HASIL PENELITIAN
Pengaruh Lingkungan Kerja Panas
terhadap Kristalisasi Asam Urat Urin
pada Pekerja di Binatu, Dapur Utama
dan Restoran Hotel X, Jakarta
Dewi Sumaryani Soemarko
Sub Bagian Kedokteran Okupasi, Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Untuk meningkatkan produktivitas kerja, ada beberapa
faktor yang harus diperhatikan. Salah satu faktor yang dinilai
berperan cukup penting adalah lingkungan kerja; secara umum
dapat dikatakan bahwa lingkungan kerja yang nyaman diharap-
kan dapat meningkatkan produktivitas.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kenyamanan ling-
kungan kerja adalah suhu lingkungan kerja. Jika suhu terlalu
tinggi, yang disebut dengan lingkungan kerja panas, selain
mengganggu kenyamanan, juga mempengaruhi keseimbangan
cairan dan elektrolit tubuh; jika jumlah cairan dan elektrolit
yang masuk tidak cukup, produksi urin akan menurun dan
kepekatan urin meningkat (hipersatu-rasi/superaturasi). Keada-
an ini bila berlangsung cukup lama dapat mendorong ter-
bentuknya antara lain kristal dan batu asam urat di saluran
kemih.
Penelitian Borghi pada pekerja pabrik gelas yang terpapar
panas dengan suhu 29 - 310 WBGT di lingkungan kerja selama
lebih dari 5 tahun menemukan batu asam urat di saluran kemih
pada sekitar 38,8% pekerja yang mengeluh pegal atau nyeri di
daerah pinggang dan/atau rasa panas atau sakit saat buang air
kecil.
Batu asam urat di saluran kemih akan menimbulkan be-
berapa masalah; selain rasa nyeri, bila berlangsung lama serta
tidak ditangani secara seksama, dapat menjadi salah satu faktor
penyebab gangguan fungsi ginjal. Akibatnya selain merugikan
pekerja, juga perusahaan secara keseluruhan; produktivitas
kerja akan menurun, dan biaya kesehatan pekerja akan me-
ningkat.
PERMASALAHAN
Untuk menyadarkan semua pihak tentang bahaya ling-
kungan kerja panas ini, banyak hal yang harus dilakukan; salah
satu di antaranya yang cukup penting adalah menyajikan data
yang akurat mengenai kejadian bahaya yang dimaksud.
Penelitian ini dilakukan untuki menyajikan data tersebut.
Sesuai dengan kemudahan yang tersedia, penelitian ini dilaku-
kan di kalangan pekerja, khususnya di bagian binatu, dapur
utama dan dapur restoran hotel "X" yang memang selalu ter-
papar panas.Data klinik perusahaan tersebut pada tahun 1994
mencatat 20% pekerja mengeluh sama seperti pada penelitian
Borghi. Data klinik ini juga mencatat 28,8% pekerja yang
bekerja di lingkungan panas urinnya mengandung kristal asam
urat.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan bukan
saja untuk mencegah kelainan fungsi ginjal pada pekerja, tetapi
juga untuk meningkatkan produktivitas para pekerja.
TUJUAN
1.
Mengetahui prevalensi kristal asam urat urin di kalangan
pekerja Hotel "X" yang bekerja di lingkungan panas yaitu bagi-
an binatu, dapur utama dan dapur restoran.
2.
Mengetahui faktor-faktor risiko lain untuk terbentuknya
kristal asam urat urin di kalangan para pekerja.
3.
Mengetahui model (algoritma) terjadinya kristal asam urat
urin pada pekerja di lingkungan panas.
METODOLOGI
Disain penelitian adalah kros seksional (survai analitik)
dengan analisis kasus kontrol. Hasiljadi (outcome) utama pada
penelitian ini adalah kristal asam urat urin positif dan negatif;
disain survai analitik digunakan karena kristal asam urat urin
positif bukan merupakan penyakit fatal. Selain itu saat pem-
bentukan kristal asam urat urin tidak jelas.
Penelitian dilakukan pada bulan Mei - Oktober 1996 di
Hotel "X" Jakarta.
Populasi penelitian adalah semua tenaga kerja yang be-
kerja di lingkungan kerja panas yaitu bagian binatu, dapur
utama dan dapur restoran Hotel "X" masing-masing 64 orang,
166 orang dan 29 orang
Untuk keperluan data analisis dengan pendekatan kasus
kontrol maka jumlah sampel yang diambil disesuaikan dengan
jumlah sampel kasus kontrol. Survai terdahulu di Hotel "X"
pada tahun 1994 terhadap 185 orang pekerja dengan perincian
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
38
130 orang bekerja di lingkungan panas dan 55 orang bekerja di
lingkungan sejuk, ditemukan 28% tenaga kerja yang bekerja di
lingkungan panas kristal asam urat urinnya positif, sedangkan
di lingkungan kerja sejuk, hanya 11% yang asam urat urinnya
positif.
Dari data tersebut maka jumlah kasus dan kontrol untuk
memperkirakan risiko terjadinya kristal asam urat pada pekerja
di lingkungan kerja panas, minimal 162 orang yakni 54 kasus
dan 108 kontrol.Sampel awal diambil dari total populasi pe-
kerja di bagian binatu, dapur utama, dan dapur restoran sebesar
259 orang. Kemudian diambil sampel yang memenuhi kriteria
inklusi sampai batas akhir waktu pengumpulan sampel. Pe-
ngumpulan data dilakukan dengan:
1. Wawancara di tempat menggunakan kuesioner yang telah
disusun secara khusus; meliputi :
a.
Riwayat penyakit yang berhubungan dengan ginjal seperti
hipertensi, diabetes melitus, gout, hepatitis/penyakit hati,
rematik/artritis dan batu saluran kemih.
b.
Faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan kristal
asam urat urin seperti jenis pekerjaan, lama kerja, lamanya
paparan, pekerjaan sebelumnya, kebiasaan makan, kebiasaan
minum minuman tertentu dengan lama dan frekuensi me-
minumnya, kebiasaan minum obat-obatan dengan lama me-
makainya, keringat selama bekerja, kebiasaan buang air kecil
selama 8 jam bekerja, kebiasaan berolahraga dan kendaraan
yang digunakan untuk ke kantor.
2. Pemeriksaan lingkungan tempat kerja
Dilakukan pengukuran tekanan panas berdasarkan indeks
WBGT (Wet Bulb Globe Temperature) di lingkungan tempat
kerja dengan menggunakan beberapa alat ukur sebagai berikut :
a.
Termometer globe, digunakan untuk mengukur suhu globe
(suhu radiasi).
b.
Termometer udara kering, digunakan untuk mengukur
suhu kering udara.
c.
Termometer basah alami, digunakan untuk mengukur suhu
basah alami.
3. Pemeriksaan
fisik
Pemeriksaan yang dilakukan adalah yang berhubungan
dengan tanda-tanda dehidrasi seperti penimbangan berat badan
sebelum kerja dan sesudah kerja, turgor kulit, tekanan darah,
frekuensi nadi, suhu tubuh dan frekuensi pernapasan, juga
pemeriksaan fisik lain.
4.
Pemeriksaan laboratorium
Meliputi pemeriksaan urin rutin dan pemeriksaan asam urat
darah secara bersamaan.
HASIL DAN DISKUSI
Semua pekerja yang dianalisis adalah laki-laki sesuai
dengan penelitian Borghi (1994).
Ternyata pada 93 dari 206 pekerja (45,2%) kristal asam
urat dalam urinnya positif, berarti prevalensi kristal asam urat
pada penelitian ini adalah 45,2%. Angka ini lebih tinggi dari
hasil penelitian Borghi (38,8%); mungkin karena populasi
penelitian yang berbeda.
(1)
Usia pekerja sebagian besar (50,5%) lebih dari 40 tahun.
Ini sesuai dengan lama mereka bekerja, yaitu lebih dari 15
tahun. Pada usia tersebut ketahanan tubuh untuk beradaptasi
dengan lingkungan panas sudah mulai melambat.
(3)
Pada penelitian ini para pekerja kebanyakan dari suku
Jawa (47,6%), disusul oleh suku Sunda 32,5%, dan suku
Betawi 8,7%.
Jenis pekerjaan sebagian besar adalah cook (tukang masak)
51,9%, laundry (binatu) 21,9% dan staf/ steward 26,2%. Hal
ini sesuai dengan pendidikan sebagian besar responden, yaitu
SLTA yang sesuai dengan kualifikasi pekerjaannya.
Kristal asam urat urin positif terbanyak terdapat pada 48
pekerja (51,6%) yang bekerja sebagai cook, disusul oleh pe-
kerja di bagian laundry (31,2%). Ini menggambarkan bahwa di
lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan sumber panas,
dalam hal ini kompor/oven dan mesin-mesin laundry, pekerja-
nya banyak mengalami pembentukan kristal asam urat dalam
urinnya
(1,3,4,5,6,7,9,19)
.
Jenis pekerjaan berhubungan secara statistik dengan ter-
jadinya kristal asam urat urin (p=0,003); artinya jenis pekerjaan
mempengaruhi risiko terjadinya kristal asam urat urin; jenis
pekerjaan cook (tukang masak) dan laundry (binatu) sangat erat
hubungannya dengan alat/mesin yang menghasilkan panas;
akibatnya secara tidak langsung akan mempengaruhi kese-
imbangan cairan tubuh dan sistim pemekatan urin.
Pekerja di bagian laundry mempunyai risiko 431 kali lebih
besar dibandingkan dengan pekerja steward/staf.Demikian juga
dengan cook, jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan
steward/staf mempunyai risiko 1,9 kali lebih besar untuk mem-
punyai kristal asam urat dalam urin; pekerjaan yang ber-
hubungan dengan sumber panas mempunyai risiko pembentuk-
an kristal asam urat urin yang lebih besar.
Tabel 1. Karakteristik demografi, dan kebiasaan olah raga terhadap
risiko terjadinya kristal asam urat urin
Kristal asam urat
Positif (N=93) Negatif (N=113)
Faktor Risiko
n % n %
OR
95% CI Nilai P
Umur
20-29
tahun
30-39
tahun
40-56
tahun
8
32
53
8,6
24,4
57,0
6
56
51
5,3
49,6
45,1
1,00*
0,43
0,78
0,12-1,52
0,22-2,71
0,083
Pendidikan
SD,
SLTP*
SLTA+
Akad,
PT+
21
64
8
22,6
68,8
8,6
20
84
9
17,7
74,3
8,0
1,00*
0,73
0,85
0,34-1,53
0,24-3,03
0,475
Suku Bangsa
Jawa
Sunda
Betawi
Lain-lain
43
28
8
4
46,2
30,1
8,6
15,1
55
39
10
9
48,7
34,5
8,8
8,0
1,00*
0,92
1,02
1,99
0,47-1,81
0,33-3,42
0,72-5,57
0,453
Jenis pekerjaan
Staf/Steward
Cook
Laundry
16
48
29
17,2
51,6
31,2
38
59
16
33,6
52,2
14,2
1,00*
1,93
4,31
0,91- 4,13
1,71-11,01
0,003
Kebiasaan
olah raga
Tidak
pernah
Ya
65
28
69,9
30,1
68
45
60,2
39,8
1,00*
0,65
0,36-1,17
0,147
* Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
* Grup pembanding dasar
+ Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
+ Akademi, Perguruan Tinggi
Pada penelitian ini keadaan dehidrasi tidak terbukti mem-
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002 39
punyai hubungan bermakna dengan terjadinya kristal asam urat
urin. Ini bertentangan dengan hasil penelitian Borghi; ini
mungkin disebabkan oleh perbedaan disain penelitian; peneliti-
an Borghi menggunakan kasus kontrol, sedangkan penelitian
ini menggunakan metode kros seksional.
Pada penelitian ini tidak dilakukan analisis hubungan an-
tara faktor lingkungan tempat kerja (lingkungan kerja panas,
jenis pekerjaan dan lama kerja) dengan keadaan dehidrasi. Hal
serupa juga tidak dilakukan untuk faktor kebiasaan makan dan
minum dan kebiasaan olah raga, penyakit yang pernah/sedang
diderita dan kebiasaan minum obat-obatan dengan keadaan
supersaturasi urin Alasannya adalah pada penelitian ini dilaku-
kan analisis pendekatan kasus kontrol sehingga perlu diketahui
faktor-faktor yang mempengaruhi hasiljadi penelitian, tanpa
perlu mengetahui terlebih dahulu apakah faktor risiko tersebut
mempunyai hubungan bermakna dengan variabel antara, dalam
hal ini keadaan dehidrasi dan keadaan supersaturasi urin.
Tabel 2. Keadaan dehidrasi dan selisih cairan terhadap risiko terjadinya
kristal asam urat urin
Kristal Asam urat
Positif (N=93) Negatif (N=113)
Variabel
n % n %
OR 95% CI Nilai P
Keadaan dehidrasi
0,00 kg(BB tidak turun)
0,01 kg+(BB turun)
13
80
13,9
86,1
20
93
17,7
82,3
1,00*
1,32
0,58-1,38
0,470
Selisih intake cairan
dengan jumlah urin 8 jam
1 cc+(cukup cairan)
<0 cc (kurang cairan)
85
8
91,4
8,6
109
4
96,5
3,5
1,00*
0,39
0,11-1,34
0,123
* Grup pembanding dasar
Kebiasaan minum dapat dilihat pada tabel 3. Kebiasaan
minum air putih, teh/kopi, jus jeruk maupun minuman yang
beralkohol ternyata tidak ada yang mempunyai hubungan
bermakna dengan kristalisasi urin (p> 0,05). Artinya kebiasaan
minum pada penelitian ini tidak terbukti berengaruh terhadap
terjadinya kristal asam urat urin. Tetapi kebiasaan minum
teh/kopi harus dipertimbangkan sebagai faktor confounding
karena mempunyai nilai p = 0,07. Secara fisiologis, jika sese-
orang minum dalam jumlah yang cukup ( 1,5 -2 liter sehari)
maka tidak akan terjadi keadaan kekurangan cairan (dehidrasi),
sehingga pH urin juga tak akan menjadi asam, dengan catatan
jika makanan yang dimakan dalam keadaan seimbang, dan hal
ini akan mencegah kristalisasi asam urat urin yang disebabkan
oleh pH urin yang asam.
(9,10,11)
Lingkungan kerja dalam hal ini adalah lingkungan kerja
panas, yang diukur berdasarkan WBGT (Wet Bulb Globe Tem-
perature) dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu lingkungan
kerja dengan suhu panas (29-31 WBGT) dan lingkungan kerja
dengan suhu normal (24-27 WBGT). Hasil analisis menunjuk-
kan sebagian besar responden (149 dari 206 responden) bekerja
di lingkungan kerja panas, dan 50% di antaranya mengandung
kristal asam urat dalam urinnya. Sedangkan pada pekerja yang
bekerja di lingkungan suhu normal, 60% tidak mempunyai
kristal asam urat dalam urinnya ( tabel 4).
Tabel 3. Kebiasaan minum terhadap risiko terjadinya kristal asam urat
urin.
Kristal Asam urat
Positif
(N=93)
Negatif
(N=113)
Variabel
n % n %
OR
95% CI
Nilai P
1. Minum air putih
0.420
Tidak pernah
2
2.2
1
0.9
1.00*
1-4 Gelas
5-9 Gelas
10-14 Gelas
15-25 Gelas
15
37
26
13
16.1
39.8
27.9
18,3
20
21
26
31
17.7
38.1
24.8
18,5
2.67
1.08
2,15
4,77
0.16-52.49
0.07-32.22
0,14-64,07
0,30-46,72
2. Minum teh/kopi
Tidak pernah
1-4 Gelas
5 Gelas +
17
73
3
19,2
78,5
3,3
14
99
0
12,3
87,9
0,0
1,00*
0,61
NA
1,00
0,26-1,40
NA
0.070
3. Minum jus jeruk
Tidak pernah
1-4 Gelas
5 +
72
20
1
77.4
21.5
1.1
89
24
0
78.8
21.2
0
1.00*
0.61
NA
1.00
0.26 - 1.40
NA
0,541
4. Minum alkohol
Tidak pernah
1-3
Gelas
89
4
95.7
4.3
106
7
93.8
6.2
1.00*
1.47
1.00
0.37-6.20
0,547
* Grup pembanding dasar
NA = tidak dihitung
Dilihat dari lama bekerja di bagian yang sama, ditemukan
hampir 30%nya (76 dari 206 responden) bekerja antara 15-19
tahun, disusul dengan yang bekerja antara 10-14 tahun (55 dari
206 orang). Dari data ini dapat disimpulkan bahwa lama
bekerja erat hubungannya dengan sebaran umur pekerja, yang
sebagian besar berusia di atas 40 tahun.
Paparan panas selama 8 jam perhari atau 40 jam per-
minggu dialami oleh sebagian besar pekerja (95 orang dari 206
responden). Hal ini sangat mungkin mengingat kebanyakan
bekerja sebagai tukang masak (cook), sehingga paparan dengan
panas akan terjadi dan akan berlangsung terus selama yang
bersangkutan bekerja (8 jam per hari atau 40 jam per minggu).
Pada umumnya tukang masak jarang atau boleh dikatakan tidak
pernah meninggalkan tempat kerja sebelum jam kerja habis.
Dari 93 pekerja yang kristal asam uratnya positif, 44 orang
(47,3%) terpapar panas 8 jam perhari atau 40 jam per minggu,
bila dibandingkan dengan pekerja yang kristal asam uratnya
negatif, ternyata dengan paparan panas 2-6 jam per hari atau
10-30 jam per minggu jumlah pekerja dengan kristal asam urat
negatif cenderung lebih sedikit, tetapi pada pekerja yang ter-
papar panas 8 jam sehari atau 40 jam per minggu jumlahnya
meningkat. Hal ini terjadi karena pada pekerja-pekerja dengan
paparan panas 2-6 jam sehari mekanisme aklimatisasi sebagai
usaha tubuh untuk menyesuaikan diri terhadap suhu lingkungan
yang panas. Dengan terjadi proses aklimatisasi
Keadaan lingkungan kerja dengan risiko terjadinya kristal asam
urat urin ternyata berhubungan secara statistik (p=0,002). Ini
dapat dimengerti karena suhu lingkungan yang panas akan
menyebabkan usaha mendinginkan tubuh, antara lain dengan
jalan mengeluarkan keringat dan meningkatkan penguapan me-
lalui paru-paru. Pengeluaran cairan yang relatif banyak akan
mempengaruhi keseimbangan cairan di dalam tubuh; cairan
tubuh akan berkurang (dehidrasi), disusul dengan pemekatan
urin, sehingga akan terjadi keadaan supersaturasi urin. Keadaan
ini akan mempengaruhi ion-ion dalam urin, sehingga mem-
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
40
permudah kristalisasi.
9,10,11,12
Risiko terbentuknya kristal asam
urat pada pekerja di lingkungan suhu panas (29-31 WBGT)
2,74 kali lebih besar daripada pekerja di lingkungan suhu
normal (24-27 WBGT), sehingga kemungkinan mereka meng-
idap batu saluran kemih secara tak langsung juga besar. Hasil
penelitian ini ternyata hampir sama dengan hal yang ditemukan
oleh Black Lock yang menyatakan bahwa insiden batu saluran
kemih berhubungan dengan lingkungan kerja yang panas.
9,10,11
Tabel 4. Lingkungan tempat kerja terhadap risiko terjadinya kristal
asam urat urin (Analisa kasus kontrol menggunakan program
SPSS 10)
Kristal Asam urat
Variabel
Positif
N
Negatif
N
OR
95% Cl
Nilai P
Lingkungan kerja
Suhu
normal
Suhu
panas
16
77
41
72
1,00*
2.74
1,35-5,61
0,002
Lama bekerja
<9
tahun
10-14
tahun
15-19
tahun
20 tahun +
22
23
17
31
37
32
27
17
1,00*
1,21
1,06
3,07
0,53-2,75
0,44-2,56
1,29-7,35
0,021
Papar panas per hari
Tidak
pernah
2-6
jam
8
jam
16
33
44
41
21
51
1,00*
4,03
2,21
1,69-9,70
1,03-4,76
0,002
Paparan panas
per mgg
Tidak
pernah
10-30
jam
40
jam
16
33
44
41
21
51
1,00*
4,03
2,21
1,69-9,70
1,03-4,76
0,002
Jenis pekerjaan
Staf/steward
Cook
Laundry
16
48
29
38
59
16
1,00*
1,93
4,31
0,91-4,31
1,71-11,01
0,003
Lama bekerja di bagian tersebut mempunyai hubungan
bermakna dengan pembentukan kristal asam urat (p=0,021). Ini
dapat dimengerti; seperti halnya dengan lingkungan kerja yang
panas, makin lama seseorang bekerja di lingkungan yang
panas, makin mungkin terbentuk kristal asam urat dalam urin-
nya. Risiko terjadinya kristal asam urat pada pekerja yang
bekerja antara 10-14 tahun 1,21 kali lebih besar dibandingkan
dengan pada pekerja yang bekerja kurang dari 9 tahun. Untuk
pekerja yang bekerja antara 15-19 tahun risikonya 1,06 kali,
sedangkan pada yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun
riskonya lebih besar, 3,07 kali. Artinya makin lama bekerja di
lingkungan bersuhu panas, risiko pembentukan batu asam urat
akan makin besar; Hal ini sama dengan kesimpulan Borghi
(1994) yang mengatakan lama bekerja seseorang di tempat
panas berpengaruh terhadap terjadinya batu asam urat
1
Paparan panas/hari pada pekerja berhubungan bemakna
dengan terjadinya kristal asam urat urin (p=0,002); makin lama
pekerja tersebut terpapar makin mungkin terbentuk kristal asam
urat di dalam urin. Risiko terjadinya kristal asam urat urin pada
pekerja yang terpapar panas 2-6 jam sehari dan 10-30 jam
seminggu ternyata 4,03 kali dibandingkan dengan pekerja yang
tak terpapar panas; tetapi risiko pekerja yang terpapar panas
selama 8 jam sehari atau 40 jam seminggu 2,21 kali dibanding-
kan dengan pekerja yang tak terpapar panas. Artinya mungkin
pekerja yang selalu terpapar panas selama bekerja, sudah
mempunyai sistim aklimatisasi yang baik, tidak terlalu banyak
kehilangan cairan, urinpun tidak menjadi hipersaturasi sehing-
ga pembentukan kristal jarang terjadi. Atau dapat pula pekerja-
pekerja tersebut sudah mengantisipasi keadaan dengan minum
cairan sebanyak mungkin selama bekerja; di lain pihak,
kelompok pekerja yang hanya terpapar panas 2-6 jam sehari
atau 10-30 jam seminggu seringkali melupakan hal-hal di
atas
3,4,6,7
.
Tabel 5. Hasil pemeriksaan darah dan urin terhadap risiko terjadinya
kristal asam urat urin
Kristal Asam urat
Variabel
Positif
n
(N=93)
%
Negatif
N
(N=113)
%
OR 95%
CI
Nilai P
Kadar asam urat
darah
<
7,0
mg/dl
7,1 mg/dl +
pH urin
<
6,0
6,1
+
BJ urin
<
1,030
1,030
+
78
15
89
4
93
0
83,8
16,2
95,7
4,3
100
0
105
8
112
1
113
0
92,9
7,1
99,1
0,9
100
0
1,00*
2,52
1,00*
0,19
NA
0,95-6,89
0,02-1,80
NA
0,040
0,113
tidak
dapat
dinilai
Grup pembanding dasar NA= tidak dapat dihitung
Dari tabel 5, dapat dilihat kadar asam urat darah ber-
hubungan bermakna dengan terjadinya kristal asam urat urin
(p=0,04). Jika dibandingkan dengan pekerja yang kadar asam
urat darahnya kurang dari 7,1 mg/dl, maka pekerja dengan
kadar asam urat darah lebih dari 7,1 mg/dl mempunyai risiko
2,5 kali lebih tinggi untuk mengandung kristal asam urat dalam
urinnya. Hal ini dapat dipahami mengingat asam urat yang ber-
lebihan akan dikeluarkan melalui urin, sehingga asam urat urin
berlebihan akan menyebabkan supersaturasi urin, sehingga
akan mempermudah kristalisasi asam urat dalam urin.
11,12
KESIMPULAN
1.
Prevalensi kristal asam urat urin pada pekerja di bagian
binatu dan dapur di Hotel X adalah 45,15 %
2.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kristal asam
urat urin adalah :
a.
Jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan staf/steward,
maka dengan jenis pekerjaan laundry mempunyai risiko
pembentukan kristal asam urat urin 4,3 kali lebih tinggi
(OR=4,31; CI: 0,29-0,73)
b.
Jika dibandingkan dengan pekerja yang tidak terpapar
panas, maka dengan pekerja yang terpapar panas 2-6 jam
sehari mempunyai risiko pembentukan kristal asam urat
urin 4 kali lebih tinggi (OR=4,03; CI : 1,66 -9,70)
c.
Jika dibandingkan dengan pekerja yang lama kerjanya 1-9
tahun, maka pekerja yang lama kerjanya 20-33 tahun
mempunyai risiko pembentukan kristal asam urat urin 3
kali lebih tinggi (OR=3,07; CI: 1,27-7,35)
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002 41
Tabel 6. Perhitungan multivariat dengan metoda enter untuk model 1,2
dan 3
Variabel OR
a
95% CI
LRS
Nilai G
Nilai P
Model 1 :
Lingkungan suhu panas
(29-31 WBGT)
2,73*
11,514
Model 2 :
Lingkungan suhu panas
(29-31 WBGT)
Lama kerja 10-14 tahun
Lama kerja 15-19 tahun
Lama kerja 20-33 tahun
2,81
0,90
0,80
2,52
1,39-5,66
0,40-1,97
0,35-1,88
1,11-5,71
20,648
(df=3)
G=18,268
P< 0,001
OR
a
= Odd Ratio suaian menurut model yang bersangkutan, kecuali untuk
model 1
LRS = Likelihood Ratio Statistic
G = Goodness of fit = 2 kali perbedaan deviasi
·
= Odd Ratio kasar
Tabel 7. Perhitungan multivariat dengan metoda enter untuk model 1, 2,
4 dan 5
Variabel OR
a
95% Cl
LRS
Nilai G
Nilai P
Model 1 :
Lingkungan suhu panas
(29-31 WBGT)
2,74*
11,514
Model 2 :
Lingkungan suhu panas
(29-31 WBGT)
Lama kerja 10-14 tahun
Lama kerja 15-19 tahun
Lama kerja 20-33 tahun
2,81
0,90
0,80
2,52
1,39-5,56
0,40-1,97
0,35-1,88
1,11-5,71
20,648
(df=3)
G=18,268
P < 0,001
Model 4 :
Lingkungan suhu panas
Lama kerja 10-14 tahun
Lama kerja 15-19 tahun
Lama kerja 20-33 tahun
Kadar asam urar >7,1 mg/dl
3,26
0,74
0,73
2,17
3,07
1,57-6,75
0,33-1,69
0,31-1,72
0,94-5,02
1,13-8,34
25,801
(df=4)
G=8,586
0,10>P>0,05
Model 5 :
Lingkungan suhu panas
Lama kerja 10-14 tahun
Lama kerja 15-19 tahun
Lama kerja 20-33 tahun
Suhu panas
· Lama 10-14 tahun
Suhu panas
· Lama 15-19 tahun
Suhu panas
· Lama 20-33 tahun
Kadar asam urar >7,1 mg/dl
8,49
5,73
0,58
5,83
0,07
1,01
0,24
2,76
2,36-30,58
1,01-32,24
0,05-6,30
1,44-34,36
0,01-0,52
0,07-13,23
0,04-1,58
1,001-7,61
34,301
(df=7)
G=1,00
0,05>p>0,01
OR
a
= Odd Ratio suaian menurut model yang bersangkutan, kecuali untuk
model 1
LRS = Likelihood Ratio Statistic
G = Goodness of fit = 2 kali perbedaan devians
·
= Odd Ratio kasar
d.
Jika dibandingkan dengan pekerja di lingkungan bersuhu
normal (24-27 WBGT), maka pekerja di lingkungan ber-
suhu panas ( 29-31 WBGT) mempunyai risiko pembentuk-
an kristal asam urat urin 2,9 kali lebih tinggi (OR=2,74;
CI: 1,35-5,61)
e.
Jika dibandingkan dengan pekerja dengan kadar asam urat
darah kurang dari 7,1 mg/dl, maka pekerja dengan kadar
asam urat darah lebih dari 7,1 mg/dl mempunyai risiko
pembentukan kristal asam urat urin 2,5 kali lebih tinggi
(OR=2,52; CI ; 1,02- 6,25)
3.
Model yang ditemukan pada penelitian ini adalah Model 5.
Pekerja di lingkungan bersuhu panas (29-31 WBGT) mem-
punyai risiko mengandung kristal asam urat urin 8,5 kali lebih
besar jika dibandingkan dengan pekerja di lingkungan bersuhu
normal (24-27 WBGT). Risiko ini sudah disesuaikan dengan
faktor-faktor lama bekerja, kadar asam urat darah lebih dari 7,1
mg/dl dan adanya interaksi antara lingkungan suhu panas
dengan lama bekerja.
KEPUSTAKAAN
1.
Borghi L, Moschi T, Amato F, Novarini A, Romeli A, Cigala F. Hot
Occupation and Nephrolithiasis. J Urol. (Dec) 1993; 150: 1757-60.
2.
Widarto. Tekanan panas dan cara penilaiannya. Jakarta: Penataran Dokter
Hiperkes. Sep 1990.
3.
Suma'mur PK. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta. CV
Haji Mas Agung. Cet. 7. 1991
4.
Soeripto. Iklim kerja panas. Diktat pengajaran Program K3. Tidak
dipublikasikan.
5.
Guyton AC. Physiology. Fifth ed. Phil: Saunders Co. 1976. Ch 1.
6.
Ganong. Physiology. Ed ke 9. Jakarta : Lange EGC, 1980.
7.
Guyton AC. Cairan Tubuh.Dalam: Physiology. Fifth ed. Phil: Saunders
Company. 1976.
8.
Laurence UA. The Bantam Medical Dictionary. Bantam Books NY; John
Wiley and Sons. January 1981; 108
9.
Drach WG. Urinary Lithiasis: Etiology, Diagnosis, and Medical
Treatment . Campbell's Urology. Sixth ed. Philadelphia; WB Saunders
Company, 1982: 3 - 58
10.
Rahardjo JP . Batu Saluran Kencing. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit
FKUI. 1993: 2: 331
11.
Williams ID, Chisholm DG. Scientific Foundation of Urology. Renal
Disorders. Infection and Calculi. London: William Heinemann.
12.
Rous NS. Stone Diseases: Diagnosis and Treatment. Orlando Florida
USA: Harcourt Brace Jovanovich Publishers : 1987: 109-121
Lampiran .
Tujuan pemilihan model ini adalah untuk melakukan antisipasi . Pada
penelitian ini dilakukan pemilihan model untuk mengetahui faktor-faktor risiko
yang mempengaruhi pembentukan kristal asam urat urin.
Pada tabel 6 dapat dilihat faktor risiko lingkungan kerja suhu panas
dengan menambahkan risiko lama kerja , ternyata ada perbedaan bermakna
antara model 2 dengan model 1. Jadi model 2 dapat diterima sebagai model
alternatif.
Sedangkan pada tabel 7 dapat dilihat dengan menambahkan faktor risiko
lama kerja dan kadar asam urat > 7,1 mg/dl ternyata ada perbedaan bermakna
antara model 2 dengan model 4. Jadi model 4 dapat dipikirkan sebagai model
alternatif, karena nilai p antara 0,10 dan 0,05.
Dengan menambahkan faktor risiko risiko lama kerja dan kadar asam urat
> 7,1 mg/dl, variabel interaksi antara lingkungan kerja suhu panas dengan lama
kerja, ada perbedaan bermakna antara model 5 dengan model 4. Jadi model 5
dapat dipikirkan sebagai model alternatif,
Setelah mempertimbangkan ada 3 model alternatif, yaitu model 2, 4 dan
5, maka dinilai Odd ratio untuk faktor risiko lingkungan kerja suhu panas pada
masing-masing model. Dapat dikatakan bahwa model 5 mempunyai nilai Odd
ratio lingkungan panas yang terbesar. Artinya gabungan faktor-faktor risiko
lama kerja, kadar asam urat > 7,1 mg/dl dan faktor interaksi lingkungan suhu
panas dengan lama kerja, meningkatkan odd ratio lingkungan kerja suhu panas
dari 2.74 menjadi 8,49 kali. Disini dapat dilihat dengan adanya penambahan
faktor lama kerja, kadar asam urat > 7,1 mg/dl dan interaksi lingkungan kerja
panas-lama kerja, maka risiko pekerja di lingkungan panas akan naik menjadi
8,4 kali jika dibandingkan dengan pekerja di lingkungan suhu normal.
Jadi model 5 dianggap paling sesuai dengan data yang ada. Dengan mem-
perhatikan faktor-faktor tersebut, maka dapat diantisipasi tindakan yang harus
dilakukan terhadap pekerja tersebut.
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
42