PIDATO PENGUKUHAN
Stroke - Masa Kini
dan Masa Yang Akan Datang
Djoenaidi Widjaja
Guru Besar Lab/UPF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran UniversitasAirlangga
RSUD Dr. Soetonzo, Surabaya
PENDAHULUAN
Pada era pembangunan dan globalisasi seperti sekarang ini
sumber daya manusia adalah unsur pokok. Stroke adalah salah
satu penyakit yang menyebabkan kematian, kecacatan fisik dan
mental. Lebih dari 50 persen dari penderita yang masuk rumah
sakit di bangsal Lab. Ilmu Penyakit Saraf/RSUD Dr. Soetomo
pada tahun 1993 di Surabaya disebabkan oleh stroke.
DEFINISI STROKE:
Pada stroke terdapat tanda-tanda klinik yang berkembang
secara cepat akibat gangguan fungsi otak fokal atau global tanpa
penyebab lain kecuali sebab vaskulan. Gejala ini berlangsung 24
jam atau lebih atau menyebabkan kematian. Tak termasuk dalam
definisi ini serangan gangguan peredaran darah otak sepintas
(GPDOS atau transient ischemic attack = TIA), dan perdarahan
atau infark yang disebabkan oleh radang atau tumor
(1)
..
Secara sederhana stroke dibagi dalam stroke non-hemoragik
(non-H) dan hemoragik (H). Yang non-hemoragik dibagi dalam
emboli otak dan trombosis otak, sedangkan yang hemoragik
dibagi dalam perdarahan intraserebral (PIS) dan perdarahan
subaraknoidal (PSA).
EPIDEMIOLOGI STROKE:
Di Amerika Serikat tiap tahun 500.000 orang mendapat
serangan stroke baru atau kambuh lagi dan kira-kira sepertiga
meninggal Prevalensi total stroke diperkirakan 5-8 per 1000
penduduk diatas usia 25 tahun
(3)
.
Insiden stroke dari penderita yang masuk rumah sakit dibangsal
Lab. Ilmu Penyakit SarafIRSUD Dr.Soetomo pada tahun 1993,
60,7 persen disebabkan oleh stroke non-H sedangkan 36,6 persen
oleh karena stroke-H. Stroke trombotik paling banyak terdapat
(58,3%), disusul oleh perdarahan intraserebral (PIS) (35,6%).
Emboli dan perdarahan subaraknoidal hanya sedikit sekali 2,4
dan 1 persen. Laki-laki (63,5%) lebih banyak terkena dari pada
wanita (36,5%). Usia kurang dari 45 tahun lebih jarang terkena
(15,9%) dan pada usia lebih dari 45 tahun (84,1%).
Kematian dan seluruh stroke (32,1%) adalah nomer dua
setelah meningo-ensefalitis (59,5%). Dari semua penderita stroke
50% dan PIS meninggal, sedangkan pada PSA dan emboli kira-
kira 40% meninggal. Penyebab stroke paling banyak karena
hipertensi (81,7%) dan diabetes mellitus (66,7%). Anamnesis
adanya hipertensi hanya terdapat pada 66,7% kasus. Hipertensi
yang terdapat pada waktu masuk rumah sakit kebanyakan
hipertensi-reaktip, yang terjadi karena pelepasan katekolamin
dan neurotransmitter yang menyebabkan kenaikan tekanan
darah. Pada trombosis serebri 54,5% menderita hipertensi sta-
dium II, sedangkan pada PIS 66,4% menderita hipertensi sta-
dium III dan IV. Anamnesis gangguan peredaran darah sepintas
(47,4%) (GPDOS) hanya terdapat pada trombosis serebri. Pada
emboli, PIS dan PSA tak terdapat riwayat GPDOS sebelumnya.
Pada stroke emboli 86,7% disebabkan oleh fibrilasi atrial dan
infark jantung lama, selebihnya tak diketahui penyebabnya.
PANDANGAN BARU PENCEGAHAN DAN PENG-
OBATAN STROKE MASA KINI
A. PENCEGAHAN PRIMER: MENCEGAH PEMBEN-
TUKAN ATEROMA.
Hipotesis Oksidasi dan LDL (Low Density Lipoprotein)
LDL oksidatip (oxidized low density lipoprotein) yang
dimodifikasi oleh tubuh penting untuk patogenesis aterosklerosis.
Peroksidasi lipid ini mulai dari polyunsaturated fatty acids
(PUFA) yang terdapat pada fosfolipid dipermukaan LDL. LDL
yang teroksidasi ini (Ox-LDL) merangsang monosit untuk
Pidato pada Pengukuhan Guru Besar Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga, 1995
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 45
mengekskresi interleukin-1, yang selanjutnya merangsang
proliferasi sel otot polos. Ox-LDL ini juga imunogenik dan
terdapat antibodi terhadap epitop dan Ox-LDL. Ox-LDL
mengganggu juga vasorelaksasi dan nitrik oksida. Hasil senyawa
Ox-LDL seperti oksisterol sangat toksis terhadap sel endotil dan
dapat mematahkan integritas endotil
(4)
.
Untuk menghambat terjadinya Ox-LDL dapat dilakukan dengan
pemberian vitamin E, beta-karoten dan vitamin C atau
mengurangi PUFA (polyunsaturated fatty acid) dan LDL dengan
cara pemberian asam oleik (minyak zaitun) atau asam linolenik
alfa yang terdapat dalam biji-bijian. Pada binatang percobaan
diberikan probucol (obat antikolesterol dan anti-oksidan)
(4)
. Beta
karoten khasiatnya masih dipertanyakan. Vitamin E diperlukan
dalam dosis tinggi 1,2 g/hari agar LDL jenuh. Teh hitam dan
anggur merah mengandung polifenol yang dapat menghambat
pembentukan Ox-LDL
(5)
. Diet vegetaris terdiri atas kacang-
kacangan dan rendah lemak, mengandung banyak asam linolenik
alfa. Di kalangan orang Jepang dan orang negara Laut Tengah
yang makan banyak asam linolenik alfa, ikan, sayur dan buah-
buahan, angka kematian penyakitjantung koroner (PJK) paling
rendah
(6)
. Memakan ikan lebih dari 20 g/hari dapat mencegah
stroke trombotik. Ikan mengandung n-3 polyunsaturated fatty
acid (PUFA), seperti asam eikosapentanoik dan asam
dokosaheksanoik yang dapat mengurangi pembentukan
tromboksan-A
2
dan mengurangi agregasi trombosit. Asam
eikosapentanoik diubah menjadi tromboksan-A
3
dan menambah
sintesis prostaglandin I
3
yang mempunyai sifat antitrombotik
(7)
.
Trans-fatty Acids (TFA)
TFA yang berasal dari hidrogenasi parsial dan minyak tak
jenuh (margarin), merusak reseptor lipoprotein dan
menyebabkan hiperkolesterolemia, aterogenesis, gemuk dan
resisten terhadap insulin. ini timbul bila kita mengkonsumsi lebih
dari 10 gram TFA. Margarin dari Eropa Utara dan Amerika
Serikat yang dibuat dengan cara hidrogenasi minyak tak jenuh
tipat ganda (polyunsaturated) mengandung banyak TFA
sedangkan diet negara Laut Tengah berasal dari minyak tak jenuh
tunggal (monounsaturated) (minyak lobak) mengandung sedikit
TFA dan tinggi asam tinotenik alfa. PJK ternyata terdapat tebih
banyak di negara Eropa Utara dan Amerika Serikat dan pada di
negara Laut Tengah
(8,9)
, Penyelidikan terakhir mengatakan
bahwa transfatty acid tak menambah kematian mendadak karena
serangan PJK
(10)
.
B. PENCEGAHAN SEKUNDER: MENGHAMBAT
FAKTOR-FAKTOR RISIKO STROKE
Hipertensi
Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension), hipertensi
diastolik dan gabungan hipertensi sistolik dan diastolik adalah
faktor risiko dari semua macam stroke, baik stroke iskemik
maupun hemoragik. Pada hipertensi, risiko relatif stroke adalah
1,5 sampai 2 kali
(11)
. Stroke pada hipertensi dapat mengenai
pembuluh besar (aterotrombotik) atau pembuluh darah kecil
dalam bentuk stroke lakunar, dan penyakit Binswanger (subcor-
tical arteriosclerotic encephalopathy) atau PIS akibat pecahnya
mikroanerisma dan Charcot Bouchard
(12)
. Hipertensi maligna
dapat menyebabkan timbulnya ensefalopati hipentensif, infark
otak, PIS dan PSA
(13)
. Penurunan tekanan danah diastolik 5-6
mmHg selama 5 tahun dapat menurunkan risiko stroke 38%
dan risiko PJK 16% Penurunan tekanan darah sistolik 5 mmHg
dapat menurunkan kematian stroke 14% dan 9% kematian
jantung koroner
(15)
.
Diabetes mellitus (DM)
DM merupakan faktor risiko untuk stroke iskemik dari
pembuluh besar, akan tetapi masih diragukan pada pembuluh
darah kecil. Dengan mengkontrot DM, insiden stroke tidak
berkurang, akan tetapi bila sudah terjadi stroke dengan
mengkontrol hiperglikemia dapat mengurangi kerusakan otak
waktu stroke akut
(15)
. Hiperglikemia menyebabkan kurangnya
pembentukan AlP (adenosin tnifosfat) serta berkurangnya Na-
K-ATPase, akibatnya konsentrasi Na datam set meningkat
sehingga timbul pembengkakan set serta pelepasan glutamat
karena depolarisasi membran sel. Petepasan glutamat
menyebabkan masuknya katsium dalam set sehingga
menyebabkan kematian sel tersebut
(16)
. DM mengganggu
secara menahun autoregutasi otak, sehingga penderita DM
sangat peka terhadap tekanan perfusi dan juga terhadap
timbulnya stroke progresip
(17)
.
Merokok sigaret
Merokok sigaret juga merupakan faktor risiko untuk stroke
iskemik
(15)
, PSA
(18,19,20)
, dan aneurisma aorta abdominal
(21)
. Pria
atau wanita yang merokok lebih dari 20 batang sehari mempunyai
risiko retatif PSA anenismal 7,3 dan 2,1 dibandingkan dengan
pria dan wanita yang tak merokok
(22)
. Merokok sigaret menaikkan
fibrinogen darah, menambah agregrasi trombosit, menaikkan
hematoknit dan viskositas darah, hubungan dengan stroke
iskemik
(24)
. Rokok dengan hipertensi hubungan dengan PSA.
Kadar serum kotinin berhubungan dengan kecepatan pertum-
buhan aneurisma
(21)
.
Penyakit jantung
Penyakit jantung adalah faktor risiko penting untuk
terjadinya stroke iskemik metalui emboti. Faktor risiko mayor
misalnya fibritasi atrial, stenosis mitral, katup jantung prostetik,
infarkjantung banu, trombus ventnikel kiri (terutama bila
bergerak atau menonjol), miksoma atriat, endokanditis infektif,
kardiomiopati yang melebar (dilated cardiomyopathy) (iskemik
dan non-iskemik), endokarditis marantik
(23)
.
Gangguan Peredaran Darah Otak Sementara (GPDOS =
TIA (transient ischemic attack)
GPDOS adalah defisit neurotogik fokat atau retina sepintas
akibat penyakit pembuluh darah yang sembuh total dalam 1 jam
dan jarang lebih dari 24 jam. GPDOS sistem karotis berlangsung
14 menit dan dan sistem ventebro-basilan detapan menit
(23)
,
GPDOS terdapat pada 25-50% sebelum infark atero-trombotik,
akan tetapi hanya 11-30% dan stroke kandio-embolik dan 11-
14% dan infark takunar Risiko timbutnya stroke pada GPDOS
24-29% dalam 5 tahun, 12-13 pensen waktu satu tahun dan 4-
8% pada bulan pertama. Risiko stroke meningkat 13-16 kali
dalam tahun pertama dan kira-kira 7 kali dalam 5 tahun
(23)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
46
Alkohol
Peminum berat (> 40 gram alkohol/24 jam) menambah
risiko PSA aneurismal (wanita lebih dari pria) terutama bila
merokok sigaret. Lebih banyak minum alkohol lebih banyak
pula risikonya
(22)
.
Alkohol berlebihan menambah agregrasi trombosit,
mengaktivasi kaskade koagulasi, hematokrit dan viskositas darah
meningkat. Waktu abstinensia timbul rebound thrombocytosis
dengan gangguan ritme jantung (holiday heart syndrome)
(15,23,24)
.
Anggur merah yang diminum dalam jumlah banyak di Perancis
mengandung anti-oksidan dan dapat mengurangi PJK, akan
tetapi sirosis hepatis terdapat lebih banyak (French paradox)
(Criqui, 1994). Sebaliknya minum alkohol dalamjumlah sedikit
(<40 gram/24 jam) menambah HDL kolesterol dan mengurangi
risiko PJK
(23)
.
Plasma fibrinogen
Fibrinogen secara fungsional adalah ikatan (ligand) penting
dan glikoprotein IIb/IIIa untuk terbentuknya agregrasi trombosit.
Fibrinogen plasma yang tinggi hubungan dengan konsentrasi
aktivitas trombosit yang meningkat pada trombosis arterial
(26)
.
Stres psikis berat
Stres psikis berat termasuk risiko bermakna untuk timbulnya
stroke
(27)
. Stres menyebabkan peningkatan katekolamin dan
pelepasan asam lemak bebas dari timbunan jaringan lemak di
badan serta mengganggu pompa kalsium
(28)
.
Kontraseptip estrogen tinggi
Kontraseptip estrogen tinggi dapat diganti dengan estro-
gen rendah untuk mengurangi risiko stroke. Sebaliknya
penggunaan estrogen pada postmenopause mengurangi risiko
stroke dan PJK
(24)
.
Mendengkur
Pendengkur dengan apneu tidur obstruktif (obstructive sleep
apnei) adalah faktor risiko PJK dan stroke. ini sering terdapat
pada laki-laki setengah tua yang gemuk. Terdapat pada empat
persen pria dan dua persen wanita
(29,30,31)
.
Antibodi antikardiolipin
Antibodi antikardiolipin adalah antibodi terhadap fosfolipid
yang berhubungan dengan stroke iskemik, trombosis vena dan
kematian fetus
(32)
.
Dislipidemia
Kolesterol: Pada umumnya dikatakan bahwa tak ada
hubungan bermakna antara kolesterol plasma dan risiko stroke,
hanya The Copenhagen City Heart Study mengatakan bahwa
kolesterol berhubungan dengan risiko stroke-non hemoragik,
bila kolesterol lebih dari 8 mmol/l (310 mg persen)
(33)
.
HDL Kolesterol: Pada umumnya dikatakan bahwa terdapat
hubungan terbalik antara HDL kolesterol dan risiko stroke.
Hanya Framingham study mengatakan tak ada efek protektip
dan HDL kolesterol yang tinggi untuk stroke iskemik
(33)
.
LDL Kolesterol: LDL kolesterol adalah faktor risiko yang
penting untuk timbulnya Aterosklerosis dan secara tak langsung
mempengaruhi stroke iskemik
Trigliserida: Terdapat pertentangan pendapat. Penyelidikan
terbaru mengatakan bahwa trigliserida postprandial yang tinggi
hubungan dengan Aterosklerosis dan arteria karotis eksterna
(34)
.
Lp(a): Lp(a) terdiri atas LDL dan Apo (a) yang mirip plas-
minogen, sehingga peningkatan kadar Lp(a) dalam plasma dapat
meningkatkan aktivitas aterogenik maupun trombotik. Ia
mengganggu proses fibrinolisis dengan cara menghambat
aktivitas plasminogen, merangsang proliferasi sel-sel otot polos
melalui penghambatan terbentuknya TGF (transforming growth
factor) dan menyebabkan disfungsi endotil.
Inaktivitas fisik, sosio-ekonomi rendah, obesitas, cuaca,
musim, letak geografis, dislipidemia (kolesterol, HDL kolesterol,
LDL kolesterol, trigliserida, Lp(a)), hiperurisemia, hipotiroidism
mempengaruhi timbulnya stroke secara tak langsung. Usia, jenis
kelamin, ras, faktor-faktor familial adalah faktor risiko yang tak
dapat dipengaruhi. Predisposisi heredo-familial terhadap stroke
adalah genetik, akan tetapi pada beberapa famili kepekaan
genetiknya adalah terhadap faktor-faktornya (seperti hipertensi,
penyakit jantung) yang dapat diobati
(24,35)
.
C. PENGOBATAN GPDOS (TIA)
1) Obat-Obat Antiagregasi Trombosit (antiplatelet)
Aspirin (A = acidum acetylo-salicylicum)
ASA menghambat secara ireversibel siklooksigenase,
dengan cara ini pembentukan tromboksan-A2 berkurang dan
agregasi trombosit dihambat. Tetapi ASA menghambat juga
prostasiklin yang mempunyai sifat vasodilator dan antiagregasi
trombosit. ASA menghambat juga jalur lipoksigenase seperti
lekotrin yang mempunyai sifat vasokonstriksi serta lain-lain
metabolit seperti asam 1 5-hidro-peroksi-ekosa-tetranoik (15-
HPETE) dan asam 15-hidroksi-ekosa-tetranoik (15-HETE)
yang mempunyai khasiat antiagregasi trombosit
(36)
.
Dosis ASA berkisar antara 30 mg - 1300 mg. Di Jepang
dipakai dosis 1 X 81 mg ASA. Helgason dkk
(36)
(1994)
mengatakan bahwa dosis ASA harus disesuaikan dengan efek
antiagregasi trombosit, karena beberapa penderita kebal terhadap
ASA dan dosis ASA berubah dari waktu ke waktu untuk
seseorang. ASA dosis rendah (< 2 mg/kg berat badan/hari)
membutuhkan waktu beberapa hari untuk mencapai efek
antiagregasi trombosit yang maksimum. Atas dasar ini pada
keadaan darurat, misalnya pada miokard akut atau GPDOS, ASA
harus diberikan dalam dosis lebih tinggi misalnya 1 X 300-325
mg dan diteruskan dengan dosis pemeliharaan I X 75-100 mg
ASA/hari
(37)
.
Lama pemberian ASA tak terdapat di kepustakaan. Di Jepang
diberikan beberapa tahun sampai 30-40 tahun tanpa adanya
penyulit samping
(38)
.
Dipiridamol
Dipiridamol tak mempunyai khasiat untuk GPDOS dan
stroke iskemik. Gabungan antara ASA dan dipinidamol tak ada
bedanya dengan ASA saja
(39)
.
Tikiopidin
Di hati tiklopidin menghasilkan suatu metabolit yang
menghambat reseptor ADP dan dengan cara ini menghambat
pula pengikatan fibrinogen dengan glikoprotein IIb/IIIa sehingga
agregasi tombosit terganggu
(40)
.
Tiklopidin khasiatnya hampir sama dengan ASA, akan tetapi
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 47
efek sampingnya lebih banyak (antara lain netropeni /
agranulositosis, diare). Tiklopidin hanya diberikan pada penderita
GPDOS yang tak tahan ASA
(41)
. Dosisnya 2 X 250 mg. Untuk
mencegah efek samping di Jepang diberikan I X 200 mg
(38)
.
Ginkgo biloba
Ekstrak dari daun ginkgo biloba (EGb 761) mempunyai sifat
antagonis terhadap platelet activating factor (PAF) dan dengan
ini mempunyai efek antiagregrasi trombosit, penghancur radikal
bebas dan merangsang relaksasi pembuluh darah yang kontraksi.
Di Jerman hanya diberikan untuk insufisiensi serebral ringan
dan sedang, klaudikasio intermiten, pengobatan tambahan untuk
tuli karena sindrom servikal. Pada demensia tak ada gunanya
(39)
.
Antibodi monokional terhadap reseptor glikoprotein IIb/IIIA
dari trombosit
Trombi yang resisten terhadap ASA dan heparin sering
terdapat pada tempat-tempat endarterektomi. Pemberian infus
antibodi monokional terhadap reseptor glikoprotein IIb/IIIa dari
trombosit dapat mencegah agregasi trombosit dengan cara
pencegahan ikatan reseptor trombosit dengan fibrinogen atau
faktor von Willebrand. Bahaya penyulit perdarahan lebih
banyak
(42,43)
.
2) Obat Antikoagulansia dan Trombolisis
Urokinase, streptokinase, aktivator plasminogen jaringan
(tpa = tissue plasminogen activator) sering menyebabkan
perdarahan otak atau infark hemoragik, oleh karena itu jarang
digunakan
(39)
.
3) Pembedahan
Bypass ekstrakranial-intrakranial sekarang tak dikerjakan
lagi, karena tak ada gunanya
(39)
.
NASCET (North American Symptomatic Carotid
Endartectomy Trial)
(67)
dan ECST (European Carotid Surgical
Trial)
(68)
menganjurkan endarterektomi pada stenosis karotis 70-
99%. Dengan cara ini terdapat pengurangan stroke fatal 3-6 kali.
Sayangnya cara pengukuran stenosisnya berlainan, 70% stenosis
NASCET sama dengan 82% stenosis ECST. Maka diusulkan
untuk memakai cara metode karotis komunis (CC method).
Arteria karotis komunis diambil sebagai patokan, karena
pembuluh darah ini relatip bebas dari ateroma. [(D-A) : D X
100% stenosis; D = diameter arteria karotis komunis; A = dia-
meter stenosis yang paling sempit dari arteria karotis interna1]
(44)
.
D. PENATALAKSANAAN UMUM PADA STROKE
(39,45)
Cairan dan balans elektrolit harus dipertahankan.
Hiponatremia menyebabkan edema otak.
Saluran pernafasan harus bebas dari kuncup semenit yang
baik harus dipertahankan.
Cegah timbulnya dekubitus dengan bolak balik badan tiap
2-3 jam.
Kejang-kejang harus cepat diatasi
Jangan beri infus glukosa oleh karena timbul asidosis laktat dan
memperburuk keadaan.
Tekanan darah:
Pada orang sehat, aliran darah ke otak (ADO) dipertahankan
konstan oleh autoregulasi antara 55 dan 125 mmHg [ tekanan
arterial sistemik rata-rata = tekanan diastolik + (sistolik -
diastolik)/ 3 ]. Kapasitas mengatur ADO ini berkurang pada
usia lanjut.
Pada penderita hipertensi menahun autoregulasi berawal
pada tekanan darah sistemik yang lebih tinggi (bergeser ke
kanan) dan di bawah tekanan darah ini terdapat hubungan
langsung antara ADO dan tekanan arterial rata-rata.
Pada stroke iskemik pengaturan autoregulasi ADO ter-
ganggu. Perfusi pada daerah iskemik penumbra (jaringan otak
sekitar infark dengan aliran darah kurang akan tetapi meta-
bolisme energi masih utuh) mengikuti tekanan sistemik arterial.
Naiknya tekanan darah pada awal stroke iskemik (reflek
Cushing) adalah reaksi penyesuaian untuk mempertahankan
ADO yang cukup ke daerah penumbra. Atas dasar ini tekanan
darah tak boleh diturunkan pada awal stroke iskemik. Tekanan
darah yang naik biasanya turun sendiri setelah beberapa hari
dan setelah 10 hari tekanan darah normal kembali.
Pada PIS dengan tekanan darah sangat tinggi (tekanan
sistolik> 200 mm Hg, tekanan diastolik> 120 mm Hg) harus
diturunkan sedini mungkin, untuk membatasi pembentukan
edema vasogenik akibat robeknya sawar darah-otak pada
daerah iskemia sekitar perdarahan
(46)
. Di Inggris obat tekanan
darah yang digunakan adalah vasodilator oral yang bekerja
cepat dan singkat, seperti nifedipin sublingual atau melalui pipa
nasogastrik bila terdapat kesukaran menelan. Natrium
nitroprusid tak digunakan lagi karena ia menaikkan ADO dan
tekanan intrakranial sehingga menambah edema otak
(13)
.
Sekarang digunakan ACE-inhibitor (angiotensin converting
enzyme inhibitor) atau penghambat reseptor alfa, oleh karena
batas bawah dan autoregulasi kembali ke kiri
(13)
.
Ensefalopati hipertensif jarang terdapat. Tekanan darah
yang naik mendadak sangat tinggi menyebabkan fenomena
sosis atau tasbih (sausage or bead string phenomenon) dan
dilatasi arterial paksa (forced arterial dilatation) yang
melampaui respon konstriksi (breakthrough ofautoregulation)
sehingga sawar darah-otak rusak dengan pembocoran fokal
cairan melalui dinding arteri yang sudah terentang berlebihan
serta pembentukan edema otak (edema hidrostatik). Pada
keadaan ini autoregulasi tidak bekerja lagi dan ADO mengikuti
secara pasif tekanan perfusi. Dalam hal ini tekanan darah harus
segera diturunkan akan tetapi tak boleh melebihi 40 persen dari
tensi semula untuk mencegah hipoperfusi otak
(45)
.
E. PENGOBATAN MEDISINAL STROKE ISKEMIK
Pengobatan stroke trombotik harus diberikan kurang dari 3
jam (reperfusion window); bukan 6 jam, karena kegagalan
metabolik terjadi dalam waktu 34 jam bila aliran darah ke
daerah terkena tak diperbaiki serta infark otak dan edema otak
timbul 2 jam (maksimal 3 jam) setelah penutupan darah
otak
(47,48)
.
Pengobatan Stroke Trombotik
1) Memperbaiki Perfusi Otak
Vasodilator: misalnya papaverin, prostasiklin dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
48
karbondioksida. Pengobatan ini tak digunakan lagi karena tak
menambah aliran darah ke daerah iskemik akan tetapi mencuri
darah ke daerah vasoaktif yang normal (intracerebral steal
phenomenon).
Menurunkan viskositas darah. hemodilusi isovolemik/
hipervolemik, Pentoksifilin hasilnyakurang memuaskan. Obat-
obat trombolitik (streptokinase. urokinase, aktivator plasmi-
nogen jaringan) dan obat menurunkan fibrinogen [Ancrod =
SVATE-3 (snake venom anti thrombotic enzyme 3) bisaular
dan Malayan pit viper = Agkistrodon rhodostoma] dapat me-
nyebabkan perdarahan intraserebral atau infark hemoragik.
Obat penghambat agregasi trombosit tak berguna untuk stroke
trombotik.
2) Mengurangi Kebutuhan Energi Otak
Dosis tinggi barbiturat: khasiatnya tak dapat dibuktikan.
Hipotermi dapat menimbulkan penyulit jantung dan lain-lain
organ. Berhubung hipertermi dapat merusak otak maka
dianjurkan untuk menurunkan suhu badan sampai normal pada
stroke.
3) Menghambat Masuknya Ion Kalsium ke Dalam Sel
Flunarizin (calcium channel overload blocker) tak berguna
pada stroke akut. Nikardipin (dihydropyridine calcium chan-
nel blocker ) sering memperjelek keadaan stroke karena
hipotensi. Nimodipin (calcium entry blocker yang larut dalam
lemak) khasiatnya untuk stroke iskemik diragukan, walaupun
beberapa penulis yakin berguna bila diberikan kurang dari 6
jam dengan injektor automatik. Efek sitoprotektip dari
nimodipin terbatas sekali, oleh karena ia mencegah masuknya
kalsium ke dalam sel hanya melalui saluran kalsium yang peka
terhadap voltase, akan tetapi tidak melalui saluran agonisnya.
Ia bekerja pada saluran kalsium tipe L (L-type voltage-depen-
dent calcium channel antagonist) dan tipe L ini jarang terdapat
di otak. Gangliosida GM/ memacu fungsi Na+, K+, ATP-ase
dan adenilsikiase dan dapat memacu kesembuhan otak iskemik.
GMI menghambat protein kinase C dan mengikat calmodulin,
yang sebaliknya menghambat nitrik oksida sintase
(50)
. Obat ini
sekarang ditarik dari peredaran karena efek samping
polineuropati yang menyerupai sindrom Guiillain-Barré.
4) Menghambat Aktivitas Reseptor NMDA/AMPA
Obat-obat antagonis reseptor NMDA (N-metil-D-aspartat)
dan AMPA (á-amino-3-hidroksi-5metil-4-isoksasolproprionat)
masih dalam taraf penyelidikan. Gabungan hipotermi dan
antagonis NMDA lebih baik danipada antagonis NMDA saja.
Obat antagonis reseptor AMPA lebih baik dari pada antagonis
reseptor NMDA pada nekrosis iskemi selektip dan neuron
hipokampus dan infark neokortikal.
5) Nitrik Oksida (NO)
NO mempunyai peranan timbal balik pada kerusakan otak
iskemi. Pada satu sisi NO adalah vasodilator kuat yang berguna
pada fase akut dan iskemi otak dengan cara menambah aliran
darah ke daerah iskemi. Pada sisi lain, NO pada konsentrasi
yang tinggi menghambat ensim mitokondria dan menyebabkan
pembentukan peroksinitrit yang sangat toksik.
Sintesis NO dan L-arginin dapat dihambat oleh analog L-arginin.
Pada binatang percobaan hasil pengobatan analog L-arginin
pada stroke iskemik masih bertentangan.
6) Penghancur Radikal Bebas
Tirilazad mesylate (21 -aminosteroid) adalah penghambat
kuat peroksidase lipid. Khasiatnya pada binatang percobaan
masih bertentangan.
7) Aktivator Metabolik
Tak ada bukti bahwa kodergoknin , piracetam, nicergolin,
piritinol dan sebagainya berguna untuk stroke akut. CDP-kolin
digunakan di Jepang untuk pasca-stroke.
8) Mencegah Edema Otak
Kegunaan gliserol untuk stroke masih diragukan, hanya
ada satu makalah yang mengatakan gliserol berguna.
Steroid dosis rendah atau tinggi tak ada gunanya dan dapat
berbahaya pada neuron iskemik.
Pada pemakaian mannitol harus dipantau fungsi ginjal dan se-
rum osmolalitas antara 300-320 mOsm. Penggunaan jangka
panjang dapat mengganggu elektrolit, edema otak dan kejang-
kejang.
Furosemid menghambat pembentukan cairan serebrospinal
dan dapat mengurangi edema vasogenik.
Hiperventilasi: efek kerjanya cepat setelah 10-30 detik dan
maksimum setelah 2-3 menit. Keburukannya: tekanan intra-
kranial kembali ke ambang semula setelah 12-18 menit.
Albumin: pemberian infus isovolemik dengan albumin
hiperosmolan berguna untuk edema iskemik.
Pengobatan Stroke Embolik dan Pencegahannya:
Dengan ekokardiografi transesofageal (TEE) dapat
ditemukan 46% kelainan jantung dibandingkan dengan
ekokardiografi transtorakal (TTE)
(51)
.
1) Antikoagulansia
Pemberian antikoagulansia untuk stroke kardio-embolik
dipertentangkan. Bila pada CT-scan terlihat infark hebat, pe-
ningkatan kontras dan infark hemoragik kecil, tak boleh diberi
antikoagulansia
(52)
.
2) Fibrilasi atrial non-rematik tanpa stroke
Untuk penderita kurang dari 75 tahun tanpa faktor risiko
stroke sebaiknya diberi ASA. Untuk penderita yang lebih muda
dengan faktor risiko dianjurkan pemberian antikoagulansia
dengan warfanin. Untuk penderita lebih dari 75 tahun sebaiknya
jangan diberi antikoagulansia karena risiko perdarahan besar
sekali
(54,55)
.
3) Trombosis ventrikel kiri
30-35% infark miokard anterior menunjukkan penyulit
pembentukan trombus ventrikel dan ini dapat dikurangi sampai
kira-kira 15% dengan pengobatan dini dosis tinggi hepanin.
Bahaya penyulit perdarahan 25%. Pengobatan dengan
antiagregasi trombosit tak ada gunanya
(56)
.
F. STROKE HEMORAGIK
PERDARAHAN SUBARAKNOID ANEURISMAL (PSA)
(57)
Prevalensi aneurisma yang belum pecah 0.5-1 persen dari
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 49
penduduk Amerika Serikat (atau kira-kira 2 juta orang).
Pecahnya aneurisma diperkirakan 1-2 persen.
PSA temasuk kedaruratan medik. Timbulnya mendadak
sekali, biasanya dengan sakit kepala hebat sekali (thunderclap),
disertai hilangnya kesadaran sebentar, mual, muntah dan defisit
neurologik fokal atau kaku kuduk. Diagnosis dalam 24 jam
setelah serangan adalah dengan CT-scan tanpa kontras pada 92%
kasus. Bila CT-scan negatif dapat dilakukan pungsi lumbal. MRI
kurang diminati. Angiografi selektip adalah pilihan pertama
untuk mendiagnosis aneurisma. MRA (magnetic resonance
angiography) dan CT-scan dengan kontras kurang disenangi.
TCD (transcranial doppler ultrasonography) dilakukan untuk
mendiagnosis vasospasme, akan tetapi ahli bedah lebih percaya
pada angiografi serebral.
Penatalaksanaan PSA aneurismal
Istirahat total.
Pengobatan antifibrinolitik (tranexamic acid atau epsilon
aminocaproic acid) hanya diberikan pada penderita tanpa
vasospasme atau persiapan operasi. Antifibrinolitik dapat
menimbulkan defisit neurologik fokal.
Untuk mencegah vasospasme dapat diberikan nimodipin
per oral atau pro infus, atau tirilazad mesylate dalam 72 jam
dan diteruskan selama 8-10 hari, setelah 3 bulan angka
kematian berkurang 43 persen, dan vasospasme 28%
(48)
.
Angioplasti transluminal dianjurkan pada bila pengobatan
konvensional tak berhasil.
Antikonvulsan diberikan sebagai profilaksis karena pada
pecah ulang sering diikuti oleh kejang.
Pada hidrosefalus akut (obstruktif) dianjurkan ventriku-
lostomi. Ventriculo-peritoneal shunt sementara atau permanen
dilakukan pada hidrosefalus kronis (komunikans).
Penyulit hiponatremia dapat diberikan fludrokortison atau
infus cairan isotonik. Perlu dipantau tekanan vena sentral,
tekanan kapiler paru-paru (pulmonary capillary wedge
pressure), balans cairan dan berat badan.
Operasi aneurisma dilakukan kurang dari 3 hari sebelum
timbulnya vasospasme.
PERDARAHAN INTRASEREBRAL (PIS) PRIMER
SPONTAN (PIS)
(49,58)
PIS merupakan sepuluh persen dari semua stroke. Biasa-
nya tak didahului gangguan peredaran otak sepintas (GPDOS).
Sakit kepala, muntah-muntah dan penurunan kesadaran adalah
gejala utamanya. Tempat perdarahan di putamen (35%), lobar
(30%), serebelum (15%), talamus (10%), pons (5%) dan nukleus
kaudatus (5%). Mesensefalon dan medulla jarang sekali terkena.
Diagnosis terbaik dengan CT-scan. Angiografi diperlukan untuk
PIS tanpa hipertensi, perdarahan lobar, multipel dan atipikal.
Penatalaksanaan
Pengobatan Medikal
Tekanan darah diturunkan bila tekanan sistolik> 200 mm/
Hg, penurunan tekanan darah tak boleh melebihi 40 persen,
agar autoregulasi aliran darah ke otak (ADO) tak terganggu.
Sebaiknya dipilih obat ACE inhibitor atau penghambat reseptor
alfa, karena kurve autoregulasi bergeser ke kiri lagi dan
penurunan tekanan darah tak mempengaruhi ADO.
Obat-obat antifibrinolisis diberikan hanya pada PIS karena
aneurisma yang pecah, dengan catatan dapat menimbulkan
infark otak.
Hiperventilasi dan obat-obat hiperosmolar seperti mannitol
dianjurkan untuk mengobati edema otak. Pemberian mannitol
sebaiknya diberikan setelah 4-6 jam pada waktu hematoma
menggumpal. Kortikosteroid dan barbiturat tak dianjurkan.
Obat antikonvulsan diberikan sebagai profilaksis, bila PIS
terletak di korteks atau subkortikal. Percobaan di Lab./UPF
Ilmu Penyakit Saraf IRSUD Dr. Soetomo, Surabaya,
menunjukkan tak ada perbedaan bermakna pada pemberian
nimodipin dan pengobatan konservatif
(59)
.
Prognosis PIS tergantung pada tingkat kesadaran (pada
konta atau stupor, angka kematian 70-100%); tempat lesi
(perdarahan pons, talamus, mesensefalon prognosis buruk);
volume perdarahan (volume perdarahan z 30 ml 5% meninggal,
30-50 ml 35% meninggal dan > 50 ml diikuti oleh 85%
kematian); penampang hematoma (penampang <3 cm di
putamen, lobar biasanya sembuh sendiri).
Tindakan Bedah
Aspirasi stereotaksik memberi hasil fungsional Iebih baik
untuk perdarahan ringan atau sedang (stadium II dan III). Pada
perdarahan besar (stadium IVa = semikoma tanpa herniasi)
tindakan langsung lebih baik dari pada aspirasi stereotaksik
(58)
.
Pengobatan AVM (arterio-venous malformation) intrakranial
dengan cara bedah mikro atau bedah radiologis dengan pisau
gamma (gamma knife radiosurgery) pada AVM dengan dia-
meter kurang dari 3 cm
(60)
.
Perbaikan gejala setelah pemberian oksigen hiperbarik
adalah indikasi untuk operasi. Demikian juga bila pada
pemberian mannitol atau gliserol terdapat perbaikan SSEP
(somatosensoric evoked potential) dan BAEP (brainstem audi-
tory evoked potential) merupakan indikasi untuk operasi.
Dianjurkan dioperasi secepat mungkin, kurang dari enam
jam
(58)
. Bila tak dapat dioperasi sedini mungkin, dianjurkan
operasi pada hari ke 5-15 saat badai vegetatif mulai mereda
(45)
.
STROKE PADA MASA YANG AKAN DATANG
Walaupun terdapat kemajuan pesat dalam neuroimaging,
akan tetapi penilaian klinis pertama, seperti pemeriksaan
neurologik dan anamnesis cermat masih tetap sebagai pemandu
utama untuk penilaian tepat dan rencana pengobatan.
Semua stroke harus dianggap sebagai kedaruratan medik,
semua penderita harus diobati sebelum 3-4 jam, dan semua
penyelidikan sebelumnya yang dilakukan lebih dari 3 jam harus
diulang lagi
(61)
.
Penyelidikan yang akan datang ditujukan pada periinfarct
penumbra (jaringan otak sekitar infark dengan aliran darah
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
50
kurang akan tetapi rnetabolisme energi masih utuh), karena inti
dari iskemi rusak (ireversibel) akibat kekurangan darah,
sedangkan daerah sekitar inti iskemi masih reversibel.
Kerusakan ini disebabkan karena pelepasan neurotransmitter
glutamat, diikuti oleh masuknya natrium dan kalsium dalam
jumlah besar sehingga sel mati
(48)
. Hossmann (1994)
mempelopori penyelidikan ini dengan mengatakan bahwa inti
infark meluas ke sekitar infark (periinfarct penumbra) dengan
cara depresi polarisasi berulang-ulang (periinfarct spreading
depression-like depolarization) dan meluasnya depresi
depolarisasi dapat dicegah dengan penghambat g1utamat
(62)
.
Penyelidikan dalam bidang biomolekular akan berkembang
terus, untuk mengetahui neurotransmitter apa yang memacu
pelepasan glutamat dan sebagainya. Dasar-dasar imunologi
yang mempengaruhi stroke dikembangkan, seperti penggunaan
antibodi monokional terhadap reseptor glukoprotein IIb/IIIa di
permukaan trombosit
(42)
.
Pengobatan dengan gen dan rekayasa genetika mulai
dirintis, misalnya dengan teknik kateter memindahkan DNA
asing ke dinding pembuluh darah yang mengalami
Aterosklerosis. Mencegah restenosis setelah revaskularisasi dan
angiogenesis
(63)
. Pengobatan gen dengan sel somatik manusia
(somatic-cell human gene therapy = SHGT) dengan insersi gen
normal atau yang dimodifikasi ke sel somatik orang, untuk
mengkoreksi kelainan genetika (enhancement engineering)
(64)
.
STROKE ADALAH MASALAH KESEHATAN NASIONAL
Dari pembicaraan di atas diketahui bahwa lebih dari 50%
penderita stroke masuk rumah sakit di Lab. Ilmu Penyakit Saraf
/ RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan 32,1% meninggal.
Prevalensi total stroke diperkirakan 5-8 per 1000 penduduk
diatas usia 25 tahun
(3)
. Jadi di Indonesia dengan 148 juta jiwa
diperkirakan lebih dari 1 jutajiwa terkena stroke dan pada tahun
2000 diperkirakan lebih dari 1,5 juta terkena stroke.
Dengan kemajuan dalam bidang kesehatan masyarakat, ilmu
kedokteran dan sosial maka harapan panjang umur bertambah.
Pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia sangat
tinggi, yakni dari 11,5 juta pada awal Pelita V menjadi 14,2
juta di akhir Pelita yang sama, maka masyarakat yang terkena
stroke alcan bertambah banyak.
Berhubung jendela pengobatan (therapeutic window) sangat
sempit (< 3 jam) , maka stroke termasuk kedaruratan medik.
Untuk mendeteksi dini stroke masyarakat perlu dididik melalui
TV, radio, penyuluhan, poster-poster dan sebagainya. Pesan dasar
harus sederhana ialah panggil segera petugas pelayanan medik
darurat (PPMD) . Jangan menunda pengobatan bila stroke
sembuh lagi (GPDOS). Pendidikan dan latihan harus ditujukan
pula pada PPMD dan dokter yang menangani stroke
(2)
.
Untuk megurangi kecacatan dan kematian stroke kami
menghimbau agar di Surabaya dibentuk unit stroke. Indredavik
dan kawan-kawan (1991) mengatakan bahwa di unit stroke
kematian stroke setelah 6 minggu 7,3%, sedangkan yang
diobati di bangsal umum 17,3% meninggal dan kualitas hidup
(kesembuhan fungsional) lebih baik pada penderita yang diobati
di unit stroke
(65)
. Termasuk dalam unit stroke ini ialah: unit
perawatan stroke akut, unit rehabilitasi stroke dan seksi
perawatan terus menerus. Anggota-anggota dari regu stroke
multidisipliner ini termasuk dokter ahli saraf, bedah saraf,
geniatri, penyakit dalam, rehabilitasi; ahli fisioterapi; ahli terapi
penerapan kenja (occupational therapist); ahli kemampuan
bicara dan bahasa; perawat; pekerja sosial (social worker); ahli
gizi; psikolog dan sebagainya
(60)
.
KEPUSTAKAAN
1. WHO MONICA Project, Principal Investigators. The World Health
Organisation MONICA Project (monitoring trends and determinants in
cardiovascular disease): a major international collaboration. J Clin
Epidemiol 1988; 41: 105-114
2. American HeartAssociation: Heart and stroke facts statistics, Dallas,Texas,
1992
3. Christie D. Prevalence of stroke and its sequellae. Med J Aust 1981; 8:
182-184
4. Witztum JL. The oxidation hypothesis of atherosclerosis. Lancet 1994;
344: 793-795
5. Serafini M, Ghiselli A, Ferro-Luzzi A. Red wine, tea and antioxidants.
Lancet 1994; 344: 626
6. Lorgeril de M, Reaud S, Mamelle Net al. Mediterranean alpha-linolenic
acid-rich diet in secondary prevention of coronary heart disease. Lan-
cet1994; 343: 1454-1459
7. Keli SO, Feskens EJM, Kromhout D. Fish consumption and risk of stroke:
The Zutphen Study. Stroke 1994; 25: 328-332
8. Goldstein MR. Mediterranean diet and coronary heart disease. Lancet
1994; 344: 276
9. Mann GV. Metabolic consequences of dietary trans-fatty acids. Lancet
1994; 343: 1268-1271
10. Roberts TL, Wood DA, Riemersma RA et al. Trans isomers of oleic and
linoleic acids in adipose tissue and sudden cardiac death. Lancet 1995;
345: 278-282
11. Adams H, Brott TG, Crowell RM et al. Guidelines for the management of
patients with acute ischemic stroke. Stroke 1994; 25: 1901-1914
12. Strandgaard S and Paulson OB. Cerebrovascular consequences of hyper
tension. Lancet 1994; 344: 519-521
13. Kaplan NM. Management of hypertensive emergencies. Lancet 1994; 344:
1335-1338
14. Jackson R. Which hypertensive patients should be treated. Lancet 1994;
343: 496-497
15. Marmot MG, Elliot P, Shipley Ini et al. Alcohol and blood pressure: The
intersalt study. Br Med J 1994; 308: 1263-1267.
16. Lipton SA, Rosenberg PA. Mechanisms of disease: Excitatory amino acids
as final common pathway for neurologic disorders. N EngI J Med 1994; 33
613-622
17. Stig-Jørgensen H, Nakayama H, Raaschou HO, Olsen TS. Effect of blood
pressure and diabetes on stroke in progression. Lancet 1994; 344: 156- 159
18. Bell BA, Symon L. Smoking and subarachnoid hemorrhage. Br Med J
1979; 1: 577-578.
19. Sacco RL, Wolf PA, Bharucha NE et al. Subarachnoid and intracerebral
hemorrhage: Natural history, prognosis, and precursive factors in
Framingham study. Neurology 1984; 34:847-854
20. Taha A, Ball KP, Illingworth RD. Smoking and subarachnoid hemorrhage.
J R Soc Med 1982; 75: 332-335
21. MacSweeney STR, Ellis M, Worerell PC etal. Smoking and growth rate of
small abdominal aortic aneurysms. Lancet 1994; 344: 651-652
22. Juvela S, Hillbom M, Numminen H, Koskinen P. Cigarette smoking and
alcohol consumption as risk factors for aneurysmal subarachnoid hemor
rhage. Stroke 1993; 24: 639-646
23. Feinberg WM, Albers GW, Barnett HJM et al. Guidelines for the man
agement of transient chemic attacks. Stroke 1994; 25: 1320-1335
Feldmann E. Intracerebral hemorrhage. Stroke 1991; 22: 684-691
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 51
45. Djoenaidi W. Hipertensi dan stroke. Cermin Dunia Kedokteran 1994; 95:
24-33
24. WHO Task Force on Stroke and Other Cerebrovascular Disorders. Stroke-
1989. Recommendations on stroke prevention, diagnosis, and therapy.
Stroke 1989; 20: 1407-1431
46. O'Connell JE and Gray C. Treating hypertension after stroke. Brit Med J
1994; 308: 1522-1523
25. Criqui MH, Ringel BL. Does diet or alcohol explain the French paradox?
Lancet 1994 344: 1719-1723
47. Djoenaidi W. Pengobatan gangguan peredaran darah otak akut (stroke)
atas dasar patofisiologiny Neurona 1992; 10: 19-22
26. Report of a Meeting of Physician and Scientists, University of Texas
Health Science Center at Houston and Texas Heart Institute, Houston.
Platelet activation and arterial thrombosis. Lancet 1994; 344: 991-994
48. Heros RC. Stroke: early pathophysiology and treatment. Summary of the
fifth annual decade of the brain symposium. Stroke 1994; 25: 1877-1881
49. Djoenaidi W. Dasar biologik stroke iskemik. Simposium on stroke apha-
sia. Surabaya, I Oktober 1994, Plaza Boulevard-Plaza Surabaya
27. Harmsen P, Rosengren A, Tsipogianni A et al. Risk factors for stroke in
middle-aged men in Gdteberg, Sweden. Stroke 1990: 21: 223-229
50. Dawson TM, Hung K, Dawson VL et al. Neuroprotective effects of gan-
gliosides may involve inhibition of nitric oxide synthase. Ann Neurol
1995; 37: 115-118
28. Oliver MF, Opie LH. Effects of glucose and fatty acids on myocardial
ischaemia and arrhytmias. Lancet 1994; 343: 155-158.
29. Douglas NJ, Polo 0. Pathogenesis of obstructive sleep apnoea/hypopnoea
syndrome. Lancet 1994; 344: 653-655
51. Albers GW, Comess KA, DeRook FA et al. Transesophageal
echocardiographic findings in stroke subtypes. Stroke 1994; 25: 23-28
30. Hoffstein V. Blood pressure, snoring, obesity, and nocturnal hypoxaemia.
Lancet 1994; 344: 643-645
52. Yatsu FM, Hart RG. Mohr JP and Grotta JC. Ariticoagulation of embolic
strokes of cardiac origin: an update. Neurology 1988; 38: 314-316
31. Simonds AK. Sleep studies of respiratory function and home respiratory
support. Brit Med J 1994; 309: 3 5-40
54. White HD. Aspirin or warfarin for non-rheumatic atrial fibrillation. Lan-
cet 1994; 343: 683
32. Antiphospholipid Antibodies in Stroke Study Group (APASS). Clinical,
radiological, and pathological aspects of cerebrova.scular disease associ-
ated with antiphospholipid antibodies. Stroke 1993; 24: I-120-1-123
55. Stroke Prevention in Atrial Fibrillation Investigators. Warfarin versus
aspirin for prevention of thromboembolism in atrial fibrillation: Stroke
Prevention Atrial Fibrillation II Study. Lancet 1994; 343: 687-691
33. LindenstrOm E, Boysen G and Nyboe J. Influence of total cholesterol,
high density lipoprotein cholesterol, and triglycerides on risk of cerebro-
vascular disease: the Copenhagen city heart study. Brit Mcdi 1994; 309:
11-15
56. Editorial. Ticlopidine. Lancet 1991; 337: 459-460
57. Mayberg MR, Batjer HH, Dacey R et al. Guidelines for the management of
aneurysmal subarachnoid hemorrhage. Stroke 1994; 25: 23 15-2328
58. Kanno T, Nagata J, Nomura K et al. New approaches in the treatment of
hypertensive intracerebral hemorrhage. Stroke 1993; 24 (suppl 1): 1-96-I-
100.
34. Ryu JE, Howard G, Craven TE et al. Postprandial triglyceridemia and
carotid atherosclerosis in middle-aged subjects. Stroke 1992; 23: 823-
828
59. Djoenaidi W. Pengalaman pengobatan nimodipin pada stroke hemoragik di
bangsal Lab .IUPF ilmu Penyakit Saraf/Dr.Soetomo, Surabaya. Perdossi
(Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia) di Bandung, 1993.
35 National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Clas-
sification of cerebrovascular diseases 111. Stroke 1990; 21: 637-676
36. Helgason LM, Bolin KM. Hoff JA et al. Development of aspirin resis
tance in persons with previous ischemic stroke. Stroke 1994; 25: 2331-
2336
60. Linqvist M, Lindqvist C, Ericson K et al. Stereotaxic angiography in
gamma knife radiosurgery of intracranial AVMs. A J N R 1992; 113:
1107-1114
37. Patrono D. Aspirin as an antiplatelet drug. N Engl J Med 1994; 330:
1287- 1294
61. Norris JW. Future of stroke management. Stroke 1991; 22: 1609
62. Hossmann K-A. Viability thresholds and the penumbra of focal ischemia.
Ann Neurol 1994; 36: 557-565
38. Komiya T, Kudo M, Urabe T, Mizuno Y. Compliance with antiplatelet
therapy in patients with ischemic cerebrovascular disease. Stroke 1994; 25:
233742.
63. Isner JM, Feldman LJ. Gene therapy for arterial disease. Lancet 1994; 344:
1653-1654
39. Djoenaidi W. Dimensi baru penatalaksanaan gangguan peredaran darah
otak sepintas dan stroke iskemik. Simposium Rehabilitasi Stroke, KONAS
11 Ikatan Dokter ahli Rehabilitasi Indonesia (IDARI). Semarang 29 Sep-
tember, 1991
65. Indredavik B, Bakke F, Solberg R et al. Benefit of a stroke unit: a ran-
domized controlled trial. Stroke 1991; 22: 1026-1031
66. Dennis M, Langhorne P. So stroke units save lives: where do we go from
here? Brit Mcdi 1994; 309: 1273-127764.
40. Editorial. Left ventricular thrombosis and stroke following myocardial
infarction. Lancet 1990; 335: 759-760
*. Miller HI. Gene therapy for enhancement. Lancet 1994; 344:316-317
67. North American Symptomatic Carotid Endartectomy Trial Collaborators.
Beneficial effect of carotid endartectomy in symtomatic patients with high
grade carotid stenosis. N EngI J Med 1991; 325: 445- 453
41. Gijn van J, AlgraA. Ticlopidine, trials and torture. Stroke 1994; 25: 1097-
1098
42. Epic investigators. Use of a monoclonal antibody directed against the
platelet glycoprotein IIb/IIIa receptor in high-risk coronary angioplasty.
N EngI J Med 1994; 330: 956-961
68. European Carotid Surgery Trialists' Collaborative Group. MRC Euro pean
Carotid Surgery Trial: Interim results for symptomatic patients with severe
(70-90%) and with mild (0-29%) carotid stenosis. Lancet 1991; 337: 1235-
1243
43. Harker LA. Platelet and vascular thrombosis. N EngI J Med 1994; 330:
1006-1007
69. Kleynen J, Knipschild P. Ginkgo Biloba. Lancet 1992; 340: 1136-1139.
44. Rothwell PM, Gibson Ri, Slattery J, Warlow CP. Prognostic value and
reproducibility of measurements of carotid stenosis. Stroke 1994; 25:
2440-2444
Many men love in themselves what they hate in others
(Benzel Sternan)
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
52