ULASAN
Pencemaran Air Raksa
di Lingkungan Kerja Dokter Gigi
Harmas Yazid Yusuf
SMF Gigi dan Mulut, Rumah Sakit Umum dr. Hasan Sadikin, Bandung
PENDAHULUAN
Air raksa atau merkuni (Hg) merupakan suatu bahan kimia
yang diperlukan dan dipakai oleh banyak industri seperti indus-
tri cat, pestisida, farmasi serta dipakai sebagai bahan campuran
tumpatan gigi yaitu amalgam. Amalgam sebagai bahan tumpatan
gigi geligi terutama gigi bagian posterior masih banyak diper-
gunakan, baik di dalam maupun di mar negeri karena mempunyai
berbagai keuntungan yang tidak dipunyai bahan tumpatan lain-
nya antara lain dalam hal kekuatan menahan daya kunyah,
ekonomis, mempunyai masa kadaluarsa yang panjang serta teknik
manipulasi yang mudah.
Meskipun demikian, pemakaian amalgam sebagai bahan
tumpatan gigi mempunyai risiko terjadinya pencemaran air raksa
terutama bila cara penanganannya kurang baik.
TINJAUAN MENGENAI PENCEMARAN AIR RAKSA
Pencemaran air raksa terhadap lingkungan hidup akan me-
nimbulkan dampak negatif pada kesehatan manusia. Pencemar-
an tersebut akan mengakibatkan tenjadinya toksisitas atau ke-
racunan tubuh manusia.
Pencemaran air raksa di lingkungan kerja dokter gigi, dapat
terjadi pada pemakaian amalgam sebagai tumpatan gigi. Amal-
gam merupakan pencampuran dari bahan alloy dengan air
raksa. Reaksi yang timbul antara air raksa dan alloy amalgam
disebut proses amalgamasi, yang secara garis besar adalah
sebagai ber-ikut:
Ag3Sn + Hg > Ag2Hg3 + Sn7Hg + Ag3Sn
Pencampuran kedua macam bahan tersebut dapat secara
manual atau melalui alat
(1)
.
Keracunan air raksa seperti halnya dengan logam berat
lainnya dapat terjadi melalui berbagai jalan antara lain melalui
pernapasan, suntikan serta makanan dan minuman yang terce -
mar
(2,3)
. Di lingkungan kerja dokter gigi, air raksa dapat masuk ke-
dalam tubuh, baik tubuh operator maupun tubuh pasien yang
se- dang dirawat melalui pernapasan, kulit melalui kontak
langsung atau melalui saluran cerna akibat tumpahan air raksa
yang tidak segera dibersihkan, pemerasan rutin air raksa yang
berlebihan dari amalgam, sisa-sisa amalgam atau air raksa yang
dibuang secara sembarangan, peredaran kembali udara dalam
ruang kerja tanpa adanya ventilasi, wadah air raksa yang tidak
tertutup rapat, kebocoran kapsul amalgam, pemasangan karpet
lantai ruang. kerja, penggunaan sterilisator panas kering (dry
heat), serta penggunaan alat ultrasonik
(4,5,6)
.
Selain dan hal tersebut di atas, air raksa yang telah terikat
ABSTRAK
Pencemaran lingkungan oleh air raksa telab diketahni mempunyai dampak yang
sangat berbahaya bagi kesehatan. Pencemaran tersebut umumnya diakibatkan dan pem-
buangan limbah industri pengguna yang tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan
namun dapat pula teijadi di lingkungan kerja dokter gigi.
Dibawakan pada Seminar Nasional Kedokteran Lingkungan (Environmental
Medicine) tanggal 2425 Januari 1994 di Bandung Jabar.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
38
menjadi amalgam dapat terlepas sewaktu tindakan tersebut di
bawah ini
(1,7,8)
.
1) Sewaktu tindakan kondensasi, burnishing dan pemolesan
amalgam.
Pelepasan air raksa pada waktu kondensasi terjadi karena
proses penguapan. Air raksa tersebut sebagian akan menguap
dan sebagian lagi akan larut dalam ludah. Menurut Paffenbarger
(1982), air raksa yang terlepas sewaktu kondensasi berkisar
antara 0,060,63% berat. Pada waktu tindakan burnishing, te-
kanan yang dilakukan akan mengangkat kelebihan air raksa ke
permukaan yang kemudian akan terlepas. Pada waktu pemoles-
an, air raksa dan unsur-unsur logam lainnya akan terlepas karena
terjadinya friksi antara permukaan logam dengan batu poles.
2) Sewaktu pemakaian di dalam mulut.
Pelepasan air raksa dapat terjadi karena adanya friksi dan
abrasi pada permukaan amalgam. Konsentrasi uap air raksa yang
terdapat di dalam rongga mulut setelah periode stimulasi pe-
ngunyahan adalah 29,8 ug pada subyek yang memiliki 12 tam-
bahan amalgam atau 1ebih
(7)
.
3) Karena proses korosi.
Korosi adalah peristiwa kerusakan suatu logam karena reaksi
kimia atau elektrokimia dengan lingkungannya. Hal ini terjadi
karena mulut merupakan lingkungan ideal untuk terjadinya proses
korosi pada logam atau alloy karena terdapat cairan, fluktuasi
suhu, pH yang berubah-ubah akibat diet makanan serta dekom-
posisi bahan makanan. Proses korosi dapat diperbesar dengan
adanya beberapa tambalan logam yang berlainan, permukaan
restorasi logam yang tidak homogen, penimbunan plak dan
kalkulus. Jumlah total air raksa yang terlepas pada proses ini
berkisar antara 621.650 ug/cm
2
setelah periode 35 minggu
(5)
.
4) Sewaktu pembongkaran tambalan amalgam.
Air raksa dapat terlepas dan tambalan amalgam sewaktu di-
masukkan maupun dibongkar. Pembongkaran amalgam meng-
gunakan bor kecepatan tinggi tanpa air pendingin dan aspirator
akan menghasilkan uap mengandung air raksa pada daerah per-
napasan operator berkisar antara 01 mg/cm
3
udara
(6)
.
Keracunan air raksa terjadi karena terbentuknya senyawa
yang mudah diserap yaitu air raksa yang teroksidasi atau terikat
dengan sulfida. Uap air raksa cepat sekali teroksidasi sehingga
pada dosis berlebih akan menimbulkan keracunan. Air raksa
mudah pula diabsorpsi melalui kulit karena mudah larut dalam
lemak. Dalam darah, air raksa diikat oleh protein plasma dan
eritrosit. Air raksa akan dikeluarkan dalam waktu 6 hari setelah
masuk ke dalam tubuh akan tetapi dapat pula tinggal sampai
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun
(9)
.
Keracunan akut air raksa menunjukkan gejala-gejala seperti
berkurangnya pengeluaran air seni sampai berhenti sama sekali,
rasa haus, adanya rasa sakit dan terbakar pada kerongkongan dan
perut, pusing, penyempitan lapang pandang, tremor, muntah
darah, diarhea disertai lendir dan darah, sukar berbicara, menelan
dan bernapas, nadi cepat dan tidak teratur serta kulit pucat dan
dingin. Sedangkan pada keracunan kronis akan tampak gejala
mirip Parkinsonism seperti terjadi perubahan kepribadian, tremor
dan kejang, albuminuria, radang selaput mata serta kebutaan, ke-
tidakteraturan bunyi jantung, urtikaria, erythema, polineuropati,
halusinasi, depresi mental dan lain-lain
(2,10,11)
.
Pada rongga mulut, gejala keracunan air raksa akan me-
nunjukkan gejala-gejala seperti perubahan warna gusi menjadi
abu-abu yang menyebar, stomatitis, gigi geligi menjadi goyang,
nekrosis tulang alveolaris, saliva menjadi kental, mulut terasa
panas, rasa gatal dan rasa logam di lidah, ulserasi pada membran
mukosa, palatum, faring, lidah bengkak, sakit dan mengalami
ulserasi, kelenjar ludah dan limfe membengkak dan sakit
(10,11,12)
.
Perawatan keracunan akut adalah mengatasi anurla dan syok
yang terjadi, inaktivasi dan pengeluaran air raksa dan saluran
cerna dengan kuras lambung dan pemberian antidotum yang
adekuat. Antidotum yang adekuat untuk keracunan air raksa
adalah dimekaprol, EDTA dan penisilamin
(2,4,9,11)
.
UPAYA PENCEGAHAN
Secara umum untuk rnencegah dan menanggulangi masalah
pencemaran lingkungan hidup termasuk pencemaran oleh air
raksa, telah dibuat Undang-undang maupun peraturan mengenai
lingkungan hidup. Kriteria Nilai Ambang Batas untuk bahan-
bahan yang berbahayapun telah dikeluarkan oleh berbagai
instansi yang terkait. Hanya masalahnya sekarang, apakah hal-
hal tersebut sudah diterapkan atau dijalankan dengan seharus-
nya.
Nilai Ambang Batas untuk air raksa atau uapnya di udara
adalah 0,05mg/cm
3
udara dan untuk merkuri organik di udara 0,01
mg/cm
3
. Parameter yang banyak dipakai untuk mendeteksi pe-
makaian air raksa yang berlebih adalah darah dan urine. Tingkat
air raksa normal dalam urine adalah antara 0-0,02 mgHg/l dan
dalam darah 0-0,05 mgHg/l. Parameter lain yang dianjurkan se-
bagai indikator pencemaran air naksa di dalam tubuh adalah air
ludah, rambut dan kuku
(2,4)
.
Secara umum upaya pencegahan keracunan air raksa pada
lingkungan pekerjaan dapat dilakukan dengan upaya sebagai
beriikut
(13)
:
1) Unit-unit kerja yang menimbulkan gas atau uap air raksa
ke udara harus memakai sistem ventilasi keluar yang tertutup
agar supaya tidak terjadi pencernaran udara.
2) Ventilasi keluar yang tertutup tersebut harus dapat menutupi
proses kerja dengan sempurna.
3) Bahan-bahan yang mengandung bahan berbahaya termasuk
air raksa harus diangkut dengan alat angkut yang tertutup baik.
4) Tempat-tempat pengolahan bahan berbahaya termasuk air
raksa harus mempunyai lantai yang tidak tembus oleh bahan
tersebut, serta mudah dibersihkan dengan sempurna untuk
mencegah penimbunan bahan-bahan tersebut.
5) Air raksa yang tumpah atau tercecer harus diambil dengan
alat penghisap vakum.
6) Air raksa yang turnpah harus dibersihkan dengan kain
basah atau minyak serta harus segera dicuci.
7) Sedapat mungkin gantilah pemakaian air raksa dengan
bahan lain yang kurang beracun.
8) Suhu udara harus diatur karena air raksa mudah menguap
pada suhu tinggi.
9) Nilai Ambang Batas tidak beleh melebihi dari yang telah
ditentukan pemerintah.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 39
Upaya pencegahan pencemaran air raksa pada lingkungan
kerja dokter gigi, mutlak diperlukan karena mengingat pemakai-
an amalgam sebagai bahan tumpatan sampai saat ini masih
sangat banyak.
Upaya pencegahan pencemaran air raksa di lingkungan ke-
dokteran gigi dapat dilakukan dengan jalan antara lain
(2,4,5,13)
:
1) Monitoring tingkat air raksa baik di dalam udara ruang kerja
maupun di dalam tubuh petugas yang bekerja di lingkungan
kerja kedokteran gigi.
2) Semua petugas yang bekerja di lingkungan kedokteran gigi
harus mendapatkan pendidikan dan latihan bagaimana mena-
ngani limbah air raksa dengan cara yang benar.
3) Ruangan kerja atau praktek harus mempunyai ventilasi yang
baik.
4) Hindarkan pemakaian karpet pada ruang kerja atau ruang
praktek.
5) Air raksa harus disimpan dalam botol atau wadah yang
tidak gampang pecah dan mempunyai tutup yang baik.
6) Jangan memeras amalgam dengan tangan telanjang.
7)
Selalu memakai masker terutama dalam menangani
tumpatan amalgam.
8) Buanglah amalgam yang tidak terpakai dalam wadah yang
mengandung air.
9) Bila memakai amalgamator, kapsul tidak boleh bocor.
10) Hindarkan pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan
suhu tinggi pada waktu menangani tumpatan amalgam.
11) Lakukan pemeriksaan teratur terhadap kadar air raksa di
dalam tubuh petugas yang berhubungan dengan air raksa secara
teratur.
12)
Lakukan pemeriksaan konsentrasi uap air raksa pada
tempat kerja atau praktek secara teratur.
Jika terjadi penumpahan air raksa, hal yang utama dilakukan
adalah membuang sebanyak mungkin air raksa yang tercecer.
Tumpahan air raksa tersebut dapat diambil dengan cara
(1,5)
:
1) Menyedot dengan menggunakan pipa berdiameter kecil
yang dihubungkan dengan aspirator unit gigi.
2) Menggunakan pita perekat.
3) Menggunakan penyedot hampa yang mempunyai saringan
khusus dan mempunyai daya hisap yang lebih kuat dan penyedot
hampa biasa.
Sedangkan untuk mencuci barang-barang yang terkontami-
nasi, dapat dipakai bubuk sulfida air raksa yang larut dalam air,
bahan yang mengandung hydrated calcium oxide dan belerang
yang dicampur dengan air membentuk pasta maupun larutan
natrium tiosulfat dalam 10% campuran air.
KESIMPULAN
Pekerjaan di lingkungan kedokteran gigi dapat menimbul-
kan pencemaran yang berbahaya yaitu pencemaran air raksa.
Pencemaran ini akan membahayakan baik kesehatan petugas,
kesehatan gigi maupun kesehatan penderita yang dirawat.
Pencegahan pencemaran air raksa perlu diupayakan, untuk
mencegah kemungkinan terjadinya toksisitas atau keracunan
yang sangat merugikan kesehatan.
KEPUSTAKAAN
1. Ahmad R, Staunord JG. Mercury release from amalgam, J. Operative
Dentistry, 15: 207218.
2. Bergman M. Side effects of amalgam and its alternatives. Internat Dental J.
1990; 40(1): 410.
3. KagaMetal. Cytotoxicityof amalgam, alloy and theirelement and phases. J.
Dental Material 1991; 7: 6872.
4. Jones DE. Mercury, A review of the literature. Br. Dent. J. 1991 (Septem-
ber) 151: 13448.
5. Langan DC. The use of mercury in dentistry, a critical view of recent
literature. JADA. 1987; 115.
6. Richard JM. Mercury vapour release during the removal of old amalgam
restoration. Br. Dent, J. 1985; 23132.
7. Vimy HJm Lorscheider FL. Serial measurement of intra oral air mercury;
estimation of daily dose from dental amalgam. J. Rest. Dent. 1985; 64(8):
107275.
8. Chew CL et al. Long term dissolution of mercury from a non mercury
releasing amalgam. Clinical Preventive Dent. 1991; 13(3): 57.
9. Istiantoro YH. Logam Berat dan Antagonis. Farmakologi dan Terapi. Ed.
2. FKUI. Jakarta. 1980.
10. Burket LW. Oral Medicine. Diagnosis and Treatment. 6th ed. Philadel
phia: JB LippincottrCo. 1971. h. 1414.
11. Chatton MJ. Handbook of Medical Treatment. 16th ed. Maruzen Asian Ed.
Singapore. 1979.
12. Shafer et al. A Textbook of Oral Pathology, 5th ed. Tokyo Igaku Shoin
Saunders. 1983.
13. SumamurPK. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja, Cetakan 3, Gunung
Agung, Jakarta, 1980, 1980, hal. 3747.
He who knows nothing, doubts nothing
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
40