eng ruh Kortiko
terhadap Sistem Imun
P
a
steroid
Ngakan Putu Sutarman, Julius Roma
Bagian Ilm
sehatan An
ultas Ked teran
vers
asan
in
ah Sakit U
Ujung Pandang, Uj
Pan
u Ke
ak, Fak
ok
Uni
itas H
udd
Rum
mum
ung
dang
Kortikosteroid adalah hormon yang dihasilkan oleh korteks
adrenal. Hormon ini dapat mempengaruhi volume dan tekanan
darah, kadar gula darah, otot dan resistensi tubuh. Berbagai jenis
kortikosteroid sintetis telah dibuat dengan tujuan utama untuk
mengurangi aktifitas mineralokortikoidnya dan meningkatkan
aktifitas antiinflamasinya, misalnya deksametason yang
mempunyai efek antiinflamasi 30 kali lebih kuat dan efek
retensi natrium lebih kecil dibandingkan dengan kortisol
(1)
.
Kortikosteroid banyak digunakan dalam pengobatan radang
dan penyakit imunologik. Hormon ini penting untuk fungsi
fisiologik dan metabolik dalam tubuh. Pemberian hormon ini
dalam dosis farmakologik tidak hanya memberi efek antiinfla-
masi dan imunosupresif tetapi juga mempunyai efek yang
merugikan. Efek antiinflamasi dan imunosupresifnya sukar di-
pisahkan secara tegas oleh karena respon inflamasi merupakan
bagian dari respon imun. Efek antiinflamasi dan imunosupresif
kortikosteroid dapat dilihat pada tabel 1
(2)
. Efek imunosupresif
kortikosteroid bersifat non-spesifik sebab di samping menekan
respon imun humoral juga menekan respon imun seluler
(3)
.
Perlu diketahui bahwa beberapa informasi tentang efek
kortikosteroid terhadap berbagai jenis sel ditemukan dari hasil
penelitian terhadap binatang yang derajat kepekaannya terhadap
kortikosteroid berbeda dibandingkan dengan manusia
(2)
.
Respon imun merupakan mekanisme pertahanan tubuh ter-
hadap benda asing yang berupa/terikat pada protein, polipeptida
atau polisakarida
(4)
. Sistem im
tubuh yang terdiri dari sist
Sistem imun (imunita
nutrisi, umur, infeksi dan ada tidaknya ASI yang diterima
(6)
,
Dibacakan di Bagian Ilmu Kesehatan AnakFK Universitas Hasanuddin Ujung
Pandang.
fak
fisik
iasi
asi),
ik
-obat
sepe
r-
tiko
roid,
stat
atau
ktor
ik
u
ic
tolerance, antigen competition
tilym
yte
m, f
k
inh
ion d
ene
n
icie
)
. K
pon
ber
n un
im
as s
ad
lim
T
dan
fosit-B. Pad
mn
rda
tera
ntara sel-T
dan sel-B da
me
n
ant
)
.
stem
n no
ifik
mpu
ebe
ko
n
y
ir
per
f
ek
rt
bi
,
istem komplemen, interferon, C Reactive Protein (CRP) dan
ertahanan seluler (fagosit)
(5)
. Mekanisme pertahanan non-
spesifik me pakan sistem pertahanan yang kompleks dan ter-
integrasi yang terdiri dari 2 sistem utama yaitu : sistem
pertahanan perifer (mukokutaneus) dan sistem pertahanan
dalam tubuh (reaksi radang)
(8)
.
Tujuan makalah ini adalah membahas secara singkat penga-
ruh kortikosteroid terhadap sistem imun.
PENGARUH KORTIKOSTEROID TERHADAP SISTEM
IMUN SPESIFIK
Pada umumnya kortikosteroid lebih banyak mempengaruhi
distr usi lekosit daripada fungsinya dan juga lebih banyak ber-
pengaruh terhadap respon imun seluler daripada respon imun
humoral
(4)
.
Kortikosteroid dapat mempengaruhi sel-sel,melalui resep-
tor-reseptor glukokortikoidnya dengan mekanisme kerja sebagai
m sel melewati membran
reseptor. Kompleks kor-
kleus dalam bentuk aktif,
dan akan mengikat DNA serta meningkatkan sintesis messenger
PENDAHULUAN
tor
(rad
, oper
kem
(obat
an
rti ko
ste
sito
ika)
fa
biolog (imm nolog
, an
phoc
seru
eedbac
ibit
an g
tic immu odef
ncies)
(7
om
en yang
pera
tuk terjadinya
unit
pesifik
alah
fosit-
lim
a umu
ya te
pat in
(4
ksi a
lam
ngatur si tesis
ibodi
Si
imu
n-spes
me
nyai b
rapa
mpone
ang terd i atas
tahanan isik/m anik, pe ahanan okimia
s
p
ru
un adalah sistem pertahanan
em imun spesifik dan non-spesifik
(5)
.
s) tubuh dipengaruhi oleh keadaan
berikut: kortikosteroid berdifusi ke dala
sl dan selanjutnya berikatan dengan
tikosteroid-reseptor masuk ke dalam nu
ib
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 43
RNA (mRNA). Messenger RNA ini akan menimbulkan sintesis
rotein yang baru. Protein baru ini akan menghambat fungsi
elsel limfoid dengan pen
pengaruh kortikosteroid t
dilihat pada gambar 1
(3)
.
Tabel 1. Anti-Inflammatory and
steroids
I. Anti-inflammatory effects
p
s
ghambatan uptake glukosa. Mengenai
erhadap sel-sel tersebut di atas dapat
Immunosuppressive Effects of Cortico
1. Stabilization of vascular bed with decrease in leakage of fluid and
cells
into
inflammatory
sites
2.
Decreased granulocyte and monocyte accumulation in inflammatory
loci
3.
Impairment of various granulocyte and monocyte functional capabi
lities
4. Suppression of various steps in immediate hypersensitivity reactions
II. Immunosuppressive effects
1.
Decrease
in
circulating
lumphocytes
and
monocytes
2. Decrease in certain lumphocyte and particularly monocyte functional
capabilities
3. Decrease in immunoglobulin and complement levels
Gambar 1. Molecular mechanism of steroid hormone action.
Sehubungan dengan pengaruh kortikosteroid ini kita kenal
dua golongan spesies yaitu golongan yang resisten dan sensitif
terhadap kortikosteroid. Spesies yang resisten terhadap kortiko-
steroid adalah manusia dan kera sedangkan yang sensitif adalah
tiku
(2)
s dan kelinci .
Apabila kortikosteroid diberikan kepada golongan resisten
akan menyebabkan limfositopeni akibat redistribusi limfosit ke
luar sirkulasi darah menuju organ-organ limfoid lainnya ter-
utam
(3)
a sumsum tulang . Redistribusi ini lebih banyak mem-
pengaruhi limfosit-T daripada limfosit-B
(9)
. Mekanisme yang
mendasari terjadinya redistribusi limfosit belum diketahui secara
pasti. Secara teoritis limfositopeni dapat terjadi melalui dua me-
kanisme yaitu: migrasi hebat keluar dari pembuluh darah dan
blok perifer. Mekanisme blok perifer ini ditunjang oleh pene-
muan bahwa aktifitas fisik pada orang normal menyebabka
n
tidak ditemukan setelah pemberian kortikosteroid. Limfositopeni
akan mencapai puncaknya 4-6 jam setelah pemberian 20 mg
normal setelah 24 jam.
berbeda apabila dosis
au 80 mg(
9l
. Mengenai
mfosit dapat dilihat
limfositosis akibat mobilisasi cadangan perifer, tetapi hal ini
prednison intravena dan kembali ke nilai
Berat dan lamanya limfositopeni tidak
prednison ditingkatkan sampai 40 mg at
pengaruh kortikosteroid terhadap sirkulasi li
pada gambar 2
(9)
dan 3
(2)
.
Gambar 2.
Gambar 3.
kele
Dilaporkan pula bahwa IgM dan IgA juga menurun, namun
am jumlah minimal, sedangkan terhadap IgE efeknya tidak
Apabila kortikosteroid diberikan kepada golongan sensitif
akan menyebabkan penurunan berat kelenjar timus karena sin-
tesis protein berkurang, piknositis inti sel dan kematian sel-sel
njar timus
(1)
.
Wollheim (1967) melaporkan bahwa pengobatan dengan
kortikosteroid dapat menurunkan kadar imunoglobulin (Ig) dalam
serum manusia, terutama IgG dengan penurunan maksimum
22% dua minggu setelah pengobatan. Pengaruh ini terutama
terjadi pada respons primer IgG
(3)
.
dal
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
44
jelas. Levy dan Waldmann (1970) menemukan bahwa penurun-
an kadar Ig serum setelah pengobatan dengan kortikosteroid
terutama terjadi oleh karrena peningkatan katabolisme IgM,
IgG dan IgA
(3)
. Menurut laporan Posey dkk (1978) perubahan
kadar Ig ke nilai normal tampak setelah 3 sampai 8 minggu
engobatan dihentikan
(3)
.
RTIKOSTEROID TERHADAP SISTEM
si makrofag dan netrofil di
sel-T sensitif
mengurangi
aya lekat netrofil pada dinding endotel pembuluh darah,
kan akibat penghambatan kemotaksis yang hanya dapat
dihambat oleh kortikosteroid pada kadar suprafarmakologik
(4)
.
Leonard melaporkan bahwa pemberian 10 mg prednison per
oral pada orang sehat sudah cukup untuk meningkatkan netrofil
dan menurunkan jumlah limfosi
darah, sesuai dengan yang dila
dkk yang menggunakan 3570 m
pustakaan lain melaporkan bah
pengaruh yang kompleks terhad
steroid meningkatkan pelepa
tulang ke sirkulasi. Di sampin
ningkatkan masa paruh netrofil da
pengaruh ini menyebabkan terjadi
bakterisidanya menurun. Hasil
adalah menghambat migrasi da
dang. (Gambar 4)(
2
). Mungkin pengaruh kortikosteroid pada
ningkatan
p hari
(4)
.
p
ARUH KO
PENG
IMUN NON-SPESIFIK
Pengaruh kortikosteroid yang terpenting pada manusia
adalah penghambatan akumula
tempat radang. Selain itu kortikosteroid juga menyebabkan
berkurangnya aktifitas makrofag baik yang beredar dalam
darah (monosit) maupun yang terfiksir dalam jaringan (sal
Kupffer). Pengaruh tersebut diperkirakan akibat penghambatan
kerja faktor-faktor limfokin yang dilepaskan oleh
pada makrofag, karena tempat kerja kortikosteroid diperkirakan
pada membran makrofag. Penghambatan akumulasi netrofil di
tempat radang adalah akibat kerja kortikosteroid
d
bu
t, monosit dan eosinofil dalam
porkan oleh Saavedra-Delgado
g prednison per oral
(10)
. Ke-
wa kortikosteroid mempunyai
ap distribusi netrofil. Kortiko-
san netrofil muda dari sumsum
g itu kortikosteroid juga me-
lam sirkulasi. Kombinasi kedua
nya netrofilia, walaupun fungsi
akhir pengaruh kortikosteroid
n akumulasi netrofil pada daerah
ra
m
akrofag dan netrofil inilah yang menyebabkan pe
ejadian infeksi pada penggunaan kortikosteroid setia
k
Gambar 4
Penggunaan kortikosteroid selang sehari telah dapat me-
ngembalikan akumulasi netrofil pada hari bebas pemberian obat,
tetapi akumulasi makrofag pada hari tersebut masih rendah.
Hal ini menunjukkan bahwa makrofag lebih sensitif daripada
netrofil terhadap pengaruh antiinflamasi kortikosteroid
(4)
.
Dilaporkan pula bahwa penggunaan kortikosteroid selang
sehari tidak disertai peningkatan angka infeksi. Kortikosteroid
mungkin juga mengurangi pelepasan enzim-enzim lisosom,
tetapi hanya sedikit mempengaruhi stabilitas membran lisosom
pada kadar farmakologik
(4)
.
Kortikosteroid mempunyai pengaruh terhadap aktifitas bio-
logik komplemen. Pengaruh tersebut berupa penghambatan fiksasi
C3b terhadap reseptornya pada fagosit mononuklear, dan peng-
hambatan pengaruh C3a, C5a dan C567 pada lekosit PMN.
Pengaruh non-spesifik ini hanya terjadi pada pemberian kor-
tikosteroid dosis tinggi. Hal ini telah dibuktikan secara invitro
dengan pemberian metilprednisolon dosis 30 mg/kgbb. intra-
vena atau secara invivo dengan hidrokortison dosis 120
mg/kgbb intravena
(9)
.
Kepustakaan lain melaporkan bahwa kortikosteroid topikal
juga berpengaruh terhadap sistem imun. Pengaruh tersebut
berupa atrofi kulit sehingga kulit tampak tipis, mengkilat dan
keriput seperti kertas sigaret. Hal ini dapat memperberat dan
mempermudah terjadinya infeksi oleh karena terjadi gangguan
e pertahanan kulit
(11)
. Beberapa efek samping lain
yang mungkin terjadi adalah diabetes melitus, osteoporosis,
gangguan psikologik dan hipertensi
(2)
.
Berdasarkan efek antiinflamasi dan iumunosupresif maka
kortikosteroid digunakan secara luas pada penyakit radang dan
penyakit-penyakit yang didasari oleh proses imunologik seperti
penyakit-penyakit jaringan ikat (lupus eritematosus sistemik,
demam rematik akut), radang usus (kolitis ulseratif), keadaan
alergi atau hipersensitifitas (vaskulitis alergika, reaksi obat),
penyakit ginjal (sindroma nefrotik idiopatik), penyakit darah
yang disebabkan oleh proses imunologik (anemia hemolitik
autoimun), asma berat, penyakit kulit (dermatitis kontak) dan
penyakit mata (blefaritis alergika).
Pada penyakit radang atau penyakit-penyakit imunologik
yang aktif sebaiknya pengobatan dimulai dengan kortikosteroid
dosis tinggi terbagi per-hari sampai tercapai fase subklinik, pada
saat ini diberikan dosis tunggal sehari dan selanjutnya dosis
yang akan dihentikan secara bertahap
(2)
.
elli C dick. melaporkan bahwa efek samping peng-
bat
mekanism
tunggal selang sehari
Pontic
o
an dengan kortikosteroid pada penderita-penderita trans-
plantasi ginjal dapat ditekan dengan pemberian kortikosteroid
dosis terbagi yaitu 2/3 dosis diberikan pagi hari dan 1/3 dosis
diberikan sore hari yang dihentikan secara bertahap
(12)
.
RINGKASAN
Kortikosteroid adalah hormon yang dihasilkan oleh korteks
adrenal. Sistem imun adalah sistem pertahanan tubuh yang ter-
diri dari sistem imun spesifik dan non-spesifik. Kortikosteroid,
baik yang diberikan secara topikal maupun sistemik dapat me-
nekan sistem imun spesifik dan non-spesifik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 45
KEPUSTAKAAN
1.
Siregar H. Aspek fisiologis dari kortikosteroid. Dalam: Simposium kor-
tiknsteroid sebagai obat penyelamat. Ujung Pandang: IKAFI dan Fakultas
Kedokteran Unhas, 1984: 1-8.
2.
Fauci AS. Clinical aspects of immunosuppression : Use of cytotoxic agents
and corticosteroids. In: Bellanti JA ed. Immunology III. Philadelphia: WB
Saunders Co, 1985: 546- 7. (
5
kutipan).
f Graduate Studies, Hasanuddin University.
o
3.
Sabbele NR, ed. Effects of immunosuppressive drugs upon the murine
immune system: A dissertation submitted for the degree of doctor in
Medical Science, Faculty o
Ujung Pandang: Hasanuddin University, 1987: 28-40. (kutipan).
4.
Setiawati A. Mekanisme kerja imunosupresif. Dalam: Tjokronegoro A,
Comain S, eds. Imunologi: Diagnosis dan terapi. Jakarta: Fakultas Ke-
dokteran Universitas Indonesia, 1982: 81-94. (kutipan).
5.
Baratawidjaja K. Mekanisme sistem imun. Dalam: Baratawidjaja, Konthen
PG, Halpem GM, (eds). Simposium alergi klinik. Surakarta: Perhimpunan
Alergi Imunologi Indonesia (Peralmuni), 1987: 1-6.
6.
Soeparto P, ed. Saudi mengenai gastroenteritis akuta dengan dehidrasi
pada anak melalui pendekatan epidemiologik klinik: Disertasi untuk
memper-
leh gelar Doktor dalam Ilmu Kedokteran pada Universitas Airlangga.
Surabaya: Airlangga University Press, 1987: 14-32.
7.
Barrett if, ed. Textbook of Immunology: An introduction to immuno
chemistry and immunobiology. fifth ed. St. Louis: CV Mosby Co, 1988:
155-64.
8.
Lagrange PH. Antibiology: Practical and theoretical evaluation of anti-
biotics on the immune defense mechanisms in infected hosts. Dalam:
Simposium peranan antibiologi pada infeksi. Surakarta: Perhimpunan
Alergi Imunologi Indonesia (Peralmuni), 1989: 31-49.
9.
Delespesse G, ed. Corticotherapy. Jakarta: PT Upjohn Indonesia, 1984:
12-6. (kutipan).
10.
Leonard EJ. Two populations of human blood basophils: Effect of predni-
sone on circulating numbers. J. Allerg. Clin. Immunol. (May) 1987:
775-80.
11.
Amiruddin MD. Kortikosteroid topikal.Dalam: Umar, SarunguST, Syawal
R, Setyawati H, Waspodo N, eds. Kumpulan Makalah Kursus Penyegar
dan Penambah Ilmu Kedokteran (KPPIK-VIII). Ujung Pandang: Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin, 1989: 1-6. (kutipan).
12.
Ponticelli C, Vecchi AF, Tarantino A et al. A search for optimizing
corticosteroid administration to renal transplant patients. Kidney Interna-
tional 1983; 23: 85-9.
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
46