background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 49
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Resistensi Bakteri
terhadap Aminoglikosida
Agus Sjahrurachman
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Antibiotika telah dipakai dan terus dikembangkan sejak 50
tahun yang lalu. Namun ternyata pengobatan penyakit infeksi
masih terus merupakan m Salah satu sebabnya adalah pe-
ningkatan kemampuan bakteri melawan kerja antibiotika.
Terjadinya resistensi bakteri yang tadinya peka terhadap
antibiotika dapat terjadi melalui mutasi pada kromosomnya atau
pertukaran materi genetik di antara mikroba. Pertukaran materi
kromosomal sangat jarang. Yang banyak terjadi adalah per-
tukaran materi genetik ekstrakromosomal, baik berupa plasmid
konjugatif ataupun plasmid non konjugatif. Secara biokimiawi,
resistensi bakteri terhadap antibiotika dapat terjadi melalui
mekanisme: (i). berkurangnya permeabilitas mikroba terhadap
obat, (ii). inaktifasi antibiotika oleh enzim yang dihasilkan bak
ten, (iii). modifikasi reseptor obat, (iv). meningkatnya sintesa
senyawa yang antagonistik terhadap obat
(1)
.
Resistensi bakteri akibat perubahan permeabilitas dapat
terjadi akibat perubahan pada reseptor obat, penurunan kapasitas
transpor obat dan perubahan struktur dinding sel. Mekanisme ini
merupakan mekanisme tersering dalam hal resistensi terhadap
tetrasiklin dan sulfonamida.
Resistensi bakteri karena modifikasi obat secara enzimatik
oleh isolat klinis banyak ditemukan terhadap antibiotika beta
laktam, kloramfenikol dan aminoglikosida. Enzim-enzim yang
memodifikasi antibiotika tersebut dapat disandi oleh gen kro-
mosom maupun gen ekstrakromosom.
Resistensi bakteri terhadap antibiotika karena perubahan
reseptor dapat ditemukan pada resistensi terhadap streptomisin.
Telah diketahui bahwa pada bakteri yang resisten, ribosomnya
berbeda dibandingkan dengan bakteri yang sensitif terhadap
streptomisin. Hal ini disebabkan terjadinya mutasi noktah satu
asam amino pada ribosom 30S. Dampak klinis resistensi tipe ini
tidak begitu penting karena sifatnya tidak menyebar. Contoh lain
resistensi jenis ini adalah resistensi terhadap penisilin pada
bakteri Neisseria gonorrhoeae sebagai akibat perubahan pada
penicillin binding protein (PBP).
Secara ringkas mekanisme resistensi bakteri terhadap anti
biotika dapat dilihat pada Tabel 1.
RINGKASAN
Antibiotika golongan aminoglikosida banyak dipakai, khususnya untuk infeksi be-
rat. Namun ternyata resistensi bakteri terhadapnya cenderung meningkat dan polanya
mungkin berupa resistensi ganda. Karena itu pengetahuan tentang resistensi terhadap-
nya sangat penting agar pemerkiraan pemakaian aminoglikosida menjadi lebih tepat
guna. Dalam makalah ini diuraikan perkembangan resistensi dengan titik berat pada
mekanisme inaktivasi aminoglikosida oleh enzim yang dihasilkan bakteri.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
50
Tabel 1. Mekanisme resistensi bakteri terhadap antibiotika
Mekanisme Obat Contoh
kuman
Kegagalan obat masuk
Beta laktam
Pseudonwnas, Enterobacter
Perubahan sistim
Tetrasiklin
Enterobacteriaceae
transpor, dinding sel
lnaktifasi obat
Beta laktam
Staphylococcus, Haenwphilus
oleh ensim
Kloramfenikol
Staphylococcus
Perubahan target
Eritromisin
Staphylococcus
Klindamisin
Streptomisin
Penisilin
Rifampisin
Staphylococcus
Enterobacteriaceae
Neisseria, Streptococcus
Enterobacteriaceae
Khusus terhadap aminoglikosida, resistensi bakteri dapat
terjadi melalui mekanisme intrinsik (kegagalan antibiotika masuk
ke dalam sel), perubahan permeabilitas membran sel, perubahan
pada ribosom maupun pembentukan enzim yang menginaktifkan
antibiotika
(2,3)
. Galur-galur bakteri yang resisten itu seringkali
timbul.akibat masuknya plasmid yang membawa gen resistensi.
Banyak di antara gen-gen tersebut mampu pindah antar spesies
Adapun data resistensi terhadap aminoglikosida dan isolat
klinis di Bag. Mikrobiologi Fak. Kedokteran Universitas Indo-
nesia tahun 1995 seperti terlihat pada Tabel 2 sudah relatif
tinggi.
Tabel 2. Proporsi kuman resisten terhadap aminoglikosida
Proporsi resisten terhadap
Kuman
Gm Tob Amk Dbk Nd Km Sm
S. aureus
23,7 33,3 4,8 14,8 ­ 27,3 23,6
Klebsiella sp
18,4 ­ 17,9
19,4
40,3
47,0 46,9
Proteus sp
15,2 ­ 11,9
47,1 ­ 465 53,0
E. angglomeratus 36,4 ­ ­ 27,7 ­ 308 ­
A. anintratus
30,2 66,7 35,4 37,6 32,0 49,7 53,9
E. coli
8 1
­ 5,3 7
7
14,3
42,7
71,1
S. \rnaraescens
18,2 ­ 33,3
39,7 ­ 62,8 64,3
P. aeruginosa
34,4 ­ 20,6
27,7 108 84,5 84,1
Catatan:
1. KIebsiella sp mencakup K. pneumoniae, K ozaenae, K. osytocica
2. Proteus sp mencakup Pr. vulgaris, Pr. retigeri, Pr. mirabilis
3. Data dan bulan Januari 1995­ Juni 1995
4. Gm = gentamisin. Tob = tobramisin. Dbk = dibekasin. Ntl = netilmisin.
Km = kanamisin, Sm = streptomisin, Amk = amikasin.
GEN PENYANDI RESISTENSI TERHADAP AMINO
GLIKOSIDA
Asal-usul gen penyandi resistensi terhadap aminoglikosida
sukar dipastikan. Terdapat dua teori dasar yang menerangkan hal
tersebut.
Dalam teori pertama, gen penyandi resistensi terhadap
aminoglikosida yang terdapat pada galur-galur isolat klinis di-
duga berasal dan mikroba penghasil aminoglikosida. Dalam hal
ini, keberadaan gen penting untuk mempertahankan kehidupan
mikroba tersebut. Dengan kata lain, acrinomycetes mungkin me-
rupakan sumber gen resistensi terhadap aminoglikosida dari
kuman yang sekarang ditemukan resisten terhadap antibiotik
tersebut. Teori ini didukung temuan adanya macam-macam gen
yang menyandi enzim penghancur aininoglikosida dan actino-
mycetes di antaranya adalah : APH(3")-Va, APH(3')-Vb, APH
(3')-Vc, AAC(3')-VIIa, AAC(3)-VIIIa, AAC(3)-IXa, AAC(3)-
Xa dan APH(6)-Ia
(4)
.
Teori lain menduga bahwa gen resistensi terhadap amino-
glikosida berasal dari gen sel bakteri yang terlibat dalam meta-
bolisme normalnya. Menurut teori ini, sebagai akibat pemakaian
aminoglikosida terjadi tekanan selektif yang memungkinkan
terjadinya mutasi gen bakteri. Mutasi menyebabkan gen dieks-
presikan dalam bentuk ensim penghancur arninoglikosida. Gen
seperti tersebut dengan tehnik hibridisasi DNA di atas dapat di-
temukan pada bakteri S. marcescens
(6)
. Pada S. marcescens galur
peka terhadap aminoglikosida, gen tersebut tidak berekspresi.
Selain gen yang kromosomal, gen resistensi terhadap amino-
glikosida juga banyak dijumpai pada plasmid. Dalam hal ini, gen
penyandi tersebut tersisip pada integnon plasmid
(7)
. Beberapa
gen tersisip secara tandem dengan integnon dan dengan adanya
promoter yang kuat, gen akan berekspresi dengan baik. Hal ter-
sebut menerangkan terjadinya resistensi terhadap antibiotika
aminoglikosida berganda. Di antara gen penyandi resistensi
terhadap aminoglikosida yang terdapat pada plasmid adalah :
ANT(2 AAC(3)-Ia, ANT(3')-Ia, AAC(6')-Ia, AAC(6')-IIa dan
AAC(3)-VIa. Dengan kemampuan gen pindah dan satu replikon
ke replikon lain dan dengan hospes bakteri yang luas,
penyebaran resistensi menjadi Iebih cepat. Data pada tahun 1983
menunjukkan bahwa bakteri menjadi resisten terhadap
aminoglikosida dengan satu mekanisme dan menjadi banyak
mekanisme pada akhir-akhir ini
(10,11)
. Berbagai jenis gen pe-
nyandi resistensi terhadap aminoglikosida dapat dilihat pada
Tabel 3.
ENZIM YANG BEKERJA PADA AMINOGLIKOSIDA
Enzim yang memodifikasi aminoglikosida dapat dibagi tiga
golongan besar, yaitu:
1) Golongan asetiltransferase (ACC)
2) Golongan adeniltransferase (ANT)
3) Golongan fosfotransfenase (APH)
Tiap golongan dibagi lagi atas dasan profil protein enzim dan
profil resistensi yang dibawanya.
Golongan asetiltransferase dibagi lagi atas :
1) AAC(L). Bakteri yang menghasilkan enzim ini nesisten ter-
hadap apramisin, lividomisin, paromomisin dan ribostamisin In
vitro, enzim ini juga menyebabkan asetilasi butinosin dan
neomisin
(13)
. Modifikasi aminoglikosida oleh enzim terjadi
pada gugus amino posisi 1.
2) AAC(3). Enzim ini bekerja dengan cara memodifikasi
aminoglikosida pada gugus amino posisi 3. Dan berbagai gen
yang telah diklon dan dianalisis, paling tidak terdapat 14 jenis
gen yang dampaknya terhadap pola resistensi dapat dibagi atas
5 jenis, yaitu:
2.1) AAC(3)-I. Kuman penghasil enzim ini resisten terhadap
gentamisin, fortimisin dan astromisin
(9)
. Enzim ini banyak
ditemukan pada kuman Enterobacteriaceae, Pseudomonas,
Serratia dan Acinetobacter. Gen penyandinya ada dua dan
enzimnya mempunyai beratmolekul masing-masing 19 dan
19.3 Kda.
background image
Tabel 3. Sifat resistensi terhadap aminoglikosida
Mekanisme Fenotip Enzim
Genotip
Sifat#
Asetilasi
Adenilasi
Fosfotilasi
Gm, Astm, Siso
Gm, Tob, Dbk, Ntl,
6Ntl, 2Ntl, Siso
Gm, Tob, Dbk, 5Epi,
Siso
Gm, Tob, Dbk, Ntl,
6Ntl, 2NtI, Apr, Siso
Gm, 6Ntl, Siso
Tob, Dbk. Ntl, Amk, 2NtI
5Epi, Siso
Gm, Tob, Dbk, NtI, 6Ntl
Gm, Tob, Dbk, Km
Sm, Spcm
Tob, Amk, Isp
Sm
Spcm
Km, Neo, Prm, Rsm,
Lvdm, GmB
Km, Neo, Prm, Rsm,
But, GmB
Km, Neo, Prm, Rsm,
Lvdm, But, GmB, Amk,
Isp
Km, Neo, Prm, Rsm, But
Neo, Prm, Rsm
AAC(3)-I
AAC(3)-II
AAC(3)-III
AAC(3)-IV
AAC(3)-VI
AAC(6')-I
AAC(2')-I
ANT(2")-I
ANT(3")-I
ANT(4')-II
ANT(6)-I
ANT(9)-I
APH(3')-I
APH(3')-II
APH(3')-III
APH(3')-IV
APH(3')-V
aac(3)-Ia
aac(3)-Ib
aac(3)-IIa
aac(3)-IIb
aac(3)-IIc
aac(3)-IIIa
aac(3)-IIIb
aac(3)-IVa
aac(3)-VIa
aac(6')-Ia
aac(6')-Ib
aac(6')-Ic
aac(6')-Id
aac(2')-Ia
ant(2")-Ia
ant(2")-Ib
ant(2")-Ic
ant(3")-Ia
ant(4')-IIa
ant(6)-Ia
ant(9)-Ia
aph(3')-Ia
aph(3')Ib
aph(3')-Ic
aph(3')-IIa
aph(3')-IIIa
aph(3')-IVa
aph(3')-Va
aph(3')-Vb
aph(3')-Vc
P
P
P
P
P
P
K
Tn
K
P
P
P
P
P
P
Tn
Tn
P
P
Tn
P
K
K
K
K
Catatan:
K = kromosomal, P = plasmid, Tn = transposon, Gm = gentamisin. Amk =
amikasin,Siso = sisomisin,NtI = netilmisin, Astm = astromisin, Tob = tobramisin,
Dbk = dibekasin, 5Epi = 5 episisomisin, Apr = apranusin. But = butirosin, Hyg =
higromisin, Isp = isepamisin, Lvdm = lividomisin, Neo = neomisin, Sm =
streptomisin, Pm = paranwmisin, Rein = ribostamisin, Spcm = spectinomisin.
2.2) AAC(3)-II. Kuman penghasil enzim ini resisten terhadap
gentamisin, tobramisin, dibekasin, netilmisin, 2-etilnetilmisin,
6-Netilnetilmisin dan sisomisin
(9)
. Enzim ini berturut-turut dalam
frekuensinya banyak dihasilkan oleh kuman Enterobacteriaceae,
Serratia, Acinetobacter dan Pseudomonas. Gen penyandinya
tiga macam dan enzim yang disandinya mempunyai berat ma-
sing-masing 31.5; 29.6 dan 30.5 Kda.
2.3) AAC(3)-III. Kuman penghasil enzim ini resisten terhadap
gentamisin, dibekasin dan 5-episisomisin
(14)
.
2.4) AAC(3)-IV. Kuman penghasil enzim ini resisten terhadap
gentamisin, tobramisin, dibekasin, netilmisin, 2N etilnetilmisin,
6N etilnetilmisin apramisin dan sisomisin. Enzim ini jarang
dihasilkan Enterobacteriaceae dan dijumpai pada kira-kira 3,5%
kuman gram negatif
(4)
. Enzim yang disandi oleh gen aac(3)-Iva
mempunyai berat 28.5 Kda dan berada di periplasma karena itu
bekerja lebih efektif.
2.5) AAC(3)-VI. Kuman penghasil enzim ini resisten terhadap
gentamisin dan 6 N etilnetilmisin (4 Gen penyandi AAC(3)-VI
sangat jarang ditemukan pada Enterobacteriaceae. Berat mole-
kul enzimnya adalah 31.1 Kda.
2.6) AAC(3)-VI1­X. Kuman penghasil enzim ini mempunyai
salah satu profilnya resisten terhadap gentamisin, kanamisin,
dibekasin, neomisin dan paromomisin. Enzim yang termasuk
kategori ini mungkin bukan cuma satu jenis, karena itu profil
resistensinya juga belum dapat dirinci
(4)
. Sejauh ini diketahui
bahwa masing-masing hanya satu gen, yaitu aac(3)-Vll dan S.
rimosus, aac(3)-Vffl dan S. fradiae, aac(3)-IX dan M. choleca
dan aac(3)-X dan S. griseus yang telah diidentifikasi.
3) AAC(6'). Enzim ini bekerja dengan memodifikasi amino-
glikosida pada gugus amino 6. Kelompok enzim ini dibagi lagi
atas tigajenis, yaitu:
3.1) AAC(6')-I. Kuman pembawa enzim ini resisten terhadap
tobramisin, dibekasin, amikasin, 5-episisomisin, netilmisin, 2N
etilnetilmisin dan sisomisin Diperkirakan 9.6% Pseudomonas
dan 77% Serratia mempunyai profil seperti ini. Diketahui ter-
dapat paling tidak enam gen yang mampu menyandi sintesis
enzim-enzim i. Diperkirakan semua Serratia membawa salah
satu gen tersebut
(6)
.
3.2) AAC(6') + APH(2"). Enzim ini sifatnya bifungsi, yaitu
menyebabkan asetilasi gugus amino padaposisi 6' dan fosforilasi
posisi 2". Fenotipnya ditandai dengan resistensi terhadap gen-
tamisin, tobramisin, dibekasin, netilmisin, 2 Netilnetilmisin, 6 N
etilnetilmisin, amikasin, isepamisin, 5 episisomisin dan forti-
misin
(15,16,17)
. Pada mulanya gen penyandi diduga hanya terdapat
pada kuman gram positif, tetapi data penelitian lain
(4)
menunjuk-
kan bahwa gen ini juga ditemukan pada kuman gram negatif.
Karena gen tersebut dibawa oleh plasmid, temuan tersebut mem-
buka kemungkinan terjadinya perpindahan gen dan sifat feno-
tipnya dan kuman gram positif ke kuman gram negatif.
3.3) AAC(6')-II. Kuman penghasil enzim ini resisten terhadap
gentamisin, tobramisin, dibekasin, netilmisin, 2N etilnetilmisin
dan sisomisin
(9)
. Gen yang menyandinya diperkirakan lebih dan
satu gen dan gen tersebut berhibndisasi silang dengan gen
penyandi enzim AAC(6')-I
(6)
. Gen penyandi AAC(6')-II
banyak ditemukan pada Pseudomonas aeruginosa.
4) AAC(2'). Enzim ini memodifikasi aminoglikosida dengan
cara.asetilisasi gugus amino padaposisi 2'. Sifat fenotipnya
ialah resisten terhadap gentamisin, tobramisin, dibekasin,
netilmisin dan 6N etilneti1misin
(13)
. Walaupun pernah
ditemukan pada Pseudomonas, hampir semua gen penyandi
enzim ini ditemukan pada kuman Proteus dan Providencia.
Golongan adeniltransferase bagi lagi atas lima, yaitu:
1) ANT(2"). Sifat fenotip yang dibawanya menyebabkan resis-
tensi terhadap gentamismn, kanamisin, tobramisin, dibekasin
dan sisomisin. Gen penyandmnyalerbagi atas tiga jenis gen dan
telah ditemukan luas pada banyak kuman gram negatif
(4)
.
2) ANT(3"). Sifat fenotip yang dibawanya menyebabkan resis-
tensi terhadap streptomisin dan spektinomisin. Enzim bekerja
dengan cara memodifikasi gugus hidroksil pada posisi 3" untuk
streptomisin dan 9" untuk spektinomisin
(18)
. Gen penyandinya
tersebar luas pada kuman grain negatif. Enzimnya terdapat peri-
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 51
background image
plasma karena itu efektif dalam menginaktifkan aminoglikosida
substratnya.
3) ANT(4). Sifat fenotip yang dibawanya menyebabkan resis-
tensi pada tobramisin, amikasin, isepamisin dan aminoglikosida
lain yang mempunyai gugus pada posisi 4 hidroksil
(19)
.
3.1) ANT(4')-I. Enzim ini hanya ditemukan pada kuman gram
positif
(20)
dan profilnya juga mencakup dibekasin karena ter-
jadinya modifikasi gugus hidroksil pada posisi 4' dan 4".
3.2) ANT(4')-II. Gen yang menyandinya mula-mula ditemukan
pada kuman Pseudomonas, tetapi akhir-akhir ini juga
ditemukan pada E. coli Klebsiella, Citrobacter dan Serratia
(19)
.
4) ANT(6)-I. Profilnya ditandai dengan resistensi terhadap
streptomisin
(21)
. Gen penyandinya banyak ditemukan pada Sta-
phylococcus dan Enterococcus.
5) ANT(9)-I. Profilnya ditandai dengan resistensi hanya ter-
hadap spektinomisin. Gen penyandinya telah diklon dan trans-
poson Tn554
(18)
.
Golongan fosforilase dibagi lagi atas:
1) APH(3'). Profil resistensi utamanya adalah terhadap kana-
misin dan neomisin
(21)
. Pembawa fenotip kelompok ini dibagi
lagi atas tujuh, yaitu:
1.1) APH(3')-I. Profil resistensinya adalah terhadap kanamisin,
neomisin, paromomisin, ribostamisin, lividomisin dan genta
misin. Sembilanjenis genpenyandinyatelah berhasil dikion dan
gen-gen tersebut terdapat luas pada bakteri gram negatif. Salah
satu di antara gen tersebut dikion dan transposon.
1.2) APH(3')-ll. Profil resistensinya adalah terhadap
kanamisin, neomisin, paromomisin, ribostamisin, butirosin dan
gentamisin. Gen penyandinya telah salah satu di antaranya
diklon dan transposon dan jarang ditemukan pada isolat klinik.
1.3) APH(3')-III. Profil resistensinya adalah terhadap
kanamisin, neomisin, paromomisin, ribostamisin, butirosin dan
genta misin
(2,21)
. Sekalipun amikasin dan isepamisin
dimodifikasi in vitro, derajat resistensi terhadapnya rendah
(23)
.
Gen penyandinya banyak ditemukan pada bakteri gram positif
dan dapat juga di temukan pada Campylobacter.
1.4) APH(3 `)-IV. Profil resistensinya adalah terhadap
kanamisin, neomisin, paromomisin, ribostamisin dan butirosin.
Distribusi nya dalam bakteri belum banyak ditelaah.
1.5) APH(3')-V. Profil resistensinya adalah terhadap neomisin,
ribostamisin dan paromomisin. Keberadaan tiga gen
penyandinya pada bakteri patogen belum diketahui.
1.6) APH(3')-VI. Profil resistensinya adalah terhadap
kanamisin, neomisin, paromomisin, ribostamisin, nutirosin,
gentamisin, amikasin dan isepamisin
(24)
. Gen penyandinya
banyak ditemu kan pada Acinetobacter. Selain itu juga
ditemukan pada K1ebsiella
(25,26)
.
1.7) APH(3')-VII. Profil resistensinya adalah terhadap kana
misin dan neomisin
(27)
. Enzim yang disandinya juga memecah
amikasin tetapi jumlahnya sangat sedikit. Gen ditemukan pada
Campylobacter.
2) APH(3")-I. Gen penyandinya dua macam dan telah dikion
dan jamur Streptomyces griseus. Enzim yang disandinya akan
memodifikasi streptomisin pada gugus hidroksil 3".
3) APH(6)-I. Gen penyandinya enam macam dan enzim yang
disandinya akan memodifikasi gugus hiclroksil pada posisi 6.
Gen penyandinya ditemukan pada jamur Streptomyces griseus,
Streptomyces glaucescens.
4) APH(4)-I. Profil resistensinya adalah terhadap higromisin.
Gen penyandinya dua macam dan telah ditemukan pada E. coli
dan Streptomyces hygroscopicus.
KEPUSTAKAAN
1. Willet HP. Antimicrobial agents. Dalam Zinsser Microbiology. Joklik WK,
Willet HP, Amos, PB. (eds). Appleton Century Croft, Norwalk. 18 ed.
1984.
2. Courvalin P, Carlier C. Resistance towards aminoglycoside-aminocyclitol
antibiotics in bacteria. J. Antimicrob. Chemother 1981; 8: 57­69.
3. Foster Ti. Plasmid-determined resistance to antimicrobial drugs and toxic
metal ions. Microbiol. Rev. 1983; 47: 361­409.
4. Shaw Ki et al. Moleculas genetics of aminoglycoside resistance genes and
familiar relationship of the aminoglycoside modifying enzymes 1993; 57:
138­63.
5. Data Laboratorium Mikrobiologi Klinik. Bagian Mikrobiologi Fakultas
Kedokteran Univ. Indonesia 1995.
6. Shaw Ki et al. Characterization of the chromosomal aac(6')-Ic gene from
Serratia marsecsens. Antimicrob. Agents. Chemother. 1992; 36: 1447­55.
7. Oullete M, Bissonnette L Roy PH. Precise insertion of antibibtic resistance
determinants into Tn21-like transposons. Proc. Natl. Acad. Sci USA 1987;
84: 7278­7282.
8. Price KE et al. Epidemiological studies on aminoglycoside resistance in
USA. i. Antimicrob. Chemother. 1981; 8: 89­105.
9. Shimizu Ket al. Comparison of aminoglycoside resistance pattern in Japan,
Formosa and Korea, Chile and United States. Antimocrob. Agents. Che
mother 1985; 28: 282­288.
10. Hare RS et al. Survey of aminoglycoside resistance in 30 US hospitals.
lntersci. Conf. Antimicrob. Agents. Chemother. Abstract. 1989.
11. Shaw Ki etal. Correlation between aminoglycoside resistance profiles and
DNA hybridization of clinical isolates. Antimicrob. Agents. Chemother.
1991; 35: 2253­61.
12. Hedges RW, Shannon KP. Resistance to apramycin in Escherichia coil
isolated from animals : Detection of a novel aminoglycoside-modifying
enzyme. J. Gen. Microb. 1984; 130: 473­482.
13. Lovering AM, White LO, Reeves DS. AAC(1) : a new aminoglycoside
acetylating enzyme modifying the Cl aminogroup of aprarnycin. J. Anti
microb. Chemother. 1987; 20: 803­813.
14. Biddlecome Sel al. Enzymatic modification of aminoglycoside antibiotics:
a new 3-N acetylating enzyme from Pseudomonas aeruginosa isolate.
Antimicrob. Agents. Chemother 1976; 32: 1379­84.
15. Le Goffic F et al. 2"-o phophorylation of gentamycin components by a
Staphylococcus aureus strain carrying a plasmid. Antimicrob. Agents.
Chemother. 1977; 12: 26­30.
16. Rouch DA et al. The aacA-aphD gentamycin and kanamycin resistance
determinant of Tn4001 from Staphylococcusaureus. I. Gen. Microb. 1987;
133: 3039­52.
17. Stokes HW, Hall RM. A novel family of potentially mobile DNA element
encoding site-specific gene integration function : integrons. Mol. Microb.
1989; 3: 1669­83.
18. Davies J, Smith DI, Plasmid-determined resistances to antimicrobial
agents. Ann. Rev. Microb. 1978; 32: 469­5 12.
19. Jacoby GA et al. Appearance of amikacin and tobramycin resistance due to
4-aminoglycoside nucleotydiltransferase in gram negative pathogens.
Antimicrob. Agents. Chemother. 1990; 34: 2381­86.
20. Schwotzer U, Kayser FH, Schwotzer W. R plasmid mediated aminogly
coside resistance in Staphylococcus epidermidis. FEMS Microb. 1978; 3:
29­33.
21. Ounissi H et al. Gene homogeneity for aminoglycoside-modifying en
zymes in gram positive cocci. Antimicrob. Agents. Chemother. 1990; 324:
2164­68.
22. Courvalin P, Daviesi. Plasmid-mediatedaminoglycosidephosphotranferase
of broad substrate range that phosphorylate amikacin. Antimicrob. Agents.
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
52
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 53
Chemother. 1977; 11: 6 19­24.
23. Ebukata K et al. Purification and characterization of aminoglycoside
modifying enzymes from Staphylococcus aureus and Staphylococcus
epidermidis. Antimicrob. Agents. Chemother. 1984; 25: 754-59.
24. Lambert 1, Gerbaud (3, Courvalin P. Transferable amikacin resistance in
Acinetobacter spp due to a new type of 3-aminoglycoside phosphotrans
ferase. Antimicrob. Agents. Chemother. 1988; 32: 15­9.
25. Gayncs R Ct al Isolation, characterization and cloning of a plasmid-borne
gene encoding a phosphotransferase that confers high-level amikacin
resistance in entenc bacilli. Antimicrob. Agents. Chemother. 1988; 32:
1379­84.
26. Lambert T et al. Dissemination of amikacin resistance gene aphA6 in
Acinetobacter spp. Antimicrob. Agents. Chemother. 1990; 34: 1244­48.
27. Tenover FC, Elvrum PM. Detection of two different kanamycin resistance
genes in naturally occuring isolates of Camphylobacter jejuni and Camphy-
lobacter coli. Antimicrob. Agents. Chemother. 1988; 32: 1170-73.
Kalender Peristiwa
8 ­ 10 Juli, 1996 ­ KONGRES NASIONAL VIII
PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS MATA INDONESIA
Hotel Savoy Homann
Bandung, INDONESIA
Sekr.: Bagian Ilmu Penyakit Mata FK Unpad
RS Mata Cicendo
Jl. Cicendo 4
Bandung 40171
INDONESIA
TeIp.: 62-22 431281
Fax : 62-22 4201962
8 ­ 10 Juli, 1996 ­ MUKTAMAR AHLI BEDAH INDONESIA (MABI) XII
Surabaya, 8­10 Juli 1996
Sekr.: Kantor IKABI Wilayah Jawa Timur
d/a Chef de Clinique
Lab./UPF Ilmu Bedah
FK Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo
Jl. Mayjen. Prof. Dr. Moestopo 6­8
Surabaya 60286
INDONESIA
Tel.: (031) 550 1315/550 1305
Fax :
(031) 535 3648/516 364
Pendaftaran peserta:
PT Haryono Travel
Jl. Sulawesi 27­29
Surabaya 60271
INDONESIA
Tel.: (031) 546 5029
Fax: (031) 546 5030