background image
HASIL PENELITIAN
Penelitian Bakteriologik Air Minum
Isi Ulang di Daerah Jabotabek
2003 - Maret 2004
Noer Endah Pracoyo, Siti R., Melati wati, Triyani S., Kristina, Dewi P.
Pusat Penelitian Pemberantasan Penyakit, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Air merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan
manusia. Air dapat membuat orang menjadi sehat, tetapi juga
berpotensi sebagai media penularan penyakit, keracunan dan
sebagainya. Jumlah air tawar di daratan terbatas sehingga
menjadi rebutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Eksplorasi
air tanah secara besar-besaran dapat menyebabkan kerusakan
formasi tanah. Batuan yang terisi air tanah menjadi kosong,
sehingga diisi oleh air laut, disebut intrusi air laut
(1).
Banyak negara saat ini menghadapi masalah kesehatan
masyarakat yang terkait dengan degradasi kualitas air.
Berkurangnya penyediaan air bersih disebabkan buruknya
sistem drainase dan sanitasi, serta kurang memadainya
pengelolaan sumber daya air dan lingkungan. Saat ini sungai -
sungai yang mengalir menjadi tempat buangan sampah, limbah
industri, serta limbah rumah tangga. Beberapa sungai telah
mengalami pendangkalan dan penyempitan, di samping itu
bantaran sungai sudah penuh dengan pemukiman, sehingga
sungai tidak dapat lagi diandalkan sebagai sumber air bersih.
Di kota - kota besar pasokan air bersih berkurang sampai 40%
oleh berbagai sebab, mulai dari pencemaran sampai kurang
baiknya fasilitas air yang tersedia. Mahalnya air bersih
menyebabkan banyak penduduk sulit memenuhi kebutuhan air
bersih. Menurunnya kualitas air dapat menyebabkan
penyebaran berbagai penyakit baik yang menular ataupun tidak
menular. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air
antara lain yang disebabkan oleh parasit seperti kecacingan,
penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti tifus,
kholera, disentri.dan beberapa jenis penyakit yang ditularkan
oleh virus seperti diare rotavirus, hepatitis, polio dan
sebagainya.
Di samping itu air yang tercemar dapat menyebabkan
keracunan pada manusia, misalnya akibat logam berat limbah
industri seperti kadmium, Pb, air raksa, arsen. Logam tersebut
dikeluarkan melalui saluaran pencernaan, tetapi sebagian akan
terakumulasi di dalam ginjal, hati. Efek logam kadmium di
dalam tubuh dapat mengakibatkan kenaikan tekanan darah dan
gagal jantung, sedangkan keracunan air raksa dapat
mengakibatkan cacat bawaan. Karena air bersih sangat
dibutuhkan, bermuculan berbagai usaha air minum baik air
minum dalam kemasan maupun air minum isi ulang. Air
minum dalam kemasan dari pabrik umumnya telah mendapat
rekomendasi dari Badan POM. Tetapi depot air minum isi
ulang dapat diragukan mutu kebersihannya.
Sampai saat ini belum ada peraturan pemberian ijin atau
rekomendasi kelayakan air minum yang baku ditinjau dari segi
higiene dan sanitasi air minum isi ulang. Produk air minum isi
ulang merupakan usaha berskala kecil dan kadang kadang
merupakan produksi / usaha rumah tangga, sehingga higiene
dan sanitasinya masih diragukan. Oleh sebab itu penulis
mencoba meneliti tingkat pencemaran pada air minum isi ulang
dari depot air minum isi ulang di daerah Jabotabek.
TUJUAN PENELITIAN
Mendapatkan gambaran keadaan higiene air minum isi
ulang ditinjau dari segi bakteriologi. Mengetahui tingkat
pencemaran kuman koliform, atau E.coli. Penelitian ini berupa
penelitian retrospektif, data diambil dari hasil pemeriksaan air
minum isi ulang yang diperiksa di Pusat Penelitian
Pemberantasan Penyakit tahun 2003 sampai bulan Maret 2004.
BAHAN DAN CARA
Bahan pemeriksaan
Bahan berupa spesimen (contoh ) air minum isi ulang yang
diambil dari beberapa tempat depot air minum isi ulang. Bahan
terebut diperiksa dengan larutan / media Brilliant Green
Lactose Bile Broth ( BGLB) 2% dan Lactose Broth.
Cara kerja
Cara pengambilan air minum isi ulang
1. Siapkan botol / tempat menampung yang sudah disteril.
2. Bersihkan kran secara aseptis dengan cara mengusap
dengan alkohol 70 %, dan diamkan beberapa menit sampai
sisa alkohol menguap.
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 37
background image
3. Biarkan air mengalir dari kran selama 3-5 detik, kemudian
secara aseptis tampunglah air kran yang masih mengalir ke
dalam botol steril yang telah disiapkan.
4. Tampung ± 500 ml air minum isi ulang dalam botol.
5. Setelah itu segera tutup, tutup botol dibersihkan dengan
alkohol tadi dan masukkan ke dalam kotak pendingin.
6. Sampel / spesimen tersebut segera diperiksa secara
bakteriologis di Puslit Pemberantasan Penyakit.
Pemeriksaan secara bakteriologis
Diperiksa jumlah pertumbuhan kuman aerob sebagai
indikator kebersihan air minum isi ulang dan MPN coliform
dan E.coli
(3)
.
Cara :
1. Siapkan tabung reaksi berisi 10 ml. lactose broth,
kemudian disusun di rak tabung dan beri tanda nomer urut,
jumlah air yang akan diperiksa, tanggal pemeriksaan.
2. Dengan menggunakan pipet steril masukkan 10 ml. contoh
air ke dalam tabung nomor 1 sampai 5. Tabung ke 6 diisi
contoh air yang sama sebanyak 1ml. dan tabung ke 7 diisi
contoh air yang sama sebanyak 0,1 ml.
3. Masing-masing tabung yang telah terisi sampel
dihomogenisasi / dikocok sampai air yang diperiksa dan
larutan yang digunakan untuk memeriksa tercampur rata.
4. Setelah tercampur rata, masukkan ke dalam inkubator
dengan suhu 37°C selama 24 jam.
5. Setelah 24 jam, semua tabung dikeluarkan; catat tabung
yang menunjukkan reaksi adanya pembentukan gelembung
udara pada tabung Durham .
6. Gelembung udara dalam tabung Durham menandakan
adanya peragian.
7. Hasil positif ini dilanjutkan ke tes penegasan.
Untuk tes lanjutan atau tes penegasan media yang
digunakan adalah larutan Brilliant Green Lactose Bile Broth (
BGLB ) 2 %.
· Dari setiap tabung yang positif dipindahkan
(diinokulasikan) sebanyak 1-2 ose ke dalam 2 (dua) tabung
konfirmasi masing-masing berisi 10 ml BGLB 2 %.
· Satu tabung tersebut kemudian diinkubasikan pada suhu 35
- 37°C selama 24 - 48 jam untuk memastikan adanya
pertumbuhan kuman koliform, tabung ke dua yang diisi
sampel yang sama diinkubasikan pada suhu 44º C selama
24 jam guna memastikan adanya pertumbuhan kuman
E.coli tinja.
· Pembacaan dilakukan setelah 24 sampai 48 jam dengan
melihat jumlah tabung yang menunjukkan positif gas,.baik
dari tabung yang diinkubasikan pada suhu 37ºC dan yang
diinkubasikan pada suhu 44º C.
· Jumlah tabung yang positif kemudian dicocokkan dengan
tabel MPN, maka akan diperoleh MPN coliform pada
tabung yang diinkubasikan pada suhu 37º C dan kuman
E.coli pada tabung yang diinkubasikan pada suhu 44º C.
Dalam penelitian ini diperiksa pula jumlah kuman aerob yang
tumbuh pada sampl air minum isi ulang sebagai indikator
kebersihan air minum isi ulang tersebut.
Bahan dan Cara pemeriksaan kuman aerob
Bahan yang digunakan adalah Larutan Phosphate Buffer
Saline 5 % pH 7,6 untuk pengenceran air ( sampel air ) dan
Media Total Plate Count Agar untuk menumbuhkan kuman
aerob.
Cara Pemeriksaan
1. Siapkan 6 tabung reaksi berisi 9 ml. larutan steril, disusun
berderet dan diberi tanda mulai tabung 1 sampai tabung ke
6 dengan kode 10
1
sampai 10
6
sebagai kode pengenceran.
2. Siapkan
7
petridish steril yang masih kosong, enam diberi
tanda kode yang sama untuk kode pengenceran., ditambah
satu petridish sebagai kontrol.
3. Ambil 1 ml. air yang akan diperiksa kemudian masukkan
ke dalam tabung berisi PBS dan kocok sampai homogen.
4. Ambil 1ml. sampel yang telah dihomogenisasi tadi,
masukkan ke dalam tabung 1 sampai 6.
5. Dari setiap tabung pengenceran diambil 1ml., secara
aseptis tuangkan ke dalam petridish. Petridish ke 7 diberi
larutan PBS, atau akuades steril,
6. Kemudian tuangkan 15 - 20 ml. agar Total Plate Count
Agar dengan suhu ± 50°C ke dalam petridish
7. Goyangkan petridish berisi sampel yang sudah
dihomogenisasi dan dicampur dengan Total Plate Count
Agar, dan biarkan mengental.
8. Setelah mengental masukkan ke dalam inkubator selama
24 jam dengan suhu 37ºC.
9. Setelah 24 jam keluarkan petridish dan hitung jumlah
koloni kuman yang tumbuh.
10. Pembacaan hasil dengan cara menghitung jumlah kuman
yang tumbuh dikalikan jumlah pengenceran.
Tabel 1. Jumlah kuman aerob yang ditemukan pada air minum isi ulang
(tidak memenuhi syarat kesehatan)
Asal sampel
Jumlah diperiksa
Jml tidak memenuhi
syarat
DKI Jakarta
118
38 (32 % )
Bogor
32
4 (12,5 %)
Tangerang
35
7 (20 % )
Bekasi
55
21 ( 38 % )
Jumlah
240
70 (29 % )
Tabel 2. Jumlah air minum isi ulang yang masih mengandung kuman
koliform dan kuman E.coli.
Asal sampel
Jml sampel
diperiksa
Jml sampel
mengandung
kuman koliform
Jml sampel
mengandung
kuman E.coli
DKI Jakarta
118
2 (1,7 %)
2 ( 1,7 % )
Bogor
32
2 ( 6 %)
2 (6 % )
Tangerang
35
4 (11 % )
4 ( 11 % )
Bekasi
55
0
0
Jml
240
8 ( 3,6 % )
8 (3,6 % )
Tabel 1 memperlihatkan jumlah seluruh sampel yang
diperiksa sebanyak 240 sampel, 70 sampel (29 %) tidak
memenuhi syarat. Jumlah air minum yang masih mengandung
kuman koliform dan E.coli sehingga tidak memenuhi kesehatan
sebagai air minum dapat dilihat pada Tabel 2.
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
38
background image
PEMBAHASAN
Sejumlah 29% air minum dari beberapa depot air minum
isi ulang di daerah DKI, Bogor, Tangerang dan Bekasi, tidak
memenuhi syarat. Penelitian Balai Teknologi Kesehatan
Lingkungan (BTKL) terhadap air minum isi ulang di daerah
DKI, hasilnya 26,4 % masih mengandung kuman koliform.
Pada tahun yang sama IPB mengadakan penelitian yang sama
dan hasilnya 26 % air minum isi ulang yang diperiksa masih
mengandung kuman koliform.
(4)
Perlu diketahui bahwa air minum yang digunakan sebagai
bahan utama pembuatan air minum isi ulang berasal dari
berbagai sumber misalnya PDAM (PAM), mata air
pengunungan, air tanah, air penampungan, air yang diangkut
dengan mobil tangki air. Air tersebut ditampung dalam suatu
wadah, kemudian dialirkan melalui pipa dan disaring
menggunakan alat filter. Air yang telah melalui filter kemudian
ditampung dan dialirkan ke dalam wadah ( Bagan 1).
Dalam penelitian ini tidak dibedakan asal sumber air yang
digunakan sebagai bahan baku pembuatan air minum isi ulang.
Alat penyaring berupa filter juga terdiri dari berbagai macam
merk. Meskipun demikian semua air yang telah melalui alat
penyaring seharusnya sudah steril dan bebas kuman baik
kuman aerob maupun kuman koliform. Adanya kontaminasi
kuman koliform dan E.coli menandakan air tersebut masih
tercemar. Untuk itu perlu penelitian / pemeriksaan sumber air
yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan air minum isi
ulang, apakah sumber air yang digunakan sebagai bahan baku
pembuatan air minum isi ulang masih tercemar ?. Di samping
itu juga perlu penelitian standar mutu alat atau penyaring.
Selain itu perlu untuk menjaga higiene sanitasi lingkungan di
sekitar depot agar tidak terjadi kontaminasi silang dari
lingkungan sekitar.
KESIMPULAN
Sekitar 2 % air minum isi ulang dari DKI Jakarta; 11 % air
minum isi ulang dari daerah Tangerang dan 6 % air minum isi
ulang dari daerah Bogor masih mengandung kuman koliform
dan E.coli, sedang yang berasal dari Bekasi tidak ditemukan
kuman koliform dan E.coli. Hasil pemeriksaan kuman aerob
positif pada 32 % air minum isi ulang di daerah DKI, 20 % di
daerah Tangerang, 12,5 % di daerah Bogor sebanyak dan 38
%.di daerah Bekasi.
SARAN
1. Air minum hendaknya direbus terlebih dahulu sampai
mendidih selama 5-10 menit. sebelum dikonsumsi
2. Para pengelola/pengusaha depot air minum isi ulang
sebaiknya memeriksakan airnya ke laboratorium yang
telah direkomedasikan.
3. Perlu ada standarisasi alat penyaring ( filter ).
KEPUSTAKAAN
1.
Mukhlis Akhadi. Masalah Kesehatan di balik Krisis Air Bersih. Medika
2003; XXIX (12): 807-810.
2.
Slamet JS. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, 1996.
3. Departemen Kesehatan. Petunjuk Pemeriksaan Mikrobiologi Makanan
dan Minuman . 1991.
4. Institut Pertanian Bogor. Hasil Kualitas Air Minum Isi Ulang.
disampaikan pada Seminar Tinjauan Aspek Kualitas dan Implikasi
Kesehatan Terhadap Konsumen . Jakarta 25 April 2003.
5. Hening Darpito. Peranan Pemerintah dalam Penegakan Peraturan
Perundang-undangan yang Berkaitan dengan Depo Air Minum. Seminar
Tinjauan Aspek Kualitas dan Implikasi Kesehatan terhadap Konsumen.
Jakarta April 2003.
BAGAN ALUR DEPOT AIR MINUM ISI ULANG
S u m b e r
A i r B a k u
K e n d a r a a n
T a n g k i A i r
K r a n
P e n g e l u a r a n
A i r p a d a M o b i l
T a n g k i
P i p a k e
P e n y a l u r
K r a n
P e n g i s i a n
A i r B a k u
T a n d o n A i r
B a k u
O p e r a t o r
P e n g a n g k u t
A i r
P e n c u c i a n
d e n g a n A i r
M i n u m d a n
D e s i n f e k s i
T a b u n g
F i l t e r
T a n d o n A i r
T e r s a r i n g
K r a n
P e n g i s i a n
A i r M i n u m
C u r a h
M i c r o F i l t e r
P o m p a d a n
P i p a
P e n y a l u r
A i r
D e s i n f e k s i
K r a n
P e n c u c i a n
B o t o l
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 39
background image
Lampiran I
PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI
NOMOR : 416/MENKES/PER/IX/1990
TANGGAL: 3 SEPTEMBER 1990
DAFTAR PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM
No.
Parameter
Satuan
Kadar
Maksimum
yang
diperbolehkan
Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
A. FISIKA
Bau
Jumlah zat padat
terlarut (TDS)
Kekeruhan
Rasa
Suhu
Warna
B. KIMIA
a. Kimia Anorganik
Air raksa (Hg)
Aluminium (Al)
Arsen (As)
Barium (Ba)
Besi (Fe)
Fluorida (Fl)
Kadmium (Cd)
Kesadahan (CaCO
3
)
Klorida (Cl)
Kromium, val.6 (Cr)
Mangan (Mn)
Natrium (Na)
Nitrat sebagai N (NO
7
)
Nitrit sebagai N (NO
2
)
Perak (Ag)
pH
Selenium (Se)
Seng (Zn)
Sianida (CN)
Sulfat (SO
4
)
Sulfida (sebagai H
2
S)
Tembaga (Cu)
Timbal (Pb)
b. Kimia Organik
Aldrin dan dieldrin
Benzene
Benzo (a) pyrene
Chlordane (total
Isomer)
Chloroform
2.4-D
DDT
Detergen
1,2-Dichloroethene
1.1-Dichloroethene
-
mg/L
Skala NTU
--
°
Skala TCU
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
-
1000
5
- -
Suhu udara
15
0,001
0,2
0,05
1,0
0,3
1,5
0,005
500
250
0,05
0,1
200
10
1,0
0,05
6,5-8,5
0,01
5,0
0,1
400
0,05
1,0
0,05
0,0007
0,01
0,00001
0,0003
0,03
0,10
0,03
0,5
0,01
0,0003
Tidak berbau
- -
- -
Tidak terasa
Merupakan
batas mini-
mum dan
maksimum
11.
12.
13.
14.
15
16.
17.
18.
1.
2.
1.
2.
Heptachlor dan
heptachlor epoxide
Hexachloro benzene
Gamma-HCH
(Lindane)
Methoxychlor
Pentachlorophenol
Pestisida total
2,4,6-trichloro-
phenol
Zat organik (KMn0
4
)
C. MIKROBIOLOGIK
Koliform Tinja
Total koliform
D. Radio Aktivitas
Aktivitas Alpha
(Gross Alpha activity).
Aktivitas Beta
(Gross Beta activity)
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
Jumlah per
100 ml.
Jumlah per
100 ml.
Bq/L
Bq/L
0,003
0,00001
0,004
0,03
0,01
0,10
0,01
10
0
0
0,1
0,1
95% sampel
yang
diperiksa
selama
setahun.
Kadang
kadang boleh
ada 3 per 100
ml sampel
air, tetapi
tidak
berturut-
turut.
Keterangan :
mg = miligram
ml = mililiter
L = Liter
Bq = Bequerel
NTU = Nepnelometrik Turbidity Units
TCL = True Colour Units
Logam berat merupakan logam terlarut.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 13 September 1990
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Dr. ADHYATMA, MPH.
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
40

Document Outline