background image
Pengendalian Air dengan Pengeringan
Berkala di Sawah Sebagai Cara
Pemberantasan Vektor Malaria
Sustriayu Nalim Ph. D.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen
Kesehatan RI.
PENDAHULUAN
Vektor penyakit malaria Anopheles aconitus telah dike-
temukan resisten terhadap DDT (1). Untuk menanggulangi
masalah resistensi telah disarankan beberapa cara pemberantas-
an selain penggunaan DDT (2).
Konsep pembasmian telah diubah menjadi konsep pem-
berantasan dengan menggunakan satu metoda atau beberapa
metoda pemberantasan secara terpadu. Salah satu metoda
yang dikemukakan adalah penggunaan metoda pengeringan
berkala sawah untuk mengendalikan vektor malaria yang
hidup di sawah. Masalah ini akan membahas hasil daripada
percobaan yang dilakukan di daerah Salatiga.
BAHAN DAN CARA KERJA
(a) Dua daerah telah dipilih di daerah Salatiga yaitu desa
Barukan seluas 3 km
2
sebagai daerah percobaan dan desa
Kemiri dengan luas yang sama sebagai daerah kontrol. Kedua
desa tersebut berjarak sekitar 6 km, dan mempunyai ekologi
yang serupa.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya pengeringan berkala
sawah dapat terlaksana.
1. Diperlukan adanya sistem irigasi teknis untuk memudahkan
pengeringan dan pengairan kembali (tersedianya air cukup
adalah mutlak).
2. Sawah yang dipilih berada di lereng, sehingga proses pe-
ngeringan mudah dilaksanakan (juga selama musim hujan ).
3. Kerja sama yang baik antara pamong setempat (pengatur
irigasi, pamong pertanian).
(b) Masa pengeringan dan pengairan
Sawah dikeringkan selama 3 hari sesudah padi berumur
2 bulan (data entomologi menunjukkan bahwa kepadatan
populasi nyamuk naik sesudah padi berumur 2 bulan).
Pengamatan sebelumnya menunjukkan bahwa larva ditemu-
kan mati sesudah pengeringan 3 hari. Sebaliknya pengairan
dilakukan selama 10 hari berdasarkan pengamatan pendahulu-
an siklus hidup An. aconitus yang memerlukan 11 - 14 hari
dari telur sampai nyamuk.
(c) Cara-cara evaluasi percobaan
Karena percobaan ini dilakukan di daerah seluas 3 km
2
maka evaluasi dilakukan dengan mengamati populasi jentik
dan nyamuk dengan cara sebagai berikut :
Pencidukan jentik : Selama percobaan, pencidukan dilaku-
kan dua kali seminggu mulai dari penanaman pertama sam-
pai panen. Pencidukan dilakukan di 30 tempat yang dipilih
secara acak.
Pengamatan nyamuk : Sebuah perangkap nyamuk emer-
gence trap) dengan diameter 42 cm diletakkan disawah
untuk menangkap nyamuk yang baru keluar (dari pupa).
Enam perangkap dipasang di daerah percobaan dan enam di-
daerah kontrol.
HASIL DAN DISKUSI
Dari penangkapan jentik (lihat Tabel 1) dapat dilihat
bahwa sesudah pengeringan berkala jentik tidak diketemukan
di dalam cidukan. Hanya An. barbirostris masih tertangkap,
tetapi dalam jumlah sedikit sekali. Jentik An. aconitus me-
mang sukar sekali tertangkap dengan cidukan. Hal tersebut
juga dikemukakan oleh penelitian lain ( 3).
Karena itu
semua . species yang tertangkap digunakan dalam evaluasi
penelitian ini, dan penurunan populasi jentik dapat terlihat.
Untuk menunjang evaluasi dari jentik digunakan juga evaluasi
terhadap nyamuk.
Hasil yang diperoleh dari perangkap nyamuk (lihat Tabel 2)
menunjang pengamatan jentik. Sesudah pengeringan berkala
sawah terlihat ada penurunan di dalam jumlah nyamuk yang
tertangkap.
Sesudah pengeringan hanya An.
barbirostris
dan Cx. vishnui yang tertangkap.
Smalt (1937) pernah melakukan percobaan yang sama,
hanya waktu pengeringan dilakukan selama 2 hari dan pe-
ngeringan selama 9 hari (4). Dalam penelitiannya kepadatan
populasi nyamuk culicine turun sebesar 60% dan nyamuk
Anopheline turun sebesar 75%. Perbedaan yang terlihat antara
hasil Smalt dan percobaan ini disebabkan karena adanya
Tabel 1. Jentik yang ditemukan di sawah di daerah kontrol
daerah percobaan.
Jumlah jentik / ciduk
Species
Maret 77
Kontrol Percobaan
April 77
Juni 77
Juli 77
Mei 77
Kontrol Percobaan
Kontrol Percobaan Kontrol Percobaan
Kontrol Percobaan
Culicine sp
0,87
0,80
1,27
1,07
1,23
-
1,16
0,03
1,13
0,03
An annularis
0,67
0,40
0,43
0,40
0,37
-
-
-
-
-
An.vagus
0,97
0,90
1,33
1,17
1,03
-
1,03
-
1,97
-
An. indefinitus
0,63
0,40
0,73
0,63
0,40
-
0,40
-
0,08
-
An. aconitus
0,03
-
-
0,07
-
-
0,03
-
-
-
An. barbirostris
-
-
0,03
0,13
0,50
0,03
0,77
0,06
0,57
0,03
Jumlah yang diperoleh dari 30 ciduk
Pengendalian air dimulai di daerah percobaan
Pengeringan total selama 3 minggu terakhir.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
34
background image
Tabel 2. Nyamuk yang tertangkap di perangkap di daerah kontrol daerah percobaan.
Jumlah nyamuk yang tertangkap/m
2
/hari
Species
Maret 77
Kontrol Percobaan
April 77
Mei 77
Juni 77
Kontrol Percobaan
Juli 77
Kontrol Percobaan
***
Kontrol Percobaan
Kontrol Percobaan
C
bitaeniorrhynchus
1,22
2,44
3,66
3,05
3,66
-
2,44
-
0,61
-
C vishnui
1,22
3,05
3,05
1,83
2,44
0,61
1,83
0,61
1,83
-
An. annularis
0,61
1,22
1,22
1,83
1,22
-
-
-
-
-
An. vagus
0,61
0,61
1,83
1,22
1,83
-
1,22
-
0,61
-
An. indefinitus
0,61
0,61
1,83
1,22
1,83
-
1,22
-
0,61
-
An. aconitus
-
-
0,61
0,61
1,22
-
3,05
-
2,44
-
An. barbirostris
-
-
-
-
1,83
0,61
3,66
0,61
2,44
-
Hasil rata-rata 6 perangkap
Pengendalian air di daerah percobaan dimulai
Pengeringan total selama 3 minggu terakhir.
perbedaan dalam waktu pengeringan dan pengairan.
Selama percobaan ini dilakukan juga pengamatan terhadap
pengaruh pengeringan berkala pada hasil padi. Dengan cara
yang digunakan di dalam percobaan ini tidak kelihatan adanya
penurunan dalam hasil padi. Percobaan ini dilakukan dengan
supervisi yang ketat terhadap pelaksanaan irigasi dan penanam-
an bersama oleh pertanian (penanaman secara sinkron).
Dengan hasil yang diperoleh dalam percobaan ini diharap-
kan akan dapat dilakukan percobaan di daerah yang lebih luas.
Pelaksanaannya akan diserahkan kepada Pamong setempat,
sehingga mereka dapat dan mau melakukan pengeringan
berkala ini.
KESIMPULAN
Pengeringan berkala dapat dilakukan bila kriteria
berikut dipenuhi :
(a) Terdapat saluran irigasi teknis (adanya air cukup
adalah mutlak).
(b) Sawah berada dilereng (memudahkan pengeringan)
(c) Penanaman serentak harus dapat digalakkan karena
pengeringan baru dapat dilakukan sesudah padi ber-
umur 2 bulan.
(d) Pamong pertanian dan irigasi dapat dibina untuk mem-
bantu dalam pelaksanaannya.
Ucapan terima kasih
Dengan terlaksananya penelitian ini, ingin kami ucapkan terima
kasih kepada staf P3M Propinsi Jawa Tengah.
KEPUSTAKAAN
1. Soerono, Badawi, AS Muir, DA Soedomo, Siran M. Observations on
doubly resistent anopheles aconitus Donitz in Java, Indonesia,
including its amenability to treatment with malathion. Bull Wld
Hlth Org 1965; 33:453.
2. Bonnet DD, Johnson DR. Training and research requirements,
recommendations for Indonesia malaria control program 1974.
3. Joshi GP, Self LS, Salim Usman, Pant CP, Nelson MJ, Supalin.
Ecological studies on Anopheles aconitus in the Semarang azea
of Central Jawa, Indonesia. WHO/VBC/77.677, tahun 1977.
4. Smalt FN. Periodieke drooglegging van sawahs terbestrijding van
malaria. Meded Dienst Volksez 1937; XXVI : 284.
III. FILARIA
Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) di Jawa
Tengah
Soebodro MPH
Kepada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi
Jawa Tengah
1.
PENDAHULUAN
1.1. Riwayat penyakit
Beberapa jenis dari Nematoda parasitik dalam keluarga
Filaricidea mampu menimbulkan penyakit pada manusia.
Infeksi oleh cacing darah ini lebih dikenal dengan sebutan
filariasis. Penderita dapat memperlihatkan adanya pembeng-
kakan pada tungkai bawah (elephantiasis), hydrocele dan
chyluria.
1.2. Gejala-gejala klinis filariasis
Sebelum elephantiasis ataupun hydrocele nampak, maka
pada awal infeksi oleh mikrofilaria (larva dari pada cacing
yang infektif) timbul reaksi alergi pada tubuh penderita. Hal
ini dapat dideteksi dengan skin testing 0,01 ml pengenceran
1 : 8000 antigen filaria dan memperlihatkan adanya reaksi
yang kuat. Gejala demam berulang-ulang terjadi sebagai akibat
peradangan pada saluran dan kelenjar getah bening.
35
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980