TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Papiloma Laring pada Anak
Bambang Supriyatno, Lia Amalia
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di
saluran nafas anak; dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat meng-
akibatkan kematian.
Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui; diduga berhubungan dengan infeksi
human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. Beberapa keadaan diduga berperan
sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah, higiene yang buruk,
infeksi saluran nafas kronik, kelainan imunologis, dan terdapatnya kondiloma akumi-
nata pada ibu. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta
suara tangisan yang abnormal. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea
dan bahkan sampai ke paru-paru. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan
anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan laringoskopi langsung. Pada
laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol, ber-
warna kemerahan, rapuh, mudah berdarah, dan pertumbuhannya eksofilik. Tatalaksana-
nya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik; obat-obatan (medi-
kamentosa) kurang berperan. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan
nafas serta penyebaran ke paru-paru. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi; pada
anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi.
Kata kunci : papiloma laring, anak, rekurensi
PENDAHULUAN
Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang
sering dijumpai pada saluran napas anak. Papiloma laring
pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the
throat) oleh Donalus pada abad ke-17. Mc Kenzie memper-
kenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19.
1
Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak
tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. Papiloma laring pada
anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas.
Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk
tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur
trakeobronkial.
Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas
merupakan penyebab potensial papiloma laring. Mc Kenzie
membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan
menggunakan istilah "papiloma".
2,3
Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang de-
ngan cepat, walaupun tidak ganas. Tumor ini dapat menyebar
ke rongga mulut, hidung, trakea dan paru, tetapi lokasi ter-
sering adalah laring.
4,5
Terdapat dua jenis papiloma laring; salah satu adalah papi-
loma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung
agresif. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter
dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
8
INSIDENS
Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak, 80%
pada kelompok usia di bawah 7 tahun.
6
Agung
7
melaporkan 7
kasus antara 1970-1976, 6 di antaranya di bawah 12 tahun.
Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara
1993-1997 dengan usia antara 2,5-18 tahun.
ETIOLOGI
Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti.
Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan
terhadap terjadinya papiloma laring. Diduga ada hubungan an-
tara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring
pada anak.
8,9
Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11
pada kondiloma genital. Walaupun penemuan di atas menun-
jukkan peran infeksi virus pada papiloma laring, tetapi ada
faktor lain yang berperan., mengingat papiloma laring dapat
menghilang spontan saat pubertas.
Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu
penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger.
10
Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring
yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk, infeksi
saluran napas kronik, dan kelainan imunologis.
3,11-13
HISTOPATOLOGI
Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi ekso-
fitik, seperti kembang kol, berwarna abu-abu atau kemerahan
dan mudah berdarah. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah
kambuh, tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan.
10
Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma
jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi
lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau
parakeratotik. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang ber-
mitosis.
10
MANIFESTASI KLINIS
Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak
sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. Bila
papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan
pernapasan berupa batuk, sesak, dan stridor inspirasi.
Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan, tetapi
dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma
atau riwayat trakeostomi sebelumnya, yang menimbulkan
sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru.
14-16
Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4
derajat berdasarkan kriteria Jackson. Jackson I ditandai dengan
sesak, stridor inspirasi ringan, retraksi suprasternal, tanpa
sianosis. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih
berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula, sianosis
ringan, dan pasien tampak mulai gelisah. Jackson III adalah
Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal,
epigastrium, dan sianosis lebih jelas, sedangkan Jackson IV
ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak
tegang, dan terkadang gagal napas.
7,11
DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti,
pemeriksaan fisis, dengan laringoskopi langsung atau tak lang-
sung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis.
Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara
tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat
infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan, maka
perlu dicurigai suatu papiloma laring. Biasanya terdapat stridor
inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak
gambaran tumor yang menyerupai kembang kol, kemerahan,
rapuh, dan mudah berdarah, serta pertumbuhannya eksofilik.
Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui
foto toraks dan CT Scan. Pada foto toraks dapat terlihat
gambaran kavitas.
17
Diagnosis banding
Diagnosis sulit terutama pada fase awal. Sering disalah
diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis, asma bronkial, la-
ringomalasea, paralisis pita suara, nodul pita suara atau kista
laring kongenital. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan la-
ringoskopi langsung dan biopsi.
15
PENATALAKSANAAN
Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma
laring, semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat
papiloma dan menghindari rekurensi.
Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Bedah
Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan
jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis
laring. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papi-
loma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas.
Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi,
laringofissure, mikrolaringoskopi langsung, mikrolaringoskopi
dan ekstirpasi dengan forseps, mikrokauter, mikrolaringoskopi
dengan diatermi, mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi,
kriosurgeri, carbondioxide laser surgery.
17,18
Pada kasus papi-
loma laring yang berulang, terapi bedah pilihan adalah peng-
angkatan tumor dengan laser CO
2
.
b. Medikamentosa
Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik
digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tin-
dakan bedah. Obat yang digunakan antara lain antivirus, hor-
mon (dietilstilbestrol), steroid, dan podofilin topikal. Terapi
medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat.
18-20
c. Imunologis
Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya
suportif menggunakan interferon.
18
d. Terapi
fotodinamik
Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam
tatalaksana papilomatosis laring rekuren.
14
Terapi ini meng-
gunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikem-
bangkan untuk terapi kanker. Jika diaktivasi dengan cahaya
dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm), DHE meng-
hasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan
sel-sel yang mengandung substansi tersebut. Basheda dkk.
melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan
lesi endobronkial, tetapi tidak untuk lesi parenkim.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
9
KOMPLIKASI
Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh
spontan ketika pubertas; tetapi dapat meluas ke trakea, bronkus,
dan paru, diduga akibat tindakan trakeostomi, ekstirpasi yang
tidak sempurna.
13
Meskipun jarang, radiasi diduga menjadi
faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas.
PROGNOSIS
Prognosis papiloma laring umumnya baik. Angka re-
kurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Sampai saat ini belum
diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi re-
kurensi pada papiloma.
16
Diagnosis dini dan penanganan yang
tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
rekurensi. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke
paru.
KEPUSTAKAAN
1.
Harley C, Hamilton, Birzgalis AR. Recurrent respiratory papillomatosis.
The Manchester experience 1974-1992. Laryngol and Otol 1994;
108:226-9.
2. Kohlmoos HW. Papilloma of the larynx in children. Arch Otolaryngol
1995; 11:242-52.
3. Elo J, Hidvigi J, Bajtai A. Papova viruses and recurrent laryngeal
papillomata. Arch Otolaryngol 1995; 115:322-5.
4. Erisen L, Fagan JJ, Myers EN. Late recurrences of laryngeal papillo-
matosis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996; 122:942-4.
5. Kashima H, Mounts P, Leventhal B. Sites of predilection in recurrent
respiratory papillomatosis. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993; 102:580-3.
6.
Steinberg BM, Topp WC, Schneider PS, et al. Laryngeal papillomavirus
infection during clinical remission, N Engl J Med 1983; 308:1261-4.
7.
Agung IB, Losin. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM.
Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang, 1977; .h.669-75.
8.
Smith EM, Pignatari SSN, Gray SD. Human papillomavirus infection in
papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent
respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. Arch
Otolaryngol Head Neck Surg 1993; 119:554-7.
9.
Derkay CS. Task force on recurrent respiratory papillomas. A preliminary
study. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995; 121:1386-91.
10. Abramson AL, Steinberg BM, Winkler B. Laryngeal papillomatosis:
clinical histopathologic and molecular studies. Laryngoscope 1987;
97:678-85.
11. Yasin AR. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Skripsi. THT
FKUI, 1982.
12. Mulloly VM, Abramson AL, Steinberg BM. Clinical effect of alpha
interferon dose variation on laryngeal papillomas. Laryngoscope 1998;
98:1324-9.
13. Bashida SG, Mehta AC, de Boer G, Orlowski JP. Endobronchial and
parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of
photodynamic therapy. Chest 1991; 100:1458-64.
14. Shikowitz MJ. Comparison of pulsed and continuous wave light in
photodynamic therapy of papillomas: An experimental study.
Laryngoscope 1992; 102:300-10.
15. Ossof RH, Werkheven JA, Dere H. Soft tissue complication of laser
surgery for reccurent papillomatosis. Laryngoscope 1991; 101:1162-6.
16. Rimell EM, Shoemaker DL, Pou AM. Pediatric respiratory
papillomatosis. Prognostic role of viral typing and cofactors. Laryngos-
cope 1997; 107:915-47.
17. White A, Haliwell M, Fairman DH. Ultrasonic treatment of laryngeal
papillomata. Bristol General Hospital. h.249-60.
18. Haglund S, Lundwuist P, Cantell K. Interferon therapy in juvenile
laryngeal papillomatosis. Arch Otolaryngol 1981; 107:327-32
19. Green GE, Bauman NM, Smith RJH. Pathogenesis and treatment of
juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. Otolaryngol Clin N
Am 2000; 33:187-207.
20. Derkay CS, Darrow DH. Recurrent respiratory papillomatosis of the
larynx. Current Diagnosis and Treatment. Otolaryngol Clin N Am 2000;
33:1-12.
Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004
10
Document Outline