TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengaruh Kebisingan
terhadap Kesehatan Tenaga Kerja
Novi Arifiani
Subdepartemen Kedokteran Okupasi, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi
seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang
disenangi, namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap
sangat mengganggu. Secara definisi, suara yang tidak
dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising.Bising yang di
dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat
maupun jauh.
Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan
industri ke arah penggunaan mesin-mesin, alat-alat transportasi
berat, dan lain sebagainya. Akibatnya kebisingan makin
dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada
kesehatan.
Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat
besar. Misalnya, bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan
pendidikan, maka bising dapat mengganggu komunikasi yang
berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. Trauma
akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat
bising di tempat kerja, gangguan sistemik yang timbul akibat
kebisingan, penurunan kemampuan kerja, bila dihitung
kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah.
Untuk itu, tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising
terhadap kesehatan tenaga kerja, melakukan deteksi dini dan
pengendalian bising di tempat kerja. Pembahasan pada tulisan
ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap
kesehatan terutama kemampuan pendengaran, cara mendeteksi
gangguan pendengaran akibat kebisingan, serta tatalaksana
gangguan pendengaran akibat kebisingan.
ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN
Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan
fisiologi pendengaran.
Anatomi Telinga
Secara anatomi, telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu
telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga luar berfungsi
mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran
sampai ke gendang telinga. Telinga tengah menghubungkan
gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi
cairan. Di telinga tengah ini, gelombang getaran yang
dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran
sampai ke cairan di kanalis semisirkularis; adanya ligamen
antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari
gendang telinga.
Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf
pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara
tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia.
Konduksi Tulang
Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh
tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah, sehingga
getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh
telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Jadi segala
sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak
dapat menimbulkan konduksi tulang ini. Secara umum tekanan
suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk
menimbulkan efek konduksi tulang ini. Hal ini perlu diketahui,
karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber
suara yang berasal dari jalur ini.
Respon auditorik
Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat
diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang
berguna, sangat luas. Suara yang nyaman diterima oleh telinga
kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang
digunakan, namun suara yang tidak menyenangkan atau yang
bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan
tinggi, biasanya di atas 120 dB.
Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan
suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi
auditorik. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik
suara (dalam hal ini frekuensi), cara yang digunakan untuk
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
24
mendengar suara tersebut ( melalui earphone, pengeras suara,
dsb), dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke
liang telinga, di udara terbuka, dsb).
Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai
ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang
yang masih muda dan memiliki pendengaran normal, diukur di
udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya
pendengar. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan,
karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan
banyak variasi. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah
2 sampai 3 dB.
Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis
tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut,
maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan
meningkat; dengan kata lain, pendengaran orang tersebut
berkurang. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu
singkat, maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara.
Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik.
Kekuatan suara
Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang
dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau
lemahnya suara yang didengar. Kekuatan suara sangat
dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari
stimulus suara, dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan
bentuk gelombang suara.
Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan
dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan
suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki
pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara
dengan frekuensi murni 1000 Hz, 2). Dengan menghitung
menggunakan pita suara 2 atau 3 band, 3). Mengukur dengan
alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara
yang didengar.
Masking
Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai
intensitas suara adalah masking. Masking adalah suatu proses
di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan
adanya suara lain. Suatu suara masking dapat didengar bila
nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk
suara masking tersebut.
Sensitivitas Pendengaran
Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik
sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali
perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. Pemahaman
percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu, atau suatu
alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di
dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik
berdasarkan frekuensi, amplitudo, dan waktu yang didengar
untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut.
Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga
sebagai kuat atau lemahnya suara. Makin tinggi tekanan udara,
makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga
manusia. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada
frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara
tersebut, nilai ambang di atasnya, dan durasi.
Lokalisasi Sumber Bunyi
Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi.
Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena
didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh
masing-masing telinga, serta perbedaan saat diterimanya
gelombang suara di kedua telinga. Kemampuan telinga untuk
membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik
daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara
yang vertikal. Kemampuan ini penting untuk memilih suara
yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak
ingin didengarkan.
GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING
Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat
kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran,
yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran
sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya
pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)).
Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung
sementara namun dapat juga menetap.
Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi
tiga kelompok, yaitu trauma akustik, perubahan ambang
pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noise-
induced temporary threshold shift) dan perubahan ambang
pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noise-
induced permanent threshold shift).
Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat
menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga
dalam. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di
cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea.
Pada trauma akustik, cedera cochlea terjadi akibat
rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar
sehingga merusak sel-sel rambut. Namun pada pajanan
berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses
fisika semata, namun juga proses kimiawi berupa rangsang
metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut.
Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut
yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara
atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan
gangguan ambang pendengaran yang permanen.
Trauma Akustik
Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga
akibat adanya energi suara yang sangat besar. Efek ini terjadi
akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam
sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke
organ Corti. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang
telinga, kerusakan tulang-tulang pendengaran, atau kerusakan
langsung organ Corti. Penderita biasanya tidak sulit untuk
menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan
kehilangan pendengaran.
Noise-Induced Temporary Threshold Shift
Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang
pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap
suara dan bersifat reversibel. Untuk menghindari kelelahan
auditorik, maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 25
setelah pajanan suara. Faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah
level suara, durasi pajanan, frekuensi yang diuji, spektrum
suara, dan pola pajanan temporal, serta faktor-faktor lain
seperti usia, jenis kelamin, status kesehatan, obat-obatan
(beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan
kerusakan permanen), dan keadaan pendengaran sebelum
pajanan.
Noise-Induced Permanent Threshold Shift
Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang
pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari
pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan
eksperimen pada manusia. Dari data observasi di lingkungan
industri, faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran
terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di
udara, durasi total pajanan, spektrum bising, alat transmisi ke
telinga, serta kerentanan individu terhadap kehilangan
pendengaran akibat bising.
Memeriksa pendengaran
Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini
berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga.
Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami
kesulitan berbicara di lingkungan yang bising, jika berbicara
biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara,
berbicara dengan suara menggumam, biasanya marah atau
merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas, dan sering
timbul tinitus. Biasanya pada proses yang berlangsung
perlahan-lahan ini, kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh
pekerja bersangkutan; untuk itu informasi mengenai kendala
komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada
pihak keluarga.
Pada pemeriksaan fisik, tidak tampak kelainan anatomis
telinga luar sampai gendang telinga. Pemeriksaan telinga,
hidung, dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan
seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang
menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga,
trauma telinga karena agen fisik lainnya, gangguan telinga
karena agen toksik dan alergi. Selain itu pemeriksaan saraf
pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di
susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran.
Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne, Weber, dan
Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes
Rinne menunjukkan hasil positif, pemeriksaan Weber
menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan
pendengaran yang lebih baik, sedangkan pemeriksaan
Schwabach memendek.
Untuk menilai ambang pendengaran, dilakukan
pemeriksaan audiometri. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik
yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis
vertikal). Pada skala frekuensi, untuk program pemeliharaan
pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya
diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk
frekuensi 500, 1000, 2000, 3000, 4000, dan 6000 Hz. Bila
sudah terjadi kerusakan, untuk masalah kompensasi maka
dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini
merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya
kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan
pekerjaan; tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini, sulit sekali
membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi
akibat kebisingan atau karena sebab yang lain.
Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat
menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran
yang terjadi. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti
lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan, tingkat
pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan
terhadap bising di luar pekerjaan, serta dapat pula
permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah
menderita gangguan pendengaran permanen.
Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan
pendengaran adalah speech audiometry, pengukuran
impedance, tes rekruitmen, bahkan perlu juga dilakukan
pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai
adanya faktor psikogenik.
Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada
pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati
untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi.
EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN
Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia
dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka
panjang. Namun perlu diingat, bahwa keadaan bising di
lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya, seperti
faktor fisika lain berupa panas, getaran, dan sebagainya; tidak
jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis;
mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya
faktor risiko.
Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit
setelah pajanan terjadi, sedangkan efek jangka panjang terjadi
sampai beberapa jam, hari ataupun lebih lama. Efek jangka
panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang
berulang.
Efek jangka pendek
Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otot-
otot berupa kontraksi otot-otot, refleks pernapasan berupa
takipneu, dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia,
meningkatnya tekanan darah, dan sebagainya. Namun dapat
pula terjadi respon pupil mata berupa miosis, respon
gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas
sampai timbulnya keluhan dispepsia, serta dapat terjadi
pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang
paling rentan adalah paru-paru).
Efek jangka panjang
Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh
hormonal. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh
karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis
yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat
gangguan saraf otonom, serta aktivasi hormon kelenjar adrenal
seperti hipertensi, disritmia jantung, dan sebagainya. Secara
sederhana, berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan
(Gambar 1).
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
26
ambar 1. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising
EBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA
da umumnya
terja
suara berulang, suara di atas
95
ENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING
ama dan
utam
Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang meng-
akiba
yang mengalami tuli total bilateral dapat
diper
OMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA
ondisi medis, dan permasalahan hukum
haru
kinan
adan
ndengaran harus dikenali secara
dini.
singkirkan dengan melaku-
kan
G
K
Gangguan terhadap kemampuan kerja pa
di karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat
rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Pada
awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang
timbul akibat bising; namun pada pemeriksaan efisiensi kerja
terlihat pengaruh yang cukup bermakna. Namun tetap perlu
hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang
kemampuan atau performa kerja.
Suara yang asing, interupsi
dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat
mempengaruhi kemampuan bekerja. Namun penelitian efek
kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan
dengan seksama, terutama pada lingkungan industri.
P
Pencegahan merupakan penatalaksanaan pert
a pada kebisingan di lingkungan pekerja. Pelaksanaan
program pemeliharaan pendengaran (hearing program
conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat
dilakukan di tempat kerja. Survei kebisingan di tempat kerja
harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan
tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang
terjadi; pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya
deteksi dini pula. Penggunaan alat pelindung telinga, peng-
awasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya
penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan
tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Hearing conservation
program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan
ini.
Bising
Reaksi Stres Umum
akibat Kenaikan
Adrenalin dan
Noradrenalin
Kenaikan
Tekanan Darah
Respon
Vegetatif
Peningkatan
Kebutuhan Oksigen
Peningkatan
Agregasi
Trombosit
Kerusakan
Dinding Arteri
Trombosis
Arterio-
sklerotik
Oklusi A.
Koroner
Oklusi Arteri
Lainnya
Iskemaia
Jantung
Infark
Miokard
Stroke
tkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan peng-
gunaan alat bentu dengar. Jika pendengaran sudah sedemikian
buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu
dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat
menerima keadaannya. Jika dipergunakan alat bantu dengar,
perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat
menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar
secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir, mimik
dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat
berkomunikasi. Selain itu, penderita tuli akibat bising ini juga
sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabili-
tasi suara agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah dan
irama percakapan.
Pada penderita
timbangkan pemasangan implan koklea.
K
AKIBAT BISING
Faktor akustik, k
s diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara
pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. Perlu
ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan
ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari
permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari.
Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemung
ya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan
bising di tempat kerja adalah 1). Benar telah terjadi kehilangan
atau gangguan pendengaran dan 2). Dan gangguan
pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di
tempat kerja yang berlebihan.
Tanda-tanda gangguan pe
Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat
dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. Pemeriksaan ini
bersifat subyektif, untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang
terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap
pemeriksaan tersebut. Pemeriksaan audiometri pra kerja
merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal
kondisi pendengaran tenaga kerja.
Diagnosis banding lainnya di
pemeriksaan fisik yang seksama. Dalam laporan pe-
meriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk
saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan),
keluhan utama, gangguan pendengaran yang saat ini terjadi,
riwayat pekerjaan, riwayat pelatihan militer, riwayat penyakit
dahulu, riwayat keluarga. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan
menanyakan nama pekerjaan, jenis pekerjaan yang dilakukan
(beserta tanggal atau waktu bekerja), durasi masing-masing
pekerjaan, tanggal bekerja dan umur saat itu, kondisi geografis
dan lokasi fisik pekerjaan, barang atau jasa yang dihasilkan,
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 27
penggunaan alat pelindung diri, sumber suara atau kebisingan
yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini).
Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan
adala
eriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan
ang telinga,
ta
us
murni untuk memeriksa
bicaraan dan diskriminasi
s
rekrutmen
an pemeriksaan terhadap pekerja dan
ling
h:
1. Pem
sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi.
2. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gend
adakah tanda-tanda abnormalitas
3. Pemeriksaan refleks kedua ma
4. Menilai ada atau tidaknya nistagm
5. Pemeriksaan dengan garpu tala
6. Pemeriksaan audiometri nada
hantaran udara dan hantaran tulang
7. Uji kemampuan menangkap pem
suara
8. Te
Sesudah dilakuk
kungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan
pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. Bila
terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja, harus
dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk
memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja
tersebut. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual.
Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang
berbeda di masing-masing negara. Pada tulisan ini tidak akan
dibahas mengenai perhitungan kompensasi.
KESIMPULAN
Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan
pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu
panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan
penurunan produktivitas tenaga kerja. Oleh karena itu perlu
dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan
karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini
cukup besar.
Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan
secara teliti, cermat, dan hati-hati untuk menghindari kesalahan
prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja.
KEPUSTAKAAN
1.
Harris CM (ed). Handbook of Noise Control. 2
nd
ed. McGraw-Hill Book
Comp. New York : 1979.
2. Nilland J. Zenz C. Occupational Hearing Loss, Noise, dan Hearing
Conservation. In : Zenz C. (chief ed). Dickerson OB. Horvarth EP.
Occupational Medicine. 3
rd
ed. Mosby. St. Louis : 1994
3. Soepardi ES. Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Edisi 5. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta : 2001
4.
Department for Environment, Food and Rural Affair. Noise and Nuisance
Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
28
Document Outline