background image
HASIL PENELITIAN
Uji Coba Pengasapan ULV
dengan Malathion 96EC terhadap
Larva Aedes aegypti
pada Beberapa Diameter Kontainer
Djoko Trimoyo*, Hasan Boesri**, Retno Hestiningsih***
* Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang
** Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Salatiga
* * * Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang
ABSTRAK
Telah dilakukan penyemprotan sistem pengasapan (Ultra Low Volume) dengan
menggunakan insektisida Malathion 96 EC (dosis 500 ml/ha) terhadap larva Aedes
aegypti. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari dengan menggunakan alat Merk Fontan,
di daerah pemukiman Ngawen Tegalsari, Kotamadya Salatiga tahun 1996.
Berdasarkan uji hayati (air bioassay) dosis 500 ml/ha insektisida Malathion 96 EC
efektif membunuh larva Aedes aegypti antara 80-100% di daerah terbuka dan 60­84% di
semak-semak pada kontainer yang berdiameter antara 3 cm­10 cm.
PENDAHULUAN
Menurut laporan Direktorat Jenderal PPM & PLP Dep. Kes.
R.I pada tahun 1988 penyakit DBD telah menyebar ke 27 Pro-
pinsi dan 300 Kabupaten
(1)
. Upaya pemberantasan vektor penya-
kit DBD dapat dilakukan secara mekanis, biologis, dan kimia
(2)
.
Salah satu cara dalam pemberantasan nyamuk Aedes aegypti
adalah dengan penyemprotan sistem ULV (Ultra Low Volume)
dengan menggunakan Malathion 96 EC dosis 500 ml/ha, se-
dangkan pemberantasan larva Aedes aegypti sampai saat ini
menggunakan larvasida Abate (temephos) yang dikenal dengan
istilah Abatisasi dan pembersihan sarang nyamuk yang dikenal
dengan istilah PSN
(3)
. Penggunaan Abate dan pembersihan sarang
nyamuk masih terbatas pada bejana dan parit-parit yang ada di
lingkungan sedangkan pada kontainer yang tidak dimanfaatkan
oleh keluarga di daerah pemukiman masih banyak yang belum
terjangkau misalnya pada kontainer-kontainer yang berukuran
antara 3­10 cm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
efektifitas pengasapan sistem ULV dengan insektisida Mala-
thion 96 EC terhadap larva Aedes Aegypti pada kontainer dengan
berbagai diameter.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dilakukan pada pagi hari antara pukul 08.00­09.00
di Desa Ngawen Tegalsari, Kotamadya Salatiga, pada bulan Juni
1996.
Penelitian dirancang lima macam perlakuan dengan diame-
ter kontainer dan yang berukuran 3cm, 4cm, 5cm, 6cm, dan 10
cm. Tiap perlakuan (diameter kontainer) terdiri dari 10 buah kon-
tamer (5 diletakkan di daerah terbuka dan 5 diletakkan di semak-
semak) dan tiap kontainer diisi 25 ekor larva Aedes aegypti instar
III dengan kedalaman air 3 cm serta tiap perlakuan diberi satu
kontrol. Semua perlakuan diletakkan pada tempat yang telah di-
tentukan secara acak, kemudian dilakukan pengasapan sistem
ULV menggunakan alat merk Fontan dengan insektisida Ma-
lathion 96 EC dosis 500 ml/ha.
Pengamatan terhadap kematian larva akibat pengasapan di-
lakukan setelah 15 menit dan 24 jam sesudah pengasapan.
Uji Statistik
Apabila angka pingsan atau kematian pada kelompok kon-
trol lebih dari 5% tetapi tidak melebihi 20%, maka angka kelum-
puhan atau kematian pada perlakuan dikoreksi menurut rumus
Abbot
(4)
yaitu:
Al = (A ­ C) x 100%
100
­
C
Al = angka kematian atau kelumpuhan (%) setelah dikoreksi
A = angka kelumpuhan atau kematian (%) pada kelompok perlakuan
C = angka kelumpuhan atau kematian (%) pada kelompok kontrol
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 39
background image
Untuk melihat kemaknaan dan perbedaan rata-rata kemati-
an larva Aedes aegypti dan tiap diameter kontainer, digunakan
Analisis Varian dalam Rancangan Acak Kelompok dan dilanjut-
kan dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur)
(5)
.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Insektisida Malathion 96 EC termasuk golongan fosfat orga-
nik
(6)
dan telah lama digunakan dalam program pemberantasan
vektor DBD yaitu Aedes aegypti. Kriteria efikasi insektisida
ditentukan oleh angka pingsan (knock-down) selama waktu 15
menit dan kematian (mortality) pada 24 jam sesudah pengasapan.
Pada penelitian ini kematian larva Aedes aegypti akibat pengasa-
pan (ultra low volume) dengan insektisida Malathion 96 EC
dikemukakan pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Jumlah dan persentase larva pingsan/mati, 15 menit sesudah
pengasiipan dengan Malathion 96 EC pada beberapa diameter
kontainer.
Jumlah larva mati/pingsan pada diameter kontainer
(cm)
3 4 5 6 10
Lokasi
Kon-
tamer
n % n % n % n % n
Semak-
semak
I
2
3
4
5
1
I
0
3
2
4
4
0
12
8
0
1
2
0
0
0
4
8
0
0
I
5
6
2
5
4
20
24
8
20
4
0
2
I
1
16
0
8
4
4
0
1
0
19
I
0
4
0
76
4
Rata-rata 1.4 5.6 0.6 2.4 3.8 15.2 1.6 6.4 4.2 16.8
Kontrol 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Kecepatan angin = 0 - 0.42 km/jam
Suhu udara = 24 - 25.7°C
Kelembaban udara = 76 - 87%
Daerah
terbuka
I
2
3
4
5
1
0
0
0
0
4
0
0
0
0
0
1
0
1
0
0
4
0
4
0
2
0
2
0
0
8
0
8
0
0
1
0
0
0
0
4
0
0
0
0
0
2
0
1
0
0
8
0
4
0
Rata-rata 0.2 0.8 0.4 1.6 0.8 3.2 0.2 0.8 0.6
2.4
Kontrol 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Suhu udara = 24 - 25.7°C
Kelembaban udara = 76 - 87%
Kecepatan angin = 0 - 0.42 km/jam
Tiap kontainer diisi 25 ekor larva Aedes aegypti
Dalam uji efikasi ini, setelah 15 menit dan saat pengasapan
insektisida Malathion 96 EC dosis 500 ml/ha, rata-rata larva
Aedes aegypti yang pingsan pada kontainer berdiameter 3 sampai
10 cm di semak-semak berkisar antara 2,4­16,8% dan daerah
terbuka 0,8­3,2%, sedangkan pada kontrol tidak ada larva Aedes
aegypti yang mati. Persentase larva Aedes aegypti yang pingsan
dan masing-masing perlakuan sangat rendah. Hal ini memberi-
kan informasi bahwa pengasapan terhadap larva Aedes aegypti
pada kontainer berdiameter 3 sampai 10 cm selama 15 menit
tidak efektif.
Tabel 2. Jumlah dan persentase larva mati setelah 24 jam dan saat peng-
asapan
dengan
insektisida
Malathion 96 EC pada beberapa dia-
meter
kontainer.
Jumlah larva mati/pingsan pada diameter kontainer
(cm)
3 4 5 6 10
Lokasi
Kon-
tamer
n % n % n % n a n %
Semak-
semak
1
2
3
4
5
25
24
24
25
25
100
96
96
100
100
25
24
25
25
25
100
96
100
100
100
25
25
25
25
25
100
100
100
100
100
25
25
25
25
25
100
100
100
100
100
l9
25
25
25
25
76
100
100
100
100
Rata-rata 24.6 98.4 24.8
99.2
25
100
25
100
238 95.2
Kontrol 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Daerah
I 25 100 25 100 25 100 25 100 25 100
terbuka
2
25
100
25 100 25 100
23
92
25
100
3 25 100 25 100 25 100 25 100 24 100
4 25 100 20 80 25 100 25 100 25 100
5 24 96 25 100 22 88 25 100 25 100
Rata-rata 24.8 99.2 24
96
24.4
97.6 24.6 98.4 24.4 97.6
Kontrol 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Suhu udam = 24.5 - 25.7°C
Kelembaban udara = 76 - 87%
Tiap kontainer diisi 25 ekor larva Aedes aegypti.
Huruf yang berbeda menunjukkan adanya beda nyata.
Kematian (mortality) larva Aedes aegypti dalam waktu 24
jam pengamatan di semak-semak dapat dilihat pada Tabel 2.
Tingginya kematian larva Aedes aegypti dalam uji efikasi di-
pengaruhi oleh adanya partikel-partikel insektisida yang me-
nutupi permukaan air sehingga larva tidak mampu bernapas dan
apabila bernapas akan menghirup insektisida.
Pengamatan selama 24 jam menunjukkan bahwa pengasap-
an dengan Malathion 96 EC dosis 500 ml/ha efektif membunuh
larva Aedes aegypti yang berada dalam kontainer yang berdiame-
ter permukaan antara 3 cm sampai 10 cm baik di semak-semak
maupun di daerah terbuka dengan kematian larva Aedes aegypti
di semak-semak berkisar antara 95.2­100% dan di daerah ter-
buka berkisar antara 97.6­99.2% (Gambar 1). Penggunaan
ukuran kontainer 3 cm sampai 10 cm dalam penelitian ini, di-
sesuaikan dengan ukuran kontainer yang banyak ditemukan di
pemukiman.
Kematian larva Aedes aegypti 24 jam sesudah pengasapan
(ultra low volume) berbeda antara yang ada di semak-semak
dengan yang ada di daerah terbuka dan antar ukuran kontainer,
tetapi secara statistik tidak bermakna (p > 0.05). Perbedaan ini
mungkin dipengaruhi oleh faktor angin, karena pada saat peng-
asapan arah angin tidak menentu arahnya.
Kondisi lingkungan berupa suhu udara, kelembaban dan
kecepatan angin dapat mempengaruhi pelaksanaan penelitian.
Kondisi yang masih dianggap baik untuk pengasapan (ultra low
volume) suhu udara antara 18°C­28°C, kelembaban 60%­80%
dan kecepatan angin kurang dan 9 km/jam
(7)
. Pada pelaksanaan
penelitian, kondisi suhu udara berkisar antara 24.5°C­25.7°C,
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
40
background image
Gambar 1. Persentase kematian larva Aedes aegypti setelah 24 jam dan
pengabutan
dengan
insektisida
Malathion
96
EC.
kelembaban udara berkisar antara 76­87% dan kecepatan angin
0­0.42 km/jam. Dapat dikatakan bahwa keadaan lingkungan saat
penelitian sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk pelak-
sanaan pengasapan.
Kesimpulan dan Saran
Pengasapan (ultra low volume) dengan insektisida Ma-
lathion 96 EC dosis 500 ml/ha terhadap larva Aedes aegypti yang
ada pada kontainer berdiameter 3 sampai 10 cm ternyata pada
pengamatan selama waktu 15 menit kurang berpengaruh (kemati-
an larva berkisar antara 0­2%). Tetapi pengamatan pada 24 jam
sesudah pengasapan, menunjukkan pengaruh yang cukup ber-
arti, di semak-semak (kematian larva berkisar antara 95.2­100%)
dan di daerah terbuka (kematian berkisar antara 97.6­99.2%).
Disarankan padapelaksanaan pengasapan (ultra low volume)
dalam rangka pemberantasan penyakit vektor Demam Berdarah
Dengue. sebaiknya dilakukan pula pengasapan terhadap kon-
tainer-kontainer yang berisi air dan kemungkinan besar merupa-
kan tempat sarang nyamuk di lingkungan pemukiman.
KEPUSTAKAAN
1. Dep. Kes RI. Profil Kesehatan Indonesia tahun 994. Pusat Data Kesehatan.
Jakaila, 1994. hal 50.
2. Dep. Kes. Pemberantasan Vektor dan cara-cara pemberantasannya. Direk
torat jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan
Lingkungan Pemukiman. Jakarta, 1993.
3. Thomas Suroso. Situasi. masalah dan program pemberantasan Demam
Berdarah Dengue. Proc Seminar and Workship the Aspect of Dengue
Hemorrhagic Fever and its Control. Depok 27­28 Nopember 1989.
4. WHO. Instructions for the Bio-Assay of Insecticidal Deposits on Wall
Surface. Seventeenth report of the Who Expert Committee on Insecticides.
Geneva, 1970.
5. Steel RGD, Torrie JH. Prinsip dan potensial statistika. Cetakan ketiga. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1993.
6. TarumingkengRC. PengantarToksikologi lnsektisida. Fakultas Pasca
Sarjana. IPB. Bogor. 1989.
7. WHO. Chemical Methods for the Control of Arthropod Vectors and Pests
of Public Health Importance. 1983. 108 hal.
A book should be luminous, but not voluminious
(Bovee)
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 41