BERITA TERKINI
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
46
45
BERITA TERKINI
S
ampai saat ini belum ada informasi mengenai interaksi klinis
antara HIV dan virus influenza A(H1N1). Penyebaran, masa
inkubasi dan manifestasi klinis virus influenza itu umumnya
serupa dengan virus influenza musiman. Belum ada informasi
yang cukup mengenai komplikasi dan spektrum penyakit
tetapi komplikasi mungkin serupa dengan influenza musiman.
Pengaruhnya pada kelompok usia lanjut dan kelompok lain
risiko tinggi untuk komplikasi influenza A(H1N1) ini sedang
diteliti.
Penelitian menunjukkan risiko lebih tinggi untuk rawat inap
terkait jantung dan paru pada orang terinfeksi HIV selama
musim influenza dibandingkan saat lain, dan risiko lebih tinggi
terhadap kematian terkait influenza pada orang terinfeksi HIV.
Penelitian lain menunjukkan bahwa gejala influenza mungkin di-
alami untuk jangka waktu yang lebih panjang dan risiko kom-
plikasi terkait influenza lebih tinggi untuk orang terinfeksi HIV.
Oleh karena itu, orang terinfeksi HIV harus dianggap sebagai
populasi berisiko tinggi dan prioritas untuk strategi pencegahan
dan terapeutik terhadap influenza termasuk infeksi virus influenza
A(H1N1) yang muncul.
Virus influenza A(H1N1) yang didapat dari Meksiko dan AS
rentan terhadap oseltamivir dan zanamivir tetapi tidak ter-
hadap amantadine dan ramantadine. Pasien berisiko lebih
tinggi terhadap komplikasi influenza termasuk mereka dengan
infeksi HIV harus diberi prioritas untuk pengobatan antiviral
termasuk dengan oseltamivir atau zanamivir, yang mempers-
ingkat lama dan beratnya penyakit influenza musiman. Untuk
influenza musiman, manfaat maksimal apabila antiviral dimulai
dalam 48 jam setelah gejala, manfaat pengurangan mortalitas
dan lamanya rawat inap mungkin tetap ada meskipun terapi
ditunda. Jangka waktu pengobatan yang baku untuk influenza
musiman adalah lima hari (Tabel 1). Obat antiradang non-
steroid (NSAID) dan terapi simtomatis lain dapat mengurangi
gejala, aspirin harus dihindari pada anak dan perempuan hamil
karena risiko sindrom Reye. Interaksi obat antara obat antiret-
roviral (ARV) dengan oseltamivir atau zanamivir belum pernah
dilaporkan sampai saat ini.
Saat ini belum ada vaksin khusus terhadap infeksi influenza A(H1N1)
tetapi pedoman umum imunisasi influenza musiman pada orang
terinfeksi HIV harus diikuti. Usulan vaksinasi influenza musiman
pada orang terinfeksi HIV adalah vaksinasi tahunan dengan vaksin
trivalent diinaktivikasi, tidak tergantung pada jumlah CD4, walau
pada HIV berat mungkin tidak terbentuk antibodi yang cukup
terhadap vaksin influenza. Penggunaan vaksin hidup yang di-
lemahkan harus dihindari. Kontraindikasi terhadap penggunaan
vaksin influenza yang diinaktivasi pada orang terinfeksi HIV
adalah sama dengan untuk mereka tanpa infeksi HIV.
D
alam sesi ilmiah American Diabetes Association (ADA)
ke-69 bulan Juni 2009, Dr. Tina Vilsboll dari Gentofte Hospital,
University of Copenhagen, Kopenhagen, Finlandia mempre-
sentasikan penelitian yang memperlihatkan bahwa pemberian
sitagliptin pada pasien yang diterapi insulin, dengan atau tanpa
metformin, dapat memperbaiki kontrol gula darah. Beliau
mengatakan bahwa sitagliptin dapat diberikan sebagai terapi
tambahan pada pasien-pasien diabetes tipe-2 yang kadar gula
darahnya sulit terkontrol.
Penelitian ini melibatkan 641 pasien diabetes tipe-2 yang telah
diterapi dengan insulin, dengan atau tanpa metformin selama
24 minggu. Pasien-pasien ini memiliki kadar hemoglobin
glikosilasi (HbA1C) antara 7,5%-11%. Endpoint primer peneli-
tian ini adalah perubahan HbA1C dari baseline. Setelah masa
run-in dengan plasebo selama 2 minggu, pasien menerima
secara acak sitagliptin 100 mg (n=322), atau plasebo (n=319).
Selain insulin, 462 pasien juga mendapatkan terapi metformin,
sedangkan 179 hanya diterapi dengan insulin.
Karakteristik baseline serupa pada kedua kelompok penelitian:
Tabel 1. Perbandingan karakteristik kelompok sitagliptin dan kelompok
plasebo pada baseline.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada kelompok
sitagliptin lebih banyak pasien yang mencapai kadar HbA1C di
bawah 7%.
Tabel 2. Perbandingan penurunan kadar HbA1C pada kelompok sitagliptin
dibandingkan dengan kelompok Plasebo.
Selain itu pemberian sitagliptin secara bermakna menurunkan
kadar glukosa darah puasa sebesar -15,0 mg/dL (p<0,001) dan
menurunkan kadar glukosa postprandial sebesar -36,1 mg/dL
dibandingkan dengan plasebo.
Pada kelompok yang ditambahi sitagliptin terjadi peningkatan
kejadian efek samping, yang terutama disebabkan karena hipo-
glikemia. Efek samping hipoglikemia berat jarang terjadi, pada
2 orang di kelompok sitagliptin dan 1 orang di kelompok plasebo.
Tabel 3. Perbandingan efek samping dan peningkatan kejadian hipoglikemia
antara kelompok sitagliptinengan kelompok plasebo.
Pada kedua kelompok penelitian tidak ditemukan perubahan
berat badan yang bermakna dibandingkan baseline.
Para ahli dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa penambahan
sitagliptin pada pasien diabetes tipe 2 yang mendapat terapi
insulin (dengan atau tanpa metformin) memperbaiki kontrol gula
darah. Pemberian sitagliptin sebagai terapi tambahan pada pasien
yang telah mendapat insulin ditoleransi dengan baik. Walau
efek samping hipoglikemia dalam penelitian ini relatif ringan,
dr. Tina Vilsboll tetap menganjurkan agar pemberian sitagliptin
pada pasien diabetes tipe-2 yang diterapi dengan insulin di-
lakukan dengan hati-hati.
Simpulan:
· Pada pasien yang telah mendapatkan insulin, dengan atau tanpa
metformin, pemberian sitagliptin meningkatkan kontrol gula
darah dan relatif aman bagi pasien.
· Perhatian perlu diberikan terhadap gejala hipoglikemia pada pasien-
pasien yang mendapatkan terapi insulin plus sitagliptin.
(YYA)
Referensi :
1. Campbell IW, Day C. Sitagliptin enhancing incretin action. Br J Diabetes Vasc Dis 2007; 7: 1349.
2. Doctors Guide. Sitagliptin Improves Glycaemic Control When Added to Insulin in Patients With Type 2
Diabetes: Presented at ADA. [cited 2009 June 04]. Available from: http://www.docguide.com/
news/content.nsf/news/852571020057CCF6852575CE0074E91D?OpenDocument&id=
48DDE4A73E09A969852568880078C249&c=Diabetes&count=10
3. Gadsby R. Efficacy and Safety of Sitagliptin in the Treatment of Type 2 Diabetes. Clinical Medicine:
Therapeutics 2009; 1: 5362.
Bila unsur antiviral tersedia dengan jumlah cukup, orang
terinfeksi HIV harus dipertimbangkan untuk profilaksis pasca-
pajanan dengan oseltamivir atau zanamivir, diteruskan selama
sepuluh hari setelah pajanan yang terakhir diketahui pada
kasus yang sakit atau dikonfirmasi. Profilaksis pascapajanan
diusulkan untuk orang terinfeksi HIV yang berhubungan dalam
rumah dengan orang dengan influenza A(H1N1).
Walau tidak ada cukup data untuk meramalkan dampak pandemi
influenza manusia pada populasi terinfeksi HIV, interaksi antara
HIV/AIDS dan influenza A(H1N1) dapat bermakna.
Tabel 1: Takaran obat antiviral influenza
Disesuaikan dari 2009 IDSA Guidelines for Seasonal Influenza in Adults and
Adolescents (Clin Inf Dis 2009,48:1003-32).
Catatan: data keamanan mengenai penggunaan oseltamivir
(atau zanamivir) kurang tersedia pada anak berusia di bawah
satu tahun, dan oseltamivir belum disetujui untuk dipakai pada
anak berusia di bawah satu tahun. Ciri infeksi manusia dengan
virus influenza A(H1N1) masih sedang diteliti, dan tidak diketahui
apakah bayi berisiko lebih tinggi terhadap komplikasi terkait
infeksi influenza A(H1N1) dibandingkan anak yang lebih tua dan
orang dewasa. Namun penggunaan obat ini off-label pada anak
berusia di bahwa sºatu tahun dipertimbangkan untuk keadaan
pandemi.
(NFA)
http://www.who.int/hiv/mediacentre/influenza_hiv.pdf
Sitagliptin Memperbaiki Kontrol
Gula Darah Pasien yang Diterapi dengan Insulin
Sitagliptin termasuk obat hipoglikemik oral (OHO) golongan Dipeptidyl Peptidase 4 inhibitors.
Sitagliptin telah dipasarkan di Amerika Serikat sejak tahun 2006 dan diindikasikan untuk terapi
pasien diabetes melitus tipe-2. Di Eropa sitagliptin juga telah dipasarkan sebagai terapi lini
kedua kombinasi dengan metformin, tiazolidinedion atau sulfonylurea dan sebagai terapi kom-
binasi lini ketiga dengan metformin plus sulfonylurea.
Pertimbangan tentang
Influenza A (H1N1) dan Infeksi HIV
Mempertimbangkan dampak infeksi virus influenza A(H1N1), program dan layanan HIV/AIDS
harus mengenal risiko terkait dan mempunyai rencana untuk pencegahan dan pengobatan.