background image
HASIL PENELITIAN
Korioamnionitis Histopatologik
sebagai Risiko Persalinan Preterm
di RS Sanglah Denpasar
K. Suardana*, A.A.N. Jaya Kusuma*, K. Suwiyoga*, A.A.A.N. Susraini**
*Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana /
Rumah Sakit Sanglah Denpasar
**Bagian / SMF Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana /
Rumah Sakit Sanglah Denpasar
ABSTRAK
Tujuan : Mengetahui peranan korioamnionitis histopatologik sebagai faktor risiko
terjadinya persalinan preterm.
Subyek dan cara kerja : Penelitian ini merupakan suatu studi kohort retrospektif, 27
sampel dengan paparan korioamnionitis dan 27 sampel lainnya tanpa paparan
korioamnionitis. Penelitian dilakukan di kamar bersalin RS Sanglah Denpasar.
Diagnosis korioamnionitis ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologik.
Hasil : Persalinan preterm terjadi pada 62,96 % kelompok dengan paparan
korioamnionitis dan pada 22,22 % kelompok tanpa paparan korioamnionitis. Kejadian
persalinan preterm pada kelompok dengan paparan korioamnionitis 2,83 kali lebih
tinggi (RR 2,83, CI 95 %:2,33 ­ 4,96,
2=9,16, p = 0,002).
Sebanyak 47,78 % kejadian persalinan preterm dapat dicegah jika korioamnionitis
dihilangkan.
Kesimpulan : Risiko persalinan preterm pada wanita dengan korioamnionitis 2,83
kali lebih besar dibandingkan dengan wanita tanpa korioamnionitis.
Kata kunci : Korioamnionitis histopatologik, persalinan preterm.
PENDAHULUAN
Pada tahun-tahun belakangan ini, persalinan preterm
menjadi perhatian utama dalam bidang obstetri; karena erat
kaitannya dengan morbiditas dan mortalitas perinatal. Di
Amerika Serikat angka kejadian persalinan preterm berkisar 6
­ 10 %
(1)
. Di Asia Tenggara sekitar 3 juta kasus setiap
tahunnya sedangkan di Indonesia masih di atas 10%.
(2)
. Di
RSUP Denpasar angka kejadian persalinan preterm 7,44%
(1996), meningkat menjadi 8,65% antara Oktober 1997 sampai
Januari 1999.
(3)
.
Persalinan preterm merupakan penyebab utama yaitu 60-
80% morbiditas dan mortalitas neonatal di seluruh dunia. Di
RSUP Ciptomangunkusumo (1986) angka kematian perinatal
adalah 70 per 1000 kelahiran hidup dan 73% dari seluruh
kematian tersebut disebabkan oleh prematuritas. Di RS Kariadi
(1995) angka kematian perinatal 44,7 per 1000 kelahiran
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004 17
background image
dengan penyebab utama prematuritas sebesar 40%.
(3)
.
Penyebab pasti persalinan preterm sampai saat ini belum
diketahui. Beberapa keadaan yang dianggap sebagai faktor
risiko persalinan preterm adalah ketuban pecah dini, infeksi
cairan amnion, anomali hasil pembuahan, riwayat persalinan
preterm sebelumnya atau abortus, overdistensi uterus, kematian
janin, inkompetensi serviks, kelainan uterus, plasentasi yang
salah, retensi IUD, kelainan medis pada ibu, induksi persalinan
elektif, dan sebab-sebab yang tidak diketahui.
(4,5)
Beberapa tahun terakhir diduga ada hubungan antara
persalinan preterm dengan korioamnionitis yaitu terjadinya
invasi bakteri atau mikoplasma di selaput ketuban dan cairan
amnion. Meskipun insidennya tidak diketahui namun makin
banyak bukti menunjukkan bahwa mungkin sepertiga dari
persalinan preterm berkaitan dengan korioamnionitis.
(4,5,6).
Masalahnya adalah tidak semua korioamnionitis manifes secara
klinis, tetapi meskipun secara klinis belum muncul, hal ini
sudah cukup untuk merangsang timbulnya prostaglandin yang
menentukan terjadinya persalinan. Bobitt et al.(1981)
mengaspirasi cairan amnion pada wanita yang mengalami
persalinan preterm untuk dikultur; ternyata ditemukan
mikroorganisme dan disebut sebagai korioamnionitis
histopatologis pada 25% kasus; 75% wanita yang kulturnya
positif tidak demam.
(7).
Penelitian Salafia et al. (1989) menunjukkan berbagai
derajat korioamnionitis terjadi pada 4% persalinan aterm tanpa
komplikasi ; 1,2% di antaranya korioamnionitis tanpa gejala
klinis. Peneliti lain mendapatkan kejadian persalinan preterm
pada korioamnionitis histopatologis 69,7%, dibandingkan pada
non korioamnionitis histopatologis sebesar 22,6%.
(8)
BAHAN DAN CARA KERJA
Rancangan penelitian ini adalah suatu studi kohort
retrospektif. Sampelnya adalah ibu hamil dengan umur
kehamilan 28 - 42 minggu yang datang bersalin ke RS Sanglah,
yang memenuhi kriteria inklusi dan setuju diikutkan dalam
penelitian. Korioamnionitis ditentukan melalui pemeriksaan
histopatologik. Diambil masing - masing 27 sampel untuk
kelompok dengan faktor risiko dan tanpa faktor risiko,
selanjutnya ditelusuri seolah - olah secara prospektif apakah
terjadi efek atau tidak. Data dikumpulkan kemudian ditabulasi
dan diolah dengan komputer SPSS 10,0 dan dianalisis dengan
menggunakan Chi Square (
2
).
HASIL DAN DISKUSI
Penelitian dikerjakan di Kamar Bersalin Rumah Sakit
Sanglah Denpasar mulai 18 Januari 2003 sampai dengan 29
Januari 2004. Selama kurun waktu tersebut berhasil
dikumpulkan 61 sampel yang memenuhi kriteria dan setuju ikut
dalam penelitian ini. Dari 61 sampel tersebut, setelah
pemeriksaan histopatologik selaput ketuban dan plasenta
didapatkan 34 sampel dengan tanda keradangan
(korioamnionitis +) tetapi hanya 27 sampel pertama yang
diambil, yang selanjutnya dijadikan kelompok dengan faktor
risiko; dan 27 sampel tanpa tanda keradangan (korioamnionitis
-) yang selanjutnya dijadikan kelompok tanpa faktor risiko.
Uji Komparabilitas Sampel
Sebelum melakukan analisis statistik terhadap variabel
bebas yang dalam hal ini adalah paparan keradangan (
korioamnionitis ) yang diperkirakan mempengaruhi kejadian
persalinan preterm ( variabel tergantung ), terlebih dahulu
dilakukan uji komparabilitas terhadap berbagai variabel yang
juga diperkirakan dapat mempengaruhi hasil penelitian ini
antara lain adalah umur ibu, paritas, kadar hemoglobin dan
jumlah leukosit dalam darah ibu.
Tabel 1. Uji t beberapa variabel pada kelompok dengan dan tanpa
paparan korioamnionitis
Korioamnionitis
(+)
Korioamnionitis
(-)
Variabel
Rerata SD Rerata SD
T
p
Umur 24,00
3,94
25,63
4,17
-1,48
0,15*
Paritas 0,33
0,48
0,56
0,58
-1,54
0,13
*
Hemoglobin 11,93 1,10 11,88 1,16 0,17 0,87
*
Leukosit 13,75
4,43
12,43
3,09
1,27
0,21
*
Keterangan : * = tidak signifikan ; p > 0,05
Pada Tabel 1 tampak bahwa keempat variabel dari kedua
kelompok tidak berbeda bermakna, sehingga pengaruh keempat
variabel tersebut pada penelitian ini dapat diabaikan.
Rerata kadar hemoglobin pada kelompok dengan paparan
korioamnionitis adalah 11,93 + 1,10 g % dan pada kelompok
tanpa paparan korioamnionitis adalah 11,88 + 1,16 g %.
Dengan uji t, kadar rata ­ rata pada kelompok preterm (10,8 +
1,0 g % ) dan aterm (10,6 + 1,3 g %) tidak berbeda bermakna
(t: 0,69 p: 0,50). Penelitian Abadi A (1999) yang mengaitkan
kadar hemoglobin dengan persalinan preterm hasilnya secara
statistik ( Chi Square ) juga tidak berbeda bermakna (X
2
.: 0,13
p: 0,72).
Terdapat perbedaan rerata jumlah leukosit: di kelompok
dengan paparan korioamnionitis adalah 13,75 + 4,43 k/uL
sedangkan di kelompok tanpa paparan korioamnionitis adalah
12,43 + 3,09 k/uL; sedangkan jumlah leukosit normal pada ibu
hamil berkisar antara 5 ­ 12 k/uL. (Cunningham et al., 1993).
Namun perbedaan tersebut tidak bermakna (uji t: t: 1,29
p:0,21), sehingga jumlah leukosit tidak bisa dipakai sebagai
petanda laboratorik adanya korioamnionitis. Nilai batas untuk
ibu hamil dengan infeksi dalam rahim (intrauterin) yang sudah
menunjukkan gejala klinis adalah 15 k/uL (Gibbs, 1993).
Abadi A (1999) menemukan perbedaan bermakna (p: 0,01)
dari rerata jumlah leukosit kelompok persalinan preterm
(13.671,0 + 5009,14 /ml) dan kelompok persalinan aterm
(10.805,5 + 2694,00 /ml). Dengan menggunakan kurva ROC
ditemukan nilai batas jumlah leukosit 11500 /ml yang bisa
dipakai untuk meramalkan kejadian persalinan preterm {RR
2,16 ( CI 95 % 1,14 ­ 4,08, sensitivitas 70 %,spesifisitas 65
%, nilai prediktif positif 75 %}. Begitu juga halnya dengan
penemuan Yoon dkk.: untuk lebih meyakinkan apakah jumlah
leukosit memang mempunyai hubungan dengan paparan
keradangan selaput ketuban dan plasenta dilakukan analisis
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
18
background image
dengan uji korelasi Pearson, hasilnya ditemukan hubungan
yang bermakna ( p < 0,05 ). Temuan ini mempunyai nilai yang
sangat berarti karena jumlah sel leukosit ibu dengan nilai batas
11.500 sel/ml sebagai petanda laboratorik bisa segera dan
mudah diperiksa, serta dengan biaya yang relatif murah.
Kejadian Persalinan Preterm pada Korioamnionitis
Histopatologik.
Pada penelitian ini kejadian persalinan preterm pada
kelompok terpapar korioamnionitis sebanyak 17 dari 27 sampel
(62,96 %) sedangkan pada kelompok tidak terpapar
korioamnionitis sebanyak 6 dari 27 sampel (22,22 %).
Peneliti lain menemukan angka kejadian korioamnionitis
(histopatologik ) pada persalinan preterm bervariasi mulai dari
66 % hingga 88 % (Tabel 2) .
(9)
Tabel 2. Angka kejadian korioamnionitis (histopatologik) pada persalinan
preterm.
Penulis Tahun Angka
kejadian
Cherouny et al
Greig et al
Yoon et al
Abadi dkk
1992
1993
1995
1998a
82 %
88 %
66 %
71,4 %
Angka kejadian korioamnionitis (histopatologik ) pada
persalinan aterm dapat dilihat pada tabel 3.
(9)
Tabel 3. Angka kejadian korioamnionitis (histopatologik) pada persalinan
aterm.
Penulis Tahun Angka
kejadian
Patkul et al
Hillier et al
Greig et al
Abadi dkk
1985
1988
1993
1998a
22 %
21 %
23,66 %
39,34 %
Untuk mengetahui pengaruh korioamnionitis
histopatologik terhadap kejadian persalinan preterm, dilakukan
uji statistik Chi square (Tabel 4).
Tabel 4. Hasil uji
2
persalinan preterm dan korioamnionitis
histopatologik.
Preterm Aterm
Faktor Risiko
n % n %
Korioamnionitis ( + )
17
62,96
10
37,04
Korioamnionitis ( - )
6
22,22
21
77,78
Keterangan : * = berarti signifikan (p < 0,05)
RR
:
Relative Risk.
2
= 9,16 RR = 2,83
Tabel 4 menunjukkan bahwa ada atau tidaknya tanda
keradangan selaput ketuban dan plasenta menyebabkan
perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok yang diteliti
( X
2
: 9,16 p : 0,002 ) dengan relative risk 2.83; (CI 95%: 2,33
­ 4,96 ). Artinya di kelompok yang terpapar faktor risiko
(korioamnionitis +), risiko persalinan preterm 2,83 kali
dibandingkan dengan kelompok tanpa faktor risiko
(korioamnionitis -).
Abadi A. (1999) pada penelitian kohort terhadap 50 kasus
menemukan bahwa 81,3 % kasus yang menunjukkan tanda
keradangan selaput ketuban secara histopatologi (tingkat I atau
lebih menurut kriteria Salafia) mengalami persalinan preterm
sedangkan 76,9 % kasus dengan tanda keradangan plasenta
berakhir dengan persalinan preterm. Dari hasil tersebut bisa
disimpulkan bahwa kejadian proses keradangan selaput
ketuban dan plasenta pada persalinan preterm dan pada
persalinan aterm berbeda bermakna. Apabila ditinjau dari
tingkat keradangan selaput ketuban dan plasenta yakni negatif
(tidak ada tanda keradangan), ringan (tingkat I) dan berat
(tingkat 2-4) dihubungkan dengan hasil persalinan (analisis Chi
square dengan CI 95 %), radang ringan tidak mempunyai
pengaruh yang bermakna terhadap proses persalinan preterm (p
> 0,05); hanya radang berat yang berpengaruh secara bermakna
terhadap terjadinya persalinan preterm (p < 0,05). Sehingga
dapat dikatakan makin tinggi tingkat keradangan selaput
ketuban dan plasenta akan makin besar risiko persalinan
preterm. Dengan analisis lebih lanjut bisa disimpulkan bahwa
pada keradangan selaput ketuban risiko persalinan preterm 4
kali (RR: 3,66 CI 95 % 1,52 ­ 8,82), sedangkan pada
keradangan plasenta risikonya 2 kali lebih tinggi (RR: 1,85 CI
95 % 1,10 ­ 3,10) dibanding dengan tanpa keradangan.
(9)
Guzick, et al. (1985) dalam penelitian prospektif terhadap
2774 wanita, mendapatkan korioamnionitis secara histologis
lebih sering ditemukan pada persalinan preterm (32, 8 %)
dibandingkan dengan persalinan aterm (10 %).
(1)
Di Medan Candra S, dkk (1998) dalam penelitiannya
mendapatkan kejadian persalinan preterm pada korioamnionitis
histopatologis (69,7 %) dibandingkan pada non korioamnionitis
histopatologis (22,6 %).
(8)
Greig PC, et al. (1993) melaporkan korioamnionitis
histologik pada 21 dari 24 (88 %) kasus persalinan preterm
gagal tokolitik dan pada 28 dari 120 (23 %) kontrol yang
mengalami persalinan aterm. Juga 10 dari 57 (18 %) pada
kelompok persalinan preterm kultur cairan amnionnya positif ,
sedangkan pada 201 kontrol semuanya negatif.
(10)
Untuk menghitung besarnya kejadian persalinan preterm
yang dapat dicegah dengan menghilangkan faktor risiko
paparan korioamnionitis, digunakan PAR. Pada penelitian ini
proporsi korioamnionitis sebesar : 50 % dan relative risk
sebesar 2,83; dari angka ­ angka tersebut PAR dapat dihitung
dan hasilnya adalah 47,78 %. Dengan demikian jika
korioamnionitis histopatologik dapat dihilangkan, 47,78 %
persalinan preterm akan dapat dicegah.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Risiko kejadian persalinan preterm pada korioamnionitis
histopatologik adalah 2,83 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan jika tanpa korioamnionitis histopatologik.
Risiko persalinan preterm dapat diturunkan 47,78 % jika faktor
risiko korioamnionitis dihilangkan.
Saran
Untuk mengurangi kejadian, morbiditas ataupun
mortalitas akibat persalinan preterm dapat dipertimbangkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004 19
background image
pemberian antibiotika yang adekuat pada ibu hamil yang
mengalami ancaman persalinan preterm.
KEPUSTAKAAN
1. Kipikasa J, Bolognece RJ. Obstetrics management of prematurity. In :
Funaroff A, Amartin RS. (eds). Neonatal perinatal medicine. 6
th
ed. St
Louis : Mosby Year book, 1997. 264 ­ 9.
2. Abadi A. Kontroversi dalam pengelolaan persalinan kurang bulan. Divisi
Kedokteran Fetomaternal Lab.SMF.Kebidanan dan Kandungan FK
UNAIR RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 2000.
3. Ardhana Ketut. Perbandingan efektifitas Magnesium Sulfat dan Ritodrine
untuk menghambat proses persalinan prematur di RSUP Denpasar,
Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK UNUD RSUP Denpasar. 1999.
4. Cunningham, McDonald, Gant. Williams Obstetrics. 20
th
(eds).
Connecticutt: Appleton and Lange, 1997:797 ­ 821.
5. Goodwin TM. Preterm Labor : Background and prevention. In : Mishell
DR , Brenner PF. (eds). Management of common problems in obstetrics
and gynecology. 3
rd
eds. Boston: Blackwell Scient. Publ.1994; pp. 97 ­ 9.
6. Shaver DC. Premature Labor and Delivery. In : Shaver DC, Phellan ST,
Beckmenn CRB, Ling FW, (eds). Clinical Manual of Obstetrics. 2nd ed,
Singapore : McGraw-Hill, 1993; pp.281 ­ 92.
7. Benirschke K. Pathology of human placenta. 3
rd
. ed. New York: Springer-
Verlag, 1995; pp.14 ­ 55.
8. Candra Syafei dkk. Hubungan Khorioamnionitis dengan Persalinan
Preterm, Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK USU RSHAM-RSP
Medan. 1998.
9. Abadi A. Radang selaput ketuban dan plasenta serta interleukin-6 dalam
air ketuban sebagai faktor penentu terjadinya persalinan pada persalinan
kurang bulan membakat. Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga
Surabaya. 1999.
10. Greig PC et al. Amniotic fluid interleukin-6 levels correlate with histologic
chorioamnionitis and amniotic fluid cultures in patients in premature labor
with intact membranes. Am J Obstet Gynecol 1993;169 (4):1035 ­ 44.
A friend's eye is a good looking-glass.
Cermin Dunia Kedokteran No. 145, 2004
20

Document Outline