HASIL PENELITIAN
Karies Gigi Pada Anak Balita
Di 5 Wilayah DKI
Tahun 1993
Yuyus R, Magdarina DA, F Sintawati
Staf Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Masalah kesehatan gigi di Indonesia masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat, karena prevalensi karies pada
anak balita masih cukup tinggi 85% dan pada anak 12 tahun
rata-rata DMF-T 2.70, hal ini disebabkan kesadaran masyarakat
akan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masih rendah,
ternyata hanya 10% anak balita yang berobat gigi secara
dini.
(1,2)
Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995,
pada umur 1-4 tahun, yang menyatakan menyikat gigi sangat
baik 1%, cukup baik 6,6% tidak baik 64,9%, sesuai program
UKGS Ditjen Kes Gigi.
(3)
Penelitian kebutuhan untuk penambalan dengan fisur silen
merupakan awal dari karies pada anak usia 6-13 tahun di 2 SD
di Medan (1998), menunjukan paling tinggi kebutuhan pe-
nambalan dengan fisur silen pada gigi molar satu bawah
49,69% dan molar dua bawah 42,92%.
(4)
Penelitian DMF-T tahun 1996/1997, 20 SD di Bekasi
untuk murid kelas 2, 4, 6 terlihat pada wilayah Urban DMF-T
2.223 dan di Rural DMF-T=2.571.
(5)
Penelitian (Ernest.N) tahun 1981, mengenai hubungan
makanan mengandung gula dengan karies gigi, pada makanan
(snack-food) paling banyak pada susu coklat dan rise crispie
sukrosa 42 %, gula 50%, terjadi karies pada fisure 29,9% dan
bukal-lingual 43%. Dan bikuit coklat wafer, sucrose 30%, gula
35%, karies fisure 11,2% dan bukal lingual 30%, dan kom-
sumsi diatas tersebut paling banyak disenangi anak-anak.
Berbagai penelitian epidemiologis telah banyak dilakukan
untuk mengetahui hubungan diet kebohidrat dengan terjadinya
karies gigi. Salah satu penelitian Vipeholm tahun 1982, sampel
436 anak cacad mental di Hospital Lund di Swedia, yang
dibagi menjadi 7 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol,
sukrose, roti, karamel, coklat, jajan, permen gula, yang terus di-
amati selama 5 tahun, kesimpulan hasil penelitian ini, pe-
ningkatan karbohidrat terutama gula meningkatkan ktivitas
karies dan terjadinya karies lebih besar, terutama pada gula
yang melengket dan tergantung dari bentuk fisik karbohidrat.
Dengan letak gigi yang tidak beraturan dalam lengkung rahang,
ini juga merupakan tempat mudahnya terjadi karies karena ma-
kanan mudah terselip dan sulit untuk dibersihkan
(6,7,8,9 10,11,12).
Hasil penelitian (Budiharto) di Wilayah Jakarta tahun
1993/1994, yaitu pemanfaatan fasilitas kesehatan gigi, yang di-
gunakan Ibu dan anak untuk keperluan pengobatan preventif
hanya 1%, sedangkan bila dilihat keadaan fisik fasilitas alat
kesehatan gigi dan dental unit secara keseluruhan 69,1% dalam
keadaan baik. Pengetahuan Ibu terhadap kesehatan gigi ter-
masuk kartagori baik 60%, sedang dan kurang 40% dan bila
dilihat dari pendidikan kesehatan gigi yang diterima Ibu dengan
baik hanya 21,3%.
(13)
BAHAN DAN CARA
Sasaran sampel anak usia 4 tahun pada posyandu terpilih
di 5 Wilayah Jakarta (Utara, Barat, Timur, Selatan dan Pusat),
bila posyandu terpilih tidak ada dapat diganti dengan posyandu
terdekat. Diambil usia anak 4 tahun, karena adanya karies pada
anak usia 4 tahun adalah sebagai akibat proses karies selama 2
tahun sebelumnya.
Multistage random disesuaikan dengan peraturan survei
kesehatan gigi dari WHO, diambil 5 Wilayah, masing-masing 2
kecamatan urban dan 2 kecamatan rural. Total 20 lokasi, besar
sampel tiap lokasi 50 anak balita, sehingga total sampel 1000
anak (didasarkan PL=0,15 dan P2=0,05, alpha=0,05 dan
power=0,95 (Fleis 1980).
Sebagai alat pengumpulan data adalah Formulir Litbang-
kes dengan pemeriksaan status dmf-t dan OHI-S (Oral hygiene
index-supervisial) dan formulir yang ditujukan kepada ibu
mengenai :
- penyakit anak balita
-makanan pokok
- makanan tambahan.
Pengolahan data secara deskriptif dengan menggunakan SPSS.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 39
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Frekuensi distribusi anak balita dengan karies gigi di Posyandu
di Wilayah DKI, 1993
Decay Karies
00 14 >
4 Total
Wilayah
Jakarta
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah
%
Pusat
Utara
Barat
Selatan
Timur
37
20
37
27
20
18.5
10.0
18.5
13.5
10.0
44
53
69
45
67
22.0
26.5
34.5
33.5
22.5
119
127
94
106
135
59.5
63.5
47.0
53.0
67.5
200
200
200
200
200
100
100
100
100
100
Jumlah 141 14.1 278 27.5 581 58.1 1000 100
Dari 1000 anak balita yang gigi sehat 141 anak balita
(14.1%), bebas karies dan 275 anak balita (27.5%) mempunyai
karies 1-4 gigi dan 581 anak balita (58.1%) mmpunyai lebih 4
gigi yang mempunyai karies.
Tabel 2. Frekuensi distribusi anak balita dengan karies berdasarkan sisi
rahang, di Posyandu di Wilayah DKI, 1993.
Karies
Sehat Universal
Bilateral Total
Wilayah
Jakarta
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah
%
Pusat
Utara
Barat
Selatan
Timur
37
20
37
27
20
15.5
10.0
18.5
13.5
10.0
10
16
33
14
5
5.0
8.0
16.5
7.0
2.5
153
164
130
159
175
76.5
82.0
65.0
79.5
87.5
200
200
200
200
200
100
100
100
100
100
Jumlah 144 14.1 78 7.8 781 78.1 1000 100
Terlihat 1000 anak balita ditemukan 781 anak (78.1%)
yang memiliki karies gigi bilateral berarti karies gigi terdapat
pada dua sisi rahang kanan dan kiri dan 78 anak (7.8%) yang
unilateral yang memiliki karies gigi pada satu sisi rahang kanan
atau kiri saja.
Tabel 3. Frekuensi distribusi anak balita dengan keadaan mulut kotor di
Posyandu di Wilayah DKI, 1993
M u l u t K o t o r
Sehat Universal
Bilateral Total
Wilayah
Jakarta
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah
%
Pusat
Utara
Barat
Selatan
Timur
73
51
121
28
41
36.5
25.5
60.5
14.0
20.5
4
16
26
12
11
2.0
8.0
13.0
6.0
5.5
123
133
53
160
148
61.5
66.5
26.5
80.0
74.0
200
200
200
200
200
100
100
100
100
100
Jumlah 314 31.4 69 6.9 617 61.7 1000 100
Pada pemeriksaan ini terlihat 314 anak (31.4%) anak balita
yang memiliki bebas dari plak/karang gigi. Dan sebanyak 617
anak (61.7%), memiliki mulut kotor pada kedua sisi rahang
kanan dan kiri (bilateral), sedangkan 69 anak (6.9%), dengan
mulut kotor pada satu sisi rahang kanan atau kiri saja
(unilateral).
Tabel 4. Frekuensi distribusi anak balita yang pernah merasa sakit gigi di
Posyandu di Wilayah DKI, 1993
Anak Balita Merasa Sakit Gigi
Tidak Pernah Kadang-kadang
Sering
Total
Wilayah
Jakarta
Jumlah
% Jumlah % Jumlah
% Jumlah
%
Pusat
Utara
Barat
Selatan
Timur
130
117
136
123
98
65.0
58.5
68.0
61.5
49.0
40
44
38
48
52
20.0
22.0
19.0
24.0
26.0
30
39
26
29
50
15.0
19.5
13.0
14.5
25.0
200
200
200
200
200
100
100
100
100
100
Jumlah 604 60.4 222 22.2 174 17.4 1000 100
Terlihat dari 1000 anak balita ada 604 (60.4%) anak balita
yang tidak pernah merasa sakit gigi, yang menyatakan kadang-
kadang merasa sakit gigi 222 (22.2%) dan 174 (17.4%) yang
menyatakan sering merasa sakit gigi.
Tabel 5. Frekuensi distribusi anak balita yang susah makan karena sakit
gigi di Wilayah DKI, tahun 1993
Susah Makan Karena Sakit Gigi
Tidak Ya Total
Wilayah
Jakarta
Jumlah
% Jumlah % Jumlah
%
Pusat
Utara
Barat
Selatan
Timur
180
178
191
168
149
90.0
89.0
95.5
84.0
74.5
20
22
9
32
51
10.0
11.0
4.5
16.0
25.5
200
200
200
200
200
100
100
100
100
100
Jumlah 866 86.6 134 13.4 1000 100
Terlihat anak balita yang susah makan karena sakit gigi
134 (13.4%), dan yang menyatakan tidak susah makan karena
sakit gigi 866 (86.6%).
Tabel 6. Frekuensi pemberian makanan pada anak Balita komposisi
karbohidrat menurut pernyataan ibu di Posyandu, di DKI, 1993.
Komposisi makanan
karbohidrat
Selalu Kadang-kadang
Wilayah
Jakarta
Jumlah % Jumlah %
Jumlah
%
Pusat
Utara
Barat
Selatan
Timur
180
152
173
153
142
90.0
76.0
86.5
76.5
71.0
20
48
27
47
58
10.0
24.0
13.5
23.5
29.0
200
200
200
200
200
100
100
100
100
100
Jumlah 800 80.0 200 20.0 1000 100
Pernyataan ibu terhadap anak balita yang selalu mem-
berikan makanan karbohidrat ada 800 (80.0%) dan kadang-
kadang memberikan makanan karbohidrat 200 anak balita
(20.0%).
Bila dilihat kebiasaan jajan menurut pernyataan ibu terlihat
929 (92.9%) anak balita diberikan jajan oleh ibunya disamping
makanan pokok dan hanya 71 (7.1%) anak balita yang tidak
pernah diberikan jajan oleh ibu.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
40
Tabel 7. Frekuensi distribusi pemberian jajan disamping makanan
pokok pada anak Balita, di Posyandu DKI, 1993
Anak ibu jajan di samping makanan Pokok
Tak pernah
Jajan
Wilayah
Jakarta
Jumlah % Jumlah %
Jumlah %
Pusat
Utara
Barat
Selatan
Timur
17
17
14
16
7
8.5
8.5
7.0
8.0
3.5
183
183
186
184
193
91.5
91.5
93.0
92.0
96.5
200
200
200
200
200
100
100
100
100
100
Jumlah 71 7.1 929 92.9 1000
100
Pada kelompok 929 ibu-ibu yang memberikan jajan pada
anaknya disamping makanan pokok, sebanyak 898 (96.7%)
yaitu memberikan jajanan berupa karbohidrat, seperti gulagula/
permen makanan manis lainnya yang lengket, sedangkan ma-
kanan yang mengandung protein hanya 31 (3.3%).
Tabel 8 . Frekuensi distribusi jenis jajan yang diberikan ibu pada anak
Balita, di Posyandu DKI, 1993
Bila jajan apa saja
Karbohidrat Protein
Wilayah
Jakarta
Jumlah % Jumlah %
Jumlah
%
Pusat
Utara
Barat
Selatan
Timur
181
167
184
175
191
98.9
91.3
98.9
95.1
99.0
2
16
2
9
2
1.1
8.7
1.1
4.9
1.0
183
183
186
184
193
100
100
100
100
100
Jumlah 898 96.7 31 3.3 929 100
PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian, frekuensi distribusi anak balita
dengan bebas karies ada 14,1% sedangkan anak yang mem-
punyai karies lebih dari 4 gigi, 85,9 %, dmf-t : 6,8 melebihi
angka nasional. Frekuensi anak yang menderita karies gigi
yang ditemukan oleh (Ismu Suwelo FKG-UI) tahun 1988 pada
usia 2-5 tahun di Jakrta, prevalensi karies 85.0% dengan dmf-
t=7,02 dan di luar Jakarta dmf-t=5,31.
Anak balita di Posyandu kemungkinan belum terjangkau
oleh pelayanan kesehatan gigi, hal ini dapat dilihat 31.4% anak
dengan gigi bebas dari plak dan adanya kebiasaan jajan yaitu
92.9%. Frekuensi distribusi anak balita yang tak pernah me-
ngeluh sakit gigi ada 60,4% dan yang sering menyatakan sakit
gigi ada 17,4% .
Distribusi anak balita menurut keluhan yang tidak susah
makan oleh karena sakit gigi 86,6% sedangkan yang menyata-
kan sakit susah makan karena sakit gigi 13,4% dan ini diper-
kirakan anak mengalami karies gigi yang sudah kronis, sudah
melewati masa akut, menjadi gangren atau tinggal sisa akar
gigi dan kemungkinan daya tahan tubuh anak memang kuat.
Dari pernyataan Ibu yang selalu memberikan makanan ada
karbohidrat 80%, sedangkan yang kadang-kadang memberikan
makanan karbohidrat 20%. Diketahui bahwa karbohidrat ada-
lah merupakan media untuk terjadinya karies, dengan jumlah
konsumsi lebih banyak karbohidrat kesempatan akan terjadinya
karies akan lebih besar.
Pernyataan Ibu tidak pernah memberikan jajan disamping
makanan pokok pada balita, ada 7,1% sedangkan yang mem-
berikan jajan disamping makanan pokok ada 92,9%, ini me-
rupakan dimana anak jajan manis-manis, gula yang lengket,
juga merupakan media untuk terjadinya karies lebih besar yang
tidak disadari oleh ibu.
Pernyataan ibu memberikan jajanan yang mengadung
karbohidrat ada 96,7% dan yang memeberikan jajanan kon-
sumsi protein 3,3 %. Melihat konsumsi anak untuk protein
sangat kecil dibandingkan karbohidrat, yang tidak seimbang
antara protein dan karbohidrat, sehingga pertumbuhan anak
akan kecil tidak sesuai dengan usia.
Sedangkan temuan oleh (Budiharto- FKG-UI) di Wilayah
Jakarta tahun 1993/1994, yaitu pemanfaatan fasilitas kesehatan
gigi, yang digunakan Ibu dan anak untuk keperluan pengobatan
preventif hanya 1%, sedangkan bila dilihat keadaan fisik
fasilitas alat kesehatan gigi dan dental unit secara keseluruhan
69,1% dalam keadaan baik. Pengetahuan Ibu terhadap kesehat-
an gigi termasuk kartagori baik 60%, sedang dan kurang 40%
dan bila dilihat dari pendidikan kesehatan gigi yang diterima
Ibu dengan baik hanya 21,3%.
(13)
KESIMPULAN DAN SARAN
Setelah melihat tingginya angka yang terkena karies, bah-
kan sebagian besar telah terkena lebih 4 gigi, ini perlu diantisi-
pasi. Ternyata perilaku, sikap dan pengetahuan ibu adalah
orang paling dekat dengan anak balita, untuk ini perilaku dan
sikap ibu harus dapat dirubah sesuai dengan tingkat pen-
didikannya, yaitu dengan memberikan penyuluhan melalui
perawat gigi atau bidan desa yang ada di Posyandu, Pustu dan
Puskesmas. Seperti diet dalam bentuk beberapa bentuk yang
mempunyai efek protektif terhadap karies gigi, yaitu lemak,
kalsium dan fosfor dan sikat gigi yang benar 2 x sehari yaitu
sesudah sarapan dan sebelum tidur malam sesuai program dari
Direktorat Kesehatan Gigi Depkes R.I, ini sudah mencermin-
kan membiasakan pada anak balita secara dini untuk melaku-
kan sikat gigi secara teratur, (oral clearance time) dan manfaat-
nya dapat memutuskan mata rantai terjadinya karies gigi
karena sifat karies itu kumulatif dan irreversibel.
Untuk preventif antara lain penyuluhan pada ibu hamil
sewaktu kontrol kehamilannya dan bila sudah melahirkan agar
diberi tau gigi pada bayi usia 6-7 bulan untuk pertama kali
tumbuh gigi pada rahang bawah depan sudah harus dibersihkan
dengan ujung jari dibalut kapas yang steril dan mineralisasi
email masih berlanjut pada waktu gigi baru erupsi sampai kira-
kira antara 1,5-2 tahun.
Dilain hal untuk melakukan preventif dapat dilakukan
dengan menganjurkan pemakaian pasta yang mengandung
fluor. Walaupun begitu besar potensi karbohidrat merusak gigi,
tidak berarti karbohidrat harus dihilangkan sama sekali dari
diet, karena karbohidrat mempunyai nilai gizi yang tinggi,
untuk tumbuh kembang seorang anak, jadi yang penting bagai-
mana cara mengatur masuknya karbohidrat dan memilih ben-
tuk fisik serta dengan cepat menghilangkan sisa-sisa makanan
(oral clearence time).
Sesuai dengan harapan dari WHO kesehatan gigi untuk
tahun 2000, dimana karies gigi permanen DMF-T kurang dari 3
pada kelompok usia 12 tahun.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 41
KEPUSTAKAAN
1.
WHO. Measuring in Nutritional Status. Geneva, 1994; pp 101.
2.
Derektorat Kes Gigi. Profil Kesehatan gigi dan mulut, di Indonesia PLV,
94 Depkes 1994; 23-34.
3.
Kristanti, dkk. SKRT 1995. Badan Litbang Kesehatan, Jakarta; 1995.
4.
Natamiharja L. Kebutuhan Fisur Silen Gigi Posterior Pada anak SD di
Kodya Medan. Journal Dentistry -UI, 1999; vol 6(3): 24
5. Magdarina dkk. Hasil Penelitian Metode Pelayanan Kesehatan Gigi murid
SD di Bekasi 1996/1997. Badan Litbang Kesehatan, Depkes R.I.
6.
Kleinbaum et al. Epid Research van Norstrand Reinhold. New York,
1982; p. 529.
7. Michael. Ca, Nutrition in Dental Caries. Dental Caries Publiser, 1990; p.
271-75.
8. Cleaton P, et al. Dental Caries, Sucrose intake and Oral Hygiene in 5 year
old South African Indian 1984. Dental Research Institute, South Africa,
1982; p. 577-78.
9. Loesche WJ. Nutrition and Dental Decay in Infants. J Clin Nutr, 1995.
10. Wei-Shy. Diet and Dental Caries, Pediatric Dentistry, 1982; p. 277-85.
11. Shaw JH. Etiology of Dental Caries. Editor, A Texbook of Preventive
Dentistry Ed ke 2. Philadelphia : The WB Saunders, 1982; P. 32-48.
12. Chandra Rk. Nutrition in Dental Caries. Pediatric Dentistry, 1982; p.
.577-85.
13. Budiharto. Pemanfaatan Fasilitas Kesehatan Gigi dan Pendidikan. JD-UI,
1998, Vol 5(2); 103.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
42