background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 35
HASIL PENELITIAN
Populasi Mesocyclops aspericornis
pada Pengendalian Jentik
Aedes aegypti Menggunakan Metode
Simulasi Kandang Nyamuk
RA Yuniarti, Umi Widyastuti
Balai Penelitian Vektor dan Reservoir Penyakit, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Salatiga
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan intuk mengetahui peningkatan populasí Mesocyclops
aspericornis pada pengendalian jentik nyamuk Aedes aegyptě di laboratorium meng-
gunakan metode simulasi kandang nyamuk.
Penelitian ini dilakukan di dalam kandang nyamuk, yang tempat perindukan
nyamuknya (stoples plastik) diberi Mesocyclops aspericornis. Penelitian dilakukan
selama 12 minggu pengamatan, dengan menghitung jumlah Mesocyclops aspericornis,
pradewasa dan dewasa Aedes aegypti, 1 (satu) minggu sekali. Hasíl penelitian me-
nunjukkan bahwa populasi copepoda M. aspericornis meningkat secara eksponensial
dengan adanya jentik Ae. aegypti yang melimpah sebagai sumber makanan, dalam
waktu 3 minggu. Setelah 3 minggu, kepadatan populasi jentik nyamuk Ae. aegypti
terlihat menurun, demikian pula jumlah nyamuk yang dihasilkannya. Setelah minggu
ke-7 tidak dítemukan jentik.
M. aspericornis mampu bertahan hidup antara 2,5-3 bulan di dalam stoples plastik
dengan volume air 2 liter, dan makanan yang cukup.
PENDAHULUAN
Penyakit demam berdarah di Indonesia sampai saat ini
masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit
demam berdarah dilaporkan pertama kali terjadi di kota
Surabaya dan Jakarta tahun 1968. Pada tahun 1985 penyakit ini
telah meluas sampai 26 dari 27 provinsi di Indonesia. Penyakit
tersebut endemis di kota-kota besar, kota kecil dan pedesaan.
1
Berbagai upaya untuk mengendalikan vektor penyakit tersebut
telah dilakukan baik secara kimia, fisik, maupun secara hayati.
Timbulnya resistensi nyamuk terhadap insektisida men-
dorong dikembangkannya jasad hayati sebagai alternatif untuk
mengendalikan jentik nyamuk vektor. Salah satu jasad hayati
yang digunakan adalah Mesocyclops aspericornis. M. asperi-
cornis telah dilaporkan sebagai jasad pengendali jentik Aedes
albopictus di ban roda bekas di New Orleans Timur.
2
Species
ini juga telah digunakan dalam pengendalian jentik nyamuk
Aedes aegypti di Honduras.
3
Pada penelitian menggunakan
metode simulasi kandang, dengan M. darwini populasi jentik
Ae. aegypti berhasil diturunkan dalam waktu 3 minggu dan
semua dewasa nyamuk mati dalam waktu 8 minggu.
4
Dilapor-
kan pula bahwa populasi M. longisetus meningkat secara
eksponensial dengan melimpahnya jentik Ae. aegypti.
5
Evaluasi secara laboratorium sangat diperlukan sebelum
dilakukan usaha pengendalian vektor penyakit di lapangan.
Salah satu cara untuk mengetahui kemampuan berkembangnya
M. aspericornis pada pengendalian jentik nyamuk adalah
dengan menggunakan kandang nyamuk di laboratorium, se-
bagai tempat hidup nyamuk vektor.
Dibacakan pada Seminar Hasil-hasil Penelitian Stasiun Penelitian Vektor
Penyakit, Salatiga, 24 Maret 1998
background image
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi M.
aspericornis pada pengendalian jentik Ae. Aegypti di dalam
kandang nyamuk di laboratorium.
BAHAN DAN CARA KERJA
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Stasiun Penelitian
Vektor Penyakit, Salatiga, pada bulan Mei sampai Agustus
1997.
B. Bahan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jasad hayati Copepoda M.
aspericornis betina yang berukuran 1,3 mm dan nyamuk Ae.
aegypti betina umur 5 hari yang kenyang darah, masing-masing
25 ekor.
C. Cara Kerja
Prosedur penelitian dilakukan menurut metode Brown et
al. (1991) yang dimodifikasi
4
, sebagai berikut:
-
M. aspericornis dan nyamuk Ae. aegypti diperoleh dari
hasil pemeliharaan di laboratorium Stasiun Penelitian Vektor
Penyakit, Salatiga.
-
M. aspericornis betina sebanyak 25 ekor dimasukkan ke
dalam stoples plastik yang berisi 2 liter akuades, sedangkan
untuk kontrol, stoples tidak diberi M. aspericornis.
-
Masing-masing stoples tadi dimasukkan ke dalam kandang
yang terpisah dengan ukuran 60x60x60 cm
3
, kemudian nyamuk
Ae. aegypti betina kenyang darah sebanyak 25 ekor dimasuk-
kan ke dalam kandang tersebut. Medium di dalam stoples
digunakan untuk tempat bertelur dan tempat hidup stadium
pradewasa Ae. aegypti.
-
Setiap 2 hari sekali nyamuk diberi makan darah marmut,
sedangkan untuk pemelihaan stadium pradewasa Ae. aegypti
diberi makanan berupa dog food setiap hari.
-
Percobaan dilakukan selama 3 bulan dengan waktu peng-
amatan setiap 1 minggu sekali. Pengamatan dilakukan dengan
cara menghitung jumlah M. aspericornis, stadium pradewasa
dan dewasa Ae. aegypti.
-
Ulangan dilakukan sebanyak 3 kali.
-
Suhu dan pH air selama pengamatan berkisar antara 22-
25
° C dan 7.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Populasi M. aspericornis, pradewasa dan dewasa Ae.
aegypti selama 12 minggu pengamatan, menggunakan metode
simulasi kandang nyamuk, disajikan pada Tabel 1 dan
Gambar 1.
Pada kandang perlakuan terlihat bahwa populasi Copepoda
M. aspericornis meningkat secara eksponensial dengan adanya
jentik Ae. aegypti yang melimpah, sebagai sumber makanan,
dalam 3 minggu. Peningkatan jumlah Copepoda M. asperi-
cornis terjadi pada minggu ke-2 (346 ekor), dan pada minggu
ke-3 mencapai jumlah terbanyak yaitu 387 ekor, selanjutnya
berangsur menurun, hingga pada minggu ke-12 menjadi 23
ekor. Peningkatan populasi M. aspericornis terjadi karena
adanya populasi jentik nyamuk vektor yang melimpah sebagai
sumber makanan, di dalam stoples yang digunakan sebagai
tempat hidup M. aspericornis dan pradewasa nyamuk Ae.
aegypti. Dengan menurunnya populasi jentik Ae. aegypti yang
merupakan makanan Copepoda M. aspericornis, jumlah
Copepoda juga menurun; hal ini sesuai dengan keseimbangan
populasi di alam, yang diatur oleh adanya sumber makanan
alternatif. Penurunan jumlah M. aspericornis dapat disebabkan
oleh kanibalisme di antara copepoda itu sendiri karena pada
kondisi makanan yang minim M. aspericornis cenderung
menjadi kanibal.
6
Keterbatasan makanan menyebabkan repro-
duksi dan perkembangan copepoda menjadi lebih lama, karena
menurunkan produktivitas clutch (kantong air), yang meliputi
penurunan ukuran kantong telur dan pertumbuhan kantong
telur yang lebih lama.
6
Predasi M. aspericornis menyebabkan
jumlah pradewasa yang menjadi dewasa sedikit sekali bahkan
pada minggu ke-7 sudah habis, sehingga pada pengamatan
minggu ke-12 tidak dijumpai nyamuk dewasa Ae. aegypti lagi
(Gambar 1).
Tabel 1. Jumlah M. aspericornis, pradewasa dan dewasa Ae. aegypti
selama 12 minggu pengamatan.
Jumlah*
Minggu
M. aspericornis
Pradewasa
Ae. aegypti
Dewasa
Ae. aegypti
Kontrol
Perlk.
Kontrol
Perlk. Kontrol Perlk.
0 0
25
0 0
25
25
1 0 28 17 0 25 25
2
0 346 695 469 29 25
3 0
387
1556
71
55
25
4 0
340
1210
33
63
29
5 0
298
1225
31
72
32
6 0
281
1379
3
75
35
7 0
278
1175
0
88
34
8 0
248
1112
0
92
22
9 0
269
1280
0
130
15
10 0 222
1223 0 185 7
11 0 30 1372 0 139 3
12 0 23 1200 0 139 0
Keterangan :
Purata 3 X ulangan
Di dalam kandang kontrol, pradewasa Ae. aegypti pada
minggu 1 sudah memperlihatkan peningkatan (17 ekor),
selanjutnya meningkat lagi pada minggu ke-2 dan ke-3
berturut-turut 695 dan 1556 ekor. Sedangkan jumlah dewasa
Ae. aegypti meningkat mulai minggu ke-2 (29 ekor) dan
mencapai jumlah terbanyak pada minggu ke-10 (185 ekor).
Jumlah pradewasa dan dewasa nyamuk Ae. aegypti meningkat
sampai batas daya dukung kandang yang optimum; yang
dibatasi oleh faktor kompetisi makanan dan ruang (kandang).
7
Dari hasil pengamatan diketahui pula bahwa Copepoda M.
aspericornis mampu bertahan hidup antara 2,5-3 bulan dalam
stoples plastik dengan volume air 2 (dua) liter, dan makanan
yang cukup.
KESIMPULAN
Populasi Copepoda M. aspericornis meningkat secara
eksponensial dengan adanya jentik Ae. aegypti yang melimpah
sebagai sumber makanan dalam 3 minggu. Akibatnya kepadat-
an populasi jentik Ae. aegypti terlihat menurun, demikian pula
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
36
background image
jumlah nyamuk yang dihasilkannya. Setelah minggu ke-7 tidak
ditemukan jentik nyamuk lagi. M. aspericornis mampu ber-
tahan hidup antara 2,5-3 bulan, dalam stoples plastik dengan
volume air 2 (dua) liter, dan makanan yang cukup.
2.
Marten GG, ES Bordes, Nguyen. Evaluation of Cyclopoid Copepods for
Ae. albopictus Control in Tires.. New Orleans Mosquito Control Board.
New Orleans. LA, 1990; 70126.
3.
Marten. GG, G Borjas, Cush M, Fernandez E, Reid JW. Control of Larval
Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) by Cyclopoid Copepods in Perido-
mestic Breeding Containers. J Med Entomol. 1994; 31(1): 36-44.
UCAPAN TERIMA KASIH
4.
Kay BH, Cabral CP, Sleigh AC, Brown MD, Ribeiro ZM, Vasconcelos
AW. Laboratory Evaluation of Brazilian Mesocyclops (Copepoda :
Cyclopidae) for Mosquito Control. J Med Entomol, 1992; 29(4): 599-602.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit dan Ketua Kelompok Peneliti SPVP, yang
telah memberi saran dan bimbingan hingga selesainya makalah ini. Di
samping itu kami ucapkan terima kasih kepada para teknisi yang telah
membantu pelaksanaan penelitian ini.
5. Brown MD, Kay BH, Hendrikz JK.. Evaluation of Australian Meso-
cyclops (Cyclopoida : Cyclopidae) for Mosquito Control. Entomological
Society of America, 1991; 28(5): 618-23.
6. Williamson CE. Copepoda. In: Ecology aad Classification of North
American Freshwater Invertebrates. Academic Press Inc, 1991; 787-822.
KEPUSTAKAAN
7. Brown
MD, Kay BH, Greenwood JG. The Predation Efficiency of North-
Eastern Australian Mecocyclops (Copepoda : Cyclopoida) on Mosquito
Larvae. Bull Plankton Soc Japan, Spec, 1991; Vol 329-38.
1. Sumarmo. Dengue Haemorrhagic Fever in Indonesia. Pathogenesis and
Management of Dengue Haemorrhagic Fever in Southeast Asia. Seameo
Tropmed. Bangkok, 1987 vol. 18(3).
Jumlah nyamuk
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
1800
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Minggu pengamatan
0
100
200
300
400
M.aspericornis
Nymk.pradewasa(K)
Nymk.pradewasa(P)
Ae.aegypti(P)
Ae.aegypti(K)
Jumlah Copepoda
Gambar 1. Jumlah M. aspericornis, pradewasa, dan dewasa Ae. aegypti selama 12 minggu pengamatan.
Happy they who steadily pursue a middle course
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 37