background image
Rotavirus pada Penderita Diare
Anak-anak Usia Balita di Jakarta Utara
Eko Rahardjo dan Suharyono Wuryadi
Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan deteksi rotavirus dengan menggunakan metoda RPHA (Reversed
Passive Haemaglutination) pada penderita diare dari Rumah Sakit Karantina di Jakarta
Utara. Dad 633 sampel tinja penderita, 166 (26,2%) di antaranya positif.
Hasil dari deteksi rotavirus menunjukkan distribusi bulanan mencapai jutnlah
terbanyak pada bulan Januati (23 sampel), sedangkan paling sedikit pada bulan Juli (7
sampel). Walaupun jumlah tertinggi pada bulan Januari dan terendah bulan Juli namun
persentase tertinggi jatuh pada bulan Agustus dan terendah pada bulan Nopember, yaitu
masing-masing 50% dan 11,6%.
Musim sangat berpengaruh terhadap penyebaran rotavirus. Di musim penghujan
junilah rotavirus positif besar namun persentase rendah yaitu pada 101 sniped (26,0%).
Sedangkan di musim kemarau rotavirus positif sedikit namun persentase tinggi, 65
sampel (33,3%).
Jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap adanya rotavirus pada penderita diare.
Walaupun rotavirus lebih banyak pada anak lelaki, namun persentase positif lebih
tinggi pada perenipuan.
Umut sangat mempengaruhi keberadaan rotavirus pada penderita diare. Pada usia di
atas 2 tahun, makin tinggi usia makin sedikit kemungkinan terkena diare o]eh rotavirus.
Hasil deteksi rotavirus berdasar kelompok umur sebagai berikut ini: 1 taliun, 115
sampel (39,8%). -2 tahun, 33 sampel (21,6%). -3 tahun, 10 sampel (12.5%). -4 tahun, 4
sampel (6,0%). -5 tahun, 4 sampel (9,5%).
Berdasar hasil penelitian sebelumnya dan penelitian ini, diduga rotavirus merupakan
penyebab diare pada 30% anak-anak usia di bawah umur 2 tahun.
PENDAHULUAN
Penyakit diare atau gastroenteritis masih merupakan pe-
nyehab kesakitan dan kematian yang besar pada anak-anak di
Indonesia, Menurut Sunoto dkk, penyakit diare merupakan
salah satu dari 5 penyakit utama penyebab kesakitan dan ke-
matian anak-anak usia Balita
1
.
Di negara-negara berkembang hanya sekitar 20% etiologi
penyakit diare dapat ditentukan
2
, namun dengan perkembangan
teknologi baru, telah dapat ditemukan 80% penyebab diare
akut. Hal ini merupakan kebalikan dari situasi puluhan tahun
sebelumnya, di mana 80% kasus diare tidak diketahui
etiologinya
3
.
Penyebab rnikrobiologis gastroenteritis akut pada neo-
natus di bangsal gastroenterlogi rumah sakit Cipto Mangun-
kusumo (RSCM) Jakarta, tahun 1979­1981, peringkat ter-
tinggi diduduki oleh rotavirus, inerupakan 30,4% dari pen-
derita
4
. Rotavirus adalah virus yang relatif baru ditemukan,
yaitu pad tahun 1973 dari biopsi duodenale anak penderita
diare akut di Australia, dengan penganiatan menggunakan
mikroskop elektron
s
. Bishop dan kawan-kawan (1974) juga
herhasil mendeteksi rotavirus dari tinja anak penderita diare
dengan alat yang sama
6
.
Rotavirus pertama dideteksi di Indonesia pada tahun
1974, menggunakan rikroskop elektron; bahan yang di-
deteksi ialah tinja dari penderita gastroenteritis akut disertai
dehidrasi
4
. Sekarang ini di Indonesia untuk niendeteksi
rotavirus kecuali dengan mikroskop elektron, juga mengguna-
kan tiara ELISA (Enzyme Linked 1mmuno Sorbent Assay) yang
diperkenalkan oleli Yolken et al (1977) dan cara RPHA
(Reversed Passive Haemaglutination) yang diperkenalkan oleh
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 41
background image
Sanekata et al (1979). Hasil dari ketiga cara ini ternyata tidak
begitu jauh berbeda
4
.
Penelitian ini bertujuan untuk :
1)
Mencoba mengethui prevalensi rotavirus pada penderita
diare anak-anak usia Balita pada setiap bulannya dalam 1
tahun.
2)
Mencoba mengetahui apakah musim berpengaruh terhadap
penyebaran rotavirus.
3)
Mengetahui apakah jenis kelamin mempengaruhi keberada-
an rotavirus dalam penderita diare.
4)
Mengetahui apakah umur mempengaruhi penyebaran rota-
virus.
CARA KERJA
Sampel penelitian berupa tinja dari anak-anak penderita
diare umur 1­5 tahun dari rumah sakit Karantina, Jakarta
Utara. Jumlah sampel 633, dikumpulkan selama 1 tahun, mulai
bulan September 1982 sampai Agustus 1983.
Di laboratorium, sampel yang di dalam kontainer plastik
ini diambil 2 ml kemudian diencerkan 10x dalam garam
penyangga fosfat (Phosphate Buffer Saline = PBS). Suspensi
tinja diguncang selama 20 menit kemudian diputar (disentri-
fugasi) selama 30 menit kecepatan 1500 g. Selesai pemutaran
supernatan diambil.
Untuk mengeliminir reaksi-reaksi yang tidak spesifik, pada
supernatan ditambahkan eritrosit biri-biri (sheep erythrocytes)
yang telah dilekati glutarakiehida (volume eritrosit = 25%
volume supernatan), kemudian diinkubasi suhu 37°C selama 1
jam. Diputar lagi dengan kecepatan 1500 g selama 10 me nit.
Selesai pemu taran supernatan diambil dan dideteksi adanya
rotavirus tanpa reaksi nonspesifik yang bisa mengakibatkan
kesalahan di dalam interpretasi hasil.
Pada penelitian dipakai metoda uji RPHA. Reagensia
RPHA yang dipakai buatan Japan National Institute of Health,
laboratorium Meguro, Tokyo. Cara uji RPHA sebagai berikut:
1)
Disiapkan tray (lempeng plastik tenal 1 cm, lebar 8 cm,
panjang 12,5 cm) berisi 96 lubang, dasar lubang berbentuk
"V"
2)
Supernatan diencerkan kelipatan 2 mulai dari 1:2 sampai
pengenceran 1:8, pengencer supernatan adalah PBS yang telah
ditambah 2% serum kelinci normal (normal rabbit serum) dan
stroma eritrosit biri-biri 1% (sheep erytrocytes stroma).
3)
Setelah diencerkan, tiap pengenceran dimasukkan dalam 1
lubang dari tray, masing-masing 25 mikroliter. Ke dalam tiap
lubang ditambahkan lagi 25 mikroliter suspensi (0,6%) eritrosit
yang telah dilapisi (coated) anti NCDV (Nebraska Calf
Diarrhoea Virus) Ig G.
4)
Tray diguncang pelan-pelan selama
1
i4 menit, ditutup
dengan penutup tray dan dibiarkan pada suhu kamar selama 1
jam. Setelah 1 jam hasilnya dapat dibaca.
5)
Hasil tes dikatakan positif bila pada ke empat lubang dari
tray (berisi pengenceran 1:2 sampai dengan 1:8) terjadi
aglutinasi, karena eritrosit yang dilapisi anti NCDV Ig G ber-
tautan dengan rotavirus pada supernatan. Hasil dikatakan
negatif bila tidak terjadi aglutinasi (terjadi endapan eritrosit dan
supernatan tinja) pada dasar ke empat lubang dari tray.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Prevalensi rotavirus pada penderita diare
Dari 633 sampel tinja penderita diare, ternyata 166 atau
26,2% dideteksi adanya rotavirus. Hasil selengkapnya distri-
busi bulanan rotavirus positif dapat dilihat pada gambar 1.
Pada Gambar 1 dapat dilihat jumlah rotavirus positif
paling banyak dijumpai di dalam sampel yang terkumpul pada
bulan Januari (23 sampel) dan paling sedikit pada bulan Juli (7
sampel). Walaupun ada fluktuasi dalam jumlah tiap bulannya
namun rupanya rotavirus ini tidak pernah absen sama sekali,
selalu ada sepanjang tahun.
Penelitian-penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa
di daerah tropis rotavirus dijumpai sepanjang tahun
7,8
.
Hasl penelitian di Jakarta ini sangat berlainan dengan hasil
penelitian di daerah iklim sedang. Penelitian di Washington DC
tahun 1974­1977 oleh Brandt et al (1979), menunjukkan di
daerah beriklim sedang, rotavirus didapati hanya sekitar 5­6
bulan saja yaitu pada muslin dingin dan awal musim semi
9
.
Gambar 1 juga memperlihatkan bahwa penderita diare dari
Gambar 1. Distribusi badman rotavirus pada anak-anak usia balita
penderita diare di Jakarta Utara, 1982 -1983.
bulan September naik terus hingga mencapal puncaknya pada
bulan November kemudian menurun lagi sampai mencapai titik
terendah di bulan Juni dan Juli. Pada bulan Agustus kasus diare
meningkat lagi. Sedangkan rotavirus positif pola distribusinya
hampir sama, namun puncaknya bukan pada bulan November
tetapi pada bulan Januari dan kemudian menurun lagi hingga
jumlah terendah di jumpai pada bulan Juli, mulai meningkat
lagi di bulan Agustus.
Pola persentase rotavirus positif bila dibandingkan dengan
pola jumlah rotavirus positif ternyata sangat berbeda. Jumlah
rotavirus terendah (Juli), bila dilihat persentasenya cukup tinggi
yaitu 41,2%.
Gambar 2 memperlihatkan bahwa persentase rotavirus
positif dari September sampai Agustus tahun berikutnya
polanya adalah pola yang selalu naik. Penurunan persentase
positif dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
42
background image
Gambar 2. Persentase bulanan rotavirus pada anak-anak usia balita
penderita diare di Jakarta Utara, 1982 ­ 1983.
hanya didapati pada bulan-bulan November, Maret, Mei dan
Juli. Melihat data tersebut dapatlah dinyatakan bahwa periode
bulan September 1982 sampai bulan Agustus 1983 peranan
rotavirus sebagai penyebab diare selalu meningkat. Mengapa
hal ini bisa terjadi perlu penelitian lebih lanjut.
Pengaruh musim terhadap penyebaran rotavirus
Musim ternyata berpengaruh terhadap penyebaran kuman
penyebab diare. Di
,
Jakarta khususnya dan di Indonesia pada
umumnya, musim penghujan jatuh pada bulan Oktober sampai
bulan Maret, musim kemarau jatuh pada bulan April sampai
bulan September.
Bila dilihat dari Gambar 1, jumlah penderita diare di
musim penghujan nampak jauh lebih besar dibanding musim
kemarau. Jumlah penderita diare rotavirus positif juga lebih
besar di musim penghujan yaitu 101 dari 438 penderita.
Sedangkan rotavirus positif pada musim kemarau hanya
didapati 65 dari 195 penderita002E
Walaupun dalam jumlah rotavirus positif di musim ke-
marau itu sedikit namun karena kasus diare juga jauh lebih
sedikit maka persentase rotavirus sebagai penyebab diare jadi
meningkat (Gambar 2). Dengan perkataan lain dapatlah di-
nyatakan bahwa pada muslin penghujan rotavirus secara
ku'antitatif lebih besar dibandingkan musim kemarau, se-
baliknya di musim kemarau rotavirus secara kualitatif lebih
besar dari di musim penghujan. Perbandingan persentase
rotavirus positif di musim kemarau dengan musim penghujan
ialah 33,3% : 23,0%.
Uji statistik antara sampel rotavirus positif di musim
kemarau dengan rotavirus positif di musim penghujan me-
nunjukkan kemaknaan (p < 0,01), jadi rotavirus positif di
musim kemarau memang lebih besar dari di musim penghujan.
Jenis kelamin
Dari seluruh sampel penderita diare, sampel tinja anak
laki-laki berjumlah 353, sedangkan jumlah sampel anak pe-
rempuan ada 280. Distribusi rotavirus positif setiap bulannya
berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Distribusi bulanan rotavirus positip pada anak-anak usia
balita menurut jenis kelamin di Jakarta Utara, 1982-1983.
Dari Gambar 3, nampak bahwa rotavirus positif pada
anak lelaki lebih banyak dijumpai pada penderita diare di
bulanbulan Desember, Januari, Maret dan Juni. Rotavirus
positif pada anak -anak perempuan banyak dijumpai di bulan
Mei dan Agustus. Pada bulan September­November, Februari,
April dan Juli, jumlah rotavirus positif pada penderita lelaki
dan perempuan relatif hampir sarna.
Jumlah rotavirus positif di kalangan anak lelaki lebih
banyak dibandingkan di kalangan anak perempuan. Namun
karena kasus diare di kalangan anak lelaki juga lebih banyak
maka persentase positif rotavirus jadi lebih tinggi di kalangan
anak perempuan. Perbandingan jumlah dan persentase positif
antara laki-laki dan perempuan adalah 86 (24,4%) : 80 (28,6%).
Uji statistik antara rotavirus positif anak lelaki dan pe-
rempuan menunjukkan 0,5 > p > 0,1 (bermakna). Dari uji
statistik dapat dinyatakan bahwa penderita diare dengan
rotavirus positif pada anak laki-laki dan perempuan punya
perbedaan berarti walaupun tidak begitu banyak; rotavirus
positif padaanak perempuan lebih banyak.
Hasil penelitian terhadap anak-anak penderita diare di
Washington DC, memperlihatkan bahwa rotavirus positif pada
anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan
9
.
Penelitian yang dilakukan di Canada juga menunjukkan
rotavirus positif lebih banyak dijumpai di kalangan anak laki-
laki. Walaupun hasil penelitian di Amerika Serikat. dan Canada
berbeda dengan hasil penelitian ini namun Brandt
menambahkan bahwa tidak selalu mutlak rotavirus lebih
banyak didapati pada penderita diare lelaki
9
.
Pengaruh umur
Pengaruh umur terhadap keberadaan rotavirus ternyata
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 43
background image
menunjukkan perbandingan terbalik, makin tua usia penderita
diare, makin sedikit kemungkinan diare itu disebabkan oleh
rotavirus. Hasil selengkapnya distribusi rotavirus berdasarkan
umur tertera pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Distribusi rotavirus positif pada anak-anak balita penderita
diare di Jakarta Utara menurut kelompok umur, 1982­1983.
Rotavirus
positif
Rotavirus
negatif
Umur
(thn)
n % n
%
JumLah
­ 1
115
39.8
174
60.2
289
­ 2
33
21.3
122
78.7
155
­ 3
10
12.5
70
87.5
80
­ 4
4
6.0
63
94.0
67
­ 5
4
9.5
38
90.5
42
Total 166 26.2
467
73.8 633
Pada Tabel 1 dapat dilihat makin tua usia penderita makin
sedikit pula jumlah dan persentase rotavirus positif. Hanya
pada kelompok umur --5 tahun saja persentasenya lebih tinggi
dari kelompok umur -4 tahun. Hal ini perlu pembuktian secara
statistik apakah perbedaan itu bermakna atau tidak.
Uji statistik kelompok umur -1 tahun dengan kelompok
umur yang lebih tua (­2 tahun, -3 tahun, -4 tahun, -5 tahun),
semua menunjukkan harga p < 0,001 (bermakna), jadi memang
jumlah rotavirus
.
positif anak-anak kelompok umur -1 tahun
lebih banyak dari kelompok umur yang lebih tua.
Uji statistik antara kelompok umur -2 tahun dengan ke-
lompok-kelompok umur yang lebih tua hasilnya sebagai
berikut: Antara -2 tahun dengan -3 tahun aoalah 0,5 > p > 0,1.
Antara -2 tahun dengan -4 tahun, p < 0,01 dan antara -2 tahun
dengan -5 tahun, p < 0.1. Hasil uji statistik itu menunjukkan
antara kelompok umur -2 tahun dengan kelompok umur yang
lebih tua semuanyamenunjukkan kemaknaan dengan kadar
berbeda-beda.
Uji statistik antara kelomok umur -3 tahun dengan ke-
lompok umur yang lebih tua (­4 tahun dan -5 tahun), masing-
masing menunjukkan hasil p > 0,5 (tidak bermakna). Walaupun
kelompok umur -3 tahun dengan kelompok yang lebih tua
jumlah dan persentasenya berbeda namun secara statistik tidak
ada perbedaan yang berarti.
Uji statistik antara kelompok umur -4 tahun dengan -5
tahun, menunjukkan p > 0,5 (tidak bermakna). Walaupun
persentase rotavirus positif antara kelompok umur -4 tahun
dengan umur -5 tahun berbeda namun uji statistik membukti-
kan bahwa perbedaan itu tidak berarti.
Menrut Brandt et a1
9
, frekuensi rotavirus tertinggi pada
penderita gastroenteritis adalah umur 2 tahun ke bawah.
Penelitian ini juga mendapatkan hasil bahwa frekuensi rota-
virus tertinggi didapati pada kelompok umur -1 tahun dan 2
tahun (persentase rata-rata kelompok umur -1 dan 2 tahun ialah
30,55%).
Penelitian di Yogyakarta tahun 1978­1979 pada penderita
gastioenteritis, hasil rotavirus positif kelompok umur -6
bulan, -24 bulan, 24 bulan, masng-masing adalah 30%, 45%
dan 19% (Sunarto dkk, 1979). Bila hasil dari penelitian di
Yogyakarta di rata-rata, didapat 31,33%, jadi tidak begitu jauh
berbeda dengan hasil penelitian ini.
Penelitian yang dilakukan di Jakarta dengan metoda
ELISA tahun 1979­1980 oleh lskak Koiman
10
, untuk kelompok
umur 0­1 tahun dan 1­2 tahun, masing-masing didapat hasil
28,1% dan 35,5%,jadi persentase rata-rata adalah 31,8%.
Melihat hasil penelitian terdahulu
4,10
dan hasil penelitian
ini, diduga bahwa rotavirus merupakan penyebab gastro-
enteritis anak-anak usia-di bawah dua tahun dengan frekuensi
30%.
KESIMPULAN
Hasil penelitian rotavirus pada penderita diare anak-anak
usia Balita di Jakarta Utara menghasilkan kesimpulan sebagai
berikut :
1)
Pada umumnya bila penderita diare meningkat rotavirus
pada penderita juga meningkat, namun persentase rendah.
Sebaliknya bila persentase penderita diare menurun, rota-virus
positif di penderita juga menurun tetapi penurunan jumlah
rotavirus positif lebih rendah dari seluruh penderita diare.
akibatnya persentase rotavirus positif meningkat.
2)
Musim sangat mepengaruhi keberadaan rotavirus pada
penderita diare, pada musim penghujan persentase rotavirus
lebih rendah daripada rnusim kemarau.
3)
Di atas umur 2 tahun, makin tinggi usia anak makin sedikit
anak terkena diare karena infeksi rotavirus.
4)
Rotavirus positif pada penderita diare anak laki-laki lebih
banyak dari anak perempuan, namun karena penderita diare
anak laki-laki lebih banyak maka persentase rotavirus positif
anak perempuan jadi lebih tinggi.
5)
.iumlah penderita diare karena infeksi rotavirus di Jakarta,
pada umur 2 tahun ke bawah diduga hampir selalu sama
persentasenya setiap tahun yaitu sekitar 30%.
KEPUSTAKAAN
1.
Sunoto, Adnan SW, Sulianti Saroso J. Diare pada bayi dan anak. Diajukan
pada Lokakarya Badan Lit Bang Kesehatan, Jakarta, 1980.
2.
WHO. Escherichia coli diarrhoea. Report of sub group of the Scientific
Working Group on Epidemiology and Etiology, Copenhagen, 15--18
January 1979. WHO / DDC / EPE / 79. WHO Diarrhoea) Diseases Control
Programme.
3.
Suharyono. Gastroenteritis akut karena rotavirus, ETEC dan
Campilobacter. . Dipresentasikan pada Kongres Nasional Mikrobiologi ke
III, Jakarta, 26­28 November 1981.
4.
Suharyono, Iskak Koiman. Penelitian penyebab (mikrobiologis :
Enterobakteria + Rotavirus) penyakit diare akut di klinik (1974­1982).
Dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Penyakit Diare di Indonesia,
Jakarta, 21­23 Oktober 1982.
5.
Bishop RI , Davidson GP, Holmes IH, Ruck BJ. Virus particle in epithelial
cells of duodenale mucosa from children with gastro-enteritis, Lancet
1973; 2 : 1281­3.
6.
Bishop RF, Davidson GP, Holmes IH, Ruck BJ. Detection of a new virus
by electron microscopy of fecal extracts from children with gastroenteritis,
Lancet 1974; 1 : 149­51.
7.
Esparza J, Viera de Torres B, Pinero A, Carmona FO, Mazzali de Ilia R.
Rotavirus in Venezuelan children with gastroenteritis, Am J Trop Med
Hyg 1977; 26 : 148­51.
8.
Urasawa S, Urasawa T, Djoko Y, Furuya K, Akiba S, Kanamitsu M.
A survey of rotavirus infection in the tropics, Jpn. J. Med. Sc.
Biol. 1981; 34 : 293­98.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
44
background image
9.
Brandt RF, Kim HW, Yolken RH, Kapikian AZ, Arrobio JO, Rodriguez
WJ, Wyat RG, Chanock RM, Parrot RH. Comparative epidemiology of
two rotavirus serotypes and other viral agents associated with pediatric
gastroenteritis, Am J Epidemol 1979; 110: 243-54.
10.
Iskak Koiman. SEMAIC data exchange project on acute gastro-enteritis
due to enterobacteriaceae and rotavirus. Presented at the 8th SEAMIC
Seminar, Singapore, 4-12 September 1980.
11.
Middleton PJ. Analysis of the pattern of viral infection. In: Report of the
74th Ross Conference on Pediatric Research : Etiology, Pathology, and
Treatment of Acute Gastroenteritis, Ponta Vedra Beach, Florida, March
20-22, 1977.
12.
T. Sanekata, Y. Yoshida, K. Oda. Detection of rotavirus from
feaces by reversed passive haemaglutination method, J Clin Pathol
1979; 32 : 963.
13.
Yolken RH, Wyatt RG, Kapikian AZ. ELISA for Rotavirus, Lancet
1977; 2 : 818.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr Iskak Koiman, Direktur Pusat
Penelitian Pen yakit Menular, Badan Lit Bang Kesehatan, Departemen
Kesehatan R.I., yang telah mengijinkan kami menggunakan Laboratorium
Virologi untuk mendeteksi rotavirus.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada Direktur R.S. Karantina beserta
staf yang telah memberi dan membantu kami dalam pengumpulan sampel dari
penderita diare.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 45