TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Teh
[Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)]
sebagai Salah Satu Sumber
Antioksidan
Sulistyowati Tuminah
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departeman Kesahatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat.
Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik,
kariostatik serta hipokolesterolemik. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa
teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis.
PENDAHULUAN
Transisi nutrisi yang terjadi saat ini, dari makanan yang
banyak mengandung serat ke makanan yang banyak
mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi, dari
penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif
seperti penyakit jantung, kanker. Transisi nutrisi juga
dihubungkan dengan prevalensi obesitas, terutama obesitas
kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus.
1
Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi
akibat penyakit jantung koroner dan stroke.
2
Di masa sekarang, dengan harga obat-obatan yang mahal,
anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali
ke obat tradisional) adalah tepat. Juga karena bahannya mudah
didapat, murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat)
dan dapat dibuat oleh semua orang.
Teh merupakan bahan minuman yang secara universal
dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan
masyarakat. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara
di dunia, sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22%
negara di dunia.
3
Selain itu di negara-negara Barat, lebih dari
setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam.
4
KLASIFIKASI
Di zaman dahulu, genus Camellia dibedakan menjadi
beberapa spesies teh yaitu sinensis, assamica, irrawadiensis.
Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies
tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus,
yaitu sinensis, assamica dan irrawadiensis.
3
Menurut Graham HN (1984); Van Steenis CGGJ (1987)
dan Tjitrosoepomo G (1989), tanaman teh Camellia sinensis
O.K.Var.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut
(3,5,6)
:
Divisi
: Spermatophyta (tumbuhan biji)
Sub divisi
: Angiospermae (tumbuhan biji terbuka)
Kelas
: Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah)
Sub Kelas
: Dialypetalae
Ordo (bangsa) : Guttiferales (Clusiales)
Familia (suku) : Camelliaceae (Theaceae)
Genus (marga) : Camellia
Spesies (jenis) : Camellia sinensis
Varietas
: Assamica
3,5,6
MACAM-MACAM TEH
Berdasarkan penanganan pasca panen, teh dibagi menjadi
3 (tiga) macam
(3),
yaitu :
1. Teh Hijau
Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi; daun teh
diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim.
Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara
kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). Pada
pemanasan dengan suhu 85
°C selama 3 menit, aktivitas enzim
polifenol oksidase tinggal 5,49%. Pemanggangan (pan firing)
secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200
°C sedangkan
pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300
°C.
Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor
yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas.
Keuntungan dengan cara pemberian uap panas, adalah warna
teh dan seduhannya akan lebih hijau terang.
7
2. Teh
hitam
Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. Dalam hal
ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
52
enzim, melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase
yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. Pada proses ini,
katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan
thearubigin. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar
dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu, kemudian
digiling sehingga sel-sel daun rusak. Selanjutnya dilakukan
fermentasi pada suhu sekitar 22-28
°C dengan kelembaban
sekitar 90%. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas
hasil akhir; biasanya dilakukan selama 2-4 jam. Apabila proses
fermentasi telah selesai, dilakukan pengeringan sampai kadar
air teh kering mencapai 4-6%.
7
3. Teh oolong
Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat
dengan bahan baku khusus, yaitu varietas tertentu yang
memberikan aroma khusus. Daun teh dilayukan lebih dahulu,
kemudian dipanaskan pada suhu 160-240
°C selama 3-7 menit
untuk inaktivasi enzim, selanjutnya digulung dan dikeringkan.
7
KOMPONEN THE (3)
Komponen dari dua macam teh yang paling banyak
digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut
(tabel 1 dan 2) :
Tabel 1. Komposisi teh hijau
(3)
No. Komponen
%
Berat
kering
1. Kafein
7,43
2. (
-) Epicatechin
1,98
3. (
-) Epicatechin gallat
5,20
4. (
-) Epigallocatechin
8,42
5. (
-) Epigallocatechin gallat
20,29
6. Flavonol
2,23
7. Theanin
4,70
8. Asam
glutamat
0,50
9. Asam
aspartat
0.50
10. Arginin
0,74
11. Asam
amino
lain
0,74
12. Gula
6,68
13.
Bhn yg dpt mengendapkan alkohol
12,13
14. Kalium
(potassium)
3,96
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN
Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas
antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer
secara komersial dengan memasukkan 0,5 g daun teh ke dalam
25 ml air mendidih, kemudian diaduk selama 3 menit. Rata-rata
aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8.477
µmol/l (kisaran 4.275-12.110 µmol/l); dibandingkan dengan
aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550
µmol/l, berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi
mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro
4
.
Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa
digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap
status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5
laki-laki, 5 wanita; usia rata-rata 21,1 tahun; indeks massa
tubuh: 24,0). Setelah 4 jam berpuasa, sebuah kanula intravena
dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati, kemudian
diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat
makan siang. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal
percobaan 430
µmol/l; setelah 60; 120; 180 menit pemberian
teh adalah rata-rata 434; 447 dan 439
µmol/l (tidak ada
perubahan yang berarti/signifikan). Hasil tersebut menunjukkan
bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu
singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap
aktivitas antioksidan serum, berbeda dengan hasil penelitian
mengenai pengaruh flavonoid anggur merah. Penelitian ini
tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif
jangka panjang terhadap status antioksidan.
4
Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda.
Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4,93;
epigalo katekin galat sebesar 4,75; epigalo katekin 3,82;
epikatekin daya antioksidannya sebesar 2,50 dan untuk katekin
daya antioksidannya sebesar 2,40. Daya antioksidan komponen
katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin
C ataupun
-karoten.
7
Tabel 2. Komposisi teh hitam
(3)
No. Komponen
%
Berat
kering
1. Kafein
7,56
2. Theobromin
0,69
3. Theofilin
0,25
4. (
-) Epicatechin
1,21
5. (
-) Epicatechin gallat
3,86
6. (
-) Epigallocatechin
1,09
7. (
-) Epigallocatechin gallat
4,63
8. Glikosida
flavonol
Trace
9. Bisflavanol
Trace
10. Asam
Theaflavat
Trace
11. Theaflavin
2,62
12. Thearubigen
35,90
13. Asam
gallat
1,15
14. Asam
klorogenat
0,21
15. Gula
6,85
16. Pektin
0,16
17. Polisakarida
4,17
18. Asam
oksalat
1,50
19. Asam
malonat
0,02
20. Asam
suksinat
0,09
21. Asam
malat
0,31
22. Asam
akonitat
0,01
23. Asam
sitrat
0,84
24. Lipid
4,79
25. Kalium
(potassium)
4,83
26. Mineral
lain
4.70
27. Peptida
5.99
28. Theanin
3,57
29. Asam
amino
lain
3,03
30. Aroma
0,01
KHASIAT TEH
Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung
dalam teh, yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau
meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses meta-
bolisme.
3,8
Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi
teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol
total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C), tetapi tidak
terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDL-
C).
9,10
Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama
masa kontak yang pendek.
11
Selain itu diet fluorin yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
53
terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi
kariostatik pada tikus Wistar.
12
Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau
ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit, tetapi
juga secara substansial memperkecil ukuran tumor.
13
Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan
bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan
flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat
antikarsinogenik pada hewan dan manusia, termasuk pada
wanita post menopause.
14-18
Diperkirakan, flavonoid sebagai
antioksidan berperan dalam mengurangi OH
·
, O
2
·-
, dan radikal
peroksil.
19
Selain itu pada wanita post menopause, flavonoid
dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL,
melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh
radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat
menyumbat lumen arteri.
20,21
Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek
sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida
tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. Ternyata
sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0,54 g /200
g.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total,
kolesterol LDL, trigliserida dan berat badan yang bermakna
dengan kontrol perlakuan (P
< 0,05).
22
Sutarmaji (1994)
meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar
glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Hasilnya
diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1,35
g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus
30 dan 60 menit setelah perlakuan.
23
Teh juga mencegah luka
skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang
diberi diet aterogenik.
3
Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah
kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah
terpapar radiasi; menghambat mutagen yang disebabkan oleh
pembentukan nitrosamin dari metilurea. Teh juga telah diuji
teratogenik, hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun
embriotoksik. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien
talasemia, teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan
besi non-heme dan menghambat hemokromatosis.
3
Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh
teh, hal ini dapat dijelaskan, bahwa besi yang diabsorbsi
manusia terdiri dari dua jenis, yaitu besi heme (yang terikat
pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak
terikat pada molekul hemoglobin). Tumbuh-tumbuhan
diketahui sebagai sumber besi yang baik, tetapi berjenis
nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit,
sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia
dan lebih mudah diserap. Substansi seperti tanin (dari teh),
makanan berserat dan mengandung fitat menghambat
penyerapan besi non-heme, tetapi manusia masih bisa
mendapatkan besi heme dari daging merah. Selain itu,
konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi
non-heme.
24
PENUTUP
Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh, baik
teh hitam maupun teh hijau. Yang perlu dilakukan selanjutnya
adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh
mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan, terutama yang
berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker.
KEPUSTAKAAN
1.
Drewnowski A, Popkin BM. The Nutrition Transition : New Trends in
the Global Diet. Nutr Rev. 1997; 55(2) : 31-43.
2.
Weststrate JA, Van Het Hof KH, Van den Berg H, et al. A comparison of
effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on
food intake, body weight, blood lipids and fat-soluble antioxidant levels
and haemostasis variables. Eur J Clin Nutr. 1998; 52 : 389-95.
3. Graham HN. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and
Consumption of the Beverage. In Liss AR. The Methylxanthine
Beverages and Foods : Chemistry, Consumption, and Health Effects.
Prog Clin Biol Rev. 1984 : 29-74.
4. Maxwell S, Thorpe G. Tea flavonoids have little short term impact on
serum antioxidant activity. BMJ (27 July) [Medline] 1996; 313 : 229.
5.
Van Steenis CGGJ. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT.
Pradnya Paramita. Jakarta. cet ke-4. 1987 ; 1-495.
6.
Tjitrosoepomo G. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). UGM Press.
Yogyakarta. cet ke-2. 1989 ; 1-477.
7. Astuti M. Potensi Antioksidan pada Teh. Kumpulan makalah : Radikal
Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar, Aplikasi dan
Pemanfaatan Bahan Alam. Bag. Biokimia FKUI. Jakarta. 2001 : 1-15.
8. Langseth L. Oxidants, Antioxidants, and Disease Prevention. ILSI
European Monograph Series. Brussel: 1995 ; 1-24.
9. Kono S, Shinchi K, Ikeda N, Yanai F, Imanishi K. Green Tea
Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in
Northern Kyushu, Japan. Preventive Medicine 1992; 21 : 526-31.
10. Kono S, Shinchi K, Wakabayashi K, et al. Relation of Green Tea
Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. J
Epidemiol. 1996; 6 (3) : 128-33.
11. Nakayama M, Toda M, Okubo S, Shimamura T. Inhibition of Influenza
Virus Infection by Tea. Letters in Applied Microbiology. 1990; 11 : 38-
40.
12. Gershon-Cohen J, McClendon JF. Fluorine in Tea and Caries in Rats.
Nature 1954; 173 : 304-312.
13. Zhi YW, Mou TH, Ferraro T, et al. Inhibitory Effect of Green Tea in the
Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-O-
Tetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. Cancer
Research 1992; 52 : 1162-70.
14. Imai K, Suga K, Nakachi K. Cancer Prevention Effects of Drinking
Green Tea among a Japanesse Population. Preventive Medicine. 1997; 26
(6) : 769-75.
15. Goldbohm RA, Hertog MG, Brants HA, Van-Popel-G, Van-den Brandt
PA. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort
Study. J Nat'l Cancer Inst. 1996; 88 (2) : 93-100.
16. Zheng W, Doyle TJ, Kushi LH, Sellers TA, Hong CP, Folsom AR. Tea
Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of
Postmenopausal Women. Am J Epidemiol. 1996; 144 (2) : 175-82.
17. Blot WJ, McLaughin JK, Chow WH. Cancer Rates among Drinkers of
Black Tea. Crit Rev Food Sci Nutr. 1997; 37 (8) : 739-60.
18. Yang CS, Lee MJ, Chen L, Yang GY. Polyphenols as Inhibitors of
Carcinogenesis. Environ Health Perspect. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76.
19. Tuminah S. Radikal Bebas dan Antioksidan Kaitannya dengan Nutrisi
dan Penyakit Kronis. Cermin Dunia Kedokt. 2000; 128: 49-51.
20. Baraas F, Jufri M. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Prima
Kardia Pers. Jakarta. cet ke-1. 1997 : 82-3.
21. Baraas F, Jufri M. Antioksidan dan Penyakit Jantung. Prima Kardia Pers.
Jakarta. cet ke-1. 1999 : 11-2.
22. Dirghantara E. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L)
O. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang
diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. FMIPA UI. Jakarta. 1994.
23. Sutarmaji A. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa
darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. FMIPA UI. Jakarta.
1994.
24. Nair MK. Iron absorption and its implications in the control of iron
deficiency anemia. Nutrition News. National Institute of Nutrition.
Hyderabad. 1999; 20 (2) : 1-6.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
54