background image
Antitoksin Pada
Yang D
Sebelum dan Sesudah Pengobatan
P
enderita Difteri
irawat
Muljati Prijanto*, Eko Supri
Syawitri Siregar***, C
*Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan
Departemen Keseh
**RSAB Harap
***Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokt
janto*, Ferdy P Harahap**,
orry
***
Pene
ngembangan Kesehatan,
atan
an Kit
arta
er
Indonesia/RSCM, Jakarta
Matondang
litian dan Pe
R.I., Jakarta
a, Jak
an, Universitas
PENDAHULUAN
ya ter-
bent
t se-
ingga memerlukan pengobatan sedini mungkin. Pemberian
AD) dalam jumlah
yang memadai me
ngobatan yang spe
efe
eri
yang dihasilkan di
me
ngan tubuh melal
ah
dar
dapat mempunyai efek merusak
ua
jari
pat pada jaringan yang rent
an
seka terikat tidak dapat dintralkan oleh antitoksin.
dengan sel dan sebagai jalan masuknya fragmen
A k dalam sitoplasma
2
. Antigenik determinan pada fragmen A
an letaknya dalam dan tidak
dapat menstimulir
zat anti maupun
m
presi
pun anti A antibodi m
ah
akti
ksin, tetapi tidak dapat m
ungi
bina
akibat letal dari toksin. Zat anti
terh
B dapat menetralkan toksin denga
ngat
efisiert yang mendukung teori bahwa antitoksin berperan
rikat longgar pada jaringan
erat pada jaringan. Pemberian antitoksin (AD) akan
RA KERJA
Kelompok studi ad
ifteri yang dirawat di
Rumah Sakit Cipto Mangunku
o, Jakarta mulai bulan Mei
la
dila
tenggorok dan
Pen
da waktu penderita
yai
seb
Penelitian Penyakit
dip
agar dan selanjutnya dilakukan
identifikasi kuman.
Penyakit difteri merupakan salah satu penyakit infeksi
saluran napas bagian atas yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Pada tahun 1983 angka kematian bayi per seribu
kelahiran hidup akibatpenyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi adalah 37,9%, diantaranya 4,47% diakibatkan oleh
penyakit difteri' . Penggunaan vaksin secara luas akan diikuti
oleh penurunan angka kematian dan angka kesakitan yang
berat, tetapi infeksi masih akan sering ditemui.
Antitoksin difteri adalah zat anti yang sebenarn
uk sebagai respon terhadap infeksi klinis, subklinis atau
sebagai akibat imunisasi aktif dengan toksoid difteri. Anti-
toksin mengadung zat anti dari klas IgA dan IgG
2
. Antitoksin
terdiri dari campuran zat anti spesifik untuk bagian yang
berbeda dari molekul toksin.
Gejala klinis penyakit difteri yang khas adalah terbentuk-
nya psedomembran. Perkembangan penyakit sangat cepa
h
antitoksin difteri yang berasal dari kuda (
rupakan pe
2
sifik yang
an
ktif untuk dift
. Toksin
bagi
mbran akan tersebar keseluruh jari
ui alir
ah. Toksin difteri
sem
ngan. Toksin terikat ce
an d
li
Molekul toksin terdiri dari fragmen A (24.000 MW) dan
fragmen B (38.000 MW) mengandung sejumlah antigenik
determinan. Fragmen A mempunyai aktivitas enzim dalam
aktivasi toksin pada sel, sedangkan fragmen B panting untuk
ikatan toksin
e
dalam toksin atau toksoid kebanyak
produksi
ikut dala
pitasi dari zat anti. Walau
enceg
fitas enzimatik dari to
elind
tang atau sel terhadap.
adap fragmen
n sa
mencegah penempelan toksin pada sel dan fragmen B diperlu-
kan untuk perlekatan pertama.
Selama ada infeksi difteri, toksin berada dalam 3 bentuk
yaitu: beredar atau tidak terikat, te
dan terikat
menetralkan toksin yang beredar yang dapat mempengaruhi
toksin yang terikat longgar, tetapi tidak mempengaruhi toksin
yang terikat erat pada jaringan
3
. Dengan demikian AD
mencegah perlekatan yang lebih luas dari toksin yang beredar
dalam darah pada sel yang belum rusak, dengan cara melekat
pada determinan toksin dan mencegah perlekatan fragmen B
pada sel jaringan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar
antitoksin akibat pemberian AD pada penderita difteri yang
dirawat dan diharapkan akan dapat membantu dalam me-
nentukan waktu pemberian imunisasi sesudah penderita
sembuh.
AHAN DAN CA
B
alah penderita d
sum
sampai dengan Agustus 1986, sebanyak 28 orang. Diagnosa
penyakit dilakukan oleh dokter jaga dan pengambilan spesimen
di kukan oleh perawat setempat. Pengobatan dengan
pemberian antitoksin difteri (AD) buatan Perum Bioframa
kukan dengan dosis 10.000 IU/ml, 2 hari berturut-turut
secara intra muskuler. Spesimen berupa hapus
darah masing-masing untuk pemeriksaan kuman dan antitoksin.
gambilan hapus tenggorok dilakukan pa
mulai dirawat, sedangkan pengambilan darah dilakukan 3 kali
tu pada waktu mulai dirawat, sebelum diberi AD, minggu ke
2 dan ke 4 setelah pemberian AD. Darah diambil dari vena
anyak 0,5 ml dan dikirim ke Pusat
Menular untuk pemisahan sera dan pemeriksaan antitoksin.
Cara isolasi kuman dilakukan dengan menanam hapus
tenggorok pada tellurite agar. Setelah kuman tersangka turnbuh
indahkan pada Loffler
background image
Cara pengukuran kadar antitoksin dengan tes netralisasi
pada sel Vero
4
. To
National Institu
4000 Lf. Titer
penyakit difteri adalah 0,01 IU/ml atau lebih
HASIL
Tabel 1 m
enurut golo
ulan sampai 11 tahun (3 orang anak tidak diketahui umurnya
ecara pasti). Jumlah penderita terba
tahun. Semua penderita belum p
DPT lengkap 2 atau 3 kal
imunisasi DPT 1 kal
Tabel 1. Distribusi umur anak penderita difteri d
Golongan Umur
(Tabun)
Jumlah
Penderita
Jumlah
Penderita
ksin untuk pemeriksaan diperoleh dari The
te of Health, Tokyo, Jepang yang mengandung
antitoksin yang dianggap melindungi terhadap
.
enunjukkan jumlah penderita difterii yan dirawat
ngan umur. Umur penderita berkisar antara 11
m
b
s
nyak berumur antara 3­5
emah mendapatkan imunisasi
i. Empat orang a
i dan 3 diantaranya kemudian meninggal.
nak pernah mendapat
i RSCM
antara Mel - Agustus 1986.
-1
-2
-3
-4
-5
-6
>6
Tak diketahui
1
3
6
6
5
2
2
3
1
1
2
3
3
2
1
2
Total 28
15
Tabel 2. Titer antitoksin pada penderita difteri sebelum dan
sesudah pemberian AD.
Waktu
(m
Jumlah
Titer rata-rata
gg)
Penderita
(IU/ml)
Keterangan
Ke 0
28
0,0009
17 negatif
14 meninggal
Ke 2
14
0,2513
1 meninggal
Ke 4
7
0,1055
Hasil isolasi kuman positif hanya ditemukan pada 5
p
rang
penderita, karena hampir semua penderita telah memperoleh
pengobatan dengan antibiotika. Dari 5 prang penderita yang
posi
sakit berat dengan komplikasi obstruksi laring totai, bullneck,
kelainan jantung, dan bronkhopneumonia. Beberapa anak
telah mendapat pengobatan yang diberikan secara intravena.
ksin pada 7
n penurunan
Anak yang
n 7 rang lainnya sudah pulang atau tidak
ya.
anak yang
ang me-
lindungi, dan belum ada yang pernah memperoleh imunisasi
i.
ml secara intra
ut, meningkatkan
masih hidup pada
lah pemberian tersebut. Pada minggu ke 4
ya masih
,1055 IU/ml.
Berarti bahwa pemberian dosis tersebut cukup untuk
menetralkan toksin yang beredar dalam darah penderita
ksin sangat cepat berada dalam saliva setelah ino-
, tetapi'-lebih lambat beberapa
r antitoksiri yang melindungi sebelum
pemberian AD. Pada minggu ke 4 setelah pemberian AD titer
antitoksinnya masih tinggi di atas batas proteksi.
tif ditemukan 3 mengandung kuman Corynaebacterium
diphtheriae tipe intermedius dan 2
p
rang mengandung tipe
mitis.
Tabel 2 menunjukkan bahwa sebelum pemberian AD
semua penderita tidak memiliki kekebalan yang melindungi
terhadap difteri. Sebelas
p
rang memiliki titer sangat rendah
sedangkan 17
p
rang memiliki titer negatif dan rata-rata titer-
nya adalah 0,0009 IU/ml. Pada minggu ke 2 setelah pemberian
AD dari 14
p
rang penderita yang masih hidup titer antitoksin-
nya naik dan mencapai titer rata-rata 0,2513 IU/ml. Jumlah
penderita yang meninggal sebelum minggu ke 2 adalah 14
orang. Banyaknya penderita yang meninggal (50%) disebab-
kan karena penderita yang dirawat di RSCM telah menderita
tersebut. Perlindungan akibat pemberian antitoksin difteri
hilang setelah 2­3 minggu
Pada minggu ke 4 setelah pemberian AD titer antito
orang anak yang masih dirawat menunjukka
dengan titer rata-rata mencapai 0,1055 IU/ml.
meninggal 1
p
rang da
p
dapat diambil darahn
PEMBAHASAN
Melihat hasil di atas ternyata banyak semua
menderita difteri berat tidak memiliki kekebalan y
DPI atau DT lengkap 2 atau 3 kal
n dosis 2 x 10.000 IU/
Pemberian AD denga
muskuler dan diberikan 2 hari berturut-tur
da 14 orang anak yang
titer antitoksin pa
ete
minggu ke 2 s
terjadi penurunan pada 7
p
rang penderita tetapi titern
di atas batas proteksi dengan rata-rata titer 0
3
. Tanpa menyebut dosis dan cara
pemberiannya ternyata hal tersebut berbeda dengan hasil
penelitian ini. Berbagai faktor yang mungkin menjadi pe-
nyebabnya antara lain adalah cara pemberian AD, dosis, dan
berat ringannya penyakit. Ketiga faktor tersebut sangat
berpengaruh terhadap tinggi rendahnya titer antitoksin secara
perorangan.
Studi dari Tasman dan kawan-kawan tahun 1958
3
rrienun-
jukkan adanya kelebihan pada terapi dengan cara intra vena
dibandingkan dengan cara intra muskuler yaitu :
1)
Tingkat antitoksin dalam sera mencapai puncaknya dalam
waktu 30 menit setelah inokulasi secara intravena, sedang-
kan dengan cara intra muskuler baru dicapai dalam waktu 4
hari.
2)
Pola pengeluaran antitoksin pada dasarnya .sama setelah
pemberian baik secara intravena maupun intra muskuler.
)
Antito
3
kulasi dengan cara intravena
jam atau hari setelah pemberian secara intra muskuler.
4)
Pembandingan dari kedua cara pada pemberian AD dalam
percobaan pada hewan marmut menunjukkan bahwa pada
kelompok hewan yang disuntik secara intravena
kematiannya lebih rendah, miokarditis lebih rendah dan
neuritis lebih sedikit.
Imunisasi difteri diberikan beberapa waktu setelah anak
meninggalkan rumah sakit. Hal ini sering menyebabkan anak
tidak kembali untuk menerima vaksinasi ulang. Salah satu
usaha agar imunisasi difteri yang lengkap dapat terpenuhi,
maka perlu diteliti kemungkinan pemberian imunisasi yang
dimulai pada saat anak meninggalkan rumah sakit. Dengan
masih tingginya titer antitoksin maka pengaruhnya masih perlu
diteliti bila anak yang telah sembuh akan diberi imunisasi
toksoid difteri yang dimulai sebelum anak meninggalkan
rumah sakit.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitlan ini ternyata semua penderita difteri
tidak memiliki tite
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 39
background image
Penelitian ini perlu dilajutkan untuk melihat pengaruh
kadar antitoksin tersebut bila imunisasi akan diberikan pada
waktu anak akan meninggalkan rumah sakit.
01.
Ucap
terim
KEPUSTAKAAN
1.
Dir Jen P2M & PLP. Program imunisasi dan pengembangannya
dalam Repelita ke IV, 1984. Umpan balik EPI­D, 47: IV: 1­8.
2.
Joklik WK, P Willet. DB Amos. Zinsser Microbiology. 17th ed.
New York: Appleton Century Crofts. 1980; 635-648.
3.
Krugman S, Katz SL. InfectiousDiseases of Children 7th ed.
St Louis: Mosby Co, 1981; 13­24.
4.
Miyamura K, E Tajiri, A Ito, R Murata, R Kono. Micro cell culture
methodd for determination of diphtheria toxin and antitoxin titres using
Vero cells. I. Studies on factor affecting the toxin and antitoxsin titration. J
Biol Stand, 1981; 2; 189­2
an Terima Kasih.
Terima kasih diucapkan kepada Dr. Iskak Koiman, Kepala Pus-Lit
Penyakit Menular, atas bantuan dan saran-sarannya. Juga kepada semua
tehnisi di Pus Lit Penyakit Menular dan di Bagian Kesehatan Anak RSCM,
yang telah banyak membantu kelancaran penelitian ini, disampaikan banyak
a kasih.