background image
Menata Ilmu Gizi Terapan
Bagi Peningkatan Mutu Olahragawan
Indonesia Menjelang Tahun 2000
Dr. S.
Hadian
Kanwil Departemen Kesehatan Jawa Barat
PENDAHULUAN
Keberhasilan seorang olahragawan untuk berprestasi dan
mempertahankan prestasinya banyak dipengaruhi oleh ber-
bagai faktor, antara lain: Umur--Kesehatan Jasmani dan
rohani yang standar maupun sebagai olahragawan dalam
cabangnya -- serta latihan yang teratur di bidangnya.
Mengenai faktor umur dan latihan, boleh dikatakan se-
penuhnya merupakan tanggung jawab pelatih dan olahragawan
itu sendiri, sedangkan kondisi jasmani dan rohani olahragawan
perlu mendapat pengawasan dan pembinaan seorang dokter
olah raga secara teratur.
Untuk mendapatkan seorang olahragawan yang tangguh,
tidak cukup dinilai ketrampilannya saja, namun kekuatan --
kecepatan gerakan dan ketahanan tubuhnya terhadap waktu
yang tersedia (stamina) perlu diperhitungkan. Hal ini erat
sekali hubungannya dengan input gizi dan proses pengolahan
enersi biologis, serta kemungkinan manifestasi fisiologis yang
ditimbulkannya. Ini dapat dipelajari di dalam ilmu kedokteran
preklinik (Ilmu Gizi -- Biokimia -- Fisiologi.)
Makanan yang dikonsumir olahragawan sehari-hari perlu
menuruti pola yang benar, sesuai anjuran dokter pembinanya.
Terutama selama periode latihan menjelang pertandingan,
dan selama pertandingan, kuantitas dan kualitas makanan
harus cukup/memadai, karena hal ini turut mempengaruhi
kuantitas dan kualitas mobilitas olahragawan tersebut di dalam
menjalankan tugasnya/permainannya.
Hal ini dimungkinkan oleh adanya korelasi antara: jumlah
gram makanan (jenis makanan dasar/nutrien) dengan jumlah
kalori enersi/tenaga yang ditimbulkannya
l
.
Hal ini telah dibuktikan dalam Olimpiade di Los Angefes
yang lalu, di mana medali emas merupakan monopoli negara-
negara maju (Amerika -- Eropa). Sudah sewajarnya demikian,
karena mereka telah lebih senior dalam memiliki dan men-
terapkan kepustakaan keolahragaan, termasuk gizi olah raga.
Kita selaku bangsa yang baru berkembang, perlu lebih banyak
belajar dari kepustakaan mereka untuk diterapkan sebaik-
baiknya.
PEMBAHASAN
Pada pendahuluan telah dikemukakan adanya kaitan erat/
korelasi antara berat ringannya pekerjaan/olah raga, dengan
kuantitas dan kualitas makanan yang perlu dikonsumir. Ini
disebabkan karena adanya korelasi antara jumlah gram nutrien
dasar dengan enersi yang mungkin dihasilkan, serta adanya
korelasi antara berat ringannya pekerjaan dengan kebutuhan
kalori enersi/tenaga.
Cermin Dunia Kedokteran No. 43, 1987
39
background image
Di bawah ini disajikan tabel-tabel untuk penjelasannya.
Tabel 1. Angka kebutuhan enersi untuk berbagai jenis olah raga
(Kcal/hari)
t
Ke-
Jenis Olah raga
Kebutuhan Enersi (Kcal)
lompok
Pria
Wanita
BB : 70 Kg
BB : 60 Kg
I.
Catur, Bridge, draft
2.800 -- 3.200 2.600 -- 3.000
II.
Akrobatik, Lomba senam,
Atletik lapangan (lari
100M, loncat tinggi,
lompat jauh, lompat galah,
lempar lembing, lempar
cakram), Tenis meja, lomba
layar, ski, menembak.
3.500 -- 4.500 3.200 -- 4.000
III.
Lari (400, 1.500, 3.000M),
Tinju, Gulat (Yudo,
G. Roman, Sambo),
Renang, Basket, bola voli
Poloair, Rugbi, Tenis,
Sepak bola, hoki, hold es
4.500 -- 5.000 4.000 -- 5.000
IV.
V.
Mendaki Gunung, Lari
10.000M, Balap Sepeda,
Kanoe, Marathon, Gerak
jalan.
Maraton--balap sepeda--ski
jarak jauh (50.000 M)
5.500 -- 6.500 5.000 -- 6.000
Lebih dari 8.000
Komposisi nutrien dalam makanan yang serasi dengan hal di
atas adalah :
Protein/Lipid/Karbohidrat
=
15%
/
30%
/
56%
dari
jumlah
kalori.
Dengan nilai kalori selama pembakaran dalam tubuh sebagai
berikut :
1 g Protein
=
4,1 Kcal, 1 g Lemak
=
9,3 Kcal, 1 g CH
=
4,1
Kcal.
Tabel 2. Korelasi kebutuhan enersi (Kcal) dengan jenis nutrien dasar
(gram) pria
l
Klp
Nilai Kalori
Protein
(lem
Lipid
ak)
Karbohidrat
I.
2.800 -- 3.200
96 -- 109
90 -- 103
382 -- 437
II.
3.500 -- 4.500
120 -- 154
113 -- 145
478 -- 615
III.
4.500 -- 5.500
154 -- 174
145 -- 177
615 -- 765
IV.
5.500 -- 6.500
174 -- 190
177 -- 210
765 -- 920
V.
Lebih dari 8.000
214
258
1.151
Menurut pendapat modern, perbandingan optimal dari
protein hewani dan protein nabati dalam diet (makanan)
adalah 1 : 1.
Perlu ditambahkan pula dalam makanan berbagai jenis
Vitamin,sebagai berikut: Untuk tiap 1.000 Kcal enersi, asam
ascorbic 35 mg riboflavin 0,8 mg, thiamin 0,7 mg, niasin
7,0 mg, vitamin A 0,5 mg, tok9ferol 5,0 mg. Mineral pun
demikian, kalium dan natrium sekitar 20%, fosfor 200 mg,
kalsium 1.200 mg, extra Iron (Zat besi/Fe) terutama pada
wanita 20 mg/hari. Air di dalam diet (makanan)/tambahan
minum, total harus mencapai 2 -- 2,5 liter termasuk; kopi-
teh--susu dan sup
1
.
Untuk dapat lebih mantap dalam pelaksanaan sehari-hari
di tanah air kita, di bawah ini disajikan tabulasi bahan makan-
an Indonesia dalam bentuk analisa enersi dan nutrien hasil
liputan Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI.
Namun penyajian ini kami pilih makanan yang mudah di-
40
Cermin Dunia Kedokteran No. 43, 1987
dapatkan berbobot dalam ketinggian enersi dan protein serta
vitamin dan mineral.
(Lihat Tabel 3)
MENATA RUMUSAN MAKANAN OLAHRAGAWAN
Dari
penyajian tabel-tabel terdahulu kita telah memiliki
sejumlah bahan yang dapat membantu kita dalam membuat
perhitungan dalam melayani kebutuhan enersi/tenaga bagi
para olahragawan kita, yang mendekati kebenaran.
Agar memudahkan pelaksanaan di lapangan, kita perlu
merumuskan secara sederhana korelasi faktor-faktor enersi dan
nutrien ke dalam suatu hubungan yang baku, dan mudah di-
hafal.
Misalnya; Untuk makanan pemain Catur perlu; 3.000 Kcal/
hari.
Menurut Tabel 2, diperlukan, Protein
=
100, Lemak
=
100,
KH
=
400 g, Total
=
600 g
Jadi, setiap kebutuhan kalori
=
y Kcal, diperlukan total
nutrien
=
1/5 y g, yang terdiri
dari;
Protein
=
1/30 y g, Lemak
=
1/30 y g, KH
=
4/30 y g.
Dengan rumusan ini memudahkan kita untuk mengingat.
Misalnya; Untuk makanan Pendaki gunung
=
6.000 Kcal/hari
Perlu Total nutrien
=
1/5 x 6.000 gram
=
1.200 g Protein
=
1/30 X 6.000 g
=
200 g, Lemak
=
1/30 X 6.000 g
=
200 g,
KH
=
4/30 X 6.000 g
=
800 g.
Rumusan ini kasar, namun memudahkan untuk dihafal.
Dari
hasil penentuan nutrien di atas, kita perlu menjabarkan
ke dalam bentuk makanan dengan cara menyesuaikannya
dengan tabel 3.
Misalnya; selera olahragawan pendaki gunung ingin makan,
nasi-- bandeng, hati sapi-- telur minum bubur kacang ijo
Perlu dihidangkan 3 X makan sehari, tiap kali makan : Nasi
=
(1/2 X 800/40,6 X 100): 3
=
328 g (1 piring), Bandeng
=
(1/4X 200/20 X 100): 3
=
839 (2 potong), Hati sapi
=
(1/4 X
200/19,7 X 100): 3
=
84 g, Telur
=
(1/4 X 200/12,8 X 100):
3
=
130 g (3 biji), Kacang ijo
=
(1/2 X 800/62,2 X 100): 3
=
214 g (termasuk gula
+
santan).
Angka-angka ini untuk standar orang Amerika/Rusia, untuk
orang Indonesia yang rata-rata berat badannya 60 kg (pria),
perlu dikalikan 60/70.
Sampai saat ini penulis belum mendapat rumusan yang pasti
untuk hal-hal di atas, semuanya didasarkan atas perkiraan
kasar (dengan pembulatan
-
pembulatan dan perataan angka).
Dalam pelaksanaan di lapangan lebih sulit lagi untuk di-
terapkan, mengingat perlu adanya kerjasama yang baik, antara:
ahli masak di dapur-- olahragawam-- dokter pembimbing dan
project official/manager.
Bila tidak tercipta kerjasama yang baik, tidak sedikit kasus
kekalahan olahragawan yang hanya disebabkan kegagalan
menu makanan.
Penyajian makanan perlu memenuhi syarat sebagai berikut
-- Kuantitas dan kualitas sesuai rumusan standar-- bersih/
higienis-- dihidangkan tepat waktu (sempat dicerna dengan
baik/tidak telat)-- sesuai selera olahragawan-- tidak kalah
pentingnya manajer menentukan makanan terbaik yang sesuai
dengan anggaran
*) Angka 4 sesuai /umlah sumber protein yang ada (4) dengan kadar
± sama.
background image
Tabel 3. Daftar komposisi bahan makanan yang dapat dimakan (per 100 g)
PENUTUP
Da
i penyajian- penyajian terdahulu kita bisa menarik ke-
simpulan, enersi
yang
mendukung keberhasilan olahragawan
mencapai
target
kemenangan, sangat tergantung daripada
intake nutrien
(P, L, K H)
sebelumnya.
Pada pelaksanaan
di
lapangan, keberhasilan tersebut ter-
gantung kerjasama dan s
aling
pengertian antara olahragawan,
ahli masak, pelatih dan dokter pembina serta manajer team
olaluaga.
KEPUSTAKAAN
1. Prof. Rogozkin VA. Nutrition In Sport. In: Basic book of sports
Medicine,. International Olympic Cimmittee Olympic Solidarity,
1978.
2. Masalah-masalah dalam kedokteran olah raga, latihan olah raga dan
coaching. International Olympic Committee Olympic Solidarity,
edisi 1975.
3. Widya Karya Nasional pangan dan gizi, Lembaga ilmu pengetahuan
Indonesia, Maret 1979.
4. Daftar komposisi bahan makanan; Keluaran Direktorat Gizi De-
partemen Kesehatan RI.
Cermin Dunia Kedokteran No. 43, 1987
41