background image
Wabah Hepatitis E di Kalimantan Barat
lmran Lubis
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Pada saat ini Hepatitis Virus E (HVE) telah banyak dibukti-
kan sebagai penyebab suatu keadaan endemis di daerah wabah
hepatitis yang penyebarannya melalui cara oral fekal; meng-
akibatkan gejala hepatitis akut dengan gejala klinik cukup berat
(fulminant hepatitis). Banyak menyebabkan kematian pada ibu
hamil bila terkena infeksi pada trimester ke 3.
Hepatitis Virus E sudah banyak ditemukan dari tinja pen-
derita hepatitis yang berasal dari berbagai pelosok dunia. Hepa-
titis virus E sendiri terdiri dari beberapa strain yang dibedakan
berdacarkan gambaran fisikokemikal dan biologi dari gugus
SR1. Hepatitis Virus E ternyata penyebab dari penyakit yang
dulu disebut sebagai Enterically Transmitted Non A Non B
hepatitis (ET NANB).
Hepatitis Virus E ditemukan pada wabah hepatitis di India
Utara, Mesir, Italia, Spanyol, RRC, Venezuela. Virus terdapat di
tinja pada penderita akut yang dapat secara intravena ditularkan
kemonyet rhesus(M. mulata). 'Virus like particle' (VLP)
sebesar 30-34 nm juga ditemukan pada cairan empedu dan tinja
penderita yang diperiksa dengan cara Solid Phase Immune
Electron Microscopy (SPIEM).
Di Indonesia Hepatitis E belum pernah dilaporkan. Belum
banyak diketahui tentang gambaran klinik, gambaran epide-
miologik penyakit. Penelitian tentang Hepatitis virus E masih
sangat sedikit.
WABAH PERTAMA HEPATITIS E DI KALIMANTAN
BARAT (1987)
Pada bulan Nopember 1987, dilaporkan suatu wabah "ter-
sangka" hepatitis di Kabupaten Sin tang, Kalimantan Barat.
Dalam waktu 5 bulan saja telah dilaporkan sekitar 2.500 kasus.
Tim kami melakukan penelitian di desa : Sayan, Tanah Pinoh
dan Sokan; pada waktu itu wabah hepatitis masih berlangsung
di 3 desa tersebut. Kami mencari kasus hepatitis akut yang baru
dan yang masih mempunyai masa sakit selama tidak lebih dari
9 hari. Berdasarkan gejala klinis kami menemukankasus
hepatitis yang terdiri dari : 44 laki-laki (umur 3-50 tahun) dan
38 wanita (umur 6-70 tahun).
Pemeriksaan pertama dilapokan terhadap nilai SCOT, SGPT
dan Alkaline Phosphatase yang menunjukkan bahwa 34 kasus
(34/44 = 77,3%) mempunyai nilai rata-rata 4 kali lebih besar dari
normal, sehingga semua kasus ini dikonfirmasi sebagai kasus
hepatitis. Pemeriksaan selanjutnya adalah terhadap petanda
hepatitis yaitu IgM anti HAV, HBsAg dan HBcAg. Pada waktu
itu belum ada pemeriksaan untuk Hepatitis C dan Hepatitis E.
Dan hasil pemeriksaan petanda hepatitis ditemukan 28 orang
dengan ET NANB atau Epidemic Hepatitis Non A Non B atau
Enterically Transmitted (ET) Non A Non B Hepatitis karena
semua petanda hepatitis : IgM anti HAV, HBsAg, HBcAg se-
muanya negatif. Diagnosis ditegakkan secara eksklusif dan me-
nurut WHO disebut sebagai ET NANB. Pembuktian selanjutnya
pada penderita ini adalah melalui pemeriksaan Immune
Electron Microscopy Antibody Techniques di CDC Atlanta.
Ternyata dapat diisolasi partikel virus ET NANB pada 4 dari
18 spesimen tinja yang dikirim; yaitu partikel virus sebesar 27-
32 nm yang memberikan reaksi silang positif dengan serum
penderita El NANB dari negara lain seperti Meksiko, India dan
lain-lain. Virus ET NANB ini sekarang diketahui sama dengan
virus Hepatitis E; jadi ini merupakan kejadian pertama kalinya
diisolasi virus Hepatitis E di Indonesia. Rata-rata umur
penderita ET NANB adalah 30-36 tahun. Lima orang dengan
Hepatitis B karena ditemukan IgM anti HAV negatif dan
HBsAg, HBcAg positif; dan 1 orang dengan Hepatitis A :IgM
anti HAV positif, sedangkan HBsAg dan HBcAg negatif.
Dari hasil pemeriksaan kasus hepatitis terhadap 3 petanda
hepatitis tersebut (Gambar 1) tampak bahwa pada kelompok
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 43
background image
laki-laki ditemukan lebih banyak infeksi campuran dari NANB
dan HVB daripada kelompok wanita. Ini menunjukkan bahwa
risiko tertular dengan HVB yaitu jenis hepatitis yang ditularkan
melalui darah, hubungan seksual lebih besar pada golongan laki-
laki dari pada golongan wanita. Sebagian besar laki-laki di Ka-
bupaten Sintang mempunyai pekerjaan sebagai nelayan di anak
sungai Kapuas. Sebagian lagi mempunyai pekerjaan sebagai
penggali tambang emas. Sehingga mereka pada umumnya
meninggallcan rumah untuk beberapa hari lamanya.
Gambar 1. Gambaran Petanda Hepatitis pada Wabah Hepatitis E di
Kalbar
1987
Gambar 2 menunjukkan bahwa pada kelompok laki-laki
nilai SGOT, SGPT dan Alkaline Phosphatase makin meningkat
pada umur lebih tua. Pada kelompok wanita yang terjadi adalah
sebaliknya, pada umur muda nilai enzim sangat tinggi kemudian
pada umur tua kelainan enzim semakin turun (Gambar 3).
Gambar 2. Gambaran Nilai Enzim pada Berbagal Golongan Umur, He
patitis
E,
Kalbar
1987
Fenomena ini masih belum diketahui sebabnya secara pasti.
Peningkatan nilai enzim sebanding dengan kenaikan umur
mungkin disebabkan karena pengaruh sistim kekebalan yang
masih baik pada usia lebih muda. Hal ini juga ditunjukkan bahwa
pada waktu wabah tidak banyak ditemukan kasus hepatitis pada
golongan umur anak. Mungkin karena sistem kekebalan anak
masiti lebih baik sehingga sebagian besar dari mereka mampu
Gambar 3. Gambaran Nilai Enzim pada Berbagai Golongan Umur, Hepa-
titis
E,
Kalbar
1987
menekan. gejala klinik hepatitis menjadi gejala subklinis (in-
apparent). Sedangkan pada wanita mungkin disebabkan efek
penyakit yang lebih berat (fulminant hepatitis) yang mungkin
berhubungan dengan faktor hormonal. Sehinggapada umur;ebih
muda terjadi reaksi kerusakan hati yang lebih parah dan me-
nyebabkan kelainan enzim yang lebih tinggi.
Karena jumlah sampel untuk Hepatitis A hanya satu orang
maka di dal= analisis lebih lanjut, kasus Hepatitis A tidak di-
ikutsertakan. Sedangkan Hepatitis B terdiri hanya 5 orang.
Jumlah tersebut masih mungkin untuk dianalisis.
Perbedaan gejala klinis hepatitis E dengan Hepatitis B
tampak pada Tabel 1. Tampak bahwa hampir semua gejala klinis
Hepatitis E lebih berat dari Hepatitis B. Hal ini juga dilaporkan
di beberapa negara lain dan disebut bahwa Hepatitis E paling
banyak menyebabkanFulminant Hepatitis; sehingga bila Hepa-
titis E ini menyerang ibu hamil maka akan banyak menyebabkan
kematian. Pada wabah ini dilaporkan kematian dari ibu hamil
sebesar 20% (laporan Dit.Jen. P2M & PLP 1987).
Tabel 1. Perbedaan Gejala Klinik Hepatitis E dan Hepatitis B dari Wabah
Hepatitis
di
Kab.
Sintang,
Kalbar,
1987
Gejala
HVE
(n=28)
HVB
(n=5)
Badan lemah
Demam
Mats kuning
Hati nyeri tekan
Urine Kemerahan
Pembesaran hati
Vomitus
Pembesaran Kel. limfe
Kulit kuning
Gejala Flu-like
Pembesaran Limps
SGOT Mean
SGPT Mean
Alkali phosphate Mean
85,7%
78,6%
82,1 %
82,1%
. - 6%
57,1%
57,1 %
53,6%
39,3%
71,0%
3,6%
371,32
580,07
389,64
100,0%
40,0%
60,0%
60,0%
40,0%
40,0%
40,0%
80,0%
60,0%
100,0%
0,0%
155,40
180,20
251,40
Keterangan : HVE : Hepatitis Virus E HVB : Hepatitis Virus B
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
44
background image
Gejala klinik Hepatitis E yang mencolok adalah cepat tim-
bulnya warna kuning yang nyata pada skleramata (82,1%) dan
urine kemerahan (78,6%) padahal sakitnya baru 6 hari.Hati nyeri
tekan (82,1%) dan pembesaran hati (57,1%) lebih banyak dijumpai
pada penderita Hepatitis E. Pembesaran limpa dapat diraba oleh
peneliti sebanyak 3,6% dari penderita Hepatitis E dibandingkan
dengan 0% pada penderita Hepatitis B. Nilai enzim (SGOT,
SGPT dan Alkaline Phosphatase) pada penderita Hepatitis E
lebih tinggi 2 ­ 4 kali dari penderita Hepatitis B.
WABAH KEDUA HEPATITIS E DI KALIMANTAN
BARAT (1991)
Wabah hepatitis untuk kedua kalinya dilaporkan dari Ka-
bupaten Sintang, Kalimantan Barat, pada bulan September 1991.
Lokasi wabah hepatitis yang kedua kalinya ini di Kecamatan
Kayan Hilir yaitu daerah lebih ke hilir dari wabah pertama. Wa-
bah menyerang 10 desa dengan jumlah kasus sebanyak 1.262
orang dengan kematian 12 orang. Hasil pemeriksaan terhadap 92
spesimen yang dikerjakan bersama dengan laboratorium Namru-
2 (spesimen dibawa oleh Prof. DR. Sumarmo Poorwo Soedarmo
dan Tim FETP DiLJen. P2M & PLP) tampak pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Petanda Hepatitis pada Spesimen Wabah ke
Dua
Hepatitis
di
Kalbar,1991
Positif
Jumlah
Spesimen
HVE
HVE +
HVB
HVE+
HVC
HVE +
HVB +
HVC
HVB
NANB
NCNE
(?)
Negatif
92 71 5 1 1 2 2 10
% (77,1)
(5,4)
(1) (1) (2) (2) (10)
Keterangan
:
HVE :
Hepatitis
Virus
E
HVE
+
HVB
:
Campuran
Hepatitis
E
dan
B
HVE
+
HVC
:
Campuran
Hepatitis
E
dan
C
HVE + HVB + HVC : Campuran Hepatitis E dan B dan C
NANBNCNE
:
Non
ANonB
NonCNon
E(HepatitisF
?)
Dari hasil pemeriksaan petanda hepatitis tersebut maka
tampak bahwa wabah kedua juga disebabkan oleh Hepatitis
Virus E (77,1%). Campuran infeksi dari HVE dengan HVB dan
HVC juga ditemukan dalam jumlah yang kecil. Husil yang me-
narik yaitu ditemukan 2 kasus hepatitis Non A Non B Non C
Non E. Kasus ini sudah pernah ditemukan juga di Rusia. Gejala
Klinik Hepatitis pada kejadian wabah ke dua, tampak pada
Tabe1 3.
Perbedaan gejala proporsi gejala klinis Hepatitis E pada
wabah pertama dan kedua di Kabupaten Sintang, Kalimantan
Barat tampak pada Gambar 4.
Tampa perbedaan gejala klinik Hepatitis E antara kedua
wabah tersebut, walaupun perbedaan tersebut tidak bermakna.
Gejala klinik wabah kedua (1991) tampak lebih berat sedikit
daripada wabah pertama (1987), terutama pada gejala demam,
urine kemerahan, mata kuning, kulit kuning. Sedangkan gejala
lainnya lebih banyak ditemukan pada waktu wabah pertama,
yaitu gejala seperti Flu, mual/muntah. Gejala lain tidak dapat
diperbandingkan.
Tabel 3. Frekuensi Gejala Hepatitis pada KLB Hepatitis Kedua di Ke
camatan
Kayan
Hilir
Tabun
1991
Gejala Persen
,
Timbul mendadak
Berangsur-angsur
Kencing seperti air teh
Demam
Mata kuning
Nyeri perut
Mrmtah/mual
Nyeri sendi
Diare
Kulit kuning
Bercak merah
Gejala seperti Flu
30,0
70,0
95,0
95,0
87,5
98,2
50,0
79,8
12,1
47,5
9,17
65,2
Sumber : Hasil Penyidikan KLB, Kalbar, DitJen. P2M & PLP, 1992)
Gambar 4. Perbandingan Gejala Kiinis Hepatitis E antara Wabah 1987
dan
Wabah
1991,
Kalbar
KESIMPULAN
Virus Hepatitis E pertama kali diisdlasi di Indonesia pada
tahun 1987 dari wabah hepatitis di kabupaten Sintang Kaliman-
tan Barat. Setelah 4 tahun, wabah Hepatitis E untuk kedua
kalinya timbul di kabupaten Sintang pada tahun 1991. Jumlah
penderita Hepatitis E adalah 77,1% dari seluruh penderita
hepatitis yang diperiksa. Ditemukan juga penderita dengan Non
A Non B Non C dan Non E sebanyak 2 orang.
Gejala klinik Hepatitis E lebih berat dari gejala klinik
hepatitis B dan mungkin Hepatitis E sebagai penyebab utama
fulminant hepatitis. Menimbulkan angka kematian yang tinggi
pada ibu hamil (10%­20%). Gejala klinik Hepatitis E pada
.
wa-
bah kedua (1991) sedikit lebih berat dari wabah pertama (1987).
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai
hepatitis E ini misalnya : Berapa lama kekebalan terhadap he-
patitis E ini bisa bertahan ? Bagaimana gambaran epidemiologik
hepatitis E pada waktu tidak ada wabah ? Bagaimana gambaran
penyebaran hepatitis E di Indonesia, kelompok umur berapa
yang mempunyai risiko tinggi ? Bagaimana gejala klinik hepa-
titis E pada waktu tidak ada wabah ?
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 45
background image
KEPUSTAKAAN
1.
Imrari Lubis. Penyakit Epidemik Virus Hepatitis Non-A Non-B di Sintang,
Kaibar, 1987. Dipresentasikan pada Kongres Nasional V Perhimpunan
Mikrobiologi Indonesia, Yogyakarta 6 Desember 1989.
2.
H. Ridwan, N. Budiningsih. Laporan Penyidikan Kejadian Luar Biasa Hepa-
titis NONA-NONB di Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Propinsi
Kalimantan Barat, 30 September - 8 Oktober 1991. Program Studi Ilmu
Kesehatan Masyarakat, Fakultas Pasca Saijana, Universitas Gajah Mada.
3.
Ashok C, Dilawari JB, Jameel S et al. A variant of Hepatitis E Virus, Inter-
national Symposium on Viral Hepatitis and Liver Disease, Tokyo: May
10-14, I993.
4.
Chauhan A, Dalwari JB, Jameel S. Hepatitis E Vino Transmission to A
Human Volunteer, International Symposium cm Viral Hepatitis and Liver
Disease, Tokyo: May 10-14, 1993.
5.
Andjaparidze AG. Viral Hepatitis in South-East Asia Region, WHO
Report Series, 1990.
English Summary
THE FREQUENCY OF HBsAg/HBeAg
POSITIVE SERA AMONG PREG-
NANT WOMEN IN SURAKARTA
JB Suparyatmo
Department of Clinical Padaology, Fa-
culty of Medicine, University of Seberas
Maret, Surakarta, Indonesia
HBeAg is known to be one of
the serologic markers for HBV
replications. Estimation of mater-
nal HBeAg levels during preg-
nancy can alert clinicians to the
risk of infection in those babies.
Tie strategy in launching the
immunization programme is
therefore depend on the sero-
logic status, at least the status of
HBsAg/HBeAg of pregnant
women. The information on
HBsAg/HBeAg status in such area
is needed to determine the
strategy of mass immunization
against HBVmaternal infections.
In this study 1800 samples were
tested for HBsAg and HBeAg. The
samples were taken from the 3
rd
trimester pregnant mothers upon
admission to the Dr Muwardi
Surakarta Public Hospital and
several Private Maternity Clinics
for prenatal care. The methods
performed for both assays were
RPHA and Elisa-Abbott, The re-
sults obtained were 61 (3,4%) of
the 1800 sera showed HBsAg
positive. Among those HBsAg
positive sera, 54.2% also showed
HBeAg positive. The results
obtained is within the range of
the data from other areas re-
ported previously.
Cermin Dunia Kedokt. 1994; 95: 47-9
JBS
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
46