P
ada pasien PGK stadium terminal ini terlihat bahwa kadar
B-type natriuretic petide (BNP) dalam sirkulasi dapat menjadi
indeks prognosis kematian karena sebab kardiovaskular.
BNP adalah suatu asam amino (polipetida) yang disekresikan
oleh ventrikel jantung sebagai respon karena teregangnya
otot jantung (miosit) di daerah ventrikel. Kadar BNP ini me-
ningkat pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri, sehingga
dapat di korelasikan dengan beratnya gejala dan prognosis
penyakit jantung kongestif. Kadar BNP ini lebih tinggi pada
pasien dengan dispnea (sesak napas) karena gagal jantung
dibandingkan dispnea karena sebab lain. Karena sifatnya ini
pengukuran BNP dapat berguna sebagai marker risiko
kelainan kardiovaskular,
Studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa defisiensi
vitamin D dapat menimbulkan kerusakan struktur dan fungsi
jantung. Pasien ginjal kronik (PGK) sering mengalami defisiensi
vitamin D3 (kalsitriol) karena hambatan proses aktivasi pro
vitamin D akibat rusaknya ginjal sehingga kadar kalsitriol darah
menjadi rendah.
Studi berikut hendak melihat korelasi antara kadar BNP dalam
sirkulasi dengan kadar vitamin D dalam darah pada pasien-
pasien dengan dialisis peritoneal.
Studi dilakukan terhadap 19 pasien dialisis peritoneal yang
setidaknya telah 4 bulan menjalai prosedur ini; darah diambil
secara intravena melalui lengan. Pengukuran dilakukan ter-
hadap kadar 25-hydroxyvitamin D [25(OH)D] dan BNP.
Hasil menunjukkan adanya hubungan nyata (korelasi terbalik)
antara kadar 25-hydroxyvitamin D dengan kadar BNP dan
amino terminal fragment pro-BNP (NT-pro BNP - dibentuk dari
BNP yang disimpan setelah disekresi)
Kesimpulan studi ini adalah bahwa defisiensi vitamin D pada
pasien PGK dapat mengganggu fungsi jantung dengan
manifestasi meningkatnya kadar B-type natriuretic peptides.
Pemberian kalsitriol diharapkan dapat bermanfaat melalui
peningkatan kadar vitamin D darah sehingga dapat menu-
runkan kadar BNP. Kalsitriol dikatakan juga mengontrol
sistem renin angiotensin melalui hambatan produksi renin
Pengaruh kalsitriol pada pengaturan renin tidak tergantung
dari kadar kalsium dan hormon paratiroid. Oleh karenanya
kalsitriol berperan sebagai regulator endokrin negatif dari
RAS secara langsung dan secara independen menekan
ekspresi gen renin. Melalui mekanisme ini kalsitriol memiliki
potensi mekanik pada pengaturan aliran darah dan proteksi
kardiorenal. (DHS)
Referensi:
Obineche EN et al. Interrelationships between b-type natriuretic peptides and
vitamin D in patients on maintenance peritoneal dialysis. Perit Dial Int 2008;28:617-21.
Definition of B-type natriuretic peptide. http://www.medicinet.com
Pemberton CJ et al. Amino-terminal proBNP in ovine plasma: evidence for enhanced
secretion in response to cardiac overload. Am J Physiol 1998; ;275(4 Pt 2):
H1200-8.(abstract)
Tian J et al. Potential role of active vitamin D in retarding the progression of chronic
kidney disease. Nephrol Dial Transplant 2006;11:1-8
.
Prevalensi hipertensi, hipertrofi ventrikel
kiri, penyakit jantung iskemik dan gagal
jantung sangat tinggi khususnya pada
pasien penyakit ginjal kronik (PGK) yang
telah memasuki stadium terminal (stadium
dialisis), hal ini dapat terlihat melalui angka
kematian karena kelainan kardiovaskular
yang lebih tinggi 10-30 kali dibandingkan
populasi normal.
1.
2.
3.
4.
Kalsitriol
sebagai
Protektor
Jantung
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
B E R I T A T E R K I N I
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
112
B E R I T A T E R K I N I
111
D
ari hasil penelitian terbaru di Inggris telah terbukti bahwa
penggunaan antipsikotik konvensional lebih dapat menimbulkan
kematian pasien lansia jika dibandingkan dengan pemberian
antipskotik golongan atipik. Desain penelitian tersebut adalah
kohort, melibatkan 12.882 subyek yang menggunakan obat
konvensional dan 24.359 subyek yang menggunakan obat
atipikal antipsikotik. di Inggris yang usianya lebih dari 65 tahun,
dan mendapat terapi obat antipsikotik konvensional atau atipikal
dari tahun 1996 dan 2004.
Semua model secara proporsional kemudian dibandingkan
risiko kematiannya dalam 180 hari dimulai dari awal meng-
gunakan antipsikotik konvensional. Kemudian dicocokkan
dengan berbagai potensi penyebab kematian menggunakan
berbagai instrumen atau perangkat penilaian. Total kematian
adalah 3.821 dalam 180 hari pertama sejak menggunakan
obat tersebut, 49% kematian diakibatkan karena penyakit
kardiovaskular.
Semua risiko kematian akibat kardiovaskular pada pengguna
antipsikotik konvensional, sebesar 1,23 (95% confidence
interval (CI)=1.10-1.36) dan kematian kardiovaskular di luar
RS adalah 1,36 ( 95% CI=1.19-1.56) jika dibandingkan dengan
pasien yang sejak awal menggunakan obat antipsikotik golongan
atipikal. Selain itu ditemukan bahwa pasien lansia yang meng-
gunakan obat golongan konvensional juga mempunyai risiko
kematian akibat penyakit respirasi dan penyakit pada saraf
serta sebab lainnya.
(IDS)
Referensi:
Potential Causes of Higher Mortality in Elderly Users of Conventional and
Atypical Antipsychotic Medications, J Am Geriatr Soc. 2008 Aug 4
Risk of Death in Elderly Users of Conventional vs. Atypical Antipsychotic
Medications, NEJM 2005; 353:2335-41
Antipsychotic Therapy and Short-term Serious Events in Older Adults With
Dementia, Arch Intern Med. 2008;168(10):1090-6
Penggunaan antipsikotik konvensional pada lansia agaknya sudah harus dibatasi,
mengingat penelitian yang telah dipublikasi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa
penggunaan obat tersebut telah terbukti dapat meningkatkan risiko kematian.
Efek samping antipsikotik pada jantung sebenarnya sudah mulai diketahui sejak
tahun 2005, dan sejak saat itulah penggunaan antipsikotik konvensional kembali
ramai dibicarakan.
Antipsikotik Konvensional
Tidak Aman untuk Jantung
Antipsikotik Konvensional
Tidak Aman untuk Jantung
k
k Konvension