background image
HASIL PENELITIAN
Risiko Partus Prematurus Iminen
pada Kehamilan dengan Infeksi
Saluran Kemih
I Nyoman Nuada*, Made Kornia Karkata*, Ketut Suastika**
*Bagian Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Udaya /
Rumah Sakit Sanglah Denpasar
**Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Udaya /
Rumah Sakit Sanglah Denpasar
ABSTRAK
Tujuan : Mengetahui besarnya risiko partus prematurus iminen pada wanita hamil
dengan infeksi saluran kemih.
Bahan dan Cara : Studi kasus-kontrol yang dilakukan di Lab/SMF Obstetri dan
Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah Denpasar. Dari 50 sampel yang memenuhi
kriteria, 25 sampel masuk dalam kelompok kasus (partus prematurus iminen) dan 25
sampel masuk dalam kelompok kontrol (hamil aterm yang tidak inpartu). Sampel
diambil di Kamar Bersalin dan di Poliklinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan.
Pada kedua kelompok dilakukan pengambilan urine porsi tengah, kemudian
dikerjakan kultur urin dan test sensitivitas.
Hasil : Infeksi saluran kemih (ISK) didapatkan pada 20% kelompok kasus dan pada
12% kelompok kontrol. Kejadian ISK di kelompok kasus lebih tinggi daripada di
kelompok kontrol dengan Rasio Odds 1,83; tetapi perbedaan ini tidak bermakna (
2
=
0,595 dan p = 0,702). Pada pemeriksaan bakteriologis didapatkan kuman yang
terbanyak ditemukan adalah E. coli yang sensitif terhadap amoksisilin, mesilinam,
Baktrim, siprofloksasin dan fleroksasin.
Simpulan : Risiko partus prematurus iminen pada wanita hamil dengan ISK 1,83
kali lebih besar dibandingkan dengan wanita hamil yang tidak menderita ISK.
Kata Kunci : Infeksi saluran kemih, partus prematurus iminen, pola kuman.
PENDAHULUAN
Persalinan preterm masih merupakan masalah penting
dalam obstetri khususnya di bidang perinatologi, karena baik di
negara berkembang maupun negara maju penyebab morbiditas
dan mortalitas neonatus terbanyak adalah bayi yang lahir
preterm. Kira-kira 75% kematian neonatus berasal dari bayi
yang lahir preterm.
1
Angka kejadian persalinan preterm sangat bervariasi. Di
Amerika Serikat (1981-1989) sekitar 9-11%.
2
Di Kalifornia
(1996) sekitar 7,4%.
3
Di Indonesia berkisar antara 10-20%
4
dan
di RS Sanglah (1996) sebesar 7,44%.
5
Ardhana (1999) di RS
Sanglah mendapatkan angka kejadian persalinan preterm 431
dari 4.984 persalinan (8,65%).
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
26
background image
Penyebab persalinan preterm adalah multifaktorial;
beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
7
Infeksi :
· Korioamnionitis.
· Infeksi traktus urogenitalis.
Kelainan rahim:
· Uterus septus, Uterus subseptus, Uterus bikornu.
· Serviks inkompetens, riwayat konisasi.
Stres atau hipoksia janin
Endokrinopati idiopatik
Sedangkan faktor risiko persalinan preterm adalah riwayat
persalinan preterm sebelumnya, riwayat memakai obat
diethylstilbestrol, abortus pada trimester II, riwayat penyakit
hubungan seksual; dan pada kehamilan sekarang didapatkan
keadaan seperti berikut; hamil ganda, perdarahan setelah
trimester I, merokok 10 batang atau lebih perhari, ada infeksi
saluran kemih, anemia (hematokrit < 34%), ada pembukaan
serviks sebelum umur kehamilan 32 minggu (pembukaan
serviks > 1 cm dan pendataran serviks < 1 cm.
8
Infeksi saluran kemih (ISK) sering terjadi pada wanita
hamil.
9
Bila tidak ditangani dengan baik bisa menjadi penyulit
terhadap kehamilan, terjadi abortus atau partus prematurus
iminen. Banyak wanita dengan ISK tidak merasakan adanya
keluhan atau tidak ada gejala. Infeksi baru terdeteksi setelah
terlihat adanya bakteri pada pemeriksaaan urine. Keadaan ini
disebut bakteriuria asimptomatik.
10
Angka kejadian infeksi saluran kemih (ISK) dengan koloni
bakteri lebih dari 100.000/ml urine pada wanita hamil baik
dengan gejala maupun tanpa gejala (asimptomatik) sekitar 7-
12%.
9
Hubungan antara ISK asimptomatik dengan persalinan
preterm telah diperdebatkan, tetapi telah terdapat cukup bukti
yang menyokong adanya hubungan tersebut.
1
Bila wanita hamil
dengan ISK, khususnya yang asimptomatik tidak mendapat
terapi antibiotika, 30-50% akan berkembang menjadi
pielonefritis.
6,11
Pielonefritis telah diketahui merupakan
penyebab persalinan preterm karena adanya endotoksin yang
merangsang produksi prostaglandin sehingga menyebabkan
terjadinya kontraksi miometrium dan juga oleh karena ada
respon infeksi yang mengakibatkan kerusakan struktur uterus
dan pembuluh darah plasenta.
12
Kass mendapatkan angka
kejadian partus prematurus 27% pada wanita hamil dengan ISK
yang tidak mendapat terapi antibiotika dan hanya 7% dari 84
wanita hamil dengan ISK yang mendapat terapi antibiotika.
13
Oleh karena itu penting sekali mengadakan skrining infeksi
saluran kemih pada wanita hamil dan memberi terapi
antibiotika apabila ditemukan ISK.
9
Penyebab pasti partus prematurus sampai saat ini belum
jelas diketahui. Infeksi saluran kemih merupakan salah satu
faktor risiko yang telah banyak diteliti. Data bakteriologis dan
test kepekaan kuman sebagai dasar terapi rasional sampai saat
ini masih sangat terbatas.
BAHAN DAN CARA KERJA
Rancangan penelitian ini adalah studi kasus-kontrol.
Berdasarkan perhitungan statistik diperlukan 50 pasien sebagai
sampel penelitian (25 wanita hamil yang mengalami partus
prematurus iminen sebagai kasus dan 25 wanita hamil aterm
yang tidak inpartu sebagai kontrol). Terhadap subyek penelitian
yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pengambilan urine
porsi tengah dan kemudian dilakukan kultur urine dan test
sensitivitas di Lab Mikrobiologi FK UNUD. Data disajikan
dalam bentuk tabel dan dilakukan uji chi-square.
HASIL DAN DISKUSI
Pada penelitian ini berhasil dikumpulkan sebanyak 50
sampel yang memenuhi kriteria dan setuju untuk ikut dalam
penelitian ini. Dari 50 sampel tersebut, 25 sampel termasuk
kelompok kasus (partus prematurus iminen), sedangkan 25
sampel sisanya merupakan kelompok kontrol (hamil aterm
yang tidak inpartu).
Diagnosis infeksi saluran kemih (ISK) pada penelitian ini
didasarkan atas ditemukannya koloni kuman
100 000 per ml
dari urine porsi tengah. Terhadap seluruh sampel kedua
kelompok dilakukan kultur urine, hitung koloni serta tes
kepekaan mikroorganisme terhadap beberapa antibiotika.
Sebelum analisis statistik terhadap hasil penelitian, pada
beberapa variabel dilakukan uji komparabilitas (Tabel 1).
Tabel 1. Uji Chi-Square beberapa variabel pada kelompok kasus dan
kontrol
Subyek Penelitian
Kasus
(PPI)
Kontrol
(Bukan PPI)
Variabel
N % N %
2
P
1. Umur Ibu :
< 20 tahun
20 ­ 35 tahun
4
21
16,0
84,0
0
25
0
100
4,348
*)
0,110
1. Paritas
:
Nullipara
Multipara
23
2
92,0
8,0
17
8
68,0
32,0
4,500
*)
0,074
3. Leukosit darah
Leukosit
15.000
Leukosit < 15.000
3
22
12,0
88,0
0
25
0
100,0
3,191
*)
0,235
Keterangan : *) Fisher`s Exact Test
Pada
Tabel 1 tampak bahwa variabel umur dan paritas
antara kedua kelompok berbeda tidak bermakna sehingga dapat
diperbandingkan (masing-masing
2
=4.348 dan p = 0,110,
2
=
4.500 dan p = 0,074). Demikian pula tampak bahwa variabel
leukosit darah pada kedua kelompok berbeda tidak bermakna
(
2
= 3,191, p=0,235 ).
Kejadian ISK pada kedua kelompok dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hubungan ISK dengan partus prematurus iminen
Subyek Penelitian
Kasus Kontrol
Total
ISK
5 3
8
NON ISK
20 22
42
TOTAL
25 25
50
Keterangan:
2
= 0,595, P = 0,702, OR = 1,83
Di kelompok kasus didapatkan 5 kasus (20%) ISK dari 25
jumlah sampel yang diperiksa. Sedangkan di kelompok kontrol
didapatkan 3 kasus (12%) ISK dari 25 sampel yang.diperiksa.
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
27
background image
Secara keseluruhan didapatkan 8 kasus (16%) yang menderita
ISK. Tampak bahwa proporsi ISK di kelompok kasus lebih
besar dari di kelompok kontrol; perbedaannya secara statistik
tidak bermakna (
2
= 0,595, P = 0,702; OR=1,83, 95% CI:
0,387-8,674).
Angka kejadian ISK yang berhubungan dengan kasus-
kasus kebidanan khususnya persalinan preterm sangat
bervariasi pada beberapa penelitian; berkisar antara 3-10%,
namun penelitian di RSCM (1999) menunjukkan infeksi
serviks, vagina yang disertai ISK 40,74% menimbulkan
ancaman persalinan preterm. Beberapa variabel yang diduga
berhubungan dengan variasi angka kejadian ini antara lain
faktor ras, paritas dan sosial ekonomi. Penelitian lain
mendapatkan insiden kelahiran preterm dengan ISK sekitar 9%,
sedangkan pada kelompok kontrol hanya sekitar 5%.
Barangkali batasan-batasan diagnosis dan teknis pemeriksaan
juga berpengaruh pada variasi angka kejadian ini. Dengan
metode pemeriksaan sederhana yaitu pemeriksaan uji celup
LEA di RSCM (1996) didapatkan angka kejadian ISK sebesar
7%. Dikatakan tehnik pemeriksaan ini mempunyai sensitivitas
sebesar 83% dan spesifisitas 86%, akan tetapi metode
pemeriksaan ini bukan merupakan metode pemeriksaan
standar.
14,15,16
Pada penelitian ini didapatkan angka kejadian ISK sebesar
16%. Angka kejadian ISK pada wanita hamil dengan PPI
sebesar 20%, sedangkan di kelompok kontrol sebesar 12%.
Dibandingkan dengan beberapa penelitian di atas, maka angka
kejadian ISK pada penelitian ini cukup besar.
Jika benar faktor ras dan sosial ekonomi berpengaruh
terhadap kejadian ISK, maka data tentang hal ini dapat
berguna. Sayang tidak pernah disajikan ras mana saja yang
mempunyai risiko lebih tinggi untuk terjadinya ISK. Millar LK
mendapatkan angka kejadian ISK pada penduduk miskin
meningkat secara nyata.
17
Rasio Odds
Rasio Odds dihitung untuk mengetahui peranan ISK
terhadap perbedaan risiko partus prematurus iminen. Pada
penelitian ini didapatkan perbedaan paparan ISK antara
kelompok kasus dan kelompok kontrol. Pada kelompok kasus
didapatkan paparan ISK lebih tinggi (5 ISK positif : 20 ISK
negatif) dibandingkan kelompok kontrol (3 ISK positif : 22
ISK negatif). Rasio Odds pada penelitian ini sebesar 1,83
dengan Confidence Interval 95%. Dengan demikian pada
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa risiko partus
prematurus iminen pada wanita hamil dengan ISK 1,83 kali
dibandingkan dengan wanita hamil tanpa ISK.
Noroyono Wibowo menyatakan bahwa bakteriuria
asimptomatik setidaknya dapat meningkatkan risiko persalinan
preterm dua kali lipat. Yanto Kusnawara (RS Kariadi
Semarang, 2001) juga mendapatkan ISK pada ibu hamil yang
mengalami persalinan preterm hampir dua kali lipat daripada
kelompok kontrol (27,6% vs. 14,5%). Penelitian di Bandung
(2002) bahkan mendapatkan risiko kejadian yang jauh lebih
tinggi dengan Rasio Odds sebesar 11,36.
15
Pada penelitian ini
didapatkan risiko persalinan preterm pada wanita hamil dengan
ISK mendekati 2 kali lipat (Rasio Odds 1,83).
Disayangkan data beberapa penelitian hubungan ISK
dengan persalinan preterm masih menjadi perdebatan. Hal ini
didasarkan atas fakta penelitian bahwa tidak terjadi penurunan
kejadian persalinan preterm pada penderita hamil dengan ISK
yang diterapi antibiotika. Tetapi meta-analisis terakhir
menunjukkan ada hubungan antara ISK yang tidak diobati
dengan tingginya angka kejadian persalinan preterm.
16
Population Attributable Risk (PAR)
Pada penelitian ini didapatkan proporsi paparan ISK pada
kasus maupun kontrol sebesar 16% dan rasio odds sebesar
1,83. Dari angka-angka tersebut PAR dapat dihitung dan
besarnya adalah 11,7%. Dengan demikian dapat disimpulkan,
bahwa pencegahan terhadap paparan infeksi saluran kemih
dapat menurunkan risiko partus prematurus iminen sebanyak
11,7%.
Luaran Tambahan
Pada penelitian ini dianalisis juga beberapa variabel yang
berhubungan dengan kejadian ISK, hubungan antara
leukosituria dengan partus prematurus iminen, hubungan ISK
dengan kegagalan perawatan konservatif serta pola
mikroorganisme dan tes resistensi kuman pada kelompok kasus
dan kontrol yang positif ISK. Diantara beberapa variabel
tersebut hubungan antara leukosituria dengan partus
prematurus iminen mempunyai hubungan yang bermakna
(Tabel 3).
Tabel 3. Hubungan antara leukosituria dengan partus prematurus iminen
Subyek Penelitian
Kasus
(PPI)
Kontrol
(Bukan PPI)
Kadar
leukosit
Urine
N % N %
2
P
Leukosit
5/ lpb
10 40,0
2
8,0
Leukosit
< 5/ lpb
15 60,0 23 92.0
7,018
*)
0,018
Total
25 100,0 25 100,0
Keterangan : *) Fisher`s Exact test.
Wanita hamil diyakini merupakan kelompok yang harus
menjalani skrining terhadap ISK dan diterapi bila ditemukan.
Hal ini untuk mencegah komplikasi baik maternal maupun
fetal; di antaranya pyelonefritis yang mencapai 30%, persalinan
preterm serta abortus atau fetal loss lainnya.
18
Dari
Tabel 3 dapat dilihat bahwa terdapat hubungan yang
bermakna antara leukosituria dengan PPI (
2
= 7,018, p =
0,018, OR = 7,67 ; 95% CI : 1,470-39,987). Wanita hamil
dengan leukosit urine
5/ lpb berisiko PPI 7,67 kali lebih besar
bila dibandingkan dengan wanita hamil dengan leukosit urine <
5/lpb.
Pemeriksaan urinalisis dengan leukosit sedimen
5 /lpb
mempunyai hubungan bermakna dengan hasil kultur urine;
pada leukosit sedimen
5 /lpb kemungkinan kultur urine
positif (menderita ISK) 8,3 kali lebih besar dibandingkan
dengan leukosit sedimen < 5/lpb.
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
28
background image
Tabel 4. Hubungan antara leukosituria dengan hasil kultur urine
Kultur urine
Leukosituria
Positif Negatif
Jumlah
5 /LPB
5 7 12
< 5 /LPB
3 35 38
Jumlah
8 42 50
Keterangan:
2
=7.739
OR = 8,3
p = 0,014
Pada Tabel 4 terlihat antara leukosituria dengan hasil
kultur urine terdapat hubungan yang bermakna (p= 0,014); nilai
diagnostik leukosituria dalam menentukan adanya ISK
mempunyai sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 62,5%
dan 83%. Dwi Lingga dalam penelitiannya tentang nilai
diagnostik urinalisis pada penderita ISK juga mendapatkan
hubungan yang bermakna antara hasil kultur urine dengan
leukosit sedimen
5 /lpb dengan sensitivitas dan spesifisitas
masing-masing 98,48% dan 33,3%. Dengan peningkatan
jumlah leukosit dapat mengarahkan diagnosis ISK, tetapi harus
dikonfirmasi dengan biakan urine. Adanya leukosituria tidak
memastikan adanya ISK dan tidak adanya leukosituria tidak
memastikan bahwa tidak ada ISK
19,20
.
E. coli merupakan mikroorganisme yang paling sering
ditemukan pada kultur urine (Tabel 5 dan 6). Test resistensi
kuman menunjukkan sebagian besar sensitif terhadap
antibiotika ; amoksisilin, mesilinam Baktrim, fleroksasin dan
siprofloksasin.
Tabel 5. Pola mikroorganisme dan tes resistensi kuman pada kelompok
kasus
No Jenis
Mikroorganis
me
N
%
Test Resistensi
1
E. coli
2 40 Siprofloksasin,
Klorampenikol,
Fleroksasin, Baktrim, Mesilinam.
2
Proteus
morgagni
E. coli
1 20 Baktrim,
Negram,
Amoksisilin,
Siprofloksasin, Mesilinam,
Klorampenikol, Fleroksasin.
3
Proteus
morgagni
1 20 Siproploksasin,
Klorampenikol,
Fleroksasin
4
Stafilokokus
1
20
Baktrim, Amoksisilin, Augmentin,
Siprofloksasin, Klorampenikol,
Fleroksasin.
Tabel 6. Pola mikroorganisme dan tes resistensi kuman pada kelompok
kontrol
No Jenis
Mikroorganis
me
N %
Test
Resistensi
1
E. coli
Enterobacter
cloacae
1 33,3 Baktrim,
Fleroksasin,
Siprofloksasin.
2 Stafilokokus
1 33,3 Baktrim,
Fleroksasin,
Siprofloksasin.
3
Citrobacter
diversus
1 33,3 Baktrim,
Negram,
Siprofloksasin, Mesilinam,
Klorampenikol, Fleroksasin,
Metisilin.
Banyak referensi yang menunjukkan hubungan antara ISK
dengan persalinan preterm, namun sangat sedikit data studi
tentang pola kuman pada wanita hamil dengan bakteriuria.
Watumbara IG, Wagey F, Warouw N N. (RSUP Manado,
1998) mendapatkan angka kejadian ISK pada wanita hamil
sebesar 24% dan kuman dari isolat urin yang tersering adalah
Pseudomonas (50%), diikuti Paracolon (25%), Proteus
(16,7%) dan Enterobacter (8,3%).
22
Yang tidak kalah
pentingnya adalah data hasil tes kepekaan kuman. Tabel 4 dan
5 menunjukkan bahwa baik pada kasus maupun kontrol
sebagian besar mikroorganisme yang ditemukan sensitif
terhadap Baktrim, siprofloksasin dan fleroksasin. Data ini
sangat penting untuk rasionalitas terapi. Kami berasumsi bahwa
secara bakteriologis pola kuman ISK wanita hamil sama
dengan pada ISK wanita tidak hamil. Kehamilan hanya
merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko ISK dan
memperburuk perjalanan penyakitnya. Lebih dari 95% ISK
terjadi secara ascending dan E. coli merupakan kuman yang
paling sering ditemukan; beberapa kuman yang lain adalah
Proteus dan Klebsiella. Data pola kuman pada pemeriksaan
isolat urin menunjukkan bahwa E. coli menempati urutan
pertama.
18
Resistantie N dan Effendi JS (Bandung) menemukan
E. coli merupakan yang terbanyak (47%) pada pemeriksaan
bakteriuria asimptomatik diikuti oleh Klebsiela pneumoniae
(33%), Pseudomonas cepacia (17%) dan Mikrokokus (3%).
15
Pada penelitian ini di kelompok kasus E. coli merupakan
kuman yang paling sering ditemukan (40%) (Tabel 5). Data-
di atas memperlihatkan bahwa pola kuman di setiap daerah
atau rumah sakit tidak sama. Pada setiap wanita hamil dengan
ISK disarankan untuk diberi antibiotika yang sesuai dengan
mempertimbangkan segi keamanannya baik bagi ibu maupun
janin.
SIMPULAN DAN SARAN
Angka kejadian ISK pada partus prematurus iminen adalah
5/25 (20%) lebih besar dibandingkan dengan angka kejadian
ISK pada kehamilan aterm 3/25 (12%) ; perbedaan ini tidak
bermakna (p = 0,702).
Partus prematurus iminen lebih sering terjadi pada wanita
hamil dengan ISK (Rasio Odds = 1,83 dan CI : 0,387-8.674).
Pencegahan terhadap paparan infeksi saluran kemih dapat
menurunkan risiko partus prematurus iminen sebanyak 11,7%.
Mikroorganisme yang paling sering ditemukan pada wanita
hamil dengan infeksi saluran kemih adalah Escherichia coli
dan sensitif terhadap amoksisilin, mesilinam, Baktrim,
siprofloksasin dan fleroksasin.
Pada penelitian ini semua penderita ISK asimptomatik,
oleh karena itu untuk menurunkan risiko persalinan preterm
akibat ISK, disarankan skrining rutin ISK pada setiap wanita
hamil.
KEPUSTAKAAN
1. Godwin T M. Preterm labor : background and prevention. In : Mishell Dr
Bremen PF, (eds). Management of common problem in obstetric and
gynecology 3th edition. Blackwell scientific publications. 1994; 97-107.
2. Creasy RK. Preterm birth prevention: where are we. Am. J. Obstet
Gynecol. 1993; 168: 1223-30.
3. Greenhagen JB et al, Value of fetal fibronectin as a predictor of preterm
delivery for a low-risk population. Am J. Obstet Gynecol 1996; 175:1054-
6.
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
29
background image
4. Krisnadi SR. Program pencegahan persalinan prematur dalam Kumpulan
makalah POGI cabang Bandung pada Pertemuan Ilmiah Tahunan XII
Palembang, 2001; 36-43.
5. Sudira N. Pencegahan partus prematurus.Dibacakan pada Seminar
meningkatkan kualitas anak dalam era globalisasi. IDAI cabang Bali
1997.
6. Ardhana I K, Suwardewa TGA, Widarsa KT. Perbandingan efektifitas
magnesium sulfat dan ritodrine untuk menghambat proses persalinan
prematur di RSUP Sanglah Denpasar. 1999, Tesis.
7. McDonald HM et al. Prenatal microbiological risk factor associated with
preterm birth Br. J. Obstet Gynecol. 1992; 99: 190-6.
8. Iams J D. Prematurity : prevention and treatment. In : Queenan JT (eds).
Management of high risk pregnancy. Boston:Blackwell Scient. Publ. 1994;
464-75
9. Cuningham FG. Urinary tract infections complicating pregnancy. Baillier's
clin obstet gynaecol. 1, 1994; 891-909.
10. Chamberlain G. dan Dewhurst SJ, alih Bahasa Maulany RF. Masalah
traktus urinarius dalam kebidanan dalam: (eds). Ronardy DH. Obstetri dan
Ginekologi praktis edisi kedua. 1994; 217-223.
11. Spellacy WN. Urinary tract infection. In : High risk pregnancy third
edition, 1994; 408-10
12. Fard S, and fenner D E. Urinary tract infctions. In : Clinical obstetrics and
gynecology. 41, 1998; 744-54.
13. Wibowo P. Infeksi intra amnion sebagai penyebab persalinan prematur.
Lab/SMF obstetri ginekologi RSUD DR. Soetomo/FK UNAIR Surabaya
1994.
14. Noroyono W. Risiko dan pencegahan kelahiran prematur. Dalam : Rulina
S, Hans EM, Pustika A, Dyani K. (eds). Naskah lengkap pendidikan
kedokteran berkelanjutan ilmu kesehatan anak XXXVIII. 1997; 1-9.
15. Resistantie N, Effendi JS. Bakteriuria asimptomatis sebagai faktor risiko
pada persalinan preterm di Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin Bandung. 2002
16. Yost NP, Cox SM. Infection and preterm labor. In : Blanco JD, Keye
WR. Clinical obstetric and gynecology. 43, 2000; 759-67.
17. Millar LK. Urinary tract infections complicating pregnancy. In : Mishell
DR, Brenner PF. Eds.Management of common problems in obstetric and
gynecology 3
th
edition, blackwell scientific publications 1994; 57-61.
18. Rubin RH, Cotran RS, Tolkoff NE. Urinary tract infection, pyelonephritis,
and reflux nephropathy. In : Brenner MB eds. The kidney. 5
th
edition. WB
Saunders Company. 1996; 1597-641.
19. Montessori SM. Bakteriuria asimptomatik pada kehamilan. Lab/SMF
0bstetri dan ginekologi FK UNUD/RSUP Denpasar, 1992.
20. Yogiantoro M. Pengelolaan penderita dengan infeksi traktus urinarius.
Dalam : simposium antibiotika ikatan ahli farmakologi Indonesia cabang
Surabaya, 1997; 39-49.
21. Abadi A. Kontroversi dalam pengelolaan persalinan kurang bulan. Dalam :
Tarjoto BH, Kosim M S, Deliana E, Muarif YS. eds. Naskah lengkap
kongres nasional VII perkumpulan perinatologi indonesia dan simposium
internasional, 2001; 29-45.
22. Watumbara I G, Wagey F, Warouw N N. Bakteriuria asimptomatik pada
wanita hamil. Bag/SMF Obstetri dan Ginekologi FK UNSRAT/RSUP
Manado, 1998.
A fool may make money, but it takes a wise man to spend it.
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
30

Document Outline