background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Karakteristik Candida albicans
Conny Riana Tjampakasari
Staf Pengajar Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
ABSTRAK
Kandidosis merupakan penyakit jamur teratas di antara penyakit jamur lainnya hingga saat
ini. Penyebab utama infeksi ini umumnya adalah Candida albicans (C. albicans). Jamur ini dapat
menginfeksi semua organ tubuh manusia, dapat ditemukan pada semua golongan umur, baik pria
maupun wanita. Jamur ini dikenal sebagai organisme komensal di saluran pencernaan dan
mukokutan, sering ditemukan di kotoran di bawah kuku orang normal. Jamur ini juga dikenal
sebagai jamur oportunis.
PENDAHULUAN
C. albicans merupakan jamur dimorfik karena kemam-
puannya untuk tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda yaitu
sebagai sel tunas yang akan berkembang menjadi blastospora
dan menghasilkan kecambah yang akan membentuk hifa semu.
Perbedaan bentuk ini tergantung pada faktor eksternal yang
mempengaruhinya. Sel ragi (blastospora) berbentuk bulat,
lonjong atau bulat lonjong dengan ukuran 2-5
µ x 3-6 µ hingga
2-5,5
µ x 5-28 µ .
C. albicans memperbanyak diri dengan membentuk tunas
yang akan terus memanjang membentuk hifa semu. Hifa semu
terbentuk dengan banyak kelompok blastospora berbentuk
bulat atau lonjong di sekitar septum. Pada beberapa strain,
blastospora berukuran besar, berbentuk bulat atau seperti botol,
dalam jumlah sedikit. Sel ini dapat berkembang menjadi
klamidospora yang berdinding tebal dan bergaris tengah sekitar
8-12
µ.
(1-4)
Morfologi koloni C. albicans pada medium padat
agar Sabouraud Dekstrosa, umumnya berbentuk bulat dengan
permukaan sedikit cembung, halus, licin dan kadang-kadang
sedikit berlipat-lipat terutama pada koloni yang telah tua.
Umur biakan mempengaruhi besar kecil koloni. Warna koloni
putih kekuningan dan berbau asam seperti aroma tape
.
(2,3)
Dalam medium cair seperti glucose yeast, extract pepton, C.
albicans tumbuh di dasar tabung.
(3)
Pada medium tertentu, di antaranya agar tepung jagung
(corn-meal agar),agar tajin (rice-cream agar) atau agar dengan
0,1% glukosa terbentuk klamidospora terminal berdinding
tebal dalam waktu 24-36 jam
.
(1-3)
Pada medium agar eosin metilen biru dengan suasana CO
2
tinggi, dalam waktu 24-48 jam terbentuk pertumbuhan khas
menyerupai kaki laba-laba atau pohon cemara.
(3)
Pada medium
yang mengandung faktor protein, misalnya putih telur, serum
atau plasma darah dalam waktu 1-2 jam pada suhu 37
o
C terjadi
pembentukan kecambah dari blastospora.
(2,3)
C. albicans dapat tumbuh pada variasi pH yang luas, tetapi
pertumbuhannya akan lebih baik pada pH antara 4,5-6,5.
(5)
Jamur ini dapat tumbuh dalam perbenihan pada suhu 28
o
C -
37
o
C.
(4)
C. albicans membutuhkan senyawa organik sebagai
sumber karbon dan sumber energi untuk pertumbuhan dan
proses metabolismenya.
(2)
Unsur karbon ini dapat diperoleh
dari karbohidrat.
(4)
Jamur ini merupakan organisme anaerob fakultatif yang
mampu melakukan metabolisme sel, baik dalam suasana
anaerob maupun aerob. Proses peragian (fermentasi) pada C.
albicans dilakukan dalam suasana aerob dan anaerob.
Karbohidrat yang tersedia dalam larutan dapat dimanfaatkan
untuk melakukan metabolisme sel dengan cara mengubah
karbohidrat menjadi CO
2
dan H
2
O dalam suasana aerob.
Sedangkan dalam suasana anaerob hasil fermentasi berupa
asam laktat atau etanol dan CO
2
. Proses akhir fermentasi
anaerob menghasilkan persediaan bahan bakar yang diperlukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 33
background image
untuk proses oksidasi dan pernafasan.
(4)
Pada proses asimilasi,
karbohidrat dipakai oleh C. albicans sebagai sumber karbon
maupun sumber energi untuk melakukan pertumbuhan sel.
(2, 4)
C. albicans dapat dibedakan dari spesies lain berdasarkan
kemampuannya melakukan proses fermentasi dan asimilasi.
Pada kedua proses ini dibutuhkan karbohidrat sebagai sumber
karbon. Pada proses fermentasi, jamur ini menunjukkan hasil
terbentuknya gas dan asam pada glukosa dan maltosa,
terbentuknya asam pada sukrosa dan tidak terbentuknya asam
dan gas pada laktosa. Pada proses asimilasi menunjukkan
adanya pertumbuhan pada glukosa, maltosa dan sukrosa namun
tidak menunjukkan pertumbuhan pada laktosa.
(2, 3)
STRUKTUR FISIK
Dinding sel C. albicans berfungsi sebagai pelindung dan
juga sebagai target dari beberapa antimikotik. Dinding sel
berperan pula dalam proses penempelan dan kolonisasi serta
bersifat antigenik.
(4)
Fungsi utama dinding sel tersebut adalah
memberi bentuk pada sel dan melindungi sel ragi dari
lingkungannya.
(4,6)
C. albicans mempunyai struktur dinding sel
yang kompleks, tebalnya 100 sampai 400 nm.
Komposisi primer terdiri dari glukan, manan dan khitin.
Manan dan protein berjumlah sekitar 15,2-30 % dari berat
kering dinding sel,
-1,3-D-glukan dan ­1,6-D-glukan sekitar
47-60 %, khitin sekitar 0,6-9 %, protein 6-25 % dan lipid 1-7
%. Dalam bentuk ragi, kecambah dan miselium, komponen-
komponen ini menunjukkan proporsi yang serupa tetapi bentuk
miselium memiliki khitin tiga kali lebih banyak dibandingkan
dengan sel ragi.
(4)
Dinding sel C. albicans terdiri dari lima
lapisan yang berbeda.
(4)
Segal dan Bavin (1994) memperlihatkan bahwa dinding
sel C. albicans terdiri dari lima lapisan yang berbeda (Gambar
1).
(4)
Gambar 1. Skema dinding sel C. albicans (Dikutip dari Pathogenic Yeasts
and Yeast Infections, Library of Congress Cataloging in Publication Data,
1994, hal. 12)
Membran sel C. albicans seperti sel eukariotik lainnya
terdiri dari lapisan fosfolipid ganda. Membran protein ini
memiliki aktifitas enzim seperti manan sintase, khitin sintase,
glukan sintase, ATPase dan protein yang mentransport fosfat.
Terdapatnya membran sterol pada dinding sel memegang
peranan penting sebagai target antimikotik dan kemungkinan
merupakan tempat bekerjanya enzim-enzim yang berperan
dalam sintesis dinding sel.
(5,7)
Mitokondria pada C. albicans
merupakan pembangkit daya sel. Dengan menggunakan energi
yang diperoleh dari penggabungan oksigen dengan molekul-
molekul makanan, organel ini memproduksi ATP.
(3,5)
Seperti halnya pada eukariot lain, nukleus C. albicans
merupakan organel paling menonjol dalam sel. Organ ini
dipisahkan dari sitoplasma oleh membran yang terdiri dari 2
lapisan. Semua DNA kromosom disimpan dalam nukleus,
terkemas dalam serat-serat kromatin. Isi nukleus berhubungan
dengan sitosol melalui pori-pori nucleus.
(5,7)
Vakuola berperan
dalam sistem pencernaan sel, sebagai tempat penyimpanan
lipid dan granula polifosfat. Mikrotubul dan mikrofilamen
berada dalam sitoplasma. Pada C. albicans mikrofilamen
berperan penting dalam terbentuknya perpanjangan hifa.
(5,7)
STRUKTUR GENETIK
C. albicans mempunyai genom diploid. Kandungan DNA
yang berasal dari sel ragi pada fase stasioner ditemukan
mencapai 3,55
µg/10
8
sel. Ukuran kromosom Candida albicans
diperkirakan berkisar antara 0,95-5,7 Mbp.
(4)
Beberapa metode
menggunakan Alternating Field Gel Electrophoresis telah
digunakan untuk membedakan strain C. albicans. Perbedaan
strain ini dapat dilihat pada pola pita yang dihasilkan dan
metode yang digunakan. Strain yang sama memiliki pola pita
kromosom yang sama berdasarkan jumlah dan ukurannya.
Steven dkk (1990) mempelajari 17 strain isolat C.
albicans dari kasus kandidosis. Dengan metode elektroforesis,
17 isolat C. albicans tersebut dikelompokkan menjadi 6 tipe.
Adanya variasi dalam jumlah kromosom kemungkinan besar
adalah hasil dari chromosome rearrangement yang dapat
terjadi akibat delesi, adisi atau variasi dari pasangan yang
homolog. Peristiwa ini merupakan hal yang sering terjadi dan
merupakan bagian dari daur hidup normal berbagai macam
organisme. Hal ini juga seringkali menjadi dasar perubahan
sifat fisiologis, serologis maupun virulensi.
(4)
Pada C. albicans, frekuensi terjadinya variasi morfologi
koloni dilaporkan sekitar 10
-2
sampai 10
-4
dalam koloni
abnormal. Frekuensi meningkat oleh mutagenesis akibat
penyinaran UV dosis rendah yang dapat membunuh populasi
kurang dari 10%. Terjadinya mutasi dapat dikaitkan dengan
perubahan fenotip, berupa perubahan morfologi koloni menjadi
putih smooth, gelap smooth, berbentuk bintang, lingkaran,
berkerut tidak beraturan, berbentuk seperti topi, berbulu,
berbentuk seperti roda, berkerut dan bertekstur lunak.
(4)
Fibrillar Layer
Mannoprotein
Glucan
Glucan-Chitin
Mannoprotein
Plasma membrane
PATOGENESIS
Menempelnya mikroorganisme dalam jaringan sel pejamu
menjadi syarat mutlak untuk berkembangnya infeksi. Secara
umum diketahui bahwa interaksi antara mikroorganisme dan
sel pejamu diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding
sel mikroorganisme, adhesin dan reseptor.
(4,8)
Manan dan
manoprotein merupakan molekul-molekul C. albicans yang
mempunyai aktifitas adhesif. Khitin, komponen kecil yang
terdapat pada dinding sel C. albicans juga berperan dalam
aktifitas adhesive.
(4)
Setelah terjadi proses penempelan, C.
albicans berpenetrasi ke dalam sel epitel mukosa. Dalam hal
ini enzim yang berperan adalah aminopeptidase dan asam
fosfatase. Apa yang terjadi setelah proses penetrasi tergantung
dari keadaan imun dari pejamu.
(4,8)
Pada umumnya C. albicans berada dalam tubuh manusia
sebagai saproba dan infeksi baru terjadi bila terdapat faktor
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
34
background image
predisposisi pada tubuh pejamu. Faktor-faktor yang
dihubungkan dengan meningkatnya kasus kandidosis antara
lain disebabkan oleh :
1.
Kondisi tubuh yang lemah atau keadaan umum yang
buruk, misalnya: bayi baru lahir, orang tua renta, penderita
penyakit menahun, orang-orang dengan gizi rendah
2.
Penyakit tertentu, misalnya: diabetes mellitus
3.
Kehamilan
4.
Rangsangan setempat pada kulit oleh cairan yang terjadi
terus menerus, misalnya oleh air, keringat, urin atau air
liur.
5.
Penggunaan obat di antaranya: antibiotik, kortikosteroid
dan sitostatik.
(3,4)
Faktor predisposisi berperan dalam meningkatkan
pertumbuhan C. albicans serta memudahkan invasi jamur ke
dalam jaringan tubuh manusia karena adanya perubahan dalam
sistem pertahanan tubuh. Blastospora berkembang menjadi hifa
semu dan tekanan dari hifa semu tersebut merusak jaringan,
sehingga invasi ke dalam jaringan dapat terjadi. Virulensi
ditentukan oleh kemampuan jamur tersebut merusak jaringan
serta invasi ke dalam jaringan.
(2,4,8)
Enzim-enzim yang berperan
sebagai faktor virulensi adalah enzim-enzim hidrolitik seperti
proteinase, lipase dan fosfolipase.
(4,8)
EPIDEMIOLOGI
C. albicans dapat ditemukan di mana-mana sebagai
mikroorganisme yang menetap di dalam saluran yang
berhubungan dengan lingkungan luar manusia (rektum, rongga
mulut dan vagina).
(4,8)
Prevalensi infeksi C. albicans pada
manusia dihubungkan dengan kekebalan tubuh yang menurun,
sehingga invasi dapat terjadi. Meningkatnya prevalensi infeksi
C. albicans dihubungkan dengan kelompok penderita dengan
gangguan sistem imunitas seperti pada penderita AIDS,
penderita yang menjalani transplantasi organ dan kemoterapi
antimaligna.
(4,8)
Selain itu makin meningkatnya tindakan invasif, seperti
penggunaan kateter dan jarum infus sering dihubungkan
dengan terjadinya invasi C. albicans ke dalam jaringan.
Edward (1990) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa
dari 344.610 kasus infeksi nosokomial yang ditemukan, 27.200
kasus (7,9 %) disebabkan oleh jamur dan 21.488 kasus (79 %)
disebabkan oleh spesies Candida. Peneliti lain (Odds dkk.
1990) mengemukakan bahwa dari 6.545 penderita AIDS,
sekitar 44,8 % nya adalah penderita kandidosis.
(4)
Banyak studi epidemiologi melaporkan bahwa terjadinya
kasus-kasus kandidosis tidak dipengaruhi oleh iklim dan
geografis.
(4)
Hal itu menunjukkan bahwa C. albicans sebagai
penyebab kandidosis dapat ditemukan di berbagai negara.
PATOLOGI DAN MANIFESTASI KLINIK
Pada
manusia,
C. albicans sering ditemukan di dalam
mulut, feses, kulit dan di bawah kuku orang sehat.
(4,8)
C.
albicans dapat membentuk blastospora dan hifa, baik dalam
biakan maupun dalam tubuh. Bentuk jamur di dalam tubuh
dianggap dapat dihubungkan dengan sifat jamur, yaitu sebagai
saproba tanpa menyebabkan kelainan atau sebagai parasit
patogen yang menyebabkan kelainan dalam jaringan.
Penyelidikan lebih lanjut membuktikan bahwa sifat patogenitas
tidak berhubungan dengan ditemukannya C. albicans dalam
bentuk blastospora atau hifa di dalam jaringan.
(3,4)
Terjadinya
kedua bentuk tersebut dipengaruhi oleh tersedianya nutrisi,
yang dapat ditunjukkan pada suatu percobaan di luar tubuh.
Pada keadaan yang menghambat pembentukan tunas dengan
bebas, tetapi yang masih memungkinkan jamur tumbuh, maka
dibentuk hifa.
(3)
Rippon (1974) mengemukakan bahwa bentuk blastospora
diperlukan untuk memulai suatu lesi pada jaringan. Sesudah
terjadi lesi, dibentuk hifa yang melakukan invasi.
(2)
Dengan
proses tersebut terjadilah reaksi radang. Pada kandidosis akut
biasanya hanya terdapat blastospora, sedang pada yang
menahun didapatkan miselium. Kandidosis di permukaan alat
dalam biasanya hanya mengandung blastospora yang berjumlah
besar, pada stadium lanjut tampak hifa.
Hal ini dapat dipergunakan untuk menilai hasil
pemeriksaan bahan klinik, misalnya dahak, urin untuk
menunjukkan stadium penyakit.
(3,8)
Kelainan jaringan yang
disebabkan oleh C. albicans dapat berupa peradangan, abses
kecil atau granuloma. Pada kandidosis sistemik, alat dalam
yang terbanyak terkena adalah ginjal, yang dapat hanya
mengenai korteks atau korteks dan medula dengan
terbentuknya abses kecil-kecil berwarna keputihan.
Alat dalam lainnya yang juga dapat terkena adalah hati,
paru-paru, limpa dan kelenjar gondok. Mata dan otak sangat
jarang terinfeksi. Kandidosis jantung berupa proliferasi pada
katup-katup atau granuloma pada dinding pembuluh darah
koroner atau miokardium. Pada saluran pencernaan tampak
nekrosis atau ulkus yang kadang-kadang sangat kecil sehingga
sering tidak terlihat pada pemeriksaan.
(3,4)
Manifestasi klinik
infeksi C. albicans bervariasi tergantung dari organ yang
diinfeksinya.
(8,9)
Kandidosis kulit
Jamur ini sering ditemukan di daerah lipatan, misalnya
ketiak, di bawah payudara, lipat paha, lipat pantat dan sela jari
kaki.
(8,9)
Kulit yang terinfeksi tampak kemerahan, agak basah,
bersisik halus dan berbatas tegas.
(9,10)
Gejala utama adalah rasa
gatal dan rasa nyeri bila terjadi maserasi atau infeksi sekunder
oleh kuman.
(3,9)
Kandidosis kuku
Kuku yang terinfeksi tampak tidak mengkilat, berwarna
seperti susu, kehijauan atau kecoklatan. Kadang-kadang
permukaan kuku menimbul dan tidak rata. Di bawah
permukaan yang keras terdapat bahan rapuh yang mengandung
jamur. Kelainan ini dapat mengenai satu/beberapa atau seluruh
jari tangan dan kaki.
(3,9)
Kandidosis saluran pencernaan
Stomatitis dapat terjadi bila khamir menginfeksi rongga
mulut. Gambaran klinisnya khas berupa bercak-bercak putih
kekuningan, yang menimbul pada dasar selaput lendir yang
merah. Hampir seluruh selaput lendir mulut, termasuk lidah
dapat terkena. Gejala yang ditimbulkannya adalah rasa nyeri,
terutama bila tersentuh makanan.
(3,8)
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 35
background image
Kandidosis vagina
Pada
wanita,
C. albicans sering menimbulkan vaginitis
dengan gejala utama fluor albus yang sering disertai rasa gatal.
Infeksi ini terjadi akibat tercemar setelah defekasi, tercemar
dari kuku atau air yang digunakan untuk membersihkan diri;
sebaliknya vaginitis Candida dapat menjadi sumber infeksi di
kuku, kulit di sekitar vulva dan bagian lain.
(11,12)
Kandidosis paru
C. albicans dapat ditemukan sebagai infeksi primer dan
sekunder. Gejalanya menyerupai penyakit paru oleh sebab lain,
yaitu suhu tubuh meningkat, nyeri dada, batuk, dahak kental
yang dapat bercampur darah.
(3,8)
Kandidosis alat dalam lain dan sistemik
Selain alat-alat tersebut di atas, kandidosis juga dapat
menginfeksi endokardium, selaput otak dan mata serta dapat
menimbulkan septikemi. Endokarditis oleh C. albicans
mempunyai gejala yang sangat mirip dengan penyakit yang
disebabkan oleh kuman, yaitu demam, bising jantung, payah
jantung, anemi dan pembesaran limpa.
(3,8)
Meningitis oleh C. albicans dapat timbul oleh penjalaran
jamur secara hematogen. Gejala utamanya rasa nyeri disertai
kelainan saraf misalnya afasia atau hemiparesis.
(3,8)
Kandidosis
mata dapat berupa ulkus kornea yang disertai hipopion, atau
dapat juga berupa endoftalmitis.
Gejala dapat berupa skotoma, rasa sakit, pandangan silau
(fotofobia).
(3,8)
Septikemia oleh C. albicans sangat jarang ;
dapat terjadi sebagai penjalaran infeksi lokal, misalnya
stomatitis.
(3,8)
KEPUSTAKAAN
1.
Ellis DH. Clinical mycology. The Human Opportunistic Mycoses.
Gillingham Printer. Australia. 1994; 13-39.
2.
Rippon JW. Medical Mycology. WB Saunders Co. Philadelphia. 1998;
532-75.
3.
Suprihatin SD. Candida dan Kandidiasis pada Manusia. Balai Penerbit
FKUI, Jakarta. 1982
4.
Segal, Baum. Pathogenic yeast and yeast infections. CRC Press Inc,
Tokyo 1994.
5.
Reiss E, Hearn VM, Poulain D dkk. Structure and function of the
fungal cell wall. J. Med. Vet.Mycol. 1992; 30 (Suppl): 143-56.
6.
Kreger van Rij NJW. The Yeast.A taxonomic study. Elsevier Science
Publ., Amsterdam, 1984.
7.
Roberts B, Bray J, Lewis J dkk. Biologi molekuler sel. 2
nd
ed. Balai
Penerbit FKUI, Jakarta, 1996
8.
Richardson MD, Shankland ES. Epidemiology and Pathogenesis of
Candidosis. Candida today 1991: 3-7.
9.
Mulyati, Sjarifuddin PK. Sumber Infeksi Kandidiasis Vagina.
Maj.Kedokt.Ind. 1995; 44 (4): 250-5
10.
Kwon Chung KJ, Bennet JE. Medical Mycology. Library of Congress
Catalogue in Publication Data. 1992.
11.
Sjarifuddin PK, Kertanegara D, Susilo K. Keberadaan Candida sp di
bawah kuku pada penderita vaginitis. Maj. Parasitol.Ind. 1996; 9 (2) : 77-
81.
12.
Mulyati, Sjarifuddin PK. Sumber Infeksi Kandidiasis Vagina.
Maj.Kedokt.Ind. 1995; 44 (4): 250-5
Good news comes always too late, bad news comes
always too soon (Bodenstedt)
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
36

Document Outline