background image
BERITA TERKINI
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
352
K.
Todd Keylock Ph.D dari Universitas Bowling Green State,
Bowling Green, Ohio mengatakan bahwa banyak studi me-
nemukan peningkatan petanda darah inflamasi hingga empat
kali lipat yang dikaitkan dengan penuaan, dan penuaan
tampaknya meningkatkan fase inflamasi penyembuhan luka.
Dia juga telah membuat hipotesis bahwa latihan fisik sedang
dapat mempercepat penyembuhan luka melalui penurunan
kadar sitokin proinflamasi yang dikaitkan dengan penuaan.
Untuk mengontrol jumlah latihan fisik, dia menempatkan
sejumlah tikus pada treadmill yang dimotorisasi selama 30
menit sebelum dan selama penyembuhan luka, sedangkan
tikus kontrol tidak diberi kesempatan untuk latihan fisik.
Sebuah alat biopsi kulit digunakan untuk membuat 4 luka
kulit full-thickness, dan tingkat penutupan luka dinilai setelah
10 hari. Proses tersebut diulang 4 bulan kemudian, dengan
luka dinilai setelah 1, 3 dan 5 hari serta kadar sitokin diukur.
Hasilnya menunjukkan bahwa tikus tua dengan latihan fisik
sembuh lebih cepat secara bermakna dibanding tikus tua
yang tidak latihan fisik.
Dari hasil analisis luka, Dr. Keylock menemukan kadar tumor
necrosis factor alpha (TNF-alpha), keratinocyte chemoat-
tractant (KC), dan monocyte chemoattractant protein-1
(MCP-1) yang lebih rendah secara bermakna pada tikus tua
dengan latihan fisik. Sedangkan tikus yang lebih muda mem-
punyai tingkat inflamasi lebih rendah, apakah berlatih fisik
atau tidak.
Latihan fisik menyebabkan penurunan tingkat inflamasi tikus
tua ke tingkat yang hampir sama dengan yang tampak pada
tikus muda.
Dr. Keylock juga mengatakan bahwa manfaat latihan fisik
pada penyembuhan luka terjadi pada awal proses hingga 6
hari pasca luka. Waktu untuk 20% penutupan luka adalah
2,5 hari lebih cepat sedangkan waktu untuk 80% penutupan
luka 51% lebih cepat pada tikus dengan latifan fisik. Latihan
fisik pada tikus tersebut setara dengan manusia berjalan
cepat selama 30 menit sehari, 5-6 kali seminggu. Dr. Keylock
memperkirakan jumlah latihan fisik tersebut adalah jumlah
yang diperlukan untuk menimbulkan manfaat penyembuhan
luka; jumlah latihan fisik yang lebih banyak tidak akan meng-
hasilkan manfaat yang lebih besar secara bermakna.
Dokter perlu mendorong pasien yang berusia lebih tua untuk
latihan fisik secara teratur sebelum dan setelah pembeda-
han. Selain memperbaiki kekuatan, tonus otot dan densitas
tulang serta menurunkan lemak tubuh, latihan fisik dapat
mempercepat penyembuhan luka dan menurunkan risiko
terbentuknya jaringan parut.
Dr.Keylock percaya bahwa penemuan ini dapat diaplikasi-
kan pada kondisi lain dengan tingkat inflamasi yang tinggi
seperti diabetes dan obesitas.
(EKM)
Referensi :
Roehr B. Get moving! Exercise decreases inflammation, facilitates wound
healing. Dermatology Times, Juni 1, 2008.
Menurut studi pada tikus yang dilakukan di Universitas Illionis dan yang telah dipublikasikan
di the American Journal of Physiology: Regulatory, Integrative and Comparative Physiology,
manfaat latihan fisik terhadap penyembuhan luka dikaitkan dengan penurunan inflamasi.
Dan tingkat inflamasi yang rendah dikaitkan dengan penyembuhan luka yang lebih cepat
dan jaringan parut yang lebih sedikit pada mamalia.
Latihan fisik dapat mempercepat
penyembuhan luka
BERITA TERKINI
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
353
Antioksidan golongan karotenoid berjumlah sekitar 732 jenis antioksidan. Karotenoid tidak bisa
disintesis oleh tubuh, sehingga antioksidan jenis ini diperoleh dari asupan makanan. Ada dua kelas
antioksidan dari kelompok karotenoid, yaitu Kelas Xantofil dan Kelas Karoten. Dari Kelas Karoten
misalnya betakaroten dan likopen. Sedangkan dari Kelas Xantofil misalnya Lutein dan Astaxanthin.
Astaxanthin, antioksidan
dari golongan karotenoid
Gb.1. Antioxidant pathways 1
Gb.2. Antioxidant pathway 2
Ket. gb.2 : SOD ­ Superoxide dismutasis, Cat ­ Catalase, O
2
· ­ Superoxide, O
2
­ Oxygen
GSSH ­ Oxidate Glutathione, GSHPx ­ Glutathione Peroxidase, H
2
O ­ Įgua,OH· ­
Hydroxyl Radical, GSH ­ Reduced Glutathione, H
2
O
2
­ Hydrogen Peroxide.
Radikal bebas superoxide oleh SOD akan diubah menjadi
H
2
O
2
(Hidrogen peroxida). Selanjutnya H
2
O
2
oleh glutation
peroxidase dan katalase diurai menjadi H
2
O (air). Namun ada
H
2
O
2
yang tidak tertangkap oleh glutation peroxidase dan
katalase, akan terurai menjadi OH· . Radikal bebas ini akan
ditangkap oleh antioksidan eksogen (scavenger) dan diurai-
kan menjadi molekul yang netral.
Kesimpulan: antiokidan enzimatik dan antioksidan eksogen
memiliki tempat kerja yang berbeda-beda, dan bila keduanya
cukup dimiliki oleh tubuh, akan memberikan manfaat yang
baik untuk kesehatan.
(MML)
Daftar Pustaka:
1. Astaxanthin. Wikipedia. www://em.wikipedia.org/wiki/Astaxanthin
2. Terapi dan Pencegahan Penyakit dengan Astaxanthin. Farmacia, Juli 2007.
3. Rechkermmer. Antioxidants and their role in healthy nutrition.
Institute
of
Nutritional Physiology, Germany.
4. Reactive Oxigen Species and Oxidative Stress. www.redlabs.be
A
staxanthin merupakan karotenoid alami, memiliki kekuatan
antioksidan yang jauh lebih poten dibandingkan antioksidan
lain yang sudah dikenal seperti vitamin E dan C. Senyawa ini
lebih kuat 550 kali dibandingkan vitamin E dan 40 kali lebih kuat
dibandingkan beta karoten dalam mengikat singlet oksigen.
Untuk menghambat peroksidasi lipid, astaxanthin bahkan
lebih kuat dibandingkan vitamin E.
Astaxanthin bisa ditemukan di mikroalga yang hidup di perairan
seluruh dunia mulai dari daerah tropis sampai padang salju
Antartika, atau di hewan laut seperti salmon segar, udang,
dan lobster. Astaxanthin ini yang memberikan warna merah
muda pada hewan-hewan laut tersebut.
Kekuatan astaxanthin terletak pada potensinya dalam men-
cegah berbagai penyakit dan gangguan kesehatan lain.
Sebagai antioksidan, astaxanthin memiliki aktivitas menetral-
kan singlet oxygen dan peroksida lipid. Astaxanthin memiliki
efek antiinflamasi dengan menghambat sitokin dan chemokin.
Dari sisi kesehatan mata, ia bisa mencegah kelelahan mata,
katarak diabetik, dan mempertajam penglihatan. Pada penyakit-
penyakit yang ada kaitannya dengan gaya hidup seperti
hipertensi, diabetes, sindrom metabolik atau infeksi lambung
oleh Helicobacter pylori, astaxanthin juga berperan cukup besar.
Di kedokteran olahraga, astaxanthin bisa meningkatkan daya
tahan otot dan untuk kesehatan kulit, mencegah kerut.
Penelitian manfaat astaxanthin yang banyak dilakukan pada
hewan percobaan menujukkan hasil positif. Beberapa peneli-
tian kemudian ditingkatkan pada percobaan pada manusia.
Studi di Jepang meneliti penggunaan astaxanthin 5 mg selama
4 minggu untuk eye fatigue (kelelahan mata) atau astenofia;
hasilnya keluhan eye fatigue menurun 54%.
Astaxanthin memiliki mekanisme kerja memperbaiki akomodasi,
dan meningkatkan aliran darah dan antiinflamasi di mata.
Pada beban kerja yang sangat membutuhkan penglihatan,
mata akan fokus pada suatu obyek dengan jarak tertentu
pada periode waktu lama sehinga akan menyebabkan kejang
atau kelelahan otot yang dapat dideteksi dari uji akomodasi.
Pada pengguna astaxanthin, lebar akomodasi akan mening-
kat pada semua obyek dekat dan jauh. Dan efek ini mulai
bermakna di minggu ke-2.
Antioksidan enzimatik dan antioksidan eksogen
Para ahli menyebutkan bahwa SOD dan antioksidan enzima-
tik lainnya (antioksidan endogen) bekerja sebagai antioksidan
tahap awal, sedangkan vitamin atau antioksidan eksogen lain
bekerja pada tahap akhir. (Gb.1)