukkan gejala.
Prevalensi sifilis laten lanjut lebih besar pada PSW jalanan
(18%) dibandingkan pada PSW lokalisasi (6%).
Mengingat banyaknya kasus yang tidak menunjukkan
gejala, dapat dipastikan sebagian terbesar PSW
Mengingat banyaknya kasus yang tidak menunjukkan
gejala, dapat dipastikan sebagian terbesar PSW
sifilis tidak akan mencari pengobatan; dengan demikian,
rantai penularan akan terus berlanjut. Skrining dan
pemberian pengobatan secara berkala pada populasi
berisiko tinggi ini merupakan upaya kesehatan masyarakat
yang efektif untuk memutus rantai penularan, menurunkan
prevalensi, dan mengurangi risiko penyebaran HIV
(Gambar 4).
sifilis tidak akan mencari pengobatan; dengan demikian,
rantai penularan akan terus berlanjut. Skrining dan
pemberian pengobatan secara berkala pada populasi
berisiko tinggi ini merupakan upaya kesehatan masyarakat
yang efektif untuk memutus rantai penularan, menurunkan
prevalensi, dan mengurangi risiko penyebaran HIV
(Gambar 4).
Gambar 4. Prevalensi Sifilis pada PSW di Banyuwangi
Gambar 4. Prevalensi Sifilis pada PSW di Banyuwangi
15%, sedangkan pada PSW
15%, sedangkan pada PSW
luruhan, ternyata 94% kasus tidak menunjukkan gejala
(Gambar 5).
luruhan, ternyata 94% kasus tidak menunjukkan gejala
(Gambar 5).
ambar 5. Prevalensi Trichomoniasis pada PSW di Banyuwangi
ambar 5. Prevalensi Trichomoniasis pada PSW di Banyuwangi
Ba
Ba
P
P
sebesar 63%, PSW jalanan 44%. Sedangka
sebesar 63%, PSW jalanan 44%. Sedangka
Vaginal Candidiasis pada kedua kelompok sama besar,
6%. Kedua infeksi ini bukan IMS melainkan Infeksi
Saluran Reproduksi (ISR). Walupun bukan IMS, kedua
infeksi ini mengakibatkan gangguan epitel vagina yang
meningkatkan kerawanan terhadap infeksi HIV (Gambar
6).
Vaginal Candidiasis pada kedua kelompok sama besar,
6%. Kedua infeksi ini bukan IMS melainkan Infeksi
Saluran Reproduksi (ISR). Walupun bukan IMS, kedua
infeksi ini mengakibatkan gangguan epitel vagina yang
meningkatkan kerawanan terhadap infeksi HIV (Gambar
6).
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
36
background image
Gambar 6. Prevalensi Bacterial Vaginosis pada PSW di Banyuwangi
PEMBAHASAN
Gonore
Prevalensi Gonore pada PSW lokalisasi dan jalanan di
Banyuwangi adalah 37% dan 29%.Pada penelitian sebelumnya,
pervalensi tertinggi dijumpai di Jawa Timur, yaitu 38% dan
terendah di Sulawesi Utara 19,6%
(7)
, sedangkan di daerah
lainnya berkisar antara 29,7% - 34%
(3-6)
. Jadi hasil yang
diperoleh pada PSW lokalisasi cukup tinggi sedangkan pada
PSW jalanan hampir mendekati prevalensi rata-rata di
Indonesia.
Chlamydia
Prevalensi Chlamydia di kalangan PSW lokalisasi yaitu
20%, sedangkan pada PSW jalanan 12%, penelitian
sebelumnya di Jember dan Tulung Agung (Jawa Timur)
prevalensi rata-rata Chlamydia 16.1%. Jadi hasil di lokalisasi
lebih tinggi dibanding sebelumnya, tetapi pada PSW di jalanan
lebih rendah.
Infeksi Ganda Gonore dan Chlamydia
Pada penelitian sebelumnya di Jawa Timur, infeksi ganda
Gonore dan Chlamydia 44,3% sedangkan pada penelitian ini
hasilnya 12% (lokalisasi) dan 6% (jalanan), jauh lebih rendah.
Sifilis
Prevalensi sifilis dini pada penelitian ini baik di lokalisasi
dan jalanan masing-masing 3%, sedangkan prevalensi sifilis
laten pada PSW lokalisasi dan jalanan masing-masing 6% dan
18%. Penelitian sebelumnya di Jawa Timur tidak melakukan
diagnosis sifilis, sedangkan penelitian di Kupang mendapatkan
12,9%; prevalensi sifilis di Indonesia umumnya kurang dari
5%
(3)
. Bila hasil sifilis dini dan laten digabung maka di
lokalisasi didapat 9% dan di jalanan 21%, melebihi rata-rata
nasional.
Trichomonas vaginalis
Prevalensi T. vaginalis pada PSW jalanan 15% sedangkan
dari lokalisasi 6%. sedangkan pada penelitian sebelumnya di
Jawa Timur 7.4%, jadi prevalensi pada PSW jalanan 2 kali
lebih tinggi dibanding penelitian sebelumnya, namun
prevalensi di lokalisasi sedikit lebih rendah.
Bacterial vaginosis dan Vaginal candidiasis
Bacterial vaginosis PSW lokalisasi dan PSW jalanan
masing-masing 63% dan 44%, sedangkan vaginal candidiasis
pada dua kelompok sama besarnya yaitu 6%. Penelitian
sebelumnya di Jawa Timur, bacterial vaginosis 17.8%
sedangkan vaginal candidiasis 0.9%, jadi pada penelitian ini
keduanya jauh lebih tinggi dari penelitian sebelumnya.
KESIMPULAN
Prevalensi dari enam jenis ISR/IMS yang diteliti ternyata
tinggi.
KEPUSTAKAAN
1. HIV/AIDS in Indonesia: Challenges and Opportunities for Action, National
AIDS Control Board, Jakarta, 2001
2. Quarterly HIV Surveillance Report. Indonesian Ministry of Health,
September, 2002.
3. Miller P, Otto B. .Prevalence of sexually transmitted infections in selected
populations in Indonesia. Indonesia HIV/AIDS and STD Prevention and
Care Project, AusAID 2001.
4. Silitonga N
1
, Donegan E
2
, Wignall FS
1
, Moncada J
2
. Schacter J
2
Prevalence
of N gonorrhoeae and C trachomatis Infection among Commercial Sex
Workers in Timika Irian Jaya, Indonesia.
1
PT Freeport Indonesia, Timika,
Irian Jaya and
2
University of California San Francisco, CA ISSTDR,
Denver,1999.
5. Surjadi et al. Second Assessment of Sexually Transmitted Disease
Prevalence of Commercial Female Sex Workers in North Jakarta, Surabaya,
Manado, Indonesia., Indonesian Epidemiology Network, January 2000.
6. Rosana Y, Sjahrurachman A, Sedyaningsih ER, Simanjuntak CH, Arjoso S,
Daili SF, Judarsono J, Ningsih I. Studi resistensi N. gonorrhoeae yang
diisolasi dari pekerja seks komersial di beberapa tempat di Jakarta
(Antimicrobial susceptibility pattern of N. gonorrhoeae isolated from female
commercial sex workers in Jakarta.) J. Mikrobiol. Indon. 1999; 4(2): 60-3.
7. Sedyaningsih ER, Rahardjo E, Lutam B, Oktarina, Sihombing S. Harun S.
Validasi pemeriksaan infeksi menular seksual secara pendekatan sindrom
pada kelompok wanita berperilaku risiko tinggi. Bul. Penelit. Kes. 2001;
28(3-4), 460-67.
8. Preliminary Report: National Population Sizes Estimate, Indonesian
Ministry of Health, October 2002.
9. Standard Procedure of HIV Sentinel Surveillance, Ministry of Health
Republic of Indonesia, Directorate General CDC, Jakarta 1999.
Better say nothing than nothing to the purpose.
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004 37

Document Outline