background image
HASIL PENELITIAN
Masalah Sosio Bud
Pembera
aya dala
aya
ntasan Schistos
i i
s T ga
m Up
om as s
di Sulawe
i en h
Kasnodi
Pusat Pene
kologi Kesehatan, Badan
Depa
eseh an, RI Jakarta
hardjo
litian E
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
rtemen K
at
kan oleh pa-
rasit schistosoma, yaitu sejenis
berbentuk cacing yang
menghuni pembuluh
us atau k
pedu orang
y
.
d
tidak nafsu makan, m
sent
at badan, kurus
berlebihan dan lamb
p
n
enderita
m
long
a
g sudah
kroni
ya
e
ng isa
d
i
o
ung dan
hasil
sm
n
j
lah t lur
ang
i dalam jaringan dan reaksi umum yang ditimbul-
istosomiasis adalah
(1)
usui
seperti kerbau, sapi, babi, anjing, kucing, tikus dan sejenis.
Hospes perantaranya adalah siput Oncomelania.
Pada urnumnya orang yang dijangkiti schistosomiasis ada-
lah mereka yang mempunyai kebiasaan yang tidak terpisahkan
dan air, baik dalam rangka bekerja sebagai petani di sawah atau-
pun mela
alat-alat
perairan yang terinfeksi parasit schistosoma. Selain itu adalah
mereka yang sering menyusuri sungai untuk berburu binatang di
hutan-hutan atau mencari ikan sepanjang daerah yang telah
te
t sc
o m
a
p
e
a
rin
an
al
ia
.
Pe
n
h
s
ia
lakukan secara intensif sejak tahun 1981 rnelalui kegiatan-
engobatan masal penduduk, pemberantasan fokus
ban
akat.
engan kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan prevalensi
chistosomiasis akan turun jauh di bawah 1%. Prevelensi
chistosomiasis di lembah Lindu 1,77% dan di lembah Napu
stosomiasis.
CARA
Penilaian dilakukan di dua daerah yaitu lembah Lindu,
Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala dan lembah Napu,
Kecamatan Lore Utara, Kabup Poso, Sulawesi Tengah. Di
o, Anca
Sedoa,
Watumaeta, Wanga, Winowanga, Tamadue, Watutau ditambah
2 unit permukiman transrmgrasi (UPT), UPT Kaduwa dan UPT
Tamadue.
PENDAHULUAN
Schistosomiasis adalah penyakit yang disebab
rinfeksi parasi
t itu
hist so a; tau tem at-t mp t pe
duk
am h parasi
mberantasa sc isto om sis di Sulawesi Tengah telah
parasit
darah us
andung em
ang dijangkiti
Gejala umum penderita schis
ri, p
tosom
e
iasis adalah emam,
ual, di
nurunan ber
atnya ertumbuha badan bila p
asih tergo
anak-anak. Sedang pad penderita yan
s, gejala ng tampak adalah p mbengkakan hati ya
b
iakhiri dengan
Manifestasi
kematian
(1)
.
klinis penderita sch stos miasis tergant
metaboli
terjerat d
e cacing dewasa ya g dikeluarkan, um
e
di
kegiatan p
keong penular, peningkatan pengadaan sarana air bersih/jam
eluarga serta penyuluhan kesehatan kepada masyar
k
D
s
s
0,81%
(3)
.
Pada tahun 1993 telah dilakukan penilaian pemberantasan
schistosomiasis di Sulawesi Tengah. Penilaian meliputi berbagai
aspek yaitu aspek parasitologi, aspek klinis, aspek lingkungan
y
kan
(2)
.
dan aspek sosial budaya. Hasil penilaian rnenunjukkan bahwa
tampaknya upaya penurunan prevalensi schistomiasis hingga di
bawah 1% akan sulit tercapai. Berbagai faktor rnasih merupakan
Di Indonesia daerah yang dijangkiti sch
lembah Lindu dan lembah Napu, Sulawesi Tengah. Jenis cacing
di daerah ini adalah Schistosoma japonicum yang terdapat dalam
hambatan terhadap upaya pemberantasan schistosomiasis, salah
satu di antaranya menyangkut aspek sosio budaya.
pembuluh darah sistim pencernaan .
Schistosomiasis adalah penyakit menular; penularannya
l
Tulisan ini merupakan hasil penilaian pemberantasan
schistosomiasis 1993 yang membahas aspek sosio budaya, ter-
utama faktor perilaku/kebiasaan penduduk yang diduga ada
aitan erat dengan penularan schi
me alui air; cacing yang masih dalam bentuk cercaria masuk ke-
dalam tubuh manusia melalui kulit. Hospes tetap C. japonicum
adalah manusia. Hospes reservoirnya adalah binatang meny
k
BAHAN DAN
kukan kegiatan sehari-hari seperti mencuci pakaian/
rumah tangga, buang air serta mandi di sungai atau
lembah Lindu yang dinilai 4 desa yaitu Tornado, Langk
dan Puroo, sedangkan di lembah Napu 6 desa, yaitu
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
40
background image
Besar sampel yang diharapkan 800; responden adalah pen-
tas 13 tahun. Diasumsikan mereka ini
udah
kan.
D
kuesio
melengkapi
dilakukan p
Data setelah terkumpul diedit
memudahkan pengolahan
ara memasukkan nomerjawaban yang telah ditandai ke dalam
pita magnetis menggunakan paket program dBase III. Analisis
data menggunakan paket program SPSS terutama untuk
hitung persentase dan
HASIL
Sebagian besar penduduk adalah petani. Hasil wawancara
enunjukkan bahwa persentase responden yang bertani di lem-
ah Napu 92,5% dan di lembah Lindu 81,1%. Sebagian kecil
erburu dan pekerjaan tersebut hanya sampingan. Sebagian lagi
dalah berdagang, buruh dan lain-lain.
Tidak setiap penduduk mengetahui tentang schistosomiasis.
asil wawancara menunjukkan bahwa responden yang menge-
histosomiasis di lembah Napu 78,3%
dan
r tentang sebab-sebab schistosomiasis, di lem-
bah
Tabel 1).
duduk yang berumur di a
s
dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang diaju-
ata dikumpulkan melalui wawancara menggunakan
ner dengan cara mengunjungi rumah responden. Untuk
data yang tidak dapat direkam melalui kuesioner
engamatan lapangan.
untuk menyeragamkan jawab-
data. Pengolahan data dengan
an guna
c
meng-
tabulasi silang.
m
b
b
a
H
tahui benar tanda-tanda sc
di lembah Lindu 56,4%. Sedangkan responden yang menge-
tahui bahwa schistomiasis adalah penyakit menular, di lembah
Napu 68,6% dan di lembah Lindu 95,0%. Responden yang
mengetahui bena
Napu 77,6% dan di lembah Lindu 88,6%. Yang mengetahui
benar tentang cara penularan schistosomiasis, di lembah Napu
81,2% dan di lembah Lindu 79,1%, namun hanya sebagian kecil
responden yang mengetahui secara benar tempat fokus keong
penular schistosomiasis; di lembah Napu hanya 17,1% dan di
lembah Lindu hanya 14,8% (
Tabel 1. Persentase pengetahuan benar responden tentang schistosomiasis
Daerah penilaian
Komponen pengetahuan tentang
schistosomiasis
Napu Lindu
Tanda-tanda schistosomiasis
Menular dan tidaknya schistosomiasis
Penyebab schistosomiasis
Cara penularan schistosomiasis
Te
78,3
68,6
77,6
56,4
95,0
88,6
mpat fokus penyebab/penular schistosomiasis
17,1
14,8
81,2
79,1
Rata-rata 64,6
66,8
Sumber: Hasil Assessment Pemberantasan Schisrosomiasis 1994.
Sementara responden yang memanfaatkan air sumur gali
atau sumur pompa tangan (SPT) untuk mandi, di lembah Napu
74,3
Tabel 2. Persentase perilaku benar responden terhadap upaya pemberan-
tasan tentang schistosomiasis
% dan di lembah Lindu 42,3%, dan untuk mencuci pakaian
serta alat-alat rumah tangga di lembah Napu 73,3% dan di
lembah Lindu 40,3%. Responden yang buang air dengan me-
manfaatkan jamban keluarga, di lembah Napu 95,4% dan di
lembah Lindu 48,2%. Sementara responden bila bekerja
mengenakan sepatu panjang (sepatu boot), di Iembah Napu
24,9% dan di lembah Lindu 7,7% (Tabel 2).
Daerah penilaian
Komponen pengetahuan tentang
schistosomiasis
Napu Lindu
Mandi memanfaatkan air sumur
Buang air di jamban keluarga
Mencuci,pakaian/alat-alat rumah tangga
Menggunakan alas pelindung kaki/sepa
sewaktu di sawah
74.3
95,4
73,3
tu
24,9
42,3
48,2
40,3
7,7
Rata-rata 67,0
34,6
asil Assessment Pemberantasan Schisrosomiasis 1994.
mengolah sawah di daerah endemis schistoso-
miasis merupakan pekerjaan yang sangat erat kaitannya dengan
penularan penyakit tersebut. Penduduk yang bekerja di sawah
akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan
infeksi parasit S. japonicum dibanding penduduk yang tidak
bekerja di sawah. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa, untuk
mengairi sawah penduduk memanfaatkan air yang berasal dari
daerah fokus penular schistosomiasis. Selain itu ditunjang oleh
arena rusak atau
an lagi tidak memenuhi syarat kese-
Sumber: H
PEMBAHASAN
Bertani atau
kegiatan lain seperti berburu dan mencari rotan, karena tidak
jarang melewati daerah-daerah fokus penyakit schistosomiasis
sehingga infeksi parasit schistosomiasis tidak terhindarkan,
walaupun dewasa ini mereka yang sering berburu atau mencari
rotan di hutan relatif sedikit.
Hasil penilaian pemberantasan penyakit schistosomiasis
tahun 1993 menunjukkan bahwa penduduk yang pekerjaannya
berburu di daerah Lindu yaitu hanya sekitar 0,3%, sedangkan
hasil tahun 1988 mereka yang pekerjaannya berburu sekitar
7,7%; dengan demikian penularan penyakit schistosomiasis de-
wasa ini kemungkinan besar terjadi pada penduduk yang meng-
olah sa a
w hnya secara tradisional, walaupun tidak dapat dipung-
kiri penularan tersebutjuga karena kebiasaan lain seperti mandi,
mencuci dan buang air besar.
Hasil penilaian menunjukkan bahwa relatif masih banyak
penduduk yang mandi, mencuci dan buang air besar di kali. Hal
ini tentunya menyebabkan penularan penyakit schistosomiasis
tetap berlangsung dalam masyarakat, dan angka kesakitan akan
tetap tinggi.
Pemerintah sebenarnya telah membangun sarana air bersih
(MCK) untuk mengurangi penularan penyakit schistosomiasis
pada penduduk; namun sarana tersebut belum dimanfaatkan
sepenuhnya oleh penduduk. Salah satu alasan tidak dimanfaat-
kannya sarana tersebut karena tidak berfungsi, k
tidak terpelihara dan sebagi
hatan. Padahal pembangunan sarana air bersih dimaksudkan agar
penduduk tidak lagi memanfaatkan air sungai untuk keperluan
sehari-hari dengan harapan agar tidak terjadi kontak langsung
dengan air yang telàh terinfeksi oleh cacing schistosoma. Bila
semua penduduk memanfaatkan air bersih maka angka kesakitan
akan berkurang.
Selain pembangunan sarana air bersih, telah dilakukan peng-
obatan secara massal kepada penduduk, dengan harapan pre-
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 41
background image
vale
1% sulit dicapai; terwujudnya harapan tersebut tentu-
nya
ng penyakit schistosomiasis
dapa
Pada umumnya responden menyebut tanda-tanda orang
ita schistosomiasis antara lain sering demam, muka
puca
i benar tentang schisto-
som
enganggap penyakit ter-
berdas
hun 198
da
umumnya sud
ap bahwa schi
iasi
men
yang dilak
n pada
un
1
nunjukkan
a mas
at
m
sis merupak
nyaki
n-
a
ar
ap p
kit
s
iasis diharapkan penduduk mulai
yadari
u-
a untuk menghindari atau menjaga diri agar tidak tertular
eranserta
mer
air besar harus di jamban.
Tam
ar
ka
ketahu
. Hal ini dapat dilihat dari
sebagian besar
nyatakan bila bu
r be
us
di
asih banyak pen
k me
n
k
sungai atau di
Mere
e-
n
ci sebaik
engg
a
masih
ak pe
yang mandi dan mencuci di kali atau sumber air lainnya. Mereka
ju
atakan bila bekerja di sawah perlu
gguna
se-
bekerja di
da umum-
hwa untuk memberantas penyakit schistoso-
nsi penyakit dapat turun hingga di bawah 1%. Akan tetapi
karena pekerjaan serta kebiasaan penduduk yang tidak terpisah-
kan dengan air yang terinfeksi parasit schistosoma, maka angka
di bawah
tidak terlepas dan meningkatnya pengetahuan serta perubah-
an sikap dan perilaku penduduk dalam kaitannya dengan pen-
cegahan dan pemberantasan schistosomiasis.
Pengetahuan penduduk tenta
t dikatakan cukup tinggi. Sebagian besar responden tahu
tentang penyakit tersebut. Pengetahuan tersebut terutama me-
nyangkut tanda-tanda penyakit, di mana orang dapat terinfeksi/
tertular penyakit, faktor yang menyebabkan dan yang berperan
menularkan penyakit, dan persepsi terhadap penyakit mulai
berubah.
yang mender
t dan perut membesar; relatif kecil yang dapat menyebutkan
secara lengkap tanda-tanda penyakit schistosomiasis. Akan te-
tapi hasil tersebut sudah menunjukkan pengetahuan penduduk
tentang penyakit schistosomiasis meningkat. Hasil penilaian
tahun 1988 penduduk yang mengetahu
iasis hanya sekitar 3%, sedangkan hasil penilaian tahun 1993
penduduk yang mengetahui benar tentang penyakit schistosomia-
sis di daerah Napu sekitar 25,9% dan di daerah Lindu sekitar
29,9%.
Pengetahuan tentang cara penularan, yang dapat dikatakan
tahu benar di daerah Napu hanya sekitar 17,1% dan di daerah
Lindu hanya 14,8%. Benar di sini dalam arti dapat menyebut
tempat-tempat dimana schistosomiasis menular yaitu di daerah
fokus, di sawah, di sungai dan di hutan. Pada umumnya pendu-
duk mengetahui tentang cara penularan penyakit schistosomiasis
yaitu melalui kulit (pori-pori).
Penduduk mengetahui bahwa schistosomiasis merupakan
penyakit menular dan pada umumnya m
sebut berbahaya. Ini berarti persepsi masyarakat terhadap penya-
kit schistosomiasis telah berubah. Perubahan itu sudah tampak
arkan hasil penilaian pada ta
8, penduduk pa
ah mengangg
stosom
s adalah
ular dan berbahaya. Penelitian
uka
tah
985 di daerah Napu hasilnya me
istosomia
bahw
yarak
asih menganggap sch
an pe
t turu
n.
Dengan adanya persepsi yang ben
terhad
enya
chistosom
men
perl
ny
penyakit tersebut. Selain itu diharapkan tumbuh p
eka dalam penanggulangan dan pemberantasan penyakit
schistosomiasis yaitu terutama melalui pemberantasan daerah-
daerah fokus.
Apabila dilihat dan hasil penilaian tahun 1993, pengetahu-
an masyarakat tentang cara-cara pencegahan schistosomiasis
relatif cukup tinggi. Penduduk yang mengetahui dengan benar
tentang cara pencegahan penularan schistosomiasis di daerah
Napu sekitar 74,1% sedang di daerah Lindu sekitar 89,7%.
Mereka pada umumnya menyatakan bahwa agar tidak tertular
schistosomiasis bila mandi dan atau mencuci harus mengguna-
an air bersih, dan juga bila buang
k
paknya masih ada kesenjangan ant
i dengan
ari-hari
a apa yang mere
perilaku seh
responden me
ang ai
sar har
jamban, namun relatif m
dudu
lakuka
ebiasaan buang air besar di
parit.
ka m
yatakan apabila mandi atau mencu
kenyataannya relatif
nya m
unakan
ir bersih. Dalam
bany
nduduk
ga meny
men
kan
patu, akan tetapi relatif kecil penduduk setiap harinya
awah mengenakan sepatu boot. Selain itu responden pa
s
nya menyatakan ba
miasis daerah-daerah fokus keong harus dibersihkan. Namun
dan hasil pengamatan fokus-fokus keong tetap dibiarkan terlan-
tar dalam anti tidak pernah dibersihkan, bahkan timbul fokus-
fokus keong baru.
Pengetahuan yang tinggi tanpa diikuti perubahan sikap dan
perilaku yang mendukung upaya pemberantasan penyakit tetap
tidak ada manfaatnya. Padahal diharapkan dengan meningkat-
nya pengetahuan, sikap dan perilaku penduduk berubah menuju
ke arah yang lebih baik.
Sebenarnya sudah ada perubahan pada masyarakat baik
mengenai pengetahuan tentang penyakit, pengetahuan tentang
cara-cara pencegahan/pemberantasan penyakit. Hanya saja per-
ubahan tersebut masih kurang diikuti oleh perubahan sikap dan
perilaku/kebiasaan yang ada kaitannya dengan upaya pencegah-
an dan pemberantasan. Dari hasil penilaian diketahui bahwa
relatif banyak penduduk baik di lembah Napu maupun lembah
Lindu yang telah memanfaatkan air sumun untuk keperluan
mandi dan mencuci, namun sebagian masih melakukan kebiasa-
an lama seperti mandi dan mencuci di sungai atau parit-parit. Se-
lain itu masih ada penduduk yang buang air besar di danau atau
parit-parit, walaupun jumlahnya relatif kecil. Hal ini tentunya
masih perlu terus-menerus dilakukan penyuluhan kesehatan
kepada masyarakat.
Barangkali.penyuluhan akan efektif dengan cara tatap muka
(face to face), walaupun cara ini kurang efisien, mengingat
tenaga dan waktu yang dimiliki petugas kesehatan terbatas
dibanding jumlah penduduk yang banyak dan luasnya wilayah
daerah endemik schistosorniasis. Apalagi ditambah dengan
masuknya para transmigran dan luar daerah yaitu dan Jawa,
Bali dan daerah lainnya yang belum mengenal sama sekali
penyakit schistosomiasis.
Dengan adanya perubahan kebiasaan-kebiasaan yang tidak
terpisahkan dengan air, diharapkan akan mendukung upaya pem-
berantasan schistosomiasis di Sulawesi Tengah. Berkurangnya
kontak antara manusia/penduduk dengan air yang terinfeksi oleh
cacing schistosoma dan cara pembuangan kotoran manusia di
jamban, dengan sendirinya akan mengurangi pula jumlah pen-
derita schistosomiasis dan penyebarannya.
Seringnya manusia memasuki perairan yang terinfeksi
parasit S. japonicum akan menyebabkan tingginya penderita
schistosomiasis dalam masyarakat
(4)
. Selain itu hubungan erat
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
42
background image
antara manusia, hewan reservoir penyakit dengan daerah per-
sawahan dan pembuangan kotoran manusia di sembarang tem-
pat, menyebabkan adanya penularan terus-menerus siput Onco-
melania oleh S. japonicum di daerah dekat pemukiman.
KESIMPULAN
Penduduk Napu dan Lindu sebagian besar masih bekerja di
sekt
stosomiasis.
terh
5. D
or pertanian sebagai petani. Hal ini akan tetap menjadi
masalah dalam upaya pemberantasan schistosomiasis, karena
pada umumnya penduduk sewaktu rnengolah sawah tidak
mengenakan sepatu dan sarung tangan untuk mencegah ter-
infeksi cacing schistosoma, padahal air yang digunakan untuk
mengairi sawah bersumber dan daerah-daerah fokus keong pe-
nular schi
Pengetahuan penduduk tentang schistosomiasis cukup
tinggi. Sebagian besar penduduk mengetahui tentang tanda-
tanda penyakit, penyebab penyakit, faktor yang berperan me-
nularkan penyakit dan tempat di mana orang dapat tertular
penyakit. Bahkan persepsi terhadap schistosomiasis mengalami
perubahan. Sebagian besar penduduk sudah tahu bahwa schisto-
somiasis adalah penyakit menular dan berbahaya. Semula ada
anggapan bahwa schistosomiasis adalah penyakit keturunan,
penyakit karena setan. Dalam masyarakat baik di daerah Napu
maupun Lindu nampak sudah ada perubahan sikap dan perilaku
adap upaya pemberantasan schistosomiasis, walaupun masih
ada sebagian penduduk yang mandi dan mencuci di sungai atau
parit-parit di sekitarnya.
Selain itu masih ada penduduk buang air besar di tempat
tidak semestinya, misalnya MCK/jamban. Mereka buang air di
sungailparit-parit atau daerah persawahan. Alasan yang di-
kemukakan adalah MCK rusak/tidak berfungsi.
KEPUSTAKAAN
1. Sudomo M. Bahaya Schistosomiasis, Majalah Kesehatan Masyarakat.
1984, No 31.
2. Hadidjaja P. Beberapa Penelitian Mengenai Aspek Biologik Dan Kilnik
Schistosomiasis di Sulawesi Tengah, Indonesia. 1982. Thesis Doktor Uni
versitas Indonesia.
3. Dinas Kesehatan DT II. Laporan Subdin P2 Dinkes, Sulteng, 1993.
4. Sudomo M. Some Aspect a Schistosomia.sis transmission in Central Su
lawesi, 1980.
epartemen Kesehatan RI, Ditjen P2PLP. Hasil Penilaian Pemberantasan
Schistosomiasis Di Sulawesi Tengah Indonesia. Oktober 1988.
6. Kasnodihardjo. Beberapa Aspek Sosial Budaya dalam hubungannya
dengan Penularan Schistosomiasis di dataran tinggi Napu, Sulawesi
Tengah, Medika, No 11, Th II, Nopember 1985.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 43