Ilmu Kedokteran Pencegahan Dalam Upaya
Pemberantasan Diare di Puskesmas
Kabupaten Malang
Dr. H. Bachtiar Azhari
Pegawai Dinas Kesehatan Daerah Tiingkat II, Kabupaten Malang
PENDAHULUAN
Ilmu kedokteran pencegahan telah berkembang lama dan
dikembangkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Pada ta-
hap awal di Indonesia sebagai sarana pelayanan kesehatan me-
manfaatkan Puskesmas. Salah satu fungsi pokok puskesmas
adalah pemberantasan penyakit diare. Di Indonesia, penyakit
diare merupakan penyakit endemis dan menjadi masalah ke-
sehatan. Upaya pemberantasan yang telah dilakukan meng
alami beberapa hambatan, khususnya yang berkaitan dengan
lingkungan dan perilaku masyarakat. Pendekatan yang dilaku-
kan secara epidemiologi ditujukan pada penjamu = host, agent
= bibit penyakit dan lingkungan.
Menurut survey tahun 1980, angka kesakitan diare di
Indonesia 10.000 per 100.000 penduduk, dan 7090% pen-
derita banyak menyerang anak balita, dan 24.5% anak balita
meninggal karena diare.
l
Di Jawa Timur, upaya pemberantasan
dengan memanfaatkan semua sumber daya khususnya unsur
manusia meliputi upaya penemuan dan pengobatan secara dini,
peningkatan kesehatan dengan melibatkan unsur sektoral,
penyuluhan kesehatan berperilaku sehat, memasyarakatkan
penggunaan garam oralit, peningkatan jangkauan pelayanan
lebih mantap melalui posyandu, peningkatan mutu pelayanan,
meningkatkan kualitas lingkungan dengan penyediaan air
bersih dan sarana jamban keluarga. Harapan yang akan dicapai
dapat menurunkan angka kesakitan dan menurunkan angka
kematian di bawah 1%.
2
Studi ini untuk melihat secara diskriptip pendaya gunaan
amber daya manusia disalah satu Puskesmas Kabupaten Dati Ii
Malang secara retrospektif
3
.
BAHAN DAN CARA
Bahan tulisan ini diambil dari data sekunder di Puskesmas
Pakisaji Kabupaten Dati II Malang pada tahun 1985dan 1986
ewaktu penulis bekerja di Puskesmas tersebut. Data sekunder
tersebut meliputi kasus diare dari semua umur dan penanggu-
langannya di Puskesmas melalui pemanfaatan sumber daya
yang ada. Data diagnosis penyakit di Puskesmas disalin pada
tabulasi dan dilakukan pengolahan data sederhana dan disaji-
kan dalam bentuk tabel.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Lokasi Puskesmas Pakisaji terletak ± 11 km ke arah
selatan kota Malang terletak di jalan arteri Surabaya Blitar
dengan luas wilayah 39.458.357 m
2
terdiri 75.7% dataran
rendah dan 24.3% dataran tinggi, dengan kepadatan penduduk
1393 jiwa/ Km
2
. Sampai tahun 1986 jangkauan air bersih di
bawah 60%, karena sulitnya sumber atau air tanah. Air bersih
saat ini berasal dari sumber di luar kecamatan Pakisaji dialirkan
melalui perpipaan didistribusi pada konsumen, dan saat ini
telah dikelola PDAM. Pada kedaan sebelum 1985 penyakit'
diare merupakan urutan pertama sedangkan mulai tahun 1985
menempati urutan kedua dan selanjutnya pada tahun 1986
penyakit diare menempati urutan keempat dari 10 penyakit.
tabel 1. PoLA 10 besar penyakit di Puskesmas Pakisaji.
Tahun 1985
1986
Jenis Jumlah
Rank
Jumlah
Rank
Influenza
Diare
Scabies
Penyakit pulpa & jaringan
apikal
Penyakit kulit & jaringan
bawah kulit
Conjunctivitis
Penyakit lain pada sistem
pencernaan
Karies gigi
Penyakit Gusi & Jaringan
periodental
Penyakit-penyakit lain/ke-
adaan lain
10.065
3.777
2.086
2.086
1.594
1.517
1.230
550
396
5.770
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
8549
2499
2752
2312
1859
1368
1307
676
307
7667
1
4
3
5
6
7
8
10
9
2
Sumber data ktporan tahunan Puskesmas.
Penurunan penyakit diare melalui suatu konsep ihnu kedok-
teran pencegahan sebagai berikut
1) Penjamu (
=
host) dalam hal ini yang berperan adalah ma-
nusia, sehingga upaya kegiatannya berupa
a)
Penyuluhan yang ditujukan pada perorangan dan keluarga.
Perorangan agar penderita mampu menolong dirinya sendiri
dan dapat membantu masyarakat. Keluarga agar membiasa-
kan menolong dan memasyarakatkan penggunaan garam
oralit dalam keluarga.
b)
Simulasi yang ditujukan pada kader kesehatan desa secara
langsung, sedangkan yang tidak langsung melalui lintas
sektoral.
2) Sumber infeksi dengan kegiatan menghilangkan sumber
infeksi dengan meningkatkan kebersihan lingkungan.
3) Lingkungan melalui peningkatan sarana air bersih atau
sarana jamban keluarga dan menghilangkan kebiasaan mem-
buang kotoran di setiap tempat misalnya di sungai.
Kecenderungan penurunan pada tabel 1 di atas, menurut
Bachtiar Azhari, T. Haryanto dkk (1985), bahwa ketepatan
informasi tentang penyakit menular dan upaya pencegahannya
didapat dari tokoh informal : formal:68.72% : 31.28%
khususnya di pdesaan lebih menonjol dan keterlibatan unsur-
unsur masyarakat dalam merujuk bila didapatkan kasus secara
dini ke Puskesmas` .
Pada tabel 2 nampak menurunnya rawat tinggal dari
33.75% BOR menjadi 14.86% BOR dengan memperpendek
hari perawatan dengan cara rehidrasi yang cepat dan tepat
dalam meningkatkan mutu pelayanan rawat tinggal sebagai
upaya rujukan pertama penderita diare dan pelayanan dasar
yang diberikan Puskesmas. Lama perawatan pada tahun 1985
rata-rata 56 hari, sedangkan pada tahun 1986 menjadi 4 hari
perawatan, sehingga nampak penggunaan RL yang lebih me-
ningkat pada tahun 1986
5
.
Tabel 2. Penderita dime dan pemanfaatan sarana di Puskesmas Pakisaji
Macam
tahun 1985
tahun 1986
1. Prevalensi
2. C.F.R.
3. Cholera positip
4. Rawat tinggal
5. Pemakaian RL
6. Oralit
4.3%
<1%
0.03%
33.75% BOR
40
1129
3.5%
<1%
0.04%
14.86%,BOR
315
989
Sumber data laporan Puskesmas tahun 1985 dan 1986.
Dari tabel 3 nampak penurunan kader aktip tetapi mempunyai
daya guna yang optimal maka berarti kader makin sedikit tetapi
mempunyai daya guna maksimal. (Tabel 3).
keluaran
1
keluaran
2
Daya
guna
=
:
sarana
1
sarana
2
Sedangkan penyuluhan yang effektip bila melalui penyuluhan
melalui kelompok at risk diare yang mencakup sasaran maupun
frekuensi penyuluhannya
6,7
.
Dukungan penyuluhan ditingkakan pada lintas sektoral
secara terpadu dengan metode lebih ditujukan pada penyuluhan
perorangan atau kelompok dengan jumlah frekwensi lebih ba-
Tabel 3. Kader aktip dan jumlah posyandu.
Jumlah
tahun 1985
tahun 1986
1. Kader
2. Kader aktip
3. Kader drop out
4. Posyandu
360
296
17,7%
24
360
159
55.83%
24
Sumber data Laporan Puskesmas Pakisaji.
Tabel 4. Penyuluhan kesehatan masyarakat tahun 19851986.
Kegiatan
tahun 1985
tahun 1986
1. Lintas sektoral
2. Metode
3. Lokasi Posyandu
4. Pameran
5. Siaran keliling
6. Sasaran:
Masyarakat umum
Penduduk dengan
resiko
14 X
Indiidu/Kelompok
19 X
4 X
24 X
15.423 (Frek=40X)
4.271 (Frek
=
101X)
14 X
Individu/Kelom-
pok
76 X
4 X
33 X
11.439 (Frek
=
37X)
5.165 (Frek =
112X)
Sumber data laporan Puskesmas Pakisafi.
nyak, akan tetapi cenderung sasaran masyarakat pada yang
risiko terkena diare. Metode yang dilakukan terhadap kader
berupa simulasi mengenai pencegahan diare, dengan penyedia-
an paket oralit pada setiap pos kesehatan desa dengan formulir
rujukan dan catatan penderita diare di pedesaan, sehingga
mempercepat pelacakan secara dini dan tindakan pemberan-
tasannya
a
. Perbaikan kesehatan lingkungan lebih mengupaya
-
kan peningkatan sarana fisik yang mendukung kebersihan
lingkungan melalui dua arah, berupa pemberian sarana secara
inpres, tetapi kemudian dengan menurunnya pembiayaan
berupa inpres, maka lebih diprioritaskan melalui peran serta
masyarakat untuk mengembangkan jumlah sarana bantuan
dengan cara swadaya melalui pendekatan edukatip, sehingga
masyarakat dapat memenuhi kebutuhan yang mendasar dalam
upaya peningkatan kesehatan perorangan maupun keluarga,
khususnya agar angka kesakitan karena diare dapat menurun.
Dalam mengembangkan pendekatan edukatip peranan lintas
sektoral sangat berperan disamping peranan tokoh informal
yang ada di dalam
.
masyarakat, dengan demikian masyarakat
mampu mengidentifikasi kebutuhan serta mengorganisasi
kegiatan masyarakat serta mampu menumbuhkan kegiatan-
kegiatan kesehatan yang menunjang pembangunan desa secara
keseluruhan yang pada akhirnya mampu meningkatkan
kesehatan lingkungan yang lebih baik
9
.
Penderita diare ternyata banyak diderita anak balita di-
perkirakan 7090% dari angka kesakitan diare, dan 24.5%
anak balita meninggal karena diare. Tetapi di daerah penulis
CFR kurang dari 1% karena catatan ini kurang terekam secara
baik, hal ini disebabkan penderita diare kalau meninggal
biasanya di rumah atau di rumah sakit dengan pulang paksa,
sehingga sering terjadi tidak tercatat. Penanganan diare pada
anak balita dalam upaya penurunan angka kesakitan melalui
pendekatan posyandu dengan peran serta aktip PKK, agar ibu
balita mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 43
serta perilaku mengutamakan ASI sebagai makanan bayi
sampai dengan umur 2 tahun
10
Tabel 5. Saran kesehatan lingkungan.
Sarana
tahun 1985
tahun 1986
1. Jaga
1.1. Inpres 123
10
1.2. Pengembangan
289
127
2. SPAL
2.1. Inpres
11
14
2.2. Pembangunan
123
16
3. SABER
3.1. Inpres
28
28
3.2. Pembangunan
3
·)
Sumber data lapdran kes. lingkungan Puskesmas Pakisaji.
*) Pengembangan mulai kenurun karena masuknya sarana air bersih
perpipaan yang dikelola PDAM Kabupaten Malang.
Lingkungan biologis yang berhubungan dengan iklim atau
cuaca maka nampak meningkat penderita diare pada bulan-
bulan Januari Pebruari dan bulan Juni Juli, sedangkan
gambaran secara Nasional pada bulan Nopember Desember-
Januari dan pada bulan Mei Juni Juli ( z <1.44 atau z 1.44
atau p = 0.0793) sangat berarti, sehingga pada saat bulan yang
bersangkutan kewaspadaan perlu mendapat perhatian,
khususnya tim gerak cepat di tingkat kecamatan, serta
persiapan-persiapan pembagian oralit pada pos kesehatan desa
melalui ketua atau koordinator kader didesa yang di pantau
melalui Lembaga Kesehatan Masyarakat Desa (LKMD)" .
Upaya pemberantasan berpedoman petunjuk Dinas Kesehatan
Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur sebgai berikut
a)
Upaya penemuan dan pengobatan secara dini.
b)
Peningkatan kewaspadaan terjdinya letupan diare dengan
melibatkan unsur sektoral dan pamong desa.
c)
Upaya penyuluhan kesehatan masyarakat agar berperilaku
sehat untuk dirinya, keluarga dan masyarakat.
d)
Pencegahan terjadinya dehidrasi dengan program rehidrasi
dengan memasyarakatkan pemakaian garam oralit, didukung
dengan penyediaan yang cukup, mudah didapat dan cepat
dimanfaatkan.
e)
Strategi pendekatan keterpaduan program dan sektoral,
lebih diarahkan pada kelompok sasaran umur rawan melalui
posyandu.
f)
Peningkatan jangkauan pelayanan melalui peningkatan
mobilitas pelayanan dan sarana pelayanan yang merata.
g)
Meningkatkan kualitas lingkungan dengan penyediaan air
bersih dan kebersihan lingkungan, termasuk rumah, pembuang-
an kotoran hewan/manusia atau sampak sesuai dengan tempat
atau sarana yang tersedia.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1) Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit diare di-
tujukan pada manusianya dengan sasaran perorangan, keluarga
dan masyarakat, khususnya yang dengan risiko pada anak di
bawah lima tahun atau anak balita.
2)
Kegiatan ini harus simultan dengan penanganan peningkat-
an kualitas lingkungan secara terpadu, keterlibatan lintas
sktoral dan peranan tokoh informasi masyarakat.
3)
Masyarakat diharap mampu mendeteksi secara dini
kejadian diare, sehingga terhindar dari kejadian luar biasa atau
letupan penyakit diare, dengan memasyarakatkan penggunaan
garam oralit.
4)
Peranan rujukan oleh kader sedini mungkin bila didapatkan
kasus diare untuk segera dikirim be,robat di Puskesmas,
sedangkan rujukan pengetahuan
.
kader berupa upaya tepat guna
dengan menggunakan sumberdaya yang ada pada masyarakat.
Saran
1)
Perlu dipikirkan adanya pos kesehatan yang menyediakan
oralit disetiap RT dan PKK persepuluhan dapat berperanserta
dalam pemberantasan diare.
2)
Untuk pemerataan, oralit pack yang saat ini beredar dapat
dibuat untuk 200 cc air matang.
KEPUSTAKAAN
1.
Adiyatma. Berita Epidemiologi Departemen Kesehatan. Jakarta Dirjen P
2M dan PLP, 1986.
2.
Jawa Timur. Dinas Kesehatan Daerah Tingkat I. Berita Epidemiologi.
Surabaya ; Sub Dins pemberantasan penyakit menular, 1986.
3.
Malang. Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II. Pencatatan dan Pelaporan
Puskesmas Pakisaji. Sie P2M, 1986.
4.
Azhari B, Haryanto T dkk. Faktor kepemimpinan masyarakat desa dalam
program pencegahan penyakit menular di Puskesmas Pakisaji. Seminar
Penelitian laboratorium ilmu kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran.
Malang Universitas Brawijaya, 198S.
5.
Moeloek FA dkk. Seminar ketrampilan klinik. (Ed. I) Jakarta PB IDI
Yayasan penerbit, 1985.3639.
6.
Jawa Timur. Dinas Kesehatan Daerah Tingkat I. Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa. Surabaya : Proyek penyuluhan kesehatan masyarakat I
II, 1981.
7.
Lapau B. Peranan Epidemiologi dan Pelayanan Kesehatan. Majalah Ilmu
Kesehatan Masyarakat Indonesia; XV (19) Pebruari 1986.
8.
Indonesia. Departemen Kesehatan. Pedoman pengamatan dan pe-
nanggulangan kejadian luar biasa di Indonsia. Jakarta : Depkes RI, 1985.
9.
Solita Sarwono dkk. Pengantar pendidikan kesehatan masyarakat.
Disunting sebagai bahan kuliah fakultas pasca sarjana program studi
kesehatan masyarakat dan anthropologi kesehatan. Jakarta : FKMUI, 1984.
10.
Ranuh IGN Gde. Pediatri sosial, suatu pendekatan yang tepat. dalam
menanggulangi infeksi pada anak. Continuing education ilmu kesehatan
anak. I. Surabaya . Bagian IKAFK Unair, 1980; 33-39.
11.
Azhari B, Haryanto T dkk. Evaluasi sistem distribusi bubuk oralit
dipedesaan, suatu studikasus kecamatan Pakisaji. Seminar penelitian lab.
ilmu kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran. Malang : Universitas
Brawijaya, 1985.