355
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Spectrum antibakteri
In vitro, Obat ini stabil terhadap ber-
bagai jenis betalaktamase dan mempunyai
spektrum antibakteri menyerupai spek-
trum sefotaksim. Obat ini terutama aktif
terhadap bakteria Gram-negatif aerobik
tidak aktif terhadap S aureus, enterokokus
(E faecalis), pneumokokus yang resisten
terhadap penisilin, dan juga terhadap
pseudomonas spp, L monocytogenes, Acine-
tobacter dan B fragfilis. Terhadap N gonor-
rhoeae aktivitas cefiksim sangat baik den-
gan KHM 0.001 0.063 mg/L.
Umumnya sefiksim aktif terhadap
bakteria anaerob,seperti Peptostretococcus
magnus, Bacteroides distasonis, Peptostrep-
tococcus spp, Lactobacillus spp dan Veillo-
nella spp,tapi tidak aktif terhadap B fragilis
Terhadap S typhi yang sudah resisten
dengan ampisilin dan derivat kuinolon
(MDR=multi drug resistant), sefiksim ter-
bukti masih aktif.
Mekanisme kerja :
Secara umum mekanisme kerja sefik-
sim sama dengan derivat sefalosporin lain-
nya, yaitu dengan menghambat sintesis
dinding sel bakteri. Sefiksim mempunyai
afinitas kuat dengan penicillin-binding pro-
teins (PBP) 3, 1a dan 1b. Aktivitas obat ini
dalam melisis kuman berlangsung cepat
( rapid lytic action), hal ini dihubungkan
dengan afinitasnya terhadap PBP-1b. Afini-
tas sefiksim terhadap PBP 2 sangat lemah,
dan ini menyebabkan obat ini tidak aktif
terhadap
S aureus dan coagulase-negative
staphylococci.
Farmakokinetik
Absorpsi sefiksim melalui oral berjalan
lambat dan tidak lengkap. Bioavailabilitas
absolut sekitar 40% sampai 50% saja. Da-
lam bentuk suspensi obat ini diabsorpsi
lebih baik dari bentuk tablet makanan
tidak mempengaruhi jumlah obat yang di-
absorpsi . Kadar tinggi terdapat pada em-
pedu dan urin.
Sefiksim diekskresi terutama melalui
ginjal, 50% dari jumlah yang diabsorpsi
diexkresi dalam bentuk utuh melalui gin-
jal dalam waktu 24 jam, . Ekskresi melalui
empedu sekitar 10% dari dosis. Obat ini
dimetabolisme dihati. Waktu paruh elimi-
nasi dalam serum antara 3-4 jam, dapat
memanjang pada kelainan fungsi ginjal.
Obat ini tidak bisa dikeluarkan dari tubuh
dengan hemodialisis ataupun dengan diali-
sis peritoneal.
Dosis dan cara pemberian
Dosis oral untuk dewasa atau anak de-
ngan berat badan lebih dari 50 kg ialah 200-
400 mg sehari yang diberikan dalam 1-2
dosis. Untuk anak dengan berat badan 50
kg atau kurang, diberikan suspensi dengan
dosis 8 mg/kg sehari, dalam dosis tunggal
atau dibagi menjadi dua kali dosis. Obat ini
tersedia dalam bentuk tablet 200 dan 400
mg, serta suspensi oral 100 mg/5 mL.
Penggunaan Klinik
Untuk pengobatan uncomplicated
gonococcal infections (UGI), efektivitas
sefiksim oral dosis tunggal 400 atau 800 mg
sebanding dengan seftriakson intramusku-
lar dosis 250 mg (dosis terapi seftriakson
yang dianjurkan untuk UGI pada serviks,
uretra, rektum dan faring: 125 -250 mg IM
atau IV). Untuk terapi disseminated gono-
coccal infection , digunakan sefiksim oral
dengan dosis 400 mg dua kali sehari atau
seftriakson intramuskular atau intravena 1
gram setiap 24 jam.
Sefiksim selain untuk terapi gonorrhea
juga digunakan untuk terapi sinusitis akut
,otitis media akut oleh H influenzae, Mo-
raxella catharrhalis dan S. pyogenes, bronki-
tis akut dan bronkitis kronik eksaserbasi
akut oleh
Str pneumonia dan H influenzae
, infeksi saluran kemih yang uncomplicated
oleh E coli dan P mirabilis.
Dari beberapa laporan hasil uji klinik,
ternyata untuk pengobatan demam tifoid
yang disebabkan S typhi MDR, sefiksim
memberikan hasil yang baik. Untuk demam
tifoid, obat standard yang sudah sejak lama
digunakan ialah kloramfenikol,ampisilin,a
moksisilin dan kotrimoksasol,tetapi di Neg-
ara Asia termasuk Indonesia telah dilapork-
Tinjauan Farmakologi Klinik Sefiksim
Sefalosporin Generasi III
Yati H Istiantoro
Fakultas Kedokteran universitas Indonesia - Jakarta
PENDAHULUAN
Sefiksim adalah suatu sefalosporin generasi ketiga yang dapat diberikan secara oral. Sefalosporin generasi ketiga sudah
dikembangkan menjadi berbagai derivat a.l. sefoperason, sefotaxime, seftasidim, seftizoxim , seftriakson, sefiksim, sefpodoksim
proxetil, sefdinir, sefditoren pivoxil, seftibuten, dan moxalaktam. Sefalosporin generasi ketiga umumnya harus diberikan secara
perenteral, hanya beberapa saja yang dapat diberikan peroral, yaitu sefiksim,sefdinir dan seftibuten.
356
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
an adanya kasus demam tifoid MDR. Untuk
kasus tifoid MDR pada de wa sa digunakan
derivat fluorokuinolon oral atau seftriak-
son, dengan hasil memuaskan. Tetapi pada
pasien anak-anak dan remaja, penggunaan
kuinolon memerlukan pertimbangan yang
sangat hati-hati tentang rasio manfaat dan
keamanannya, karena efek samping obat ini
terhadap tulang rawan sendi lutut, sehingga
pilihan paling aman untuk pasien kelompok
usia muda tersebut ialah seftriakson yang
harus diberikan secara parenteral dan ma-
hal harganya.
Untuk saat ini , sefalosporin generasi
ketiga oral, sefiksim dapat dijadikan salah
satu obat alternatif yang relatif lebih ter-
jangkau untuk kasus MDR tersebut. Hal
ini dapat dipertimbangkan, karena dari uji
in vitro telah dilaporkan bahwa aktivitas
sefiksim terhadap S typhi MDR cukup baik
dan selain itu juga dari beberapa uji klinik
terbukti obat ini efektif untuk demam ti-
foid MDR.
Hadinegoro dkk (Mei 1999-Januari
2000) melakukan uji klinik non-kompara-
tif terhadap efektifitas sefiksim dalam pen-
gobatan demam tifoid pada anak di Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakar-
ta. Subyek penelitian terdiri dari 25 pasien
(11 laki-laki dan 14 perempuan) usia 3-15
tahun dengan demam tifoid. Semua pasien
mendapat pengobatan sefiksim oral 10-
15 mg/kgbb/hari , dibagi dalam dua do-
sis selama 10 hari. Hasil yang dilaporkan
ialah penurunan suhu terjadi setelah 5,7
(SDą2.1) hari pengobatan. Dibandingkan
dengan penelitian terdahulu dengan seftri-
akson intravena sebanding (5,4 (SDą1.5)).
Secara umum sefiksim pada penelitian ini
dapat ditoleransi dengan baik oleh semua
pasien, efek samping mual dan muntah
yang timbul ringan saja.
Efek samping
Efek samping sefiksim umumnya rin-
gan. Yang tersering ialah diare (16%) dan
di antaranya yang termasuk berat 1.4% -
2.1%, serta keluhan saluran cerna lainnya
Petri Jr WA. Penicillin,cephalosporins and 0ther
1.
-lactam antibiotics. Dalam : Goodman & Gillman's, The
Pharmacological Basis of Therapeutics, edisi XI. 1127-2254, 2006
Borgden RN, Campoli-Richards. Cefixim. A review of its antibacterial activity, pharmacokinetic properties
2.
and therapeutic potential. Drugs,38(4): 524-550.1989
Hansfield HH, McCormack WM, Hook EW, Douglas JM, Govino JM, Verdon MS et al. A comparison of
3.
single dose cefixime with ceftriaxone as treatment for uncomplicated gpnorrhea. The Gonorrhea Treatment
Group. NEJM 1991, 325: 1337- 1341
Santillan RM,Gracia GR,Bevente IH, Garcia EM.Efficacy of cefixime in the treatment of typhoid fever.Proc
4.
West Pharmacol Soc; 43: 65-66,2000.
Daftar Pustaka
seperti mual ,muntah dan
dyspepsia.
Dilaporkan juga mes-
kipun jarang, bahwa ami-
lase serum sedikit men-
ingkat sekitar 1.3% pada
pemberian sefiksim ,se-
dangkan pada pemberian
amoksisilin peningkatan
terjadi sekitar 2.6%. Pem-
berian sefiksim juga da-
pat menyebabkan reaksi
positif palsu pada pemer-
iksaan glukosa pada urin
dengan Clinitest, larutan
Benedict ,atau larutan Fe-
hling.
Karena itu dianjur-
kan pada penggunaan
sefiksim,
pemeriksaan
glu kosa pada urin, meng-
gunakan tes yang ber-
dasarkan reaksi enzymatic
glucose oxidase (seperti
Clinistix atau Tes-Tape).
Selain itu dapat juga ter-
jadi positif palsu pada tes
Coombs direk, seperti
juga yang bisa terjadi pada
pengguna an preparat sefa-
losporin lainnya.
Interaksi obat
Pemberian beberapa obat tertentu ber-
sama dengan sefiksim dapat timbul inter-
aksi.
Karbamasepin. Pemberian bersama
dengan sefeksim dapat menyebabkan
peningkatan kadar karbamasepin dalam
darah,sehingga perlu pengamatan terh-
adap efek toksik karbamasepin dan mem-
pertimbangkan kemungkinan dilakukan
penyesuaian dosis obat ini.
Warfarin dan antikoagulan lain.
Pem berian bersama sefiksim dapat me-
nyebabkan perpanjangan waktru protrom-
bin (prothrobin time), tanpa atau dengan
ge jala perdarahan. n