HASIL PENELITIAN
Efektivitas dan Keamanan Cefixime
pada Pengobatan
Infeksi Saluran Pernapasan pada Anak
Gunadi Santosa, Makmuri M.S.
Laboratorium/UPF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
RSUD Dr Soetomo, Surabaya
ABSTRAK
Efektivitas dan keamanan cefixime, sebagai sefalosporin oral generasi ketiga baru
diteliti pada pengobatan anak-anak dengan faningotonsilitis, bronkitis dan pnemonia.
Pada setiap penderita diperiksa gambaran darah tepi, kimia darah, urine, x-foto toraks dan
biakan hapusan tenggorok sebelum dan sesudah pengobatan dengan cefixime 6 mg/kg per
hari dibagi dalam 2 dosis selama 710 hari.
92,5% sembuh, 7,5% perbaikan dan tidak ada kegagalan. Tidak timbul penyulit.
Panas turun setelah 2,25 hari, eksudat tonsil hilang setelah 2 hari, sesak hilang setelah 5,2
hari dan rales hilang setelah 6,4 hari pengobatan dengan cefixime. Semua kelainan radio-
logi paru hilang pada akhir pengobatan.
Efek sampingjarang timbul, yang paling sering adalah trombositosis dan eosinofilia.
Juga ditemukan kenaikan SGOT dan SGPT, diane ringan dan urtikania.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cefixime efektifdan aman untuk pengobat-
an infeksi salur pernafasan pada anak.
PENDAHULUAN
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) masih merupakan
masalah kesehatan di negara-negara berkembang. Angka kesa-
kitannya tinggi dan angka kematian ISPA karena bakteri masih
tinggi. Untuk pengobatan ISPA karena bakteri biasanya dipakai
penisilin atau ampisilin. Akhir-akhir ini lebih banyak kuman
penyebab ISPA menjadi resisten dengan pembentukan beta
laktamase, sehingga penlu dicari pengobatan alternatif untuk
infeksi ini.
Cefixime adalah sefalosponin generasi ke tiga baru yang in
vitro mempunyai spektrum kerja antibakteri yang luas, terutama
aktifterhadap kebanyakan bakteri penyebab ISPA antara lain H.
influenzae, S. pyogenes, S. pneumoniae, M. catarrhalis dan juga
Enterobacteriaceae. Cefixime tidak dihidrolisasi oleh banyak
beta laktamase. Cefix-ime mempunyai waktu paruh yang lama
dan absorpsinya setelah pemberian oral baik sehingga cefixime
dapat diberikan 2 kali sehari per oral. Hal-hal lain menyebabkan
penderita lebih taat mengikuti pengobatan
(1)
.
Tujuan penelitian ini adalah menilai efektivitas dan ke-
amanan cefixime pada pengobatan ISPA di Lab./UPF Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/
RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini bersifat prospektif non komparatif.
Diteliti anak-anak berumur 2 bulan ke atas yang menderita
pnemonia bakterial, bronkitis bakterial dan faningotonsilitis
bakterial yang berobat di poliklinik anak atau dirawat di Lab./
UPF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga/RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Tidak diikutkan dalam
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 37
penelitian ini anak-anak yang alergi terhadap sefalosporin atau
penisilin, sakit hepar atau ginjal, atau penyakit berat lain
umparuanya gagal jantung, lekemi dan lain-lain.
Kriteria klinik yang dipakai adalah sebagai berikut:
Bronkitis akut dianggap karena bakteri apabila sudah men-
derita sakit tujuh hari atau lebih dengan panas lebih dan 38°C
(aksiler), lekosit lebih dan 10,0 x 10
9
/L dan CRP lebih dari
5000 mikro g/L.
Pnemoni dianggap karena bakteri apabila sesak, rales halus
dan x-foto menunjukkan infiltrat dengan panas Lebih dan 38°C
(aksiler) lekosit lebih dan 10,0 x 10
9
/L dan CRP Lebih dari
5000 mikro g/L.
Faringotonsilitis dianggap karena bakteri apabila ada panas
lebih dan 38°C (aksiler), nyeri tenggorok, hiperemi faring,
petekie pada palatum molle, pembesaran tonsil dengan eksudat
folikuler dan pembesaran kelenjar leher anterior yang nyeri
dengan lekosit lebih dan 10,0 x 10
9
/L dan CRP lebih dan 5000
mikro g/L.
Padapermulaan dan akhirpengobatan diperiksa: Hb, lekosit
hitung jenis, LED, trombosit, waktu perdarahan, waktu pem-
bekuan, CRP kuantitatif, BUN, kreatinin serum, SGOT, SGPT
bilirubin, urine lengkap, analisis gas darah untuk pnemonia dan
x-foto toraks untuk pnemonia dan bronkitis.
Cefixime diberikan 6 mg/kg/hari oral dibagi dalam 2 dosis.
Faringotonsilitis diobati selama 7 hari, bronkitis dan pnemonia
diobati selama 10 hari.
Pada akhir pengobatan tiap penderita dinilai respons
kliniknya. Sembuh apabila keluhan dan gejala infeksi hilang
semua pada akhir pengobatan. Perbaikan bila keluhan dan gejala
infeksi menunjukkan banyak perbaikan tetapi belum hilang se-
luruhnya. Gagal bila keadaan memburuk atau tidak ada perbaik-
an dan keluhan dan gejala infeksi pada akhir pengobatan.
Semua penderita diawasi dengan teliti akan respons peng-
obatan dan kemungkinan timbulnya efek-efek samping dari obat.
HASIL
Dari 1 September sampai dengan 31 Oktober 1994 diteliti
40 anak, 21 laki dan 19 perempuan. Dua puluh (50%) dengan
faringotonsilitis (19 dengan eksudat folikuler pada tonsil), 4
(10%) dengan bronkitis akut dan 16(40%) dengan pnemonia
(15 dengan bronkopnemonia dan seorang dengan pnemonia
lobularis dengan efusi interpleural) (Tabel 1).
Tabel 1. Gambaran penderita
Jumlah penderita
Penyakit
Umur mean (range)
(tahun)
20
4
16
Faringotonsilitis
Bronkitis
Pnemoni
4,8 (0,5 15,0)
5,0 (0,6 12,0)
1,9 (0,5 6,0)
Jumlah 40
3,6 (0,5 15.0)
Efektivitas pengobatan dapat dilihat pada tabel 2. Pada
akhir pengobatan, 37 (92,5%) dari 40 penderita dinyatakan
sembuh dan sisanya 3 (7,5%) dinyatakan penyulit. Jadi secara
kese1uruhan efektivitas pengobatan adalah 100%.
Tabel 2. Efektivitas klinik cefixime
Sembuh Perbaikan
Gagal
Penyakit No.
Penderita
n % n % n
Faringotonsilitis
Bronkitis
Pnemonia
20
4
16
18
4
15
90
100
94
2
0
1
10
6
0
0
0
Jumlah 40
37
92,5
3
7,5
0
Respon klinik setelah pengobatan dengan cefixime diring-
kas pada Tabel 3. Pada semua penderita panas rata-rata diderita
selama 2,25 hari, hanya seonang anak dengan pnemonia men-
derita panas selama 9 hari. Eksudat folikuler dan tonsil hilang
setelah 2 hari, hanya 2 anak dengan tonsilitis folikularis karena
S. aureus yang resisten terhadap cefixime eksudatnya hilang
setelah 5 hari. Distres pernafasan dan rales berturut-turut meng-
hilang rata-rata setelah 5,2 hari dan 6,4 hari setelah pengobatan,
hanya seorang dengan pnemonia sesak dan ralesnya meng-
hilang setelah 9 hari pengobatan.
Tabel 3. Respons klinik setelah pengobatan dengan cefixime
Gejala
Mean (hari)
Range
Panas
Eksudat tonsil
Distres pernafasan
Rales
2,25
2,0
5,2
6,4
1 9
2 - 5
1 - 9
2 - 9
Semua kelainan x-foto paru menghilang pada akhir peng-
obatan. Hampir semua tanda laboratonis dan infeksi akut
kembali normal pada akhir pengobatan, yaitu LED, CRP dan
jumlah lekosit (Tabel 4).
Tabel 4. Tanda-tanda laboratoris infeksi akut setelah pengobatan dengan
cefixime
Jumlah
Hasil Laboratorium
Nilai
n %
LED
CRP
Jumlah Lekosit
< 20 mm
> 20 mm
< 5000 µg/L
> 5000 µg/L
< 10,0 x 10
9
/L
> 10,0 x 10
9
34
6
39
1
38
2
85,0
15,0
97.5
2,5
95,0
5,0
Efektivitas bakteriologik pengobatan dengan cefixime di-
ringkas pada tabel 5. Empat belas (70%) dan 20 penderita
dengan faringotonsilitis biakan tenggoroknya positif. Sepuluh S.
pyogenes yang sensitif terhadap cefixime dan 4 S. aureus yang
resisten tenhadap cefixime. Angka eradikasi bakteriologik untuk
S. pyogenes dan S. aureus berturut-turut adalah 90% dan 75%.
Kuman-kuman yang diisolasi dari penderita dengan bron-
kitis dan pnemonia sulit dievaluasi dengan tepat karena yang
diambil adalah hapusan tenggorok yang hasilnya belum tentu
sebagai penyebab infeksi saluran pernafasan bawahnya. Di-
dapatkan 3 S. pneumoniae yang sensitif terhadap cefixime dan 1
P. aeruginosa dan 1 A. faecalis yang resisten terhadap cefixime.
Pada akhir pengobatan semua kuman-kuman ini telah dieradikasi.
Tabel 6 menunjukkan efek samping yang dijumpai. Pada 7
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
38
DISKUSI
Tabel 5. Kuman patogen yang diisolasi dan responnya setelah pengobatan
dengan cefixime
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cefixime sangat
efektif untuk pengobatan ISPA pada anak. Hal ini sesuai
dengan hasil peneliti-peneliti lain
(2,3)
. Selain itu jelas sekali
keluhan, gejala dan kelainan-kelainan laboratorium dan infeksi
dengan cepat menghilang. Hal ini dapat memperpendek lama
perawatan di rumah sakit dan dengan demikian mengurangi
ongkos perawatan.
Faringotonsilitis Bronkitis Pnemonia
Bakteria
E P E P E P
S. pyogenes
Saureus
S. pneumoniae
P. aeruginosa
A.Jaecalis
9
3
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
0
0
0
0
0
Didapatkan angkaeradikasi bakteriologik yang cukup
tinggi pada penelitian ini. Meskipun in vitro kuman-kuman
yang diisolasi resisten terhadap cefixime akan tetapi
kebanyakan mereka juga dieradikasi setelah pengobatan.
Keterangan :
E = eradikasi, P = persisten
penderita timbul trombositosis dengan waktu perdarahan dan
waktu pembekuan yang normal, 4 dengan Eosinofilia dan 3
dengan peningkatan SGOT dan SGP1', seorang dengan diare
yang ringan dan seorang dengan urtikaria.
Efek samping yang dijumpai ringan saja. Trombositosis,
eosinofilia dan peningkatan SGOT dan SGPT ringan dan tidak
timbul gejala-gejala klinik. Hanya seorang menderita diare
ringan dan seorang lagi dengan urtikaria ringan. Keduanya
menghilang sendiri meskipun pengobatan diteruskan. Hal yang
sama ditemukan oleh peneliti-peneliti lain
(2,3,4)
. Fujii
(4)
men-
dapatkan trombositosis 2,5%.
Tabel 6. Efek samping cefixime
Jumlah penderita yang dievaluasi
Jumlah penderita dengan efek samping
40
16
Efek samping
Gejala klinik :
- diare
- tumpah
- urtikaria
- panas
Kelainan laboratorium :
- netropenia
- Eosinofilia
- trombositosis
- peningkatan SGOT/SGPT
- BUN abnormal
- kreatinin abnormal
- glukosa darah abnormal
- urine abnormal
N
1
0
1
0
0
4
7
3
0
0
0
0
KEPUSTAKAAN
I. Neu HC. New Oral Cephalosporins : Why and When They Should Be
Used. Med J Univ Indon 1992; 1 Suppl 3/4: 38.
2. Chantarojanasiri T. The Efficacy and Safety of Cefixime in the Treatment
of Common Pediatric Respiratory Tract Infections. Med J Univ Indon
1992; 1 Suppl 3/4: 1720.
3. Hyun JK, Seong HC, Kee HY and Young CT. Clinical Evaluation of
Cefixime (Suprax®) in Pediatric Respiratory Tract Infections. Med J Univ
Indon 1992; 1 Suppl 3/4: 2 125.
4. Fujii R. Pharmacokinetic and Clinical Studies of FK 027 in the Pediatric
Field. In: A Review of New Oral Cephems. Proceedings of a Workshop Held
at the 14th International Congress of Chemotherapy. Kyoto, 1985 : 71-75.
PEMBERITAHUAN
Majalah Cermin Dunia Kedokteran telah pindah alamat sbb.:
Cermin Dunia Kedokteran
Gedung Enseval, JI. Letjen Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih,
Jakarta 10510, P.O. Box 3117 Jkt. Teip. 4208171 /4216223
Harap surat-surat dan pengiriman naskah menggunakan alamat baru
tersebut.
Redaksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 39