background image
ULASAN
Terapi Imun pada Kasus Abortus
Spontan
Interaksi Fetomaternal Dipandang dari Sudut
Imunologi
Paul Zakaria daGomez, MS. (imunologi)
Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita, Jakarta
Fetus terdiri dari antigen (Ag) asing bagi ibunya; wajar bila
timbul reaksi penolakan terhadap Ag asing. Dari sudut imuno-
logi, abortus adalah reaksi tubuh ibu menolak fetus sebagai Ag
asing. Yang menjadi pertanyaan ialah mengapa Ag asing ter
sebut dapat bertahan selama ± 9 bulan. Mekanisme apa yang
menghambat proses penolakan tersebut dan apakah proses per-
salman adalah suatu proses penolakan fetus karena mekanisme
yang menghambat proses penolakan lepas kontrol.
Fertilisasi adalah proses fusi membran spermatozoa dan
oosit. Pada proses ini Ag membran spermatozoa masuk ke dalam
oosit menyatu membentuk membran zygote. Hasil pembuahan
itu membawa dan mengekspresikan HLA suami di permukaan
zygote dan bersifat sebagai Ag asing bagi ibunya. Ag permuka-
an sel fetus yang lainnya merupakan Ag organ-spesifik dan Ag
embrional (oncoferal).Sistem imun wanita hamil dapat mengenal
dan berespons terhadap Ag-Ag tersebut, misalnya dapat be-
respons menolak hasil kehamilan (embrio). Penelitian mem-
buktikan bahwa sel efektor kekebalan berperan menyebabkan
abortus spontan. Misalnya sel sistem imun non-spesifik ibu
seperti sel natural killer (NK), sel lymphokine-activated killer
(LAK), dan makrofag dapat mengenal jaringan embrio primitif
dan sel tumor lainnya sebagai Ag asing.
Sebagian serum wanita dengan riwayat abortus, tidak me-
ngandung faktor serum pem-blok reaksi limfosit istri terhadap
plasenta dan terhadap Ag leukosit suami. Wanita tersebut bila
diimunisasi dengan limfosit suaminya akan merangsang pem-
bentukan blocking antibody yang berfungsi mencegah abortus.
In vitro, pada jaringan kehamilan buatan hasil pembuahan oosit
wanita dengan riwayat abortus spontan dengan spermatozoa
suaminya, menunjukkan infiltrasi sel-sel mononukleus ibu ke
embrionya. Hasil patologi anatomi jaringan abortus spontan
kehamilan trimester pertama sering menunjukkan gambaran
infiltrasi limfosit ke villi dan decidua. Gambaran tersebut serupa
dengan reaksi penolakan graft baik karena mekanisme sel efek-
tor spesifik maupun non-spesifik.
Setiap tahap kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan
fetus tergantung pada daya reaksi sel efektor ibu menolak graft
(fetus) yang dianggap asing oleh sistem imun ibu. Kelangsungan
kehamilan tergantung apakah: (1) sistem imun ibu tidak meng-
identifikasi dan mendeteksi fetus sebagai benda asing; (2) tidak
terjadi akumulasi sel efektor di tempat implantasi; (3) me-
kanisme sel efektor ibu gagal menghancurkan fetus; (4) ter-
ciptanya suatu lingkungan yang melindungi dan aktif menekan
sel efektor kekebalan spesifik maupun non-spesifik ibu oleh sel
ibu sendiri maupun oleh sel fetus atau akibat interaksi keduanya
dan (5) peningkatan kadar estrogen dan progesteron pada keha-
milan merupakan salah satu faktor penekan sel efektor ibu
dalam sistem imun spesifik dan non-spesifik.
Pengetahuan mengenai interaksi feto-maternal terutama
berasal dari hasil pengamatan pada tikus dan binatang percoba-
an lainnya sebabjaringan intrauterus manusiapada masa peri dan
pasca implantasi tidak boleh diintervensi (cacat?). Interaksi feto-
maternal pada manusia tidak selalu sama dengan pada tikus,
tetapi pada pengamatan kinetik perkembangan fetus tikus hasil
perkawinan dengan tikus yang sama spesies tetapi genetik tidak
identik, ternyata fetus pasca implantasi usia empat hari sama
dengan embrio manusiausia 16-18 hari pasca implantasi (atau
sama dengan usia kehainilan 4-5 minggu, karena pada manusia
hari pertama menstruasi terakhir terhitung sebagai masa keha-
milan dan diasumsi siklus menstruasi adalah 4 minggu). Tikus
yang gagal bunting setelah 4 hari pasca implantasi sama dengan
manusia yang abortus pada trimester I.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
36
background image
UNIT FETUS-TROFOBLAS MERUPAKAN DUA GRAFT
YANG TERPISAH
Perkembangan blastocyst di tempat implantasi terdiri dari
bagian dalam, suatu massa sel yang merupakan bakal fetus dan
bagian luar, lapisan trofoblas yang akan menjadi plasenta di
permukaanfeto-maternal. Jaringan fetus dan trofoblas tampak
sebagai dua graft hasil pembuahan yang terpisah. Jadi Ag fetus
maupun Ag trofoblas dapat merangsang respons imun ibu.
RESPONS IMUN IBU TERHADAP Ag FETUS
Sifat jaringan fetus adalah imunogenik yang dapat dikenal
dan ditolak oleh sistem imun ibu walaupun sedang hamil karena
terjadi kontak antara sel fetus dan sel sistem lymphomyeloid ibu.
Ada satu fenomena menarik yaitu bila fetus binatang pengerat
ditransplantasi ke paha binatang pengerat bunting akan ditolak,
tetapi bila ditransplantasi ke uterusnya tidak ditolak.
Kehamilan interspesies seperti antara kambing-domba dan
transfer enibrio keledai ke kuda selalu gagal karena fetus di-
infiltrasi sel mononuklear ibu (host). Makin sering dibuat ke-
hamilan interspesies makin sering terjadi abortus karena ada
immunologic memory. Transfer blastocyst Mus caroli ke dalam
uterus Mus musculus (resipien) selalu gagal karena fetus Mus
caroli pasca implantasi diinfiltrasi oleh sel limfosit T sitotoksik
(sel-T
c
atau CTL) resipien dan kemudian diresorbsi ke lapisan
trofoblas fetus. Keadaan tersebut juga sering terjadi pada abortus
spontan yang tanpa embryonic sac. Limfosit ibu jarang meng-
infiltrasi fetus dan membentuk barrier di permukaan feto-mater-
nal sehingga efektif memblok masuknya sel-sel ibu yang lain.
RESPONS IMUN IBU TERHADAP Ag TROFOBLAS
Saat implantasi blastocyst adalah proses invasi hasil pem-
buahan ke dalam endometrium, proses itu mirip dengan suatu
invasi tumor lokal. Sel-sel trofoblas menginvasi endometrium
dan membentuk massa yang menyatu, tanpa bentuk (amorphous)
dan berinti banyak (multinucleated) disebut syncytium. Sel-sel
syncytiotrophoblast itu berasal dari lapisan trofoblas sebelah
dalam yaitu sel cytotrophoblast. Jadi trofoblas terdiri dan dua
lapisan sel berbeda yaitu sel syncytiotrophoblast yang menyatu
dengan jaringan decidua ibu dan sel cyrotrophoblast, merupakan
lapisan dalam dan menutupi pembuluh darah fetal seperti tampak
pada villi plasenta. Karena invasi procesus trofoblas maka pem-
buluh darah ibu berbentuk lacunae. Akibatnya darah ibu lang-
sung membasahi lapisan syncyriorrophoblast, tetapi darah fetal
terpisah dan sel trofoblas oleh sel endothelium pembuluh darah
fetus dalam ruangan intervillous. Perkembangan selanjutnya,
cytotrophoblast berada di luar villi dan terkait pada plasenta
dan langsung kontak dengan decidua.
Jaringan trofoblas fetus adalah unik karena dalam perkem-
bangannya juga mengandung materi genetik suami. Penelitian
imunotogi membuktikan bahwa sel syncytiotrophoblast tidak
mengekspresikan MHC kelas I. Tetapi pada sel trofoblas ada Ag
spesifik TA-1 dan TA-2. Sel cyrorrophoblast mengekspresikan
MHC kelas I yang telah dimodifikasikan.Pada masa awal plasen-
tasi, sel-sel ini juga menginvasi maternal spiral arterioles pada
placental bed, hingga terjadi kontak langsung dengan darah ibu.
Hanya cyrotrophoblastmengekspresikan MHC dan kontak dengan
decidua dan darah ibu, tetapi yang diekspresikan adalah MHC
yang telah dimodifikasikan. MHC kelas II tidak ditemukan pada
kedua sel trofoblas pada semua stadium kehamilan.
Jaringan trofoblas tidak mudah dihancurkan oleh sel CTL
dan resisten terhadap reaksi penolakan oleh mekanisme sel
imun efektor terhadap Ag spesifik. Keadaan yang sama juga
terjadi pada neoptasma trofoblas gestasionat karena semua sel
trofoblas mengandung gen suami dan tidak mampu ditotak oleh
sistem imun wanita sekalipun mengekspresikan banyak human
leucocyre antigen (HLA) suami. Jaringan trofobtas sensitif ter-
hadap sel efektor nonspesifik tertentu yang secara setektif ber-
fungsi dalam sistem surveitans untuk memusnahkan sel primitif
seperti sel tumor dan sel embrional. Di antara sel efektor tersebut
terdapat sel-sel yang bisa membunuh sel trofoblas seperti makro-
fag dan LAK. Keduanya memitiki mekanisme pengenalan pri-
mitif (primirive recognition mechanism) tetapi tidak mempunyai
memori terhadap Ag yang pernah terpapar. Cara makrofag mem-
bunuh sasanan adalah dengan bantuan enzim dan peroxida.
Makrofag juga menghasilkan sitokin tumor necrosis factor
(TNF-), yang menyebabkan trombosis dan interleukin 2 (IL-2),
meningkatkan sitotoksik sel efektor imun non-spesifik terhadap
trofoblas
TNF- berperan merusak trofobtas karena sel trofoblas
mempunyai reseptor TNF- dan TNF- dapat menghancurkan
sel plasenta yang terdiri dari sel trofobtas.TNF- juga menarik
makrofag dan limfosit polymorphonucleated (PMN) ke tempat
tersebut dan merangsang sel-sel itu membebaskan enzim peng-
hancur dan radikal peroxida toksik yang menghancurkan semua
sel TNF- dan IL-2, juga mengaktivasi sel LAK. Tempat TNF-
dihasilkan turut berperan dalam proses abortus karena TNF-
dapat metisiskan trofoblas.
Penolakan fetus disebabkan oleh mekanisme graft-rejection
terhadap Ag spesifik maupun Ag non-spesifik langsung terhadap
sel trofoblas dan menyumbat(trombosis) pembuluh darah yang
menyatunkan makanan ke tempat itu; suatu kehamilan akan
berhasil bila bisa menghambat sistem imun Ag-spesifik dan Ag
non-spesifik. Teori lain mengemukakan tentang peranan
prostagtandin (PG) dan faktor pertumbuhan (growth factors) di
tempat implantasi.
MEKANISME PERTAHANAN UNTUK MELINDUNGI
UNIT FETAL PLACENTAL
Proses decidualisasi endometrium bertujuan mempersiap-
kan lingkungan yang memadai dalam rahim sehingga mampu
memberikan nutrisi optimal bagi hasil konsepsi. Juga decidua
berperan penting pada proses graft rejection. Allograft dalam
endometnium yang telah dipengaruhi oleh hormonal atau
endometrium binatang yang bunting akan berimplantasi dan
survivat lebih lama-dibandingkan bila ditempatkan pada jaring-
an nonuterus. Pada binatang yang belum disensitisasi, graft kutit
bila ditranspantasi ke endometrium segera ditotak. Sebaliknya,
bita graft ditranspantasi ke chorion-decidua junction tikus bun-
ting hasil perkawinan antara tikus yang sama spesies tapi genetik
berbeda ternyata tidak ditotak. Hal yang sama juga terjadi pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 37
background image
binatang pejamu (host) yang imun. Diduga decidualisasi ber-
fungsi melindungi allograft pada host yang nonimun dengan
cara mencegah rangsangan pada sistem imun ibu. Chorion-
decidua junction juga berfungsi mencegah perpindahan sel ibu
ke fetus karena sel tersebut berfungsi sebagai sel sitotoksik
yang akan melisiskan graft.
Pada kehamilan normal, sel-sel menekan imun bergerombol
di sekitar tempat implantasi dan menyebar di antara sel decidua
membentuk suatu lapisan kompak. Para pakar umumnya ber-
pendapat bahwa beberapa sel decidua tersebut berasal dari bone
marrow, tetapi proporsi sel tersebut belum diketahui. Ada dua
tipe sel supresor yang dapat diisolasi dan uterus yaitu: sel
supresor tipe I, yang hormone-dependent dan terdapat di endo-
metrium dan sel supresor tipe II, yang trophoblast-dependent
dan terdapat di decidua pada masa awal kehamilan.
Sel-sel Supresor Endometrium
Sel supresor baru yang diinduksi hormon telah berada dalam
uterus manusia maupun tikus dalam rangka mempersiapkan
tempat terjadi implantasi. Sel tersebut berbentuk besar dan me-
nunjukkan marker Lyt-2 dan sel-T. Tetapi sel itu tidak seperti
sel-T supresor (T8) kiasik,karena hanya ada di endometnium dan
diaktivasi oleh hormon, bukan oleh Ag. Sel itu juga tidak bersifat
Ag-spesifik dan tidak menglepaskan faktor pensupresi terlarut
(soluble suppresor factors). Sel supresor ini bukan makrofag
karena tidak menunjukkan marker Mac-I. Aktivitas supresi sel
tersebut tidak dapat dihilangkan dengan menambah indometha-
cm atau dengan pengobatan komplemen dan antibodi mono-
klonal anti determinan permukaan makrofag.
Sel supresor tersebut memblok sensitisasi meternal, se-
hingga menghambat respons pembentukan sel sitotoksik ter-
hadap Ag non-MHC yang dihasilkan oleh sel pada awal kon-
sepsi. Ag tersebut berperan penting pada feto-maternal interface.
Pada binatang pengerat yang diimunisasi agar timbul respons
anti terhadap Ag in frekuensi keberhasilan hamilnya turun dan
ukuran fetusnya kecil karena diinfiltrasi oleh limfosit ibu me-
nyebabkan fetusnya diresorpsi spontan.
Lamanya aktivitas sel supresor besar biasanya hanya singkat
saja karena efek supresi tersebut menyebabkan kehamilan dapat
berlangsung terus dan sel itu kemudian diganti dengan sel supre-
sor trophoblast-dependent. Jadi pergantian jenis sel supresor di
endometrium terjadinya tahap demi tahap dan setiap tahan hanya
bersifat sementara (transient) dan berfungsi mempertahankan
kelangsungan hidup fetus.
Sel supresor decidual (trophoblast-dependent)
Pada masa awal pasca implantasi tikus, sel supresor besar di
endometrium diganti oleh sel supresor kecil yang sitoplasmanya
bergranula dan terdapat dalam decidua. Sel-sel baru ini tidak
mempunyai marker konvensionat sel-T dan makrofag, tetapi
mempunyai reseptor F
c
untuk IgG (FcIgGR). Mekanisme aktivi-
tas sel supresor kecil tergantung pada signal trofoblas. Tempat
aktivitas sel itu hanya di sekitar implantasi dalam uterus karena
sel supresor kecil tidak aktif selain di dalam uterus hamil.
Lokalisasi sel supresor trophoblast-dependent dan adanya sel
supresor kecil dalam ptasenta diduga sehubungan dengan saat
terbentuknya chorion-decidua junction yang berfungsi meng-
hambat graft rejecton dan menyelamatkan fetus.
Sel supresor non-T menglepaskan soluble factor yang
menghambat berbagai mekanisme sel efektor spesifik maupun
non-spesifik. Soluble factor ini menghambat perkembangan
CTL, aktivitas sel NK dan pembentukan sel LAK dengan cara
menghalangi aktivitas IL-2. Faktor tersebut juga menghambat
respons C mengaktivasi IL-3, menghambat fungsi sitotoksik
monosit dan makrofag dan membtok aktivitas sitotoksik TNF-
terhadap sel sasaran tertentu. Motekul larutan pensupresi imun
sangat lengket dan sering dihubungkan dengan berbagai zat
pembawa protein. Aktifitas faktor ini dinetralkan oleh antibodi
anti transforming growth factor (TGF-) yang aktivitasnya
ialah menghambat sitokin yang membasmi berbagai sel efektor.
TGF- memblok mekanisme efektor sel imun spesifik maupun
non-spesifik yang menyerang unit fetus-trofoblas.
Di decidua juga terjadi mekanisme supresor sel efektor oleh
prostagtandin E (PGE Supresi yang dimediasi PGE terutama
jika terjadi disagregasi decidua dengan enzim, dengan teknik
tertentu bisa merusak decidua yang aktif memproduksi TGF-
tetapi membebaskan sel-sel yang menyerupai maknofag serta
memproduksi motekul supresor tipe PGE Progesteron me-
nekan produksi PGE endometrium manusia pasca ovulasi dan
decidua pada awal kehamilan. Obat penghambat sintesis
prostagtandin pada manusia seperti acezylsalicylic acid dan obat
anti-inflamasi non-steroid tidak menyebabkan abortus. In vitro,
efek supresi sintesa prostaglandin oleh obat-obatan tersebut
adalah suatu antifak. Aktivitas faktor pensupresi yang dihasilkan
oleh sel supresi kecil tidak dapat dihilangkan dengan charcoal
aktif atau dinetralkan oleh antibodi anti-prostaglandin atau anti-
progesteron. Kenyataan ini menunjukkan bahwa faktor pen-
supresi itu tidak berhubungan dengan prostaglandin dan
progesteron.
SEL SUPRESOR TROPHOBLAST-DEPENDENT DAN KE-
SELAMATAN FETAL
Beberapa wanita yang mengalami abortus, deciduanya pada
awal kehamilan tidak mempunyai aktivitas sel supresor. Men-
jelang abortus spontan, terjadi defisiensi mononukleus yang sito-
plasmanya bergranula pada placental bed. Defisiensi aktivitas
sel supresor di sekitar tempat implantasi menyebabkan fetus
ditolak oleh ibunya, hal itu menunjukkan kegagatan trofoblas
dan kematian fetus bukan karena sebab yang non-spesifik.
Pada kehamilan normal terdapat aktivitas sel NK, sel
natural sitotoksik dan sel-sel yang menyerupai makrofag yang
secara imunologis ikut menentukan keselamatan fetus (terutama
bila kemampuan trofobtas ibu mengaktivasi sel supresor subnor-
mal). Keseimbangan antara aktivitas sel supresor trophoblast-
dependent dan tingkat intensitas aktivitas sel efektor ibu pada
masa pasca implantasi sangat menentukan apakah suatu implan
baru hasil konsepsi akan berhasil atau ditolak. Keseimbangan
ideal ini dapat dipersiapkan pada masa mendatang dengan cara
imunisasi, terutama kepada yang berbakat abortus. Imunisasi
dilakukan dengan sel allogenik yang mengandung Ag suami
karena akan merangsang respons imun spesifik membtok Ag
suami pada trofobtas. Efeknya tidak membahayakan tetapi
malah membantu proses implantasi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
38
background image
TERAPI-IMUN UNTUK ABORTUS SPONTAN BER-
ULANG
Tujuannya ialah mencegah abortus spontan dengan cara
ibu diimunisasi dengan Ag suami sehingga merangsang respons
ibu. Perlindungan terhadap abortus dimediasi oleh soluble factor
Ag-spesifik yang meningkatkan aktivitas supresor di tempat
implantasi. Kuda yang diimunisasi dengan limfosit keledai
ternyata efektif karena dapat menerima fetus keledai yang di-
transfer. Penelitian pada beberapa wanita dengan riwayat abortus
spontan berulang yang tidak diketahui penyebabnya dan serum-
nya tidak mengandung antibodi anti-sitotoksik terhadap Ag-
suami, bila diimunisasi dengan limfosit suami atau donor pihak
ke tiga lainnya akan mengurangi kemungkinan terjadinya abor-
tus spontan.
Alasan imunisasi sebagai pengobatan abortus spontan ber-
ulang ialah untuk mencegah reaksi penolakan hasil konsepsi
dengan cara merangsang produksi soluble factor yang memblok
aktivitas limfosit istri menghancurkan trofoblas dan/atau Ag
leukosit suami. Mekanisme kerja imunisasi secara tepat belum
diketahui. Mekanisme efek blocking yang dapat diamati in vitro,
belum tentu in vivo juga demikian. Sebenarnya aktivitas blocking
hanya berhubungan dengan suatu Ag lain dan tidak selalu ber-
hubungan dengan efek klinis. Hal ini mungkin karena efek
biologi antibodi lainnya langsung terhadap Ag trofoblas. Salah
satu keberhasilan imunisasi ialah meningkatkan aktivitas sel
supresor trophoblast-dependent lokal oleh soluble factor. Ka-
rena efek lokal antibodi dalam uterus ialah meningkatkan fungsi
trofoblas. Mekanisme kedua, meningkatkan pertumbuhan tro-
fobtas seperti akibat peningkatan supresi oleh sel-sel yang di-
aktivasi oleh TNF- seperti tampak pada peningkatan aktivitas
decidua pada saat akan terjadi abortus.
Suatu penelitian metode percobaan terkontrol acak (ran-
domized controlled trial) tentang keberhasilan hamil setelah
diimunisasi dengan limfosit manusia, ternyata persentase keber-
hasilan imunisasi dengan limfosit suami lebih tinggi (77%)
dibandingkan dengan kelompok kontrol (31%). Nilai "penyem-
buhan" tanpa imunisasi, rendah (range 25%­37%, rata-rata
31%). Nilai ini jauh lebih rendah daripada abortus habitualis
yang ditemukan pada studi epidemiologi. Hal ini menunjukkan
bahwa wanita dengan abortus habitualis yang tidak diketahui
penyebabnya dan tidak diimunisasi, berbakat terjadinya abortus
berulang lagi.
ASAL LIMFOSIT UNTUK IMUNISASI
Di banyak pusat penelitian, wanita berbakat abortus spontan
berulang diimunisasi dengan limfosit suami dengan tujuan me-
rangsang respons imun anti-Ag-suanii yang berfungsi melin-
dungi hasil konsepsi dan pengrusakan oieh reaksi graft rejection
istri. Di beberapa pusat lainnya, limfosit beberapa donor yang
sehat dikumpulkan sebagai bahan imunisasi. Ternyata dengan
cara pooling, persentase keberhasilan lebih tinggi danipada
menggunakan limfosit suami saja (Tabel 1).
Logika yang mendasari imunisasi ini adalah secara teori
diketahui proses pengenalan allogenik terhadap Ag asing pada
trofoblas dan limfosit (trophoblast-lymphocyte cross reactive
Tabel 1. Data keberhasilan hamil setelah terapi-imun
Imunisasi dengan
Berhasil
hamil
%
Range
Limfosit suanri
Limfosit donor
Plasebo atau tidak diimunisasi
77
80
31
63-85
72-83
25-37
[TLC] Ag) adalah penting. Beberapa Ag trofoblas merupakan
bagian dari Ag limfosit; banyaknya tergantung jumlah sasaran
dan jenis limfokin yang dilepaskan atau responsnya terhadap
sel allogenik diukur dalam reaksi mixed lymphocyte culture. Ag
TLX adalah polimorfik dan adanya Ag TLX pertama diidenti-
fikasi pada reaksi sitotoksik antara serum kelinci anti-microvilli
syncytiotrophoblast manusia dan peripheral blood lymphocyte
(PBL); ke dua, elektroforesis larutan PBL dan membran trofo-
blas.
Antisera serum ketinci anti-microvilli syncytiotrophoblast
blast manusia juga sitotoksik terhadap PBL beberapa orang dan
reaksi ini tidak berhubungan dengan tipe HLA donor. Karena
syncytiotrophoblast tidak mempunyai MHC, diduga sel trofo-
blas mempunyai MHC sendiri dan Ag ini dimanifestasikan juga
pada PBL sebagai Ag TLX. Diduga bila suami dan istri sama-
sama mempunyai Ag TLX sejenis maka hasil konsepsi tidak
antigenik dan tidak merangsang respons imun. istri. Imunisasi
dengan limfosit beberapa donor akan meningkatkan kemungki-
an merangsang respons proteksi blocking anti-TLX. Pada wanita
dengan bakat abortus spontan, tidak terdapat blocking anti-TLX.
Ada beberapa masalah sehubungan dengan teori Ag TLX
karena TLX merangsang respons imun anti-TLX (baik oleh
suami maupun istri) yang menyerupai reaksi autoimun. Misal-
nya, istri akan mensintesis Ab anti-TLX suami dan fetus dan
sekaligus juga mensintesis Ab anti-limfosit sendin yang meng-
ekspresi Ag sejenis. Jika Ag TLX bukan sharing maka ke-
mungkinan sel suami dan fetus tidak mempunyai semua deter-
minan Ag yang penting seperti pada kompleks Ag istri. Tam-
paknya Ag tersebut asing bagi istri, tetapi tidak cukup untuk
memancing respons imun intrauterin. Misalnya karena Ag TLX
suami. Jika ada defek respons imun, dapat diatasi dengan me-
nambah efek penolong, kecuali suami TLX-homozigot biasanya
memiliki sharing Ag bersama-sama partnernya.
Hingga kini para pakar belum sepakat tentang sumber limfosit
terbaik untuk imunisasi. Apalagi diketahui bahwa 70%-75
wanita yang mengalami kegagalan setelah imunisasi dengan
limfosit suami, kemudian berhasil hamil setelah diimunisasi
dengan sepertiga bagian limfosit donor. Juga diamati bahwa wa-
nita yang abortus dengan satu partner ternyata bisa hamil dengan
partner lainnya.Risiko imunisasi dengan sepertiga bagian limfosit
donor adalah terjadinya transmisi virus, akibatnya limfosit donor
jarang dipakai. Sebagai tambahan, Ag eritrosit dan trombosit
(sering mengkontaminasi sediaan limfosit) lebih efisien men-
sentitisasi istri.
Dosis sel untuk imunisasi
Tingkat keberhasilan imunisasi tergantung dari dosis sel
yang diberikan. Dosis optimal untuk berhasil belum diketahui,
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 39
background image
tetapi lazim diberikan 100 juta sel/imunisasi karena makin ren-
dah dosis sel ternyata tingkat keberhasilan menurun.
Di banyak pusat, dosis imunisasi tersebut diulang sesuai
dengan jadual interval tertentu (tiap pusat bervariasi) selama
belum terjadi konsepsi. Frekuensi suntikan ditentukan oleh hasil
uji pusat serum terhadap adanya antibodi sitotoksik anti-limfosit
suami atau donor.Meski tes ini tidak selalu berhasil meramal
dengan baik, tetapi tingkat keberhasilan hamil lebih tinggi pada
wanita yang diimunisasi dan yang mensintesis Ab anti-sel suami.
Pusat yang menggunakan limfosit donor, imunisasi ulangan
biasanya diberikan sanipai segera dikonfirmasi hamil, selanjut-
nya imunisasi dilanjutkan sesuai interval regular hingga ke-
hamilan semester ke dua.
Interval antara imunisasi dan konsepsi
Prognosis dipengaruhi oleh interval waktu imunisasi dan
terjadinya konsepsi. Yang diharapkan ialah terjadi konsepsi
segera setelah imunisasi. Makin lama jangka waktu (> 47­80
hari) antara mulai imunisasi dan konsepsi, makin besar
kemungkinan terjadi abortus.
KEMUNGKUNAN RISIKO TERAPI-IMUN
Efek imunisasi dalam jangka pendek, segera timbul gatal-
gatal (pruritus) setempat dan kadang-kadang timbul kemarahan
(erythema) dan edema (swelling) di sekitar tempat suntikan.
Biasanya terjadi pigmentasi kulit karena kontaminasi eritrosit
pada sediaan limfosit. Secara teoritis ada risiko akibat sensitisasi
Ag erotrosit. Wanita Rh (­) sebaiknya diberikan pencegahan
dengan suntikan Ig anti-Rh pada saat imunisasi. Sampai kini
belum pernah dilaporkan kasus kecacatan akibat sensitisasi
dengan Ag Rh.
Beberapa penulis mengkhawatirkan kemungkinan akibat
terapi-imun yaitu fetusnya akan mengalami intrauterine growth
retardation (IUGR) Pada pasangan dengan riwayat abortus
spontan berulang biasanya IUGR adalah inheren dan IUGR
biasanya berhubungan dengan dosis imunisasi relatif rendah
Jika dosis sel lebih tinggi, tidak terjadi IUGR. Banyak peneliti
melaporkan bahwa terapi-imun biasanya disertai kelahirar
normal dan bayinya sehat. Perkembangan fisik bayi, pada tahun
pertama kehidupan dalam batas normal dan perkembangan
imunologiknya tidak berubah.
KEPUSTAKAAN
1. Chaouat G. ed. The Immunology of the Fetus. 2nded. Boca R Fla. CRC
Press; 1993.
2. Clark DA. Controversies in reproductive immunology. Crit Rev Immune
1991; 11:215­47.
3. Daya S. Clark DA. Pregnancy and the fetel-maternali relationship. Dalam:
Sigal LH, Ron Y. (ed). Immunology and Inflammation Basic mechanism
and clinical consequences. New York: McGraw-Hill, Inc., 1994: 547-62.
4. Edwards RG. Coombs RRA. Immunological interactions between other
and fetus. Daiam: GeII PGH, , Coombs RRA, Lachmann PJ., eds. Clinics
Aspects of Immunology 3rd ed. Oxford Blackwell Scientific Publicatiom,
1975: 561­98.
5. Findley WE, Gibbons WE. Mouse pm-embryo culture as an evaluation for
human pie-embryo requirements. Daiam: Keel BA, Webster SW. (eds).
CR1 Handbook of the laboratory diagnosis and treatment of infertility.
Boca Raton, CRC Press. 1990: 329-44.
6. Gleicher N. ed. Principles and Practice of Medical Therapy in Pregnanci.
Norwalk, Conn.: Appleton & Lange; 1992.
7. Gleicher N. ed. Reproductive Immunology. Immunology and Allergy Clin-
ics of North America, vol. 10, no. I. Philadelphia: Saunders; 1990.
8. Veeck LL. The morphological assessment of human oocytci and early
concepti. Dalam: Keel BA, Webster BW. (eds). CFC Handbook of the
laboratory diagnosis and treatment of infertility. Boca Raton, CRC Press,
1990: 354­69.
The Safest place of refuge for every man is his own home
(Coke)
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
40