ULASAN
Peran Sumber Air Minum dan Kakus
Saniter dalam Pemberantasan Diare
di Indonesia
Kusnindar Atmosukarto
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit diare termasuk sepuluh besar penyakit yang sering
terjadi di Indonesia, tepatnya nomor 9 sebesar 5,3% dan seluruh
kejadian penyakit di Indonesia. Namun demikian diare menjadi
penyebab kematian terbesar, yaitu 12%; penyebab kematian
kedua ialah karena kardiovaskular (9,7%), diikuti oleh sebab tbc
(8,6%), campak (6,7%) dan tetanus (6,0%) dalam tahun l986
(1)
.
Penyakit diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus,
keracunan makanan dan alergi makanan. Diare akut disebabkan
oleh infeksi bakteri (Vibrio cholera, Escherichia coli, Salmo-
nella sp, Shigella sp, dan non pathogenic bacteria bila jumlahnya
berlebihan), infeksi virus (Enterocytopathogenic orphan lype 18/
ECHO, Poliomyelitis, Coxsackie, Orbivirus), keracunan ma-
kanan dan alergi makanan. Diare khronis disebabkan oleh Ente-
ropathogenic Escherichia coli/EPEC, Pseudomonas, Proteus,
Staphylococcus, Streptococcus, infeksi parasit (Entamoeba his-
tolitika, Giardia lamblia, Trichuris trichiura)
Penularan diare karena infeksi bakteri dan virus biasa me-
lalui air minum sehingga disebut water borne diseases.
Dalam pengkajian ini dikumpulkan data mengenai kejadian
diare, sumber air minum dan cara buang air besar penduduk di
berbagai propinsi.
Hubungan antara sumber air minum, cara buang air besar
dengan morbiditas diare diuji secara statistik dengan uji inde-
penden antara dua faktor. Untuk Daftar Kontingensi B X K,
digunakan rumus:
E
ij
= (n
io
x n
oj
) / n, dengan penjelasan bahwa:
n
io
= jumlah baris ke i;
n
oj
= jumlah kolom ke j;
B = jumlah baris;
K = jumlah kolom
Kedua faktor dinyatakan ada hubungan yang bermakna
bila:
X
2
> X
2
(1-p)(B-1)(K-1)
taraf nyata = p dan derajat kebebasan (dk) = (B-1 )(K-1).
HASIL PENGUMPULAN DATA
Kejadian dan kematian karena diare dihubungkan dengan
penggunaan kakus oleh penduduk di 7 propinsi, Sulawesi Utara,
Bengkulu, Bali, Maluku, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan
Barat, dikemukakan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Morbiditas dan Mortalitas Diare menurut Taraf Penggunaan
Kakus
(1986)
Daerah
Taraf penggunaan
kakus (%)
Kasus diare/100.000
(penderita meninggal)
Jumlah
DIY 77,2
100
17
117
Sulawesi Utara
58,5
301
45
346
Bengkulu 39,3
537
99
636
Bali 31,8
328
37
365
Maluku 31,1
370
104
474
NTB 12,8
454
112
566
Kalimantan Barat
8,3
940
166
1106
Jumlah 3030
580
3610
Sumber: (1,4); X
2
= 29,6; X
2
(0,99) (6) = 16,8
Hubungan kejadian penyakit (morbiditas) diare dengan jenis
sumber air minum yang digunakan penduduk di tujuh propinsi
tersebut, disajikan dalam Tabel 2 dan 3. Tabel-tabel tersebut
disusun menurut taraf dan yang paling buruk sampai dengan
yang paling baik, ditinjau dan kemungkinan penularan diare.
Selanjutnya hubungan derajat peng kakus oleh penduduk
dengan tingkat morbiditas diare ditunjukkan pada Tabel 4.
ij
ij
ij
2
E
/
)
E
-
O
(
K
1
j
B
1
i
X
=
=
=
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996 39
Tabel 2. Sumber Air Minum Penduduk menurut Taraf Morbiditas Diare
(1986)
Jumlah sumber air
minum/1000 KK
Jumlah
Daerah
Morbiditas diare
(per seribu)
PAM Kalilsungai
DIY 1,00
37
30
67
Sulawesi Utara
3,01
178
12
190
Bali 3,28
3
239
242
Maluku 3,70
122
85
207
NTB 4,54
2
66
68
Bengkulu 5,37
102
227
329
Kalimantan Barat
9,40
1
862
863
Jumlah
445
1.521
1.966
Sumber: (1,4); X
2
= 295,9; X
2
(0,99) (6) = 16,8
Tabel 3. Taraf Penggunaan Sumber Air Minum menurut Morbiditas
Diare
(1986)
Sumber air minuet/
1000 KK
Daerah
Taraf morbiditas
diare (per seribu
penduduk)
Artesis,
pompa,
mata air,
air hujan
Kali/
sungai
Jumlah
DIY 1,00
259
30
289
Sulawesi Utara
3,01
99
12
111
Bali 3,28
560
239
799
Maluku 3,70
195
85
280
NTB 4,54
311
66
377
Bengkulu 5,37 175
227
402
Kalimantan Barat
9,40
69
862
931
Jumlah
1.668
1.521
3.189
Sumber: (1,4); X
2
= 1377,2; X
2
(0,99) (6) = 16,8
Tabel 4. Tersedianya Kakus menurut Taraf Morbiditas Diare di 7 pro-
pinsi
(1986)
Per 100 orang
Daerah
Taraf morbiditas diare
(per seribu penduduk) ST Tanpa
ST
Kali/
sungai
Jumlah
DIY 1,00
22
55
23
100
Sulawesi Utara
3,01
32
26
42
100
Bali 3,28
14
18
68
100
Maluku 3,70
23
8
69
100
NTB 4,54
4
9
87
100
Bengkulu 5,37
20
19
61
100
Kalimantan Barat
9,40
2
6
92
100
Jumlah
117
141
442
700
Sumber:(1,4); X
2
= 203,6; X
2
(0,99) (12) = 26,2
Keterangan : ST = Kakus dengan septic tank.
Data tabel 1, 2, 3 dan 4 adalah data dan hasil penelitian
sedang data tabel 5 merupakan hasil pelaporan dan Ditjen PPM
dan PLP. Tabel 5 menggambarkan hubungan antara morbiditas
diare pada tingkat khronis dan akut terhadap tingkat penggunaan
kakus.
PEMBAHASAN
Secara deskriptif dari tabel 1 dapat dilihat baik angka ke-
Tabel 5. Laporan Morbiditas Diare menurut Taraf Penggunaan Kakus
(1986)
Daerah
Taraf penggunaan kakus
(per seribu penduduk)
Laporan kasus
diare
Jumlah
Rutin
KLB
Sulawesi Utara
58,5
34.755
329
35 084
Bali 31,8
60
999
463
61.462
Maluku 31,1
15
173
2.401
17.574
NTB 12,8
25.458
3
854
29
312
Kalimantan Barat
8,3
47.344
1 684
49.028
Jumlah
183.729
8.731
192.460
Keterangan: Sumber (1,5); X
2
11,945,4
X
2
(0,99) (4) = 13,3; KLB = Kejadian luar biasa.
sakitan maupun meninggal karena diare, cenderung meningkat
dengan menurunnya tingkat penggunaan kakus. Pada taraf
penggunaan kakus yang paling tinggi (DIY), morbiditas dan
mortalitas diare yang paling rendah berturut-turut 100 dan 17 ka-
sus per 1000.000 penduduk, sebaiknya pada tingkat penggunaan
kakus yang paling rendah (Kalimantan Barat), morbiditas dan
mortalitas diare yang paling tinggi yakni 940 dan 166 per seratus
ribu penduduk. Dengan analisis statistik dapat diketahui bahwa
kedua faktor tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat
karena menurut perhitungan X
2
= 29,6 sedang X
2
(0,99) (6) = 16,8
jadi X
2
lebih besar dari X
2
(0,99) (6). Berarti kedua faktor ada
hubungan dengan taraf nyata p = 0,01. Dengan cara yang sama
kita dapat menghitung X
2
dan tabel 2. Didapatkan X
2
= 295,9 dan
setelah dicari dalam tabel X
2
didapatkan X (0,99) (6) = 16,8;
berarti taraf sumber air minum mempengaruhi derajat morbiditas
dan mortalitas diare pada taraf nyata p = 0,01. Morbiditas diare
yang paling tinggi terjadi pada penduduk yang paling rendah
menggunakan sumber air minum PAM atau yang menggunakan
sumber air minum kali/sungai paling tinggi (Kalimantan Barat).
Demikian pula dari tabel 3 dapat diketahui bahwa taraf
sumber air minum artesis, sumur pompa, mata air dan air hujan,
mempunyai pengaruh yang berbeda dibandingkan sumber air
minum dan kali terhadap morbiditas diare. Kali merupakan
sumber air minum yang paling buruk dibandingkan yang lain.
Dan tabel ini didapatkan X
2
= 1377,2 sedang X
2
(0,99) (6) 16,8.
Taraf sumber air minum mempengaruhi taraf morbiditas diare
pada taraf nyata p = 0,01.
Pada tabel 4 kita melihat kecenderungan makin tinggi taraf
penggunaan kakus, makin rendah taraf morbiditas diare. Se-
baliknya makin tinggi proporsi buang air besar di kali, makin
tinggi pula taraf morbiditas diare. Di sinipun dapat dihitung
derajat hubungan pada taraf nyata p = 0,01.
Ditinjau dan khronis dan akutnya penyakit diare, diperkira-
kan laporan rutin adalah kejadian penyakit diare khronis dan
laporan KLB diare merupakan kejadian diare akut. Dari tabel 5
terlihat taraf dibandingkan terhadap laporan rutin. Dari tabel ini
diketahui bahwa taraf penggunaan kakus juga berpengaruh ter-
hadap taraf akut dan tidaknya penyakit diare; X
2
= 29,6 dan X
2
(0,99) (4) = 13,3 jadi ada hubungan pada taraf nyata = 0,01.
Dari kelima tabel tersebut di atas terbukti tingginya morbidi-
tas dan mortalitas diare disebabkan oleh kualitas sumber air
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
40
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996 41
minum dan kualitas cara membuang air besar. Sumber air minum
kali yang.buang air besar di kali menjadi sumber penularan diare
yang paling tinggi.
Kakus dengan menggunakan septic tank merupakan kakus
yang paling saniter yang memenuhi syarat: tidak mencemari per-
mukaan tanah, air tanah, sumber air minum, air permukaan tanah,
tinja tidak dapat kontak dengan serangga/rodent (lalat, kecoa,
tikus), tinja segar tidak digunakan untuk pupuk, tidak menimbul-
kan bau, murah dalam pembuatan dan pemeliharaan agar ter-
jangkau oleh penduduk
KESIMPULAN DAN SARAN
Cara buang air besar yang tidak saniter merupakan sumber
penularan penyakit diare yang ditularkan melalui air dan ma-
kanan.
Kebiasaan buang air besar di permukaan tanah dan kali oleh
penduduk di Indonesia masih tinggi, memungkinkan morbiditas
diare yang tinggi dan menjadi penyebab kematian yang terbesar
di Indonesia.
Kakus yang saniter merupakan sarana yang berfungsi untuk
memutuskan rantai penularan penyakit diare, mutlak perlu di-
tingkatkan dalam rangka pemberantasan diare. Untuk itu Proyek
pengembangan Samijaga (sarana air minum dan jamban keluarga)
perlu diteruskan. Program pengobatan diare akan menjadi sia-
sia, selama kesehatan lingkungan belum menjamin tidak terjadi-
nya re-infeksi.
KEPUSTAKAAN
1. L. Ratna Budiarso dkk. Survai Kesehatan Rumah Tangga 1986, Badan
Litbang Kesehatan Jakarta, 1986.
2. Sunoto. Patogenesis dan patofisiologi dan diare. Proc Seminar Rehidrasi I,
Dep Kes. RI, 1975.
3. Sujana. Metoda statistika. Bandung: Tarsito 1982.
4. L. RatnaBudiarso, Zainul Bakri, Siti Sapardiah Santoso. Data Statistik Survai
Kesehatan Rumah Tangga 1986. Badan Litbang Kesehatan Jakarta, 1986.
5. Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular Langsung. Laporan Pelita IV
program pemberantasan penyakit menular Iangsung. Ditjen PPM dan PLP.
Jakarta, 1989.
6. Wagner EG, Lanoix JN. Excreta disposal for rural areas and small commu-
nities. Geneve: WHO 1958.
Kalender Peristiwa
July 6 10, 1997 11th ASEAN CONGRESS OF CARDIOLOGY
5th ASIA PACIFIC CONGRESS OF CARDIAC REHABILI-
TATION
Jakarta Convention Centre, JAKARTA
Jakarta, INDONESIA
Sekrs. : RS Jantung Harapan Kita km. 3014
Jl. S. Parman kav 87,
Jakarta 11420, INDONESIA
Tel.: (62-21) 5684085, 5684093 ext. 1314, 1441
Fax: (62-21) 5684130, 5684220
1620 Juni 1996 KONGRES NASIONAL ILMU KESEHATAN ANAK
(KONIKA) X
Bukittinggi, 1620 Juni 1996
Sekr. : Bagian Ilmu Kesehatan Anak
RSUP Dr. M. Djamil
Jl. Perintis Kemerdekaan
Padang
INDONESIA
Tel/Fax : (0751) 37913