ULASAN
Masalah Respirologi Masa Kini
dan
Tantangannya di Masa Depan
Eddie Soeria Soemantri
Sub Bagian Pulmonologi Laboratorium/UPE Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung
PENDAHULUAN
Dampak keberhasilan Pembangunan Nasional Jangka Pan-
jang Ke-I (PJP-I) sudah dirasakan; terdapat kemajuan besar
dalam bidang kesehatan. Salah satu dampaknya adalah
perubahan pola penyakit, yang di antaranya pola penyakit
respirasi.
Penyakit respirasi adalah penyakit-penyakit yang berhu-
bungan dengan saluran pernapasan. Di Indonesia penyakit
respirasi ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang
utama dan masih memerlukan penanganan yang terpadu dan
seluruh unsur kesehatan. Ilmu kedokteran sendiri sudah
demikian luas, sehingga tidak mungkin lagi seseorang mem-
pelajari ilmu itu semuanya. Karena itu timbul spesialisme/
subspesialisme dalam bidang kedokteran.
Demikian pula dalam penanganan penyakit respirasi ini,
perlu sekali kerjasama di antara berbagai bidang spesialistik/
subspesialistik. Antara lain ilmu dasar kedokteran seperti
anatomi manusia, biokimia manusia, faal manusia, serta ilmu
kedokteran lainnya seperti penyakit paru, penyakit dalam,
penyakit THT, radiologi, bedah toraks, penyakit anak, mikro-
biologi, patologi anatomi, patologi klinik, rehabilitasi medik dan
lain-lain.
Dalam inenyongsong PJP-II yang sekarang in kunci
keberhasilannya adalah membangun SDM (Sumber Daya
Manusia) Indonesia yang kreatif, produktif dan menguasai
teknologi serta tentu harus sehat, cerdas, produktif dan mem-
punyai kekuatan fisik dan mental yang menyokong.
Bidang respirologi sebagai salah satu unsur kesehatan harus
dapat menyokong dan memelihara Manusia Pembangunan
Indonesia. Respirologi perlu berkembang bukan saja dalam
bidang kuratif atau pelayanan kesehatan lainnya, tetapi juga
dalam bidang penelitian dan pendidikan.
PERGESERAN POLA PENYAKIT
Keberhasilan pembangunan nasional pada PJP-I telah
terbukti dan dampaknya telah tampak pada berbagai aspek
kehidupan, termasuk dalam bidang kesehatan; dampak ini akan
terus berlangsung pada PJP-II. Akan dan sedang terjadi per-
geseran pola penyakit di negara kita ini. Selama ini pola pe-
nyakit kita adalah pola penyakit negara berkembang, tetapi
kemudian sedikit demi sedikit akan terjadi perubahan ke pola
negara maju. Pola penyakit negara berkembang, yang ditandai
dengan prevalensi penyakit infeksi yang tinggi, gizi yang rendah,
lingkungan hidup buruk, pengetahuan kesehataft yang rendah
dan dalam lingkungan kemiskinan akan bergeser ke pola
penyakit degeneratip, kanker, kelainan jiwa, pengetahuan ke-
sehatan yang baik, dalam keadaan ekonomi yang menyebab-
kan perubahan gaya hidup dan perilaku.
Saat ini kita dalam masa transisi pola penyakit, sehingga
terdapat indikasi adanya beban ganda yang harus dihadapi, yaitu
tingginya penyakit infeksi yang masih menjadi masalah,
sedangkan penyakit degeneratif sudah cenderung meningkat.
Karena itu kita harus sudah siap dan harus inampu mendukung
penanganan pola ganda kedua macam penyakit ini, termasuk
dalam bidang respirologi.
Dampak lain keberhasilan dalam bidang kesehatan adalah
menurunnya Angka Kelahiran, yang pada periode 1981/85
masih sebesar 33,72, maka pada 1986/1990 menurun menjadi
31,86 dan diharapkan pada 1996/2000 menjadi 25 per 1000
penduduk. Kemudian Usia Harapan Hidup, yang pada tahun
1971 baru 48,5 tahun, maka pada tahun 1990 sudah baik men-
jadi 61,5 tahun. Sehingga dapat diperkirakan bahwa kelompok
balita dan anak di bawah usia 15 tahun akan terus menerus,
penduduk usia produktif akan naik dan penduduk usia lanjut
(lansia) akan besar jumlahnya
(1,2,4,9)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 41
Pada Tabel 1 terlihat bahwa Survai Rumah Tangga (SRT)
tahun 1992 untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa pe-
nyebab kematian utama di Indonesia adalah penyakit sistim
sirkulasi, termasuk penyakit jantung, sehingga saat ini telah
terjadi pergeseran pola penyakit infeksi ke pola penyakit
degradatif. Tetapi penyakit infeksi masih menjadi masalah,
terlihat dengan adanya penyakit TB Paru sebagai penyebab
kematian No. 2 terbanyak. Sebab itu pola penyakit kita ini
adalah pola penyakit ganda.
Tabel 1. Pola Penyebab Kematian Utama pada Survai Kesehatan Rumah
Tangga
Thhun
1980,1986
dan
1992
No. 1980
1986 1992
1 Diarrhea
Radang
saluran
Sistim
sirkulasi
2
Radang saluran
nafas bawah
Diarrhea
Tuberkulosis
3 Kardiovaskuler
Kardiovaskuler
Tidakjelas
4 Tuberkulosis
Tuberkulosis
Infeksi saluran nafas
5 Susunan
saraf
Campak
Diarrhea
6 Cedera dan kecelakaan Tetanus
Infeksi lain
7 Neoplasma
Malaria
Bronkitis,
emfisema
&
8 Gangguan
perinatal
Susunan
saraf
asma
Trauma, keracunan &
9
Bronkitis, asma dan
Gangguan perinatal
kecelakaan
Sistim pencernaan
10
emfisema
-
Bronkitis asma dan
Neoplasma
emfisema
Penyebab kematian terbanyak dan penyakit Respirasi ada-
lah TB paru (no. 2), Infeksi saluran nafas (no. 4) dan bronkitis/
asthma/ernfisema (no. 7). Jika kejadian kematian penyakit sistim
respirasi ini dijumlahkan, maka akan jauh lebih tinggi dan
kejadian kematian penyakit sistim sirkulasi. Sehingga kejadian
kematian yang terbanyak adalah akibat sistim respirasi.
Penyebab kematian utama penyakit respirasi pada SKRT
1980 adalah radang saluran napas (no. 2), kemudian penyakit
TB paru (no. 4) dan bronkitis/asthma/emfisema (no. 9). Pada
SKRT 1986 radang saluran nafas telah menjadi penyebab
kematian utama, sedang TB paru tetap dan bronkitis/asthma/
emfisema turun menjadi no. 10; tetapi pada SKRT 1992 telah
berubah; penyakit infeksi saluran napas turun menjadi no. 4,
TB paru naik menjadi no. 2 dan bronkitis/asthma/emfisema
naik menjadi no. 7
(1,2,4)
.
Melihat hal ini, diperkirakan di masa datang bronkitis
khronis/emfisema paru, yang lebih dikenal sebagai PPOM
(Penyakit Paru Obstruktif Menahun), serta penyakit asma bron-
kitis sebagai penyakit degeneratip saluran napas, prevalensi-
nya akan naik.
Tabel 2. Lima Penyakit Paru Terbanyak yang Dirawat di Sub Unit Bagian
Pulmonologi
Lab/SMFI
Imu
Penyakit
Dalam
UNPAD/USHS
No.
Penyakit
Tahun 1986/1989
Tahun 1994
1 Tuberkulosis
56,4%
35,5%
2 Pneumoni
14,7%
10,6%
3 PPOM
9,7%
12,5%
4 Tumor
pare
9,6%
7,1%
5 Asma/bronkitis
4,3%
3,5%
Pola ini telah terlihat pada penderita yang dirawat di Sub
Bag. Pulmonologi Lab/UPF Penyakit Dalam Fakultas Kedok-
teran UNPADIRS Hasan Sadikin Bandung (Tabel 2). Pada tahun
1986/1989 penyakit TB tetap menjadi penyakit respirasi yang
terbanyak. Kemudian diikuti pneumoni, lalu PPOM, tumor paru
dan asthma bronkial. Tahun 1994 penyakit TB tetap sebagai
penyakit terbanyak, tetapi pneumoni turun menjadi no. 3 dan
PPOM naik menjadi no. 2. Yang lainnya tetap. Sehingga pola
penyakit respirasi di bagian kami adalah bertambahnya penya
kit degeneratip saluran napas dan menurunnya penyakit infeksi
paru, kecuali TB; terlihat pula tumor paru telah masuk 5 pe-
nyakit terbanyak dari penyakit respirasi.
PERUBAHAN LA1NNYA
Selain pergeseran pola penyakit di atas, terdapat pula per-
ubahan-perubahan yang dapat mempengaruhi pola penyakit
respirasi di masa datang. Antara lain adalah :
1) Bertambahnya penderita lanjut usia (lansia)
Di masa akan datang lansia akan bertambah banyak se-
hingga penyakit respirasi pada lansia akan ditemukan lebih
banyak, terutama TB, Pneumonia (acute on chronic), PPOM
dan kanker paru.
2) Penderita Immuno Compromised Host bertambah banyak
Kemajuan teknologi kedokteran akan mengubah penderita
yang dulu tak dapat berumur panjang, sekarang bisa bertahap
hidup lebih lama; misalnya penderita gagal ginjal dengan
hemodialisis, penderita kanker dengan khemoterapi, penderita
thalasemia dan lain-lain. Penyakit saluran pernapasan pada
penderita ini, terutama TB paru dan pnemoni memerlukan
perhatian khusus.
3) Obat/cara pengobatan baru
Obat antimikroba oral dan untuk khemoterapi baru makin
banyak; juga cara pengelolaan baru, seperti untuk penyakit
tuberkulosis, asthma bronkial, pneumoni. Pola penderita yang
dirawat di rumah sakit akan berubah, juga pola mikroorga-
nismenya.
4) Pemberian antimikroba yang tidak menurut aturan
Resistensi kuman akan menjadi masalah, seperti pada TB
dan Pnemoni.
5) Masalah rokok/polusi
Pengaruhnya sangat besar terutama pada kanker paru,
PPOM dan asthma bronkial.
6) Penyakit yang dibawa dan luar, seperti AIDS
Penyakit TB pant dan pnemoni pada AIDS sukar disem-
buhkan.
TUBERKULOSIS
Laporan-laporan menunjukkan penyakit TB paru masih
tetap merupakan penyakit respirasi yang dirawat atau berobat
jalan. Misalnya telah diteliti pola penyakit respirasi di satu desa
(Simpang Dolok) di Sumatera Utara. Yang terbanyak adalah
penyakitTB pant (4 1,9%), lâlubronkitis (23,9%), asthma
bronkiale (12,9%), emfisema (3,9%) dan bronkiektasis(4,6%)°
Di Ternate (Maluku), penderita yang terbanyak dirawat adalah
TB Paru (16,7%), lalu Malaria (14%). infeksi saluran kemih
(12,1%), gastroenteritis akut (4,8%), gastritis (4,1%), asthma
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
42
bronkial (3,8%), DM (3,7%), PPOM (3,2%), gagal ginjal
khronik (2,1) dan ulkus peptikum (1,9%)
(5)
. Terlihat bahwa
penyakit respirasi terbanyak adalah TB paru, asthma bronkial
dan PPOM.
Di rumah sakit, puskesmas dan tempat pelayanan kesehat-
Ia an lainnya penderita tuberkulosis yang datang tidak saja pen-
derita TB paru yang BTA positip, tetapi juga penderita TB paru
dengan BTA negatip/biakan positip, TB tersangka dan TB ekstra
paru. Pada tahun 1993 di Poli Paru RS Hasan Sadikin terdapat
457 penderita TB yang baru berobat, tetapi hanya 14,8% de-
ngan BTA positip
(3)
. Kemudian di Lab/UPF Penyakit Dalam
FK UNPADIRS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 1983-989
terdapat TB paru 6 1,7%, TB Ekstraparu 22,2% dan TB paru +
TB Ekstra paru 16,1%.
Pada tahun 1993 WHO, dan diikuti Departamen Kesehatan
RI, mengeluarkan Pedoman Pengobatan yang baru untuk Pe-
nyakit Tuberkulosis. Dianjurkan pengobatan yang lebih kuat
dengan obat yang lebih banyak. Penyebab kegagalan peng-
obatan regimen-regimen yang lebih dulu adalah karena pen-
derita tidak taat berobat; hal ini menyebabkan kuman yang
resisten bertambah banyak. Melihat angka kematian karena
tuberkulosis di Indonesia bertambah, mungkin hal ini terjadi
juga di Indonesia.
Tabel 3. Penderita yang Lalai Berobat dan Putus Berobat di Poli Paru RS
Hasan Sadikin Bandung (Oktober 93- September 94)
No.
Berobat Penderita
%
1 Teratur
141
32,7
2 Lalai
berobat
98
22,7
3 Putus
berobat
192
44,6
Jumlah
431
100
Pada Tabel 3 terlihat penderita yang berobat di Poli Paru
RS Hasan Sadikin Bandung. Hanya 32,7% yang berobat secara
teratur dan menurut aturannya
(8)
.
Tabel 4. Uji Resistensi pada Penderita TB Paru yang Berobat Tidak
Teratur
di
Poli
Paru
RS Hasan Sadikin Bandung (Oktober 93
September
1994)
No. ObatAnti-TB Sensitif
Resisten
1 Rifampisin
43,2%
56,8%
2 Kanamisin
51,4%
48,6%
3 Streptomisin
43,2%
56,8%
4 lsoniazid
32,4%
67,6%
5 Ethambutol
59,5%
40,5%
6 Pirazinamid
73,0%
27,0%
Diambil dari : Setiawan 1995.
Tabel 4 memperlihatkan uji resistensi pada penderita yang
berobat tidak teratur di Poli Paru RS Hasan Sadikin Bandung.
Terlihat bahwa untuk Rifampisin, Streptomisin dan Isoniazid
lebih dari 50% penderita sudah resisten
(8)
.
Harus pula diperhatikan bukan saja penyakit yang
disebabkan Mikobakteria Tuberkulosa, tetapi pula oleh
Mikobakteria Atipik; t diteliti 84 penderita limfadenitis
tuberkulosa, yang didiagnosis secara patologi anatomik (PA) di
Lab/UPF Penyakit Dalam FK UNPAD/RS Hasan Sadikin
Bandung; ternyata 13 penderita mengandung Mikobakteria
Atipik; M. Kansasi (4 penderita)
(12)
. Hal ini harus diperhatikan
terutama pada penderita TB ekstra paru dan penderita AIDS. Di
masa datang akan lebih banyak penderita lansia, Immuno
Compromised Host dan AIDS yang harus ditanggulangi. Peng-
obatan penderita-penderita tersebut akan lebih sukar.
Saat ini penyakit tuberkulosis masih akan mendominasi
penyakit respirasi. Untuk pengelolaan yang efektif harus lebih
banyak diperhatikan masalah non medis, yaitu kepatuhan ber-
obat; di masa datang resistensi kuman dapat menjadi masalah.
PNEUMONI
Diperkirakan spektrum penyakit pneumoni saat ini telah
berubah. Menurunnyapendudukbalitadan bertambahnya lansia,
akan menurunkan pneumoni pada balita, tetapi pada lansia
bertambah. Akan makin banyak penderita immunocopromised
host dan penyakit khronis yang bertahan lama seperti penderita
thalasemia, diabetes mellitus, kanker dengan khemo/radioterapi,
gagal ginjal dengan dialisis dan lain-lain; serta masuknya
penyakit dan luar seperti AIDS, yang dikenal dengan pneumoni
yang disebabkan Pneumocystis carinii.
Pemakaian antimikroba yang tidak terajur, akan menyu-
sahkan pengelolaan penyakit ini. Pada tahun 1995 di Lab/UPF
Penyakit Dalam FK UNAD/RS Hasan Sadikin kebanyakan
penderita pneumoni yang dirawat adalah penderita pneumoni
yang sudah menderita penyakit lain, biasanya penyakit khronis
(Tabel 5).
Tebel 5. Penyakit Pneumon yang Dirawat di Sub. Bag. Pulmonologl Lab/
SMF Ilmu Penyakit Dalam FK UNPAD/RSHS Periode Januari-
Juni
1995
No.
Pneumoni Jumlah %
1
2
Tanpa penyakit lain
Dengan penyakit lain
antara lain : - TB paru/bekas TB
- PPOM
- Karsinoma pare
- Asthma bronkiale
- dan lain-lain
13
75
14,8
85,2
Jumlah
88
100
PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF MENAHUN (PPOM)
DAN KANKER PARU
Prevalensi kedua penyakit respirasi ini terus bertambah,
apalagi dengan bertambahnya penduduk lansia, maka kedua
penyakit di atas akan lebih banyak dijumpai.
Sudah diketahui bahwa masalah utama kedua penyakit di
atas adalah rokok. Kebiasaan merokok di Indonesia telah me-
luas. Menurut Survam Rumah Tangga 1986 didapatkan 52,2%
laki-laki dan 3,6% wanita merokok. Tetapi penelitian tahun
1992 pada 13.994 penduduk desa Tasikmalaya (Jawa Barat)
meng ungkapkan 83,7% Iaki-láki dan 4,9% wanita merokok
(13)
.
Cukai rokok pada tahun 1969/70 adalah 31,1 milyar se-
dang tahun 1990/1991 menjadi 1,7 triliun. Belum pendapatan
dan pajak perseroan, pajak deviden, pajak iklan dan pajak
karyawan, yang pada tahun 1990/1991 saja Rp. 1 triliun. Ekspor
rokok belum termasuk. Tambah lagi kira-kira 17 juta orang
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 43
LAIN-LAIN
atau lebih dari 10% penduduk Indonesia, hidup dan rokok
seperti pegawai industri rokok, petani tembakau, pedagang,
pengecer dan lain-lain.
Di masa datang yang harus diperhatikan juga adalah
Penyakit Paru/Respirasi Kerja. Dalam masa pembangunan ini,
akan makin banyak orang bekerja di pabrik-pabrik, tentu akan
makin banyak orang yang sakit karena pekerjaannya. Serta juga
polusi udara, yang saat ini kurang mendapat perhatian yang
layak.
Sedangkan kerugian-kerugian akibat rokok belum ada
datanya, tetapi diketahui prevalensi kanker paru dan PPOM
bertambah (Tabel 6).
Tabel 6. Kejadian Kanker Paru di RS Hasan Sadikin UNPAD
KESIMPULAN
Jumlah
No. Penelitian
Tahun Penderita
Kanker Paru
yang diteliti
Rata-rata
Per tahun
Rata-rata
1 Topo
Harsono 1960 1969 27 2,7
2 Rosman
Faisal 1968
1972
25
5
3 Syahril
Ismail 1973
1974
26
13
4 Gatot
Karsono
&
Patrakusumah
1975 1976
37
18,5
5 Soeria
Soemantri 1985
1989
247
49,4
6 Soeria
Soemantri 1993
1994 104 52
1) Pola penyakit respirologi akan bergeser dan pola penyakit
infeksi ke pola penyakit degeneratip. Saat ini masih taraf pola
ganda, penyakit infeksi dan penyakit degeneratip terdapat
bersama-sama.
2) Penyakit respirologi yang paling banyak saat ini adalah
penyakit tuberkulosis, diikuti oleh penyakit PPOM, pnemonia,
kanker paru dan asma bronkiale.
3) Penyakit Paru/Respirologi Kerja dan polusi udara harus
mulai mendapat perhatian lebih banyak.
ASMA BRONKIALE
Diperkirakan prevalensi asma bronkiale di Indonesia ada
lah 3 - 8% (Tabel 7). Di sini terlihat prevalensi asma anak di
beberapa kota di luar Jakarta antara 2 - 8%, sedang di Jakarta
antara 6,9 - 15%. Tidak jelas mengapa di Jakarta Iebih tinggi,
tetapi hal ini harus diwaspadai, apakah di kota besar di masa
datang prevalensi asma akan bertambah
(11)
.
KEPUSTAKAAN
Tabel 7. Penelitian Prevalensi Asma pada Anak
Kota Penelitian
N
Prevalensi
Bandung Kartasasmita
(1993)
Balita 2-6%
Jakarta
Wirdjodiardjo dkk (1990)
1171 anak SD
13,2%
Jakarta
Siregar dkk (1990)
244 anak 14 tahun
6,9 %
Jakarta
Boediman dkk (1993)
1099 anak SD
12,46%
Jakarta
Rahajoe dkk (1993)
1515 anak SD
10,43%
Manado
Wantania J (1993)
5101 anak SD
7,99%
Jakarta
PenelitianMultisenter(1993) 1515 anak SD
15,15%
Palembang Idem
5409
anak
SD
8,02%
Bandung
Rosmayudi dkk (1993)
4865 anak SD
6,4 %
Palembang Arifin dkk (1993)
5250 anak SD
7,71%
1. Budiarso RL. Laporan Sementara Survai Kesehatan Rumah Tangga 1992,
Pola kematian. Lokakarya Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKM) 1992,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan
RI, Cisarua, 1992.
2. Budiarso RL, Bakri Z, Soesanto SS dkk. Survai Kesehatan Rumah Tangga
1986. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Pusat Ekologi
Kesehatan. Jakarta, 1987.
3. Karnarrudin Z. Pola Bakteriologis Sputum BTA/Biakan pada Penderita TB
Paru di Poliklinik Paru RS Hasan Sadikin selama tahun 1993. Skripsi, Fak.
Kedokteran UNPAD, Bandung, 1995.
4. Mardjono M, HanafiahY, LoedinAA, Rukmono B, Husin DM. Pandangan
Tentang Pengembangan Ilmu Kedokteran di Indonesia. Akademi Ilmu
Pengetahuan Indonesia, Komisi Bidang Ilmu Kedokteran, Jakarta 1992.
5. Pattiiha MZ, Politan, Indra RA, TandjungA, Pelly R. PoIa Penyakit Rawat
Nginap di UPF Penyakit Dalam RSU Temate tahun 1994/1997. KOPAPDI
IX,Denpasar, 1993.
6. Pokok-pokok Sambutan Menteri Negara Kependudukan Pada Temu
Wicara Peningkatan Kualitas Hidup Lansia. Kantor Menteri Negara
Kependu dukan, Jakarta 1993.
Sering penderita asma hanya berobat atau makan obat bila
merasa sesak napas saja dengan aturan sendiri. Pengetahuan
cara berobat asma didapat dari keluarganya atau kenalannya
atau dan koran/majalah/radio/TV. Obatnyapun dibeli sendiri
atau dan resep yang pernah didapat dari dokternya dulu. Bila
cara berobat ini tidak berhasil, maka sesaknya sudah sedemiki-
an rupa sehingga harus dirawat di rumah sakit, kadang-kadang
demikian berat, sehingga harus dirawat di ruang intensif (ICU).
7. Ruswandi, Tangan HMM. Prevalensi Penyakit Paru Khronik pada orang
dewasa di Desa Simpang Dolok Kecamatan Lima Puluh. Kongres IDPI IV,
Yogyakarta, 1993.
8. Setiawan. Kepatuhan Penderita Dalam Pengobatan TB Paru. Skripsi, Fak
Kedokteran UNPAD, Bandung 1995.
9. SimgarKN, SuwandonoA. Transisi Demografi di Indonesia, Seabad.
Media Litbangkes, 1992; II: 2-4.
10. Soeria Soemantri E. Kanker Paru dan Permasalahannya. Hari Ulang Tahun
Yayasan Kanker Indonesia ke 18. Wilayah Jawa Barat, Bandung, 1995.
Cara berobat masa kini adalah menitik beratkan pada cara
pencegahan sesak dan menormalkan fungsi paru. Sehingga di-
harapkan penderita jarang sesak nafas, tidak dirawat di rumah
sakit dan dapat hidup/bekerja seperti orang lain.
11. Soeria Soemantri E. Epidemiologi Asma di Indonesia. KONKER PDPI,
Bandung, 1995.
12. Soeria Soemantri E, Paula Cynthia M, Misnadiarly, Dahlan Z, Zainal K.
Atypical Mylobacterium Isolated from Histologically Program Tubercu
losis of Cervical Lymphnodes in teaching Hospital in Inddnesia. The 17th
Regional Conference on Tuberculosis and Respiratory Diseases, Bangkok,
Thailand, 1993.
Karena itu pengobatan penderita asma yang paling pen-
ting adalah cara non medis yaitu mendidik penderita asma
untuk berobat sesuai aturannya. Di masa datang pendidikan
mengenai asma (asthma education) adalah yang harus diutama-
kan.
13. Wijaya 0, Suhana D, Sukandar H, Gilang NR.M, Brotoprawiro. Alarming
prevalence rates of smoking in a rural area of West-Java, Indonesia. Unit
Penelitian, Fak Kedokteran UNPAD, Bandung, 1994.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
44