background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Kista Duktus Tiroglosus
Hafni
Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara /
Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Medan
ABSTRAK
Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. Kista
ini lebih sering terjadi pada anak. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan
untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta
duktusnya.
Kata kunci : Kista duktus tiroglosus, kekambuhan
PENDAHULUAN
Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk
dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan
kelenjar tiroid, yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid
bagian superior di depan trakea.
1-11
Kista ini merupakan 70%
dari kasus kista yang ada di leher.
4,5
Kista ini biasanya terletak di garis median leher, dapat
ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas
kelenjar tiroid.
4-10,12
Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak
dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka
kekambuhan, yaitu dengan mengangkat kista beserta duktus-
nya, bagian tengah korpus hiod, traktus yang menghubungkan
kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di
sekitarnya, seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun
1920.
1,3,4,5,9,10,13
KEKERAPAN
Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan
kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher, merupakan
40% dari tumor primer di leher.
1,13,14
Ada penulis yang
menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista
duktus tiroglosus.
5,6
Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak,
10,14
walau-
pun dapat ditemukan di semua usia.
4,9,10,12
Predileksi umur
terbanyak antara umur 0 ­ 20 tahun yaitu 52%, umur sampai 5
tahun terdapat 38%.
4,11
Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus
dari + 86.000 pasien anak.
3
Tidak terdapat perbedaan risiko
terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa
didapat dari lahir sampai 70 tahun, rata-rata pada usia 5,5
tahun.
3,5
Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10
tahun sebesar 31,5%, pada dekade ke dua 20,4%, dekade ke
tiga 13,5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34,6%.
1,5
Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara
histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista
tersebut.
12
Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus
tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang.
11
PATOGENESIS
Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya
kista duktus tiroglosus :
1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel
traktus, sehingga mengalami degenerasi kistik.
2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya
penumpukan sekret sehingga membentuk kista.
Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus
terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher, jika sering
terjadi peradangan, maka epitel duktus juga ikut meradang,
sehingga terbentuklah kista.
1
LOKASI
Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis
tengah leher, sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari
dasar lidah sampai ismus tiroid.
11
Lokasi yang sering adalah
1,5
:
- intra lingual : 2,1%
- suprahioid
: 24,1%
- tirohioid
: 60,9%
- suprasternal
: 12,9%
Sedangkan Ward
4
mendapatkan dari 72 pasien dengan kista
duktus tiroglosus, lokasinya terdapat di:
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 11
background image
- submental
: 2
- suprahioid
: 18
- transhioid
: 2
- infrahioid
: 43
- suprasternal
: 3
Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang
lokasinya jauh ke lateral.
8
GEJALA KLINIK
Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di
garis tengah leher, dapat di atas atau di bawah tulang hioid.
Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di
tempat timbulnya kista.
Konsistensi massa teraba kistik, berbatas tegas, bulat,
mudah digerakkan, tidak nyeri, warna sama dengan kulit
sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan
lidah.
1,6,7,10
Diameter kista berkisar antara 2-4 cm, kadang-
kadang lebih besar.
9
Bila terinfeksi, benjolan akan terasa nyeri. Pasien me-
ngeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah.
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik; yang
harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher.
Untuk fistula, diagnosis dapat ditegakkan menggunakan
suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan
dilakukan foto Rontgen.
2,6,11
Diagnosis Banding
1. Lingual tiroid
3. Kista brankial
2. Kista dermoid 4. Lipoma
1,11
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan
banyak macamnya, antara lain insisi dan drainase, aspirasi
perkutan, eksisi sederhana, reseksi dan injeksi dengan bahan
sklerotik. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan
dilaporkan antara 60-100%. Schlange (1893) melakukan eksisi
dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktus-
duktusnya;dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%.
11
Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan
embriologi, yaitu kista beserta duktusnya, korpus hioid, traktus
yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot
lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. Cara ini dapat
menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %.
5,11
Cara Sistrunk :
1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea
terpasang, posisi terlentang, kepala dan leher hiperekstensi.
2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago
tiroid sepanjang empat sentimeter. Bila ada fistula, irisan ber-
bentuk elips megelilingi lubang fistula.
3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia; fasia
yang lebih dalam digenggam dengan klem, dibuat irisan me-
manjang di garis media. Otot sternohioid ditarik ke lateral
untuk melihat kista di bawahnya.
4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya, sampai tulang
hioid. Korpus hioid dipotong satu sentimeter.
5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke
foramen sekum. Duktus beserta otot berpenampang setengah
sentimeter diangkat. Foramen sekum dijahit, otot lidah yang
longgar dijahit, dipasang drain dan irisan kulit ditutup
kembali.
5,11
KOMPLIKASI
Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder
akibat trauma, infeksi atau operasi yang tidak adekuat. Kejadi-
an fistel ini antara 15-34%.
5
KESIMPULAN
Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk
dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan
kelenjar tiroid. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang
ada di leher. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat
ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas
kelenjar tiroid.
Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak, walaupun
dapat ditemukan pada semua usia. Penatalaksanaan kista duk-
tus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilaku-
kan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.
KEPUSTAKAAN
1. Maran AGD. Benign diseases of the neck. Dalam : Scott-Brown's
Otolaryngology. 6
th
ed. Oxford : Butterworth - Heinemann, 1997; 5/16/1-
4.
2. Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher.
Edisi 13. Jilid 1. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. THT FKUI. Jakarta :
Bina Rupa Aksara, 1994; 295-6, 381-2.
3. Cohen JI. Massa Jinak Leher. Dalam Boies. Buku Ajar Penyakit THT.
Edisi 6, Alih Bahasa : Wijaya C. Jakarta : EGC, 1996; 415-21.
4.
Karmody CS. Developmental Anomalies of the Neck. Dalam: Pediatric
Otolaryngology. 2
nd
ed. Bluestone CD, Stool SE, Scheetz MD (eds.).
Philadelphia : WB Saunders Co, 1990; 1313-14.
5.
Sobol M. Benign Tumors. Dalam : Comprehensive Management of Head
and Neck Tumors. Vol. 2. Thawley S, Panje WR (eds.). Philadelphia :
WB Saunders Co, 1987; 1362-69.
6.
Montgomery WW. Surgery of the Upper Respiratory System. 2
nd
ed. Vol.
II. Philadelphia : Lea & Febiger, 1989; 88.
7.
Colman BH. Disease of Nose, Throat and Ear and Head and Neck, A
Handbook for Students and Practitioners. 14
th
ed. Singapore : ELBS,
1987; 183.
8. O'Hanlon DM, Walsh N, Corry J et al. Aberrant thyroglossal cyst. J.
Laryngol. Otol. 1994; 108 : 1105-7.
9.
Pincu RL. Congenital Neck Masses and Cysts. Dalam : Head and Neck
Surgery - Otolaryngology. Vol. 1. Bailey JB, Johnson JT, Kohut RI et al.
Philadelphia : JB Lippincott Co, 19; 755.
10. Ellis PDM. Branchial cleft anomalies, thyroglossal cysts and fistulae.
Dalam : Scott-Brown's Otolaryngology. 6
th
ed. Oxford: Butterworth ­
Heinemann, 1997; 6/30/8-12.
11. Damijanti T, Suparjadi S, Samsudin. Tata Laksana Kiste Duktus
Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. 1983 - 1985. Dalam :
Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. Ujung Pandang. 1986; 760-7.
12. Waddell A, Saleh H, Robertson N et al. Thyroglossal duct remnants. J.
Laryngol. Otol. 2000; 114: 128-9.
13. Urben SL, Ransom ER. Fusion of the thyroid interval in a patient with a
thyroglossal duct cyst. Otolaryngol. Head and Neck Surg. 120 (5): 757-9.
14. Greinwald JH, Leichtman LG, Simko MEJ. Hereditary Thyroglossal Duct
Cyst. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 1996; 122: 1094-6.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
12

Document Outline