E
fektifitas pemberian terapi antidepresan sebagai terapi
pemeliharaan (maintenance) telah diteliti melalui penelitian-
penelitian kontrol plasebo yang melibatkan pasien-pasien
yang memerlukan terapi obat psikiatrik. Terapi pemeliharaan
dengan antidepresan mencegah kekambuhan depresi kurang
lebih 15-30%. Namun dalam penelitian-penelitian yang
pernah dilakukan, pasien-pasien yang memiliki faktor komor-
bid, seperti diabetes, tidak diikutsertakan dalam penelitian
(masuk dalam kriteria eksklusi).
Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah
pemberian sertraline sebagai pemeliharaan dapat mencegah
kekambuhan depresi mayor pada pasien diabetes. Penelitian
ini terdiri dari 2 fase. Fase pertama (fase induksi), melibatkan
351 pasien diabetes tipe 1 dan tipe 2 dengan gangguan
depresi mayor. Pasien-pasien dalam fase ini diberi terapi sertra-
line (open label) sampai 16 minggu. Dalam fase pertama ini
sejumlah 152 pasien mengalami perbaikan gejala depresi.
Pada fase 2 (fase pemeliharaan), 152 pasien yang mengalami
perbaikan gejala depresi pada fase pertama dibagi secara acak
menjadi 2 kelompok; sebagian diterapi dengan sertraline
(n=79) dan sebagian lainnya diberi plasebo (n=73). Pasien
kemudian difollow-up selama 52 minggu. Outcome primer
adalah lamanya waktu untuk kambuhnya depresi mayor
menurut DSM IV. Outcome sekunder adalah kontrol gula
darah, yang ditentukan dengan pengukuran kadar hemoglo-
bin terglikosilasi (HbA1c).
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sertraline menghambat
kekambuhan depresi lebih lama dibandingkan dengan plasebo
(hazard ratio=0.51; 95%CI, 0.31-0.85; P=0,02). Selain itu
kadar HbA1c turun selama fase pertama (penurunan rerata
±SD kadar HbA1c, -0.4%±1.4%; p=0,002). Kadar HbA1c
tetap lebih rendah dibandingkan dengan baseline selama masa
bebas depresi (p=0,002) dan tidak ada perbedaan antara
kedua kelompok penelitian (p=0,90).
Para ahli dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian
sertraline memperpanjang masa interval bebas depresi.
Perbaikan depresi dengan sertraline, yang dilanjutkan dengan
atau tanpa sertraline disertai dengan perbaikan HbA1c paling
paling sedikit selama 1 tahun.
Simpulan:
Penelitian ini memperlihatkan manfaat sertraline dalam mencegah
kambuhnya depresi pada pasien diabetes. (YYA)
Referensi :
1. Anderson RJ, Freedland KE, Clouse RE, Lustman PJ. The prevalence of
comorbid depression in adults with diabetes: a meta-analysis. Diabetes
Care 2001; 24: 1069-78.
2. Lustman PJ, Anderson RJ, Freedland KE, de Groot M, Carney RM
Clouse RE. Depression and poor glycemic control: a meta-analytic
review of the literature. Diabetes Care 2000; 23: 934-42.
3. Lustman PJ, Clouse RE, Nix BD, Freedland KE, Rubin EH, McGill JB, e t
al. Sertraline for Prevention of Depression Recurrence in Diabetes
Mellitus. A Randomized, Double-blind, Placebo-controlled Trial. Arch
Gen Psychiatr. 2006; 63: 521-9.
Depresi terjadi pada 1 dari 4 penderita diabetes melitus. Pada penderita diabetes, depresi
mengurangi kualitas hidup, mengurangi aktifitas fungsional, meningkatkan risiko
terjadinya hiperglikemi, komplikasi diabetes dan bahkan kematian. Peningkatan risiko
ini terjadi karena adanya hubungan antara depresi dengan penyakit jantung koroner.
Sertraline Mencegah Kambuhnya
Sertraline Mencegah Kambuhnya
Depresi pada Pasien Diabetes
Depresi pada Pasien Diabetes
Sertraline Mencegah Kambuhnya
Depresi pada Pasien Diabetes
V
itamin D secara langsung mempengaruhi sel T (meng-
hambat proliferasi limfosit T dan menghambat produksi sitokin),
dan B (menghambat sekresi antibodi dan produksi autoanti-
bodi). Secara in vitro, vitamin D dapat menghambat diferensiasi
sel dendritik dan sekresi IL-12. Vitamin D juga dapat mencegah
makrofag untuk melepaskan sitokin dan kemokin. Selain
hal-hal yang telah disebutkan, sebenarnya pengaruh vitamin D
ini sangat luas pada sel imun.
Prevalensi inflammatory bowel disease (IBD) lebih tinggi pada
wilayah yang tidak terpapar sinar matahari seperti Amerika dan
Eropa Utara; pada pasien IBD juga ditemukan kadar 25(OH)D
yang lebih rendah. Sampai sekarang, masih tidak jelas mengapa
orang dengan defisiensi vitamin D lebih sering mengalami IBD.
Beberapa penelitian menunjukkan peran vitamin D dalam
menurunkan risiko kekambuhan pada multiple sclerosis, juga
mencegah timbulnya penyakit. Demikian juga pada penyakit
Systemic Lupus Erythematosus (SLE); orang Amerika, Afrika-
Amerika mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi terkena penyakit
ini dibanding Kaukasia. Hal ini dikaitkan juga dengan defisiensi
vitamin D.
Beberapa penelitian juga menunjukkan suplementasi vitamin D
selama masa kecil dan masa pertumbuhan dapat menurunkan
risiko terjadinya diabetes tipe 1; demikian juga dengan penyakit
reumatoid artritis (RA). Pustaka lain menyebutkan manfaat
suplemen vitamin D - penggunaan vitamin D pada dosis lazim
dapat menurunkan tingkat kematian seperti pada gangguan
jantung, kanker, diabetes. Namun, mekanismenya masih belum
diketahui dengan jelas
2,3
.
Simpulan: vitamin D dapat mempengaruhi sistem kekebalan
tubuh melalui banyak mekanisme seperti pada produksi
sitokin. Vitamin D mempunyai efek imunosupresif. Penelitian
hewan dan pengamatan awal menunjukkan bahwa vitamin D
dapat mencegah multiple sclerosis dan diabetes melitus.
Namun, ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk
penggunaan vitamin D di klinis. (CTA)
Referensi:
1. Arnson et. al. Vitamin D and Autoimmunity: New Aetiological and Therapeutic
Considerations.Ann Rheum Dis 2007;66:1137-1142.
2. Taking Vitamin D Supplements Seems to Lower Risk of Death. Complementary
Medicine/Alternative Medicine News 10 Sep 2007.
3. Autier,Gandini, Vitamin D Supplementation and Total Mortality. A Meta-analysis
of Randomized Controlled Trials. Arch Intern Med. 2007;167:1730-1737.
Berbagai Manfaat Vitamin D
Berbagai Manfaat Vitamin D
Vitamin D biasanya digunakan untuk mencegah dan mengobati osteoporosis (keropos tulang).
Vitamin D yang inaktif terlebih dahulu diaktifkan dengan bantuan sinar matahari (UV B), di hati,
dan di ginjal. Vitamin D aktif (calcitriol) berinteraksi dengan reseptor vitamin D (VDRs). Reseptor
ini berperan dalam keseimbangan kalsium tubuh dan efek imunomodulator. Selain di usus,
VDRs juga terdapat pada sel imun termasuk sel dendritik, monosit, sel T, makrofag, dsb.
Berbagai Manfaat Vitamin D
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
511
BERITA TERKINI
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
512
BERITA TERKINI