Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 51
PRAKTIS
Carpal Tunnel Syndrome
Rudiansyah Harahap
Bagian Ortopedi, Rumah Sakit Umum Daerah Kusta, Tugurejo
Semarang
PENDAHULUAN
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) yang dikenal juga
sebagai Tardy Median Nerve Palsy adalah kumpulan gejala
dan tanda akibat penekanan n. medianus di rongga/
terowongan carpal. Sering terjadi pada usia antara 30 dan
60 tahun; wanita 5 kali lebih sering terkena dibandingkan
laki-laki.
(1,2)
ANATOMI CARPAL TUNNEL
Rongga carpal dibatasi oleh dinding kaku yang di-
bentuk oleh tulang dan sendi carpal serta ligamentum
carpal transversum (flexor retinaculum) yang tebal.
(3)
Tero-
wongan carpal dibatasi oleh tulang distal radius, lunatum
dan capitatum di sisi dorsal; tulang skaphoid, jaringan
fibrous untuk terowongan flexor carpiradialis di sisi radial;
tulang triquetrum dan ligamentum pisohamatum di sisi
ulnar; ligamentum carpal transversum yang tebal mem-
bentang dari tulang pisiform ke skaphoid-trapezoid di sisi
volar. Carpal tunnel berisi ligamentum flexor digitorum
superficialis (FDS) dan profundus (FDP), flexor pollicis
longus (FPL), dan n. medianus yang lebih ke radial.
(4)
ETIOLOGI
Berbagai faktor yang dapat menyebabkan Carpal
Tunnel Syndrome antara lain
(1,3,5)
1.
Trauma langsung ke carpal tunnel yang menyebabkan
penekanan, misalnya Colles fracture, dan edema akibat
trauma tersebut.
2.
Posisi pergelangan tangan, misalnya fleksi akut saat
tidur, imobilisasi pada posisi fleksi dan deviasi ulnar
yang cukup besar.
3.
Trauma akibat gerakan fleksi-ekstensi berulang per-
gelangan tangan dengan kekuatan yang cukup seperti
pada pekerjaan tertentu yang banyak memerlukan
gerakan pergelangan tangan.
4.
Tumor atau benjolan yang menekan carpal tunnel se-
perti ganglion, lipoma, xanthoma.
5.
Edema akibat infeksi.
6.
Edema inflamasi yang disertai artritis rematoid, tenosy-
novitis seperti penyakit de Quervain dan trigger finger.
7.
Osteofit sendi carpal akibat proses degenerasi.
8.
Kelainan sistemik seperti : obesitas, diabetes melitus,
disfungsi tiroid, amiloidosis, penyakit Raynaud.
9.
Edema pada kehamilan (hormonal).
KLASIFIKASI
Berdasarkan percobaan dan observasi klinis,
Galberman dkk. membagi CTS menjadi stadium akut,
awal/dini, intermediate dan kronik.
(1)
Jose J. Monsivais MD., dkk. mengklasifikasikan CTS
menjadi 3 derajat :
(6)
Derajat
Tinel's
Sign
Phalen's
Test
Diskrimi-
nasi 2 titik
Vibratory
Capacity
Conduction
Velocities
EMG
Atrofi
Otot
(Thenar)
Ringan
-
- atau + dgn
provokasi
3- 6 mm Normal atau
terganggu
Normal
atau
minimal
terganggu
Normal
atau
minimal
terganggu
-
Sedang +
+ 6-10
mm Absen Memanjang Abnormal
-
Berat +/-
+
10 mm
Absen Abnormal
Abnormal
+/-
Gambar 1. Anatomi Carpal Tunnel
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 53
Biologi Efek Penekanan Saraf Perifer
Efek penekanan saraf perifer termasuk pada CTS, ter-
gantung lama (akut, intermediate, kronik) dan besarnya
(ringan, besar, sangat besar) tekanan.
(7)
Rata-rata pada orang normal tekanan intra carpal
tunnel 2,5 mmHg pada posisi netral, 31 mmHg pada fleksi
pergelangan tangan dan 30 mmHg pada dorsofleksi/ekstensi
pergelangan tangan. Pada penderita CTS, rata-rata tekanan
intra carpal tunnel 32 mmHg pada posisi netral, 99 mmHg
pada fleksi 90
° dan 110 mmHg pada ekstensi 90° per-
gelangan tangan.
(1)
Tekanan intra carpal tunnel 30 mmHg
menimbulkan parestesi (baal) dan hambatan sensorik; pada
tekanan 50-60 mmHg, fungsi motorik dan sensorik diblok
secara komplet; sensorik hilang dalam waktu 25-50 menit,
motorik hilang 10-30 menit setelah sensorik hilang. Jika
tekanan segera dihilangkan, pada banyak kasus, fungsi
motorik dan sensorik kembali secara komplet dalam waktu
3-6 bulan.
(7)
DIAGNOSIS
CTS adalah kumpulan gejala atau tanda akibat pe-
nekanan n. medianus di carpal tunnel. Gejala dan atau
tanda tersebut serta faktor penyerta atau penyebab perlu
dievaluasi lebih lanjut. Gejala yang sering adalah rasa
baal/kesemutan (parestesi) dan nyeri di sisi volar mulai ibu
jari hingga sebagian/sisi radial jari manis tangan, rasa
terbakar/panas dan tebal di tangan saat terbangun setelah
beberapa jam tidur dan hilang jika posisi pergelangan
tangan diluruskan (splinting) atau dengan exercise.
(1,2,5)
Tanda yang sering timbul berupa gangguan sensorik
pada posisi volar ibu jari hingga sisi radial jari manis, tanda
Tinel positif (nyeri pada perkusi n.medianus di area carpal
tunnel), tes Phalen positif yaitu fleksi pergelangan tangan
secara akut selama 60 detik menimbulkan atau menambah
rasa kesemutan (parestesi). Jika proses sudah lama atau
derajat yang berat dapat menimbulkan atrofi otot thenar.
(1,5)
Pemeriksaan tambahan yang paling dapat dipercaya
adalah tes Nerve Conduction Studies.
(1)
Pemeriksaan lain
yaitu Electromyography, Vibratory Capacity, Semmes -
Weinstein Monofilament Test.
(6)
Pengobatan
Pada CTS stadium awal dan derajat ringan, pengobatan
non operatif dapat dilakukan dengan cara menghilangkan
penyebab, posisi pergelangan tangan dibuat netral/lurus
(displint), penggunaan NSAID hingga suntikan kortiko-
steroid di carpal tunnel. Jika tak ada respons atau gejala
dan tanda tak berkurang atau bahkan timbul atrofi otot
thenar, prosedur operasi dilakukan.
(1,5)
Kaplan, Glickel dan
Eaton mengidentifikasi lima faktor penting untuk menentu-
kan keberhasilan pengobatan non operatif: usia lebih 50
tahun, durasi lebih 10 bulan, parestesi menetap, stenosing
flexor tenosynovitis, tes Phalen positif dalam kurang dari 30
detik. Makin banyak atau lengkap faktor tersebut terdapat
pada penderita, makin kecil keberhasilan pengobatan non
operatif. Tidak ada pengobatan non operatif jika 4 atau 5
faktor tersebut ada.
(1)
Gelberman dkk. melakukan operasi carpal tunnel
release pada derajat intermediate dan kronis dengan respon
baik.
(1)
Studi Jose J. Monsivais di ElPaso-Texas pada pe-
kerja penderita CTS yang dominan menggunakan atau
menggerakkan tangan/pergelangan tangan (fleksi-ekstensi),
menunjukkan bahwa operasi lebih awal dan rehabilitasi
memberikan hasil lebih baik untuk kembali bekerja diban-
dingkan dengan pengobatan non operatif.
(6)
KESIMPULAN
CTS merupakan kumpulan gejala dan tanda akibat pe-
nekanan n.medianus di carpal tunnel yang dibatasi oleh
dinding yang kaku; lebih sering terjadi pada wanita. Banyak
faktor yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan dalam
carpal tunnel. Berdasarkan tanda (pemeriksaan fisik) dan
pemeriksaan tambahan, CTS diklasifikasikan menjadi dera-
jat ringan, sedang dan berat.
Pengobatan CTS berdasarkan derajat, durasi dan sifat
pekerjaan.
KEPUSTAKAAN
1.
Wright II PE. Carpal Tunnel and Ulnar Tunnel Syndromes and Ste-
nosing Tenosynovitis. in : Crenshaw AH, ed. Campbell's Operative
Orthopaedics, Vol.5, 8
th
ed. St. Louis: Mosby Year Book Inc,;
1992: 335-45.
2.
Apley AG, Solomon L. Apley's System of Orthopaedics and Frac-
tures. 7
th
ed, , Oxford: Butterworth-Heinemann Ltd; 1993 : 306- 7.
3.
Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculos-
keletal System. 3
rd
ed. Baltimore: William & Wilkins, 1999 : 326.
4.
Hoppenfeld S, De Boer PMA. Surgical Exposure in Orthopaedics.
Philadelphia: J.B. Lippincott Co, 1984 : 162-70.
5.
Milford L. The Hand. 2
nd
ed. St. Louis:CV Mosby Co, 1982 : 282-5.
6.
Monsivais JJ, Bucher PA, Monsivais DB. Nonsurgically Treated
Carpal Tunnel Syndrome in the Manual Worker. Plast. Reconstr.
Surg. 1994;94 : 695,
7.
Bodine SC, Lieber RL. Peripheral Nerve Physiology, Anatomy and
Pathology. In : Simon SR. (ed). Orthopaedic Basic Science. Ameri-
can Academy of Orthopaedic Surgeons, 1994 : 325-96.
It is better to suffer once than to be in perpetual apprehension