HASIL PENELITIAN
Hasil Pemeriksaan
Uji Hemaglutinasi pada Penderita
Tersangka Demam Berdarah Dengue
di Jakarta tahun 2001
Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai
berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta
dan Surabaya, sejak itu penyakit DBD merupakan masalah
kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah
kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya
yang makin meluas. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati)
Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada
tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9.871
kasus dan 1.414 kematian
(1)
.
Faktor- faktor yang diduga dapat mempengaruhi
peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah
(2)
:
(a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi
(b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali
(c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah
endemis
(d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi.
Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu
daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada
tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian, tahun 1998
15422 kasus dengan 133 kematian, dan tahun 1999 3751 kasus
dengan 42 kematian
(3)
.
Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold
Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka
DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia, 2001) ;pada penelitian
ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji
HI.
Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi
gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita
yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di
laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes.
Tujuan khususnya ialah:
(a)
Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD
berdasarkan umur dan jenis kelamin
(b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut
(c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif
hasil uji HI
(d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif
hasiI uji HI berdasarkan golongan usia
(e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan
hasil uji HI positif
METODOLOGI
Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan
sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit
selama periode Januari - April 2001. Kriteria inklusi : penderita
berumur minimal 15 tahun, demam akut 2-7 hari, dirawat di
rumah sakit, dan mengisi informed consent.
Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan
laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI.
Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals
dengan modifikasi mikrotiter
(4)
dengan menggunakan antigen
Dengue-2. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat
Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor.
Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO.
HASIL DAN DISKUSI
Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369
orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang
(50,68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan
konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49,32%) lainnya tidak
dapat diambil sampel darah konvalesennya karena :
(a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan
sudah banyak diambil darahnya
(b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas
karena sudah terlanjur pulang.
Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun
terbanyak di bawah 30 tahun (82,89%) dengan rata-rata umur
penderita 25 tahun, (Tabel 1).
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 55
Tabel 1. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur
dan Jenis Kelamin
Umur
(tahun)
Laki-laki
(N)
Perempuan
(N)
Total %
15- 25 25 50 26,74
20- 30 29 59 31,55
25- 18 9 27 1,44
30- 11 8 19 10,16
35- 6 6 12 6,42
40- 4 3 7 3,74
45- 2 4 6 3,21
50- 0 1 1 0,53
55- 0 1 1 0,53
60- 1 1 2 1,07
65- 1 2 3 1,61
Jumlah 98 89 187 100,00
Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan
perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1,1:1); karena jumlah
responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita
laki-laki lebih besar.
Tabel 2. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD
Hasil Uji HI
Jumlah (N)
%
Positif
96
51,3
Negatif
91
48,7
Total 187 100,0
Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya
yaitu 51,3% positif dan 48,7% negatif. Hasil ini tidak jauh
berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara
30% - 50%, yaitu: tahun 1994: 34,5% ; tahun 1995: 50,19%;
tahun 1996: 32,82%; tahun 1997: 34,21%; tahun 1998:
36,24%
(5)
.
Keadaan tersebut mungkin disebabkan:
(a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD
(b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa
pengobatan yang dianjurkan
(c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara, waktu
maupun penyimpanannya
(d)
Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan
prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
Tabel 3. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI
positif
Kriteria Uji HI Positif
Jumlah (N)
%
Positif primer
21
21,9
Positif sekunder
64
66,7
Presumtif positif
11
11,4
Total 96
100,0
Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) ; ini
mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD
yang banyak dianut, tetapi adanya penderita dengan infeksi
primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi
virus.
Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat
ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun
pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi; infeksi
sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun, dan
untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55
tahun, ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah
bergeser ke umur yang lebih tua.
Tabel 4. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD
berdasarkan Umur.
Kriteria hasil uji HI positif
Golongan
umur (th) Positif primer Positif sekunder Presumtif positif
Total
15-
8
18
2
28
20- 4
17
5 26
25- 5
12
2 19
30- 1
8
1 10
35- 0
3
0 3
40- 1
2
0 3
45- 0
4
0 4
50- 0
0
0 0
55- 0
0
1 1
60- 0
0
0 0
65- 2
0
0 2
Total 21
64
11 96
Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I
sebanyak 55,7% dan derajat II sebanyak 44,3%; tidak
didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit
DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0,6849).
KESIMPULAN
Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat
diperiksa uji HI karena berbagai kendala.
Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding; hasil
uji HI positif sebesar 51,3% dengan kriteria positif sekunder
yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada
penderita lanjut usia; penderita berada pada derajat I dan II, dan
tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan
hasil uji I-II yang positif.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan
Litbangkes, Pimpinan dan Staf RS Persahabatan, Pimpinan dan Staf RS Pasar
Rebo, dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.
KEPUSTAKAAN
l . Profil Kesehatan Indonesia 1999. Departernen Kesehatan RI 2000.
Jakarta.
2. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal PPM&PLP
Departemen Kesehatan RI. 2001.
3. Data Kasus DBD 1999. Sub.Dit. Surveilans Dit.Jen. PPM&PLP
Departemen Kesehatan RI. 2000.
4. Clarke DH, Cassals J. Techniques for Haemagglutinatuon and
Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses. Am. J. Trop.
Med. Hyg. 1958; 7: 561.
5. Muchlastriningsih E et al. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita
Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998. Berita Epidemiologi, Desember
1999.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
56