background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Terjatuh - Analisis Neurologik
Dr. Budi Riyanto W.
UPF Mental Organik, Rumah Sakit Jiwa Pusat Bogor, Bogor, Indonesia
Setiap orang terkadang kehilangan keseimbangan yang
kadang-kadang disusul dengan terjatuh; bila kejadian ini berulang
kali terjadi, atau terjatuh tanpa didahului rasa hilang
keseimbangan, keadaan tersebut dapat disebabkan oleh ganguan
neurelogik.
Berbagai penyakit atau kelainan neurologik dapat
menyebabkan seseorang terjatuh (falls) atau mendadak lemas
(drop attacks); bila disertai dengan gangguan kesadaran, mungkin
disebabkan oleh sinkop atau serangan (seizures). Istilah drop at-
tacks merujuk pada kejadian terjatuh yang tiba-tiba tanpa gejala
pendahuluan, yang dapat disebabkan oleh TIA vertebrobasilar
atau di daerah a.serebri anterior, atau tumor daerah ventrikel III
atau fossa posterior.
Orang-orang dengan kelemahan tungkai, spastisitas, rigiditas
atau ataksia sering terjatuh. Pasien narkolepsi dapat terserang
katapleksi, sedangkan penderita Meniere dapat terjatuh akibat
gangguan otolit. Wanita setengah baya sering terjatuh tanpa sebab
yang jelas, dan para usia lanjut dengan pelbagai kekurangannya,
juga sering terjatuh.
Berbagai penyebab tersebut dapat dilihat pada tabel 1.
Riwayat penyakit sangat penting,terutama situasi dan keadaan
lingkungan saat peristiwa terjatuh; juga penting diketahui adanya
gejala penyerta seperti hilangnya kesadaran, rasa melayang
(lightheadedness) atau palpitasi, riwayat serangan kejang
(seizures), adanya gejala/tanda TIA. Gejala lain yang perlu
diketahui ialah adanya nyeri kepala, gangguan sensibilitas,
kelemahan/kekakuan tungkai, gangguan pendengaran, vertigo
atau tinitus; juga apakah pernah mengalami rasa kantuk yang
sangat berat, atau apakah peristiwa jatuh didahului oleh rasa
gembira luar biasa atau tertawa hebat, yang mengarah ke
katapleksi.
Pemeriksaan fisik dan neurologik ditujukan pada
kemungkinan adanya gangguan/defisit di anggota gerak bawah/
Tabel 1. Berbagai Penyebab Jatuh dan Drop Attacks
1. Gangguan / hilang kesadaran
Sinkop
Seisures
2. TIA/transient ischemic attacks (drop attacks)
Vertebrobasilar
Daerah serebri anterior
3. Tumor fossa.posterior dan ventrikel III (drop attacks)
4. Gangguan motorik/sensorik tungkai
Gangguan ganglia basalis
Parkinson
Progressive supranuclear palsy
Gangguan neuromuskular
Miopati
Neuropati
Mielopati
Gangguan serebral atau serebelar
5. Katapleksi
6. Gangguan vestibular
7. Kriptogenik di kalangan wanita usia pertengahan
8. Keadaan usia lanjut
tungkai; perlu dicari tanda-tanda rigiditas, spastisitas atau tre-
mor yang mengarah ke penyakit Parkinson, atau gangguan gerak
bola mata yang menunjukkan kemungkinan progressive supra-
nuclear palsy, atau adanya ataxia dan gangguan sensorik yang
dapat sesuai dengan sklerosis multipel.
Pasien tanpa kelainan neurologik harus dievaluasi secara
periodik; dan bila gejala menetap, mungkin diperlukan
pemeriksaan CT dan MRI untuk menyingkirkan gangguan atau
tumor di daerah midline.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997 37
background image
GANGGUAN KESADARAN
Sinkop
Penyebab utamanya bersifat kardiogenik atau hipotensi;
keduanya menyebabkan iskemi otak, hilangnya kesadaran
sehingga terjatuh. Sindrom Stokes-Adams (third degree heart
block) yang mendadak ditandai dengan hilangnya kesadaran dan
terjatuh tiba-tiba; pada kelainan jantung yang lebih ringan seperti
aritmi, dapat didahului oleh rasa melayang/lemas (faintness).
Hipotensi selalu menyebabkan rasa ringan (lightheadedness),
penglihatan buram, telinga berdenging dan tungkai terasa berat
sebelum kesadaran benar-benar hilang.
Bila terdapat kecurigaan penyebab kardiak, pasien perlu
diteliti lebih lanjut dengan EKG, ekhokardiografi atau Holier
monitoring, selain pemeriksaan lăboratorium lain dan juga
pengukuran tekanan darah pada posisi duduk dan berbaring.
Seizures
Serangan jatuh/drop attacks dapat merupakan gejala awal
kejang tonik klonik umum, atau merupakan salah satu bentuk
spasme infantil. Bila merupakan bagian dan serangan epilepsi,
hampir selalu disertai dengan gangguan kesadaran; EEG dapat
digunakan untuk membantu diagnosis.
Penentuan diagnosis kadang-kadang sulit karena pasien
yang pingsan, baik karena hipotensi atau sebab-sebab
kardiogenik lain dapat menunjukkan gerakan tonik atau klonik.
EEG dapat membantu membedakannya; pada sinkop
kardiogenik dapat menunjukkan perlambatan tak teratur dengan
amplitudo tinggi diseling dengan grafik mendatar selama periode
tak sadar atau konvulsif.
Keadaan lain yang perlu diperhatikan ialah kemungkinan
breath holding spells pada anak-anak. Long QT syndromes,
setelah donasi darah atau neuralgia glossofariingeus semuanya
dapat menyebabkan convulsive syncopes.
TRANSIENT ISCHEMIC ATTACKS
Dapat menyebabkan seseorang tiba-tiba terjatuh tanpa sebab
dan tanpa gejala pendahuluan di saat berdiri atau berjalan.
Mungkin disertai dengan hilang kesadaran sesaat, dan kekuatan
segera pulih kembali.
Pemeriksaan neurologik biasanya tidak menemukan kelainan.
Keadaan ini dikaitkan dengan gangguan sirkulasi sesaat di
daerah posterior (vertebrobasilar) dan atau di daerah arteri
serebri anterior.
Insufisiensi vertebrobasiler
Drop attacks timbul akibat iskemi traktus kortikospinal atau
formatio retikularis paramedian.
Serangan drop attacks pada keadaan ini jarang berdiri
sendiri, sering disertai dengan gejala lain yang lebih umum
ditemukan seperti vertigo, diplopi, ataxia. Kadang-kadang dapat
merupakan gejala pendahuluan sebelum defisit neurologik yang
lebih berat muncul.
Insufisiensi daerah a. serebri arterior
Menyebabkan gangguan perfusi korteks dan premotorik
parasagital yang mengendali kan ekstremitas inferior; terutama
bila terdapat anomali yang menyebabkan ke dua a. serebri ante-
rior berasal dari a. carotis interna yang sama - keadaan ini
ditemukan pada ± 20% populasi.
TUMOR FOSSA POSTERIOR DAN VENTRIKEL III
Pasien dapat terserang drop-attacks pada gerak fleksi leher
mendadak; gejala ini dapat disebabkan oleh kista koloid
ventrikel III, meskipun pada pemeriksaan neurologik semuanya
tampak normal.
Tumor-tumor lain seperti meningioma parasagital, tumor ini
foramen magnum atau hematom subdural biasanya juga
menyebabkan gangguan cara berjalan (gait) yang juga dapat
merupakan faktor penyebab jatuh.
GANGGUAN MOTORIK/SENSORIK TUNGKAI
Parkinson
Pasien parkinson sening terjatuh, terutama bila mengalami
bradikinesi dan rigiditas; mereka kehilangan stabilitas postural
dan mudah terjatuh ke belakang (retropulsi); selain itu juga
sering mendadak terjatuh. Keadaan ini terutama ditemukan di
kalangan pasien dengan fluktuasi motorik akibat dopamin.
Selain akibat postur tubuh yang cenderung condong ke
depan, pasien Parkinson juga menderita disfungsi vestibulospinal
sehingga sulit menyesuaikan diri pada perubahan posisi tubuh;
ditambah dengan bradikinesi dan nigiditas yang mengurangi
ketangkasan kecepatan bergerak.
Progressive supranuclear palsy
Penyakit ini ditandai dengan gejala Parkinson, nigiditas
axial, distonia leher, spastisitas dan oftalmoparesis.
Mereka lebih mudah terjatuh daripada pasien Parkinson
karena ketidak mampuan melihat ke arah bawah.
Gangguan neuromuskular (miopati, neuropati)
Miopati terutama mengenai otot-otot proksimal sehingga
memperbesar kecenderungan jatuh.
Neuropati kebanyakan bersifat campuran, sehingga selain
kelemahan motorik, juga terdapat perlambatan hantaran yang
menyebabkan terlambatnya reaksi koreksi postural.
Terjatuh dapat merupakan gejala awal polineuropati akut
seperti sindrom Guillain-Barre.
Mielopati
Pasien-pasien penderita gangguan medulla spinalis rawan
terhadap jatuh karena gangguan jaras baik motorik maupun
sensorik. Mereka menderita kelemahan , spastisitas, gangguan
somatosensorik dan proprioseptif serta gangguan vesti bulospi
nal yang memperlambat reaksi koreksi postural.
Keadaan ini dijumpai pada pasien-pasien sklerosis multipel.
terutama pada wanita muda.
Gangguan serebral/serebelar
Gagguan serebral seperti akibat neoplasma, infark, perdarahan,
trauma ataupun demielinisasi dapat menyebabkan kelemahan.
spastisitas, gangguan sensorik dan ventibular; ensefalopati
metaholik dapat menyebabkan asterixis - hilangnya tonus pos-
tural sesaat hila mengenai otot aksial. seperti pada uremia
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
38
background image
khronik.
Gangguan serebelar menyebabkan gait ataxia yang me-
nyebabkan seseorang mudah terjatuh akibat ketidak stabilan
postural; ditambah dengan gangguan lain yang hiasanya juga
dijumpai pada pasien-pasien ini seperti gangguan lain di batang
otak, sumsum tulang belakang akibat proses degeneratif atau
skierosis multipel.
KATAPLEKSI
Menggambarkan kejadian hilangnya tonus otot ekstremitas
secara tiba-tiba; merupakan bagian dan narkolepsi yang gejala-
gejalanya meliputi katapleksi, rasa mengantuk hebat di siang
hari, halusinasi hipnagogik dan sleep paralysis.
Pada serangan katapleksi kesadaran tetap baik; dapat berupa
serangan kelemahan ringan sampai kelumpuhan total yang
menyebabkan pasien mendadak terjatuh dan tidak bisa berdiri
sama sekali, kurang dan satu menit untuk kemudian pulih
berangsur-angsur. Serangan katapleksi sering dicetuskan oleh
suasana emosional yang hebat seperti tertawa, marah, kaget,
kadang-kadangjuga oleh orgasme seksual.
Selama serangan, EMG tidak menunjukkan aktivitas dan H -
reflek atau refleks tendon tidak dapat dibangkitkan.
Katapleksi tanpa narkolepsi disebabkan oleh kelainan
struktural, antara lain Niemann-Pick, lesi hipotalamus dan glioma
di batang otak.
GAGGUAN VESTIBULAR (KRISIS OTOLITIK)
Umumnya pada vertigo, pasien kehilangan keseimbangan
dan terjatuh, tetapi pada penyakit Meniere bisa timbul drop
attack tanpa vertigo, mungkin disebabkan stimulasi abnormal
sakulus sehingga menimbulkan releks postural yang keliru -
keadaan ini disebut krisis otolitik Tumarkin.
Pasien bisa tiba-tiba seperti terlernpar ke tanah, atan
erdorong ke salah satu jurusan; selain itu umumnya ditemukan
juga gejala penyakit Meniere lain seperti tuli sensonineural,
tinitus dan serangan vertigo.
KRIPTOGENIK
Tanpa diketahui penyebabnya, para wanita di usia
pertengahan (setelah usia 40 tahun) cenderung mudah terjatuh,
biasanya ke depan di saat berjalan tanpa gejala pendahuluan
apapun; kesadaran tetap baik, tak ada rasa pusing ataupun
gangguan keseimbangan. Para pasien yakin tidak tersandung
sesuatu, tetŕpi tiba-tiba tungkainya lemas: setelah itu mereka
dapat bangkit sendiri dan berjalan normal kembali. Akibat sering
terjadi lecet, kadang-kadang sampal fraktur - anggota gerak, iga.
hidung, atau bahkan trauma kepala.
Penelitian pada para wanita yang mengunjungi klinik
ginekologi menghasilkan insidensi sebesar 3˝%, sedangkan
wawancara terhadap 100 pria yang menjalani pembedahan
elektif. hasilnya negatif - tak ada seorangpun yang pernah
mengalami hal tersebut.
Kira-kira 75% mulai sering jatuh setelah usia 40 tahun,
sepertiganya mempunyai keluarga wanita yang rnempunyai
keluhan yang sama. 20% mempunyai sedikitnya seorang keluarga
dekat yang keluhannya serupa. Frekuensi jatuh berkisar antara 2
- 12 kali setahun.
Sampai saat ini penyebabnya tidak diketahui: tidak ada
kaitan dengan sepatu tumit tinggi, berat badan maupun
kehamilan,. mungkin berkaitan dengan memanjangnya lengkung
refleks sehingga memperlambat respons kuadriseps.
Belum ada pengobatan yang efektif, dianjurkan agar
waspada, bila perlu menggunakan pelindung lutut dan siku; perlu
diwaspadai timbulnya agorafobia akibat sering terjatuh di depan
umum.
USIA LANJUT
Kebanyakan pasien yang datang dengan keluhan string
terjatuh telah berusa lanjut dan menderita kecacatan (handicap);
bertambahnya usia juga memperbesar risiko akibat jatuh. Sekitar
30% di antara yang berusia 65 tahun ke atas mengalami sekali
jatuh dalam setahun. Terjatuh merupakan kejadian yang paling
sering dijumpai di panti-panti jompo dan juga merupakan
penyebab utama seseorang dimasukkan ke panti. Dikalangan
usia lanjut, terjatuh dapat merupakan awal penurunan kondisi
fisik yang menuju kematian.
Proses menua mengurangi kemampuan kompensasi akibat
perubahan posisi tubuh; faktor-faktor yang terlibat antara lain
menurunnya daya propriosepsi, disfungsi vestibular, artritis
sendi-sendi, disregulasi ortostatik, gangguan kognitif,
berkurangnya daya penglihatan dan koordinasi gerak bola mata.
Kebanyakan mereka jatuh akibat kecelakaan yang terjadi
karena kombinasi antara berkurangnya kemampuan/reaksi
dengan adanya ancaman/bahaya lingkungan; jatuh akibat
gangguan kesadaran hanya merupakan 15% dari seluruh kejadian.
Beberapa keadaan yang cukup berperan ialah gangguan cara
berjalan (gait), mielopati servikal, gangguan sensorik (neuropati
perifer), gangguan vestibular, gangguan visual, infank serebri
multipel atau penyakit Parkinson. Keadaan-keadaan lain dapat
berupa hipotensi ortostatik (endogen maupun iatrogenik),
gangguan kognitif, depresi, ensefalopal toksik atau metabolik,
gangguan jantung, artritis, sedasi karena obat, atau ganggguan
bergerak.
Evaluasi klinis meliputi deteksi faktor predisposisi dan
perbedaan antara terjatuh akibat kecelakaan (accident) atau
endogen.
Faktor lingkungan dapat ditentukan melalui anamnesis saat
terjatuh; atau menilai keadaan lingkungan seperti tangga, karpet
yang menggelembung, perabot yang tidak teratur, atau
penerangan yang suram.
Penatalaksanaan meliputi perbaikan/pengobatan faktor-
faktor penyebab, penyediaan bantuan dan rehabilitasi dan
perbaikan faktor lingkungan.
Pacu jantung, stocking atau obat tertentu dapat membantu
pasien dengan disfungsi otonom, disritmi dan peyakit tertentu.
Penggunaan kaca mata yang tepat, alat bantu berjalan dapat
mempenbaiki mobilitas pasien baik yang tinggal di rumah
maupun di panti.
RINGKASAN
Riwayat penyakit yang terperinci dan pemeriksaan klinis
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997 39
background image
cermat kebanyakan sudah dapat mengungkapkan penyebab jatuh
pada seseorang. Pada wanita dan usia lanjut penyebab
utamanya ialah faktor usia dan jenis kelamin.
penggunaan alat bantu akan sangat memperbaiki keadaan.
Pasien dengan keterbatasan kemampuan bergerak atau dengan
gangguan sensorik harus diberi pengertian agar lebih waspada.
KEPUSTAKAAN
1. Remler BF. Daroff RB. Falls and Drop Attacks. Dalarn Neurology in
Clinical Practice. Bradley DG, Daroff RB, Fenichel GM.Mars den CD
(eds.) Butterworth - Heinemaun. 1991. pp 25-30
Selain pengobatan spesifik bila ada, kepastian tidak adanya
defisit neurologik, penyakit tertentu, penyesuaian lingkungan dan
Good to him who knows how to use it
(Terence)
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
40