background image
Rodamin
B
dan Metanil Kuning
("Metanil
Yellow")
Sebagai Penyebab Toksik
Pada Mencit dan Tikus Percobaan
G.
Nainggolan Sihombing
Unit Penelitian Gizi Diponegoro
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Dep Kes R.I., Jakarta
PENDAHULUAN
Dalam penyelidikan pada tahun 1978, ditemukan bahwa ro-
damin B dan metanil kuning dipakai sebagai pewarna makanan
di Jakarta.
1
Kedua bahan pewarna ini sebenarnya diproduksi
untuk mewarnai kertas, tekstil, kayu dan barang industri non
pangan lainnya.
2
Laporan tentang adanya kasus keracunan ma-
kanan yang mengandung rodamin B atau metanil kuning belum
diperoleh di kepustakaan Jakarta. Berhubung kedua bahan
pewarna ini telah terbukti sering dan banyak digunakan peda-
gang kecil di Jakarta untuk mewarnai makanan kecil dan mi-
numan, maka telah dilakukan percobaan biologik pada mencit
dan tikus putih. Data yang diperoleh kiranya dapat dipergu-
nakan oleh para ilmuwan untuk ditafsirkan pada manusia.
Diharapkan lambat laun masyarakat Indonesia dapat menge-
tahui bahwa rodamin B dan metanil kuning memang berbahaya
bagi kesehatan manusia dan menolak penggunaannya dalam
makanan.
BAHAN DAN METODE
1. Zat pewarna
Rodamin
B diperoleh dari PT Krikras Jakarta asal produk
pabrik Ciech Organik B
2
Div Warsawa. (1 gram produk ekiva-
len dengan 210 mg rodamin B murni). Metanil kuning berasal
dari pabrik Imperial Chemical Industry Ltd London, PT Galic
Bina Mada Jakarta. (1 gram ekivalen dengan 435 mg metanil
kuning)
1
2. Makanan stok
Makanan stok diperoleh dari Unit Gizi Diponegoro Badan
Litbangkes Dep Kes Jakarta (Addendum 1).
3
Makanan yang dicampur dengan rodamin B (untuk perco-
baan I dan II) : 1 gram bahan pewarna rodamin B dicampur
dengan 3 kg makanan stok. Kadar rodamin B dalam makanan
) Ringkasan naskah Ceramah Ilmiah di PT Kalbe Farma, Jakarta tanggal
22 Februari 1983.
50 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
ini adalah 7 mg per 100 gram.
Makanan yang dicampur dengan metanil kuning (untuk per-
cobaan I) : 1 gram bahan pewarna metanil kuning dicampur
dengan 3kg makanan stok. Kadar metanil kuning dalam ma-
kanan ini adalah 14,5 mg per 100 gram.
3. Hewan Percobaan
Mencit dan tikus putih sapihan diperoleh da
ri Unit Gizi
Diponegoro, Badan Litbangkes, Dep Kes, Jakarta.
4. Perlakuan hewan percobaan
·
Percobaan I
Delapan belas ekor mencit dibagi menjadi 3 grup, yang ma-
sing-masing terdiri dari 6 ekor. Grup I diberi makan stok yang
dicampur dengan rodamin B. Grup II diberi makanan stok yang
dicampur dengan matanil kuning. Grup III diberi makanan stok
saja dan dipakai sebagai grup kontrol. Semua hewan diberi
makan dan minum ad libitum selama 16 minggu (Tabel 1).
·
Percobaan II
Grup A (percobaan) dimulai dari seekor tikus jantan dan 2
ekor tikus betina yang berumur 3 bulan untuk dikawinkan se-
lama 3 hari. Kemudian ke dua ekor tikus betina itu dipisahkan
selama masa hamil sampai dekat pada hari melahirkan. Setelah
beranak, anak-ananya dibiarkan tetap bersama induknya sampai
umur 3 bulan. Pada umur ini dipilih secara acak 6 ekor anak
jantan dan 6 ekor anak betina untuk dipergunakan sebagai 6
pasang parent stok (FI). Sisa anak yang tidak terpakai dibuang
dan
ke
6 parent
stok (keturunan grup A) ini kemudian
dikawinkan.
Dari hasil perkawinan dipilih lagi secara
acak 6 ekor anak jantan dan 6 ekor betina yang kemudian di-
pasangkan untuk dikawinkan (F2). Demikianlah seterusnya di-
lakukan sampai dengan generasi ke-6 (F6) (tabel 2). Semua ti-
kus mulai dari FI sampai F6 dari keturunan grup A ini diberi
makanan campuran dengan rodamin B selama 12 bulan.
Grup
B (kontrol) juga dimulai dari seekor tikus jantan yang
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 51
ADDENDUM
1
dikawinkan dengan 2 ekor tikus betina berumur 3 bulan. Perlakuan
selanjutnya sama seperti pada grup A, untuk memperoleh 6 generasi (
F1 - F6). Kemudian pasangan F1 dari grup B (kontrol) merupakan
counter
.
part
dari F1 grup A (percobaan). Demikian seterusnya
pasangan-pasangan F2 sampai dengan F6. Grup B menjadi
counter
part
masing-masing dari pasangan F2 sampai dengan F6 grup A (
percobaan). Semua tikus dari semua generasi grup B hanya diberi
makanan stok selama 12 bulan dan dipergunakan sebagai grup kontrol.
HASIL
· Percobaan I
Mencit yang diberi makanan yang dicampur
dengan rodamin B dan metanil kuning selama 16
minggu. Pada grup rodamin G gejala menyolok
adalah bulu-bulu menjadi kasar dan pertumbuhan
badan terlambat kalau dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Mata dan air seninya
berfluoresensi bila kena sinar matahari. Hewan-
hewan nampak aktif sadar. Pada minggu ke-7
mereka umumnya gelisah, sering menggaruk-garuk
badannya sehingga mendapat luka-luka dibe-
berapa tempat bagian tubuhnya (Gambar 1). Pada
minggu ke-8 keaktifan mereka mulai berkurang dan
geraknya lambat dan malas. Pada minggu ke-10
ditemukan seekor mencit mati (Tabel 1).
Pada kelompok mencit yang diberi meta-nil
kuning, pertumbuhan badan juga terlambat (lihat
Grafik), tetapi mereka aktif dan sadar. Di antara 6
ekor mencit ditemukan 2 ekor yang menderita
megalosefali (Gambar 2), dan 2 ekor lainnya
mendapat pembengkakkan pada ke dua kaki
depannya. Seperti halnya kelompok rodamin B,
pok metanil kuning pun mulai bergerak lam-ban
pada minggu ke-8 dan ke-9 masing-masing
ditemukan seekor mencit mati (Tabel 1).
Pada otopsi dari ke tiga ekor mencit yang mati (
1 ekor dari grup rodamin B dan 2 ekor dari grup
metanil kuning), hanya menunjukkan keadaan gizi
yang jelek dimana semua deposito lemak di dalam
tubuhnya habis sama sekali.
Sisa mencit grup 1 yang berjumlah 5 ekor
dibunuh pada akhir minggu ke-16. Pada hati seekor
mencit ditemukan 1 bungkul tumor hapatoma
dengan ukuran ± 0,5 x 0,5x 0,25 cm yang terletak
pada lobus hepatis dekstra.
Sisa mencit yang berjumlah 4 ekor dari grup II
dibunuh pada akhir minggu ke-16 juga. Dua ekor
diantaranya mengalami perubahan ginjal (ginjal
kistik). Terlihat jelas bahwa bagian pielum meluas
dan bagian korteks menipis.
Percobaan II
Enam pasang tikus selama 6 generasi diberi makanan yang
dicampur dengan rodamin B (Tabel2).
Gejala klinik yang nyata adalah perubahan warna yang menjadi
kemerah-merahan pada kulit dan ekor (mungkin kena sentuhan
makanan berwarna setiap hari atau mungkin konsentrasi rodamin B di
dalam darahnya lebih tinggi dari biasanya). Bola mata, air mata, dan air
seni mereka juga kemerahan-merahan, air seninya berfluoresensi kalau
kena sinar ma-
"COMPOSITION OF PREPARED STOCKDIETS FOR ALBINO - RATS, STRAIN L.M.R."
Basic
Foodstuff
Protein
%
Fat
%
Weight
in kg
Weight
in%
1. Rice
2. Soybean, boiled, dried
3. Peanut, chelled, fried
4. Skim milk powder, high quality
5. Coconut-oil
6. Kitchensalt
7. Bonemeal
8. Vit. B-complex tablet *
9. Vit. A + D
3
in starch **
10. Ferri - citrate
7.0
40
27
35
-
-
-
1
18
44
-
100
-
-
10.0
4.5
1.5
2.0
250 ml
0.15
0.075
30 tab.
+
+
54.3
24.4
8.1
10.8
1.3
0.8
0.4
+
+
+
±18.4 kg
±100%
Average Composition
as calculated
:
Crude Protein
19.6
%
Total Fat
9
%
Total Energy
370 Cals.
%
NPU-standard
60
NPU-operative
50
as analysed
:
Crude Protein
20.3
%
For Comparison
:
Composition of Purina Laboratory Chow :
(Ralston Purina Co St Louis, USA).
Crude Protein
23.0
%
Nitrogen free extract
50.6
%
Crude fat
5.8
%
Crude fibre
4.9
%
Ash
7.7 %
* B-complex,
** Rovimix A + D
3
Type 500/100 Roche :
Each table contains :
1 gram contains 500.000 IU Vit. A +
Thiamin HO
3 mg
100.000 IU Vit. D
Riboflavin
2 mg
12
5
grams Rovimix to 400 grains of starch
Pyridoxin HCl
0.5 mg
For 18.4 kg of food use 8 grams of
Calcium pantothe-
(Starch
+ Rovimix).
nate
2 mg
(equiv.
to 0.25 g Rovimix).
Nicotinamide
10
mg
S
umber Unit Gizi Diponegoro - Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, De-
partemen Kesehatan.
Kompleks Nutrition Centre, Seameo Tropmed - U.I.
Salemba 4 (Kampus U.l.) Jakarta.
October 1978
background image
Tabel
1
Percobaan II :
Disain percobaan dengan mencit, jumlah kematian dan jenis kelainan patologi pada mencit yang
diberi makanan yang dicampur rodamin B dan metanil kuning.*
Grup
Jenis
Makanan
Jumlah
Mencit
pada
permulaan
Jumlah kematian
Mencit pada
minggu ke
Jumlah
Total
Kelainan Patologi
Keterangan
_
VIII
IX
X
Hati
Ginjal
I
Rodamin B
6
0
0
1
1
1**
0
Hepatoma
(1 ekor)
H
Metanil
kuning
6
1
1
0
2
0
2**
Ginjal kistik
(2 ekor)
III
Kontrol
6
0
0
0
0
0
0
Lama percobaan 16 minggu
Kandungan bahan pewarna rodamin B (tidak murni) adalah 1 gram (ekivalen dengan 7 mg) per 100 gram
stokdiet.
Kandungan bahan pewarna metanil kuning (tidak murni) adalah 1 gram (ekivalen dengan 14.5 mg) per 100
gram stokdiet.
** Kelainan patologi ditemukan pada mencit yang dibunuh pada akhir minggu.
Grafik : Perobahan berat badan mencit yang diberi masing masing
dari
rodamin B dan metanil kuning dalam diet selama 16 minggu (
persen
dari berat badan semula).
Kontrol
Metanil
kuning
Rodamin B
Diet
pemberian
-- 1 gram
per 3
-- 1 gram
mg)
malcan
rodamin B
(
ekuiv.
kg stokdiet
metanil kuning
per 3 kg stokdiet
dan minum ad.
210 mg)
(ekuiv. 435
libitum
Gambar 1 : Mencit yang mendapat benjolan dan luka pada kaki kanan,
karena pemberian rodamin B dalam diet pada percobaan
selama 16 minggu.
200
150
100
50
t%
1
2
3
4
0
Bulan
52 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
Gambar 2 : Mencit yang memperoleh metanil kuning dalam diet selama 16
minggu, menderita megalosefali pada minggu ke 10.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 53
Tabel 2
Percobaan II : Jumlah tikus-tikus
yang
mati dan yang mendapat tumor pada pengamatan selama 6 minggu dengan pemberian makan-
an
yang
mengandung 7 mg Rodamin B murni dalam 100 gram diet selama 12 bulan, setiap generasi (F) terdiri
dari 6 pa-
sang hewan.
Jumlah kematian dan Jumlah Tumor yang
Jumlah
Generasi
Jumlah
ditemukan pada bulan ke --
ke
--
d
Jumlah
tikus
masmg
-
Total
Kem
tal
Keterangan
(F)
mas
i
ng
I
II
III
N
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
F- 1
9
12
6
0
0
0
0
0
0
0
0
2*
2
1
0
0
5
Ditemukan
limfoma
F- i
12
6
0
0
0
0
0
0
0
0
2
1
--
--
--
6
pada 1 ekor
tikus
F-2
9
6
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1*
1
1
1
4
d
6
0
0
0
0
1
1
1
0
1
0
0
0
0
4
F-3
9
6
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
4
12
--
d
6
0
0
0
0
0
0
0
0
2*
0
0
0
0
4
F-4
9
6
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
0
0
0
3
12
d
6
0
0
0
0
0
2
2*
0
0
0
0
0
0
4
F-5
9
6
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
0
3
12
d
6
0
0
0
0
0
0
0
0
2*
0
1
0
0
3
F-6
9
6
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
2
12
d
6
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
1
Catatan ; -- Pada kelompok kontrol tidak ada yang mati
Pada kelompok kontrol tidak ada pertumbuhan tumor
tahari. Tubuhnya rata-rata lebih kecil bila dibandingkan de-
ngan hewan kontrol (Gambar 3), akan tetapi semua hewan
menjadi aktif, malah banyak yang galak, agresif dan kanibal.
Tikus-tikus umumnya mengalami diare sebelum mati, dan yang
mati kemudian dimakan oleh tikus-tikus yang masih hidup dan
aktif. Mulai bulan ke-10 banyak tikus mengalami kerusakan
tubuh (Gambar 4).
Angka kematian pada generasi pertama cukup tinggi, akan
Gambar 3 : Perbedaan besar tubuh tikus yang diberi rodamin
B
dalam diet
dengan kontrol pada penelitian selama 12 bulan.
Gambar 4 Tikus yang mengalami kerusakan tubuh pad
a pemberian
rodamin
B
dalam diet pad
a penelitian selama 12 bulan.
tetapi makin lama pada generasi berikutriya menjadi makin
berkurang (Tabel 2).
Pada otopsi, ditemukan tumor limfoma masing-.masing 1
ekor pada Fl, F2, F3, F4, F5 dan F6 (Tabel 2). Waktu yang
diperlukan untuk menimbulkan tumor limfoma antara 6 sampai
9 bulan. Limfoma yang sering ditemukan berada pada me-
background image
diastinum dan kadang-kadang pada mesenterium. Besarnya
bervariasi
dari
yang berdiameter
±
0,25 cm sampai 2,5 cm.
Tikus-tikus
dari
grup kontrol tidak ada yang mati dan pada
otopsi tidak ditemukan tumbuh ganda di dalam tubuhnya.
Gambar 5 Beginilah label dari kemasan plastik yang berisi bahan pe-
warna "makanan", dijual di pasaran bebas Jakarta. Per-
hatikan "Special Colours fo all Purposes".
Gambar 6 :
Bahan pewarna dalam kemasan kaleng, botol, kantong plastik
dijual di pasaran bebas Jakarta sebagai pewarna makanan.
PEMBAHASAN
Data mengenai efek toksik yang diperoleh
dari
percobaan
bahan pewarna rodamin B dan metanil kuning pada mencit dan
tikus percobaan menimbulkan pertanyaan, apakah keracunan
serupa seperti yang terlihat pada hewan percobaan itu, akan
terjadi juga pada manusia yang sering makan makanan yang
mengandung pewarna rodamin B atau metanil kuning.
Mungkin ada gunanya juga kalau diutarakan di sini, bahwa
pada pembuatan bahan pewarna seperti pembuatan bahan
-bahan
kimia organik pada umumnya dibutuhkan proses yang rumit
untuk memperoleh produk yang murni. Ada kalanya
54
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
terbentuk pula produk sampingan yang tidak dikenal sifatnya. Ini
mungkin berbahaya atau tidak berbahaya, tetapi kehadiran zat itu
tidak diinginkan.
4
Rodamin B dibuat
dari
meta
-
dietilaminofenol dan ftalik
anhidrid, kemudian diasamkan dengan asam hidroklorid. Kedua
bahan baku ini bukanlah bahan yang boleh dimakan. Se-
lanjutnya asam HC1 yang dipakai tentunya bertingkat "teknis"
dengan kadar logam logam berat yang cukup tinggi. Begitu juga
metanil kuning yang dibuat
dari
asam metanilat dan dife-
nilamin. Kedua bahan ini toksik. Jadi, dapat kita bayangkan
bahwa di dalam bahan pewarna baik rodamin B maupun meta-
nil kuning, berbagai bahan lain masih ada di dalamnya. Mereka
turut ambil bagian sebagai penyebab toksik tambahan pada
hewan percobaan. Memang kemurnian pewarna rodamin B dan
metanil kuning diusahakan tinggi oleh pabrik pembuatnya, tetapi
karena bahan pewarna ini dimaksudkan untuk mewarnai
sebangsa tekstil, kertas, kayu dan sebagainya, maka kehadiran
logam berat serta produk sampingan lainnya yang dianggap
rendah bagi industri non-pangan sudah cukup tinggi untuk
pewarna makanan.
Kontaminasi dapat pula terjadi
dari
kemasan bahan pewarna
non pangan yang kurang baik mutunya sehingga menambah
bahaya kesehatan manusia bila menggunakan bahan pewarna ini
untuk makanan.
4
,
5
KESIMPULAN
Pemberian rodamin B dan metanil kuning dalam diet mencit
dan tikus percobaan mengakibatkan efek toksik pada hewan
tersebut. Ini menegaskan keterangan yang ada dalam ke-
pustakaan, yaitu baik rodamin B maupun metanil kuning adalah
bahan pewarna untuk mewarnai barang
-
barang non pangan
2
, jadi
tidak dapat ditolerir untuk mewarnai makanan manusia.
Karena masyarakat Indonesia di Jakarta khususnya dan di
Indonesia umumnya memang senang pada makanan yang ber-
warna, maka pengadaan bahan pewarna makanan yang diizin-
kan dengan derajat
Food Grade
dan memenuhi persyaratan
higine, harus mendapat perhatian instansi pemerintah yang
berwenang c.q. Departemen Kesehatan, Departemen Perda-
gangan dan Departemen Perindustrian. Pengadaan ini hendak-
nya disertai dengan harga yang kompetitif dengan harga pewar-
na non pangan yang sebelumnya diperdagangkan sebagai pe-
warna pangan, sehingga dapat dijangkau masyarakat luas seperti
sediakala.
RINGKASAN
Dua pewarna non-pangan dikenal dengan nama rodamin B
yang memberi efek warna merah jambu, dan metanil kuning
yang memberi warna kuning telor digunakan luas sebagai pe-
warna makanan di Jakarta.
Sebagai bahan non-pangan pada umumnya bila berada di
dalam makanan kemudian dikonsumsi manusia, dapat dira-
malkan akan mengganggu kesehatan dalam jangka waktu pen-
dek atau panjang. Untuk pembuktiannya telah dilakukan per-
cobaan pada mencit dan tikus putih dengan mencampurkan
masing
-
masing
dari
kedua bahan pewarna non-pangan tersebut
background image
Cermin Dunia Kedokteran
No. 34, 1984 55
ke dalam diet mereka sehari-hari.
Hasil penelitian menguatkan dugaan, bahwa kedua bahan
pewarna non-pangan ini dapat mengganggu kesehatan hewan
percobaan.
Ucapan terima kasih :
Kepada Dr. Iwan T. Budiarso, ahli patologi veteriner pada Puslitbang
Kanker, Badan Litbangkes, Dep Kes R.I., yang telah memberi penilaian
simtom patologi
dari
penelitian biologik in
i.
KEPUSTAKAAN
1.
Sihombing G. An Exploratory Study on Three Synthetic Colour-
ing Matters Commonly Used As Food Colours In
Jakarta (Thesis),
1978; p. 37 - 82.
2.
Fairhall LT. Industrial Toxicology, 2nd. Ed., New York: Hafner
Publishing Company, 1975 ; p. 235 - 236.
3. Unit Penelitian Gizi Diponegoro, Badan
Litbangkes Depkes R.I.
Miller DS. Worksheet for Determination of Net Protein Utilisation
using Rats Body N Technique, 1978; p 2.
4.
Jacobs MB. The Chemical Analysis of Foods and Food Products, 3rd.
Ed, New York : Robert E. Krieger
Publishing Co., Inc. Hung-
tington, 1973; 11743, p. 103 - 105.
5.
Imperial Chemical Industries. Edicol Colours for Foodstuffs, Pat-
tern leaflet 113.
Kalender Kegiatan
Ilmia
h
SECOND INTERNATIONAL CONGRESS on TRADITIONAL ASIAN
MEDICINE
Dates : September 2, through September 7, 1984
I. Scientific programe :
Theme of the congress :
Traditional medicine in Asian countries and their place in
pluralistic health care systems.
Main subject areas of the congress :
1. The sources and histories of classical traditions
2. Popular medicine
3. Ethnobotany, ethnopharmacology, and allied subjects
4. Models of integration : problems and chances
5. The social construction of illness experience
6. Clinical and experimental studies of therapeutic practices
7. Primary health care and education of health care workers.
II. Social programme :
Ladies' Programme : traditional Indonesian beauty treatment with traditional drug
and traditional cosmetic.
III. Cultural evening.
Place
: Bumi Hyatt Hotel, Jln. Basuki Rachmat 124 - 128.
Phone 031 - 470875, Surabaya
.
Secretariat
: Faculty of Pharmacy, Airlangga University
J1n. Dharmahusada 47, Surabaya
Phone (031). 43710
Registration fee: For Indonesian participant is
: Rp. 50.000,
-
and the accompanying person
: Rp. 25.000,-
Sent payment to : ICTAM II, Bank Account : BNI 46
branch No. 11.02.090.8000 UNAIR