Pengalaman Praktek
HEAT STROKE
Pada saat wukuf di Arafah udara sangat panas (52°C), tidak seorangpun anggota
jemaah haji yang diizinkan melaksanakan wukuf di luar tender Seorang ibu tua, jemaah
haji Indonesia, keluar dari tenda secara diam-diam. IaWukuf di tengah-tengah teriknya
matahari sepia tidak membawa persediaan air untuk membasahi badan atau untuk minum.
Melihat ibu tersebut seorang dokter petugas TKHI Indonesia menghampirinya dan me-
nasehati.
Dokter
: "Ibu!? Sebaiknya ibu wukuf di dalam tenda saja supaya ibu tidak kepanas-
an. Udaranya sangat panas dan berbahaya, ibu mudah kehabisan air".
Jemaah haji : "Alaaaa dokter! Dokter tau, dulu Rasulullah wukuf seperti ini, jadi saya
ikut seperti ini juga. (la membantah)
Dokter : "Mungkin ibu benar, tapi sekarang udaranya sangat panas, nanti ibu jatuh
sakit". (Dokter berusaha meyakinkan)
Jemaah haji : "Sudahlah dokter!!! Jangan urus saya, urus yang lain saja!!? (la tetap
membantah dan tidak perduli omongan dokter)
Dokter berusaha membujuk ibu tersebut berkali-kali namun tetap gagal.
Tak lama kemudian tiba-tiba si ibu tersebut kejang-kejang dan menjerit, persis seperti
ayam disembelih. Petugas TKHI segera datang memberi bantuan namun jiwa si ibu tidak
tertolong lagi dan iapun menghembuskan nafas yang terakhir karena heat stroke. (Maka-
nya jangan bandel)
dr. lmran
Banda Aceh
EFEDRIN UNTUK PEMAIN BOLA
Ketika di kota-kota besar terjadi penyalahgunaan obat sekelas morfin, ganja, ecstasy
dan lain-lain, di desa tempat saya tugas terjadi pula penyalahgunaan obat yang memang
mudah didapat di desa/puskesmas. Penyalahgunaan yang dimaksud adalah sebagai
doping. Kalau pengguna (tepatnya: penyalahguna) yang pertama dikejar-kejar polisi,
yang ke dua tidak (setidaknya di tempat saya tugas).
Ceritanya begini: di suatu sore yang cerah berlangsung pertandingan sepak bola antar
desa dalam rangka memperingati HUT ABRI 5 Oktober. Pertandingan sudah berjalan
sekitar lima hari. Setiap tim sudah berlaga 23 kali dan kondisi pemain-pemain sudah
mulai menurun. Ketika salah satu klub akan bertanding, salah seorang pemainnya datang
ke rumah. Katanya dia disuruh minta obal efedrin yang akan diminum pemain sebelum
bertanding. Setiap pemain minum satu tablet (efedrin 25 mg, obat Inpres untuk Puskes-
mas). Konon setelah minum obat ini para pemain akan kuat berlari, tenaganya bertambah,
dan tentu denyut jantungnya bertambah. Dan katanya obat ini sudah sejak beberapa
lama digunakan di desa-desa. Dan lebih penting lagi kesebelasannya sering menang bila
minum obat ni.
Walau sudah dijelaskan bahwa penggunaan efedrin bukan untuk olahragawan yang
mau bertanding mereka tetap minum juga karena mereka memperolehnya dari tempat
lain. Yang jadi pertanyaan adalah adakah mereka tahu bahwa obat ini termasuk obat
doping yang dilarang penggunaannya pada pertandingan-pertandingan baik nasional
maupun internasional.
Yang belum dilaksanakan adalah tes doping terhadap pemain-pemain tersebut.
karena namanya pertandingan antar desa, mana ada panitia anti doping.
Dr I Wayan Suartika
Puskesmas Bualemo, Banggai, Sulawesi Tengah
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 45