TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Kanker Nasofaring
Epidemiologi dan
Pengobatan Mutakhir
R. Susworo
Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya
penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang
disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. Bermula dari
terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel
manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme
pertumbuhan sel. Sel akan tumbuh tidak normal dan
berlebihan. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai
sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. Antara lain
disebutkan faktor makanan, seperti konsumsi lemak yang
terlalu tinggi, pola hidup, seperti perokok berat, faktor
eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif, pajanan
pada bahan kimia atau oleh virus. Berbagai kekacauan struktur
ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar, misalnya kelainan
pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan
dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium), atau gen
HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Perubahan genetik
ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak
terkontrol. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar
akibat mutasi, putusnya kromosom (chromosome breaks) dan
delesi pada sel sel somatik. Sebagian lagi bersifat diturunkan
Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu,
terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan.
KANKER NASOFARING (KNF)
Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang
terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari
langit langit lunak. Yang disebut KNF adalah kanker yang
terjadi di selaput lendir daerah ini, tepatnya pada cekungan
Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang
menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring.
Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi, yakni 4,7
kasus baru per tahun per 100.000 penduduk
1
. Catatan dari
berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki
urutan ke empat setelah kanker leher rahim, kanker payudara
dan kanker kulit. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung
dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada
peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. Dijumpai
lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan
2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita.
Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh
dunia, maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol, di
samping Mediteranian, dan beberapa ras di Afrika bagian utara.
Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per
100.000 penduduk, sedangkan angka rata rata di Cina bagian
selatan berkisar antara 20 per 100.000.
2
Bandingkan dengan
negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka
kejadian 1 per 100.000 penduduk per tahun.
3
Sekalipun termasuk ras Mongoloid, bangsa Korea, Jepang
dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai
mengidap penyakit ini. Berbagai studi epidemilogik mengenai
angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal.
Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka
kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang
telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan)
di San Fransisco Amerika Serikat. Terdapat perbedaan yang
bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari
daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang
terdiri atas orang kulit putih (Caucasians), kulit hitam dan
Hispanics, dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka
kejadian yang lebih tinggi. Sebaliknya, apabila orang Tionghoa
migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih
tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang
bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran
tersebut. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah, bahwa
kelompok migran masih mengandung gen yang `memudahkan'
untuk terjadinya KNF, tetapi karena pola makan dan pola hidup
selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini
dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun
tidak tumbuh. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi
Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang
diawetkan (diasap, diasin), bahkan konon kabarnya seorang
bayi yang baru selesai disapih, sebagai makanan pengganti
susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. Di dalam ikan
yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine
yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
16
Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada
komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu
sebagai bahan bakar untuk memasak. Hal ini tampak mencolok
pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari
negaranya.
Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini
di Singapura. Persentase terbesar yang dikenai adalah masya-
rakat keturunan Tionghoa (18,5 per 100.000 penduduk), disusul
oleh keturunan Melayu (6,5 per 100.000) dan terakhir adalah
keturunan Hindustan (0,5 per 100.000).
4
Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV), (yang dinamai
sesuai dengan penemunya, Epstein dan Barr pada limfoma
Burkitt pada 1960), pada hampir semua kasus KNF telah
mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus
tersebut. Pada 1966, seorang peneliti menjumpai peningkatan
titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG
terhadap EBV, capsid antigen dan early antigen. Kenaikan titer
ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Namun
virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit
keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi
orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. Jadi
adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk
menimbulkan proses keganasan.
Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain,
KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan
minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein
Barr, predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Adanya
hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya
KNF dipelajari oleh Ho dkk. Ditemukan kasus KNF dalam
jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi
ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style
salted fish). Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan
lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. Di beberapa
bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai
pengganti air susu ibu pada saat menyapih.
5
Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan
makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti
udang asin, telur asin. Penyebab lain yang dicurigai adalah
pajanan di tempat kerja seperti formaldehid, debu kayu serta
asap kayu bakar.
Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan
alami (Chinese herbal medicine= CHB). Hildesheim dkk
memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF, infeksi
EBV dan penggunaan CHB
6
.
GEJALA KLINIS KNF
Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada
penderita KNF, terlebih pada stadium dini, banyak kasus yang
terlambat didiagnosis. Berbeda halnya dengan kanker leher
rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat
terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik
Papanicolaou dan mamografi; sampai saat ini belum ada
metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF.
Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang
diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai
untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya
kekambuhan.
Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa, kadang
kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga,
pendengaran sedikit menurun serta mendesing. Lendir dari
hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. Pada
keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau
keduanya. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat
mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya
akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). Keluhan telinga
dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran
Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam
ruang telinga tengah dan udara luar. Pembesaran kelenjar leher
merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak
jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. Pemberian
pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc
tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan
penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan
tbc memerlukan waktu yang lama. Manakala pasien merasa
bahwa kelenjar leher menjadi makin besar, maka dapat
dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut.
Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena
kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus
menerus. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena
pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan
otak saja, padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan
akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. Yang
selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh
pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan
pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya
muncul salah satu gejala akibat KNF.
Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali
menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. Saraf yang paling
sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata, akibatnya
terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien
mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan
tampak bola mata yang juling. Selain gangguan motorik,
keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah.
Untuk menegakkan diagnosis, selain gambaran keluhan
dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan
pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding
nasofaring dengan alat endoskopi, CT scan atau MRI
nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium.
Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan
nasofaring. Sedangkan pemeriksaan lain, seperti foto paru,
USG hati, pemindaian tulang dengan radioisotop (bone
scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya
metastasis di organ-organ tersebut. Adanya metastasis dimana-
pun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai
konskuensi terhadap tujuan pengobatan.
PENGOBATAN
Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang
masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi
radiasi. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan
apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga
menyulitkan tindakan radioterapi. Di samping itu pemberian
khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan
jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 17
yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi.
Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna, dapat
menggunakan pesawat kobalt (Co
60
) atau dengan akselerator
linier (Linear Accelerator atau Linac). Radiasi ini ditujukan
pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang
parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas,
bawah serta klavikula. Radiasi daerah getah bening ini tetap
dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai
pembesaran kelenjar.
Metode brakhiterapi, yakni dengan memasukkan sumber
radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan
guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi
tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di
sekitarnya. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang
telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi
masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh
lokal.
Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah
memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada
daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit
mungkin. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified
Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa
negara maju. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah
memilikinya.
Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan
pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada
mukosa dasar tengkorak.
EFEK SAMPING PENGOBATAN
Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya
nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian
besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Akibatnya dalam
keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut
berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan, mulut
kering dan hilangnya cita rasa (taste). Keadaan ini seringkali
diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah
serta palatum. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut
di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik.
Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah
disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti
dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). Bila
saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH
mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa
sisa makanan ini berkurang, karies gigi akan lebih mudah
terjadi.
Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin
maka sebelum dan selama pengobatan, bahkan setelah selesai
terapi, pasien akan selalu diawasi oleh dokter. Perawatan
sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi,
memberikan informasi kepada pasien mengenai metode
pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar.
PENUTUP
Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang
spesifik, dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala
seperti yang diutarakan di atas. Berkonsultasi ke dokter
keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan
tindakan yang tepat.
Pengobatan radiasi, terutama pada kasus dini, pada
umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang
memuaskan. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat
memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik
sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula.
(Lihat lampiran/ halaman 19).
KEPUSTAKAAN
1. Soetjipto D, Fachrudin D, Syafril A. Nasopharyngeal carcinoma in Dr.
Cipto Mangunkusumo General Hospital. In : Tjokronagoro A, Himawan
S, Yusuf A, Azis MF, Susworo, Djakaria M. (Eds). Cancer in Asia and
Pacfic. YKI. Jakarta Indonesia 1988; p. 47186.
2.
Yu MC, Henderson BE. Nasopharyngeal cancer. In: Schottenfeld D and
Fraumeni JF (eds). Cancer epidemiology and prevention. 2
nd
. ed. N.
York: Oxford University Press, 1996; p. 603 18.
3.
Parkin DM, Pisani P, Ferlay J. Estimates of the world-wide incidence of
25 major cancers in 1990. Int J Cancer; 1990; 80: 82741.
4. Parkin DM, Whelan SL, Ferlay J, Raymond L, Young J. Cancer
Incidence in Five Continents. Vol. 7, Lyon, France : IARC Scient. Publ.
No. 143. IARC Press, 1997.
5.
Yu MC, Ho JHC, Ross RK, Henderson BE. NPC in Chinese Salted fish
or inhaled smoke? Prev Med. 1981; 10: 15-24.
6.
Hildesheim A et al. Herbal medicine use, Epstein Barr virus, and risk of
nasopharyngeal carcinoma. Cancer Res. 1992; 52: 3048 51.
The flame of glory is the torch of the mind
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
18
LAMPIRAN :
Gambar 1. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang
ternyata merupakan metastasis dari KNF
Gambar 2. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator)
Gambar 3. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi.
Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 19
Document Outline