HASIL PENELITIAN
Risiko Ancaman Persalinan Preterm
pada Infeksi Chlamydia trachomatis
A.A.N.M.A. Putra Wirawan*, A.A.N. Jaya Kusuma*, D.M. Sukrama**, M. Dharmadi***
*Bagian Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Kedokteran Universitas Udayana /
Rumah Sakit Sanglah Denpasar
** Bagian Ilmu Farmakologi Kedokteran Universitas Udayana /
Rumah Sakit Sanglah Denpasar
*** Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Kedokteran Universitas Udayana
ABSTRAK
Tujuan : Mengetahui besarnya risiko ancaman persalinan preterm pada wanita hamil
dengan infeksi Chlamydia trachomatis.
Bahan dan Cara : Penelitian ini merupakan suatu studi kasus-kontrol. Dari 40
sampel yang memenuhi kriteria inklusi, 20 sampel masuk dalam kelompok kasus dan
20 sampel masuk dalam kelompok kontrol. Sampel diambil di Kamar Bersalin dan di
Poliklinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Pada kedua kelompok dilakukan
pengambilan swab endoserviks kemudian dilakukan pemeriksaan PCR untuk
mengetahui adanya bakteri Chlamydia trachomatis.
Hasil : Infeksi Chlamydia trachomatis didapatkan pada 80,00 % kelompok kasus,
sedangkan pada kelompok kontrol sebanyak 25,00 % . Secara stastistik kejadian
infeksi pada kelompok kasus lebih tinggi secara bermakna bila dibandingkan dengan
kelompok kontrol ( p=0,001; rasio odds 12,00; 95 % IK:2,70 53,33).
Simpulan : Risiko ancaman persalinan preterm pada wanita hamil dengan infeksi
Chlamydia trachomatis 12,00 kali lebih besar dibandingkan dengan wanita yang tidak
menderita infeksi Chlamydia trachomatis. Risiko tersebut secara statistik bermakna.
Saran : Swab endoserviks dan pemeriksaan PCR sebaiknya dikerjakan pada kasus
wanita hamil dengan ancaman persalinan preterm.
Kata Kunci : Infeksi Chlamydia trachomatis, ancaman persalinan preterm,PCR
PENDAHULUAN
Persalinan preterm masih merupakan masalah perinatologi
karena baik di negara berkembang maupun negara maju
penyebab morbiditas dan mortalitas neonatus yang terbanyak
adalah bayi yang lahir prematur.
1
Angka kejadian persalinan preterm sangat bervariasi. Di
Amerika (1981 1989) didapatkan 9 11%.
2
Di Kalifornia
(1996) sebesar 7,4%.
3
Di Indonesia berkisar antara 10 20%
dan di bagian Obstetri dan Ginekologi RS Sanglah Denpasar
(1999) didapatkan sebesar 17,1%. Ardhana dal
penelitiannya di RSUP Denpasar (1998) mendapatkan angka
8,65%.
4
am
Angka kejadian infeksi Chlamydia trachomatis yang
menyebabkan persalinan preterm bervariasi.
6
Marti dkk.
(1982) melaporkan peningkatan angka mortalitas perinatal
Dewasa ini kekerapan infeksi Chlamydia trachomatis yang
merupakan penyakit akibat hubungan seksual makin tinggi.
Prevalensi infeksi Chlamydia trachomatis pada serviks wanita
hamil antara 2 37%.
5
Infeksi serviks oleh Chlamydia
trachomatis yang laten merupakan predisposisi untuk hasil
akhir kehamilan yang jelek, salah satunya disebabkan oleh
korioamnionitis asenden. Ditemukan banyak bukti yang
memperlihatkan bahwa paling tidak sepertiga wanita dengan
persalinan preterm mengalami korioamnionitis tersembunyi.
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004 21
sebanyak sepuluh kali lipat dan peningkatan angka kelahiran
preterm sebanyak lima kali lipat pada sekelompok wanita hamil
yang ditemukan tanda positif untuk infeksi Chlamydia
trachomatis pada awal kehamilan.
6
Sweet dkk. (1987)
mendapatkan bahwa wanita dengan bukti infeksi Chlamydia
trachomatis yang baru terjadi lebih cenderung mengalami
persalinan preterm.
6
Umenai T. (1999) mendapatkan infeksi
Chlamydia trachomatis pada wanita hamil sebesar 24,5%.
7
Paul VK. (1999) melaporkan prevalensi infeksi Chlamydia
trachomatis pada kehamilan pertengahan adalah 17%.
8
Ngassa
PC. (1994) pada penelitiannya di Kamerun mendapatkan nilai
odd ratio 2,8 ( 95% C.I. 1.13-6.97 ) pada wanita hamil yang
terinfeksi Chlamydia trachomatis.
9
Shenoy (2002) melakukan
apusan serviks terhadap 450 wanita hamil, 70 wanita ( 15%)
positif untuk antigen Chlamydia trachomatis, sebagian besar
(89,1%) usianya di bawah 30 tahun. Dari 98 persalinan
preterm, 42 kasus (42,8%) positif terinfeksi Chlamydia
trachomatis.
10
Ville Y. (1997) mendapatkan 20 dari 89 wanita
hamil preterm (23%) positif terinfeksi Chlamydia
trachomatis.
11
Data tersebut merangsang beberapa pakar
peneliti untuk menyelidiki manfaat pemberian antibiotika
kepada ibu hamil yang mengalami ancaman persalinan preterm
untuk dapat memperpanjang kehamilan.
6
BAHAN DAN CARA KERJA
Rancangan penelitian ini adalah studi kasus kontrol.
Berdasarkan perhitungan statistik diperlukan 40 pasien untuk
sampel penelitian ( 20 wanita hamil dengan ancaman
persalinan preterm sebagai kasus dan 20 wanita hamil preterm
tanpa ancaman persalinan preterm sebagai kontrol ). Terhadap
subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan
pemeriksaan hapusan/swab pada endoserviks sedalam satu
sentimeter. Bahan tersebut dimasukkan ke dalam tabung berisi
cairan fisiologis. Kemudian dilakukan pemeriksaan PCR DNA
Chlamydia trachomatis di Laboratorium Biomedik RSU
Mataram. Data disajikan dalam bentuk tabel dan dilakukan uji
chi square.
HASIL DAN DISKUSI
Penelitian dikerjakan di Poliklinik Kebidanan dan Penyakit
Kandungan serta di Kamar Bersalin dari 1 Januari 2003 sampai
dengan 30 Mei 2003. Selama kurun waktu tersebut berhasil
didapat 40 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan setuju
ikut serta dalam penelitian ini. Dari 40 sampel tersebut, 20
sampel termasuk dalam kelompok kasus (dengan ancaman
persalinan preterm). Sedangkan 20 sampel sisanya merupakan
kelompok kontrol (tanpa ancaman persalinan preterm).
Sebelum melakukan analisis statistik terhadap variabel
Chlamydia trachomatis yang merupakan kuman utama
penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan uji komparabilitas
sampel antara kelompok kasus dan kelompok kontrol; berbagai
variabel yang diperkirakan dapat mempengaruhi hasil
penelitian pada kedua kelompok, dibandingkan dengan
menggunakan uji t untuk variabel hemoglobin, dan Fisher's
Exact test untuk variabel leukosit urine dan bakteriuria pada
kedua kelompok yang dibandingkan (Tabel 1, 2, 3).
Tabel 1. Uji t variabel hemoglobin pada kelompok kasus dan kontrol
Kelompok
Kasus
Kelompok
Kontrol
Variabel
Rerata SD Rerata SD
T
P
Hemoglobin
( gr / % )
11,49 0,90 11,10 0,52 1,65 0,11
(TS*)
Keterangan : TS* = tidak signifikan ; p>0,05
Hemoglobin.
Pada penelitian ini rerata kadar hemoglobin pada kelompok
kasus 11,49
± 0.90 g %. Sedangkan rerata kadar hemoglobin
pada kelompok kontrol adalah 11,10
± 0,52 g % (nilai t = 1,65
dan p = 0,11; 95 % IK : - 8,76 0,86). Pada keadaan defisiensi
besi yang pertama kali mengalami penurunan adalah serum
ferritin sebelum penurunan serum besi. Penurunan konsentrasi
hemoglobin terjadi paling akhir; pada keadaan ini red cell
mean cell volume juga akan mengalami penurunan yang
merupakan indikasi pertama pada wanita hamil dengan
defisiensi besi. Hal ini akan mempengaruhi sintesis
hemoglobin, juga berpengaruh pada ikatan besi dengan enzim
besi (iron defendant enzym) yang bermanifestasi pada setiap
sel. Keadaan ini pada akhirnya akan mempengaruhi fungsi
tubuh seperti gangguan fungsi otot, aktifitas neurotransmiter,
kelelahan, proses epitelisasi dan gangguan fungsi gastro-
intestinal.
12
Defisiensi besi dapat menyebabkan berbagai efek pada
fungsi sel, hal ini mungkin dapat menjelaskan hubungan antara
defisiensi besi selama kehamilan dengan persalinan preterm.
12
Pada penelitian ini tidak dilakukan pemeriksaan serum ferritin
untuk mengetahui tanda-tanda awal adanya defisiensi besi,
pemeriksaan hemoglobin hanya dilakukan pada saat kasus dan
kontrol datang untuk melakukan pemeriksaan dan memenuhi
kriteria inklusi.
Tabel 2. Fisher's Exact Test variabel leukosit urine pada kelompok kasus
dan kontrol
Kelompok Kasus
Kelompok
Kontrol
Variabel
N % N %
X
2
p
Leukosit Urine
> 5/lpb
2 10,0 0 0
Leukosit Urine
1 4 /lpb
18 90,0 20 100,0
2,11
*)
0,49
TOTAL 20 100,0 20 100,0
Keterangan : Fisher's Exact Test
Kadar Leukosit Urine.
Jumlah leukosit urine pada penelitian ini juga tidak
berbeda bermakna (Tabel 2) sehingga pengaruh variabel kadar
leukosit urine dalam penelitian dapat diabaikan.
Adanya leukosit dalam urine tidak memastikan adanya ISK
dan tidak adanya leukosit dalam urine juga tidak memastikan
tidak ada ISK.
13,14
Bakteriuria.
Kasus bakteriuria pada penelitian ini tidak berbeda
bermakna sehingga pengaruh variabel bakteriuria dalam
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
22
penelitian ini dapat diabaikan. (Tabel 3).
Bakteriuria asimtomatis adalah didapatkannya 100.000
atau lebih satu spesies kuman dalam 1 ml urine tanpa gejala
khas. Pada pemeriksaan mikroskopis urine yang dikerjakan
dengan baik yaitu : volume 10 ml, porsi tengah, diputar 2000
putaran per menit selama 5 menit dan endapan disuspensi
kembali dengan 0,5 ml urine, maka adanya lebih 5 leukosit tiap
lapang pandang menunjukkan adanya ISK. Meskipun demikian
sudah lama diketahui bahwa tidak semua bakteriuri disertai
leukosuri, dan tidak semua leukosuri disertai bakteriuri.
13
Tabel 3. Fisher's Exact Test variabel bakteriuria pada kelompok kasus
dan kontrol
Kelompok
Kasus
Kelompok
Kontrol
Variabel
N % N %
X
2
p
Bakteriuria
Positif
4 20,0 3 15,0
Bakteriuria
Negatif
16 80,0 17 85,0
1,42
*)
1,00
TOTAL 20 100,0 20 100,0
Keterangan : Fisher's Exact Test
LUARAN UTAMA
Diagnosis
infeksi
Chlamydia trachomatis pada penelitian
ini ditentukan melalui pemeriksaan PCR. Sampel dinyatakan
menderita infeksi Chlamydia trachomatis jika pada
pemeriksaan PCR dijumpai kuman Chlamydia trachomatis (Ct
+). Sebaliknya tidak menderita infeksi Chlamydia trachomatis,
bila pada pemeriksaan PCR kuman Chlamydia trachomatis
negatif (Ct -).
Proporsi Infeksi Chlamydia trachomatis
Pada kelompok kasus didapatkan 16 dari 20 sampel
(80,00%) menderita infeksi Chlamydia trachomatis (Ct +);
sedangkan pada kelompok kontrol 5 dari 20 sampel (25,00%)
menderita infeksi Chlamydia trachomatis (Ct +). Secara
keseluruhan dari 40 sampel kelompok kasus dan kelompok
kontrol didapat 21 (16 + 5) 40% kasus infeksi Chlamydia
trachomatis (Ct+); proporsi infeksi Chlamydia trachomatis di
kelompok kasus lebih tinggi daripada di kelompok kontrol
(Tabel 4).
Tabel 4. Proporsi, Uji X
2
, dan rasio odds pada kelompok kasus dan
kontrol.
Kelompok
Kasus
Kelompok
Kontrol
Variabel
Jml % Jml %
X
2
P
Ct +
16
80.00
5
25,00
21(52,50)
Ct -
4
20,00
15
75,00
19 (47,50)
TOTAL 20 100,0 20 100,0 40
(100,00)
X
2
= 12,13
P=0,001(S*)
RO = 12,00
Keterangan : S* berarti signifikan (P<0,05)
RO : Rasio Odds
Untuk mengetahui perbedaan kejadian infeksi Chlamydia
trachomatis pada kelompok kasus dan kelompok kontrol
dilakukan uji statistik Chi Square. Seperti telah diketahui
kejadian infeksi Chlamydia trachomatis pada kelompok kasus
adalah sebesar 80,00 %. Sedangkan kejadian infeksi Chlamydia
trachomatis pada kelompok kontrol adalah sebesar 25,00 %.
Analisis statistik dengan uji Chi square menghasilkan X
2
:
12,13 dan p= 0,001; 95 % IK : 2,70 53,33 (p < 0,05). Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa risiko ancaman persalinan
preterm pada infeksi Chlamydia trachomatis berbeda bermakna
dengan yang tidak terinfeksi Chlamydia trachomatis .
Untuk mengetahui risiko ancaman persalinan preterm pada
pasien dengan infeksi Chlamydia trachomatis dihitung rasio
odds (Tabel 4). Ternyata paparan infeksi Chlamydia
trachomatis dapat meningkatkan risiko ancaman persalinan
preterm 12,00 kali dibandingkan dengan tanpa paparan infeksi
Chlamydia trachomatis ( 95 % IK : 2,70 53,33).
Infeksi serviks oleh Chlamydia trachomatis merupakan
akhir kehamilan yang jelek. Kejadian ini disebabkan oleh
korioamnionitis yang asenden. Ditemukan banyak bukti bahwa
paling tidak sepertiga wanita dengan persalinan preterm
mengalami korioamnionitis yang tersembunyi. Adanya infeksi
akan menimbulkan respon leukosit polimorfonuklear dan
diikuti oleh infiltrasi limfosit, makrofag dan plasma sel ke
dalam jaringan.
6
Infeksi oleh kuman Chlamydia trachomatis akan
mengeluarkan LPS yang akan meningkatkan produksi
prostaglandin melalui makrofag amnion, desidua. Infeksi ini
akan mengaktifkan makrofag sehingga menghasilkan sitokin
(agen bioaktif) yang terdiri dari interleukin 1 (Il-1), interleukin
6 (Il-6), interleukin 8 (Il-8), tumor necrotic factor (TNF),
platelet activity factor (PAF), dan colony stimulating factor
(CSF).
15
Interleukin 1 (Il-1) merangsang produksi prostaglandin
lewat amnion dan desidua. TNF diproduksi oleh desidua akibat
aktifitas makrofag akibat infeksi Chlamydia trachomatis yang
juga akan merangsang produksi prostaglandin. Jadi
pengeluaran sitokin ini akan merangsang pelepasan
prostaglandin dari asam arakhidonat. Mekanisme ini berpotensi
memicu persalinan karena menyebabkan kontraksi miome-
trium.
15,16
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya
peranan infeksi Chlamydia trachomatis sebagai faktor risiko
ancaman persalinan preterm. Penelitian kami mendapat 16/20
(80,00 %) ancaman persalinan preterm dengan infeksi
Chlamydia trachomatis. Pada penelitian Shenoy S. dkk. (2000)
dari bulan Juli 1995 sampai dengan Mei 1997, dari 450 wanita
hamil yang menjalani pemeriksaan swab serviks, 70 wanita
(15,00 %) positif untuk antigen Chlamydia trachomatis. Dan
dari 450 wanita hamil tersebut 98 kasus dengan persalinan
preterm; 42 kasus di antaranya (42,80 %) positif terinfeksi
Chlamydia trachomatis.
10
Persamaan penelitian kami dengan
Shenoy S adalah dalam hal teknik pengambilan sampel, namun
berbeda cara pemeriksaannya; penelitian kami menggunakan
PCR untuk mendeteksi DNA Chlamydia trachomatis
sedangkan Shenoy S mendeteksi antigen Chlamydia
trachomatis dengan tehnik immuno fluoresensi.
Osborne dkk. (1998) melaporkan prevalensi infeksi
Chlamydia trachomatis pada wanita hamil sebesar 34,40 %
dengan pemeriksaan Indirect Immunoperoxidase.
10
Ngassa PC
dkk. ( 1994 ) meneliti 126 wanita dengan umur kehamilan 28
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004 23
34 minggu dengan melakukan pemeriksaan serologis dan
kultur swab serviks, mendapatkan rasio odds persalinan
preterm oleh infeksi Chlamydia trachomatis genital sebesar
72,59 (exact 95 % CI : 0,99 7,14 ) ; O.R MH ( Mantel
Haenszel ) 2,80 ( appr. 95 % CI: 1,13 6,97 ). Proporsi wanita
dengan Chlamydia trachomatis positif pada swab serviks
antara kasus dan kontrol berbeda bermakna ( Fisher's exact test
p = 0,02 ).
9
Ada persamaan dalam hal pengambilan sampel,
sedangkan Ngassa menggunakan pemeriksaan serologis dan
kultur. Odds ratio baik pada penelitian kami maupun Ngassa
secara statistik berbeda bermakna.
Claman P dkk. ( 1995 ) mendapatkan 21/103 (20 %)
wanita hamil seropositif untuk antibodi Ig G Chlamydia
trachomatis. Persalinan preterm di kalangan wanita
seropositif lebih banyak dibandingkan di kalangan wanita
seronegatif ( 24 % [5/21] vs. 7 % [ 6/82 ] p = 0,029, odds
ratio 3,96, 95 % CI : 1,08 14,27 ).
17
Villy Y dkk. (1997) melakukan swab endoserviks terhadap
89 wanita hamil dengan umur kehamilan dari 18 - 36 minggu (
rata rata 27 minggu ) dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan
ultrasonografi. Kemudian dilakukan pemeriksaan PCR untuk
Chlamydia trachomatis menggunakan primer cryptic plasmid
yaitu:
primer 1 :5'TCTTTCATCTCATTACCA3, dan
primer 2:5' CAATCTGCTCGTGAAAAAAGTACTAAC3'.
Didapatkan amplifikasi DNA Chlamydia trachomatis positif
pada 20/89 (23,00 %) swab endoserviks ancaman persalinan
preterm.
11
. Penelitian ini mempunyai persamaan dengan
penelitian kami dalam hal pengambilan bahan sampel dengan
cara swab/hapusan endoserviks, pemeriksaan PCR untuk
deteksi DNA Chlamydia trachomatis, dan cara interpretasi
dengan mendapatkan amplifikasi DNA Chlamydia trachomatis
pada swab endoserviks.
Rastogi dkk. (1999 ) melakukan penelitian kohort terhadap
122 wanita hamil yang datang ke klinik antenatal untuk
menentukan prevalensi infeksi Chlamydia trachomatis genital.
Dilakukan swab endoserviks pada wanita dengan kehamilan
lebih dari 12 minggu, kemudian dikultur. Didapatkan infeksi
Chlamydia trachomatis pada 21,30 %. Kemudian 87 wanita
hamil diikuti persalinannya di rumah sakit; didapatkan
peningkatan insiden lahir mati, prematur dan berat badan lahir
rendah pada wanita hamil yang positif terinfeksi Chlamydia
trachomatis ( 16,6 % vs 5,7 % , 26,6 % vs 18,4 % , 26,6 % vs
23,0 %), yang bermakna secara statistik ( p
< 0.5 , p < 0.5 , p
< 0.05 ).
18
Perbedaan penelitian Rastogi dengan kami adalah
dalam hal rancangan penelitian; mereka menggunakan
rancangan kohort, sedangkan penelitian kami menggunakan
rancangan kasus kontrol; juga berbeda dalam hal
pemeriksaan sampel, Rastogi melakukan pemeriksaan kultur,
dan kami dengan pemeriksaan PCR DNA. Persamaannya
adalah teknik pengambilan sampel. Kedua penelitian ini sama
sama menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik
Population attributable risk (PAR) merupakan besarnya
persentase kejadian ancaman persalinan preterm yang dapat
dicegah dengan menghilangkan faktor risiko paparan infeksi
Chlamydia trachomatis. Pada penelitian ini didapatkan nilai
PAR 85,52 %. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa
bila faktor risiko infeksi Chlamydia trachomatis dihilangkan
maka dapat mencegah kasus ancaman persalinan preterm
sebanyak 85.52 %.
Tujuan yang paling penting dari strategi pencegahan
infeksi Chlamydia trachomatis adalah mencegah penularan
termasuk pencegahan infeksi perinatal. Strategi pencegahannya
yaitu :
19
· Perubahan perilaku yang mengurangi risiko terjadinya atau
penularan infeksi Chlamydia trachomatis, misalnya : tidak
berganti ganti pasangan seks, menyeleksi pasangan seks,
menggunakan alat kontrasepsi ( kondom )
· Mengidentifikasi dan mengobati penderita infeksi
Chlamydia trachomatis, sebelum mereka menularkan
kepada pasangan seksnya, dan untuk wanita hamil sebelum
mereka menularkan pada bayinya. Upaya mendeteksi
infeksi Chlamydia trachomatis adalah sangat penting untuk
mencegah penularan. Identifikasi dan pengobatan infeksi
Chlamydia trachomatis membutuhkan skrining yang aktif
karena baik pada wanita maupun laki-laki biasanya tidak
menunjukkan gejala.
Pada wanita hamil sebaiknya dilakukan skrining untuk
Chlamydia trachomatis pada trimester ke dua sehingga dapat
diobati dengan pemberian antibiotika.
18,19
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
· Risiko ancaman persalinan preterm pada infeksi Chlamydia
trachomatis 12,00 kali lebih besar dibandingkan dengan
pasien tanpa infeksi Chlamydia trachomatis.
· Proporsi infeksi Chlamydia trachomatis pada penderita
dengan ancaman persalinan preterm adalah 16/20 (80,00
%), lebih besar dibandingkan dengan kejadian pada
penderita tanpa ancaman persalinan preterm (5/20 -
25,00%), dan secara statistik berbeda bermakna (p=0,001)
· Risiko ancaman persalian preterm dapat diturunkan 85,52%
bila infeksi Chlamydia trachomatis dapat dicegah.
Saran
· Perlu dilakukan pemeriksaan swab endoserviks pada wanita
hamil yang melakukan perawatan antenatal di poliklinik
Obstetri Rumah Sakit Sanglah Denpasar untuk
mendiagnosis dini infeksi Chlamydia trachomatis sehingga
dapat mengurangi risiko ancaman persalinan preterm
dengan memberikan antibiotika.
KEPUSTAKAAN
1. Godwin TM. Preterm labor; background and prevention. In: Mishell DR.
Brenner PF, eds. Management of common problem in Obstetric and
Gynecology 3rd (eds). Blackwell Scient. Publ. 1994; 97 107.
2. Creasy R. Preterm birth prevention: Where are we. Am J. Obstet. Gynecol.
1993; 168 : 1223 30.
3. Greenhagen JB et al. Value of fetal fibroectin as a predictor of preterm
delivery for a low risk population. Am. J. Obstet Gynecol. 1996; 175: 1045
6.
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
24
4. Ardhna I K, Suwardewa TGA, Widarsa KT. Perbandingan efektifitas
magnesium sulfat dan ritodrin untuk menghambat proses persalinan
prematur di RSUP Sanglah Denpasar. Tesis,1999,
5. Hanifa W, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Penyakit dan kelainan yang
tidak langsung berhubungan dengan kehamilan. Ilmu Kebidanan. Yayasan
Bina Pustaka. Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 1994; 554 6.
6. Cunningham FG, Mac Donald FC, Gant NF. Kelainan medis dan bedah
yang mempersulit kehamilan, dalam Obstetri Willams edisi 18, EGC
Penerbit BukuKedokteran.1995; 1027 29.
7. Umenai T, Sakano S, Suzuki K. Study on Chlamydia trachomatis infection
among student and pregnant women in Japan. Medline ® 1999/01-
1999/10. 1999 (abstract).
8. Paul VK, Sight M, Gupta V. Chlamydia trachomatis infection among
pregnant women: prevalence and prenaatal importance.Medline ®
1999/01-1999/10.1999 (abstract).
9. Ngassa PC, Egbe JA. Maternal genital Chlamidia trachomatis infection
and the ride of preterm labor. Internat. J. Gynaecol Obstet 1994;47. 241-6.
(abstract).
10. Shenoy S, Sakano S, Suzuki K. Study on Chlamydia trachomatis infection
among student and pregnant women in Japan. Medline ® 1999/01-
1999/10. 1999 (abstract).
11. Ville Y.Carrol SG, Watts P. Chlamydia trachomatis in prelabour
amniorrhexis. Br. J. Obstet.Gynaecol. 1997; 104: 1091-9.
12. Elizabeth A, Letsky, Warwick. Hematological problem. In : James DK.
High risk pregnancy, management options. W B Saunders Co. Ltd. 1994;
337 45.
13. Montessori SM. Bakteriura asimtomatik pada kehamilan. Lab/SMF
Obstetri dan Ginekologi FK UNUD/RSUP Denpasar. 1992.
14. Yogiantoro M. Pengelolaan penderita dengan infeksi traktus urinarius.
Dalam : Simposium antibiotika Ikatan Ahli Farmakologi Indonesia cabang
Surabaya.1997 : 39 49.
15. Jones RB. Chlamydial Diseases. In : Principles and Practice of Infectious
Diseases 14 ed. Churchill Livingstone.1995 : 1676 8.
16. Wibowo P. Infeksi intra amnion sebagai penyebab persalinan prematur.
Lab/SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD Dr.Soetomo/ FK Unair,
Surabaya.1994.
17. Claman P, Toye B, Peeling RW, et al. Serologic evidence of Chlamydia
trachomatis infection and risk of preterm. CMAJ 1995; 153 (3) : 259-62.
18. Rastogi S, Kapur S, Salhan S, et al. Chlamydia trachomatis infection in
pregnancy : risk factor and adverse outcome. Br. J. Biomed Sci. 1999; 56
(2): 94-8.
19. Stuart M, Berman MD , Carl H, et al. Recommendations for the prevention
and management of Chlamydia trachomatis infection. US Department of
Health and Human Services . 1993 : 1 - 9
KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE OKTOBER DESEMBER 2004
Bulan Tanggal
KEGIATAN
Tempat dan Sekretariat
1 - 2
Symp. Heart-Brain Interaction ke-2
Makassar; Telp: 021-3917349; Fax: 021-2305856
Email : sekretariat@perdossi.or.id
1 - 2
The 6th National Symposium on Brain and Heart :
From New Emerging Risk Factors to Sophisticated
Interventions in Brain and Heart Atherosclerosis
Hotel Hyatt Regency, Bandung
Telp: 022-2039592; Fax: 022-2041337
Email : ikki_westjava@yahoo.com
1 - 3
Pertemuan Ilmiah Nasional ke-2 PB PAPDI
Sanur Paradise Plaza Hotel, Bali
Telp: 021-31931384, 021-3918301 pst 6703, 021-
31930808; Email : pb_papdi@indo.net.id
6 - 9
Seminar Nasional VI PERSI dan Hospital Expo XVII
2004
Jakarta Convention Center
Telp : 021-53677981, 53677982; Fax: 021-53677983
Email : osi@pdpersi.co.id; Website : www.okta.co.id
7 - 9
16th WECOC: Women's Cardiovasculer Health:
Upstream to Downstream
Hotel Shangri-La Jakarta
Telp: 021-5684085; Fax: 021-5608902
7 - 9
3rd Indonesian Biotechnology Conference
Denpasar - Bali, Indonesia; Telp: 0361-704625; Fax:
0361- 704625; Email : IBC2004@brawijaya.ac.id,
subekti@nikkoindonesia.com
7 - 10
Seminar & Workshop Pengembangan Kurikulum
Informatika Kesehatan berbasis kompetensi
Jogjakarta Plaza Hotel
Telp: 0274-902511, 562139; Fax: 0274-561196
Email: cmhpe_fkugm@yahoo.com
7 - 10
Clinical Course and Annual Meeting of Nephrology
2004
Hotel Sheraton Mustika, Yogyakarta
Telp: 0274-553120; Fax: 0274-553120
Email : pernefriyogya2004@yahoo.com
8 - 10
Annual Scientific Meeting DIGM III : Update in
Paediatric and Cardiovacular Diseases
Hotel Borobudur, Jakarta
Telp: 021-4532202; Fax: 021-4535833
Email : digm@globalmedicaonline.com,
globalmedica@link.net.id
Oktober
9 - 10
Jakarta Diabetes Meeting 2004: Optimizing Efforts in
the Prevention of Type 2 DM
Hotel Gran Melia Jakarta
Telp: 021-3928658, 3907703; Fax: 021-3928659; Email:
endocrin@rad.net.id
Nopember
24 - 30
1st South East Asian Course on Serology and
Laboratory Methods : The Diagnosis of Leptospirosis
Makassar; Telp : 0411-586971; Fax: 0411-586971
Email : agneskwe@indosat.net.id; Website :
www.kit.nl/biomedical_research/training_consultancies.asp
4 - 5
Jakarta Endocrinology Meeting: Update on Thyroid
and Pituitary
Jakarta; Telp: 021-3928658, 3907703; Fax: 021-3928659;
Email: endocrin@rad.net.id
6 - 16
The 6th Training of OHP Pratama
Bidakara, Jakarta; Telp: 021-79184052;
Email: ppidki@rad.net.id
Desember
8 - 11
6th RESPINA : The Glitters of Respiratory Care
Jakarta Convention Center
Telp : 021-4786 4646; Fax: : 021-4786 6543
Email : info@respina.com; Website : www.respina.com
Informasi terkini, detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www.kalbe.co.id/calendar>>Complete
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004 25
Document Outline