Menuju Bebas Polio tahun 2000
di Indonesia
Djoko Yuwono
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
RINGKASAN
Situasi poliomielitis di Indonesia dewasa ini tampak cukup memberikan harapan
untuk dapat diberantas; oleh karena itu, Departemen Kesehatan menyatakan ikut serta
dalam program Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang bernama "Bebas Polio tahun 2005",
bahkan berani menyatakannya lebih awal dari program tersebut yaitu "Bebas Polio tahun
2000 di Indonesia".
Segala daya dan upaya yang telah dilaksanakan dengan koordinasi yang sangat baik
antara pemerintah dan masyarakat dalam program-program terpadu ternyata telah me-
nampakkan hasil yang memberikan harapan bagi tercapainya sasaran Bebas Polio tahun
2000 di Indonesia. Adapun upaya-upaya yang telah dilakukan sampai saat ini antara lain
adalah :
Upaya di bidang surveilans; survei paralisis yang dilakukan selama tahun 1977
1980 menunjukkan bahwa propinsi Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Jawa Barat,
Jawa Timur, Bali dan DI. Yogyakarta merupakan daerah yang memiliki angka kelum-
puhan yang tinggi pada anak umur 014 tahun, yaitu sebesar 3,169,0 tiap 1000 anak.
Hasil laporan terakhir tahun 1989 menunjukkan adanya penurunan jumlah daerah
tersebut yaitu menjadi : Sumatera Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan
Sumatera Utara.
Upaya di bidang program imunisasi; pelaksanaan program terutama imunisasi polio
memperlihatkan adanya peningkatan cakupan yang cukup berarti dari tahun ke tahun.
Cakupan imunisasi polio 3 kali dosis (Polio-3) pada tingkat nasional meningkat dari
24,1% menjadi 76,4% dari periode 1985/1986 sampai 1989/1980. Cakupan imunisasi ini
harus tetap dipertahankan, bahkan harus ditingkatkan walaupun sudah mencapai sasaran
sebesar 80% pada akhir tahun ini. Pada akhir tahun ini diharapkan beberapa propinsi telah
mencapai sasaran Universal Child Immunization (UCI), yang merupakan parameter
memasuki era "pra tinggal landas" dalam bidang kesehatan. Hal ini penting agar dapat ikut
serta dalam era tinggal landas pada Pelita VI nanti.
Upaya dalam bidang penelitian telah banyak dilakukan terutama yang mempunyai
rcicvansi tinggi terhadap program pcnanggulangan polio, misalnya: Penelitian Uji coba
vaksinasi polio dengan dua kali dosis; Uji coba vaksinasi polio pada umur dini (2 bulan);
Pengaruh anti poliomielitik dalam ASI terhadap imunisasi polio; Pcngaruh interferensi
sesama entero virus terhadap imunisasi polio; Pcngaruh imunisasi polio pada bayi pen-
derita diare ringan; Penyebaran virus polio strain ganas di daerah cakupan imunisasi polio
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 41
tinggi. Pada dasarnya hasil penelitian tersebut sangat menunjang program; namun be-
berapa hasil penelitian ternyata masih memerlukan pertimbangan-pertimbangan lebih
lanjut untuk dapat dilakukan dalam program. Beberapa penelitian yang harus tetap
dilakukan adalah: Pemantauan mutu vaksin yang dipakai dalam program, terutama di
daerah kepulauan seperti Wilayah Indonesia Timur. Demikian pula evaluasi efektivitas
imunisasi polio di daerah cakupan imunisasi polio tinggi kiranya perlu mendapat
perhatian khusus. Kemampuan BLK propinsi untuk dapat melakukan diagnosis polio
secara dini yang ditemukan pada masyarakat akan sangat menunjang tercapainya sasar-
an bebas polio di Indonesia.
Upaya dalam bidang peran serta masyarakat rupanya juga memperlihatkan hasil
yang cukup memuaskan yaitu peranserta Lembaga Swadaya Masyarakat, yayasan Rotary
Club dengan fihak instansi pemerintah bahkan diperluas dengan kerja sama bersama
lembaga-lembaga dunia seperti WHO dan UNICEF.
Demikianlah dengan segala dana dan daya yang tersedia upaya penanggulangan
poliomielitis di Indonesia telah diuraikan secara garis besar, upaya tersebut akan terus
ditingkatkan untuk mencapai sasaran utama "Bebas Polio tahun 2000 di Indonesia".
PENDAHULUAN
Poliomielitis adalah suatu penyakit yang merupakan masalah
kesehatan masyarakat di Indonesia; prevalensinya diperkirakan
1,4 per 1000 anak umur 59 tahun, sedangkan rasio angka ke-
matian kasus sebesar 2,7%
0
). Dalam artikel ini kami ingin
merangkum berbagai upaya yang telah dilakukan baik oleh
instansi pemerintah ataupun institusi yang ada dalam masyarakat
yang berperan dalam penanggulangan penyakit ini dengan pe-
nekanan pada "Bebas Polio tahun 2000 di Indonesia".
Berdasarkan laporan yang ada, penyakit polio dilaporkan
pertama kali di Indonesia pada tahun 1954 oleh Perabo dan
Mangoenatmodjo di Yogyakarta. Pada waktu itu fasilitas labo-
ratorium untuk menegakkan diagnosa klinik belum ada, se-
hingga yang dilaporkan merupakan suatu studi kasus
(2)
. Lebih
lanjut penelitian-penelitian yang mencakup aspek yang lebih
luas mulai banyak dilakukan semenjak tahun 1968 oleh kelom-
pok peneliti PN. Bio Farma, Bandung. Pada saat itu mulai di-
cetuskan gagasan apakah sudah saatnya vaksinasi polio mulai
dilakukan di Indonesia
(3)
. Permasalahannya terbentur pada jenis
vaksin apa yang akan dipergunakan dan pada umur berapa bayi
harus mulai menerima vaksinasi polio.
Pada tahun 1976, Pusat Penelitian Bio Medis mulai merintis
penelitian-penelitian polio, baik konfirmasi kasus-kasus polio di
beberapa rumah sakit maupun prevalensi polio di masyarakat.
Penelitian dimulai di daerah Jakarta, yaitu membandingkan
situasi penyakit di daerah kumuh dan non kumuh
(4)
. Hasil pe-
nelitian menunjukkan bahwa sebesar 78%83% anak-anak di
daerah kumuh atupun non kumuh di Jakarta ternyata masih
susceptible terhadap infeksi ke tiga tipe virus polio. Selain itu
telah dapat diisolasi dan diidentifikasi adanya virus polio tipe 1
strain ganas (wild strain) di daerah penelitian. Pada tahun 1979,
mulai dilakukan uji coba vaksin polio oral (tipe Sabin) yang
dikemas oleh PN Bio Farma di beberapa daerah (Jambi dan
Jawa Barat). Penelitian seroprevalensi mulai diperluas men-
cakup daerah di luar pulau Jawa, antara lain di Mataram, Lam-
pung, Silmatera Utara, Kalimantan Selatan
(4)
.
Sejalan dengan penelitian-penelitian yang telah dilakukan
oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan tersebut,
sejak tahun 1980 Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit
Menular dan Penyehatan Lingkitngan Pemukiman telah mulai
melaksanakan suatu program yang dikenal dengan Pengem-
bangan Program Imunisasi, termasuk di dalamnya adalah
imunisasi polio. Ternyata PPI pada tahun-tahun berikutnya juga
mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan walaupun
pada awalnya cakupan imunisasi polio-3 dosis masih rendah
yaitu sekitar 24,1% pada periode tahun 1985/86 untuk tingkat
nasional terhadap imunisasi polio-3 dosis; akan tetapi cakupan
dapat ditingkatkan terus mencapai 76,4% dalam tahun 1989/
90
(8)
. Cakupan yang akan dicapai adalah sebesar 80% pada akhir
tahun 1990 ini. Upaya tersebut dilaksanakan dalam suatu pro-
gram yang dikenal sebagai Universal Child Immunization (UCI).
UCI ini merupakan suatu parameter bagi kondisi pra tinggal
landas bidang imunisasi. Apabila target UCI sebesar 80% untuk
cakupan imunisasi polio-3 dapat tercapai, maka dapat diharap-
kan bahwa pembangunan dalam bidang imunisasi akan dapat
ikut serta dalam era tinggal landas pada Pelita VI.
Untuk ikut serta dalam era tinggal landas pada Pelita VI
nanti banyak yang masih harus dilakukan, yaitu di satu fihak
harus mempertahankan terus apa yang telah dicapai, di lain fihak
harus mencapai target yang telah ditentukan. Beberapa hasil
yang perlu terus dipertahankan misalnya cakupan imunisasi
polio-3 yang telah dicapai dan meningkatkan terus cakupan
imunisasi polio-3 bagi daerah yang belum mencapai target mau-
pun daerah yang telah mencapai target. Selain itu harus terus
mempertahankan sistem rantai dingin (cold chain) sehingga
mutu vaksin yang dipakai dalam program dapat dipertanggung-
jawabkan mutunya.
Apabila sasaran tersebut dapat dicapai tampaknya kendala-
kendala lain masih akan terus ditemui untuk mencapai target
utama yaitu "Bebas Polio tahun 2000" nanti. Kendala tersebut
antara lain adalah masih adanya laporan kasus polio pada daerah-
daerah yang telah memiliki cakupan imunisasi melebihi sasaran
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
42
(80%), misalnya daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Sumatera Utara. Lebih lanjut adalah mengidentifikasi kasus
polio secara dini, untuk itu perlu dikembangkan kemampuan
laboratorium daerah yang dapat mendiagnosis polio di berbagai
propinsi.
UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN
Bidang surveilans
Hasil penelitian di beberapa negara maju menunjukkan
bahwa terdapat beberapa parameter yang dipakai untuk menen-
tukan apakah poliomielitis sudah merupakan masalah kesehatan
masyarakat di satu negara. Adapun parameter tersebut adalah :
1)
Apabila angka kematian bayi turun menjadi 75 per 1000
kelahiran hidup.
2)
Apabila tripel seronegatif anak umur 0-4 tahun terhadap
virus polio lebih dari 10%.
3)
Apabila kasus paralisis pada anak umur 0-4 tahun lebih dari
10 per 100.000 penduduk.
4)
Apabila jumlah kasus polio besarnya 1 tiap 100.000 pen-
derita tiap tahun.
Apabila kita berpedoman pada parameter tersebut, maka
hasil pengamatan yang telah dilakukan di Indonesia selama ini
memperlihatkan bahwa poliomielitis memang telah menjadi
masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada Tabel 1 ter-
lihat besarnya prevalensi seronegatif terhadap polio di berbagai
daerah yang telah diamati. Demikian pula pada Tabel 2 dapat
diketahui hasil survai kelumpuhan yang telah dilakukan di
Indonesia; ternyata beberapa daerah seperti Kalimantan Selatan,
Sumatera Selatan, Jawa Barat masih merupakan daerah yang
memiliki angka kelumpuhan cukup tinggi. Delapan tahun kemu-
dian pada tahun 1988, dari hasil survai yang dilakukan setelah
cakupan imunisasi polio-3 tingkat nasional mencapai 76,4%,
ternyata masih ada daerah yang memiliki kasus polio akut yang
cukup tinggi, daerah tersebut adalah Sumatera Selatan, Jawa
Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara (Gambar 1)
(8,9)
.
Bidang program imunisasi
Program imunisasi polio yang termasuk dalam Pengem-
bangan Program Imunisasi (PPI), yang dimulai sejak tahun 1980
ternyata telah memperlihatkan hasil yang menggembirakan
terutama dalam pencapaian target cakupan imunisasi polio tiga
dosis (polio-3). Peningkatan cakupan imunisasi polio-3 pada
tingkat nasional terlihat jelas, dari 24,1% di tahun 1985/86
menjadi 76,4% di tahun 1989/90
0
). Peningkatan cakupan ter-
sebut dicapai berkat upya yang sungguh-sungguh dari pelak-
sana program, yaitu dengan mengubah strategi operasional
pelaksanaan imunisasi. Strategi tersebut saat ini dipergunakan
untuk meningkatkan cakupan imunisasi campak yang tampak-
nya masih paling rendah.
Upaya peningkatan cakupan imunisasi tersebut dilaksana-
kan dalam suatu program yaitu Universal Child Immunization
(UCI) yang harus dapat dicapai pada akhir tahun 1990 ini. UCI
adalah suatu kondisi di mana 90% anak umur kurang dari 1 tahun
harus mendapat imunisasi dasar (kontak pertama) atau paling
tidak 80% anak umur kurang dari satu tahun harus mendapatkan
imunisasi lengkap. UCI ini merupakan parameter bahwa kita
telah memasuki era pra tinggal landas dalam bidang imunisasi.
Hal ini penting untuk dapat ikut serta dalam era tinggal landas
dalam bidang imunisasi pada Pelita VI nanti.
Table 1. Prevalence Rate () of Post Polio Paralysis by Age Group & Area (Post Polio Paralysis Prevalence Survey on Children in the Community
Aged 0 - 14 Years, Indonesia, 1977 - 1980)
Source : Subdirectorate for Epidemiological Surveillance Directorate General for CDC Ministry of Health Republic of Indonesia.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 43
Dalam pertemuan imunisasi di Ciawi tahun 1989 telah
disepakati tahapan untuk mencapai eliminasi polio dalam Pelita
V, yaitu :
Cakupan imunisasi polio-3 dipertahankan sebesar 80%.
Mengembangkan surveilans dasar polio.
Penanggulangan KLB polio dengan tahapan operasional :
a. Tahapan target cakupan imunisasi polio-3 :
tahun 1989/90: cakupan polio-3 di Jawa, Bali dan Sumatera.
2 tahun berikutnya (1990/1992):cakupan polio-3 tiap propinsi
sebesar 80%.
2 tahun terakhir (1992/94): cakupan polio merata di setiap
propinsi dipertahankan.
b. Target penurunan penderita "Bebas polio" diharapkan dapat
tercapai pada tahun 2000.
Bidang penelitian yang menunjang program
Sejalan dengan kemajuan di bidang-bidang tersebut, maka
dalam bidang penelitian khususnya yang menunjang program
telah banyak kemajuan yang dicapai selama ini. Penelitian-
penelitian itu antara lain: Uji coba vaksinasi polio di daerah
Bandung pada bayi sehat pada golongan umur 314 bulan dalam
tahun 197879
(10,11)
. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio
serokonversi bayi umur 314 bulan yang mendapat imunisasi
lengkap polio oral 3 dosis ternyata mencapai angka sebesar
96,6%; 96,6% dan 97% masing-masing terhadap antigen polio
tipe 1, tipe 2 dan tipe 3. Hasil rasio serokonversi yang dicapai
setelah imunisasi 2 dosis ternyata juga cukup tinggi yaitu sebesar
81,2%; 91,4% dan 78,1% masing-masing terhadap antigen po-
lio-1, -2 dan polio-3.
Lebih lanjut dilaporkan tidak terdapat dampak negatif pem-
berian Air Susu ibu (ASI) terhadap imunisasi polio mengguna-
kan vaksin polio oral trivalen (Sabin). Terbukti bahwa 93%
sampel ASI yang diperiksa ternyata tripel seronegatif terhadap
ke tiga antigen polio. Hasil tersebut sesuai dengan hasil peneli-
tian yang telah dilakukan di Jakarta tahun 1985, yang menunjuk-
kan adanya serokonversi sebesar 100%; 100% dan 96,6% pada
anak yang diberi ASI dibandingkan sebesar 97,4%; 98,6% dan
97,3% terhadap anak yang tidak diberi ASI, setelah imunisasi 3
dosis
oz
"
l
.
Pada Tabel 3 dapat diketahui efektivitas imunisasi
polio di beberapa daerah di Indonesia dengan menggunakan
vaksin oral polio trivalen (Sabin).
Gambar 1. Hubungan antara kasus polio akut dan besarnya persentase Cakupan Imunisasi Polio-3 di berbagai propinsi di Indonesia tahun 1988
1989
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
44
STATUS CAKUPAN NASIONAL
Tabel 3. Rasio serokonversi setelah pemberian Imunisasi Polio oral tiga
kall
dosis
pada
Bay!
Sehat di Beberapa Daerah di Indonesia
Rasio serokonversi (%)
2 dosis
3 dosis
Lokasi Referensi
Umur
bayi
(bulan)
P1 P2 P3 P1 P2 P3
Cimahi
Jakarta
Trenggalek
Lampung
Yogya
Yogya
Dep. Kes.
th. 1981
Gendro W.
th. 1986
Eko R.
th. 1988
Gendro W.
th. 1986
Mulyati P.
th. 1990
Mulyati P.
314
3
024
3
2
3
81,2
95,6
98,4
91,4
91,3
91,9
78,1
93,6
92,6
96,6
100,0
87,0
98,8
62,5
80,0
96,6
97,4
89,1
100
50,0
71,4
97,0
97,3
86,7
97,1
66,7
80,0
Diketahui bahwa salah satu sifat enterovirus (termasuk
polio) dapat saling mengadakan interferensi di antara sesa-
manya, sehingga saling mcnghambat terbentuknya kekebalan
dalam tubuh. Penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan
bahwa terdapat virus entero tertentu yang dominan pada satu
musim tertentu di satu daerah. Penelitian yang telah dilakukan di
Jawa Barat ataupun di Kalimantan menunjukkan bahwa baik di
Purwakarta ataupun di Banjarmasin terdapat virus ECHO pada
musim hujan dan virus Coxsackie dominan di musim kemarau,
sebesar 13,2% dan 2,6%
(14)
. Kedua jenis virus tersebut telah
diketahui dapat saling melakukan interferensi terhadap virus
polio sehingga dapat menghambat terbentuknya zat anti polio di
dalam tubuh anak yang divaksin.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam menunjang
keberhasilan program imunisasi polio adalah mutu vaksin yang
dipergunakan di dalam program. Untuk itu Badan Litbang Ke-
sehatan bekerjasama dengan Dit.Jen PPM dan PLP melakukan
pemantauah mutu vaksin termasuk potensi vaksin di berbagai
propinsi yang dipakai dalam program imunisasi polio dari tingkat
Puskesmas sampai ke tingkat Pusat penyimpanan vaksin di
Jakarta. Hasil pemantauan memperlihatkan bahwa selama tahun
19851987 terdapat 2,9% vaksin di tingkat Puskesmas dan 1,7%
vaksin di tingkat kabupaten yang tidak memenuhi syarat.
Sedangkan dalam periode 19871989 hasil pemantauan mutu
vaksin memperlihatkan bahwa terdapat 3,9% vaksin polio di
tingkat puskesmas dan 1,6% vaksin polio di tingkat kabupaten
yang tidak memenuhi syarat. Tampaknya terlihat adanya ke-
naikan, namun hal tersebut disebabkan oleh karena luasnya
jangkauan yang diamati, yang semula mencapai 14 propinsi
kemudian diperluas mcncapai 27 propinsi
(15)
. Hasil pemantauan
itu menyebutkan bahwa daerah yang memiliki vaksin yang tidak
memenuhi syarat adalah daerah kepulauan dan yang sulit di-
jangkau oleh transportasi umum, misalnya di wilayah Indonesia
Bagian Timur. Yang masih perlu mendapat perhatian adalah
pengelolaan vaksin oleh petugas imunisasi di daerah; perlu
dijelaskan tentang sisa vaksin yang telah dipakai, mengingat
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 45
vaksin polio sangat peka terhadap perubahan temperatur. Untuk
menjawab pertanyaan tersebut penelitian cara penyimpanan
vaksin polio oral pada berbagai tingkat temperatur telah di-
lakukan. Hasilnya adalah bahwa pada suhu 10°C vaksin polio
oral masih dapat bertahan selama tidak terkontaminasi selama 1
bulan, sedangkan pada suhu 15°C hanya dapat tahan selama 2
minggu dan pada suhu 25°C akan terjadi penurunan potensi
vaksin dalam waktu 4 hari
(16)
.
Bidang peranserta masyarakat
Bidang ini kiranya merupakan penunjang program yang
sangat menentukan, terutama peranserta kaum ibu yang ter-
gabung dalam program PKK, Lembaga Swadaya Masyarakat,
kaum ulama, tokoh masyarakat yang bekerja sama dengan fihak
instansi pemerintah. Tidak dapat dilupakan Rotary Club yang
telah menyumbang vaksin polio untuk dipergunakan dalam
program imunisasi polio. Kerjasama tersebut diperluas dengan
melibatkan organisasi-organisasi yang bernaung di bawah lem-
baga Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti Badan Kesehatan
Dunia (WHO) dan Badan Penyediaan Dana Bagi Anak-anak
dan Pendidikan (UNICEF).
PENUTUP
Secara garis besar telah diuraikan upaya yang telah di-
lakukan untuk menanggulangi penyakit polio di Indonesia.
Berdasarkan kriteria Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam
Pertemuan di Jenewa 28 Nopember 1988, maka Indonesia dapat
dikategorikan termasuk kelompok negara Kelompok C yaitu
negara yang memiliki kasus 10 dan cakupan imunisasi > 50%.
Isolasi dan identifikasi virus polio di daerah wabah, isolasi dan
identifikasi kasus polio dan konfirmasi serologi harus dilakukan.
Karakterisasi intratipik virus polio (strain vaksin atau strain
ganas), seroepidemiologi pada daerah dengan sifat-sifat tertentu
harus dilakukan. Semuanya tadi untuk mencapai bebas polio
tahun 2000 di Indonesia.
KEPUSTAKAAN
1.
Titi Indiyati S. The situation analysis of Poliomyelitis in Indonesia, 1971-
1982. Dir. Epim. Dit Jen. PPM PLP Dep. Kes. RI. Juli 1984.
2.
Perabo FE, Mangoenatmodjo I. Incidence of Poliomyelitis in Yogya 1954.
Maj Kedokt Ind 1956; 6-7: 257-73.
3.
Sumiatno R. Is the polio vaccination already needed in the region. Seminar
on Immunization Services, New Delhi, 17-24 Juli 1972.
4.
Gendrowahyuhono, Suharyono W. Preliminary study of seroimmunity to
Polio virus in an urban population in Indonesia. Bull. Penelit Kes 1979; 7:
22-7.
5.
Gendrowahyuhono, Suharyono, Suhardjo. Status kekebalan anak ter-
hadap poliomyelitis di beberapa daerah di Indonesia. Bull. Penelit Kes
1984; XII (2): 29-33.
6.
Gendrowahyuhono, Suharyono. Evaluasi serologi vaksinasi polio di
Jambi. Kongres Mikropar. Kes. Ind. ke-3, Yogya 28-30 September 1986.
7.
Gendrowahyuhono dkk. Status kekebalan anak terhadap Poliomyelitis di
Mataram, Lombok. Cermin Dunia Kedokt 1988; 50: 41-3.
8.
Gendrowahyuhono. Pemantauan Program Imunisasi Tahun 1988/1989.
Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular, dan Penyehatan
Lingkungan Pemukiman, Dep.Kes. RI. Jakarta, 1989.
9.
Titi Indiyati S. Kebijaksanaan dan hambatan dalam pelaksanaan Program
Pengembangan Program Imunisasi. Dalam: Laporan simposium me-
masyarakatkan imunisasi dalam rangka penurunan mortalitas bayi dan
anak. A. Djohari dkk. (Ed.) Jakarta: FKMUI. 25 Febr. 1985. p. 35-53.
10.
Suprapti T dkk. Polio in Indonesia, Symposium on Immunization, Jakarta
27 Nov. - 1 Des. 1979.
11.
Hasil-hasil trial imunisasi di lima kecamatan di Kodya Bandung (survey
sero-virologik) pada bayi sehat golongan umur 3-14 bulan pada tahun
1978-1979. Dep.Kes. RI. September 1981.
12.
Gendrowahyuhono dkk. Laporan akhir penelitian: Pengaruh aktivitas
antipoliomielitik dalam Air Susu Ibu terhadap vaksinasi polio (OPV).
Puslit Penyakit Menular, Badan Litbang Kesehatan, 1986.
13.
Gendrowahyuhono dkk. Tanggap kebal anak terhadap vaksinasi polio
dengan dua kali dosis dan tiga kali dosis. Medika 1987; 4: 369-73.
14.
Eko Rahardjo dkk. Penelitian Virus entero dari anak-anak balita di
Kotamadya Banjarmasin. Cermin Dunia Kedokt 1988; 50: 41-3.
15.
Pengamatan mutu vaksin Polio yang dipakai dalam PPI di Indonesia
tahun 1985 - 1987. Seminar Penyakit menular. Puslit Penyakit Menular,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 14-17 Februari 1988.
16.
Djoko Yuwono dkk. Pengaruh temperatur dan waktu penyimpanan ter-
hadap potensi vaksin polio oral trivalen Tipe Sabin. Bull. Penelit Kes
1985; XIII (2): 56-62.
17.
Suprapti T, Priatna A. Poliomyelitis in Bandung and Cimahi during 1975-
1977. Bull. Bio Farina 1977; 15: 29-47.
18.
Lie King Thing. Poliomyelitis in Indonesia, a Serological survey for
neutralizing antibodies against polio viruses, Maj Kedokt Indon 1961; 11-
6: 155-65.
19.
Sunarko, Gun LS. Serological survey on polio vaccination for children of
air force personnel. Bull. Bio Farma 1966; 3: 1-16.
20.
Marck La Force. Poliomyelitis in Indonesia, A visit report of USAID
Consultant.
21.
Titi Indiyati S. Poliomyelitis in Indonesia. Epidemiol. Bull. Rep. Ind.
First Quarter, 1981.
22.
Titi Indiyati S. Data Paralytic Poliomyelitis in theRehabilitation Center,
Surakarta Jan. 1977 - March 1981 as reported through the Municipial
Health Services of Surakarta, Central Java.
23.
Titi Indiyati S. Serological survey on umbilical cord blood in two Ma-
ternity Hospital in Jakarta, 1981-1982. Tidak diterbitkan.
24.
Gendrowahyuhono dkk. Tanggap kebal anak terhadap 2 dosis vaksin
polio di Jakarta, Bull. Penelit Kes 1982; IX: 2.
25.
Gunawan S. Kebijaksanaan dan hambatan dalam pelaksanaan Program
Pengembangan Program Imunisasi. Dalam: Laporan simposium me-
masyarakatkan imunisasi dalam rangka penurunan mortalitas bayi dan
anak. A. Djohari dkk. (Ed.). Jakarta: FKMUI. 25 Febr. 1985. p. 35-53.
26.
Titi Indiyati S. Peranan dan kegiatan LSM khususnya Fatayat NU dalam
menunjang program imunisasi. Pertemuan Nasional Imunisasi, Ciloto,
27-31 Mei 1990.
27.
Titi Indiyati S. Keberhasilan dan Hambatan LSM. khususnya Aisyiah
dalam mendukung program imunisasi. Pertemuan Nasional Imunisasi,
Ciloto, 27-31 Mei 1990.
28.
Titi Indiyati S. Penetapan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) dalam
rangka UCI (Universal Children Immunization) Dep. Dalam Negeri,
Jakarta 10 April 1990.
29.
Efektivitas Pemberian Imunisasi DPT dan Polio Pada Bayi Usia 6-8
Minggu di Yogyakarta. Laporan Penelitian Pusat Penelitian Penyakit
Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta, 1990.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
46